“The Stupas of Borobudur”, foto
karya Prihanda Muhardika yang menjadi salah satu foto terbaik dalam "Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia"

Melestarikan Mahakarya Borobudur Sampai ke Hati

CANDI Borobudur berada di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah, lebih kurang 41 kilometer dari Yogyakarta dan 80 kilometer dari kota Semarang, Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh pegunungan Manoreh di sisi selatan, Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah utara serta terletak di antara Sungai Progo dan Sungai Elo. Candi Borobudur berdiri di atas bukit dengan ketinggian 265 dpl.

Mahakarya Borobudur
Mahakarya Borobudur

Sejarah mencatat, Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga yang memerintah tahun 782-812 M pada masa Dinasti Syailendra. Pembangunan tahap pertama dilaksanakan tahun 780 M. Selanjutnya tahap kedua dan ketiga diperkirakan berlangsung 792 M. Tahap pembangunan keempat terjadi 824 M dan tahap kelima pada 833 M.

Namun, meski dibangun pada abad VIII-IX Masehi, oleh sebab-sebab yang belum diketahui dengan pasti, Candi Borobudur kemudian ditinggalkan oleh masyarakatnya. Bangunan ini tak terjamah peradaban manusia dan kemudian terkubur selama lebih kurang 900 tahun sampai akhirnya pada tahun 1814, Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stanford Raffles, berkunjung ke Semarang dan menemukan tanda-tanda adanya candi di bawah sebuah bukit yang sudah dipenuhi pepohonan dan semak belukar. Saat bukit itu digali dan dibongkar, kondisi candi ini sudah setengah hancur dan memerlukan pemugaran total. Namun, upaya penyelamatan baru dilakukan setelah hampir seratus tahun kemudian, yaitu pada tahun 1907-1911 dengan dilakukannya pemugaran pertama oleh seorang perwira zeni Kerajaan Belanda bernama Theodoor van Erp. Setelah dipugar, kondisi candi sudah lebih stabil, namun masih memerlukan pemugaran lebih lanjut, namun kondisi dunia yang dipenuhi gejolak perang pada saat itu membuat perhatian terhadap candi ini terabaikan. Barulah pada tahun 1973-1983, pemugaran terhadap Candi Borobudur kembali dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan UNESCO.

Pemeliharaan dan pemugaran candi dalam skala kecil tetap dilakukan sampai sekarang.
Pemeliharaan dan pemugaran Candi Borobudur dalam skala kecil tetap dilakukan sampai sekarang.

TAHUN ini, saya berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur sebanyak dua kali; dua-duanya dalam rangka penelitian dan riset untuk penulisan naskah film bertema Borobudur. Selama masa riset, tim kami didampingi berbagai pihak, baik instasi pemerintah maupun lembaga-lembaga sosial-budaya setempat. Bahkan, khusus untuk memaparkan bagaimana Candi Borobudur dipugar pada tahun 1973-1983, kami didampingi oleh Bapak Ismijono, Kepala Pemugaran Candi Borobudur pada masa itu.

Saya (paling kanan) bersama anggota tim riset film Borobudur berfoto bersama Bapak Ismijono (paling kiri), mantan Kepala Pemugaran Candi Borobudur 1973-1983
Saya (paling kanan) dan anggota tim riset film Borobudur berfoto bersama Bapak Ismijono (paling kiri), mantan Kepala Pemugaran Candi Borobudur 1973-1983

Tak bisa dibantah, Borobudur adalah mahakarya yang teramat memesona. Bukan bagi masyarakat Indonesia saja, tapi juga masyarakat seluruh dunia. Borobudur dibangun dengan perencanaan yang matang, dan memerlukan waktu puluhan tahun untuk menyelesaikannya. dikagumi oleh pengunjung dari seluruh dunia. Tak sedikit lembaga atau instansi asing yang melakukan riset dan penelitian terhadap candi ini serta seluruh aspek yang melingkupinya. Bahkan, belakangan, para sineas dari luar negeri tertarik untuk memfilmkan candi ini atau menjadikan Candi Borobudur sebagai latar cerita dalam film-film mereka.

Kekaguman saya pada monumen ini tak habis-habis sejak dulu. Sejarah mencatat Borobudur yang dibangun pada sekitar abad VIII-IX Masehi ini menjadi bukti bahwa wilayah Jawa Tengah pernah mengalami masa-masa kejayaan sehingga mampu membangun sebuah candi yang teramat megah yang masyhur ke seluruh dunia. Jauhnya rentang masa itu dengan masa sekarang, dapat disimpulkan, nenek moyang kita ternyata manusia-manusia luar biasa, memiliki pemikiran yang cerdas, yang dengan teknologi masa itu yang sangat terbatas mampu mendirikan bangunan semegah Candi Borobudur.

Kini, setelah 100 tahun pascapemugaran yang pertama dan pemugaran yang kedua, kondisi Candi Borobudur sudah jauh lebih stabil. Teknologi memudahkan pemantauan perubahan struktur bangunan dalam skala tertentu yang terjadi pada bangunan Candi Borobudur. Sempat muncul kekhawatiran saat erupsi Merapi tahun 2010 lalu, karena abu vulkanik yang disemburkan Gunung Merapi yang menutupi seluruh bangunan candi diduga akan merusak batu andesit yang menjadi bahan utama bangunan candi. Namun, upaya pembersihan sudah dilakukan oleh para ahli, dan dinyatakan bangunan Candi Borobudur tidak mengalami kerusakan.

Candi yang pernah menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia ini kini telah diwariskan oleh leluhur kepada kita, anak bangsa yang masih hidup. Semangat untuk selalu melestarikan Candi Borobudur yang sudah dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai masa sekarang tentulah harus terus dilanjutkan di masa-masa yang akan datang. Dengan begitu, keberadaan Candi Borobudur sebagai salah satu karya budaya nenek moyang bangsa Indonesia akan dapat diwariskan terus kepada generasi selanjutnya.

Upaya Dji Sam Soe menggelar ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap mahakarya buatan manusia Indonesia, termasuk tentunya Candi Borobudur. Ajang ini memberikan peluang kepada putra-putri bangsa untuk ikut andil dalam mengapresiasi puncak hasil kreatifitas manusia nenek moyang yang tetap berangkat dan berpijak dari tradisi / kearifan lokal Indonesia dan seluruh ciptaan Tuhan dengan keunikannya masing-masing yang masih bertahan, bahkan berkembang di era modern saat ini.

Kemegahan Candi Borobudur bukan hanya untuk dinikmati pesonanya, tapi juga untuk dipelajari sejarah pembangunan dan filosofi dan kearifan lokal di masa lampau yang terkandung di dalam relief-reliefnya. Mewariskan benda budaya bukan hanya dengan menjaga kelestarian fisik bangunannya, tetapi, yang paling utama adalah bagaimana melestarikannya di hati dan di dada seluruh anak bangsa. Seperti kata Pak Ismijono pada saya, “Banyak peradaban di dunia bermimpi memiliki monumen mahakarya seindah Borobudur, kita yang sudah ditakdirkan memiliki, jangan sampai menyia-nyiakannya.”[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *