MelviYendra.com

storyteller

1

Peacemaker F-3000

Cerpen Melvi Yendra

Washington DC, 20 April 2008

“…Pesawat tempur ini dirancang oleh empat belas orang pakar dari seluruh dunia dengan investasi US$ 1 Milyar. Dimisikan untuk perdamaian terutama membantu Dewan Keamanan PBB dalam menjalankan sangsi-sangsinya terhadap negara-negara pembangkang. Anda semua akan tercengang kalau saya beritahu bahwa benda ini punya bobot hanya 2,8 ton, jauh lebih ringan dari F-117 Nighthawk Stealth. Dari segi bentuk keduanya tidak jauh berbeda.
Tapi F-117 kalah jauh dari segi teknologi. Disamping anti radar, benda ini juga mampu mengacaukan radar musuh, mendeteksi objek bergerak dari jarak 30.000 mil dan terbang di ketinggian 70.000 kaki. Selain itu mampu terbang dengan kecepatan 500 knot sekaligus mampu mengapung di udara tanpa suara. Harganya sangat mahal, US$ 10 juta. Mengenai persenjataan yang dimiliki dan spesifikasi lainnya dapat Anda lihat sendiri dalam brosur yang kami bagikan. Untuk sementara, saya rasa cukup. Kecuali jika ada pertanyaan dari Anda.”

Jendral Vincent Stewar, Kepala Staf AU Amerika Serikat membuka kacamatanya. Ia kembali duduk di kursinya dan mencoba menatap silau cahaya blitz kamera yang silih berganti menerpanya. Di samping kiri Vincent berturut-turut duduk pula Menteri Pertahanan dan Keamanan AS Bob Christopher, Juru Bicara Gedung Putih Michael J. Pullman, dan pilot penerbang Immanuel Ethan. Di belakang mereka, pada sebuah screen raksasa, tergambar sebuah pesawat berbentuk segitiga hitam.
Seorang wartawan tiba-tiba mengacungkan tangan. Di depan, Jendral Vincent mengangguk.

“Dalam brosur, tertulis bahwa proyek pembuatan pesawat ini dimulai tahun 1986 dan rampung sejak 10 tahun yang lalu. Namun kenapa pesawat ini tidak diterjunkan ketika sekelompok teroris membajak pesawat pribadi presiden tahun 1999 atau ketika Gedung Putih diserang pesawat siluman dua tahun berikutnya?”

Jendral Vincent dengan tenang menjawab, “Kita tidak dapat menerjunkannya waktu itu semata-mata karena kita lebih mengutamakan efisiensi. Kita tak perlu mengutus ‘Peacemaker karena dengan pesawat pemburu F-14 saja pesawat musuh dapat kita rontokkan. Ibarat membunuh seekor lalat, kita tidak perlu memakai rudal patriot, bukan?” Hadirin tertawa menanggapi lelucon itu. Tapi wartawan dari CNN yang bertanya tidak tersenyum sedikitpun. Ia tampak tidak puas.

“Tapi kita kehilangan seorang presiden waktu itu,” ucapnya seakan mengingatkan hadirin. Ia menatap rekan-rekannya dengan sinis, lalu duduk.

“Masih ada pertanyaan?” tanya Vincent Stewar. Seorang wartawati berdiri. “Silakan!” Vincent mempersilakan.

“Pesawat ini akan dipamerkan kepada publik pada IMAS (International Military Air Show) lusa. Siapakah pilot yang dipercaya menerbangkan pesawat ini?”

Jendral Vincent tersenyum. “Saya rasa itu pertanyaan terakhir buat saya,” katanya. “Setelah saya tunjukkan siapa orangnya, Anda semua bisa bertanya apa saja padanya. Nah, dialah pilot itu!” Jendral Vincent menoleh pada Immanuel Ethan yang pada saat bersamaan menganggukkan kepalanya pada semua orang. Laki-laki tampan berambut cut itu tersenyum. Segera setelah itu tiga pria penting di samping Ethan berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Press Meeting Gedung Putih itu.

Para wartawan mengerubungi Ethan dan menjepretnya tiada henti. Lalu pertanyaan-pertanyaan seputar karirnya pun meluncur tak terbendung.

***

Ketika Ethan keluar dari White House, seorang wartawati membuntutinya. Padahal jumpa pers sudah resmi ditutup.

“Maaf, Pak Ethan, ada satu lagi pertanyaan saya, kalau Anda berkenan,” ucapnya mencegat Ethan menuju mobil. Ethan berhenti dan menatap wanita itu. “Anda siapa?” tanyanya.

“Saya Aprilia, reporter khusus New York Times.”

“Apa yang ingin Anda ketahui?”

“Ada isu bahwa sejak tiga tahun yang lalu Anda pindah agama . Benarkah Anda sekarang seorang muslim?”

Ethan terdiam. Pertanyaan berbahaya. Tanpa menjawab ia melangkah meninggalkan gadis itu dan masuk ke mobilnya. April mengikutinya dengan heran.

“Pertanyaan Anda terlalu off the record, Nona!” jawab Ethan sambil menekan tombol power window. Jendela Porsche itu menutup dan mobil itu meluncur di jalanan.

***

Begitu sampai di rumahnya, Ethan langsung menghubungi seseorang lewat telepon.

“Saya Immanuel Ethan. Bisakah saya bicara dengan Ibrahim Khoir?”

“Maaf, Sir. Mister Ibrahim sedang di Ankara. Besok baru kembali,” jawab seorang pria.

“Baiklah, besok akan saya hubungi lagi!” Ethan menutup telepon. Beberapa saat ia terdiam. Matanya lalu terpaku menatap fotonya ketika berdiri bersama Peacemaker F-3000, pesawat tempur generasi terakhir yang akan diterbangkannya dua hari lagi. Foto itu diambil tiga bulan yang lalu, saat ia bersama 45 orang pilot lainnya diseleksi untuk menerbangkan Peacemaker. Ia akhirnya terpilih sebagai pilot utama dan seorang rekannya yang lain sebagai cadangan.

“Lusa, seluruh cita-citaku, akan sampai pada puncaknya!” ucap Ethan sambil mengepalkan tangan.

***

Washington DC, 21 April 2008

Pagi-pagi sekali, Ethan sudah sibuk mempersiapkan keberangkatannya. Ia mengemasi perlengkapannya dan memasukkannya ke dalam tas. Tepat pukul 10.00 Ethan menepati janjinya untuk menelepon kembali Ibrahim Khoir, sahabat sekaligus pengacaranya di Los Angeles. Di sana, Ibrahim Khoir mengangkat telepon.

“Apakah kau sudah baca surat kabar hari ini, Ethan?”

“Kenapa rupanya?” tanya Ethan lagi setelah mereka saling mengucapkan salam. Pagi ini ia memang belum sempat membaca korannya.

“Mereka semua menulis tentangmu. Juga tentang IMAS dan Peacemakernya. Seluruh stasiun TV mereplay wawancaramu kemarin. Mereka bilang kau seorang yang hebat!”

“Ah, biarkan saja. Besok mereka akan menyaksikan yang lebih dari itu semua!”
“Apa itu?” tanya Ibrahim penasaran. Ethan tertawa.
“Maaf, Saudaraku, aku tidak akan mengatakannya sekarang. Kita lihat saja nanti.”
“Baiklah. Lantas apa yang bisa saya bantu sekarang?”

Ethan menarik nafasnya dalam-dalam. Seluruh rencana sudah disusunnya begitu matang. Dan tak ada yang boleh tahu. Ia tidak ingin orang lain mendapatkan kesulitan karena perbuatannya itu. Juga Ibrahim Khoir.

“Saya punya sebuah amanah yang harus kau sampaikan kepada yang berhak menerimanya. Dan semuanya akan dijelaskan oleh sebuah disket yang akan saya kirim dari sini, hari ini juga. Paket itu saya kirim ke kantormu. Besok kau sudah menerimanya. Itu saja, assalamu’alaikum!” Belum sempat Ibrahim berkomentar, Ethan sudah memutuskan hubungan.

Ethan melirik jam tangannya. Satu jam lagi utusan Dephan akan menjemputnya. Ia masih punya waktu untuk menyelesaikan bagian dari rencananya.

Ethan membongkar isi meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah map dan membukanya. Pria itu mengeluarkan beberapa guntingan koran dan menumpuknya di tong sampah. Begitu yakin semuanya tak ada yang tersisa, ia mendekati perapian dan membakar kliping-kliping koran itu dengan hati-hati.

Setengah jam kemudian sebuah sedan milik Departemen Pertahanan dan Keamanan memasuki halaman rumahnya. Saat itu Ethan sudah menunggu di depan pintu. Ia langsung masuk ke mobil begitu sopirnya selesai memasukkan barang-barang ke mobil. Ethan menatap kembali rumahnya. Setelah itu ia tidak ingin melihatnya lagi.

“Kita ke kantor pos dulu sebentar,” ucap Ethan ketika mobil sudah dalam perjalanan.

“Ya, Pak!” jawab sopir.

***

Di dalam British Airways yang membawanya menuju New York, Ethan kembali memikir ulang seluruh rencananya. Semua resiko sudah diperhitungkannya. Beruntung ia hanya sebatang kara. Seluruh keluarganya sudah tewas puluhan tahun yang lalu, saat ia begitu menyesali kenapa ia tidak ikut tewas bersama mereka. Waktu itu ia baru 6 tahun.

Sejak tragedi itu tak ada yang ingin dilakukannya selain berjuang dan bekerja keras. Dan ia rasa, semuanya akan sampai pada puncaknya esok hari di New York. Ethan memejamkan matanya. Bibirnya terbenam dalam dzikir.

***

New York City, 22 April 2008

Di Bandara Internasional terlihat sebuah kesibukan. Dimana-mana terpasang umbul-umbul setinggi 4 meter berkibar-kibar diterpa angin. Ada ratusan pesawat tempur berbagai tipe dan jenis berbaris teratur sepanjang lintasan pacu. Di bagian depan menara pengawas, berdiri sebuah tenda raksasa berwarna biru tua dengan ratusan kursi di bawahnya. Di sana terlihat para pejabat puncak pemerintahan Presiden Alfred A Stokker, para Jendral US Army Force dan para undangan penting dari berbagai negara. Ratusan pria berjas rapi berkacamata hitam dengan seragam khusus sibuk di posisi masing-masing sambil berkomunikasi lewat headphone. Merekalah para bodyguard yang ditugaskan mengamankan event penting kedirgantaraan militer dunia itu. Di bawah sebuah spanduk raksasa bertulisan ‘Welcome to International Military Air Show 2008’ duduk teratur puluhan pilot yang akan melakukan atraksi udara dengan pesawat tempur masing-masing. Immanuel Ethan duduk di sayap kiri. Ia duduk dengan tenang sambil mengawasi keadaan di sekelilingnya.

Setengah jam berlalu. Sebuah F-117 Nighthawk Stealth memecah udara New York tanpa suara. Dari pengeras suara, seorang MC membacakan spesifikasi si ‘siluman’ itu. Kemudian bergemuruhlah dari arah panggung tepuk tangan para undangan. Setelah menunjukkan kebolehannya, pesawat yang pernah diterjunkan dalam perang Irak-Amerika tahun 1996 itu kembali ke sarangnya.

Giliran Immanuel Ethan pun tiba.

Dengan gagah lelaki 33 tahun itu menaiki Peacemaker dibantu seorang petugas Machine Service. Setelah mengacungkan jempolnya Ethan membawa pesawat itu memasuki landasan pacu. Setelah benar-benar merasa siap, Ethan menekan tombol turbo. Tanpa suara, pesawat itu take off dengan kecepatan kilat dan melintas di depan panggung kehormatan.

Ethan memutar pesawat dan kembali ke arah tenda raksasa. Tiba-tiba pesawat itu berhenti mendadak dan mengapung di angkasa, tepat di depan tenda para undangan. Tepuk tanganpun terdengar bergemuruh lagi. Begitu MC selesai menyebutkan jati diri pesawat tempur generasi terakhir itu, Ethan pun melesat menjauh dan menghilang di angkasa.

Beberapa saat pesawat itu tidak muncul. Panitia pengatur acara masih menunggu. Masih ada atraksi yang harus dipertunjukkan F-3000 itu. Tapi setelah lima menit, pesawat itu tidak juga muncul. Orang-orang di menara mulai panik.

“Di sini menara pengawas, apakah Peacemaker menerima pesan kami?” ucap petugas mencoba mengontak Ethan.

Beberapa saat. Belum ada jawaban. Di angkasa sana, di ketinggian 10.000 meter dan dalam kecepatan Mach 5 (1 Mach = kecepatan suara) Ethan tersenyum.

“Ya. Di sini F-3000. Kami segera kembali!” jawabnya. Petugas di menara melihat ke layar radar. Pesawat itu memang mendekati titik sentral. Tapi kemudian dia menghilang dari pantauan radar.

“Kenapa dia?” tanya Dick Forrery, Kepala Bandara. “Bukankah dia diperintah untuk tidak mengaktifkan sistem anti radar?” lanjutnya gusar.

“Benar, Pak!” jawab petugas kontrol radar. Beberapa petugas menara yang lain mencoba menggunakan teropong digital. Tapi Peacemaker tetap tak kelihatan.

“Peacemaker diperintahkan kembali!” bentak Dick emosional. Tak ada jawaban. Layar radar pun masih kosong. Ternyata Ethan mengacaukan sistem radar menara pengawas.
“Shit!” teriak Dick dengan muka merah padam. Ia mengambil handphonenya dan mengontak Jendral Vincent Stewar, di bawah sana.

“Peacemaker menghilang, Pak!” lapornya.

Jendral Vincent Stewar seperti bara, wajahnya memerah. Belum sempat ia memberi perintah atas berita itu, sebuah ledakan dahsyat terdengar dari arah lintasan parkir pesawat. Peacemaker muncul di balik asap hitam yang membubung ke angkasa sambil terus memuntahkan bomnya.

Orang-orang menjadi panik dan berusaha menyelamatkan nyawa masing-masing. Dari arah menara, meraung-raung sirine tanda bahaya. Menteri Pertahanan, Bob Christoper tiba-tiba sudah berdiri di depan Jendral Vincent.

“Apa yang dia lakukan?” bentaknya. Tapi suaranya hilang ditelan suara ledakan. Mr. Presiden segera diamankan. Para tamu negara kalang kabut. Dimana-mana terdengar teriakan kepanikan. Apalagi ketika tanpa diduga F-3000 mengapung tepat di depan tenda kehormatan dalam jarak 100 meter.

Di dalam benda hitam itu, Ethan tersenyum. Dendamnya terbalaskan. Lalu ia tiba-tiba muram. Di matanya muncul bayangan kepanikan para penduduk sipil ketika Amerika membombardir Timur Tengah tahun 2000. Terbayang juga saat keluarganya hangus bersama rumah mereka ketika pesawat militer Amerika membomnya 27 tahun silam.

“Sekarang kalian akan merasakan akibat kecongkakan kalian,” ucap Ethan sambil memencet tombol fire di tangannya. Dalam hitungan detik, tenda di depannya hancur lumat bersama isinya. Peacemaker kembali berputar-putar dan merudal seluruh pesawat tempur di bawahnya. Setelah yakin tak ada lagi yang tersisa, Ethan melesat ke arah barat menuju Seattle.

Di menara pengawas, Dick Forrery menatap F-3000 dengan mata tak berkedip. Ia sama sekali tak dapat berbuat apa-apa ketika pesawat itu bergerak menjauh dan menghilang di balik gumpalan asap tebal. Ia lalu menghubungi Jendral Vincent. Ia berharap jendral itu masih hidup.

“F-3000 itu menuju ke arah barat, Pak!” lapornya.

“Kejar dia dengan cadangan F-117 di Oklahoma. Perintahkan seluruh pangkalan untuk mengerahkan seluruh pesawat tempurnya untuk mencegat bajingan itu,” geram Jendral berbintang empat itu.

Dick Forrery melakukan tugasnya. Atas nama Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat ia menghubungi seluruh skuadron di daratan Amerika. Kemudian ia meneruskan perintah Menteri Pertahanan kepada seluruh bandara untuk membatalkan seluruh jadwal penerbangan ke Seattle. Perintah terakhir ini juga berlaku untuk seluruh bandara udara di seluruh dunia.

Berita pembelotan F-3000 itu segera mengguncang publik dunia. Beberapa stasiun televisi secara langsung menyiarkan berita itu.

Sementara itu Peacemaker F-3000 melesat dengan kecepatan penuh ke arah Seattle. Tujuan Ethan adalah Markas Besar CIA.

Tiba-tiba komputer di kokpit pesawat memberitahu bahwa ada yang mencoba mengontaknya dari bumi. Ethan menerimanya.

“Apa yang kau inginkan, Ethan?” Itu suara Bob Christoper. Ethan tertawa.
“Ah, tidak ada,” jawabnya ringan.
“Tidak ada? Lalu apa maksudmu?”
“Saya cuma menjalankan tugas sekaligus merampungkan obsesi saya.”
“Tugas apa?”

“Ha ha ha. Jangan membentak saya, Sir! Saya tidak ingin mendengar suara Anda lagi, selamanya!” Ethan memutuskan hubungan dengan bumi.

Empat puluh lima menit kemudian Ethan sudah berada di atas Denver. Saat itu komputer pesawat menangkap gerakan sebuah pesawat tak di kenal mendekati posisinya. Ethan melacak identitas pesawat pemburu itu.

“Oho, F-117 rupanya!” ucapnya dramatis. F-117 mencoba mengontak Ethan.
“Echo…echo…! F-3000 diperintahkan mendarat di pangkalan terdekat. Sekali lagi, F-3000 diperintahkan mendarat di pangkalan terdekat!”

Ethan tertawa. “Baiklah, Saudara Tua. Aku segera turun!”

Ethan menurunkan kecepatan dan menukik ke bawah. Ia membiarkan F-117 itu melesat melewatinya.

Ethan mengatur posisinya dan mengunci F-117 itu dalam sasaran tembak. Begitu saatnya tiba, Ethan melepas tembakan dan dalam hitungan detik melihat F-117 itu hancur di udara.

“Nah, selamat jalan, Kawan!” ucap Ethan sambil kembali menambah kecepatan.

***

Di Los Angeles, Ibrahim Khoir menerima disket yang dijanjikan Ethan. Ibrahim menghidupkan komputernya dan mengakses disket itu. Dalam sebuah file berinitial ‘Top Secret” Ethan menulis,

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Saudaraku Ibrahim, hari ini semuanya telah aku rampungkan. Dan aku bahagia bisa melakukannya, -menghancurkan kekuatan Amerika semampuku-. Dan itulah cita-citaku sejak 27 tahun yang lalu. Aku tahu ini bukan cara yang baik, tapi proyek pembuatan F-3000 sama sekali bukan untuk perdamaian –sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan- tapi untuk sebuah kejahatan yang akan mereka lakukan pada kita, orang-orang Islam. Kamu tahu Ibrahim, Amerika tak pernah rela Turki dipimpin oleh orang-orang yang istiqomah pada Islam. Dan mereka telah merencanakan sesuatu yang sangat jahat terhadap negara itu. Apalagi sejak Turki mampu mempertemukan kembali ikatan persaudaraan umat Islam yang telah lama terputus.

Ibrahim Saudaraku…

Jika ajalku sampai pada misi ini, aku berharap agar seluruh tabungan dan kekayaan pribadiku diserahkan untuk membantu perjuangan saudara-saudara kita di bumi Allah yang lain. Salamku untuk mereka semua di mana pun mereka berada. Dan terima kasih atas bimbinganmu selama ini.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

New York, 21-4-2008

Di akhir suratnya Ethan menulis :

File ini akan lenyap setelah tiga puluh detik.

Ibrahim menunggu. Begitu file itu lenyap dari layar, ia mendesah.

***

Di markas besar CIA sebuah pasukan telah disiapkan untuk menyambut kedatangan F-3000. Dalam radius 500 mil telah ditempatkan tiga puluh unit truk peluncur rudal patriot. Kota Seattle begitu lengang. Kepala CIA, Jody Powel tampak panik.

“Apa ia sudah muncul?” tanyanya pada operator radar.
“Belum, Pak! Pesawat itu anti radar!” jawab si Operator.
“Saya juga tahu!” balas Jody Powel kesal.

Seribu mil di luar Seattle, sebuah benda hitam yang begitu ditakuti muncul. Ethan melihat komputer pesawat menunjukkan tiga puluh subjek berbahaya. Ketika Ethan menekan enter, komputer meluncurkan tiga puluh rudal bergantian ke posisi titik-titik merah di layar komputer. Di bawah sana, Jody Powel tidak menyadari bahwa ketiga puluh peluncur rudal Patriotnya sudah hancur bersama awaknya.

Ethan mendekati posisi sentral, yaitu markas CIA. Radius 500 mil sudah dilumpuhkannya. Sekarang tinggal melumatkan gedung yang konon anti nuklir itu.

F-3000 itu sudah tepat mengapung di atas gedung bertingkat sepuluh itu. Ethan melepas bomnya dan melepaskan senjata pelumatnya. Tapi sekonyong-konyong, lima bayangan hitam sudah mengepungnya ketika ia menjauhi gedung yang hampir lumat itu.

Belum sempat komputer melacak, lampu ‘danger’ berkerlap-kerlip. Kemudian menyusul suara animasi komputer memerintahkannya meninggalkan tempat itu. Tapi Ethan terlambat. Sebuah goncangan ia rasakan ketika rudal musuh menubruk perut pesawat. Ketika itulah ia ingat apa yang harus dilakukannya. Dalam balutan helm hitam, bibir pilot terbaik Amerika itu melafalkan dzikir terakhirnya. Dan…Peacemaker F-3000 itu lumat di udara Seattle bersama pilotnya.

***

Pada saat yang sama.

Aprilia, reporter khusus New York Times, dipanggil bosnya. April dengan tergesa-gesa memasuki ruang kerja Larry Foster.

“Ada apa, Pak?” tanyanya. Dari kursinya, Larry melemparkan sebuah bungkusan paket pada gadis itu.

“Itu kiriman dari Immanuel Ethan! Kukira sebagai hadiah ulang tahun untukmu!” ucap pria 60 tahun itu.

“Immanuel Ethan? Apa isinya?” tanya April sambil mengira-ngira.

“Sebuah disket yang membuka kedok teka-teki proyek raksasa Peacemaker F-3000, beserta salinan program-program rahasia yang akan dilancarkan pesawat gila itu. Ternyata apa yang selama ini digembar-gemborkan Gedung Putih omong kosong belaka. F-3000 sama sekali bukan untuk perdamaian, tapi untuk ambisi gila para senator untuk menguasai bumi!”

“Oh ya? Jadi Anda sudah membukanya?” tanya April.

“Tentu saja. Jika dia tidak menulis namanya, mana mungkin aku tertarik membuka kiriman untuk gadis galak sepertimu!”

April tertawa. “Jadi?” tanyanya pada Larry.

“Tulis laporannya selengkap mungkin. Besok kita akan naik cetak empat kali lipat,” tegas Larry.

“Wow! Lalu jika semua koran Anda habis terjual?”

“Uangnya ingin kuhadiahkan buat pilot pemberani itu. Tapi sayang, ia sudah tewas,” ucap Larry sedih.

“Anda benar, Pak. Kita mungkin perlu lebih banyak pemberani-pemberani seperti dia,” ucap April sambil keluar.

***

New York City, 23 April 2008

Seperti dugaan Larry Foster, korannya habis sebelum tengah hari. Tapi sore harinya sebuah e-mail masuk ke komputer kantornya. Surat itu datang dari Menhankam Bob Christoper. Isinya singkat saja : New York Times dituntut atas tuduhan membocorkan rahasia negara![]

Dimuat dalam epik di Majalah Annida No. 3 Tahun VI/1996 dan dimuat dalam kumpulan cerpen dengan judul yang sama.

Melvi Yendra • June 18, 2011


Previous Post

Next Post

Comments

  1. OctaNH June 30, 2011 - 11:36 am Reply

    Uda, aku beli buku ini lho dulu pas SMA. Udah lecek-lecek dipinjemin ke temen-temen. Sekarang masih ada.saya bawa pindah bareng selemari buku saya yang lain dari Jakarta ke Kepulauan Selayar.

    Really love that book! Bisa minta tanda-tangan gak, Uda? :D

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>