Foto: moviemail.com

Norwegian Wood (2010)

MEMBANDING-bandingkan sebuah novel dengan versi film dari novel tersebut memang perbuatan yang “tak adil”, selain itu juga (terkadang) tak ada gunanya, tapi itulah yang sering saya lakukan. Usai membaca sebuah novel, saya akan menonton versi filmnya, itu pun bila novelnya diangkat jadi film. Baca novelnya kemudian tonton filmnya, kemudian bandingkan, begitulah pola yang sering saya lakukan. Jarang-jarang sebaliknya. Saya sering menyesal membaca sebuah novel yang filmnya sudah saya tonton duluan. Kenapa? Biasanya imajinasi saat menonton film kalah kampiun dibanding imajinasi saat membaca novel.

Sudah lazim terjadi, versi film dari sebuah novel akan berbeda dari novelnya. Beberapa sebab bisa dijadikan alasan, tapi yang terutama tentulah bahwa film tidak bisa memvisualisasikan segala imajinasi yang bisa dibangun oleh sebuah novel di benak pembaca.

Setelah menamatkan “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami, saya mencari-cari film dari novel ini, tapi tak berhasil menemukannya. Mungkin usaha saya kurang maksimal, ya? Film ini dirilis tahun 2010, dan pramuniaga di beberapa toko yang menjual DVD mengaku tak kenal judul film ini. Bahkan seorang Mas-Mas penjual DVD di sebuah toko dengan lucu menjawab, “Saya belum pernah menjual film Norwegia.” Haha. Saya juga mencari film ini ke lapak-lapak penjual DVD bajakan, tapi mereka tak tahu film ini. “Norwegian Wood” mungkin tak sepopuler “The American”, “Black Swan”, “Blue Valentine”, “The King’s Speech”, “Inception”, atau bahkan “Never Let Me Go” (sebuah film yang diangkat dari novel dengan judul sama karya penulis Jepang, Kazuo Ishiguro) yang dirilis di tahun yang sama dengan film “Norwegian Wood”. Tapi, ya, sudahlah, akhirnya jalan terakhir adalah menontonnya di YouTube, itu pun yang lengkap cuma bersubtitle Lithuania.

“Norwegian Wood” ditulis dan disutradarai oleh Tran Anh Hung dan dibintangi Ken’ichi Matsuyama (sebagai Toru Watanabe), Rinko Kikuchi (sebagai Naoko), dan Kiko Mizuhara (sebagai Midori). Begitu melihat karakter Naoko di film ini, saya langsung teringat film “Babel” di mana Rinko Kikuchi ikut bermain.

Banyak hal yang ada dalam novel tak ada dalam film berdurasi 2 jam 8 menit 22 detik ini. Lagi pula, kalau Tran Anh Hung menampilkan semua yang ada di novel ke layar, film ini akan jauh lebih panjang dan… “membosankan”. Tapi saya mengacungkan jempol untuk kedua-duanya, karena baik novel atau filmnya, sama-sama membuat saya merenung dan memikirkan karakter-karakter yang ada di dalamnya (terutama Wanatabe, Naoko, dan Midori) cukup lama.

“Norwegian Wood” adalah film drama percintaan yang tergolong “berat” untuk disukai penonton kebanyakan, terutama remaja, terutama lagi remaja Indonesia yang tak terlalu suka membaca sastra. Tapi, seperti yang sudah-sudah, kalau sudah jatuh cinta pada novelnya, tentu, seperti saya, Anda akan tertarik menonton filmnya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *