storyteller

Cinta Tak Pernah Lelah

“Nda nggak mau! Nda mau sama ayah aja,” ucapnya.

Gadis kecil itu berbalik dari hadapanku dan berlari ke kamar ayahnya. Aku termangu. Kuangkat sepatu kecil itu dan kususul ia ke kamar. Diambang pintu aku berhenti dan memperhatikan. Mas Angga sedang sibuk memasang dasinya dan gadis kecil itu merengek-rengek minta diperhatikan.

“Lho, kenapa tidak sama Bunda saja?” Mas Angga merapikan jilbab putrinya dan merapikan bedak di wajahnya.
Gadis kecil itu menggeleng-geleng cemberut. Dengan sudut mata, ia melirik ke arahku, lalu cepat-cepat lagi melihat pada ayahnya.

“Nggak mau!” katanya. Mas Angga tersenyum minta kearifanku. Aku mengangguk kecil.

“Oke, biar Ayah yang pasang,” Mas Angga mengambil sepatu itu dari tanganku dan jongkok di hadapan putrinya.
Tiba-tiba gadis kecil itu merebut sepatunya. Aku dan Mas Angga kaget dan saling bertukar pandang.

“Tidak. Biar Nda pake sendiri. Nda sudah bisa kok.”
“Duh pinter anak Ayah…” puji Mas Angga.

Dinda duduk di tepi tempat tidur dan mulai memasang kaos kaki kirinya.
“Kaki kanan dulu, Sayang,” aku lembut mengingatkan. Tapi sebagai balasan, aku menerima tatapan aneh dari mata berbulu lentik itu. Namun dengan malu-malu diturutinya juga nasehatku. Sebentar saja Dinda sudah larut lagi dengan ayahnya. Aku diam-diam menarik nafas.

“Sudah? Ayo berangkat!” Mas Angga membimbing tangan mungilnya dan membawanya keluar kamar. Aku mengambil tempat kue dan botol susu lalu mengekori mereka.

“Nah, sebelum berangkat, cium dulu tangan Bunda dan bilang salam,” ucap Mas Angga. Gadis kecil itu berdiri di ambang teras dan menatapku dengan ragu.

Aku mengulurkan tangan dan menunduk ingin mencium pipinya. Tapi gadis kecil itu mengelak dan berlari ke mobil ayahnya. “Lho, kenapa?” Mas Angga bertanya heran sambil menahan geli. Aku dengan miris terpaksa ikut tersenyum. Aku tahu, anak-anak bisa saja bersikap begitu.

Kuberikan bekal gadis kecil itu pada suamiku. Sementara mata berbulu lentik itu menatapku takut-takut. Dinda tampak merasa bersalah.

“Assalamu’alaikum. Jaga rumah baik-baik ya, Fit!”

“Ya, Mas.” Aku menjawab salam Mas Angga sambil mencium tangannya. Mobil itu bergerak ke luar pekarangan.

Ini saat-saat pertamaku jadi seorang ibu bagi Dinda. Aneh ya? Tidak kok. Aku memang baru saja menikah minggu lalu, tapi suamiku seorang duda beranak satu. Jadi beda dengan pasangan-pasangan baru yang lain, aku langsung diamanahi seorang putri.

Awalnya aku merasa tidak akan mengalami kesulitan menghadapi Dinda. Soalnya aku tidak sulit dalam soal berbaur dengan anak-anak. Sudah tiga tahun ini aku mengajar di TK dan play group dan selama ini tidak ada anak-anak yang sulit kudekati. Tapi yang satu ini…, sungguh lain. Aku merasa ditantang.

Dinda masih berumur satu tahun ketika Mbak Wi, mamanya meninggal dunia. Mbak Wi sudah kukenal lama. Almarhumah seniorku di SMA dulu dan pembimbingku di pengajian. Jantungnya yang lemah tak membuat agendanya sepi dari kesibukan. Ceramah, seminar, mengelola toko buku, menjahit dan menulis membuat dia lupa pada jantungnya.

Waktu menerima lamaran Mas Angga, aku sedikit merasa aneh. Soalnya Mbak Wi pernah berkelakar begini :

“Fit, kalau nanti Mbak Wi nggak ada, kamu yang jagain Dinda, ya?”

Sekarang, setiap kali ingat kata-kata itu, aku selalu menangis. Tak kusangka, Mbak Wi akhirnya benar-benar menitipkan Dinda padaku.

Dulu aku sebenarnya cukup dekat dengan Dinda. Waktu masih bayi, aku sering menggendongnya. Aku bahkan sering nginap di rumah Mbak Wi kalau Mas Angga sedang ke luar kota. Tapi itu dulu. Sejak Mbak Wi meninggal, aku jarang sekali bertemu lagi dengan Dinda, karena dia diboyong Mas Angga ke rumah orang tuanya di kampung.

Akhirnya Allah mempertemukan kami lagi tiga tahun kemudian, dalam suasana yang begitu berbeda. Dinda sudah empat tahun dan baru saja masuk TK, dimana aku mengajar selama ini. Dan sekarang aku bukan lagi teteh, tante atau bibi baginya. Sekarang aku ibunya.

Sudah seminggu aku tinggal di rumah yang dulu ditempati Mbak Wi. Foto Mbak Wi masih ada dimana-mana. Aku melarang ketika Mas Angga ingin menyimpan foto-foto itu dan menggantinya dengan foto-foto pernikahan kami. “Biarkan saja, Mas. Kasihan Dinda,” ucapku.

Aku membayar angkot dan menyeberangi jalan. Aku akan menjemput Dinda di TK dan akan mengajaknya jalan-jalan. Biar sosialisasinya lebih cepat, ujar Mas Angga tadi malam.

Aku mengucap salam dan memasuki ruangan guru. Nida dan Lusi, dua rekan kerjaku, yang sedang menulis buku harian anak-anak langsung heboh begitu melihat aku.

“Ih, penganten baru. Tambah cantik kamu, Fit!” Nida memeluk dan menciumku bergantian dengan Lusi.

“Ah, kamu bisa aja…” aku tersipu malu.

“Eh, gimana? Ada kesulitan berbaur dengan Dinda. Biasanya agak sulit lho Fit, anak-anak yang kehilangan ibu menerima ibu lain di rumahnya.”

“Sedikit. Dinda agak menjaga jarak denganku. Tapi insya Allah aku bisa,” Ujarku.

“Kapan masuk lagi, Fit?” kejar Nida.

“Mungkin minggu depan. Setiap hari aku akan pergi dan pulang sama-sama dengan Dinda.”
Lalu obrolan pindah ke topik lain.

Jam sepuluh tepat, Nida menekan bel pulang. Anak-anak kulihat berbaris di dalam kelas dan keluar satu-satu sambil mencium tangan gurunya.

Aku menunggu Dinda keluar dari kelas. Waktu dia melihatku, dia tidak memberi respon apa-apa.

“Dinda mau langsung pulang?” Aku mengambil tisu dan menyeka keringat di wajahnya. Dinda tidak menolak. Tapi matanya melihat ke arah lain, mencari-cari sesuatu di luar pagar. Ia tentu sedang mencari-cari mobil ayahnya.

“Mulai hari ini, Dinda pulang sama Bunda, ya, Sayang?” Dinda menatapku lama. Matanya cemas.

“Nda mau sama Ayah…” matanya mulai berkaca-kaca.

“Tidak, Sayang. Sekarang Dinda pulang sama Bunda, ya? Ayah kan sedang di kantor,” aku terus membujuk.

“Nggak mau…, Nda mau sama Ayah…, hu hu hu…” Gadis kecil itu mencangkung dan mulai menangis.
Nida menghampiri kami dan ikut membujuk Dinda.

“Ayo Sayang, kan ini Bunda Dinda. Tuh liat, teman-teman Dinda juga pulang sama bunda-bundanya. Dinda juga, ya?”
Dinda menggeleng-geleng.

“Atau Dinda mau pulang pake mobil sama Om Lutfi?” Nida mencoba cara lain. Mata kecil berbulu lentik itu menatap mobil jemputan yang parkir di depan TK. Teman-temannya sedang ribut berebut tempat duduk.

Ia menggeleng. “Nggak…, Nda mau sama Ayah…” dan tangisnya kian keras. Aku mau menggendongnya tapi Dinda mengelak. Nida akhirnya bisa membujuknya dan membawanya ke kantor guru.

Di kantor, tangisnya mulai reda. Tapi ketika aku membujuknya lagi, ia kembali menangis dan memanggil-manggil ayahnya. Aku menyerah kali ini. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Mas Angga.

Jam dua puluh dua, saat Dinda sudah tidur.

“Sabar ya, Fit. Ini tidak akan lama. Dinda mungkin belum terbiasa.” Mas Angga duduk di sebelahku sambil membuka-buka korannya.

“Tapi Fitri nggak tega sama Mas. Seharusnya Fitri bisa ambil alih. Itu kan tugas Fitri,” Aku menatap Mas Angga dengan sedih. Aku tadi siang sebenarnya tidak sampai hati mengganggunya di kantor. Tapi Dinda benar-benar tidak mau pulang kalau Mas Angga tidak menjemput.

“Ah, tidak apa-apa. Lama-lama Dinda akan mengerti juga. Setelah itu Mas bisa serahkan semuanya pada Fitri.”
Terus terang aku masih agak kikuk di hadapan Mas Angga. Mungkin karena dulu ia suami Mbak Wi. Tiga tahun jadi single parent sudah cukup bagi Mas Angga untuk mengambil alih tugas-tugas seorang istri. Mencuci, memasak, membersihkan rumah dan yang paling sulit membesarkan Dinda, dilakukannya sendiri. Aku benar-benar salut. Sekarang sudah saatnya Mas Angga kembali ke asalnya sebagai seorang ayah dan suami.

“Besok kita berangkat sama-sama dan pulang sama-sama. Seminggu insya Allah cukup untuk mencairkan kebekuan diantara kalian.”

Aku terharu sekali. Sedemikian besar perhatiannya.

“Makasih, Mas. Mas baik sekali,” kucium tangannya. Beruntung sekali aku bisa mendampingi hidup lelaki sebaik dia.

Program ‘sosialisasi’ antara aku dan Dinda tidak mencapai tujuannya. Malah, gadis kecil itu semakin lengket dan tergantung pada ayahnya. Padahal aku sudah habis-habisan mengerahkan seluruh taktik dan strategi untuk membuatnya akrab denganku.

Dan dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba saja Mas Angga harus ke luar kota.

“Jangan lama-lama ya, Mas…” pintaku saat mengantar suamiku ke pintu. Fajar baru saja merekah. Dinda masih pulas di tempat tidur kecilnya.

“Mas cuma tiga hari,” jawab Mas Angga.

“Benar, nggak apa-apa Dinda nggak dikasih tahu?” tanyaku.

“Tidak apa-apa. Dia akan menangis sebentar. Setelah itu bisa tenang lagi.”

Aku mengangguk. Mas Angga mencium keningku dan pamit.

“Jaga rumah baik-baik ya, Fit!” Aku tersenyum. Mas Angga masuk ke mobil dan mengucap salam. Kijang metalik itu lalu meluncur ke gerbang.

Baru saja lampu mobil Mas Angga menghilang di tikungan, aku mendengar suara Dinda.

“Ayah…!!!”

Bergegas aku masuk dan menutup pintu. Dinda berdiri di ambang pintu kamarnya sambil mengucek-ucek mata. Tangannya langsung diam ketika melihatku.

“Ayah…!” Gadis kecil itu memanggil lagi. Belum sempat aku berkata apa-apa, langkah kecilnya sudah bergerak ke ruang tamu, ke dapur, ke mushala dan kembali lagi ke depan kamarnya.

“Ayah Nda mana? Ayah Nda mana? Ayaaahh…!” Gadis kecil itu mulai menangis.
Aku menggendongnya dan menenangkannya. Tapi gadis cilik itu memberontak dari pangkuanku. Aku memeluknya erat-erat.

“Ayah sedang kerja. Nanti juga pulang, kan ada Bunda…,” bujukku.

“Nda nggak mau, Nda nggak mau… hu hu hu…”

Dia meronta-ronta lagi. Aku belum menyerah.

“Bunda akan bikin susu buat Nda, ya? Truss, Nda mandi dan kita sarapan sama-sama. Bunda sudah bikin sup kesukaan Nda. Setuju?”

Dia berhenti meronta dan menatapku beberapa saat. Aku berpikir bahwa usahaku merebut hatinya akan berhasil hari ini. Gadis kecil itu masih terisak dan tatapan matanya tak lepas dari wajahku. Mungkin ia ingat dan kangen pada Mbak Wi. Tak tahan kucium wajah kecil itu.

“Ayo, kita cuci muka Nda dulu, ya?” Kuturunkan ia dari gendongan. Dinda tiba-tiba saja patuh. Kubimbing ia ke kamar mandi. Tapi yang membuatku heran, sekarang dia lebih banyak menatapku dibanding hari-hari sebelumnya. Sebenarnya sudah lama aku ingin dipanggil ‘Bunda’ olehnya. Sejak awal proses pernikahanku dengan Mas Angga, Mas Angga tidak bosan-bosannya memanggilku dengan panggilan ‘Bunda’ di setiap kesempatan. Tapi sampai detik ini, Dinda tidak pernah memanggilku atau menyebut-nyebut tentang diriku. Ia hanya menatapku dan selalu menatapku dengan pandangan asing.

Acara mandi dan sarapan pagi berjalan dengan lancar. Aku bernafas lega ketika Dinda tidak bikin ulah waktu kuantar ke TK. Tapi aku tetap saja merasa aneh, dia tidak banyak bicara. Dan tak sekalipun dia memanggil aku ‘Bu Fitri’ seperti anak-anak TK yang lain, ketika aku sampai di sana.

Tapi tidak apa-apa. Setidaknya sudah ada kemajuan. Sudah tak sabar rasanya bercerita pada Mas Angga.

Waktu bubaran, aku langsung menuju kelas Dinda. Dia diam saja waktu kubimbing. Nida dan Lusi mengedipkan mata waktu aku pamit pulang.

“Kita pulang sekarang, Nda?” tanyaku pada Dinda.
Gadis itu cuma mengangguk.

Ingin sekali kudengar dari mulutnya yang kecil itu, “Bunda, Bunda, Nda mau main ayunan dulu…” atau, “Nda mau beli es, Bunda!”

Diam-diam ada rasa sedih merayap dalam hatiku. Kapan Dinda akan benar-benar mau mengakuiku sebagai ibunya? Tapi biarlah, aku akan bersabar. Aku tidak akan pernah lelah menunggu saat-saat itu.

Aku menunggu arus lalu lintas sepi sebelum menyeberang. Kugenggam tangan Dinda dengan erat. Lalu sekilas, tidak pasti, kulihat sebuah mobil mirip mobil Mas Angga melintas di depan kami. Jalanan sedang kosong.

Tiba-tiba Dinda melepaskan diri dan mulai berlari menyeberangi jalan .

“Ayaaaaahh…!” panggilnya.

Beberapa saat aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Dinda lenyap di balik kendaraan yang lalu lalang.

“Dindaaa!!” Aku panik dan tidak memikirkan lagi keselamatan diriku. Aku nekat menyeberangi jalan, menyusul putriku.

Antara sadar dan tidak, tiba-tiba sesuatu yang kuat dan keras menghantam pinggangku. Aku terlempar ke udara dan mendarat di bibir trotoar yang keras.

Sekilas, melintas bayangan Dinda di mataku. Lalu aku tidak tahu apa-apa lagi.

Sinar mentari yang menerobos jendela jatuh di wajahku. Aku terbangun. Perlahan kubuka mataku dan sedikit demi sedikit cahaya mengisi ruang mataku. Aku lalu mendengar suara-suara.

“Fitri…”

Itu suara Mas Angga! Aku mencari-carinya, tapi sudut pandang mataku terbatas karena gips yang membungkus leherku. Ya Allah…aku baru ingat kalau aku sedang berada di rumah sakit. Ya, aku ingat kecelakaan itu…

“Mas…” Aku dengan susah payah menggerakkan bibirku. Mas Angga muncul di mataku. Kulihat wajahnya yang cemas. Kurasakan ketakutan di matanya. Aku jadi ingat, dulu seperti itu pula wajahnya ketika Mbak Wi terbaring di rumah sakit.

Lalu aku teringat Dinda. “Dinda….Dinda ma..na…Mas?” tanyaku.

Mas Angga lalu tersenyum. Sesuatu menggantikan kesedihannya. “Dinda sedang di sekolah. Sebentar lagi juga datang.”

“Dinda tidak apa-apa kan, Mas?” aku bertanya cemas.

“Tidak. Dinda baik-baik saja. Dan dia sudah berubah.”

“Berubah?” tanyaku heran.

“Ya, kau sudah berhasil, Fit. Sudah tiga malam ini ia selalu menangis dan memanggil-manggil ‘Bunda…bunda…’…”

“Benarkah Mas?” Aku tak percaya. Kurasakan mataku berkaca-kaca.

“Setiap pulang dari sekolah, Dinda pasti mengajak Mas menjengukmu. Tapi ia selalu kecewa karena kamu belum sadar-sadar juga…”

“Alhamdulillah…,” Aku bahagia sekali. Sekarang aku benar-benar sudah jadi seorang ibu. Terima kasih ya, Allah!

Lalu kudengar langkah kecil itu. Kudengar suaranya yang kecil bicara dengan ayahnya…Lalu wajah kecil bermata indah itu berbinar-binar menatapku. Mata kecil berbulu lentik itu basah oleh air mata. Lalu bibir kecilnya yang pucat bergetar ketika memanggilku untuk pertama kalinya,

“Bun…da….! Ja..ngan..tinggalkan Nda, Bunda…hu..hu..hu…”[]

Bukittinggi, 15 Nopember 2000

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Archives