Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 3)

WAKTU aku kecil, aku punya sebuah rumah pohon, yang sudah kumiliki sejak aku berumur delapan tahun. Di belakang rumah kami, beberapa meter sebelum hutan, berdiri sebuah pohon besar yang kata ayahku sudah ada sejak kakekku masih kecil. Pohon itu sungguh besar. Aku dan salah seorang sahabatku, pernah mencoba melingkarkan tangan kami berdua memeluk pohon itu. Dan, kami tidak bisa saling menyentuhkan tangan kami. Di pohon itulah Ayah membuatkan sebuah pondok untukku. Aku senang bukan main, walaupun sebenarnya Ibu tidak terlalu setuju. Ibu bilang, aku bisa saja jatuh dan kakiku bisa patah.

Rumah pohon itu tak terlihat dari bawah, karena daun-daunnya begitu rimbun. Tapi aku bisa melihat apa saja yang ada di bawah, termasuk seluruh bagian rumahku. Agar aku gampang memanjatnya, Ayah membuatkan pijakan-pijakan kayu yang sekaligus bisa dijadikan tempat berpegangan. Dari dalam rumah pohon, aku bisa melihat hamparan sawah di kejauhan, bahkan kerbau-kerbau yang sedang berkubang di dalamnya. Rumahku tampak agak aneh, bahkan rasa-rasanya tampak seperti bukan rumahku karena aku merasa tidak mengenalinya. Sungai tempat aku biasa mandi dan berenang sepulang sekolah, tampak agak lain.

***

SAAT itu aku baru berumur 13 tahun. Aku masih ingat, saat itu sedang musim hujan. Hampir setiap hari hujan turun, sangat lebat pula. Hari itu hujan turun dari pagi. Tapi menjelang senja, hujan berhenti. Ayah pulang dari pasar kabupaten membawakan sebuah hadiah untukku. Aku mau membuka hadiah itu di rumah pohonku, tapi Ibu bilang aku bisa jatuh karena dahan pohon besar itu pasti licin setelah sekian jam disiram hujan. Tapi aku membandel, kukatakan aku sudah memanjat pohon itu selama tiga tahun, dan tak sekali pun aku terpeleset atau jatuh. Ibu akhirnya pasrah.

Hadiah yang dibelikan Ayah adalah hadiah yang sudah lama kuminta. Sebuah teropong medan versi asli, versi yang dipakai oleh tentara. Entah dari mana ayahku mendapatkannya. Sebenarnya aku sudah punya teropong, tapi barang lama itu cuma sebuah mainan yang tidak istimewa, karena semua anak di kampungku pasti memilikinya.

Tapi teropong baruku ini lain. Ketika kucoba menggunakannya di atas rumah pohonku, aku jadi takjub. Bahkan dalam gelap, teropong itu bisa melihat sampai jauh. Dari atas pohon, aku bisa membaca tulisan kabur Masjid Muhlisin di gerbang masjid di samping bukit di kejauhan.

“Jangan sampai kauhilangkan,” kata Ayah. “Itu harganya mahal sekali. Ayah pesan secara khusus langsung ke agennya di Jakarta.”

“Baik, Yah,” sahutku.

Suatu hari aku pulang terlambat sampai di rumah. Ayah memarahiku. Marah yang benar-benar marah. Aku maklum kenapa Ayah begitu marah padaku. Aku tidak ada di rumah seharian, sementara Ibuku sedang hamil tua. Ibu butuh aku untuk membantu beberapa pekerjaan di rumah. Kami memang tidak punya pembantu.

Malam itu aku merajuk. Jadi, aku pergi ke belakang rumah membawa teropong dan selimut dan naik ke atas rumah pohonku. Aku berharap, setelah gelap Ayah akan memanggilku pulang dan membiarkan aku masuk ke kamar. Tapi sampai tengah malam, tidak terjadi apa-apa. Aku akhirnya menyimpulkan bahwa kesalahanku kali ini benar-benar tidak termaafkan.

Aku tak tahu saat itu jam berapa. Langit cerah. Udara terasa dingin dan tubuhku menggigil. Aku terbangun karena mendengar suara-suara dari arah rumahku. Kupikir Ayah merasa sudah cukup menghukumku dan bermaksud memanggilku pulang. Tapi itu suara-suara yang tak kukenal. Suara laki-laki. Suara laki-laki dewasa seusia ayahku. Dan mereka lebih dari satu orang.

Kemudian kudengar jerit ibuku. Jerit tertahan, terdengar samar-samar karena dari rumah pohon ini yang kudengar hanya apa yang dibawa angin ke telingaku. Aku berhenti bernapas. Dadaku seolah berguncang. Tubuhku makin menggigil. Aku tidak berani menggerakkan badanku, bahkan kupejamkan mataku kembali berharap dengan begitu rasa takutku berkurang.

Lalu kudengar suara tembakan. Sekali, dua kali, tiga kali. Lalu sebuah rentetan tembakan yang terdengar selama beberapa detik. Ibuku tak menjerit lagi. Suasana sunyi senyap. Aku takut. Tubuhku gemetar. Dadaku sesak. Aku semakin sulit bernapas.

Apa yang telah terjadi di rumahku? Siapa orang-orang itu? Kenapa suara Ibu tak terdengar lagi? Ke mana Ayah? Kenapa Ayah tidak melakukan sesuatu?

Bayangan buruk menyerbu kepalaku, tak bisa kutahan. Aku pernah mendengar hal ini dari cerita Ayah atau yang kudengar dari cerita teman-temanku di sekolah. Penculikan, perampokan, dan pembunuhan oleh sekelompok orang tak dikenal. Di masa lalu, hal itu hanya terjadi di tempat-tempat yang jauh. Tapi kejadian-kejadian itu sudah mulai memasuki wilayah kami. Kami mendengar rumah tetangga kami diserang di tengah malam buta, hartanya dirampas, dan penghuninya dibantai.

Aku tidak tahu apakah yang terjadi di rumahku sama dengan yang terjadi di rumah-rumah tetanggaku. Aku tidak tahu siapakah yang telah mendatangi rumahku. Ayah cuma seorang petani yang punya toko hasil bumi di pasar kabupaten. Ayah cuma seorang saudagar kecil yang belum bisa disebut kaya raya seperti saudagar lainnya.

Aku memberanikan diri bangun dari lantai papan tempat aku berbaring. Samar-samar kudengar suara lelaki dewasa sedang berbicara satu sama lain. Mereka membicarakan sesuatu. Terdengar pula suara tawa. Tapi bukan tawa Ayah atau Ibu. Kutekuk kakiku perlahan-lahan dan kuraih tepian jendela papan rumah pohonku. Sampai di sana aku berhenti. Aku tak berani mengintip ke bawah. Aku takut orang-orang itu melihatku dan mengetahui keberadaanku.

Suara-suara mereka terdengar makin jelas. Aku mendengar suara mobil dihidupkan. Pelan-pelan kuangkat tubuhku dan kupandangi apa yang ada di halaman rumahku. Tak tampak jelas. Yang terlihat hanya sorot dua lampu mobil yang menerangi teras rumahku. Aku teringat teropongku. Kuraih benda itu kemudian kuintip apa yang ada di bawah sana.

Aku melihat sekitar delapan atau sembilan orang pria bergegas masuk ke dalam dua buah mobil yang diparkir di halaman rumahku. Lelaki terakhir yang keluar dari rumahku berdiri agak lama sebelum ikut masuk ke dalam mobil. Sementara kedua mobil memutari halaman menuju pintu keluar, lelaki itu mengawasi rumahku untuk terakhir kali, bahkan sempat memandang ke arah pohon besar, ke arahku. Dalam lensa teropongku, wajahnya terlihat jelas. Sayang sekali sorot lampu mobil sudah mengarah ke jalanan, sehingga wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas. Tapi untungnya lelaki itu kemudian membakar rokoknya. Cahaya korek api menerangi wajahnya beberapa detik. Wajah yang kasar, yang memiliki sebuah bekas luka yang sangat mudah diingat di keningnya. Wajah itu langsung lekat di kepalaku. Lelaki itu masuk ke dalam mobil dan rombongan orang-orang tak dikenal itu pergi begitu saja.

Aku tidak berani turun dari pohon sampai aku yakin keadaan benar-benar sudah aman. Sambil membalut tubuhku dengan selimut, aku memeriksa setiap sudut rumahku. Tak terlihat siapa pun, juga Ayah dan Ibu. Suasana sunyi sepi. Geliat pagi tidak terdengar lagi seperti hari-hari sebelumnya. Di saat-saat seperti ini, Ibu biasanya sedang sibuk di dapur, atau sedang marah-marah karena aku belum juga bangun. Jam-jam begini Ayah biasanya sedang memanaskan mobil pick-upnya dan siap-siap berangkat ke kebun.

Pelan-pelan dan sangat hati-hati aku masuk ke dalam rumah lewat pintu dapur. Lampu dapur menyala dan semua yang ada di dalamnya berantakan. Semua isi lemari dibongkar, bahkan tumpukan kayu bakar yang ditaruh Ayah di sudut dapur bertebaran di mana-mana seperti baru saja dihantam angin badai.

“Ibu? Ayah?” Aku memanggil dengan suara pelan. Tapi tak ada jawaban. Dari dapur aku masuk ke ruang tengah, dan seperti halnya dapur, ruang tengah juga berantakan. Sepertinya orang-orang yang datang semalam sedang mencari sesuatu.

“Ibu?” suaraku kini bergetar. Aku tidak bisa membayangkan apa yang telah menimpa ayah dan ibuku. Aku tidak ingin melanjutkan semua ini. Aku tiba-tiba ingin berhenti di tempatku sekarang dan mati kaku seperti patung. Kesunyian ini menelanku masuk ke pusaran rasa takut tak berujung. Aku bahkan tak bisa mendengarkan suara napasku sendiri.

Pintu kamar tidur Ayah dan Ibu terbuka. Lampu di dalamnya menyala. Gorden kamarnya tersingkap dan dari tempatku berdiri aku melihat ujung kaki Ayah. Kaki itu tidak bergerak, tidak hidup. Mati.

“Ayah?” panggilku. Kini dengan suara yang begitu pelan sampai nyaris tak terdengar. Kulangkahkan tungkaiku yang semakin lemah mendekati pintu kamar. Ketika mataku melihat apa yang ada di atas tempat tidur, jantungku benar-benar berhenti berdetak. Pandanganku berkunang-kunang. Tubuhku ambruk ke lantai, tapi beberapa detik kemudian aku berusaha keras beringsut mendekati tempat tidur, mencoba meraih ke arah ayah dan ibuku yang kini terbaring tak bernyawa di atas genangan darah mereka sendiri.[–bersambung–]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *