Damhuri Muhammad

Jarum dalam Timbunan Jerami*

oleh Damhuri Muhammad
Ketua Tim Juri KLA 2013

BEBERAPA bulan belakangan ini, sebuah jaringan toko buku besar yang sejak bertahun-tahun lalu telah menjadi tumpuan dalam penyebarluasan buku-buku sastra ke seluruh wilayah Indonesia, tidak lagi menyediakan tempat bagi buku puisi. Secara tegas mereka menolak penawaran dari penerbit-penerbit yang masih bersetia menerbitkan buku sastra. “Tidak punya nilai jual,” “tak mungkin jadi best-selling,” “hanya menyesaki rak,” demikian alasan klise yang mereka ajukan, atau barangkali lebih tepat saya sebut sinisme dari para saudagar buku. Tak sampai di situ, seorang petugas pencatat kerjasama penjualan konsinyasi di sebuah toko buku, bahkan pernah mengatakan, “berhentilah menerbitkan buku puisi. Lebih baik kita berjualan buku tentang masa-memasak, atau buku panduan jitu cara bersolek, yang sudah pasti laris.”

Akibatnya, buku-buku sastra, utamanya jenis puisi, semakin sulit untuk didistribusikan. Alih-alih terjual, untuk dapat terpajang di rak toko buku saja, sukarnya alang-kepalang. Banyak penerbit yang mengeluh lantaran pembatasan itu, meski mereka tetap bersetia pada buku sastra. Memang, sudah tak terhitung banyaknya penerbit yang terpaksa menghentikan produksi buku-buku sastra, namun tak terhitung pula berapa banyak yang bermunculan kembali. Begitulah, tarik-ulurnya minat dan jatuh-bangunnya apresiasi terhadap buku-buku sastra di republik yang konon telah melahirkan sastrawan-sastrawan besar dengan segenap penghargaan yang tersemat di dada mereka.

Sinisme terhadap buku sastra sebagaimana yang secara pongah ditunjukkan oleh para saudagar buku itu membuat saya, sebagai pekerja sastra, mungkin juga saudara⎯praktisi atau sekadar penyuka sastra⎯merasa telah dicibirkan, bahkan mungkin sekali sudah terhina. Kedigdayaan pasar yang tegak atas dasar pemberhalaan pada uang, bukan sekadar meremehkan, memandang sebelah mata, tetapi perlahan-perlahan sedang membinasakan dunia sastra. Betapa tidak? Sedemikian rendahnya puisi di mata para saudagar itu, sebegitu najisnya tumpukan buku-buku sastra di rak-rak toko buku milik mereka, hingga sedapat-dapatnya disterilkan dari keparat-busuk bernama “puisi”. Kalau soal laku, saya kira, kecap dan terasi adalah juga barang yang laku di pasaran. Tapi, sebagai anak kandung keadaban yang paling manusiawi, puisi tidak selayaknya ditakar dan ditimbang semata-mata dengan parameter laku-tak laku, apalagi dengan kalkulasi untung-rugi belaka.

Bagi saya, dalam kancah peradaban yang dikendalikan oleh kuasa pasar, buku laku belumlah tentu berarti buku bermutu. Tengoklah, ribuan karya-karya picisan yang sama sekali tidak dipancangkan di atas kedalaman pikiran, justru laris-manis seperti martabak terang-bulan. Sementara karya sastra⎯termasuk puisi⎯yang dilahirkan dengan segenap kejernihan dan pencapaian estetik mumpuni, justru tergeletak, tak tersentuh, lalu berdebu selama berbulan-bulan. Maka, inilah sebuah keadaban yang gandrung memuja kedangkalan, abai pada kejernihan, dan senantiasa bersuka-ria dengan segenap kepandiran.

Di titik inilah pentingnya apresiasi sebagaimana yang ditunjukkan oleh Khatulistiwa Literary Award (KLA). Dalam keriuhan suara yang memandang rendah dunia sastra di republik yang kementrian kebudayaannya sibuk menghambur-hamburkan uang negara dalam peristiwa-peristiwa seremonial berkedok gagasan kebudayaan, dan televisinya amat gandrung pada retorika politik bermuka dua ala Sutan Batoegana dan Ruhut Sitompul, KLA masih bertahan hingga tahun penyelenggaraan yang ke-13. Baik penerbit, maupun para pengarang, tetap bergairah mengirimkan karya-karya mereka, guna dibaca, diapresiasi, dan dipertimbangkan oleh tim juri. Tahun ini, tak kurang dari 70 judul buku prosa dan 40 judul buku puisi terhimpun dalam list penjurian. Jumlah yang cukup mencengangkan bila ditakar dengan klaim tentang kelesuan dunia sastra yang kerap mengemuka dalam berbagai perbincangan.

Peristiwa penghargaan sastra yang tentu saja berakibat pada hadiah yang menggiurkan, menurut hemat saya, tak sekadar mengantarkan piala bagi pemenang, namun yang jauh lebih penting adalah penegasan perihal mutu dan kedalaman. Dalam gelombang euforia para cerpenis koran yang tak henti-henti berlomba mengejar kuantitas pubikasi, dan iklim fabrikasi yang telah merasuki dunia penciptaan, setahun sekali KLA secara tidak langsung hendak mengingatkan, bahwa ada yang sedang terabaikan, atau bahkan tak dianggap penting lagi dalam proses kreatif, yakni kedalaman. Tengoklah akibat dari kelisanan yang tumpah-ruah dan begitu mewabah di dunia maya. Apa saja bisa dicerpenkan, dipuisikan, bahkan dinovelkan, tanpa kontemplasi dan penggalian-penggalian yang terukur. Seorang cerpenis bisa memproduksi belasan cerpen dalam sebulan, dan hampir setiap minggu bergentayangan di koran-koran, lalu bersuka-ria, berjingkrak-jingkrak, memuja-muja keseringan tampil itu di laman-laman media sosial. Bagaimana dengan pencapaian artistik? Kebaruan dan kedalaman gagasan? Karya-karya yang bermunculan bagai terjun-bebas, lalu karam dalam pusaran arus keberlimpahan, namun terpelanting sebagai sampah visual dengan usia tak lebih dari satu hari. Meski begitu, KLA gigih berupaya menemukan kedalaman di sepanjang sungai yang terus-menerus melesat menuju kedangkalan, mencari yang istimewa dalam keranjang yang sarat oleh barang-barang tiruan, mengais-ngais kilau berlian dalam kotak sampah peradaban. Kerja yang tak segampang membalik telapak tangan. Bagai mencari jarum yang hilang dalam timbunan jerami…

*Dibacakan pada acara Malam Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2013, Selasa, 26 November 2013, di Jakarta

One thought on “Jarum dalam Timbunan Jerami*

  1. Bagus isi pidatonya. Jadi ikut mikir, mungkin kapitalisme di dunia penerbitan dan penjualan buku2 ini bisa dilawan/diimbangi dengan memberi dasar pengetahuan tentang sastra yang baik dan kuat melalui sekolah.
    Contoh: di Binus, menulis resensi buku2 sastra sudah jadi persyaratan kelulusan. Lalu di beberapa sekolah swasta, pelajaran literasi secara khusus sudah diajarkan juga. Tapi kemudian timbul masalah baru, yaitu tenaga pengajar bidang tersebut yg kurang qualified. Kalau yg ini mudah2an bisa sambil jalan diperbaiki.

    Kalau pengetahuan ttng sastra sudah diberikan di sekolah, pada waktu anak2 ke toko buku, mereka sudah bisa lebih selektif memilih. Aku pernah loh bbrp kali ke gramedia di hari biasa (weekdays) dan ketemu anak2 sekolah yg sedang sibuk cari2 buku buat menyelesaikan PR dari sekolahnya.

    Bagusnya lagi kalau pelajaran Sastra di sekolah2 dibuat terpisah dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Lalu diadakan malam puisi, bedah buku, dll secara rutin.

    Thanks ya sudah berbagi tulisan ini:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *