Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 4)

AKU sudah lupa sejak kapan kenal Affandi. Kalau aku tak keliru, kami pertama kali bertemu dalam sebuah pameran mobil. Affandi adalah seorang wartawan majalah lifestyle. Selain itu dia juga bekerja sambilan sebagai fotografer. Dia punya usaha rumah foto yang lumayan sukses. Sering aku bertanya-tanya, kenapa Affandi masih mau jadi wartawan kalau dari usaha fotografi saja dia sudah bisa menghasilkan banyak uang. Bila hal itu kutanyakan, Affandi selalu mengatakan bahwa dengan jadi wartawan, dia jadi punya akses ke orang-orang penting, sebuah anugerah yang tidak akan didapatkan oleh orang-orang biasa seperti aku, misalnya. Tampaknya, bisnis foto Affandi memang didukung jaringan yang dia bangun dari pekerjaannya sebagai seorang jurnalis. Beda denganku, Affandi sudah menikah, dengan Fiona, dan punya seorang putri berumur tiga tahun bernama Katri.

“Angin apa yang membuatmu mengajakku ketemu di akhir pekan seperti ini?” gurauku. Affandi tersenyum. Dia punya wajah yang agak unik. Wajahnya lonjong seperti bule, hidungnya mancung, rambutnya agak pirang, dan matanya tidak hitam seperti mata sebagian besar orang Indonesia. Dia lebih sering dikira turis asing ketimbang wartawan bila sedang meliput berita. Tapi kombinasi yang nyaris sempurna itu dirusak oleh tinggi badannya yang pas-pasan. Tinggi Affandi cuma 160 senti, 15 senti lebih pendek dariku.

“Aku tahu,” godanya. “Kania sedang keluar negeri, dan kau pasti kesepian seperti duda yang baru ditinggal mati istri beberapa hari.” Affandi tergelak. Dia memang paling suka menyudutkanku.

“Kau tahu dari mana Kania ke luar negeri?” serobotku agak kaget. Aku sudah hampir dua bulan tidak bertemu Affandi, jadi agak mengherankan dia tahu jadwal Kania. Tidak mungkin—di tengah kesibukan kami bertiga—Affandi dan Kania menggunjingkanku.

“Man, jangan lupa, aku ini wartawan. Telingaku ada di atas atmosfer sana dan mataku setajam satelit mata-mata Rusia.”

“Pembual!” semburku, ikut tertawa. Kami bertemu di sebuah cafe di kawasan Kemang sore itu. Seorang barista yang muda dan cantik mengantarkan pesanan kami. “Hot capuccino. Silakan.” Si barista tersenyum kemudian pergi. Affandi melirik tubuh seksi gadis itu dengan tatapan nakal. Aku menendang kaki Affandi. Affandi melotot dan kami tertawa.

Affandi membuka obrolan dengan mengangkat tema keluarga. Dia curhat padaku soal Fiona, istrinya, yang dia rasa belakangan ini mulai dingin.

Aku bukan psikolog yang mengerti persoalan kejiwaan manusia, tapi aku bisa katakan pada Affandi, agar dia lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga.

“Aku belakangan ini memang sedikit lebih sibuk,” katanya. “Pekerjaan di kantor benar-benar menyita waktu. Kalo studio, sudah bisa kutinggal, karena aku sudah percayakan sama anak-anak.”

Aku menyeruput kopiku. Terasa agak berbeda di lidahku, tapi aku merasa, ini disebabkan mood-ku yang sedang tidak baik.

“Kenapa tidak berhenti saja jadi wartawan? Kau bisa lebih serius di fotografi. Kalau mau lebih maksimal, memang harus fokus.”

Affandi menggeleng. “Tidak bisa, Zar. Di dunia ini, aku hanya punya dua hobi, menulis dan fotografi. Itu sudah seperti darah untuk jantungku. Aku tidak ingin melepaskan salah satunya. Keduanya sejalan, harus seimbang, terus ada.”

Aku menatap mata Affandi. “Setidaknya, kau bisa menulis buku atau menulis freelance di rumah.”
Dia tertawa. “Mungkin suatu saat nanti akan kucoba. Tapi tidak sekarang.”

Kami lalu mengobrol soal bisnis. Affandi menanyakan bagaimana usahaku. Aku ceritakan bahwa persaingan di dunia otomotif makin ketat. Aku sekarang sedang konsentrasi bagaimana meningkatkan porsi penjualan. Pembicaraan soal bisnis lalu berganti dengan tema yang malas kubahas, soal Kania.

“Jadi, kapan jadinya kau akan menikah?” tanya Affandi, dan yang membuatku heran, kali ini tampak sungguh-sungguh.

Aku tersenyum. “Belum. Aku belum siap.” Kunyalakan rokok kelimaku dan kuisap dalam-dalam. “Aku harus yakin dulu kalau Kania benar-benar orang yang tepat.”

“Jawaban klise,” sahut Affandi asal.

“Terserah,” balasku.

“Kalian sedang ada masalah?”

Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur seperti peluru yang terlontar dari senapan yang pelatuknya tak sengaja ditekan Affandi. Aku, yang tidak pandai bermain peran, menyadari bahwa pertemuanku sore ini ada kaitannya dengan kekacauan yang kubuat dengan Kania tadi pagi. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

“Sialan,” sentakku kesal. Aku tidak suka cara Kania mengadukanku seperti ini. Apalagi pada satu-satunya sahabatku.

“Kapan Kania meneleponmu?” kejarku.

Affandi menyunggingkan bibir, mengukur tingkat kemarahanku yang tak seberapa, lalu menunjukkan kemenangan sesaatnya. “Tadi siang, begitu dia sampai di Kuala Lumpur.”

Mata Affandi tampak mengelam. Senyumnya hilang. “Kalau ada masalah, ceritalah padaku. Aku akan bantu. Sejak masuk tadi aku tahu, pikiranmu menerawang ke mana-mana. Kau tidak fokus. Ada apa di kantor?”
Sialan, hebat betul orang satu ini. Dia bisa menjerat petunjuk hanya dengan melihat air mukaku, walau dengan alur yang masih keliru.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya lelah. Minggu ini minggu yang benar-benar sibuk. Aku nyaris tak tidur semalam, dan pagi-pagi aku terlambat bangun,” aku berkata. Affandi melumat rokoknya yang masih setengah di asbak. “Jangan berdusta padaku, Nizar. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Dadamu digelayuti sesuatu yang berat, dan karena itu matamu jadi tampak gelisah. Aku bisa membaca perasaanmu.”

“Mungkin kau benar. Aku memang gelisah dan sedang ada masalah, tapi hanya masalah biasa.”

Cahaya di mata Affandi kian redup. Senyum di bibirnya kembali mengembang, tapi tampak sangat dipaksakan. “Oke, oke. Aku tidak akan memaksa. Hanya saja, kalau kau butuh aku, jangan ragu-ragu. Kautahu ke mana mencariku kalau aku tak bisa dihubungi via telepon.”

Aku ikut tersenyum. “Oke,” sahutku. “Jangan kuatir. Kau tetap sahabatku yang terbaik.”

Obrolan lalu terasa membosankan. Walau tidak tertangkap basah, aku seperti anak kecil yang baru saja turun dari pohon mangga yang berhasil menyembunyikan hasil curianku di semak-semak. Aku bukan aktor yang hebat, tapi tampaknya usahaku berhasil membuat Affandi diliputi keraguan.

Pukul enam lebih sedikit, aku dan Affandi berpisah di tempat parkir. Di dalam mobil, aku berpikir dan menyisir ulang apa yang telah kuputuskan hari ini. Keputusanku untuk merahasiakan masalah ini dari Kania, dan kemudian Affandi, kurasa semakin lama semakin tepat. Lebih dari dua dekade aku berhasil mengunci mati rahasia terbesarku ini di dalam sanibariku terdalam. Aku berhasil tidak menangis tiap kali melihat foto dua orang yang kukasihi, dan selalu berhasil menahan diri saat paman, istri paman, dan sepupu-sepupuku menyebut-nyebut nama mereka di dekatku. Aku seorang tawanan perang yang setia tidak mengungkapkan markas pasukanku, walau karena itu aku harus ditembak mati.

Mulanya aku berencana langsung pulang ke rumah. Tapi dalam perjalanan, aku berubah pikiran. Sesuatu di kepalaku bergetar, memerintahku untuk membelokkan mobilku menuju kawasan Rangunan, menuju rumah bajingan itu. Aku tiba-tiba ingin kembali mendekatkan diri dengan orang yang telah membantai orangtuaku. Aku, entah kenapa, seperti kerasukan sesuatu, yang membuatku selalu kehausan. Dan tempat aku bisa memuaskan rasa haus itu adalah dengan berada semakin dekat dengan musuhku itu.

Aku menemukan sebuah minimarket 24 jam beberapa puluh meter sebelum rumah kediaman Kim Alia dan ayahnya Benny. Rencanaku, aku akan berjalan kaki ke rumah itu. Aku sadar ini akan sedikit menimbulkan kecurigaan, tapi kegelisahanku sudah tak bisa diredam lagi.

Turun dari mobil, aku masuk ke minimarket, pura-pura mencari sesuatu. Aku pergi ke rak parfum dan sambil melihat-lihat parfum aku memikirkan apa yang harus kulakukan nanti bila telah sampai di depan rumah Kim Alia. Apa aku harus mengetuk pintu dan memperkenalkan diri sebagai yatim piatu yang nyawa kedua orangtuanya telah direnggut paksa oleh ayahnya?

Aku menggeleng. Seharusnya aku melakukan segalanya dengan penuh persiapan. Akan terlalu mencurigakan. Pria perlente seperti aku jalan kaki sambil celingak-celinguk di depan rumah orang lain di sebuah komplek perumahan yang lengang. Bisa-bisa aku dikira anggota sindikat maling.

Kuputuskan untuk kembali pulang saja, tidur dan mencoba berdamai dengan Kania. Sudah cukup waktu untuk meredam kemarahannya, dan saatnya bagiku untuk memperbaiki kesalahanku. Kutarik sebuah kotak pembersih kanebo dari rak dan berjalan ke kasir dan berdiri di antrean ketiga. Minimarket itu lumayan ramai.

Tiba-tiba kudengar suara tertahan dari belakangku.

“Kak Nizar!”

Aku spontan menoleh ke asal suara. Dan jantungku seketika rasanya berhenti berdetak.

Seorang gadis berjilbab—yang foto-fotonya sudah kuintip semua semalam lewat akun Facebook—berdiri dengan seorang lelaki gagah berumur 60-an tahun yang wajahnya mungkin tak akan bisa kulupakan sampai aku mati. Kim Alia dan ayahnya, Benny.[–bersambung–]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *