Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 5)

BEBERAPA detik aku tidak melakukan apa pun selain mataku yang menatap dengan hampa ke arah gadis itu. Kim yang tampak lebih cantik dari fotonya yang mana pun, menghampiriku dan memberi senyum paling lebar yang pernah kuterima dari seorang gadis yang baru kukenal. Lelaki di sebelahnya, tampak lebih tua dari yang kulihat di malam sebelumnya. Kini kulihat bahwa lelaki itu kini tampak sedikit bungkuk, dan wajahnya lebih tirus. Untuk lelaki 60 tahun, dia tampak lebih tua beberapa tahun.

“Kok belanja di sini, Kak?” tanya Kim akrab, seakrab dua sahabat yang tinggal berlainan kota dan tiba-tiba salah satunya kepergok sedang belanja di sebuah minimarket di dekat rumah sahabatnya.

“Oh, eh…” Ada tambahan beberapa detik lagi ketika aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Beberapa detik yang terasa sangat panjang sampai aku menemukan kata-kata yang tepat, dan wajar, dan tak terkesan dibuat-buat.

“Oh, ini,” aku menunjukkan kanebo di tanganku. “Mau beli ini. Yang lama sudah usang.” Aduh! Itu sungguh alasan terbodoh yang pernah aku lontarkan. Kalau hanya untuk membeli kanebo, kenapa harus jauh-jauh ke tempat itu?
“Oh, gitu, ya” sahut Kim sambil menahan senyum. Dia tahu aku berbohong. Dia dan ayahnya lalu berbisik-bisik, dan, Kim lalu memperpendek jarak antara kami.

“Kak Nizar, kenalkan ini ayahku. Ayah, ini Kak Nizar, yang pernah Kim ceritakan,” kata Kim.

Aku bingung mana yang harus kudahulukan; menyodorkan tangan untuk menyalami lelaki itu, atau memikirkan kalimat terakhir Kim. Sudah berapa lama aku jadi bahan pembicaraan anak gadis dan ayahnya itu? Aku sedikit tersanjung dengan alasan yang tak kupahami. Lamunanku pupus saat tangan lelaki itu menggantung di depanku. Dengan kikuk aku menyalaminya. “Nizar, Om,” kataku memperkenalkan diri.

“Oh, iya, Ayah masih ingat. Kamu sering sekali bercerita tentang Nizar. Apa kabar, Nak Nizar?”

“Oh, eh, baik, Pak,” sahutku cepat. Astaga! Apa yang sedang terjadi padaku? Ke mana perginya amarah itu? Ke mana perginya segala rencana jahat itu? Ke mana perginya segala dendam itu?

Tapi, tunggu. Aku tentu saja harus berpura-pura. Untuk masuk ke sarang musuh, aku harus memasang muka manis seperti serigala. Ya, tindakanku sudah benar. Aku sudah di jalur yang tepat.

“Kak Nizar, ayo mampir ke rumah, sekalian makan malam. Ada pesta kecil untuk merayakan wisudaku,” kata Kim tak tanggung-tanggung.

Aku butuh beberapa detik lagi untuk mengambil keputusan. Sebenarnya ini kesempatan baik bila kuterima. Tanpa perlu bersusah-payah menerobos sarang musuh, aku malah diundang untuk masuk ke sana. Tapi, aku mempertimbangkan hal lain. Apakah ini terlalu terburu-buru? Apakah ini tidak lantas malah mencurigakan? Atau jangan-jangan lelaki itu sudah tahu siapa aku sebenarnya dan ini semua justru sebuah perangkap? Entahlah. Kepalaku butuh lebih banyak waktu untuk mencerna semua kemungkinan itu.

“Terima kasih banyak, Kim, tapi saya…”

Belum selesai aku menjawab, tangan ayah Kim jatuh di bahuku. “Tidak baik menolak rezeki, Nak Nizar,” kata lelaki itu dengan suaranya yang berat. Mata kami bertatapan sekilas. Dadaku seketika berdesir. Hanya dalam jarak beberapa senti, aku bisa menatap orang yang menghabisi nyawa kedua orangtuaku.

Aku mengangguk, lalu membayar kanebo di kasir. Aku lalu mengiringi langkah Kim dan ayahnya ke rumah mereka yang tak berapa jauh dari tempat itu.

Rumah yang ditempati Kim Alia dan ayahnya tidak terlalu besar. Ruang tamunya hanya berisi mebel sederhana, jauh dari mewah. Tapi ruangan kecil itu ditata dengan baik. Ada beberapa foto keluarga tergantung di dinding. Dari sofa tempat aku duduk, aku bisa melihat bahwa Kim adalah anak tunggal dalam keluarga itu. Tak ada foto lain selain foto Kim, ayah, dan ibunya. Tak kulihat foto bersama kerabat dan teman-teman. Keluarga yang suka menyendiri.

Ayah Kim duduk menemaniku di ruang tamu. Obrolan dimulai dengan pertanyaan basa-basi seperti tentang pekerjaan dan aktivitasku. Lalu, di suatu titik yang aku tak tahu dipicu oleh apa, ayah Kim mengatakan sesuatu yang sebenarnya belum layak kudengar. Tapi kemudian kupikir, lelaki itu pasti sudah lama tidak punya teman ngobrol selain anak gadisnya. Dia pasti tak pernah bermain tenis atau bermain catur dengan lelaki sebaya. Aku bisa menyimpulkan semua itu hanya dari muram yang menyembur dari wajahnya.

“Ibu Kim sudah meninggal dunia,” katanya.

Terlontar kata “oh” halus dari mulutku, dan itu ungkapan yang jujur, tidak kubuat-kubuat. Baru aku sadar, aura kesedihan dan kesepian yang kutangkap dari obrolanku dengan Kim semalam, ternyata berakar dari fakta yang baru saja kudengar.

“Maafkan saya, saya ikut berduka,” sahutku.

“Tidak apa-apa, itu sudah lama. Sejak Kim berumur beberapa minggu,” kata lelaki itu lagi. Wajahnya tiba-tiba memberat. Dan aku berada dalam posisi yang serbasalah, antara berusaha menghibur atau membiarkan lelaki itu menikmati kembali kesedihan yang mungkin sudah lama tak dibagikannya kepada orang lain.

Kim muncul dari ruang tengah membawa dua cangkir teh dan sepiring makanan kecil.

“Ayah sudah membuat Kak Nizar bersedih, ya?” tebak Kim setengah tergelak. Dia meletakkan teh dan piring makanan kecil di atas meja, dan tanpa kusadari aku memerhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh gadis itu. “Jangan dipikirkan, Kak. Ayah memang suka begitu. Suka berbagi kesedihan dengan para tamu,” sambung Kim sambil mencium kening ayahnya. “Sekarang ngobrol dulu, ya, berdua. Kim mau siapkan makan malamnya.”

Gadis itu pergi tanpa sedikit pun menatap ke arahku. Ayahnya memergoki aku memerhatikan anak gadisnya saat melangkah ke ruang dalam. Aku langsung kikuk.

“Kim cuma satu-satunya, Nak Nizar. Jadi kami hanya berdua saja di dunia ini…” kata lelaki itu seolah mengkonfirmasi segala hipotesa yang kubuat sebelumnya. “… dan saya menyangsikan, saya akan bisa menemani Kim lebih lama…”

Seolah sudah diatur demikian, Benny terbatuk setelah selesai mengucapkan kalimatnya yang terakhir. Kalimat yang tergantung, tapi sudah bisa kutangkap ke mana arahnya.

“… seandainya saja ada lelaki yang mau menjadi pendamping Kim sebelum semua kesangsian saya itu terjadi, saya akan lebih bahagia menghabiskan sisa-sisa umur saya ini.”

Dia kembali terbatuk dan aku tidak tahu harus berkomentar apa. Sebagai perantau yang sudah banyak bergaul dengan berbagai macam orang, aku tahu tujuan Benny mengungkapkan kata-kata itu. Mungkin, mungkin aku adalah lelaki kesekian yang duduk di sofa ruang tamu itu, dan skenario itu sudah belasan kali dimainkannya.

Secara sederhana bisa kusimpulkan bahwa lelaki ini, Benny, memang sedang berusaha setengah mati mencari pendamping hidup untuk Kim. Mungkin penyakit yang dideritanya atau ada alasan lain yang membuat lelaki itu terpaksa mengambil jalan instan seperti ini. Dan menurut dugaanku, overacting Kim saat chating denganku, juga disebabkan oleh motivasi yang sama. Mungkin gadis itu tidak seterbuka atau seagresif itu, tapi desakan dari ayahnya membuatnya menjadi gadis yang seolah terang-terangan memproklamirkan dirinya sedang mencari suami.

Jauh di dalam hati, kondisi ini membuatku sedikit lega. Tiba-tiba saja, Tuhan seolah telah menuntunku datang ke minimarket itu malam ini, dan Dia menggiringku pada skenario yang tiba-tiba kusadari menjadi jalan bagiku untuk memasuki kehidupan lelaki itu. Seolah tak tega membiarkanku terus-terusan dihantam kepanikan mencari jalan untuk melampiaskan dendamku, Tuhan menunjuki jalan yang teramat singkat dan mudah menerobos benteng pertahanan musuhku.

Makan malam sudah tersedia di meja. Kim datang ke ruang tamu memanggil kami berdua ke meja makan. Saat sekilas kami bertatapan sebelum aku bangkit dari sofa, kulempar seulas senyum padanya. Senyum yang akan membuatnya merasa sesuatu telah terjadi dalam percakapan aku dan ayahnya, yang akan membuatnya tak bisa tidur malam ini karena mengira perangkap ayahnya kali ini berhasil menangkap mangsa. Dan, aku, Nizar, mulai malam ini akan memainkan peran sebagai serigala berbulu domba, yang ketika saatnya tiba, akan melepas baju dombaku dan mengejutkan si tua bangka itu dengan seringai dan gigi tajam serigalaku.

Saat aku memacu mobilku keluar dari kawasan itu satu setengah jam kemudian, tiba-tiba rencana besar itu sudah matang di kepalaku. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat bahwa Kim Alia ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Dia cantik, dan kurasa layak duduk bersamaku di pelaminan, sepalsu apa pun pernikahan itu bagiku nanti.

Mendekati rumahku, telepon genggamku tiba-tiba bergetar. Layarnya menampilkan sebuah nama. Aku tersentak karena menyadari sesuatu. Skenarioku masih belum sempurna. Rencana besarku masih belum mulus. Ada kerikil kecil yang harus segera kusingkirkan. Kerikil kecil bernama Kania.[–bersambung–]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *