Memang Jodoh

Novel Terakhir Pengarang Sitti Nurbaya

WARTAWAN Majalah Tempo, Iqbal Muhtarom, mewawancarai saya tentang proses penyuntingan novel “Memang Jodoh” karya Marah Rusli. Berikut petikannya:

Bagaimana proses editing naskah novel yang sudah selesai ditulis pada tahun 1961 tersebut? Apa tantangan mengedit naskah yang sudah terbit lebih dari 50 tahun lalu?

Bagi saya, naskah “Memang Jodoh” ini termasuk naskah kelas berat. Artinya, naskah yang sulit untuk disunting. Kalimatnya panjang-panjang, dan banyak sekali ungkapan, kalimat, atau kata yang tidak “asing” atau jarang dibaca atau didengar oleh pembaca sekarang. Banyak pula kata-kata yang belum baku, masih merupakan bahasa asli Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia.

Berapa lama Anda butuhkan menyunting naskah novel?

Naskah ini saya sunting lebih kurang selama 2,5 bulan.

Pada bagian apa saja yang Anda edit, sunting, dalam naskah novel?

Penerbit meminta saya menjadikan naskah ini lebih ringan buat pembaca. Namun, saya sekaligus diminta untuk tidak menghilangkan gaya bercerita khas a la Marah Rusli seperti dalam novel beliau yang lain semisal Sitti Nurbaya. Kalimat yang panjang saya pecah menjadi beberapa kalimat pendek tanpa merusak isi dan maksudnya; saya juga membuat catatan kaki untuk kata/ungkapan agar lebih mudah dipahami pembaca.

Adakah kata-kata yang Anda ubah ejaannya, yang Anda sesuaikan dengan kondisi sekarang?

Di naskah yang saya terima, ejaan yang digunakan sudah EYD. Jadi, tidak ada ejaan lama dalam naskah Memang Jodoh yang saya terima dari penerbit. Kalaupun ada yang saya ganti atau ubah hanya beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” yang maksudnya “sekolah swasta”. Selagi kata yang dipakai masih bisa dipahami pembaca—meskipun kurang populer—saya akan mempertahankannya dan memberi catatan tentang kata tersebut.

Kesulitan apa yang Anda alami ketika menyunting naskah novel Memang Jodoh ini?

Kesulitannya hanya dalam mencari arti kata-kata yang tak saya temukan artinya di dalam kamus.

Dalam novel ini terdapat catatan kaki, apakah catatan kaki itu dari Anda? Mengapa diperlukan catatan kaki? Hal-hal apa saja yang Anda perlukan untuk diberikan catatan kaki?

Ya, catatan kaki itu dari saya, dan beberapa lagi ditambahkan oleh penerbit. Ya, tentu saja diperlukan, karena kalau saya biarkan tanpa catatan, pembaca akan merasa asing dengan kata yang dipakai oleh pengarangnya. Saya memang tidak berani mengubah kata-kata tersebut ke konteks sekarang, karena saya dan penerbit memang ingin tetap seperti itu. Nah, dengan catatan kaki inilah kita membantu pembaca untuk memahaminya.

Bisa diceritakan proses penerbitkan novel Memang Jodoh ini, mengapa Qanita bisa menerbitkannya? Apakah keluarga Marah Rusli yang menawarkan? Kapan tawaran itu diberikan?

Pertanyaan ini lebih tepat dijawab oleh penerbit.

Berdasar wawancara kami dengan keluarga Marah Rusli, terdapat salah penulisan Merah Hamli, yang seharusnya ditulis Marah Hamli? Meskipun menurut cucu Marah Rusli, dalam naskah aslinya memang ditulis Merah Hamli.

Ya, dalam naskah yang saya terima, memang ada dua versi penulisan nama tersebut: Merah Hamli dan Marah Hamli. Namun, kekeliruan ini sudah diluruskan dan diperbaiki.

Apakah Anda membaca naskah asli dari novel ini yang ditulis dalam Arab gundul? Juga naskah yang ditulis Marah Rusli yang sudah ditulis dalam huruf latin?

Tidak, naskah yang saya terima dari penerbit adalah naskah yang sudah ditik ulang. Saya juga baru tahu kalau naskah aslinya dalam bahasa Arab gundul.[]

Judul: Memang Jodoh
Pengarang: Marah Rusli
Penyunting: Melvi Yendra
Penerbit: Qanita, 2013
Tebal: 535 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *