storyteller

Sheriff Muda

(Dimuat di Majalah Annida No. 12 Tahun V/1996)

NAMAKU Chase Brock. Aku selalu senang dan bangga kalau ada yang memanggilku sheriff muda. Ayahku seorang sheriff di Pierson County. Aku sungguh bangga jadi anak tunggalnya. Yang paling menyenangkan, aku diperbolehkan ikut membantu ayah dalam memecahkan kasus-kasus kejahatan. Tak jarang aku menerima perhatian lebih dari orang-orang dewasa dibanding teman seusiaku. Siang itu ayah menerima telepon dari pemilik motel di kota. Seorang lelaki asing ditemukan tewas terbunuh di kamar nomor 14. Milton Kraemer, pemilik motel itu telah menanti kedatangan kami di gerbang motelnya.

“Korban pembunuhan itu bernama Jack Gibbons,” kata Milton. “Ia datang sendirian dan memesan kamar kemarin. Dia keluar beberapa jam sejak sore dan pulang agak larut malam. Jack ditemukan tewas beberapa menit yang lalu di kamarnya. Tak ada yang tahu siapa yang telah melakukannya.”

Beberapa orang anak buah ayah sudah berada di sana. Mike Wynfield, seorang pembantu terbaik ayahku menghampiri kami.

“Tiga belas peluru, Pak. Saya menduga pembunuhnya menggunakan senapan otomatis, bukan pistol,” ucap Mike sambil tersenyum kepadaku.

“Kita ke sana Chase, dan Mike, segera wawancarai beberapa orang yang bisa memberi keterangan.” Ayah memimpinku menaiki tangga menuju lantai atas. Seorang anak buah ayah yang berjaga segera membukakan pintu kamar nomor 14 ketika kami sampai di sana.

Mayat Jack Gibbons ditemukan tergeletak di atas lantai dengan posisi tubuh menelungkup. Di bawah tubuh itu terhampar sebuah karpet kecil menghadap ke barat. Baju putih Jack Gibbons hampir seluruhnya dinodai darah. Begitu pula karpet kecil itu.

Tak ada tanda-tanda bahwa korban melakukan perlawanan. Arah penembakan dari punggung korban. Berarti Jack ditembak dari arah pintu. Aku memeriksa pintu kamar itu. Tak ada goresan yang mencurigakan. Pintu itu masih mulus, tak ada bekas congkelan atau bekas didobrak.

Ayah membuka jendela kamar yang tertutup dan melihat keluar. “Tidak ada kemungkinan pembunuhnya menembak dari luar, Ayah,” kataku. Ayah menoleh. Matanya minta penjelasan dariku.

“Pertama, peluru berserakan di dada korban. Berarti pembunuh itu menembak dari arah pintu. Kedua, kamar ini terlalu tinggi sementara di luar sana tidak ada gedung yang langsung menghadap ke jendela. Tapi satu petunjuk sudah kita dapatkan, korban dibunuh pada malam hari!”

“Benar!” ucap ayah. Aku tersenyum. “Sekarang periksa barang-barang pribadi milik korban!” kata ayah. Aku memasang sarung tangan yang selalu kubawa kemana-mana, lalu membuka sebuah tas koper yang diletakkan di atas kasur. Kelihatannya si pembunuh tidak mengganggu barang-barang pribadi milik korban. Berarti ini tidak ada kaitannya dengan perampokan. Jack Gibbons dibunuh karena alasan lain.

Aku mengeluarkan satu per satu isi tas itu. Di dalamnya kutemukan beberapa potong pakaian, buku-buku bacaan dan barang-barang pribadi lainnya. Aku juga menemukan sebuah buku aneh. Aku tidak kenal tulisan yang digunakan dalam buku itu. Aku menanyakannya pada ayah.

“Itu namanya Al Quran. Kitab suci orang-orang Islam,” jawab Ayah.

“Ayah tahu dari mana?” selidikku.

“Ayah pernah satu barak dengan seorang muslim, waktu di akademi polisi dulu,” jawab Ayah sambil terus meneliti tubuh korban. Aku diam saja. Kuperhatikan lagi karpet kecil di bawah mayat Jack. Ia pasti sedang beribadah ketika pembunuh itu menembaknya. Kukira Jack pasti seorang muslim yang taat.

Setelah memeriksa isi kamar itu untuk kedua kalinya, ayah mengajakku keluar. Beberapa orang bawahan ayah menggantikan tugas kami. Ayah lalu meminta seorang petugas membawa Milton Kraemer ke mobilnya. Milton datang dengan wajah agak cemas. “Saya rasa Anda telah menyembunyikan sesuatu, Tuan Milton!” ucap ayah tegas.

“Maksud Anda?” tanya Milton agak gugup.

“Anda mengatakan bahwa korban pulang larut malam. Benar?”

“Benar!”

“Jam berapa waktu itu?”

“Kira-kira jam 24.00!”

“Bagus. Lalu apa yang Anda lakukan setelah itu?” Milton diam sejenak sebelum menjawab.

“Saya pergi tidur.”

“Tidur? Atau Anda melakukan sesuatu?”

“Maaf, Anda tidak bermaksud mengatakan bahwa sayalah yang telah membunuh laki-laki itu, bukan?”

Ayah tertawa sinis. “Anda menerima tamu lagi tengah malam itu?”

Kali ini Milton terdiam agak lama. Akhirnya dengan suara hampir berbisik ia mengakui perbuatannya. “Saya kedatangan seorang tamu bersenjata. Ia mengancam saya untuk tutup mulut. Ia meminta kunci kamar Tuan Jack Gibbons dan…”

“Terima kasih, Tuan Milton. Sekarang Anda harus ikut saya ke kantor sheriff!”

BEGITU suara mobil ayah terdengar memasuki halaman, aku langsung memburunya. “Bagaimana hasilnya, Ayah?” Ayah tampak kusut dan sedikit gusar.

“Pembunuhnya seorang agen FBI!”

“FBI?” mataku melotot.

“Ya. Kasus ini terlalu berat bagi Ayah, Chase. Kamu tahu sebabnya bukan?” Aku mengangguk. “Ya, aku tahu. Jack Gibbons pasti seorang buronan FBI. Ia tentu sangat berbahaya sehingga harus dibunuh. Dan Ayah di telepon seseorang yang meminta Ayah menghentikan pengusutan kasus ini, bukan begitu?”

“Benar.” Ayah membuka lemari es dan mengeluarkan minuman. Ayah menenggak minuman itu langsung dari botolnya. Sementara itu aku sibuk berpikir.

“Tunggu dulu Ayah. Aku punya sebuah dugaan sementara.” Ayah tampak tertarik. Ia meletakkan minumannya dan duduk di depanku. “Ayah masih ingat kasus pembunuhan seorang Afro-Amerika setahun yang lalu?”

“Ya, lantas apa hubungannya dengan kasus ini?”

“Bukankah kemudian terbukti bahwa Michael Connery, si negro itu tidak bersalah dan ternyata FBI membunuhnya karena tidak ingin skandal dalam tubuh FBI dibeberkan kepada pers?”

Ayah mengangguk. Namun kemudian keningnya berkerut. “Lantas bagaimana?” desaknya padaku.

“Yeah, bisa jadi FBI membunuh Jack Gibbons dengan alasan yang lebih kurang sama, begitu.”

“Lalu menurutmu apa yang harus ayah lakukan?”

Aku tersenyum. Aku senang kalau ayah bertanya seperti itu. “Aku ingin Ayah menyelesaikannya seperti kasus Michael Connery. Kalau pun tak sama betul, tak apa-apa…” Ayah tertawa mendengar ucapanku.

“Terima kasih, Chase. Semoga kelak kau bisa jadi abdi hukum yang baik!” Ayah meraih rompinya dan bergegas menuju pintu.

“Ayah,” aku memanggil karena teringat sesuatu. Begitu ayah menoleh, aku langsung berkata, “Analisisku, Jack Gibbons bukan seorang penjahat. Tak mungkin seorang penjahat membawa kitab suci agamanya kemana-mana, dan beribadah begitu taat kepada Tuhannya.”

Ayah tersenyum lagi. “Ya, ayah setuju denganmu!” ucapnya sambil menutup pintu.

HARI MINGGU. Pagi-pagi sekali aku dibangunkan ibu. Ibu mengingatkanku tentang latihan berkuda yang harus kulakukan bersama ayah di areal peternakan kuda milik kami. Aku berpakaian dengan cepat. Sebelum keluar aku mencium pipi ibu.

Ayah tidak banyak bicara selama perjalanan. Kulihat ayah sedang berpikir keras. Kurasa masih memikirkan kasus pembunuhan di motel milik Milton Kraemer.

Dick, pekerja yang telah mengurus peternakan sejak aku masih bayi membukakan pintu pagar. Lelaki tua itu mendekati jendela mobil dan mengusap kepalaku dengan akrab. “Hari ini kau harus bisa menaklukkan si Jantan, Sheriff Muda,” ucapnya.

“Aku pasti bisa!” ucapku optimis. Aku keluar dari mobil kemudian mengikuti ayah dan Dick ke kandang kuda. Beberapa menit kemudian kami bertiga sudah berpacu mengelilingi kawasan peternakan. Ketika ayah dan Dick sudah memulai putaran kesepuluh, aku melihat seseorang mengendap-endap di dekat mobil ayah. Aku memutar si Jantan dan memacunya menuju mobil ayah. Ia tampak kaget ketika menyadari aku sudah hampir mendekatinya. Kuperhatikan wajah laki-laki jangkung itu dan merekamnya dalam kepalaku. Namun ia begitu cepat menyelinap ke balik semak-semak dan menghilang di balik kerimbunan pohon-pohon Joshua.

Aneh, kataku dalam hati setelah berputar-putar di dekat mobil ayah. Tidak satu pun yang hilang. Bahkan makanan yang kubawa dari rumah masih utuh. Aku lalu menaiki si Jantan lagi dan kembali ke arena pacuan.

“Ada apa, Chase?” tanya ayah setelah pacuan berakhir.

“Ada yang mencoba mempreteli tape mobil,” jawabku.

“Dan kau menggagalkannya?” tebak ayah.

“Tentu saja. Tapi ia sama sekali tidak menyentuh makanan yang kita bawa.”

“Mungkin cuma gembel biasa,” kata ayah sambil menggiring kudanya ke dalam kandang.

“Bisa jadi,” ucapku. Tapi hatiku mengatakan bahwa laki-laki jangkung itu bukan pencuri biasa.

Kami bertiga kemudian menikmati roti dan selai buatan ibuku. Ayah kemudian bercerita bahwa ia mendapat kesulitan dalam melacak agen FBI yang membunuh Jack Gibbons.

“Hati-hati, Tuan Sheriff, Anda berhadapan dengan orang-orang yang kejam dan licik,” Dick mengingatkan ayahku.

“Apalagi yang berhubungan dengan pembunuhan seorang muslim,” lanjutnya. Dick kurasa banyak tahu tentang kehidupan orang-orang Islam.

“Kenapa begitu, Dick?” tanyaku.

“Aku tiga puluh tahun hidup dikelilingi orang-orang Islam. Aku merasakan betapa damainya hidup di tengah-tengah mereka. Mereka orang-orang yang begitu toleran dan ramah. Mereka adalah orang-orang yang membenci penindasan dan perusakan.” Aku memikirkan kata-kata Dick. Sebelum bekerja dengan keluargaku, Dick tinggal di Chicago, dimana hidup sebuah komunitas muslim keturunan Arfo-Amerika.

“Lantas bagaimana dengan berita yang kudengar di radio dan televisi? Bukankah mereka adalah orang-orang yang jorok, perusak, teroris dan suka berperang?” tanyaku. Dick kembali tertawa.

“Itu semua kebohongan yang dilontarkan orang-orang yang membenci mereka, Tuan Muda. Tuan Muda mungkin tidak akan percaya kalau kukatakan bahwa ada-ada saja alasan pemerintah untuk menangkap atau membunuh atau mengusir mereka.”

“Maksudmu, FBI sering berbuat begitu?” ayah ikut bertanya.

“Ya. Para aktivis muslim yang dianggap berbahaya dibunuh tanpa proses peradilan!” jelas Dick. Berarti dugaanku benar. Jack Gibbons bukan orang jahat. Ia bisa jadi seorang aktifis muslim yang tidak disukai pemerintah.

Ayah melihat jam tangannya. “Kita pulang sekarang, Chase!” ajaknya sambil melangkah ke mobil. Kebereskan sisa-sisa makanan kami dengan cepat. Tiba-tiba Dick memanggilku. Aku melihat ia keluar dari pondoknya sambil membawa sesuatu.

“Aku tidak tahu apakah Tuan Muda mau menerima pemberianku ini. Ini kudapatkan dari seorang sahabat di Chicago dulu. Kebetulan aku punya dua buah.”

Aku menerima buku tebal itu dan membaca judul di kulit luarnya. The Holy Quran.

“Kau sering membacanya, Dick?” tanyaku. Dick kulihat ragu mengatakannya. Tapi akhirnya ia berkata, “Aku sudah memeluk Islam sejak tiga tahun yang lalu, Tuan Muda. Delapan tahun aku mempelajarinya. Dan aku menemukan kedamaian yang tidak kutemukan selama 46 tahun usiaku!” ia berkata.

Aku tersenyum. “Kukira Ayah dan Ibu akan senang mendengar berita ini, Dick. Selamat!” ucapku. Aku menyalami Dick. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara ledakan dahsyat. Oh my God ! Mobil ayah terbakar, sementara ayah berada di dalamnya!!!

“Ayaaaahh!!!!” teriakku. Aku memburu ke mobil ayah diikuti Dick. Wajahku memerah. Bukan karena api yang berkobar di depanku, tapi karena amarah. Aku ingin menolong ayah. Tapi kobaran api sudah terlalu besar. Tiba-tiba mataku seperti pecah. Aku menangis.

HARI itu adalah hari paling buruk dalam hidupku. Pelayat yang berpakaian hitam-hitam bergantian menyalami aku dan ibu. Dick ikut mendampingi kami. Ia baru mendekati kami ketika upacara penguburan selesai.

“Mobil ayah dipasangi bom, Dick!” ucapku padanya, “Gembel kemarin itulah yang telah memasangnya. Aku tak akan pernah melupakan wajahnya. Ada sebuah goresan bekas luka di pipi kanannya. Cepat atau lambat, wajah itu akan kutemukan dan akan kuhancurkan.” Tanganku mengepal. Rahangku mengeras. Dick merasakan amarahku.

“Sabarlah, Tuan Muda.” Ucapnya. Dick memelukku, mencoba menenangkanku. Lalu tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang kukenal berdiri di antara pelayat. Dia memakai topi lebar koboinya. Tapi walaupun topi itu ditekuk hingga hampir menutupi seluruh wajahnya, aku bisa melihat goresan bekas luka di pipi kanannya. Dialah pembunuh ayah! Darahku menggelegak. Tanpa sengaja aku melirik pistol di pinggang Mike Wynfield. Dengan sekali sentak aku mencabut pistol di pinggang Mike dan menyeruak dengan cepat diantara kerumunan orang-orang. Kini wajah itu sudah dihadapanku. Matanya menatapku dan wajahnya seketika pucat saat keletakkan laras revolver di keningnya.

“Jangan Chase!” Mike dan orang-orang memperingatkanku. Aku tetap menodongkan revolver itu ke wajah berbekas luka itu. Kutatap dengan berani matanya yang licik dan penuh dosa.

“Akui bahwa kau telah membunuh Jack Gibbons dan Sheriff John Brock!” bentakku. Suara kanak-kanakku melengking tinggi. Kulihat ia semakin ketakutan. Tangannya bergerak mengambil sesuatu di balik jas hitamnya. Tapi aku bukan anak ingusan!

“Jangan melawan! Jawab dengan cepat. Ayooo!!!” bentakku makin keras. Ia menurunkan tangannya kembali. Tempat itu tiba-tiba menjadi hening. Samar-samar kudengar suara tangis ibuku. Tangis itu seakan mencegahku. Tapi aku harus membunuh laki-laki itu.

“Kuhitung sampai tiga…,” kataku. Ia menatapku dengan benci. Tapi aku tak gentar. Aku sudah dididik dengan keras oleh ayah sedari kecil. Lelaki jangkung itu tak membuatku takut.

“Dua…!” Wajahnya pucat pasi. Ia mulai termakan gertakanku.

“Ti…,” suaraku bergetar dan jariku siap menarik pelatuk pistol.

“Tunggu! Dengarkan!” katanya menahan. Ia menarik nafas. Orang-orang diam menunggu.

“Akulah pembunuh Jack Gibbons dan Sheriff kalian,” katanya. Orang-orang bergumam dan berbisik-bisik. “Tapi aku hanya menjalankan perintah…,” lanjutnya.

Aku menarik pelatuk kuat-kuat dan letusan itu terdengar begitu keras di telingaku. Setelah itu yang kudengar hanya pekikan wanita dan suara benda berat ambruk ke tanah. Aku telah membunuhnya!

NAMAKU Chase Brock. Aku kini mendekam dalam penjara di Pierson County dimana dulu ayahku jadi orang nomor satu. Itulah hukuman yang dijatuhkan hakim kepadaku. Walaupun banyak yang bersimpati padaku, tapi tetap saja juri memutuskan aku bersalah. Tapi aku tidak menyesal. Aku bangga ayahku gugur dalam menjalankan tugas. Dan aku bangga telah melakukan yang terbaik untuknya : menemukan pembunuh dirinya dan Jack Gibbons, si Muslim itu.

Satu-satunya benda yang kubawa ke dalam selku adalah kitab pemberian Dick. Kurasa inilah cara terbaik untuk mengisi hari-hariku selanjutnya. Aku percaya pada Dick dan percaya pula pada keyakinan yang dianut Jack Gibbons, walaupun aku tak mengenalnya sama sekali. Dan kurasa aku akan bangga sekali jika suatu saat orang-orang memanggilku seorang muslim. Sungguh![]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 139 other followers

%d bloggers like this: