Rendezvous

(Dimuat di Majalah Annida No.4/V/1996)

HAL yang luar biasa telah terjadi hari ini. Aku bangun tidur begitu terlambat. Padahal aku tidak mengerjakan apa-apa semalam. Oh, maksudku aku hanya menikmati siaran televisi sepanjang malam. Mungkin sudah seharusnya aku segera mengatur jadwalku lebih ketat. Atau aku harus menjual TV tua itu agar tidurku tidak terganggu? Tapi jelas tak mungkin, tak bagus bila seorang agen spionase sepertiku selalu kekurangan informasi. Aku harus peka dan harus mencium segala sesuatu dengan cepat.

Ketika jendela kubuka dan kulihat orang-orang sibuk di jalanan, barulah aku ingat kalau hari ini aku ada janji dengan Inspektur Hans. Ada sesuatu yang harus kulakukan, begitu dia katakan beberapa hari yang lalu.

Aku mandi dengan cepat dan keluar dari apartemenku ketika bus sekolah yang biasanya menjemput Madgie –gadis kecil di apartemen di bawahku- datang. Sekali lagi aku mengeluh, sudah jam dua belas, kataku.

Inspektur Hans duduk di belakang mejanya seperti biasa. Ia memang tidak banyak bicara. Tapi ia perokok berat. Tak kudapatkan seorangpun yang bisa mengalahkan kehebatannya dalam merokok. Dan hari ini tampaknya porsi rokoknya telah bertambah. Sebuah tanda kalau ia sedang menghadapi sebuah masalah yang begitu pelik.

“Saya punya sebuah tugas berat untukmu, Gibb. Dan kau harus serius menanganinya. Kau bisa mempelajari berkas ini.”

Aku menerima map berkancing itu dengan santai. Sudah biasa bagiku menangani masalah-masalah yang berat. Mungkin karena itulah aku selalu dipakai untuk menyelesaikannya.

“Kapan aku harus melaporkan hasilnya, Pak?”

Inspektur Hans membenamkan rokoknya dalam asbak.

“Segera setelah kau menyudahi bajingan itu,” jawabnya mantap.

AKU keluar untuk sarapan, ah maksudku untuk makanku yang pertama hari ini. Aku memesan semangkok sop kaki ayam yang sangat kusukai.

Ketika Thomas, pemilik restoran itu mengantar sendiri pesananku, ia mengomel tentang beberapa orang anak muda jalanan yang makan di tempatnya tanpa bayar. Tak ada kesan lain yang kutangkap selain ia menginginkan aku melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah itu.

“Kau kali ini tidak usah bayar, Gibb!” ucapnya. Nah, apa kubilang, ia pasti ingin pemuda-pemuda itu kuberi sedikit pelajaran sopan-santun.

Tapi aku tentu saja bukan seseorang yang terlalu gegabah. Tapi aku juga bukan tipe sahabat yang tidak setia. Aku ingin menolong Thomas, tapi aku harus menyelesaikan tugas yang diberikan Inspektur Hans secepatnya. Setelah itu mungkin aku akan bisa menasehati Thomas atau dengan tindak lanjut akan coba ‘bicara’ dengan anak-anak muda itu.

Kusudahi makanku dengan cepat dan kudekati Thomas di mejanya sambil memberikan uang empat franc. “Sekalian dengan utangku dua hari yang lalu,” ucapku santai sambil melangkah keluar. Thomas terpaksa mengantongi uang itu. Tapi sebelumnya wajahnya menunjukkan kekecewaannya.

“Semoga kau tidak bosan, Gibb!” katanya sambil membanting sesuatu. Ia kukira mungkin kesal karena aku tidak menghiraukannya.

SEMALAMAN aku mempelajari berkas yang diberikan Inspektur Hans. Keningku berkerut juga akhirnya. Lawanku kali ini mungkin tergolong sulit untuk kutaklukkan. Tapi aku yakin, semuanya akan kuselesaikan dengan baik.
Seorang buronan politik telah melarikan diri ke sini. Ia warga negara Aljazair yang telah memimpin sebuah pemberontakan di kota Aljier. Tapi kusayangkan tindakannya melarikan diri di kota ini. Ia, kalau memang seorang profesional, tentu akan mengetahui bahwa di kota ini bertugas seorang bernama Nielsen Gibb. Ia seharusnya juga tahu kalau Nielsen Gibb akan mudah meringkusnya. Tunggu saja.

PAGI-PAGI aku dibangunkan oleh suara ketukan di pintu. Dengan malas aku menyibakkan selimut tebalku dan mengernyitkan mata melihat ke jam weker di atas meja. Ah, siapakah yang bisa berharap aku bisa jadi seorang tuan rumah yang baik bila dikunjungi jam tujuh ini?

Ketika kubuka pintu, wajah kecil Madgie membuat mataku semakin terang. Tiba-tiba saja mataku tidak lagi terasa berat. “Ada apa manis…,” kataku sambil membuka pintu lebih lebar. Wajah Madgie tampak murung. Dan aku yakin kalau ia baru saja dimarahi ibunya yang cerewet.

“Nah, lihatlah..,” lanjutku setelah tak kulihat reaksinya. Aku berjalan ke dalam dan mengambil sebungkus coklat. “Papa Gibb punya sebungkus coklat untuk si Manis Madgie,” lanjutku. Madgie mulai tersenyum dan ia masuk ke ruanganku sambil malu-malu menerima coklat itu.

“Ya, begitukan bagus!” pujiku sambil jongkok mensejajarkan kepalaku dengannya.

“Nah, katakan apa yang ingin Madgie ucapkan!”

“Fidele telah menumpahkan sop,” Ya, aku tahu, anjing kecil itu. Madgie tidak melanjutkan kata-katanya ketika telepon berdering. Aku berdiri dan memberi isyarat agar ia tidak keluar dari apartemenku sebelum aku selesai.
Dan telepon segera kuangkat. Kukira dari Inspektur Hans.

“Hallo?” sapaku.

Terdengar suara tawa di ujung sana. Tawa yang ringan sekali. “Anda dengar suara saya?” kataku kesal. Tawanya berhenti dan terdengar ia mengatur nafas.

Mon ami! Kukira kau tak lupa suaraku. Coba kau buka-buka lagi album fotomu, dan buka juga agenda kerjamu, atau kau bisa mengandalkan naluri spionasemu.”

Aku terkesima sebentar. Kucoba menuruti nasehatnya. Kuingat-ingat suara itu. Kubayangkan foto-foto di albumku selintas. Dan aku tertawa. Aku melihat pada Madgie yang asyik dengan coklatnya. Gadis kecil itu membalas lambaianku.

“Aha! Aku ingat. Kau si kerempeng March, kan?”

“Kau betul Gibb. Tapi kau juga salah. Sekarang aku bukan lagi si Kerempeng March. Kau takkan lagi bisa mengenaliku lagi kali ini. Namaku Abdullah Karim dan aku sama sekali tidak kerempeng seperti denganmu!”

“Apa? Kau menyebut dirimu Abdullah Karim?”

Aku tiba-tiba ingat nama orang yang harus ku ‘selesaikan’. Ia juga bernama Abdullah Karim.

“Ya. Tentu saja mon cher! Aku tak salah mengucapkannya. Kenapa, kau kenal kan?” Ia seperti tahu jalan pikiranku.
“Bukankah kau baru saja menerima perintah untuk menangkapku, Gibb?” Si March kerempeng seperti tahu semuanya. Aku tak menyangka kalau ia terlibat terorisme. Sungguh di luar dugaan!

“Ya, aku telah diperintah untuk menangkap orang bernama Abdullah KArim. Dan aku akan berusaha menyelesaikan tugasku secepatnya.”

“Enchante Gibb! Kita akan bertemu secepatnya. Rendezvous, heh?”

Aku geram. “Tunggu saja, Karim!” ucapku sambil membanting telepon. Aku tiba-tiba tanpa sadar melihat ke arah Madgie, dan kulihat ia begitu ketakutan. Mungkin ia mendengar bentakan-bentakanku tadi.

“Oh, Manis, jangan takut. Papa Gibb cuma marah pada penjahat. Madgie juga benci penjahat, kan?” aku menghibur.

SEHARIAN aku sibuk memikirkan tentang March si Kerempeng. Aku benar-benar tak menduga kalau dialah sebenarnya yang sedang dicari-cari oleh seluruh dinas rahasia negara-negara yang ada di Eropa.

Dulu kami bersahabat dekat. Aku dan dia ikut dalam legiun yang diterjunkan ke beberapa pertempuran. Tapi ketika kami terpilih ikut ke Teluk, ia tiba-tiba mengundurkan diri dari kesatuan. Tak jelas alasannya waktu itu. Cuma saja waktu itu ia begitu membenci pasukan multinasional. Dan sejak saat itu sampai hari ini kami tidak pernah lagi bertemu.

‘PENEMUAN’KU sengaja tidak kulaporkan kepada Inspektur Hans. Aku lebih bernafsu menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri. Aku akan menangkap March diam-diam dan akan mengadilinya dengan caraku sendiri.
Thomas juga tidak kuberitahu, karena ia kuanggap tidak bisa memegang rahasia.

Aku ingin menghubungi March tapi aku kesulitan menemukan tempat persembunyiannya. Beberapa orang sudah kutemui, termasuk seorang petugas imigrasi kenalanku. Tapi hasilnya sia-sia, tak seorangpun merasa pernah melihat laki-laki yang ada dalam foto yang kuperlihatkan.

Tapi sore itu tiba-tiba Madgie menghilang. Ia tidak muncul seperti setiap sore ia pulang sekolah. Nyonya Smith menanyakan perihal anaknya itu kepadaku. Tentu saja aku tidak tahu menahu tentang Madgie. Gadis kecil itu hanya sesekali datang bertandang ke apartemenku, itu pun kalau ia sedang bersedih.

“Tolonglah saya Tuan Gibb! Selain saya, hanya andalah orang yang dekat dengan Madgie,” rengek wanita itu.

“Nyonya sudah menghubungi polisi?” tanyaku. Ia menggeleng.

“Oh, pauvre enfant,” gumamku. Aku meraih mantelku dan mengiringi wanita itu keluar. Mungkin ada baiknya kutolong wanita malang itu mencari Madgie. Tapi telepon menghentikan langkahku.

“Ya?” kataku tak sabar.

“…mon ami!” ucap sebuah suara. Setan! Aku tahu suara siapa itu. “Apalagi yang kau inginkan?” bentakku.

“Sabar kawan, seorang gadis kecil yang beberapa hari lalu bermain di kamarmu, sekarang ada di dekatku. Dan ia begitu menyukai coklat, benar kan?”

Mon dieu! Bagaimana mungkin Madgie sampai bisa berada di tangan si Bejat itu.

“Kalau sampai kau cederai anak itu, kau akan kubunuh!” ancamku. March tertawa.

“Tanpa itu pun kau akan tetap membunuhku,” ucap March. “Tapi jangan takut Gibb. Aku tidak lagi suka melukai manusia tanpa alasan yang kuat. Ini cuma ajakan buatmu, bahwa aku berada dekat denganmu. Setiap saat, kalau Allah mengizinkan, aku dapat membunuhmu tanpa kau sadari. Ingat Gibb, kita sama-sama prajurit terbaik yang pernah dimiliki Perancis. Dan kau memang telah pantas untuk dibunuh. Darahmu halal. Kau mengerti Gibb?”

Aku diam saja. Aku tak paham yang dimaksud March sebagai Allah dan halal. Kata-kata itu belum pernah kudengar sebelumnya.

“Aku hanya ‘meminjam’ gadis kecilmu sebentar. Kau yang sama sekali tidak punya hubungan darah dengannya, sudah begitu ingin membunuh orang yang menculiknya. Tapi bangsa kita telah lama berbuat yang jauh lebih kejam, Gibb. Dan pernahkah kau membayangkan bagaimana pilunya hati para orang tua di Aljier ketika pemuda-pemudanya ditangkapi dan dibunuh?”

Aku masih terdiam. Sedikit kata-kata Abdullah Karim meresapi dadaku. Tapi cepat kutepis perasaan itu.

“Persetan dengan nasehatmu March! Sekarang serahkan Madgie, atau…”

“Eh bien, Gibb. Aku sudah mengantar Madgie beberapa menit sebelum aku menelponmu. Kalau kau tak percaya, lihatlah ke luar jendelamu. Aku sama sekali tidak menyakitinya. Ketahuilah Gibb! Aku begitu mengasihi anak-anak!”

Kusingkap tirai jendela dan –memang- kulihat Madgie berjalan memasuki rumahnya.

“Tapi aku akan tetap membunuhmu!” ancamku.

“Merci, Gibb! Kau membuatku semakin hati-hati!”

Klik! Telepon ditutup. Sial! Aku membanting gagang telepon.

“Ada masalah, Tuan Gibb?” tanya nyonya Smith.

“Ah, semuanya sudah beres Nyonya. Anda bisa menemui Madgie di bawah.” ujarku sambil menggantungkan kembali mantelku.

“Terima kasih, Tuan Gibb. Budi baik Anda akan kubalas,” ucap nyonya Smith sambil keluar. Aku hanya mengangguk.

SEMUANYA telah kurencanakan dengan matang.

Siang tadi beberapa petunjuk sudah kuperoleh dari beberapa orang mata-mata, yang bekerja berdasarkan petunjuk si kecil Madgie. Abdullah Karim alias March menyewa sebuah kamar di kilometer 12 jalan Rue de la Follie. Dia ternyata memang sangat pemberani. Begitu berani ia tinggal di sekitar apartemenku.

Beberapa orang telah kutempatkan di sekitar motel milik wanita Polandia, di mana si Kerempeng itu bersembunyi.
Untuk mempercepat gerakku, telah kupinjam Renault milik Inspektur Hans. Dan aku yakin tugasku akan selesai malam ini.

AKU mendobrak pintu kamar 27 sambil terus menodongkan pistol. Seorang laki-laki tengah duduk membelakangiku. Dan kukira ia pasti March.

“Semuanya sudah berakhir March!” ucapku sambil terkekeh. Laki-laki itu berbalik memutar kursinya. Dan seketika aku benar-benar terkejut.

Benarkah ia March?

Laki-laki di depanku hanyalah seorang laki-laki yang telah buta dan lumpuh. Ia sudah kelihatan begitu tua dan renta. Atau ini hanya sebuah jebakan?

Aku mengangkat lagi pistolku sejajar dengan kepalanya.

“Jangan ragu, Gibb. Akulah March. Tapi mulai saat ini aku akan suka apabila kau memanggilku Abdullah. Atau lebih lengkapnya Abdullah Karim. Lupakan semua omongan kita lewat telepon beberapa waktu yang lalu. Semuanya kulakukan hanyalah agar kita dapat bertemu, walaupun dalam suasana yang sangat tidak nyaman ini.”

Tiba-tiba hatiku luruh. Bagaimana mungkin aku akan menembak mati sahabat yang telah begitu lama melekat dalam hidupku. Hanya March yang benar-benar tahu bagaimana diriku yang sebenarnya. Hanya March yang pernah mengerti perasaan-perasaanku. Ya, hanya dia.

“Oh, March, siapakah yang telah tega membuatmu seperti ini?” Aku mendekati tubuh renta itu. Dan aku benar-benar luruh. Sesuatu yang tidak boleh terjadi dalam diriku.

March tersenyum. “Siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabat kita juga, Gibb. Sahabat-sahabat kita yang terlalu bernafsu menggapai dunia ini. Tapi ini belum seberapa dibandingkan dengan penderitaan orang-orang Islam di Aljazair, Gibb. Mereka dibantai dan dihancurkan. Tahukah kau?”

Aku hanya terdiam. Aku hanya sibuk menatap pandangan matanya yang benar-benar kosong. “Tapi Allah akan membalasi orang-orang beriman seperti mereka dengan pahala yang berlipat ganda. Dan siksa untuk orang-orang seperti kita, dahulu. Tapi aku telah menemukan jalan yang terang, Gibb. Jalan yang telah membawaku kepada keridhaan-Nya. Dan aku bahagia menempuh jalan ini, walau banyak halangan dan rintangan.”

Aku semakin tergugah. Tanpa terasa air mataku jatuh. “March! Ajarkan aku menemukan jalan itu…,” pintaku penuh harap. Sudah kulihat keteguhan Abdullah Karim di hadapanku dan sudah kuketahui pula kekejaman orang-orang yang telah kuturuti selama ini.

“Kau bersungguh-sungguh Gibb?”

“Ya!” jawabku setelah agak lama.

“Dekatkan telingamu kepadaku dan aku akan bisikkan apa yang harus kau ucapkan.”

Aku mendengarkan dan mengulangi kembali kata-kata yang diucapkan March. Dan kemudian, dengan bergetar kuucapkan agak keras.

Begitu aku selesai, Abdullah Karim memelukku.

“Kau sudah terbebas saudaraku!” ucapnya. “Cuma ini yang kuharapkan dari pertemuan ini. Rendezvous kita cukup sampai di sini saja. Sekarang pergilah! Larilah ke mana saja kau suka, dan jangan kembali sebelum kau mempermantap apa yang baru saja kau ikrarkan! Ayolah sahabatku. Tinggalkan aku!”

Aku tidak melepas pelukanku pada tubuh ringkih itu. Bersamaan dengan itu kudengar langkah-langkah cepat menaiki tangga. Semakin lama semakin dekat.

“Kolonel…” sebuah suara memanggilku. Aku berbalik ke arah pintu. Tapi aku telambat, mereka telah melepas tembakan ke arah March. Dan kepala March terkulai berdarah.

Aku mengangkat pistolku dan membalas tembakan mereka. Dalam perhitungan, aku bisa menyudahi mereka dalam arena yang sempit itu. Tapi teriakan March di belakangku membuat aku lengah. Beberapa butir peluru menembus kepala dan leherku.

Sesaat aku bisa bertahan. Tapi tembakan mereka teruskan. Akhirnya aku hanya teringat kalimat-kalimat yang tadi kuikrarkan di depan Abdullah. Entahlah, rasanya aku sudah begitu hafal kata-kata itu.

Lalu semuanya terasa gelap.[]

Padang, 6 Juni 1995

Keterangan dalam bahasa Perancis

mon ami = sahabatku
mon cher = temanku yang baik
enchante = menyenangkan sekali
pauvre enfant = anak yang malang
eh bien = baiklah
merci = terima kasih
mon dieu = Tuhanku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>