storyteller

Bro

Ariel sendirian. Berdiri di depan makam yang nisannya belum terpasang.

Kalau saja ia mau berusaha lebih keras, tentu semuanya akan berbeda. Tentu takkan ada makam dengan puluhan karangan bunga seperti di depannya sekarang. Kalau saja ia bisa mengalirkan hidayah yang didapatnya kepada Bro semudah ia dulu mentransfusi darahnya ketika Bro kecelakaan, tentu Bro tidak pergi secepat ini.

Tapi apalah gunanya penyesalan. Ia sudah melakukan apa yang ia bisa. Kalau memang ia menangis sekarang, bukan karena ia sedih kehilangan Bro. Ia berduka Bro meninggal pada saat yang tidak tepat. Ia sedih Bro mengambil peran malaikat maut bagi dirinya sendiri. Ia sedih bila ingat lagi saat-saat ketika mereka sangat dekat.

“Aku Bro. Bro saja.” Itu ucapan pertama dari Bro untuknya. Mereka bertemu tiga tahun lalu, berawal dari dua kata yang muncul di layar komputer kantor Ariel: asl pls. Beberapa detik setelah Ariel menulis 25 male Jakarta datang balasan dari Bro: sama dong.

Keakraban, selera humor yang sama dan banyak kesamaan lain membuat mereka cepat cocok. Bro anak yang baik, cool dan smart. Ia juga suka Frederick Forsyth seperti Ariel. Saat itu ia bekerja di sebuah perusahaan Jerman yang bergerak di bidang IT. Sementara Ariel baru saja bergabung dengan sebuah perusahaan konsultan teknik di kawasan Bekasi. Sebagai perantauan Makassar yang tidak punya siapa-siapa di Jakarta, Ariel serasa mendapat keluarga.

Bro sering mengajak Ariel menginap di rumahnya yang besar di kawasan Bintaro. Mama dan Papa Bro baik. Juga tiga ekor anjing dalmatian peliharaannya. Bro anak tunggal, dengan Mama, Papa dan hewan peliharaan yang sangat mencintainya. Lebaran pertama persahabatan mereka, Ariel mengajak Bro ke Makassar, mengenalkan Bro pada keluarganya, terutama pada Trie, adik bungsunya yang sedang kuliah di kedokteran. Entah kenapa, pernah muncul perasaan di hati Ariel kalau Bro cocok jadi adik iparnya.

Namun, dua tahun umur persahabatan mereka, Ariel menerima gempa tektonik dahsyat, persis di depan pintu kamar kontrakannya.

“Kenalin, ini Nathan, pacarku.” Bro berdiri memeluk pinggang lelaki bule berkulit pucat, yang dipanggilnya ‘honey’. Waktu itu dengan kikuk Ariel menyalami Nathan. Nathan keren dan gagah. Lajang berumur 37 yang sudah tiga tahun jadi pacar Bro. Ia ekspatriat asal Belanda yang berkantor di Gedung BEJ, sering pulang ke kampung halamannya terutama kalau ada konferensi-konferensi internasional tentang gay, berlangganan Journal of Gay and Lesbian Psychotheraphy dan memajang lukisan bertema kerusuhan Stonewall tahun 1969 di kamarnya.

Ariel shock berat. Ia mempersilakan Bro dan Nathan duduk kemudian ia sendiri pergi ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana.

DUA hari kemudian Ariel minta Bro menemuinya di sebuah kafe di kawasan Jakarta Selatan. Tentu saja tidak mengajak serta Nathan.

“Aku minta pembicaraan ini hanya antara kita. Aku nggak ingin Nathan ikut campur,” Ariel membuka percakapan.

“Oke. Aku setuju,” Bro menyahut. Ia sudah bisa meraba ke mana arah pembicaraan Ariel.

Ariel menahan napas, menatap wajah Bro berulangkali dan merasa tidak percaya kini lelaki yang duduk bersamanya, yang telah menjadi sahabatnya selama dua tahun adalah seorang gay. “Maaf, Bro. Ini mungkin sangat asasi buatmu. Tapi aku sahabatmu. Kukira kita selama ini sudah saling terbuka. Masalahmu adalah masalahku. Aku mau berteman denganmu karena kamu baik, dan kepintaranmu banyak membantu pola pikir dan wawasanku yang mungkin nanti akan kau anggap kampungan. Aku suka keluargamu, bahkan mulai jatuh hati pada papa-mamu. Kamu baik, Bro. Kamu masih muda dan brilian. Kamu punya masa depan, bahkan lebih cerah dari yang dimiliki banyak orang.”

To the point aja, Riel. Aku siap, kok,” sergap Bro. Ia mencampur krim ke capucino-nya dengan tenang.
Ariel butuh waktu menyusun kata-kata yang tepat. Ia tidak ingin grasa-grusu. Ia ingin bersikap ahsan, istilah yang sering dipake Trie, adiknya. Semalam ia sempat berpikir untuk meninggalkan Bro, memutuskan persahabatan mereka, tidak lagi mengajaknya pergi ke mana-mana.

Tapi terpikir pula olehnya, kalau ia mundur, berarti ia kalah. Bro butuh pertolongan. Dan tak ada orang lain yang bisa membantu Bro selain dirinya. Tidak ada yang tahu kalau Bro seorang gay kecuali dia, Bro dan orang Belanda itu, dan Tuhan. Papa-mama Bro pasti murka kalau tahu.

“Sori, Bro. Kurasa hubunganmu dengan Nathan bukan hubungan yang sehat jasmani-rohani,” ucap Ariel hati-hati. Ia menunggu reaksi Bro. Tapi, masya Allah, anak itu benar-benar bisa mengendalikan dirinya.

“Makasih, Riel. Aku hargai perhatianmu.” Dia kemudian diam.

Itu saja? Cuma itu yang bisa dia katakan? Makasih, Riel. Aku hargai perhatianmu. Ariel mulai terpancing emosi.

“Kamu tau kan apa yang sedang kamu lakukan? Kamu sadar nggak kalau kamu itu tidak normal, berpenyakit mental, punya gangguan kejiwaan, kelainan seks?” Ia berbisik.

Air muka Bro setenang telaga. “Kalau kamu mau memisahkan aku dengan Nathan, percayalah, usahamu akan sia-sia. Aku mencintai Nathan.”

Ariel mendekatkan kepalanya, sehingga bibirnya sudah begitu dekat dengan telinga Bro. “Apa-apaan sih kamu, apa di dunia ini gak ada lagi wanita yang bisa kamu cintai? Dunia ini penuh dengan wanita cantik, Bro. Kamu bisa pilih yang mana pun yang kamu suka.”

Ariel mulai tegang, tapi ia masih bisa mengendalikan diri. Dari kantor ia membawa segudang kemarahan dan keprihatinan. Tapi walau begitu, ia tetap ingin bersikap adil pada Bro. Ia tidak ingin menghakimi, tidak ingin mendikte. Sedapat mungkin ia akan mengakhiri persoalan ini sebaik mungkin.

Bro masih tenang saja. Luar biasa caranya mengendalikan diri. Wajahnya setenang permukaan air kopi di cangkirnya. Air mukanya sama sekali tidak menunjukkan reaksi perlawanan atau penyesalan.

“Akan sulit menjelaskannya padamu, Riel. Aku merasa ini bukan sebuah dosa. Sudah pernah aku coba jadi hetero, tapi selalu setiap memulai suatu komitmen, aku selalu tidak bisa.”

Ariel ingin tertawa keras-keras. “Tapi itu bukan alasan untuk memilih hidup seperti ini, Bro!” Ia tidak jadi tertawa tapi malah mencak-mencak.

Yang kemudian tertawa justru Bro. “Seandainya aku bisa memilih, Riel, aku akan pilih kehidupan normal seperti kamu. Tapi sungguh, aku nggak bisa! Sori, kalau kamu nggak bisa terima Nathan dan jalan hidupku, silakan, pintu perpisahan selalu terbuka buat kita.”

Ariel terpana. Tak disangkanya Bro akan bisa berkata seperti itu.

“Aku tidak akan melewati pintu perpisahan yang kamu tawarkan. Aku malah akan menawarkan pintu lain untukmu. Itu pun kalau kamu bersedia.”

Bro tertawa. “Sudah banyak yang mencoba, Riel. Tak satu pun yang berhasil.”
“Tapi belum pernah yang bernama Ariel kan? Denganku, kau akan sembuh. Ijinkan aku mencoba.”
Bro menatap sahabatnya. Lama sekali sebelum akhirnya dia berkata, “Dengan senang hati.”

Ariel tidak tahu, apakah ia harus gembira dengan jawaban itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

TIGA bulan berikutnya, Bro menuruti semua permintaan Ariel. Ikut terapi, mendatangi psikiater, pengobatan alternatif, minta nasehat ustadz dan lain sebagainya. Tiga bulan penuh Ariel mencari dan terus mencari. Ia membeli dan membaca banyak buku. Ia menggunakan internet lebih banyak dari sebelumnya. Bahan yang ia dapat, diberikannya pada Bro. Ia sering pula menelepon Trie dan bertanya ini dan itu. Ia bahkan bersikeras agar Bro tidak bertemu atau menelepon Nathan selama ‘masa terapi’ tersebut. Bro setuju. Tiga bulan ia tidur di kontrakan Ariel, tanpa dering telepon, sms atau chatting, bahkan Ariel menahan telepon dari papa-mama Bro sekalipun.

Ariel mengajaknya salat jamaah di masjid, ikut seminar yang menentang perilaku homo dan mengenalkannya dengan teman-temannya yang normal. Tapi tetap saja, Bro bilang tidak terjadi perubahan apa pun pada dirinya. Dan di hari terakhir ia memergoki Bro bicara lama dengan seseorang di handphone.

Dan tiga hari setelah Bro mengangkat ranselnya pulang, Ariel menerima SMS, ”Besok aku terbang ke Den Hagg. Sabtu depan aku dan Nathan menikah. Doakan kami bahagia. Terimakasih atas usahamu. Walau sudah ada Nathan, aku ingin kita tetap bersahabat.”

Ariel menghapus nomor Bro dari HP-nya dan merasa sudah saatnya ia melewati pintu yang pernah ditawarkan Bro.

SEMINGGU setelah Bro menikah, email Ariel dipenuhi kiriman gambar pernikahan Bro dan Nathan. Bro menceritakan betapa ia begitu mencintai Belanda dan semua isinya. Negara itu benar-benar surga buat komunitas mereka. Bro juga cerita Nathan ternyata bisa jadi ‘istri’ yang baik. Mereka benar-benar bahagia. Dan mereka punya dua rencana besar dalam waktu dekat, bulan madu ke Bali dan mengadopsi anak.

Ariel merasa jijik. Semua gambar kiriman Bro di delete-nya. Sebulan setelahnya ia tidak pernah lagi membuka emailnya. Semua kiriman pos dari Belanda dibuangnya ke tong sampah. Ia menghindari tempat-tempat yang pernah mereka datangi juga melupakan bisnis yang pernah mereka rencanakan. Apa pun yang berhubungan dengan Bro disingkirkannya jauh-jauh dari hidupnya.

Tiga bulan pun berlalu. Sedikit demi sedikit Ariel mulai bisa melupakan Bro. Ia pun mulai sibuk dengan urusannya yang baru, mengurus pernikahannya sendiri. Adiknya Trie merasa kasihan karena abangnya tersayang belum juga menikah. Trie lalu mengenalkan sahabatnya, seorang gadis berjilbab, berkulit putih, manis, jago masak, pintar, dan punya nama Salmi. Setelah berkenalan, ngobrol ini itu dan berkunjung ke rumah orang tuanya, akhirnya Ariel mantap menerima Salmi. Dan bulan itu juga mereka menikah.

Kehadiran Salmi dalam hidupnya yang baru sangat membantu Ariel melupakan Bro. Hari-harinya begitu indah dan kadang-kadang ia terpikir betapa bodohnya orang-orang yang tidak mau memilih keindahan ini. Dari diskusi-diskusi mereka berdua, Ariel jadi semakin tahu betapa terlaknatnya hidup yang telah dipilih Bro. Salmi ternyata punya wawasan yang luas tentang kehidupan kaum homoseksual.

SETAHUN sudah Bro pergi.

Ariel sudah benar-benar lupa. Apalagi sekarang istrinya sedang hamil tua. Ia sibuk menyiapkan diri menyambut permata hatinya yang pertama.

Hari itu ia pulang ke rumah kontrakan mereka yang baru membawa setumpuk barang belanja. Salmi sudah mengambil cuti, jadi ia selalu ada di rumah. Sudah sebulan ini ia ditemani mamanya yang datang dari Bandung dan juga Trie, yang mengisi liburan semesternya di Jakarta.

Di depan pintu, Ariel melihat sepasang sepatu lelaki, tapi bukan sepatunya. Ketika ia mengucap salam dan membuka pintu, ia melihat Bro, duduk di ruang tamu dengan wajah paling sedih yang pernah dimilikinya.

“JADI, sekarang, bagaimana?” Ia bertanya pada sahabatnya itu.

Tiga jam Bro bercerita dan Ariel mendengarkan dengan sabar. Tiga bulan pertama, memang indah bagi Bro dan Nathan. Tapi ternyata Nathan, dalam istilah Bro, ‘istri yang suka berselingkuh’. Bulan keempat perkawinan mereka, Nathan semakin sering pulang terlambat dan sering lupa mencium Bro sebelum mereka berangkat ke kantor masing-masing. Nathan juga jadi sering mengabaikan si kecil Michelle yang lagi-lagi menurut Bro ‘sedang butuh kasih sayang seorang ibu’. Dan puncak gunung berapi itu adalah ketika Bro memergoki Nathan berciuman panas dengan seorang lelaki di klub gay yang biasa mereka mangkali. Bro lalu bicara tentang komitmen dan Nathan menyemburkan kata-kata pedas, “I’m free as a bird!” Bro mencerca Nathan dengan kata-kata, ‘tidak setia’ dan Nathan membalasnya dengan ‘bulshit’ atau ‘emang gue pikirin!’

“Aku kecewa, Riel. Semalam Nathan mengajukan cerai. Aku bingung. Aku kasihan pada Michelle.”

“Sori, Bro. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untukmu sekarang. Masalahmu sebenarnya bukanlah Nathan yang akan meninggalkanmu, atau soal siapa yang akan mengurus Michelle. Masalahmu terbesarmu adalah bahwa kau sudah memilih kehidupan yang sesat, terkutuk dan dilaknat oleh langit dan bumi. Jangan tanya apa aku masih sahabatmu atau tidak, karena sudah lama aku melupakanmu.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ariel merasa dadanya pedih. Sesungguhnya ia masih ingin Bro berubah, kembali baik dan hidup normal seperti jutaan orang lain di dunia. Tapi ia tak berdaya melawan sebuah raksasa kesesatan yang semakin hari ia baca, ia dengar dan ia saksikan semakin merajalela. Bro hanya satu partikel kecil dari komunitas yang sedang berkembang, yang ribuan tahun lalu pernah ditenggelamkan oleh Allah ke kedalaman lautan.
Ia melihat kepala Bro tertunduk semakin dalam. Di balik tubuh gagah yang dimilikinya, ia menyaksikan kehancuran seorang Bro.

“Aku pergi, Riel. Terimakasih untuk semuanya.” Bro bangkit dan tak menoleh lagi.

SEMINGGU kemudian sambil menangis mama Bro menelepon dan memberitahu bahwa Bro menjerat lehernya ke langit-langit kamar. Dokter yang memeriksa mayatnya belakangan menulis dalam laporannya bahwa tiga jam sebelum menggantung dirinya, korban menenggak 14 butir pil ekstasi sekaligus dan mendorong pil-pil setan itu dengan 750 ml cairan yang 40 persennya adalah racun sianida. Sebuah koran ibukota dengan jahat menyebut kematian Bro dengan istilah, “sekali mati, tiga bunuh diri terlampaui.”
Bro.

Nama itu mungkin tak akan pernah lagi di dengar telinga Ariel, tapi ia akan selalu bisa mendengarnya bergaung di dalam hatinya. Ke mana pun ia melangkah, ia selalu teringat Bro.
Ia tidak sedih Bro mati bunuh diri.

Ia sedih karena jauh sebelumnya Bro sudah mati.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

%d bloggers like this: