Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 2)

AKU mengikuti mobil itu dengan terus menjaga jarak aman. Sedan itu melambat di depan sebuah rumah berpagar rendah dengan taman penuh bunga di pekarangannya. Sambil terus menekan gas, aku memerhatikan lelaki setengah baya itu turun dari kendaraannya dan membuka pagar. Anak gadisnya ikut turun sambil terus mengocehkan sesuatu. Ketika mobilku melewati mereka, gadis itu menatap ke arahku sekilas, tapi kembali bicara dengan ayahnya. Aku mengeluarkan handphone-ku dan merekam wajah kedua orang itu dan rumah kecil tapi asri itu. Setelah itu, kupacu mobilku pulang.

Di kamarku, aku merebahkan kepalaku di atas bantal dan memejamkan mata.

Sudah bertahun-tahun aku mencoba mengelus dada, mendinginkan darah mudaku yang menggelegak dan akhirnya berhasil keluar dari rasa putus asa. Aku sudah melupakan semua masa laluku. Telah kukubur semua dendamku. Aku bangkit menyongsong kehidupan yang lebih baik dan penuh kedamaian. Dua puluh dua tahun aku tak pernah lagi membuka kenangan hitam itu, dan masa sepanjang itu sangat cukup untuk meredam semua dendam dan kemarahanku. Aku sekarang bahkan bisa bangga dengan perjuanganku bangkit kembali, walau Ayah dan Ibu tidak tahu dan tidak bisa menyaksikan bahwa silsilah keluarga mereka belum punah.

Tapi kalau sekarang aku dihadapkan kembali pada sosok yang telah membantai mereka, sosok yang dengan sombong menobatkan dirinya jadi malaikat maut bagi orang-orang tercintaku, aku tidak bisa tenang lagi. Semua bayangan itu ternyata tidak pergi jauh. Mereka hanya tersimpan di tempat yang tidak pernah kulihat lagi tapi ternyata sangat dekat denganku. Seperti pintu yang tak pernah lagi kubuka, padahal setiap hari aku melewatinya.

Aku bangkit dari ranjang, melangkah ke jendela dan menyibak gorden. Di luar, kutemukan malam yang gelap. Di manakah kau selama ini, Bajingan? Kenapa baru sekarang kau muncul? Kenapa kau hadir di saat aku sanggup dan siap membalaskan dendamku? Kenapa kau memperlihatkan dirimu kembali? Kenapa kau tidak mati saja diterjang peluru atau mati dengan tenang di ranjang tuamu, dengan tembakan salvo mengiringi pemakamanmu? Kenapa kau tidak mengakhiri hidupmu sebagai pahlawan negara, dengan status lebih terhormat dan penuh wibawa dan anugerah dan bintang jasa?
Hatiku tak berhenti berkata-kata sendiri. Tubuhku menggigil, jadi kupejamkan mataku kuat-kuat. Tanganku mengepal. Aku bukan dalam amarah, tapi sedang berjuang mengusir amarah yang tiba-tiba menguasai seluruh tubuhku. Kuusir wajah lelaki itu jauh-jauh, tapi wajah itu sekarang lekat di benakku, seperti mimpi buruk. Kuingat lagi semua detailnya. Wajah itu… sungguh, aku takkan salah dan meleset.

Aku mengambil telepon genggamku dan melihat kembali foto-foto yang kuambil tadi. Nomor polisi sedan Toyota itu adalah nomor pelat Jakarta. Lelaki itu tinggal di kota ini. Aku duduk di meja dan membuka laptopku. Kulacak dari Internet nomor polisi kendaraan itu. Kudapatkan sebuah nama. Benny. Benny saja, tidak ada gelar atau nama kedua.

Kubuka situs jejaring sosial. Kulacak akun atas nama Benny. Internet memberiku banyak sekali pilihan, tapi dengan sabar kutelusuri satu per satu sampai kutemukan satu profile picture yang benar-benar serupa dengan sosok lelaki yang kulihat malam ini. Tak salah lagi, itu pasti akun Facebook-nya. Aku merasa benar-benar beruntung.

Sejenak aku menyandarkan punggung ke kursi. Teknologi dan keserampangan orang-orang mengumbar data dan foto pribadinya di situs jejaring sosial kini memberi dampak yang luar biasa untuk kepentinganku. Pelacakan ini tak akan makan waktu lama.

Aku kembali menghadap layar laptop. Kutelusuri seluruh link yang ada di halaman muka akun Facebook lelaki itu. Mulai dari teman-temannya, status-status yang ditulisnya di wall, dan foto-foto. Foto-foto lamanya juga semakin mendekatkanku pada kebenaran bahwa aku tak salah tentang siapa dirinya. Namun, selain itu, aku juga sangat ingin tahu semua hal tentang anak gadisnya berjilbab itu.

Sebentar saja, kutemukan akun Facebook gadis itu. Namanya Kim Alia. Dia putri tunggal lelaki bajingan itu. Kali ini kutekan tombol “add friend” agar aku bisa berteman dengan lelaki itu, juga putrinya, dengan maksud agar aku bisa mengakses lebih banyak informasi tentang mereka. Sambil menunggu kepalaku dingin, aku keluar dari kamar dan melangkah ke bar kecil di ruang tengah. Aku menarik sekaleng bir dari kulkas dan menghabiskannya pelan-pelan sembari berpikir.

Jam dinding di atas kulkas berdentang keras saat kedua jarumnya beradu di angka 12, membawaku kembali ke kesadaran awal. Apa yang sedang kulakukan sekarang? Kenapa tak kulupakan saja wajah itu dan meneruskan hidupku yang sedang menuju puncak karier dan kebahagiaan? Kenapa aku harus mengorbankan semuanya demi sebuah balas dendam? Tapi wajah Ayah dan Ibu kembali hadir di depan mataku. Dan seluruh saraf di kepalaku kembali berdenyut-denyut saat bayangan mayat kedua orangtuaku yang bersimbah darah kembali mengusik pikiranku.

Aku kembali ke kamar dengan berton-ton beban di kepala. Aku duduk kembali di depan laptop dan membenamkan wajahku di kedua telapak tanganku. Di tengah lamunan, aku dikagetkan oleh suara tone, ketika sebuah pesan masuk ke chat-box Facebook-ku.

“Hai, terima kasih sudah meng-add saya.”

Aku nyaris tak bisa bernapas. Pesan itu datang dari akun Kim Alia, yang baru beberapa menit lalu aku add sebagai teman. Rupanya, request yang kukirim langsung disambut saat itu juga. Gadis itu ternyata sedang online dan tengah menyalakan fasilitas chatting.

Aku cepat membalas, dengan seringai yang asing di wajahku.

“Sama-sama.”

Aku menunggu beberapa detik, penasaran apakah pembicaraan itu akan usai begitu saja. Tapi, alangkah kagetnya aku ketika dia kembali menulis,

“Senang sekali di-add oleh seorang senior yang sampai hari ini masih disebut-sebut namanya oleh para profesor di kampus. Apa kabar, Kak? Kalau setelah ini saya tak membalas pesan, itu berarti saya sedang pingsan.”

Dalam kondisi normal, aku pasti sudah tertawa membaca komentarnya yang lucu. Tapi kali ini amarah sungguh telah menguasai seluruh diriku. Meski dalam percakapan kami selama beberapa jam kemudian aku ramah, hangat, dan humoris seperti biasa, semuanya kusengaja demi mendapatkan sebanyak-banyaknya informasi tentang dirinya dan kesempatan untuk bisa mendekatinya. Di luar yang kusebut tadi, aku sebenarnya adalah serigala bagi hidupnya beberapa waktu ke depan.

Kim Alia ternyata dulu kuliah di kampus yang sama denganku, selisih tiga tahun denganku. Mungkin di banyak sekali kesempatan, dia melihatku, Ketua Senat Mahasiswa saat itu, berbicara di depan mahasiswa baru, memberi sambutan di atas panggung, atau berorasi saat demontrasi. Gadis itu lahir tahun 1980, masih sendiri, dan dosen muda di kampus kami. Dari status-statusnya di Facebook, aku menangkap kesan Kim Alia adalah gadis yang kesepian. Kesepian yang belakangan kuketahui sebabnya. Kesepian yang rumit dan akut. Sebentar saja, aku dan Kim langsung akrab. Dia gadis yang riang dan sepertinya hampir tidak tahan mengungkap segala rahasia kecil tentang dirinya, seperti dia masih suka mengirim surat lewat pos dan mengoleksi perangko. pada orang yang baru beberapa menit berteman dengannya di sebuah situs jejaring sosial.

Setelah berbincang ngalor-ngidul, aku mengambil inisiatif menarik diri lebih dulu dari dialog dini hari itu. Sebenarnya aku ingin menggali lebih banyak tentang gadis itu, tapi kini kurasa aku tak perlu bersusah payah lagi, karena tanpa kuminta Kim sendiri ternyata adalah pengagum beratku.

“Sayang sekali Kim, aku terpaksa offline. Besok harus kerja.”

“Oh, oke. Nggak apa-apa, Kak. Ngobrol dengan Kakak sangat menyenangkan,” sahutnya, jelas-jelas sangat kecewa.

“Kapan-kapan bisa kita teruskan, kok,” tulisku, dalam kadar sedikit, berusaha menghibur.

“Benarkah? Asyikkk… Awas, ya, kalau boong nanti Kim gigit cubit.”

Aku membaca pesan terakhir itu dengan terpana dan hampir tidak punya ide untuk menuliskan jawaban. Di tengah kecanggunganku sendiri menghadapi putri musuh besarku, aku hanya bisa menulis, “Selamat malam, Kim. Bye.”

TIDUR yang cuma satu setengah jam, membuat kepalaku terasa berat saat bangun. Dering panggilan handphone yang membuatku terjaga. Kania sudah menghubungiku berkali-kali, tapi tak satu pun terjawab. Saat itu aku pasti masih terlelap. Gadis itu pasti sudah panik setengah mati menyangka aku kenapa-kenapa.

Kutelepon Kania dengan seribu ucapan maaf. Saat itu dia sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. Beberapa menit lagi pesawatnya akan terbang ke Kuala Lumpur. Secepat apa pun aku memacu mobilku ke Bandara Soekarno-Hatta, aku pasti terlambat.

“Sayang, maaf,” aku memulai pembelaanku di telepon. “Aku tidak bisa tidur semalam. Kepalaku sakit. Aku tidak dengar suara handphone.”

Kania diam, dan handphone-nya mendadak dimatikan. Dan peristiwa pagi itu, menjadi pemicu kehancuran hubungan yang sudah kami bangun selama bertahun-tahun.[–bersambung–]

One thought on “Wajah-Wajah di Langit (Bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *