Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 7)

SEKERAS apa pun aku melantangkan teriakan bahwa aku tak terluka, luka tetapkah sebuah luka. Berminggu-minggu kemudian setelah kejadian di bandara itu, aku larut dalam pelarian panjang yang membuat para stafku, terutama Sylvia, khawatir. Aku baru keluar dari kantorku pukul tiga pagi, dan pukul delapan pagi sudah duduk lagi di mejaku dengan mata merah karena kurang tidur. Aku minum kopi lebih sering dan membakar rokok lebih kerap dari sebelumnya. Sylvia, satu-satunya orang yang tahu mengapa aku jadi setengah gila, mengambil paket liburan sebulan penuh ke Eropa untukku, namun kutampik. Aku katakan, ini tak akan lama, dan aku akan baik-baik saja.

Luka yang digoreskan Kania tak akan melemahkanku, dan dengan cara itulah aku membuktikannya. Kania dan Affandi mencoba memperbaiki hubungan kami tapi selalu kusambut dingin. Lagi pula, bisa-bisanya mereka berharap aku mau kembali bersahabat dengan mereka. Apa lagi yang mereka inginkan? Melukaiku sekali lagi?

Setelah enam ratus jam kerja selama satu bulan penuh, aku akhirnya merasa aku sudah pulih dari lukaku. Untuk merayakannya, aku mengambil cuti seminggu dan menuruti saran Sylvia untuk berlibur. Alih-alih Eropa, aku memilih pulang ke Aceh, kampung halaman yang sudah 22 tahun tak pernah kukunjungi.

Rumah tua itu masih seperti yang kuingat. Meski telah kutinggalkan selama puluhan tahun, orang-orang yang disuruh Nenek merawatnya, menjaga semuanya tetap seperti semula. Nyaris tak ada yang berubah, kecuali bahwa bangunan itu kini sudah tak sendirian lagi. Jalanan di depan rumahku sudah ramai dilalui kendaraan, dan sudah banyak rumah lain berdiri di sekitarnya. Tempat itu tidak lagi sepi seperti saat terakhir kutinggalkan. Banyak kedai dan toko-toko. Di ujung jalan bahkan sudah berdiri sebuah minimarket yang tampak ramai. Rumahku itu kini tampak seperti foto hitam putih tua di sebuah album yang berisi foto-foto penuh warna.

Bahkan, rumah pohon itu masih ada di sana, meski sudah tak jelas lagi bentuknya. Entah kenapa mereka tak membongkarnya saja, dan membiarkan kenangan buruk itu lenyap pula bersama waktu. Kini, rumah pohon itu membuatku memejamkan mata beberapa menit, dan kenangan buruk itu kembali melintas.

Bagian dalam rumah juga masih seperti dulu. Tak ada perabotan yang diganti. Keramik di lantai juga masih seperti saat terakhir sebelum kutinggalkan. Tampaknya penjaga rumah tuaku itu benar-benar mematuhi segala perintah Nenek, agar tak mengubah apa pun yang ada di sana.

Aku memberanikan diri masuk ke dalam kamar tidur Ayah dan Ibu. Napasku sempat terhenti ketika aku menatap ranjang tua itu, tempat dulu kulihat Ayah dan Ibu mati bersimbah darah. Kupejamkan mataku, dan tubuhku menggigil. Aku nyaris jatuh ke lantai kalau seseorang tidak menahan tubuhku dari belakang.

Aku terkejut dengan kehadiran lelaki yang sepantaran denganku itu. Mulanya aku tak berhasil mengenalinya, tapi setelah menatap wajahnya beberapa lama, aku baru bisa mengingat, tapi aku masih saja ragu-ragu siapa dia.

“Kau seharusnya tak ke rumah ini lagi,” katanya sambil membopongku ke ruang tengah dan mendudukkanku di kursi jati tua yang dulu sering diduduki ayahku. Lelaki itu menuang air dari sebuah ceret tua ke dalam gelas dan menyuruhku minum. Begitu air dingin mengguyur kerongkongan, rasa peningku sedikit berkurang.

“Maaf, Anda ini siapa?” tanyaku. Terdengar formal.

Dia tersenyum geli lalu tiba-tiba meninju pelan bahuku.

“Kubunuh kau sekarang juga kalau kau sampai lupa padaku,” katanya.

Aku menatap wajah lelaki itu sekali lagi, mencoba memanggil kembali segala kenangan masa kecilku. Dua puluh dua tahun. Wajar bila aku sudah lupa. Apa saja bisa terlupakan dalam waktu selama itu.

“Aku Hanif, Nizar. Kubunuh juga kau di sini akhirnya,” katanya sambil tertawa.

Hanif. Hanif?

Aku tersenyum malu. Satu kata itu saja sudah cukup memanggil berjuta kenangan bersama sahabat masa kecilku itu.

“Kau operasi wajah di mana, sih? Aku nyaris tak mengenalimu,” sahutku setengah meledek sambil tertawa, kemudian memeluk Hanif dengan erat.

Hanif memang sudah tak seperti dulu lagi. Dulu badannya ceking dan kulitnya hitam. Di antara teman-temanku yang lain, Hanif adalah yang paling tidak enak dipandang. Teman-teman gadis kami tak seorang pun dulu yang mau jadi pacar Hanif. Meski begitu, otaknya encer. Dia selalu berada di tiga besar di kelas, tapi tak pernah berhasil menggeser posisiku.

“Kau gemuk sekali sekarang, Nif. Putih pula. Dikasih makan apa kau sama Mak?”

Pertanyaan itu terlontar tak sengaja, dan disusul cepat oleh sebuah pertanyaan lain di hatiku, disertai penyesalan. Waktu kami masih kecil, perempuan yang dipanggil Mak oleh Hanif sudah sakit-sakitan. Bahkan ibuku pernah bilang, penyakit Mak Hanif tak bisa disembuhkan. Perempuan itu tinggal menunggu waktu, kata ayahku pula waktu itu. Perempuan itu kini pasti telah tiada. Aku menyesal telah melontarkan candaan itu pada Hanif.

“Makku masih hidup, Zar. Sehat beliau sekarang. Beliaulah yang merawat rumah ini sejak kau pergi,” Hanif tersenyum geli. “Aku tahu apa yang kaupikirkan tadi.”

Aku ternganga. Begitulah kiranya takdir bermain. Ayah dan ibuku dipanggil Tuhan lebih dulu. Dan perempuan yang dulu dikira tinggal menunggu malaikat maut ternyata masih hidup dan sehat wal afiat.

“Maaf, aku tak bermaksud…”

“Ah, sudahlah,” sahutnya lalu tergelak.

“Di mana Mak sekarang?” kejarku. Aku rindu bertemu perempuan itu. Dulu waktu kecil aku suka duduk di pinggir ranjangnya, mendengarkan dia mendongengkan kisah para Nabi. Sebelum sakit, Mak adalah guru ngaji di kampung kami, dan aku belajar ngaji padanya.

“Tadi ke masjid, salat zuhur. Sebentar lagi pasti balik. Mau berkeliling kampung dulu? Kita makan di luar saja. Makku belum masak apa-apa. Habis, kau datang diam-diam seperti hantu begini.”

Di halaman rumah terparkir sebuah sedan hitam mewah. Diparkir di sebelah Toyota Innova yang kusewa dari sebuah rental mobil tak jauh dari bandara.

“Hei, sukses kau sekarang!” candaku.

“Ah, jangan menghina kau, Zar. Aku tahu siapa kau di Jakarta,” sahutnya sambil masuk ke mobilnya.
Kami berdua berkeliling kota kelahiranku itu, makan siang di sebuah rumah makan yang masakannya membawaku kembali ke masa-masa kecil. Sudah lama aku tak menikmati makanan asli Aceh.

“Ceritakan tentang dirimu,” kataku setelah makan. “Terutama sejak kita berpisah 22 tahun lalu.”
Hanif kembali tersenyum. “Kenapa tidak kau duluan saja yang bercerita?” tanyanya.

“Aku yang kangen, bukan kau,” sahutku telak.

Hanif mengalah dan mulai bercerita.

“Setahun setelah kau pergi ke Jakarta, nenekmu pulang ke sini dan datang menemui ayahku. Beliau meminta kami sekeluarga merawat rumahmu seperti rumah kami sendiri, bahkan nenekmu sempat memaksa kami pindah ke sana dan menghuni rumah itu.

“Ayahku menolak pindah ke rumahmu, tapi beliau berjanji akan merawat rumah itu dengan baik. Nenekmu juga meminta ayahku mengelola beberapa bisnis yang dulu dijalankan ayahmu. Sebelum ayahku meninggal dunia 10 tahun lalu, nenekmu pulang dan memintaku untuk melanjutkan tugas yang dibebankan pada ayahku. Jadi, ketika ayahku meninggal, seluruh aset usaha almarhum ayahmu, ada di bawah kendaliku.”

Aku terdiam. Sebuah rahasia yang tak pernah kutahu. Nenek tak pernah bercerita, dan aku juga tak pernah bertanya. Mungkin karena itu pula Nenek, semasa beliau masih hidup, tak pernah membolehkanku pulang ke sini, dengan alasan apa pun. Kini baru aku tahu ternyata bisnis ayahku sudah dikelola oleh keluarga Hanif. Dan bisnis itu tampaknya berkembang.

“Baguslah, aku ikut senang,” sahutku datar.

Hanif tertawa. “Jadi, sebenarnya, ini adalah perjumpaan seorang jongos dengan tuannya yang sudah bertahun-tahun tak pulang kampung,” katanya, lalu tergelak.

“Kubunuh kau jika terus bicara begitu,” ancamku bercanda. “Lanjutkan ceritamu.”

“Hmm… tak ada yang menarik dari hidupku. Aku tamat kuliah hukum di sini dan dibiayai nenekmu ambil S2 hukum di Amerika. Begitu pulang, aku adalah direktur utama perusahaan keluargamu sekaligus pengacara pribadi yang menjaga segala aset yang sekarang ada di bawah namamu. Sedan mewah yang kupakai tadi adalah hadiah dari nenekmu sebelum beliau meninggal.”

Sungguh banyak sekali yang tak kutahu. Aku seperti lelaki yang buta bertahun-tahun dan baru saja ditakdirkan bisa melihat kembali.

“Teruskan,” kataku pada Hanif, yang tampaknya sudah tak bersemangat lagi bercerita tentang dirinya.
iPhone milik Hanif bergetar di meja makan. “Sebentar,” katanya padaku setelah melihat siapa yang menelepon. Hanif bicara cepat di telepon, mengangguk, lalu menutup telepon dengan cepat. Setelah itu dia menatapku, dengan tatapan yang tak bisa kupahami.

“Dia baru saja meninggal dunia.”

“Siapa yang meninggal?” tanyaku tak mengerti maksud Hanif.

Hanif menyeringai. Wajahnya tampak puas. “Lelaki itu. Lelaki yang membunuh ayah dan ibumu.” [–bersambung–]

One thought on “Wajah-Wajah di Langit (Bagian 7)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *