MelviYendra.com

storyteller

Guantanamo
1

Chaplain

SAAT itu awal Desember, persis tiga minggu sebelum perayaan Natal.

Pesawat Boeing 737 yang ditumpangi Kevin menukik mendekati Bandara Heathrow. Lewat pengeras suara, pramugari pesawat kembali mengingatkan penumpang agar tetap memasang sabuk pengaman. Pesawat itu lepas landas beberapa jam lalu dari Birmingham, setelah sebelumnya tertunda sekitar satu jam karena cuaca buruk. Beberapa penumpang melipat koran, buku, atau majalah yang mereka baca lalu melihat keluar jendela.

Kevin duduk sendirian di bangku paling belakang. Ia menoleh ke jendela, memerhatikan kota London yang diselimuti salju. Gedung-gedung, rumah, jalan-jalan, dan jembatan tampak putih. Sungai Thames yang membelah kota membeku dan orang-orang yang berjalan di atasnya tampak kecil. Kevin menutup bukunya dan siap-siap turun. Sebentar lagi pesawat itu mendarat. Minggu ini liburan Natal dimulai, dan Kevin sudah rindu bertemu kedua orangtuanya.

Sambil menunggu tas kopernya di bagage claim, Kevin menghidupkan handphonenya dan menelepon ke rumah.
“Assalamualaikum, Ayah! Aku baru saja mendarat. Bagaimana kabar Ibu …? Apa? Ibu masak ikan bakar kesukaanku? Bilang pada Ibu, aku sudah kangen sekali. Ya, ya, aku bawa pesanan Ibu. Oke, Yah. Satu jam lagi aku sudah ada di rumah. Ya, ya. Assalamualaikum!”

Masih dengan tersenyum, Kevin menyimpan kembali handphonenya. Ia melihat tasnya di belt conveyor. Setelah mengecek nomor bagasinya dan memastikan tas itu memang miliknya, Kevin menjinjing tas itu dan pergi dari sana.
Ia sedang berdiri di antrean menuju pintu keluar saat tiga orang pria mendekatinya. Dua orang mengenakan seragam petugas keamanan bandara, dan yang satunya lagi tampak seperti pimpinan mereka.

“Maaf, Anda yang bernama Kevin?” tanya lelaki yang tidak berseragam. Ia mengenakan setelan hitam-hitam dan wajahnya kebapakan. Usianya mungkin belum lebih dari 40 tahun.

Kevin menatap ketiga orang itu dengan tatapan heran. “Ya? Ada apa? Anda ini siapa?” tanyanya dengan nada datar. “Aku John Smith, kepala keamanan bandara. Kami perlu memeriksa tas Anda. Silakan ikut kami,” si Jas Hitam berkata.

Wajah Kevin tampak heran. “Kenapa? Bukankah tas saya sudah diperiksa di Birmingham? Kenapa diperiksa lagi di sini?”

Smith diam. Anak ini jelas bukan anak yang gampang dibodohi, pikirnya.

“Betul. Tapi kami perlu memeriksa tas Anda. Sekali lagi,” ia berkata, dengan tekanan.
Kening Kevin berkerut heran. “Ini jelas prosedur yang tidak biasa. Kalau memang ada sesuatu dalam tasku, seharusnya kalian sudah tahu sejak dari Birmingham,” protesnya.

Smith mengangguk. “Ini memang bukan prosedur standar. Ini kasus khusus. Jadi, ayo ikut kami.”
Kevin dengan enggan mematuhi permintaan itu. Ia mengikuti Smith sementara dua petugas berseragam mengawal mereka dari belakang. Orang-orang memerhatikan mereka.

Kevin dibawa ke kantor Smith. Ketika memasuki ruangan itu, Kevin terkejut karena di sana sudah ada tiga pria lain. Smith memberi tahu Kevin bahwa ketiga pria itu adalah agen FBI.

“Apa? Aku tidak punya urusan dengan FBI!” teriak Kevin marah. Tapi percuma ia protes, karena pria-pria itu tidak meladeni kemarahannya. Ketiga pria FBI itu membongkar tas Kevin, semua isinya dikeluarkan dan diperiksa satu per satu. Laptop yang ia pakai untuk keperluan kuliah dihidupkan dan diperiksa isinya. Saat semua itu berlangsung, Kevin tidak bisa mengerti apa yang sedang dihadapinya.

“Anda harus ikut kami. Barang-barang ini kami sita,” kata salah seorang agen FBI.
Percuma berteriak, karena kemudian Kevin diborgol dan salah satu pria itu meneriakinya untuk diam. Bahkan Kevin tidak diizinkan menelepon orangtuanya.

“Saat ini petugas kami sedang menuju rumah Anda untuk memberi tahu mereka,” ucap salah seorang agen FBI.

KEVIN dibawa ke beberapa tempat, berpindah-pindah, dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Tapi mereka mengajukan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang tidak diketahui Kevin jawabannya. Mereka menyebut-nyebut serangan 11 September dan Osama Bin Laden. Mereka bertanya tentang Al-Qaeda, jaringan teroris, dan hubungan Kevin dengan semua itu.

“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan dan sama sekali tidak terkait dengan serangan 11 September itu!” pekik Kevin.

Setiap kali Kevin bicara, mereka merekam dan mencatatnya. Suatu kali, Kevin dibawa ke suatu tempat. Tapi sebelum pergi ke sana, matanya ditutup kain hitam dan mulutnya diberi lakban. Ia juga diborgol seperti sebelum-sebelumnya. Mereka naik mobil ke suatu tempat selama berjam-jam. Saat mobil akhirnya berhenti, hari sudah malam. Kevin dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan dan ketika kain hitam yang menutup matanya dibuka, Kevin kaget ketika melihat dua sahabatnya, Jonash dan Hook, juga ada di sana. Jonash dan Hook adalah sahabat Kevin di kampus. Tapi Kevin, Jonash, dan Hook tidak bisa saling bicara, karena mereka dimasukkan ke dalam sel yang berbeda. Ternyata tempat itu adalah sebuah penjara.

SETELAH lima hari dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat lain, akhirnya Kevin, Jonash, Hook, dan belasan orang lainnya dinaikkan ke sebuah pesawat militer milik angkatan laut AS di sebuah pangkalan militer yang tidak mereka kenal. Mereka diborgol di bangku masing-masing dan dijaga ketat oleh tentara bersenjata lengkap. Mata mereka ditutup dan mereka dilarang bicara satu sama lain.

“Hei, bangsat! Kami mau dibawa ke mana?” teriak seorang lelaki di bagian belakang kepada seorang tentara. Tidak ada yang menjawab.

Mereka tidak tahu kalau mereka semua sedang menuju Teluk Guantanamo, Kuba.

MEREKA mendarat di Kuba. Dengan pengawalan ketat dari prajurit-prajurit marinir AS dengan senapan M16, satu per satu tawanan dinaikkan ke dalam sebuah bus yang seluruh kacanya ditutup dan dicat hitam. Di luar, udara terasa sangat kering meskipun saat itu bulan Desember. Apalagi ketika mereka menaiki bus yang tertutup rapat. Dalam sekejap Kevin merasa terpanggang. Sebentar saja ia sudah basah kuyup oleh keringat.

Tidak satu pun dari mereka bicara satu sama lain di dalam bus. Suasana hening. Mereka dicekam rasa takut. Dari lama penerbangan dan cuaca yang sangat berbeda, mereka sadar, mereka sekarang jauh dari rumah.

Bus yang mereka tumpangi mulai bergerak. Dengan mata tertutup mereka tidak tahu ke mana mereka akan dibawa.

“Kenapa kita tidak diberi tahu kita di bawa ke mana?” tanya Kevin ke orang di sebelahnya, seorang lelaki asal Turki. Lelaki yang ditanya menoleh pada Kevin, tapi tentu saja ia tidak bisa melihat siapa yang bertanya.
“Aku rasa kita sedang berada di Guantanamo. Kita semua akan dimasukkan ke dalam penjara yang paling ketat penjagaannya dan paling kejam perlakuannya terhadap tawanan di seluruh dunia,” sahut lelaki itu.

Tebakan lelaki Turki itu benar. Beberapa menit kemudian, bus yang membawa mereka memasuki sebuah gerbang yang di sampingnya ada papan petunjuk yang bertulisan: Camp Delta—Joint Task Force Guantanamo.

KAMP DELTA terletak di tepi pantai Karibia, Kuba dengan luas lima hektar. Beberapa mil sebelum gerbang utama Kamp Delta, penjagaan sudah terlihat ketat. Bus penjara melewati beberapa jaring-jaring pembatas yang membawa mereka ke pos pemeriksaan. Bus berhenti dan dua orang tentara lengkap dengan senapan M16 memeriksa bus, sementara yang lain memeriksa tanda pengenal pengemudinya. Kamp ini dikelilingi dengan pagar rapat yang bagian atasnya dipasangi kawat berduri yang tingginya kira-kira hampir mencapai empat belas kaki. Setiap incinya dilapisi dengan jaring hijau sehingga orang tidak bisa melihat keadaan di dalam. Papan peringatan berukuran besar yang bertuliskan DILARANG MEMOTRET dipasang tiap beberapa kaki di sepanjang pagar. Beberapa penjaga berdiri mengamati dari menara pengawas yang terbuat dari kayu. Masing-masing menara dihiasi dengan bendera Amerika, di sana beberapa orang penjaga berdiri mengacungkan senapan menjaga sekeliling kamp. Saat itulah tutup mata Kevin dan tahanan lainnya dibuka. Para tawanan diturunkan dari bus dan digiring memasuki sebuah blok penjara. Kevin merasa ngeri ketika saat melihat apa yang ada di hadapannya.

Para tawanan ditahan di dalam dua baris kurungan kecil yang saling berhadapan satu sama lain, dipisahkan oleh sebuah gang sempit di antara keduanya. Kurungannya berjeruji dan di bagian langit-langit terdapat lubang fentilasi tempat keluar masuknya udara. Udara terasa pengap dan lembab, ditambah lagi dengan bau empat puluh delapan orang tahanan yang dikurung dalam ruangan sesempit ini. Peluh di kening Kevin mulai bercucuran, udara di dalam terasa lebih panas dibandingkan dengan di luar, ruangan ini bahkan tidak dilengkapi dengan AC maupun kipas angin.

Sel itu kira-kira berukuran enam kali delapan kaki dan terdapat sebuah dinding penghubung di mana seorang tawanan bisa melihat 2 sel di sebelah kanan dan kirinya, dan mereka bisa dengan leluasa memandang rekan lainnya yang dikurung di seberang gang. Saat melintasi sebuah sel, Kevin melihat seorang lelaki yang sepertinya sedang duduk berjongkok di sudut sel. Mereka saling menatap dan kemudian—sesaat sebelum Kevin berniat menyapa—ia terperangah. Sudut di mana lelaki itu duduk adalah toilet. Di setiap sel terdapat toilet jongkok yang tertanam langsung di lantai baja, dan sama sekali tidak ada privasi dalam penggunaannya. Kevin merasa sangat malu.

Kebanyakan tahanan sedang berbaring di tempat tidurnya. Yang lain tampak duduk di lantai sel yang terbuat dari baja atau melangkah hilir mudik di dalam sel mereka. Mereka terlihat lesu, tak bergairah dengan wajah cemberut. Kevin mendengar beberapa percakapan tentang cerita, komplain, doa, dan diskusi mereka pada waktu yang bersamaan dengan menggunakan bahasa yang berbeda-beda saat melewati deretan sel-sel tersebut. Nyamuk dan lalat beterbangan, berdengung di atas kepala. Para tawanan mengenakan pakaian berwarna oranye, seperti beberapa foto yang pernah dilihat Kevin di koran-koran. Sebuah tanda panah berwarna hitam sebagai simbol penunjuk arah kiblat tertera pada kerangka tempat tidur baja yang dibaut langsung pada dinding sel dan juga terdapat bak cuci kecil yang digunakan sebagai keran air minum.

Kevin dan para tawanan dimasukkan ke sel-sel yang masih kosong dan sejak saat itulah “Neraka Guantanamo” mengisi hari-hari mereka.

SIANG ITU—hari kedua—Kevin sedang duduk membaca Al-Quran ketika ia mendengar tawanan yang lain berteriak-teriak gembira. “Ulama! Ulama! Ulama!”

Kevin bangkit untuk melihat siapa yang dipanggil-panggil “ulama”. Seorang lelaki berseragam militer dikawal oleh 2 orang penjaga memasuki blok. Ia melambai dan mengucapkan salam kepada para tahanan.
“Siapa dia?” tanya Kevin pada Jonash yang ada di sel di sebelahnya.

“Kata tahanan lama, dia Ulama Rahim. Dia seorang chaplain. Konon, dia satu-satunya prajurit yang tidak dibenci para tawanan di sini. Dia seorang Muslim yang taat, seperti kita.” Jonash mengalihkan pandangannya ketika seorang penjaga melihat padanya.

Ulama Rahim adalah seorang prajurit keturunan Afro-Amerika berpangkat kapten, yang ditugaskan di Joint Task Force Guantanamo sejak beberapa bulan yang lalu. Sebelum berangkat ke Guantanamo, ia mendapat pelatihan selama beberapa minggu. Pelatihan itu menjelaskan tugas setiap chaplain adalah menjamin setiap tawanan mendapatkan haknya dalam menjalankan semua kebutuhan ibadah dan keagamaannya selama berada dalam penjara. Namun dalam kenyataannya, Ulama Rahim menemukan berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh personel tentara Amerika, mulai dari pelecehan seksual yang dilakukan personel tentara wanita sampai penghinaan secara terang-terangan terhadap Al-Quran.

Ulama Rahim berhenti di depan sel Kevin dan tersenyum. Kevin mendekat ke jeruji sel dan balas tersenyum. “Berapa umurmu sekarang?” tanya Ulama Rahim sambil melihat berkas data yang dibawanya.

“Sekarang jalan 18 tahun,” sahut Kevin. Matanya menatap takut pada dua penjaga yang berdiri tak jauh dari mereka dengan mata senantiasa mengawasi. “Ulama,” Kevin berbisik. “Kenapa kami ditangkap dan di bawa kemari?”
Ulama Rahim menggeleng. “Aku juga tidak tahu,” katanya. “Aku sendiri sering mempertanyakan hal ini. Kalian ditangkap dan ditawan di sini, tapi tanpa tuduhan apa pun. Kalau kalian pelaku kriminal, seharusnya kalian segera disidangkan dan diputuskan berapa lama kalian akan berada di sini. Sejak 11 September, tidak ada yang pasti di Guantanamo,” sahut Ulama Rahim.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut. Delapan orang penjaga berpakaian lengkap, melesak masuk ke dalam blok, berbanjar menuju sebuah sel tak jauh dari sel Kevin. Suara hentakan sepatu bot mereka yang berat menggema di seluruh koridor, dan suara nyanyian mereka memantul ke seluruh lapisan langit-langit blok penjara. Suaranya bergemuruh. Para tahanan di seluruh di blok terdekat mulai berteriak dan mengguncang-guncang pintu sel mereka.

“Ada apa?” tanya Kevin.
Wajah Ulama Rahim tampak cemas. “IRF. Mereka melakukannya lagi,” ucapnya tak jelas.

IRF atau Initial Response Force adalah sebutan untuk satu pasukan kecil yang terdiri dari delapan orang Polisi Militer. Ulama Rahim menyaksikan kejadian itu pertama kalinya setelah beberapa minggu berada di Gitmo. Seorang tawanan mendorong seorang PM yang secara keterlaluan memeriksa alat kelamin dan menekan jari-jarinya ke dalam lubang anus sang tawanan untuk menggeledah dan mencari barang-barang selundupan atau senjata yang disembunyikan. Tindakan ini dikenal dengan istilah “sapu bersih”, yang dilakukan setiap kali para tawanan masuk ke sel mereka setelah selesai olahraga atau mandi. Kontak fisik seperti ini sama sekali tidak diperbolehkan dalam hukum Islam. Karena tahanan tidak diperbolehkan menyerang Polisi Militer, maka tim IRF dikerahkan.

Di bawah perintah perwira yang tidak termasuk dalam kelompok itu, mereka dengan cepat berkumpul dan mengenakan perlengkapan anti huru-hara—helm dengan pelindung muka terbuat dari plastik, sarung tangan tebal seperti yang dipakai para penjaga gawang olahraga hoki, pelindung tulang kering, dan pelindung dada. Mereka terlatih untuk mengenakan perlengkapan ini dalam waktu singkat, dan sering kali Ulama Rahim melihat tim IRF berlatih, menghitung berapa lama waktu mereka memasang perlengkapan tersebut.

Kevin melihat Tim IRF berhenti di depan sel seorang tawanan—seorang lelaki yang diketahui berasal dari Afghanistan—menyusun formasi satu baris lurus di luar sel. Ketua tim kemudian menyemprot si tawanan menggunakan gas air mata dan membuka pintu sel. Yang lainnya kemudian masuk dan menyerang dengan menggunakan perisai sebagai pelindung mereka. Mereka melumpuhkan si tawanan secepat mungkin, dengan menggunakan perisai pelindung, sepatu bot, dan kepalan tinju. Aksi ini tidak berlangsung lama, karena si tawanan langsung jatuh ke lantai selnya. Salah seorang dari anggota tim mengikat pergelangan tangan tahanan ke belakang punggung kemudian pergelangan kaki tawanan tersebut dengan menggunakan tali plastik, tidak menggunakan borgol. Sementara ia terkulai lemah di lantai dengan luka-luka memar yang dideritanya, anggota IRF beristirahat sejenak sambil meminum air yang dibawakan oleh penjaga untuk mereka. Tidak lama setelah itu mereka menyeret tawanan tersebut ke sel tersendiri.

Pada saat semua ini berakhir, mereka merasa sangat gembira. Para penjaga saling berjabat tangan, seolah-olah mereka telah mencetak sebuah gol. Melakukan toas dan mengadu dada mereka satu sama lain, seperti yang dilakukan pemain bola basket profesional. Sungguh perayaan yang aneh, delapan orang menjatuhkan satu orang tawanan.

Kevin merasa sangat tidak nyaman. Ia tidak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan dengan bebas, memperlihatkan yang kuat melawan yang lemah. Tahanan yang mendapat perlakuan jelas kelihatan tak berdaya, diserang secara brutal dan emosional oleh para anggota IRF.

“Apa ini sering terjadi?” tanya Kevin.
“Hampir setiap saat,” Ulama Rahim mengangguk. “Dengan frekuensi yang rapat.”
Tiba-tiba dua PM yang tadi mengawasi mereka, mendekat. Ia menatap Ulama Rahim, lalu Kevin.
“Maaf Ulama,” katanya tegas. “Tawanan ini dapat giliran interogasi sekarang.”

Kevin menggigil di tempatnya berdiri. Ia menatap Ulama Rahim, dengan tatapan memohon. Tapi Ulama Rahim menabahkannya lewat seulas senyuman.

APA yang disebut sebagai ruang interogasi—atau “ruang periksa”, kata yang lebih disukai pemerintah AS—adalah jejeran trailer yang ditempatkan di pinggir pagar pembatas penjara. Ruangan-ruangan itu berukuran kecil dan ber-AC. Di tiap lantai trailer, terpasang sebuah logam berbentuk huruf D, yang digunakan untuk memborgol para tahanan selama masa interogasi yang biasanya berlangsung berjam-jam. Di situlah sekarang Kevin berada, diborgol ke logam D dalam posisi membungkuk, sehingga ia sama sekali tidak bisa berdiri atau duduk dengan nyaman.

“Namamu Kevin, bukan?” sebuah suara bertanya. Kevin mengangkat kepalanya dengan susah payah agar bisa melihat wajah si petugas. Lelaki itu berdiri dengan pongah di hadapan Kevin, jari di tangan kanannya mengepit sebatang rokok, sepatu lars yang dia pakai hanya beberapa senti dari muka Kevin.

“Kalian sudah tahu,” sahut Kevin dingin. Ia memang gemetar, tapi bukan jenis anak muda yang penakut.
“Permulaan yang bagus, Kevin,” kata si petugas, sambil melangkah ke sudut trailer, di mana sebuah CD player berada. Ia menghidupkan alat itu. Seketika, Kevin mendengar suara musik rock dengan volume yang bisa memecahkan telinganya.

Apa yang dialami kemudian oleh Kevin, sungguh tidak bisa dipercaya. Sesaat setelah musik keras diperdengarkan, si petugas menyerang Kevin dengan membabi buta, menggunakan berbagai peralatan yang ada di ruangan itu. Kevin dicambuki dengan ikat pinggang, ditendang, dipukuli, dan kepalanya dihantamkan ke lantai. Di antara berbagai siksaan itu—sementara musik keras terus diputar—Kevin dipaksa membuat pernyataan bahwa ia memang anggota jaringan teroris Al-Qaeda, bahwa serangan 11 September memang bagian dari aksi yang direncanakan dan dibiayai oleh Osama bin Laden. Sambil menahan perih di sekujur tubuhnya, Kevin menggeleng dan sesekali balas meneriaki si petugas. Tindakannya itu membuat Kevin dipukuli lebih keras dan lebih sadis lagi.

Setelah satu jam, musik dimatikan. Lantai di bawah tubuh Kevin penuh noda darah dari tubuhnya sendiri. Si petugas keluar dari trailer, pergi merokok. Seorang petugas medis berpakaian militer kemudian masuk ke dalam ruang interogasi dan memeriksa kondisi Kevin. Tanpa bicara apa-apa, si petugas medis membuat catatan di buku yang dibawanya kemudian keluar dari trailer.

Beberapa menit, tak ada yang masuk. Ia dibiarkan sendirian. Kevin mencoba menggeser tubuhnya, mencari posisi yang lebih nyaman, tapi tak berhasil. Sudah sejak awal, ia berusaha untuk tidak memelas, merintih, atau menyerah dengan mengeluarkan pernyataan seperti yang diminta si petugas. Ia merasa tidak melakukan apa pun berkaitan dengan serangan 11 September. Ia hanya seorang mahasiswa Muslim, dari sebuah keluarga Muslim yang sudah bermukim di London sejak berpuluh tahun lalu, jauh sebelum Kevin lahir. Sewaktu muda, kakeknya pernah bekerja di sebuah kilang minyak di Arab Saudi. Bertahun-tahun bekerja di sebuah negara Islam, membuat hatinya terbuka untuk memeluk Islam. Kakek Kevin lalu menikahi wanita setempat dan melahirkan banyak anak, yang salah seorang di antaranya kemudian melahirkan dirinya. Ketika pensiun, si kakek memboyong seluruh keluarganya kembali Inggris dan tak pernah kembali lagi ke Arab Saudi. Rupanya hal itulah yang membuat ia diculik dan dijebloskan ke neraka Guantanamo. Jadi memang tidak ada yang perlu ia nyatakan pada mereka.

Seorang prajurit wanita masuk. Ia menatap Kevin dengan tatapan genit. Kevin kaget setengah mati. Ia pernah membaca, mereka menggunakan perempuan untuk melunakkan hati para tawanan.

“Halo Kevin … Namaku Vicky. Mungkin, setelah sesi yang cukup melelahkan barusan, kau butuh sedikit hiburan.”

Suara itu bagi Kevin, lebih mirip suara iblis ketimbang suara seorang prajurit militer Amerika Serikat. Kevin memejamkan mata dan berdoa sekuat-kuatnya pada Tuhan.

BEGITU dikembalikan ke selnya beberapa jam kemudian, langit di atas penjara sudah gelap. Begitu penjaga pergi, Kevin langsung jadi perhatian para tawanan yang lain.

“Kau baik-baik saja, kan?” teriak seseorang di sel sebelah kiri Kevin. Kevin mengangguk, menatap seorang pria dengan jenggot yang panjang. Namanya Jamal, asal Prancis. “Kau tidak melakukannya, kan? Kau tahu maksudku,” sambung lelaki itu. Kevin mengangguk mantap. Jamal tersenyum menabahkan Kevin. “Syukurlah. Jangan mudah diperdaya mereka. Insya Allah di blok ini belum satu pun yang berhasil mereka perdaya,” tambahnya.

Kevin merebahkan tubuhnya ke ranjang besi. Tubuhnya terasa sakit. Ia ingin menangis, tapi tak ingin terlihat tawanan yang lain. Akhirnya ia mengambil Al-Quran miliknya yang diikat tali di langit-langit sel. Ketika itulah Ulama Rahim tiba-tiba sudah berdiri di luar selnya. Kevin mendekat dan melihat dua orang penjaga mengawasi Ulama Rahim dari ujung blok..

“Kevin, apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Ulama Rahim dengan napas memburu. Ulama Rahim melihat mata dan wajah Kevin lebam dan membiru.

Kevin tidak menjawab. Jawaban justru datang dari Hamza, seorang pria asal Damaskus. “Apa yang terjadi pada kami selama ini dan pada anak muda itu, bukan masalah lagi sekarang, Ulama. Yang paling penting bagi kami adalah kami diberi keadilan. Seharusnya kalian memberikan hak kami selaku tawanan sebagaimana tertulis dalam Konvensi Jenewa. Kami tidak bisa begini terus tanpa status yang tidak jelas. Kalau kami memang dianggap teroris, seharusnya kami diadili dan diganjar sesuai hukum yang berlaku.”

Ulama Rahim tampak menahan napas. Ia menoleh pada Hamza. “Aku sudah berusaha, Hamza. Aku melakukan protes pada pimpinan tertinggi di sini, dan mengatakan bahwa semua ini tidak benar. Tapi mereka mengatakan bahwa orang yang tertangkap di dalam perang melawan terorisme tidak dianggap sebagai tawanan perang, dan tidak akan dilindungi dengan pasal-pasal yang terdapat di dalam Konvensi Jenewa.”

“Omong kosong!” Hamza membanting sesuatu ke lantai selnya dengan kesal. Suaranya menggelegar ke seantero blok penjara. Tawanan lain melihat dari jeruji sel mereka. Seorang penjaga melihat apa yang dilakukan Hamza, tapi tidak melakukan apa-apa. Ulama Rahim menatap Hamza dengan tatapan prihatin. “Aku mengerti dan tahu apa yang terjadi dengan kalian. Aku akan berusaha. Paling tidak, aku juga seorang Muslim, sama seperti kalian. Kalian harus tahu, sungguh sulit bagiku berada di antara …”

Dua orang penjaga mendekati Ulama Rahim. “Maaf Ulama. Waktu kunjungan Anda sudah habis. Silakan keluar dan kembali ke tempat Anda.”

Ulama Rahim menatap Kevin dengan tatapan seolah-olah hendak menangis. Ia berbisik sebelum pergi. “Kevin, kau harus kuat. Ingat kata-kataku. Aku sudah pelajari berkasmu. Kau bersih. Kau tidak seharusnya berada di sini, sama seperti yang lain. Aku melacak namamu di Internet dan menemukan blog-mu. Aku sudah mengabari orangtuamu bahwa kau baik-baik saja.”

Dia kemudian pergi diiringi dua penjaga sampai ke luar blok. Kevin hanya bisa mengangguk.

PERLAKUAN dan kebiadaban yang dilakukan para personel tentara AS terhadap para tawanan di Guantamo dari hari ke hari makin menjadi-jadi. Suatu hari seorang penjaga menjatuhkan Alquran milik salah seorang tawanan saat melakukan penggeledahan sel, dan mereka mulai rusuh. Seorang tawanan berteriak-teriak memberitahukan apa yang terjadi kepada rekan-rekannya yang lain dan kemudian menggedor-gedor tempat tidur dan pintu sel mereka dengan keras. Tahanan yang berada di sekelilingnya yang mendengar keributan menghentikan aktivitas mereka; segera bangun dari tidur, menghentikan doa, atau sesaat melupakan kesedihan mereka dan kemudian melakukan hal yang sama, berteriak-teriak dan membuat keributan. Suaranya sungguh memekakkan telinga, dan ini terus berlanjut dari satu sel ke sel lainnya, dari blok satu ke blok lainnya. Beberapa dari mereka kadang mendorong dinding sel dengan liar, mencoba menerobos. Mereka akan menggunakan apa saja yang mereka punya—tangan, kaki bahkan kepala mereka. Biasanya kerusuhan ini berakhir dengan aksi IRF.

Pernah pula seorang penjaga membanting Alquran ke dalam toilet saat sedang memeriksa sel seorang tawanan. Melihat itu, si tawanan murka. Dengan membabi buta ia menyerang ketiga penjaga. Salah seorang penjaga tersungkur dengan muka hancur. Namun ia kemudian kalah, para penjaga balik menyerang dan memukulinya. Setelah kedua tangannya diborgol di belakang punggung, salah satu dari ketiga penjaga tersebut memukuli kepalanya dengan pesawat radio, bertubi-tubi. Penjaga tersebut memukulinya hingga kepala tawanan itu robek dan darah berceceran di lantai. Setelah semuanya selesai, sang tawanan dibawa ke rumah sakit.

Hampir tiap hari Kevin melihat kekerasan-kekerasan seperti itu. Setiap hari ia menyaksikan para tawanan diperlakukan tidak senonoh, bahkan dengan tindakan-tindakan tak bermoral sehingga memancing kemarahan. Seperti hal yang satu ini: pihak penjara memutar rekaman azan tiap kali waktu salat tiba, tapi tak jarang “niat baik” itu diiringi dengan teriakan-teriakan penghinaan dari para penjaga atau musik keras dari speaker yang tersebar di seluruh blok. Kevin sendiri pernah mengalami pelecehan ketika akan melaksanakan salat di dalam selnya. Ia didatangi dua orang penjaga yang akan membawanya ke ruang interogasi. Kevin minta waktu sepuluh menit untuk salat. Kedua penjaga memang mengizinkan, tapi selama Kevin salat, mereka mengolok-olok apa yang dikerjakan Kevin dengan kata-kata yang sarat penghinaan terhadap Islam.

Semua itu berlangsung hampir tiap hari, dan Kevin tidak tahu kapan semua itu akan berakhir.

HARI ITU hari pertama di bulan keenam keberadaan Kevin di Guantanamo. Sejak pagi ia menunggu kedatangan Ulama Rahim. Ada yang ingin dibicarakan Kevin dengannya. Tapi chaplain Muslim itu tidak menampakkan batang hidungnya sampai Kevin selesai salat zuhur. Ketika Jonash kembali ke selnya setelah dapat giliran mandi, ia memberi tahu Kevin informasi yang didengarnya tentang Ulama Rahim.

“Ada kabar, Ulama ditangkap dan dipenjara di bagian lain pulau ini,” bisik Jonash dari selnya. Saat itu sedang ada pergantian shift penjaga, jadi tidak ada yang mengawasi mereka kecuali kamera-kamera di dinding.
Kevin jelas saja kaget. “Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Ulama dituduh membawa data-data dan peta kamp dan menjualnya pada pihak asing. Dia juga dituduh sebagai bagian dari teroris yang sengaja disusupkan Al-Qaeda ke sini untuk membantu kita, para tawanan.”

Kening Kevin berkerut. “Itu jelas tuduhan palsu. Semua itu tidak benar.”

Jonash mengangguk setuju. “Aku pikir begitu. Ulama Rahim ditangkap lebih karena ia seorang Muslim. Selama ini ia menjalankan tugasnya dengan baik. Prosedur Standar Operasional yang dibuatnya tentang pemberian kebebasan pada para tawanan untuk beribadah berhasil digolkan.”

“Lantas apa yang terjadi?”
“Sekarang seluruh pers di Amerika mengecamnya. Istri, anak, dan seluruh keluarganya di Amerika sana menerima perlakuan rasis dari berbagai pihak, termasuk aparat pemerintah.”

Kevin termenung. Keberadaan Ulama Rahim di kamp selama ini sangat membantu para tawanan. Paling tidak buat Kevin, lelaki itu bisa jadi tempat curhat.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya pada Jonash.

Jonash memiringkan kepalanya dengan tatapan heran. “Apa maksudmu, Kev? Tentu saja tidak ada yang bisa kita perbuat untuk Kapten Rahim. Nasib kita sendiri di sini belum jelas akan seperti apa.”

Berhari-hari kemudian tidak ada kabar apa-apa lagi tentang Ulama Rahim. Seorang ulama militer Muslim baru didatangkan ke Guantanamo untuk menggantikannya, tapi para tawanan belum bisa melupakan Ulama Rahim.

HARI ITU langit cerah. Saat sedang dapat giliran berolah raga di luar sel, Kevin mendengar desas-desus bahwa sejumlah tawanan akan dibebaskan. Tapi siapa dan kapan pembebasan akan dilakukan, masih penuh rahasia.

Tapi beberapa hari kemudian, Kevin melihat perubahan perilaku para penjaga terhadap beberapa orang tawanan, termasuk dirinya. Semua penjaga tiba-tiba berubah sangat sopan. Mereka mendapat makanan spesial selama beberapa malam. Mereka boleh mengambil makanan sendiri, dan memakan apa saja yang mereka mau. Mereka juga diberi dua buah buku dari perpustakaan dan masing-masing diberi satu buah Alquran—beberapa di antaranya masih baru dan terbungkus plastik.

Pada tanggal 19 Juni, penjaga memanggil beberapa tawanan termasuk Kevin, Jonash, dan Hook untuk berkumpul. Semuanya ada 20 orang, sebagian besar asal Afghanistan. Mereka dipindahkan ke Kamp 4—yang belakangan mereka ketahui dijadikan tempat para tawanan ditempatkan sebelum dibebaskan. Di sanalah mereka semua diberi tahu bahwa mereka akan dibebaskan.

Keesokan harinya, subuh-subuh, apa yang kemudian terlihat sungguh mengejutkan Kevin. Para tawanan dipaksa mengenakan setelan kemeja kotak-kotak atau denim dan celana jins serta sepatu sneaker. Aneh dan terkesan lucu. Buat Kevin dan teman-teman Eropa-nya, pakaian seperti itu mungkin sudah lazim. Tapi bagi orang Afghanistan yang di kampung halamannya biasa mengenakan gamis, serban, dan sepatu sendal, pakaian ala Michael Jordan seperti itu sungguh terlihat aneh.

Pihak militer memoles mereka sedemikian rupa sebelum dibebaskan, dan hal ini cukup bisa dimengerti. Para tawanan ini dipulangkan dengan pakaian baru, sepatu sneaker buatan Amerika, dan buku-buku yang dengan jelas memperlihatkan bahwa mereka mendapat perlakuan yang layak selama berada di Guantanamo. Sebuah propaganda untuk mengelabui dunia internasional tentang apa yang sebenarnya terjadi di Guantanamo.

“Menurut kalian,” kata Kevin pada dua orang temannya. “Apakah kita benar-benar akan dibebaskan atau ini taktik baru interogasi mereka?”

“Ini tampaknya sungguh-sungguh, Kev,” kata Hook, yakin. “Tidak lama lagi kita akan kembali ke rumah.”

Setelah selesai berpakaian, para tawanan diborgol dan dibawa menuju dua buah bus yang diparkir di depan gerbang Kamp 4. Kegembiraan menyelimuti mereka semua. Bahkan para tawanan di Kamp Delta memperlihatkan kegembiraan kepada mereka yang diperbolehkan kembali pulang. Mereka berteriak dari jendela kecil di pintu sel mereka, “Selamat jalan, Saudaraku! Semoga berhasil!” Saat itulah, dalam sorot lampu dari menara pengawas, Kevin melihat Ulama Rahim dalam pakaian sipil ikut berbaris di bagian belakang.

“Ulama!” teriak Kevin tak percaya. Tawanan yang lain melihat ke belakang dan ikut-ikutan kaget. Kenapa Ulama Rahim diikutsertakan dalam rombongan yang akan dibebaskan? pikir Kevin. Ulama Rahim melambaikan tangan sambil tersenyum.

Seluruh jendela bus dicat hitam, dan beberapa kendaraan militer jenis Humvess dan satu buah ambulans sudah bersiap untuk mengawal bus-bus ini—seperti parade iring-iringan mobil kepresidenan. Beberapa orang petugas yang biasa melakukan interogasi menunggu di sana. Mereka datang untuk mengucapkan selamat jalan dan mengharapkan agar para tawanan baik-baik saja. Hal ini sungguh jauh berbeda dengan keadaan yang biasanya terjadi di Kamp Delta.

Saat sopir menghidupkan mesin dan bus itu mulai bergerak, Kevin bangkit dari tempat duduknya kemudian duduk di sebelah Ulama Rahim di bangku belakang. “Apa yang terjadi, Ulama?” tanya Kevin.

Ulama Rahim tersenyum pahit. “Entahlah, tapi hari ini aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.”

Dua orang PM yang melihat mereka bicara, meminta Kevin kembali ke tempat duduknya.

Sampai di pangkalan, sebuah kapal feri sudah bersiap membawa mereka menyeberang menuju bagian timur pangkalan. Saat mulai mendekati jalur penerbangan, melalui kaca depan bus, Kevin bisa melihat beberapa pesawat militer dari kejauhan. Mendadak, perasaannya tidak enak. Tapi ia tidak berani mengungkapkannya pada yang lain. Ia menoleh beberapa kali ke belakang, ke arah Ulama Rahim. Tapi Ulama Rahim sedang tertunduk di tempatnya.

Bus berhenti pada lintasan, jaraknya hanya sekitar empat puluh yard dari pesawat. Para penjaga mempersiapkan mereka—bekas tahanan—satu per satu. “Ambil tas kalian,” seorang PM memberikan pengumuman di depan sana, “dan maju ke depan jika sudah dipanggil.”

Sebelum keluar dari bus, anggota PM melepaskan borgol mereka, dan meminta mereka menaiki pesawat satu per satu. Personel angkatan udara yang akan mengantarkan mereka tampak tengah mempersiapkan pesawat.

Saat seluruh tahanan sudah duduk di bangku masing-masing dengan wajah senang dan gembira, pilot dan krunya diam-diam turun dari pesawat—dan tanpa terlihat oleh para tahanan di atasnya—bergerak perlahan-lahan menjauhi pesawat. Pada saat yang sama Kevin tengah tepekur di bangkunya, berdoa agar Allah menyelamatkan mereka semua.

Saat itu matahari belum muncul di cakrawala, langit masih gelap. Kecuali lampu di dalam pesawat, tidak ada cahaya apa pun yang terlihat di landasan. Seseorang, entah di mana, memberi perintah; lalu sebuah tangan yang berada tak jauh dari landasan, menekan sebuah tombol merah. Sedetik kemudian, kembang api raksasa tercipta di tengah-tengah udara pagi Kuba yang dingin. Pesawat militer itu hancur lebur, tak bersisa, bersama 20 orang bekas tawanan Guantanamo yang dinyatakan bebas hari itu berikut seorang chaplain berpangkat kapten bernama Abdul Rahim.[]

Jatipadang, 17 April 2006
Ket: sejumlah informasi dan deskripsi dalam cerita ini dikutip dari buku For God and Country karya James Yee, terbitan Public Affairs, New York, 2005

[Dimuat di Majalah Annida edisi Mei 2006]

Melvi Yendra • March 28, 2012


Previous Post

Next Post

Comments

  1. John Saddington April 5, 2012 - 12:01 am Reply

    Reblogged this on 8BIT.

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>