storyteller

Dua Kisah dan Kemiskinan Kita

foto: sami

ADA dua kisah hari ini. Dua kisah berbeda, tapi dengan akar masalah yang sama.

KISAH PERTAMA terjadi di Pasar Kemiri, Depok, kira-kira pukul tujuh pagi tadi. Seorang perempuan setengah baya, nyaris dihajar massa, karena ketahuan mencuri kantong belanjaan seorang perempuan muda. Kantong belanjaan itu isinya lumayan, sekitar Rp 250 ribuan. Ada dua kilo daging, dua ekor ayam potong, dua kilo udang, dan lain-lain.

Awalnya, ibu yang mencuri ini nyaris tak ketahuan. Ia berhasil membawa kantong itu ke jarak yang lumayan jauh dari korban, sebelum akhirnya ada yang berteriak. Perempuan muda pemilik barang belanjaan itu, ketika tahu barang belanjaannya dibawa kabur orang lain, mulanya ikut berang, seperti sebagian orang lain. Tapi untunglah, ketika si ibu setengah baya tadi minta maaf, si perempuan muda memaafkan. Massa lalu bubar. Kejadian itu bahkan akan cepat terlupakan di tengah hiruk-pikuk pasar yang ramai.

Tapi buat saya tidak. Saya bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ibu setengah baya itu mencuri? “Di sini sering kejadian,” ungkap seorang pedagang. “Ya, kalau nggak duit, belanjaan pun jadi.”

Mungkin, kemiskinanlah yang membuat si ibu setengah baya berani melakukannya. Apa lagi alasan yang lebih dekat dari itu? Saya membayangkan si ibu punya kontrakan yang harus dibayar, periuk yang terisi sesuatu agar bisa makan, dan setumpuk tagihan hidup lainnya. Ia tak bisa korupsi seperti para pejabat. Ia tak cukup ilmu untuk merencanakan perampokan bank atau tak cukup tenaga membobol mesin ATM di tengah malam buta.

Ilmu yang dimilikinya hanyalah: berpura-pura ikut belanja di sebuah pasar, menyeret kantong belanjaan milik orang lain, dengan risiko sangat kecil untuk ketahuan. Mungkin sebelum melakukan tindak kejahatan itu dia sudah coba berbagai cara “baik” untuk mendapatkan uang, tapi dia memang tak mujur. Mungkin suaminta telah tiada, atau kabur kawin dengan perempuan lain, meninggalkan “warisan” tanggungan sekian mulut yang harus diberi makan setiap hari.

Ya, semoga setelah kejadian tadi pagi, si ibu diberi hidayah, dan juga pilihan yang lebih banyak untuk mencari rezeki Allah di jalan yang halal. Amin.

KISAH KEDUA terjadi di depan pagar rumah saya, beberapa jam setelah KISAH PERTAMA. Seorang perempuan, mungkin 40-an tahun, mengetuk pagar rumah saya. Dia sehat, pakaiannya pun layak. Tampang juga tak mengenaskan.

“Pak, tolong saya,” katanya.
“Ya, Bu, ada apa?” tanya saya.
“Saya mau bayar SPP anak saya, gak punya uang. Bapak mau nggak beli celana ini, berapa aja deh…”
“Ibu tinggal di mana?” tanya saya, tapi tak dijawab olehnya.
“Bener, Pak, sumpah! Saya butuh uang.” Matanya liar, tidak fokus ke saya. Tampak gelisah.

Saya menarik dompet. Mengeluarkan uang Rp 20 ribu dan memberikannya pada perempuan itu. “Ambil saja, Bu. Celananya bawa aja,” kata saya. Perempuan itu bilang terima kasih, lalu pergi.

Istri saya keluar dari dalam rumah, minta saya ajak Aisha jalan-jalan pakai motor. Saya dan anak saya jalan-jalan mengitari daerah sekitar rumah. Dan, secara kebetulan, saya melihat perempuan itu lagi, di depan pagar rumah tetangga. Dia tampak memanggil-manggil si empunya rumah, tampak agak memaksa. Pagar didorong-dorongnya dan suaranya agak keras juga. Karena tak ada sahutan, dia pergi, dan berhenti lagi di depan rumah berikutnya, dan kembali melakukan hal yang sama. Kali ini ada sahutan “maaf”, setengah kesal setengah membentak.

Saya melanjutkan jalan-jalan. Di sebuah belokan saya harus memutar arah kembali ke rumah dan terpaksa “kehilangan” perempuan itu. Saya menuju masjid di dekat rumah saya dan ngetem di situ. Saya ngobrol dengan dua orang tukang ojek sambil menggendong Aisha. Ngobrol ngalor-ngidul saja. Tak lama kemudian, si perempuan lewat. Kali ini dia “mencegat” sepasang suami-istri yang sedang jalan pagi. Dan kalimat pinta itu kembali terdengar dari mulutnya. Tapi kali ini, dia tak digubris. Perempuan itu melanjutkan ikhtiarnya ke beberapa rumah lagi dan beberapa toko yang sudah buka. Sampai akhirnya tak terlihat lagi oleh saya.

“Abang kenal nggak Ibu tadi?” tanya saya ke salah seorang tukang ojek.
“Kenal sih enggak, Pak, cuma sering lihat aja dia kayak gitu. Bawa celana untuk dijual buat bayar SPP anaknya, katanya,” sahut si abang.

Wah! “Sejak kapan, Bang?”
Si abang sok mikir. “Ada sebulanan lah. Bukan warga sini, sih, gak tau dari mana,” sahut si abang. Ya, Allah… jadi si ibu sudah sebulan muter-muter daerah itu mengemis dengan modus yang sama? Saya tidak kaget. Pola ini sudah jamak dilakukan para peminta-minta. Banyak sudah kisah dan berita saya baca dan dengar, pengemis meminta-minta sampai ke rumah-rumah dengan berbagai cara. Macam-macam modusnya.

Sekali lagi, kemiskinan pulalah saya rasa yang membuat si ibu tadi melakukan hal itu. Demi apalagi kalau bukan sesuap nasi? Oh, alangkah malang!

PEMERINTAH, lewat Dinas Sosial, telah mewanti-wanti kita untuk tidak memberi uang pada pengemis dan anak jalanan. Uang–benar–bukan solusi masalah mereka. Kenapa? Sekali waktu, dulu, waktu masih tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, saya pernah ngetes seorang pengemis perempuan. Anda tahu, pasar Pasar Minggu adalah salah satu pasar tersibuk di Jakarta. Banyak pedagang, banyak pembeli, banyak pengemis, juga pencopet.

Saya mangkal di sebuah tempat parkir “swasta”, nunggu istri belanja. Di depan saya, banyak pedagang sayur “keliling”. Pedagang sayur keliling ini sebenarnya adalah tukang sampah, tukang parkir, pengamen, anak jalanan yang ingin mencari sedikit keuntungan dari keramaian pasar di pagi hari.

Mereka membeli dengan harga murah sayur di pedagang partai besar (biasanya datang dengan mobil pikup), memecah ikatan besar sayur itu dengan ikatan-ikatan yang lebih kecil kemudian menjualnya secara “mobile”. Seorang anak jalanan yang pernah saya “wawancarai” bilang, untungnya lumayan. “Banyak yang beli, Om,” katanya.

Logikanya simpel, para pembeli ini malas masuk ke dalam pasar yang becek dan sumpek. Untuk sayur, mereka bisa beli bahkan tanpa harus beranjak dari jok mobil atau turun dari angkot.

Nah, di pagi buta itu, seorang pengemis perempuan mendatangi saya sambil menadahkan tangan. “Minta uang, Pak,” pelasnya. Iseng, saya mengeluarkan selembar uang seribu dan selembar lagi uang duapuluh ribu. Saya mulai ngetes si pengemis.

“Ibu pilih mana, uang seribu ini atau yang dua puluh ribu ini?” tanya saya. Dia mulanya heran, bahkan curiga saya polisi atau semacamnya. Tapi kemudian, dia menunjuk uang dua puluh ribu. “Baik, saya akan beri uang ini, tapi ada syaratnya. Ibu mau nggak mulai usaha kecil-kecilan dengan uang dua puluh ribu ini?” Dia lagi-lagi heran.

“Di sana ada mobil sayur yang baru datang. Ibu beli seikat besar pake uang ini dan jual kembali setelah dipecah kecil-kecil. Kayak anak-anak itu,” saya nunjuk sekelompok pedagang sayur “keliling”.

Perempuan itu mulai nangkap apa maksud saya. Tapi dia buru-buru menggeleng. Ibu nggak mau uang dua puluh ribu ini?” tanya saya. Dia mengangguk, mantap.

Saya kecewa. “Kenapa Ibu nggak mau?” tanya saya. Dia tak menjawab, dan siap-siap pergi. Tapi saya tahan dan saya beri uang seribu rupiah yang saya siapkan tadi. Dalam hati saya mikir, yah, beginilah kemiskinan kultural itu. Kemiskinan yang susah sekali dibasmi.

Pada akhirnya, saya sepakat pada anjuran pemerintah, tak ada gunanya memberi uang pada pengemis. Lebih baik memberinya ke para penyapu jalan. Tapi pernah ada penyapu jalan yang “lucu”. Pas saya ngasih uang, dia malah nanya, “Bapak dari partai apa?” Nah, lho, kena deh!

Sekali lagi, persoalan seperti ini memang pemerintahlah yang harus turun tangan. Tapi melihat apa yang ada hari ini, amanat UUD 1945 tentang orang miskin adalah tanggungan negara, jadi jauh panggang dari api. Amanat itu sekarang kok malah terngiang seperti ini: “Koruptor dan tujuh keturunannya, dipelihara oleh negara. Halah![]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 139 other followers

%d bloggers like this: