LifeOfPi 608x400

“Life of Pi”, Tragedi yang Mengagumkan

USAI membaca novel Yann Martel berjudul “Life of Pi” beberapa tahun lalu, saya bertanya-tanya dalam hati apakah buku pemenang Booker Price ini bisa diangkat ke layar lebar. Meski teknologi animasi sudah demikian canggih, saya masih meragukan novel luar biasa ini bisa menggambarkan secara tepat dan jitu suasana saat Pi (lengkapnya Piscine Molitor Patel) terapung-apung dan bertahan hidup 227 hari di atas sebuah sekoci di tengah Samudera Pasifik bersama seekor macan Bengali dewasa seberat 450 pon bernama Richard Parker.

 

life-of-pi-book1

 

Tapi ternyata sutradara asal Taiwan, Ang Lee bisa melakukannya. Bukan sekadar bisa, paling tidak di mata pengamat film amatiran seperti saya, film ini luar biasa. Film ini benar-benar seperti yang saya ingin buat kalau saya disuruh jadi sutradaranya.

Kepiawaian Ang Lee—sebagaimana Anda tahu—sudah teruji di banyak film sebelumnya, sebut saja Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000), Hulk (2003) dan Brokeback Mountain (2005). Jadi, ketika mendengar film ini digarap olehnya, sebelum nonton, saya berdebar-debar menunggu visual seperti apa yang akan disuguhkan Ang Lee.

Secara visual, mata Anda akan sangat dimanjakan oleh film ini. Dibuka dengan scene-scene cantik hewan-hewan penghuni kebun binatang milik keluarga Pi, lalu keindahan fauna laut Pasifik di malam hari, fenomena ikan terbang yang sangat jarang terlihat, konvoi lumba-lumba, lompatan salto ikan paus, pulau asing yang dihuni ratusan meerkat, digambarkan dengan sangat indah oleh Ang Lee.

Dan, saya terkagum-kagum pada dialog-dialog segar dan inspiratif yang dilontarkan tokoh-tokohnya, terutama yang diucapkan sang narator, Pi (diperankan oleh Suraj Sharma). Jalinan cerita sejak pencarian Tuhan oleh Pi kecil, tenggelamnya kapal yang mustinya membawa mereka ke Kanada, dan terdamparnya Pi di perairan Meksiko, sungguh sebuah kisah yang padu. Meski sebenarnya film ini menyuguhkan sebuah tragedi (ayah, ibu, dan kakak Pi yang bernama Ravi ikut tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi, juga puluhan hewan yang mereka bawa), dan horor yang dialami Pi bersama si Macan Richard Parker, sama sekali tak membuat penonton terisak-isak. Yang ada malah sebaliknya, keluguan Pi muda di tengah penderitaannya di samudera luas itu, malah membuat sebagian besar penonton tergelak-gelak. Saya juga begitu, dan saya tidak tahu kenapa. Mungkin Anda perlu menontonnya sendiri kalau tidak percaya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *