Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 6)

SEJAK aku dan Kania pacaran dua tahun lalu, kami hampir tak pernah bertengkar. Kalau menemukan masalah, salah satu dari kami akan mengalah dan persoalan itu lalu seolah tak ada. Kalaupun pernah, hanya kesalahpahaman biasa dan alasan-alasan sepele kecil saja. Kami berdua memang sengaja menghindari segala alasan untuk ribut, dan selama ini selalu berhasil.

Jadi, ketika Kania meneleponku malam itu, aku langsung masuk ke skenario yang baru saja kurancang beberapa menit sebelumnya; menyingkirkannya.

“Halo, Sayang.”

“Kamu lagi di mana, sih?” Suara Kania penuh tekanan, terdengar tak biasa. Ketus dan tajam. Tak lagi lembut. Tak lagi manis. Aku menarik napas sejenak. Kaget juga melihat reaksinya itu.

“Aku sedang nyetir, Sayang. Kamu lagi di mana?” sahutku dengan suara tetap hangat. Namun, herannya, aku merasa kehangatan itu kini sedikit dibuat-buat. Di ujung telepon, aku mendengar samar kesibukan sebuah bandara. “Terminal 2F,” jawab Kania. Singkat dan tegas.

“Soekarno-Hatta?” tanyaku. Terdengar suara napas dilepas penuh kekecewaan dan sambungan mendadak terputus. Setahuku, Kania pulang ke Jakarta besok, bukan malam ini.

Aku cepat-cepat mencari putaran untuk kembali ke jalan besar. Rumahku tinggal beberapa kilo lagi, tapi kini aku harus memutar arah dan mencari pintu tol terdekat. Mengejar waktu ke Bandara Soekarno-Hatta.

Sampai berumur 33 tahun, aku hanya mengenal dua orang perempuan, Ibu dan nenekku. Aku kehilangan ibuku saat berumur 13 tahun. Nenekku lalu membawaku ke Jakarta, membesarkan dan menyekolahkanku sampai aku sarjana. Tapi Nenek tak sempat melihat kesuksesanku, karena saat aku baru saja merintis usaha pertamaku, Nenek meninggal dunia pada usia 82 tahun. Segala harta warisan yang dimilikinya, jatuh ke ahli waris tunggalnya: aku. Nenek tak punya anak lain selain ibuku, dan ibuku tak punya anak lain selain aku. Sementara kakekku, sudah lama meninggal dunia.

Dengan harta warisan Nenek itulah aku memulai masa depanku. Aku jatuh-bangun, tapi aku tak pernah menyerah. Kerasnya didikan almarhum Ayah, dan suntikan ilmu wirausaha dari Nenek, membuat aku terus melangkah.

Selama 33 tahun itu, aku hampir tak pernah berhubungan dengan wanita lain selain mereka berdua. Saat remaja, aku tak pernah jatuh cinta pada gadis mana pun. Aku cuma punya beberapa orang teman lelaki dan kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar berkelompok atau mengerjakan PR bersama.

Lalu, Kania hadir dalam hidupku sejak dua tahun lalu, dan aku mulai sedikit demi sedikit belajar memahami perempuan. Tapi, dua tahun teramat singkat untuk mengenal dan mempelajari isi hati seorang perempuan. Dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menemukan sisi gelap tersembunyi yang tak kasat, yang selama ini mungkin mewujud secara tersirat, yang mungkin luput kutangkap.

Jadi, saat memasuki kawasan Bandara Soekarno-Hatta satu jam berselang, aku baru menyadari satu hal: bahwa letup kemarahan yang ditunjukkan Kania sejak pagi kemarin, adalah sesuatu yang selama ini belum terdeteksi olehku alasan dan sebab-musababnya. Itu seperti sinyal asing yang jatuh dari angkasa luar.

Sinyal asing seperti itu pula yang muncul di wajah Kania saat kami duduk berhadapan di sebuah cafe di area Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta. Sungguh, malam itu aku tak bisa menerka apa yang tersirat dari wajah kekasihku itu. Campuran marah, kesal, sedih, sekaligus takut.

“Aku minta maaf, Sayang, atas kejadian tadi pagi,” kataku sambil meraih jemari Kania. Di luar dugaanku, Kania menggeleng sambil menjauhkan pandangannya. Tapi dia menyambut genggaman tanganku dan matanya mulai berkaca-kaca.

Aku heran. Seharusnya bukan bening kristal itu yang menyambutku malam ini. Bukan genggaman penuh getar ketakutan ini yang kuterima malam ini. Aku seharusnya menerima luapan kemarahan, dan pukulan yang keras di dada dan bahuku.
Yang kulihat malam ini adalah Kania yang rapuh, yang tampak lelah entah oleh apa, yang tampak takut oleh sesuatu.

“Ada apa? Kenapa kamu nangis?” tanyaku sembari meraba-raba, adakah sesuatu yang kulewatkan sejak dua tahun ini?

Kania menghapus air matanya dengan tisu. Sembari menatap mataku—tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya—dia berkata, “Aku tahu kamu akan marah. Aku tahu kamu tak akan pernah bisa memaafkan aku…”

Aku belum benar-benar bisa menangkap apa yang sedang coba dikatakan Kania padaku. Rahasia apa yang disimpannya dariku selama ini? Otakku diterjang ribuan tanda tanya yang datang serempak. Dan di saat aku tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi, tiba-tiba seorang lelaki muncul di depan kami, berdiri dari kursi yang sebelumnya luput kuamati. Affandi.

Aku tak bisa menerka seperti apa rupa wajahku saat itu. Aku menatap Affandi, yang berdiri dengan gayanya yang tak kukenal, tidak lagi santai dan tanpa beban seperti biasa. Wajah Affandi juga diliputi ketakutan, sama seperti wajah Kania.

Dengan cepat otakku mengolah semua data dan fakta yang sebenarnya mungkin sudah kupikirkan sejak beberapa jam lalu, tapi entah kenapa kuabaikan. Mungkin karena aku sedang berkonsentrasi pada urusan lain yang jauh lebih penting. Tapi, kenapa aku bisa selalai ini?

“Semua salahku, Zar,” kata Affandi.

“Apa maksudmu? Aku belum mengerti kenapa kalian berdua saling berebut minta maaf?” tanyaku, masih belum tahu topik apa yang sedang dibincangkan Affandi.

Melihatku sangat tenang, Affandi memutuskan untuk menjadi juru bicara mewakili mereka berdua. Tapi, dia masih berusaha menjaga jarak dariku. Dia masih di tempatnya berdiri, dua langkah di belakang Kania.

“Aku minta maaf, Zar,” kata Affandi.

“Tenang, aku ini orang yang pemaaf, tapi jelaskan dulu apa masalahnya!” kataku, kini mulai agak kesal. Bukan karena apa yang akan kudengar dari mereka, tapi karena ketidaksabaranku menunggu. Affandi menatap Kania. Kania lalu mengangguk, seolah memberi restu.

“Begini, Zar…” Affandi berhenti sejenak, mencari oksigen untuk dadanya yang mungkin sedang sesak.

“Kania tadi pagi ke Kuala Lumpur bukan untuk urusan pekerjaan. Tapi…”

Kini aku mulai panas. Puncak gunung es sebuah pengkhianatan besar baru saja kulihat dari kejauhan.

“Tapi apa?” teriakku. Beberapa orang yang berada di dekat meja kami menoleh mendengar suaraku. Aku tak peduli.

“Kania ke KL ingin menggugurkan kandungannya…”

Ribuan tanda tanya yang tadi menyerbu kepalaku mendadak berubah menjadi granat-granat kecil yang lalu meledak bersamaan. Aku tiba-tiba seolah pingsan beberapa detik mendengar kata-kata itu. Sepersekian detik, aku seolah tak sadarkan diri.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Kucerna kata-kata Affandi itu sebisaku. Dan, dengan cepat aku sudah bisa membuat kesimpulan apa yang melatarbelakangi pertemuan kami bertiga malam ini. Curhat Affandi tentang istrinya yang dingin; Affandi yang mengaku sering “menggunjingkanku” bersama Kania entah kapan dan di mana; pertemuan mendadak antara aku dan Affandi di Kemang siang tadi; dan sikap asing Kania padaku beberapa menit yang lalu. Semua itu rupanya sudah dirancang dengan sangat baik oleh mereka berdua. Yang belum aku tahu, sejak kapan mereka berselingkuh di belakangku?

“Jadi, kamu sudah selesai melenyapkan bukti perselingkuhanmu dengan dia?” tanyaku pada Kania. Kali ini dengan ketenangan yang mengejutkan keduanya, lebih-lebih Affandi. Kini aku tahu kenapa Kania tampak sangat lelah. Aborsi itu pasti telah menguras banyak energinya.

Sebelum Kania menjawab, aku bertanya lagi, “Kenapa harus digugurkan? Apa setelah melenyapkan janin itu, kalian berdua bisa meneruskan perselingkuhan kalian dengan tenang? Apa untungnya merahasiakan ini semua dariku?”

Keduanya terdiam. Aku bertanya lagi, “Sejak kapan semua ini dimulai?”

Tak ada juga yang menjawab. Beberapa detik tak juga mendengar jawaban, kulontarkan pertanyaan terakhir dan yang paling penting, “Apa salahku? Apa dosaku pada kalian berdua? Kenapa aku harus menerima pengkhianatan sejahat ini?”

Isak Kania makin menjadi-jadi. Affandi mendekati gadisku itu dan menyentuh bahunya untuk menenangkan. Saat itulah aku sadar, bahwa keduanya sungguh sepadan dan tampak saling membutuhkan.

Aku lelaki yang dibesarkan dengan cobaan hidup paling kejam yang pernah diterima manusia normal. Hantaman kecil ini tak akan membuatku remuk, alih-alih hancur. Jadi, dengan segala ketenangan yang kumiliki, aku bangkit dari kursiku, menatap Kania dan Affandi, lalu memutuskan pergi dari hidup keduanya, selama-lamanya.

Dengan cara-Nya, Tuhan memberiku sebuah skenario yang jauh lebih baik dari skenarioku semula. Tanpa kusadari, sekarang tinggal satu skenario saja yang harus kujalankan. Namun begitu, aku tetap berduka kehilangan Kania.[–bersambung–]

3 thoughts on “Wajah-Wajah di Langit (Bagian 6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *