Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 1)

(Dimuat di Majalah Ummi, September 2012)

HUJAN yang mengguyur Jakarta sejak pagi membuat udara jadi lebih dingin di ruangan enam kali delapan meter yang kutempati. Pendingin udara di ruangan ini sudah sejak tadi kukecilkan, tapi tetap saja udara malam membuat tubuhku menggigil. Sialan, seharusnya aku tidak selemah ini menghadapi cuaca. Gelas kopiku sudah kosong lagi, padahal baru dibuat lima belas menit lalu. Hmm … Hari ini sudah tiga cangkir. Aku tidak berminat minum lebih banyak lagi. Bagaimana dengan rokok? Ah, dua bungkus sudah cukup untuk hari ini. Perokok tak pernah tua, kata sebuah iklan. Kenapa? Karena mereka selalu mati di usia masih muda.

Aku tidak ingin mati muda.

Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam, tapi aku masih belum ingin pulang. Pekerjaanku sebenarnya masih banyak, tapi tentu saja selalu masih ada hari esok. Hari ini memang sangat melelahkan. Dari pagi aku mengikuti rapat-rapat yang seperti tidak ada habisnya. Ketemu klien, makan siang dengan calon investor, mengontak klien-klien baru, membaca laporan-laporan, dan menjawab dering-dering handphone. Namun, semuanya membuat hidupku jadi semakin bergairah.

Di ujung mejaku, lampu salah satu tombol pesawat telepon menyala. Itu Sylvia, sekretarisku.

“Kamu belum pulang, Syl?” Aku bertanya lebih dulu sebelum Sylvia bicara.

“Belum, Pak. Ada yang bisa saya ambilkan untuk Bapak?”

“Tidak. Kamu sebaiknya pulang saja. Ini sudah terlalu malam. Saya baik-baik saja. Sebentar lagi juga pulang,” sahutku datar.

“Baik, Pak,” jawab Sylvia.

Aku melanjutkan sedikit pekerjaan yang ingin kutuntaskan sebelum pulang. Menjelang pukul sebelas malam, aku menyandarkan punggung dan menggeliat sambil melirik ke arah jam di atas meja. Sebaiknya aku pulang.

Aku mematikan laptop dan menyimpannya ke dalam tas. Setelah mematikan lampu ruangan, aku keluar dari ruanganku. Sebelum menutup pintu, hapeku bergetar. Dari Kania, pacarku.

“Kamu belum pulang? Udah jam berapa ini? Nanti kamu sakit lagi kayak kemarin.” Suara lembut Kania, walau terkesan menekan seperti biasa, terdengar manis.

“Ini juga udah mau jalan. Kamu kok belum tidur? Katanya besok mau ke KL?” Kania adalah owner sebuah event organizer. Besok dia terbang ke Kuala Lumpur, mengecek persiapan akhir resepsi seorang kliennya di sana.

“Aku mana bisa tidur sebelum tahu kamu udah nyampe rumah?”

Aku tertawa. “Ya, udah. Beberapa menit lagi aku udah nyampe rumah. Kamu tidur dulu, ya. Jangan khawatir. Besok kita ketemu di Soekarno Hatta, oke?”

“Oke. Selamat malam, Sayang. I love you.

I love you, too.

Kania menutup telepon. Aku tersenyum. Terbayang di mataku, gadisku itu sedang berbaring di ranjang, di bawah selimut tebal, mencoba tidur tapi tidak kunjung berhasil. I love you so much each day, Kania … aku bergumam dalam hati.

Aku berjumpa Kania dalam sebuah pameran komputer dua tahun lalu. Sejak saat itu kami saling jatuh cinta, dan makin dekat sampai sekarang. Kania sudah pernah memberi sinyal tentang pernikahan, tapi aku tak pernah meresponsnya. Bukannya tak ingin, atau bukannya aku tak mencintai Kania. Walau aku sudah 35 dan Kania 29, dan kami berdua sama-sama mapan, entah kenapa, rasanya aku belum siap saja untuk meneruskan hubungan kami ke arah yang lebih serius.

Aku turun dengan lift ke tempat parkir di basement. Di lift, aku bertemu beberapa karyawati perusahaan lain yang mengumbar senyum mereka padaku. Aku balas tersenyum dan mengangguk pada mereka. Ketika lift berhenti di lantai lima, mereka keluar sambil berbisik-bisik. Sebelum Lift menutup kembali, mereka masih sempat melirik ke belakang sekali lagi ke arahku. Aku hanya tersenyum. Gadis-gadis zaman sekarang memang tak mau kalah dengan kaum lelaki. Mereka juga bisa pulang kantor pukul sebelas malam!

Aku keluar dari tempat parkir dan meluncur ke luar gedung. Petugas yang memeriksa karcis parkir di pintu keluar pusat perkantoran elit itu tersenyum dan mengangguk. “Selamat malam, Pak Nizar,” ucapnya padaku. Aku tersenyum, kemudian meluncur membelah jalanan Ibu Kota yang mulai lengang.

Lalu lintas yang lengang membuat pikiranku melayang-layang pada Kania. Aktivitas harianku sungguh penuh godaan. Gadis-gadis cantik yang mengelilingiku di kantor. Rekan-rekan bisnis yang juga dipenuhi gadis-gadis cantik dan mapan. Di kantor, aku sering digoda, terlebih bila ada Kania di dekatku. Selalu muncul pertanyaan, “Kapan kalian akan menikah? Jangan kelamaan, ntar keburu dimakan rayap, lho!” Aku dan Kania selalu bisa memberi tangkisan yang manis. Tapi, terlalu sering digoda, membuat aku juga jadi sering memikirkan hal ini: menikah.

Kalau sedang sendirian dengan Kania, aku sering mencuri-curi pandang dirinya, sering kutanyakan pada hatiku, apakah Kania benar-benar menginginkan aku? Hari-hari yang sibuk, memang membuat aku dan Kania jarang bertemu. Tapi komunikasi bukan masalah buat kami. Bila Kania menelepon, aku sering keluar dari ruang rapat dan membiarkan karyawanku menunggu beberapa menit. Kania juga tak segan-segan membatalkan acaranya bila aku ingin jalan bersamanya.

Pernah sekali, aku bertanya pada Kania, apakah dia benar-benar mencintaiku. Dia hanya tersenyum dan memberi sebuah ciuman panjang untukku. Dia bilang, “Lamarlah aku, maka kamu akan tahu jawabannya.” Dan, tantangan itu tak pernah kubuktikan.

Kania cantik, baik, dan pintar. Aku sudah pernah bertemu keluarganya dan kulihat orang tua dan saudara-saudara Kania menyukaiku. Mama Kania bahkan sesekali meneleponku, menanyakan, apakah aku baik-baik saja. Sekali-sekali, Papa Kania mengajakku bermain tenis, catur, atau pergi memancing. Dari perkenalan dengan mereka, aku tahu, Kania adalah gadis baik-baik yang tepat untuk mengisi hidup dan hari-hari lelaki baik mana pun, tak terkecuali aku.
Jadi, kalau tidak ada masalah dan penghalang, apalagi yang kutunggu?

Rumahku masih dua puluh kilometer lagi. Mobilku melaju dengan kecepatan yang diinginkan semua pengemudi bila jalanan sedang sepi. Aku sekaligus mau mencoba kemampuan mobil baruku. Kuhidupkan CD player dan memutar musik jazz kesukaanku.

Di sebuah perempatan, aku dihentikan oleh lampu lalu lintas. Kusandarkan bahuku dalam-dalam ke bangku mobil sambil memerhatikan kondisi perempatan itu. Aman, pikirku. Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya tampak aman.
Sebuah sedan berhenti di sebelah kananku. Lampu dalam mobil itu dalam keadaan hidup, membuatku bisa melihat penumpangnya. Menyalakan lampu dalam mobil, di tengah perempatan lengang seperti ini di tengah malam adalah sebuah keputusan yang salah. Jangan percaya sepenuhnya pada jalanan di Jakarta. Apa saja bisa terjadi. Aku menoleh dan terdorong untuk memerhatikan. Ada dua penumpang di depan. Di sebelah kemudi duduk seorang gadis usia tiga puluhan, sedang tersenyum manis pada lelaki di sampingnya yang wajahnya tidak bisa kulihat. Mereka sedang tertawa. Di atas dasbor, tampak sebuah topi wisuda.

Keluarga yang bahagia, pikirku. Aku lalu melupakan momen itu. Aku kembali menatap ke depan. Satu lagi episode kehidupan orang lain membuatku merana dan sakit. Rindu itu, rasa sakit itu, entah kenapa tak pernah bisa pergi dari hidupku. Aku sudah coba melupakan semuanya, tapi sia-sia saja. Aku menghabiskan hari-hariku untuk melupakan itu semua, tapi selalu ada saja saat-saat ketika aku bisa kembali mengingat segalanya.

Lampu berganti warna. Aku melepas rem tangan dan menekan gas. Aku meluncur kembali, tidak lagi mendengarkan musik yang masih terus berputar. Lima menit kemudian aku mengalihkan speedometer digital mobil ke angka terendah ketika memasuki antrean yang tidak begitu panjang di pintu tol.

Sedan itu ada di lajur sebelah kananku, dalam posisi sejajar seperti di lampu merah tadi, tapi kali ini aku bisa melihat sang sopir dengan jelas, karena lampu di dalam mobil itu masih dinyalakan. Gadis yang mungkin baru diwisuda itu tampaknya bersama ayahnya, seorang lelaki berumur 60-an. Lelaki itu tampak masih bugar, mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja kuning gading yang membuat dia tampak lebih muda.

Aku mengalihkan pandangan ke depan. Menarik selembar sepuluh ribuan dari saku kemejaku dan maju beberapa meter ke depan. Antrean beringsut sampai aku berada tepat di bawah jendela petugas tol. Aku kembali menjalani rutinitas harianku. Menyerahkan uang, menerima kembalian, dan kembali meluncur cepat di jalanan.

Tapi rutinitas itu kali ini sedikit berbeda saat aku menoleh beberapa detik ke arah sedan yang mendadak muncul di sebelah kiriku. Tindakan spontanitas itu kulakukan ketika mendengar suara tawa renyah gadis itu saat ayahnya membuka kaca mobil mereka.

Napasku mendadak tertahan. Jantungku berhenti berdetak.
Sebuah wajah muncul, yang sangat kukenal. Bertahun-tahun lalu. Wajah yang—kalau aku boleh memilih—sebaiknya tidak kulihat malam ini. Malam yang seharusnya tidak pernah ada dalam hidupku. Malam yang tidak kuinginkan. Malam yang mungkin tidak pernah ada kalau aku duduk beberapa menit lebih lama di kantor.

Wajah itu…
Wajah itu–aku sangat yakin–akan membuat hari-hariku tidak akan pernah lagi sama. [–bersambung–]

2 thoughts on “Wajah-Wajah di Langit (Bagian 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *