Prasasti (12)

(12)

Parak Jua, awal Mei 1979

KETIKA pulang dari sekolah sore itu, Maria tidak menemukan siapa-siapa di rumah. Bahkan si kecil Rizal pun—yang biasa ditumpangkan pada Tante Rini—juga tak ada di sana. Rumah Tante Rini terkunci. Gadis kecil itu semakin kecewa karena mamanya tak meninggalkan pesan apa-apa.

Ke mana mama dan adik-adiknya?

Kejadian beberapa hari yang lalu kembali mencemaskannya. Mamanya ditemukan pingsan oleh jamaah salat subuh. Mereka menenangkan Putra dan membawa mamanya ke rumah sakit lalu mengabarkan kejadian itu ke rumah. Mana papa kalian? Mereka bertanya. Dia menggeleng. Papanya sejak malam kemarin tidak ada di rumah. Mama tak pernah cerita padanya ke mana papanya pergi.

Dia membawa serta Eliana dan Rizal ke rumah sakit. Dia tutup mulut ketika keduanya bertanya-tanya dan kesulitan mendiamkan rengek keduanya. Orang-orang bingung dan prihatin. Namun mereka lebih heran melihat dirinya tak menangis sedikit pun.

Mamanya terbaring di ranjang rumah sakit dengan Putra yang menangis di sisinya. Ketika melihat mereka datang, mamanya kembali menangis. Beliau memeluk dirinya dan membisikkan kata-kata yang saat itu tak mamu dia pahami, “Jangan pernah membenci Papa, ya, Nak.”

Kenapa dia harus membenci papanya? Kenapa Mama khawatir dia melakukannya? Bukankah dia menyayangi papanya? Bukankah sangat aneh seorang anak membenci papanya sendiri?

Lalu dia bertanya ke mana papanya pergi. Mamanya tidak bisa menjawab. Dia hanya menyuruh mereka mendekat lalu memeluk mereka satu per satu. Mamanya menangis. Eliana menangis. Putra dan Rizal juga menangis. Tapi dia tidak. Dia tidak punya alasan untuk itu.

Tapi dia sekarang punya alasan untuk menangis. Tak ada siapa-siapa di rumah dan tak ada yang datang mengabarkan mamanya jatuh pingsan di depan masjid. Tak ada berita apa-apa. Dia meringkuk di depan rumah dengan kerah baju basah oleh air matanya sendiri.

Maria terbangun ketika langit di luar mulai gelap. Dia rupanya tertidur di sofa. Anak itu bangkit dan merasa heran kenapa lampu pompa belum dipasang. Maria beranjak ke dapur lalu berteriak memanggil mama dan adik-adiknya. Rizal dan Putra biasanya bermain di dapur sore-sore begitu. Ketika dia tidak menemukan siapa-siapa di dapur, barulah dia sadar kalau tak ada siapa-siapa di rumah.

Sambil menangis dia berlari ke rumah Tante Rini dan menemukan Om Sitompul di halaman. Dia bertanya tentang mama dan adik-adiknya. Tapi lelaki itu hanya memeluk dan menghiburnya.

Om Sitompul sudah dianggapnya seperti pamannya sendiri. Kata Mama, Om Sitompul dan istrinya, Tante Rini, sudah jadi tetangga mereka sejak lama. Mereka dekat dan saling bantu. Walaupun kurang disukai papanya, Tante Rini dan Om Sitompul tetap berusaha bersikap baik pada mereka.

“Sabar ya, Maria. Mamamu sebentar lagi juga pulang. Adik-adikmu juga. Sekarang kamu main di sini saja, ya?” ucap Om Sitompul menenangkannya. Lelaki itu memeluk Maria kian erat. Matanya juga berkaca-kaca melihat betapa menderitanya gadis kecil itu.

Maria hanya bisa menangis. Sesekali dia memanggil-manggil mama dan nama adik-adiknya. Tapi semua terasa sia-sia.

Hampir tengah malam ketika Tante Rini pulang dengan ketiga orang adiknya. Tapi dia tidak melihat mamanya bersama mereka.

“Mama Maria mana, Tante? Kenapa Tante tidak membawa Mama pulang?”

Tante Rini memeluknya, kemudian memeluk adik-adiknya juga. Kemudian dia melihat banyak tetangga-tetangga berdatangan. Mereka berbisik-bisik dan saling menggeleng sambil memandang iba pada dia dan adik-adiknya.

Apa pun yang mereka rasakan saat itu tidak akan bisa dirasakan oleh orang lain dalam keadaan yang sama. Di mana pun mamanya saat itu, dia bisa merasakan penderitaan yang sedang menghimpitnya. Naluri kecilnya yang peka membawanya pada segumpal keraguan pada kasih dan sayang papanya pada mereka berlima. Dia mulai bertanya-tanya, apa yang sedang dikerjakan papanya saat mereka bersedih begitu. Kenapa tidak terbetik sedikit pun keinginan di hati papanya untuk pulang melihat anak-anaknya?

Dalam genangan air mata di pipinya, Maria melihat ayahnya bersama tante brengsek itu sedang tertawa-tawa seperti setan jahat yang ada di buku-buku cerita.

Dia membenci papanya. Dia benci lelaki itu.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *