storyteller

Lupakan Jakarta

Hari itu hari terakhirnya di laut. Tiga jam lagi kapalnya merapat di Jakarta dan ia akan pulang ke rumah, berlebaran bersama keluarganya, yang sudah ditinggalkannya selama lima tahun.

“Lelaki sejati adalah pejuang, Nak. Dan setiap pejuang pasti ingin pulang.”

Kata-kata itu sudah berumur seminggu tapi masih bergaung di hatinya.
“Bapak tidak berpikir keputusan saya ini bodoh dan terburu-buru?” Ia bertanya. Hari itu ia memutuskan pulang, dan tidak akan pernah kembali lagi ke laut.

Lelaki tua itu tersenyum. “Tentu saja tidak. Rindu tak pernah datang tergesa-gesa dan ia hasrat paling jujur yang pernah dilahirkan hati kita.”

“Saya pamit, Pak. Doakan keluarga saya bersedia menerima saya kembali,” Apri berucap pilu.

Lelaki itu tertawa lalu menepuk bahunya. “Andai aku bisa punya putra sepertimu, akan kusambut kau dengan penuh cinta. Tak ada orang tua yang benar-benar membenci anaknya. Percayalah padaku.”

Seharusnya lelaki itu menjadi ayahnya.
Matanya berkaca. Dipeluknya lelaki itu, “Terimakasih untuk semuanya, Pak Hamzah,” getirnya.
___

Besok Idul Fitri. Di mana-mana mulai terdengar suara takbir.

Ia turun dari kapal ketika matahari sudah lenyap di belakang punggungnya. Ditolaknya tawaran sopir-sopir taksi. Ia ingin sendirian sejenak. Di suatu tempat yang sedikit gelap dan sepi, ia berhenti dan duduk di pasir. Ia merenung sambil memandang laut, dan menjemput lagi semuanya.

“Aku nggak punya duit! Boro-boro buat kuliah, buat makan kalian saja, susahnya minta ampun! Aaahhh…! Bosan aku di rumah ini!”

Ia bergetar mendengar suara ayahnya. Tak kuat lagi menahan sesak di dada yang sudah lama ia simpan. Suara tangisnya bercampur suara pintu yang dibanting keras serta suara derum motor trail ayahnya yang menjauh. Setelah semua itu lenyap, ia mendengar suara ibunya.

“Apri… jangan menangis, Nak. Kamu itu laki-laki. Kamu harus tabah…”

Ia memeluk sosok didepannya, sangat hati-hati karena ibunya tengah hamil 7 bulan. Wajah ibunya keruh, tangannya yang kurus mengusap kepalanya dengan getir.

“Tapi Apri ingin sekali kuliah, Bu.”

“Ibu tahu. Ibu juga ingin kamu bisa kuliah, biar nanti bisa jadi sarjana dan bisa ibu banggakan pada setiap orang,” wanita itu menariknya duduk di meja makan. “Tapi kita punya duit darimana, Nak? Ibu tidak bekerja dan ayahmu, kamu tahu sendiri, sedang asyik dengan istri mudanya. Jadi mengertilah.”

Apri tidak tahan untuk tidak menyahuti ucapan ibunya. “Tapi Apri dengar ayah baru saja dapat duit banyak. Apri lihat, rumah Mama Lince di Penjaringan direnovasi, itu artinya ayah punya uang, Bu. Kalau bikin rumah ada uangnya, kenapa untuk biaya kuliah Apri tidak?”

Mata ibunya berkaca-kaca. Bicara ketidakadilan baginya cukup dalam skala kecil saja. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke depan gedung MPR sana. Setelah 19 tahun hidup bersama susah-senang, suaminya menikah lagi diam-diam. Suaminya berjanji akan berlaku adil, tetap memberi nafkah seperti sedia kala, tak kurang sepeserpun. Tapi semuanya terbukti omong kosong. Dia lebih sayang pada istri mudanya, yang kerja di salon dekat pelabuhan. Sekarang buyar semua impiannya, lenyap semua harapannya. Baginya, tak ada pilihan lain selain pasrah.

“Ibu tahu, Nak. Ayahmu sendiri yang cerita ke Ibu,” wanita itu akhirnya menangis.

“Apri ingat, dulu Ayah berjanji pada kepala sekolah, akan menguliahkan Apri sampai selesai, karena beliau bilang, sayang sekali otak encer Apri tidak disalurkan ke universitas. Tapi sekarang…”

Ibu menatapnya. Minta ia berhenti bicara. “Jangan diteruskan, Nak. Hati ibu akan semakin sakit bila kamu terus menyebut-nyebut lagi semua janji ayahmu. Sudahlah, lupakan saja semua janji ayahmu. Bersyukur kita masih bisa makan. Daripada sedih terus, lebih baik kamu mulai cari kerja.”

Ia terdiam. Ingin disahutinya lagi kata-kata ibunya. Tapi ditangguhkannya. Ibunya bangkit dan kembali ke kamar. Lalu sendirian ia memikirkan nasibnya.
___

Entah angin mana yang merasukinya. Beberapa jam lewat tengah malam, ia meraih baju-bajunya yang tak seberapa dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya. Dibungkusnya juga tiga potong tempe goreng sisa berbuka semalam.

Ia keluar dari rumah, melewati gang-gang sempit di sekitar rumah-rumah yang berhimpitan. Suara tadarusan marbot tua di mushala terdengar pelan dan sayup ketika ia menyusuri kali dekil penuh sampah yang tiap hari dilewatinya kalau pergi dan pulang sekolah. Keluar dari kawasan itu, ia berhenti di kedai rokok Mang Kamal yang buka 24 jam.

“Mau kemana lu, Pri?” tanya yang punya warung dari dalam istananya yang kecil. Mang Kamal memang dekat dengan Apri. Dulu sekali, ketika warungnya itu ditertibkan petugas kamtib, Apri ikut bantu-bantu membereskan dagangannya yang nyaris hancur diobrak-abrik petugas.

Apri duduk di bangku kayu satu-satunya yang ada di sana. “Saya mau pergi, Mang,” ia membetulkan sepatunya yang sudah butut. Suaranya berat seperti orang mau menangis. “Tapi saya mohon, jangan bilang siapapun.”

Mang Kamal kaget. Ia keluar buru-buru dari kotaknya dan menghampiri Apri. “Ya, Allah, Pri!” Ia menggeleng-geleng. “Kamu itu mau kemana, sih? Minggat tengah malam begini? Apa kamu nggak kasian sama ibu kamu!”

Apri tidak peduli. Hatinya sudah sekeras batu. “Biarin. Saya justru pergi buat bahagiakan Ibu saya, kelak, Mang…”

“Tapi bukan begini caranya!” hardik Mang Kamal. Apri menatapnya tajam, kesal karena bukannya mendukung, Mang Kamal malah memarahinya. Mang Kamal memang sudah jadi tempat curhatnya selama ini, jadi dia tahu semua masalahnya di rumah.

“Maaf, Pri. Mamang cuma mau bilang cara kamu ini salah. Tapi terserah kamu, deh! Lagian dua hari lagi Idul Fitri, Pri.” Mang Kamal kembali ke dalam kedai rokoknya dan membungkus tubuhnya dengan kain sarung kotak-kotaknya. Diam.

Apri bangkit, menggendong lagi tasnya dan menatap Mang Kamal.
“Mang, bilang ke Ibu kalau saya sayang sekali ama dia.”

Tanpa menunggu jawaban, Apri berjalan menyusuri pinggiran jalan memasuki gelap.
___

Suara takbir dari kejauhan menyadarkannya kembali. Apri langsung bangkit dan menyeka airmatanya. Ia meneruskan
langkahnya menyusuri pantai. Baru beberapa langkah, ia berhenti lagi. Dari kaca sebuah sedan SUV yang diparkir sembarangan, ia melihat bayangan dirinya.

Betapa jauhnya perubahan yang terjadi pada dirinya. Dulu ia kurus, ceking dan tak terurus. Bekerja di kapal pesiar lima tahun membuatnya berubah total. Sembari tersenyum ia membayangkan ibu, Mang Kamal dan tetangga-tetangganya pasti akan kaget melihat dirinya sekarang. Juga adiknya, yang sekarang pasti sudah berumur empat setengah tahun. Ia sudah tak sabar menunggu saat bertemu mereka semua.

Ia memandang kapalnya yang terapung gagah di kejauhan. Sebuah wajah lalu hadir. Pak Hamzah. Seharusnya orang tua itu ikut melihat kebahagiaannya nanti. Kalaulah dulu takdir tak mempertemukan mereka, tentu keadaannya tidak akan seperti sekarang.
___

Mereka bertemu ketika Apri sangat membutuhkan pertolongan.

Ia terbangun karena suara ombak dan menemukan dirinya berada di sebuah pantai yang tak ia kenal. Tas dan barang-barangnya sudah lenyap, juga dompet dan tiga potong tempe goreng yang seharusnya ia makan waktu sahur tadi. Ketika ia meraba wajahnya, ia merasa sebagian mukanya perih dan bengkak. Sakit sekali. Apa yang telah menimpanya?

Ia ingin menangis. Ingin rasanya lari pulang dan minta maaf pada ibunya yang kini pasti sudah setengah mati mencemaskan dirinya. Tapi wajah ayahnya kembali membuatnya benci. Ia tidak akan kembali sebelum berhasil.

Waktu itulah lelaki berhati malaikat itu muncul.

“Lukamu harus diobati, kalau tidak bisa infeksi,” ucapnya.
Mulanya Apri tidak mau. Ia curiga lelaki itu punya niat jahat. Tapi melihat wajahnya yang kebapakan, dan senyumnya yang menenangkan, Apri akhirnya menurut. Sejak detik itulah ia terpikat pada pesona kebapakan yang memancar dari wajah lelaki tua itu.

Apri dibawa ke sebuah kapal pesiar yang pagi itu tengah membuang sauh di Jakarta. Mulanya ia merasa enggan, tapi Pak Hamzah memaksanya.
“Besok lebaran, jadi kapal ini memberi cuti dua hari pada semua awak kapal, kecuali yang piket jaga. Karena Bapak tidak punya siapa-siapa, maka Bapak tidak bisa kemana-mana,” ceritanya.

Ketika diminta bercerita tentang dirinya, Apri langsung menceritakan semuanya. Pak Hamzah turut sedih mendengar kelakuan ayah Apri. Tapi seketika itu juga ia membangkitkan harapan di hati Apri.
“Bagaimana kalau kamu ikut Bapak saja, ikut berlayar dengan kapal ini?”
“Maksud Bapak…?”

“Ya, bekerja di kapal ini. Memang akan ada kesulitan administrasi di tingkat atas, tapi itu tidak jadi soal.”
Tak panjang-panjang berpikir, Apri menerima tawaran itu. Sejak hari itu ia jadi anak buah langsung Pak Hamzah yang ternyata adalah kepala koki di sana.

Enam bulan pertama sangat membahagiakan. Apri bekerja dengan semangat dan penuh harapan. Sesekali ia pergi ke buritan dan memandang laut, ingat ibunya lalu menangis diam-diam. Walau ia senang bisa melihat Singapura, Tokyo, Sidney, dan kota-kota besar di dunia dengan kepalanya sendiri, tetap saja ia tidak bisa melupakan Jakarta.

Suatu hari, entah bagaimana mulanya seorang tamu asing asal Prancis tersesat di dapur. Pria itu tidak lancar berbahasa Inggris, jadi ia bertanya pada Apri dengan bahasa resmi negaranya. Ketika Apri menjawab pertanyaannya dengan lancar dan benar, pria itu takjub dan kaget. Tak disangkanya, seorang tukang pel lantai dengan bayaran terendah ternyata menguasai salah satu bahasa paling sulit di dunia. Kekaguman ini tidak disimpannya sendiri. Dalam sebuah kesempatan, ia menyebut-nyebut Apri dalam jamuan makan malam yang dihadiri pemilik kapal, nakhoda dan tamu-tamu penting lainnya.

Keesokan harinya Apri dipanggil Direktur Operasional kapal pesiar tersebut untuk menghadap.
“Apri, benar itu nama kamu?” Pak Charles, Direktur Operasional yang ramping itu bertanya.
“Benar, Pak,”
“Umur kamu?”
“Delapanbelas, Pak.”
“Selain bahasa Prancis, bahasa asing apalagi yang kamu kuasai dengan baik?”

Apri terang kaget. Kecemasannya langsung hilang. Ketika dipanggil ia ketakutan setengah mati. Disangkanya ia akan diberhentikan karena tidak memiliki dokumen sah sebagaimana seharusnya.

“Inggris, dan sedikit Jepang, Pak,” sahut Apri, tidak tahu kemana arah pembicaraan itu. Ia sendiri tak tahu, ketekunannya belajar bahasa asing akan berguna di kapal pesiar ini.
Pak Charles tersenyum. Hari itu menjadi hari yang jauh lebih baik bagi Apri.
___

Tidak didengarnya sopir taksi memanggil.
“Maaf, Pak. Kita sudah sampai,”

Ia tersadar, melihat ke sekeliling dan yakin memang di sanalah tempat yang dimaksudnya. Dibayarnya taksi dan diturunkannya tas serta barang-barang bawaannya. Satu jam lalu ia menghabiskan hampir dua juta rupiah uangnya untuk belanja ini-itu di sebuah mal. Ibu dan adiknya pasti akan senang melihatnya kembali dengan keadaan yang lebih baik.

Kedai rokok itu masih seperti lima tahun lalu. Masih dengan tempelan stiker iklan rokok yang sama. Ia menenteng kantong-kantong belanjaannya dan menaruhnya dekat bangku tempat ia dulu sering duduk. Tapi tak dilihatnya Mang Kamal.

“Mau beli apa, Dik?”

Seseorang muncul dari balik kegelapan. Lelaki setengah baya, sarungan.
“Mang Kamal, ya?” tanya Apri tersenyum.
“Bukan. Adik siapa?” balas lelaki itu sambil menatap Apri dengan tatapan waspada. Apri melihat lebih jelas, ternyata memang bukan Mang Kamal.

“Maaf, Pak. Lima tahun yang lalu yang dagang rokok di sini namanya Mang Kamal. Sekarang dia di mana, ya?”
Sorot tajam mata lelaki itu mengendur. “Dua tahun lalu dia menjual gerobaknya ini pada saya, setelah itu dia pergi, nggak tau kemana,” jawabnya dari dalam gerobak rokoknya. “Adik ini siapanya si Kamal itu?”

Apri tidak langsung menjawab. Lima tahun memang cukup lama untuk merubah banyak hal, termasuk nasib seseorang.
“Saya dulu dekat dengan dia,” sahut Apri. “Oh, ya, maaf, Pak. Saya permisi dulu, saya mau ke dalam dulu.”

Orang itu mengangguk, lalu menatap heran pada Apri. “Adik ini mau ke mana?”
Giliran Apri yang heran. Ia cepat tersenyum. Orang ini barangkali tidak tahu kalau ia dibesarkan di kawasan itu, jauh sebelum lelaki itu membeli gerobak rokok Mang Kamal. “Saya mau pulang, Pak. Ayah, ibu dan adik saya tinggal di dalam sana,” ujarnya menerangkan.

Kali ini lelaki setengah baya itu menatap Apri serius. Lalu perlahan-lahan wajahnya menyiratkan kesedihan.
“Apa… Adik tidak mendengar beritanya? Adik selama ini di mana?” tanyanya ragu.
Apri tiba-tiba menjadi cemas. Apakah sesuatu telah terjadi pada ibu dan adiknya? Apakah ayahnya telah melakukan sesuatu yang…

“Berita apa, Pak? Berita tentang apa? Saya sudah lima tahun tidak pulang…”

Lelaki itu menahan nafas. “Sebulan yang lalu, kawasan perumahan di sana digusur oleh pemerintah kota. Ratusan rumah dibuldozer habis, rata dengan tanah. Katanya warga membangun rumah di atas tanah milik pemerintah, ilegal, tanpa ijin.”

Jantung Apri seperti dicerabut dari tempatnya. Lalu ada gemuruh yang membuat pikirannya berpencar kemana-mana. “Pak, saya titip barang-barang saya,” tak menunggu jawaban si Bapak, Apri melesat, berlari sekuat tenaga menuju kawasan yang dulu menjadi tempat tinggal warga Tegal Alur, termasuk ibu dan adiknya.

Keluar dari titian kali yang kotor dan bau ia berhenti mendadak. Sejauh mata memandang, ia tak melihat satupun rumah, gubuk atau bangunan yang dulu padat dan berdempetan. Ia tak melihat bocah-bocah kecil berlari-larian layaknya tiap malam takbiran. Tak dilihatnya lilin warna-warni yang dipasang di pagar-pagar bambu hampir tiap gubuk dan rumah. Tak didengarnya lagi suara takbiran anak-anak dan marbot tua yang setia menunggui mushala yang dibangun warga bersama-sama. Semua sudah tidak ada. Semua sudah rata dengan bumi. Tinggal balok kayu, pecahan batu, bekas coran semen merata di area seluas tiga kali lapangan bola itu.

Apri meringis dan menangis. Lima tahun lalu ia pernah berjanji akan melupakan Jakarta untuk selama-lamanya. Tapi ternyata ia tak pernah bisa.[]
Wahab I, 3 Nopember 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

%d bloggers like this: