Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 8 – Habis)

HANIF mengaku sudah lama tahu tentang Benny. Kenyataan ini membuatku berang.

“Kenapa kaurahasiakan? Kenapa aku tak diberitahu?” tanyaku saat kami melaju kencang dalam perjalanan ke Bandara Sultan Iskandar Muda. Siang itu juga aku memutuskan kembali secepatnya ke Jakarta. Aku tak ingin melewatkan saat-saat terakhir sebelum lelaki tua itu dikubur di tempat peristirahatan terakhirnya.

“Kau lupa, ya, kita baru berjumpa hari ini setelah berpisah selama 22 tahun. Dan, sekarang kau sudah mau kembali ke Jakarta,” sahut Hanif tanpa menoleh. Matanya tajam menatap jalanan di depannya. Kedua tangannya gemeter menggenggam setir. “Aku sendiri tak menyangka kau tahu tentang lelaki ini. Nenekmu dulu berpesan agar menjauhkanmu dari semua hal yang berkaitan dengan peristiwa 22 tahun lalu itu. Karena itulah beliau memercayakan semua kekayaan keluargamu dan seluruh rahasia ini pada keluargaku, karena hanya kamilah sahabat yang paling dekat yang bisa nenekmu percaya. Nenekmu membawamu jauh-jauh ke Jakarta, dan melarangmu pulang, juga karena alasan itu. Dia tak ingin kau menggali-gali sesuatu yang sudah lama terkubur, dan tak ada gunanya lagi diungkit-ungkit.”

“Tentu saja aku tak bisa melupakan peristiwa itu. Tentu saja aku harus mencari siapa yang membunuh ayah-ibuku!” kataku dengan suara keras. “Bagaimana mungkin aku melupakan saat-saat kematian mereka!?”

Hanif terdiam. Dia tampak ingin mengungkapkan sesuatu, tapi berusaha menahan diri untuk tidak bicara. Kurasa, masih banyak rahasia yang disimpan Hanif untukku, dan entah kapan akan diungkapkannya.

Memasuki bandara aku masih belum bisa percaya, bahwa aku sudah harus kembali ke Jakarta, padahal aku baru saja sampai di tempat ini beberapa jam yang lalu. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku begitu ngotot melihat saat-saat terakhir seseorang yang sebentar lagi tinggal nama.

“Dengar,” kata Hanif membujuk, “kalau kau masih percaya padaku, tolong jangan kembali ke Jakarta sekarang. Cutimu baru saja dimulai. Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu di sini.”

Bujukan Hanif tak menggoyahkan keputusanku. Sebelum berpisah dengannya di pintu keberangkatan, aku berkata, “Aku punya cukup banyak waktu untuk mendengar apa yang kau rahasiakan dariku selama 22 tahun terakhir ini.” Kupeluk dia sebelum membalikkan punggung. “Aku segera kembali,” kataku lagi.

AKU tak pernah menduga semuanya akan berakhir seperti ini. Lelaki yang ingin kueksekusi sendiri dengan tanganku, ternyata mati di atas tempat tidur, diiringi tetesan air mata putri yang sangat mencintainya. Untuk lelaki yang telah membantai kedua orangtuaku, dia tak layak mendapatkan penghormatan sebesar itu. Aku ingin dia mati di hadapanku—tentu saja setelah gagal mendapatkan ampunan dariku—dieksekusi regu tembak—satu-satunya hukuman yang paling layak untuknya—atau paling tidak dia bisa mengambil pilihan terakhir: membusuk seumur hidup di penjara.

Kehadiranku di rumah Kim Alia sore itu tidak saja mengejutkan gadis itu, tapi juga semua mata yang ada di sana. Aku, seorang lelaki asing, tiba-tiba datang melayat seorang lelaki yang selama ini mungkin tak punya banyak kawan, dengan stiker bagasi maskapai penerbangan masih melekat di tas koper yang kubawa, turun dari sebuah taksi yang melaju tergesa-gesa. Semua orang akan tahu aku berpacu dengan waktu agar bisa melihat lelaki itu untuk terakhir kali. Aku seperti seorang anak yang merantau jauh, yang baru saja ditinggal pergi sang ayah.

Aku sendiri masih belum percaya, kenapa aku bisa sampai di tempat itu. Motif apa yang mendorongku? Aku sama sekali belum tahu. Aku, lelaki asing bagi semua orang, termasuk bagi Kim, meski kami sudah kenal sejak dua bulan lalu. Kedatanganku yang tak disangka-sangka, sama mengejutkannya dengan pertanyaan dari mana aku mendapat kabar soal kematian ayahnya itu. Sementara dirinya sendiri—kalaupun ingin—mungkin tak tahu harus mencariku ke mana untuk menyampaikan kabar duka itu.

Benny. Kutatap wajah lelaki itu untuk yang terakhir kali. Wajah yang mendadak tampak lebih tua dari saat aku melihatnya pertama kali dua bulan yang lalu. Aku menatap wajahnya sejenak dengan perasaan yang aneh. Orang datang melayat karena kedekatan atau kekerabatan dengan sang mayat. Orang datang melayat untuk memberikan penghormatan terakhir. Lain denganku, aku tak punya semua alasan itu. Dendam? Dendam apalagi yang akan kuperlihatkan pada sesosok mayat yang sudah menyerahkan hidupnya pada Sang Pemilik? Murka apa lagi yang akan kutunjukkan pada seseorang yang kini hanya punya selembar kafan untuk dibawa pergi?

Jenazah Benny dimakamkan di sebuah pemakaman kecil di sebuah kampung di pinggiran Jakarta. Aku ikut mengantar kepergiannya sampai ke sana. Tak banyak yang mengantarnya ke liang kubur. Hanya ada Kim dan beberapa kerabat serta tetangga yang jumlahnya tak seberapa. Keluarga Benny tampaknya memang tak punya banyak sahabat dan tak akrab dengan tetangga. Bisa jadi mereka memang keluarga yang tertutup, atau bisa juga karena alasan lain, yang tak kuketahui.

“Terima kasih sudah datang, Kak,” kata Kim padaku sebelum aku masuk ke dalam taksi. “Tolong maafkan Ayah kalau-kalau beliau pernah berbuat salah.”

Kata-kata Kim itu sangat menyakitkan bagiku. Oh, Kim, kau tidak tahu apa yang telah ayahmu lakukan 22 tahun lalu pada keluargaku? Kalau saja aku tidak berada di rumah pohonku malam itu, mungkin aku tak akan ada di sampingmu saat ini.

Oh, Tuhan. Gadis ini, mungkinkah dia benar-benar tak tahu siapa ayahnya di masa lalu? Ayah seperti apakah gerangan Benny di matanya? Lalu, siapakah aku menurut pikirannya? Senior pujaannya di masa lalu, yang secara kebetulan bertemu kembali dengannya di Facebook dan suatu malam ditakdirkan hadir dalam acara malam malam bersama ayahnya? Hanya itukah. Ya, mungkin hanya itulah sosokku di mata Kim. Dia tak tahu, aku sudah 22 tahun mencari-cari ayahnya. Dia tak tahu aku sudah merencanakan sesuatu yang jahat pada mereka berdua. Dia tak tahu, kalau kedekatanku dengannya hanya bagian kecil dari sebuah skenario licikku untuk memasuki hidupnya.

Seluruh skenario yang kurancang kini hancur sudah. Tadi pagi, aku masih terus memikirkan rencanaku semula, siap mengorbankan hidupku untuk pembalasan dendam ini. Aku sudah menyiapkan diri untuk merebut hati Kim Alia—sesuatu yang sebenarnya tak perlu lagi kulakukan—melamar gadis yang tidak kucintai itu, menikahinya, menjadi suaminya, dan lalu perlahan-lahan menghancurkan hidupnya dan hidup ayahnya dari dalam. Dan ketika saatnya tiba, akan kuungkapkan siapa diriku kepada mereka berdua, dan setelah itu menuntut balas atas kematian ayah dan ibuku.

Seluruh skenario yang sudah kususun rapi itu kini hancur. Skenario besar Sang Pencipta menggagalkannya. Dan kini, aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Apakah aku harus melupakan dendamku pada Benny atau tetap melampiaskannya pada darah dagingnya satu-satunya?

SATU tahun kemudian, aku baru sempat kembali ke Aceh, dan berjumpa kembali dengan Hanif. Meski selama kurun waktu itu kami banyak berbicara atau berbalas pesan lewat telepon genggam, baik aku maupun Hanif nyaris tak pernah menyinggung lagi soal Benny. Setelah hari pemakaman Benny, aku menyibukkan diri kembali dengan pekerjaanku yang terbengkalai setelah hatiku remuk dikhianati Kania dan Affandi. Aku juga tak pernah lagi mendengar kabar tentang Kim.

Kepulanganku ke Aceh juga punya alasan khusus. Hanif mengundangku menghadiri acara pernikahannya, dan memintaku menjadi salah seorang saksi. Mungkin, karena ini pula, topik tentang Benny dan peristiwa 23 tahun lalu itu terlupakan. Rupanya Hanif juga sibuk menyiapkan hari istimewanya itu.

Seminggu setelah menikah, Hanif yang menunda bulan madunya karena beberapa urusan, mengajakku bertemu. Permintaan mendadak itu membuatku curiga. Hanif pasti punya kejutan lagi untukku.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu,” katanya saat kami sedang duduk di sebuah kedai kopi pinggir jalan, tempat yang kupilih sendiri. “Silakan, katakan saja semuanya sekarang,” jawabku setengah bercanda.

“Ini tentang Benny, lelaki yang membunuh ayah dan ibumu.” Aku menjatuhkan sendok kopiku ke lantai dan membiarkannya. Mataku nanar menatap Hanif.

“Aku tak tahu apa kau sudah tahu tentang ini. Aku hanya…”

“Jangan bertele-tele, katakan saja,” potongku. Hanif mengangguk. Lalu, kisah itu sampai juga ke telingaku.

Setahun setelah ayah dan ibuku terbunuh, pihak berwajib berhasil menangkap Benny dan gerombolannya. Tapi semua informasi tentang mereka dirahasiakan oleh negara, karena saat itu isu ini sangat sensitif. Benny dan gerombolan yang menyerang rumahku diadili. Anak buah Benny mendapat hukuman 15 tahun penjara, sementara Benny sendiri diganjar hukuman penjara 25 tahun. Seluruh penyelidikan lalu berhenti. Pihak berwajib tak berhasil menyentuh siapa yang memerintahkan mereka melakukan pembunuhan itu. Karena berkelakukan baik, Benny mendapat keringanan hukuman 5 tahun. Dia dibebaskan dua tahun yang lalu, satu tahun sebelum aku melihatnya di gerbang tol malam itu.

Cerita Hanif membuatku terdiam. Kini semua pertanyaan telah terjawab. Tiba-tiba aku teringat pada Kim. Aku kini tahu kenapa gadis itu begitu kesepian. Dia ditinggal mati ibunya sejak kecil, dan dibesarkan ayahnya dari penjara. Ayahnya telah menerima ganjaran perbuatannya. Keadilan sudah ditegakkan, dan itu mungkin sudah cukup.

Mendadak dadaku lapang. Langit lalu tampak cerah. Di gugusan awan putih di atas sana membayang wajah Ayah, wajah Ibu, dan wajah Benny. Dan tak bisa kuelakkan, sebuah wajah juga membayang di gugusan awan-awan putih itu. Wajah Kim.[]

Tanah Baru, Februari 2013

4 thoughts on “Wajah-Wajah di Langit (Bagian 8 – Habis)

    1. finishing yang sagat terburu-buru, padahal sudah diawali dengan cukup bagus, begitu juga alur cerita dan teknik narasinya, tiap bagian selalu menimbulkan rasa penasaran, tapi sangat disayangkan diakhiri begitu saja, padahal dari situasi terakhir cerita ini masih bisa dikembangkan menjadi lebih menarik lagi, hmmm…sory to say..tp inilah ciri khas produk Indonesian, ini yg ngebedainnya dgn bikinan luar..

      1. Makasih Pak Riko, sudah berkunjung.
        Cerita ini awalnya mau dibuatkan versi cerita panjangnya (novel), dan sebuah majalah tertarik untuk memuatnya dalam versi cerita bersambung yang cuma dapat jatah 8 edisi. Jadi, memang ceritanya terkesan terburu-buru, karena napasnya memang pendek di cerbung 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *