Ini Bukan Perang Kita, Aleyna

“Kenapa kau melakukannya, Sersan?”

Sersan Christopher Ferguson mengangkat kepalanya. Perwira di depannya menatapnya dengan marah. Ia tertangkap empat puluh delapan jam yang lalu di Baghdad, kepergok mengenakan pakaian sipil Irak, dan membawa sebuah Kalashnikov, ketika sebuah patroli pasukan AS mencegat mobil yang ditumpanginya bersama delapan milisi Irak lainnya. Pasukan AS memisahkan mereka, dan membawanya ke tenda pusat komando tentara Amerika di Doha, Qatar. Kini mereka menginterogasinya. Ia didudukkan di lantai dengan tangan terikat tinggi di atas punggung.

“Anda tidak akan mengerti, Sir. Ini soal hati nurani, yang selama ini tak pernah saya, bahkan Anda sendiri, miliki.”

BAGAIMANA harus kuceritakan semua ini, Aleyna? Dengan bahasa apa tragedi ini akan kukisahkan padamu? Hari ini kulihat sebuah peradaban tertua di dunia berusaha dimusnahkan. Ini bukan perang, Aleyna. Ini pemusnahan. Kalau ini memang sebuah perang, kenapa rumah sakit dan pemukiman penduduk juga dihancurkan?

Benar yang kau tulis dalam koranmu, Aleyna. Penderitaan rakyat Irak bukan hanya akibat perang saja, melainkan sanksi ekonomi PBB yang dijatuhkan sejak 6 Agustus 1990. Dan aku melihat pengaruh sanksi ekonomi itu masih mendera rakyat Irak sampai sekarang. Bahkan kata-katamu bahwa selama masa embargo itu satu orang anak Irak meninggal setiap empat jam dan satu dalam keadaan kritis tidak ada artinya dibanding apa yang kusaksikan sekarang. Ribuan rudal dan bom yang dilepaskan pasukan kita dan Inggris telah menambah panjang daftar penderitaan rakyat Irak yang tak berdosa. Jerit dan tangis anak-anak yang terluka, atau kehilangan anggota keluarganya, adalah pemandangan yang sehari-hari kulihat dengan mata kepalaku sendiri.

Hari Ke-5
Sersan Christopher menutup diarynya. Ia mendengar peluit tanda peringatan. Beberapa rekannya berlari-lari mengelilingi lubang-lubang sambil berteriak memerintahkan seluruh pasukan bersiap-siap untuk bergerak kembali. Tiga jam lalu Divisi Infanteri Ke-3 tempatnya bertugas berhenti di pinggiran kota Najaf, Irak tengah. Mereka harus menunggu laporan hasil serangan udara pasukan koalisi ke target-target Irak di kota Najaf. Jika laporan serangan udara itu positif, giliran mereka memasuki dan menghabisi segala apa yang tersisa di kota itu.

Beberapa jam yang lalu, tiga orang rekannya tewas oleh serangan penduduk sipil bersenjata yang menunggu di lubang-lubang pertahanan yang tak terlihat. Namun mereka sudah membayarnya dengan membumihanguskan semua lubang pertahanan itu. Sampai-sampai bau mesiu bercampur aroma daging dan darah terpanggang meruak di udara. Tak ada tentara, tak ada milisi, tak ada rakyat Irak bersenjata yang tersisa.

“Bunuh semua yang hidup di depan kalian. Jangan pernah percaya pada rakyat sipil sebelum kalian benar-benar menggeledah mereka semua. Bahkan anak-anak dan wanita yang mencurigakan, tidak perlu diberi kesempatan.”

Kepala regunya berteriak-teriak di depan barisan. Sersan Christopher mengangkat ransel dan senapan serbunya dengan perasaan enggan. Ia menatap matahari di atas kepalanya dan berdoa, semoga tidak ada lagi korban yangberjatuhan. Tapi itu tentu saja mustahil.

Satu jam kemudian mereka memasuki kota Najaf tanpa perlawanan berarti. Bangunan dan fasilitas-fasilitas umum luluh lantak oleh serangan udara. Mayat dan darah bertebaran di jalan-jalan, di depan rumah penduduk dan di lubang-lubang perlindungan.

Pasukan mereka dipecah menjadi empat bagian. Satu bagian berada di depan untuk antisipasi serangan dari depan, satu bagian di belakang, satu bagian di tengah dan satu bagian lagi dipecah menjadi tim-tim yang lebih kecil yang bertugas menyisiri gedung-gedung kosong yang masih mencurigakan. Dan Sersan Christopher berada dalam pasukan bagian terakhir. Pasukan yang berada di tengah bertugas melindungi mereka jika ada serangan dari para penembak gelap dari arah bangunan-bangunan.

Mereka bergerak cepat mendekati sebuah rumah penduduk. Bagian atas bangunannya rusak parah oleh serangan rudal. Ia dan empat rekannya berada di depan dan sisanya menunggu di belakang. Mereka merapat ke pintu dan rekannya, sersan Fidelle lalu mendobrak pintu itu.

Mereka dianugerahi pemandangan yang mengenaskan. Tiga orang wanita yang tampaknya dari tiga generasi; nenek, ibu dan cucu meringkuk ketakutan di depan mayat seorang lelaki yang tewas bersimpah darah di dekat jendela. Dalam pelukan mereka, meringkuk dua bocah laki-laki yang melihat mereka dengan tatapan sangat takut.

“Apa ada laki-laki dewasa di rumah ini?” tanya sersan Fidelle dalam bahasa Arab. Ia siswa terbaik di angkatannya ketika lulus dari West Point. Dan kemampuannya berbahasa Arab sangat dibutuhkan dalam perang ini.
La!” teriak tiga wanita itu bersamaan.

Prajurit yang memimpin tim kecil mereka lalu memerintahkan tiga orang untuk memeriksa seluruh ruangan. Tapi hasilnya nihil. Tampaknya memang cuma ada satu lelaki dewasa di rumah itu. Lelaki yang sudah tewas itu.
Sersan Christopher keluar dari rumah dan memberi tanda bahwa bangunan itu dalam status terkendali kepada pasukan yang ada di jalanan. Ketika ia dan beberapa rekannya menjauhi rumah itu, ia mendengar seorang prajurit memberi perintah, “Bunuh mereka semua!”

Lalu ia mendengar suara tembakan.

UNTUK siapa sesungguhnya kita berperang, Aleyna? Untuk membebaskan rakyat Irak dari rezim Saddam? Kurasa bukan, karena rakyat Irak justru menjadi korban pertama dalam perang ini. Sementara kudengar, Saddam Husein masih segar bugar.

Atau kita berperang untuk rakyat kita (termasuk dirimu) yang berada ribuan mil di seberang laut sana? Mungkin juga tidak, karena kuyakin saat ini kamu dan jutaan orang warga negara kita dan Inggris tengah turun ke jalan menentang invasi ini.

Lalu untuk siapa mereka dan kita berkorban? Tak ada yang bisa menikmati perang, tak juga para tentara yang hancur lebur di medan perang dan keluarga mereka yang putus harapan di kampung halaman. Hanya pemimpin bejat kita yang bisa bercukur setiap hari dan tampil segar sambil tertawa di depan kamera televisi.

Ternyata pemimpin kita tak ubahnya seperti srigala. Ya, benar ucapanmu dulu, Aleyna. Presiden Bush adalah srigala jahat yang benar-benar gila. Ia menularkan kebencian pribadinya pada Saddam kepada prajurit dan bangsa Irak. Dan anehnya, dalam kerusakan dan pembinasaan massal yang sedang dilakukannya, ia meminta kami, seluruh prajurit Amerika Serikat, untuk berdoa bagi keselamatan dirinya dan pemimpin tertinggi kita di Washington. Ia membagikan sebuah buku berisi doa-doa yang harus kami baca setap pagi, dan setiap hari dengan doa yang berbeda. Hahaha, benar-benar tidak masuk diakal. Seharusnya kami tidak berdoa untuk keselamatannya, tapi untuk kehancurannya.

Dari awal aku sudah ragu ikut dalam perang ini. Pantas beberapa rekan dalam kesatuanku akhirnya rela mengundurkan diri dari dinas dan memilih melepas pekerjaan dan karir mereka di militer daripada ikut melumuri tubuh mereka dengan darah rakyat Irak yang tak berdosa. Seandainya aku bisa, Aleyna… Seandainya aku bisa keluar dari kejahatan ini sekarang juga…

Hari Ke-10
Ia berdiri mematung di balik tembok, berlindung dari hantaman peluru AK-47 pasukan Irak. Ia dan empat rekannya baru saja masuk perangkap yang dirancang para sniper Irak. Mereka dipancing memasuki gedung yang ternyata berisi belasan sniper yang siap membunuh mereka.

“Sersan, aku dan yang lain akan menerobos masuk. Kau ditugasi melindungi kami,” seorang rekannya, Letnan Lawrence, berbisik. Ia mengangguk.

Di atas mereka ada sekitar delapan sampai sepuluh tentara Irak. Gedung ini dulunya adalah bangunan sekolah bertingkat yang memiliki begitu banyak ruangan dan kelas yang menurut prosedur standar pengepungan harus diperiksa satu persatu. Banyak tempat untuk bersembunyi dan kalau kau jadi pasukan Irak, akan mudah bagimu melumpuhkan siapa pun yang mencoba masuk.

Empat rekannya merangsek masuk. Ia mengangkat senjatanya siap melindungi kalau-kalau ada tentara Irak yang menyerang dari atas tangga. Letnan Lawrence berada di depan, dikuti tiga anggota pasukan lain dengan formasi zig-zag. Namun tiba-tiba serentetan tembakan muncul entah darimana. Ketika serpihan cahaya dari moncong senapan musuh mereda, ia melihat keempat rekannya terkapar.

Terlambat sudah ia memberi perlindungan.

Namun di hatinya muncul niat yang sudah sejak lima hari yang lalu terus dipikirkannya.

Sebelum keluar dari lubangnya tadi pagi, Sersan Christopher sudah menyiapkan secarik kain putih dari perlengkapan tempurnya. Kini kain itu dikeluarkannya dari balik rompinya dan dilambai-lambaikanya ke balik tembok.

Suara-suara keras dalam bahasa Arab memerintahkannya untuk meletakkan semua senjata yang dibawanya ke lantai. Ia menurut dan meletakkan senapan, pistol, granat dan masker gas miliknya ke balik tembok. Ia bahkan serasa sudah menyerahkan jiwanya kepada pasukan Irak.

Tiga prajurit berpakaian sipil muncul menenteng senjata. Ada yang membuatnya heran ketika melihat penampilan dan sikap mereka. Tiga orang lelaki itu jelas bukan bagian dari pasukan Irak atau pasukan elit Garda Republik milik Saddam. Mereka memelihara jenggot dan menggenakan sendal kulit yang tak akan dikenakan oleh pasukan resmi pemerintah Irak. Siapa mereka?

“Berdiri!” Seorang diantara mereka memerintahnya dalam bahasa Inggris.

Sambil tetap mengangkat kain putih dan ditengah kecemasan yang menyelubungi dirinya, ia bangkit dari lantai. Seorang milisi lagi mendekatinya dan mengikat tangan dan memasang kain hitam di matanya, sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa. Sebelum tubuhnya didorong, ia mendengar perintah, “Bawa dia!”

BANYAK yang tidak bisa kita duga dalam hidup ini, Aleyna.
Ketika ditangkap, aku merasa bahwa aku akan disiksa dengan kejam seperti yang kubaca dalam koran-koran di negeri kita. Tapi apa yang kemudian kutemukan?

Aku dikurung dalam sebuah kamar, bayangkan, sebuah kamar! Walaupun sederhana, aku diberi tempat tidur yang layak, bahkan lebih layak daripada yang aku terima di barak pasukanku. Walaupun dijaga ketat, mereka selalu memenuhi keinginanku, termasuk menulis buku harian ini.

Mereka juga bicara denganku, seolah-olah aku ini bukan tawanan perang. Aku diperbolehkan menonton siaran televisi, seolah mereka ingin menunjukkan bahwa memang apa yang telah dilakukan oleh pemimpinku membawa malapetaka berkepanjangan bagi bangsa Irak.

Lama-lama aku jadi simpati pada mereka. Bahkan ketika mereka butuh bantuan untuk menerjemahkan siaran televisi berbahasa Inggris, aku tak segan-segan melakukannya.

Besok mereka akan bergerak lagi. Baghdad kini benar-benar kacau, sehingga mereka harus terus-terusan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tidak mudah sebenarnya membaur di antara penduduk sipil dengan pistol dan granat menempel di tubuh. Patroli pasukan koalisi setiap saat bisa membongkar kedok mereka. Tapi kulihat mereka begitu lihai. Penyamaran yangmereka lakukan begitu sempurna, sampai pemindahan senjata-senjata berat pun tidak terlalu sukar mereka lakukan.

Besok aku ikut mereka, Aleyna. Aku akan jadi bagian mereka. Aku akan ikut berjuang dengan mereka, menggempur pasukan yang kini menguasai kota yang dulu adalah milik mereka.

Hari Ke-20

Mereka sekarang memanggilnya Ahmed. Kumis dan cambangnya sengaja tidak dicukur, sehingga penyamarannya dalam pasukan itu benar-benar sempurna.

Mereka bersembilan menaiki sebuah jeep sipil melintasi pinggiran kota Baghdad. Keadaan salah satu kota tertua di dunia itu sungguh tidak bisa dipercaya. Air dan listrik mati total. Bahan makanan sehari-hari sulit didapatkan karena banyak toko yang hancur atau masih tutup. Penjarahan terjadi di mana-mana. Faksi-faksi yang selama ini merasa tertindas di bawah rezim Saddam, membalaskan sakit hatinya dengan menhancurkan, menjarah dan merusak fasilitas-fasilitas milik pemerintah. Dan itu semua dibiarkan jadi hiburan gratis tentara Amerika dan Inggris.

“Kita harus keluar dari sini secepatnya,” bisik Abdurrahiem, pemimpin kelompok tak beridentitas tersebut.

Sersan Christopher yang kini dipanggil Ahmed duduk paling tengah, sengaja disembunyikan agar tidak memancing kecurigaan tentara Amerika yang suka memeriksa mobil-mobil yang keluar masuk Baghdad. Mereka menyimpan senjata di bawah terpal di lantai jeep. Walaupun banyak warga sipil Irak berkeliaran di kota menyandang AK-47 dan Kalashnikov, tetap mereka harus hati-hati dengan patroli Amerika. Sebab mereka bukan penentang Saddam, juga bukan pendukung Amerika.

“Saya rasa sebaiknya kita tetap berdiam diri di kota sampai keadaan benar-benar aman,” ucap Christopher ketika mereka melintasi segerombolan orang yang menginjak-injak patung perunggu Saddam yang baru saja dirubuhkan. “Masih terlalu mencurigakan kita keluar saat ini, sementara arus pengungsi justru sedang berbalik kembali ke arah ibukota.”

Abdurrahiem dan teman-temannya yang lain memandangi tentara Amerika yang membelot itu. “Kau benar,” sahut Abdurrahiem kembali. “Tapi kita tetap harus berjuang di pinggiran kota.”

Ahmed menggeleng. “Aku rasa kita bisa mulai dengan membenahi kekacauan di kota ini. Banyak yang butuh pertolongan saat ini. Tunggu sampai pasukan Amerika ditarik keluar dari negeri ini. Rumah-rumah sakit butuh banyak tenaga sukarelawan. Kalian bisa bantu mereka.”

Ternyata usulnya dterima. Mereka memutar arah dan bergerak menuju rumah sakit terdekat.
Tapi sepuluh menit kemudian, sebuah panser berbendera Amerika menghentikan mereka, lalu segalanya menjadi berbeda bagi Ahmed.

SIAPA PUN MEREKA, Aleyna, aku merasa mereka adalah orang-orang yang baik. Ketika aku dan mereka akhirnya tertangkap, mereka tetap memelukku ketika kami berpisah.

Kini aku dikurung dalam sel, di pusat komanda pasukan Amerika di Doha, Qatar. Aku diludahi dan diinjak-injak teman-temanku; perlakuan yang justru tak kuterima dari bangsa yang kuanggap sebagai musuhku. Aku yakin dan tahu, bahwa pengkhianatanku akan diganjar secepatnya di tempat ini. Walaupun ada hukum yang akan melindungi hak-hakku sampai di Mahkamah Militer AS, aku yakin aku takkan pernah kembali ke rumah. Kau tahu Aleyna, tak sulit bagi mereka melenyapkan orang seperti diriku dengan mulus tanpa keributan.

Biarlah Aleyna. Aku akan terima semuanya. Walaupun aku tidak yakin catatan ini akan sampai ke tanganmu, tapi aku percaya, suatu saat Tuhan akan mengabarkan kejadian yang sebenarnya kepadamu.

Maryland, 15 April 2003
Perempuan muda itu melipat kembali surat berlogo Badan Pertahanan Nasional itu. Ia terduduk. Firasat tak baiknya sejak seminggu terakhir terjawab.

“Kami turut berdukacita untuk suami Anda. Tapi percayalah, pengorbanan suami Anda sebagai patriot bangsa tidak akan sia-sia.”

Surat itu ditujukan kepada Aleyna Ferguson, istri anggota pasukan Divisi Infanteri Ke-3, Sersan Christohper Ferguson yang diberitakan tewas dalam pertempuran di Baghdad, empat hari yang lalu.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *