Unsung Hero1

Unsung Hero, Dinda, dan Kita

BEBERAPA hari lalu, saya nonton sebuah TV Commercial (TVC) di situs YouTube yang di-share banyak orang baik di Twitter maupun Facebook. Iklan milik sebuah perusahaan asuransi di Thailand ini diberi judul “Unsung Hero”, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Situs 9GAG.tv melabeli TVC ini dengan judul yang menarik perhatian: This Heartwarming Thai Commercial Will Make You Cry. Inilah yang membuat saya penasaran dan ingin membuktikan; benar nggak sih saya bisa nangis lihat iklan ini?

Adalah seorang pemuda, orang Thailand, seorang pegawai rendahan sepertinya, yang melakukan beberapa hal yang berulang-ulang setiap hari, hal-hal yang mungkin sebagian besar kita juga pernah melihat atau “berhadapan” langsung dengannya, tapi mungkin luput kita perhatikan dan luput menyentuh kita untuk berbuat sesuatu.

Pertama, pemuda ini menemukan sebuah “kesia-siaan” air yang terbuang percuma dari saluran pembuangan sebuah rumah di ruko berlantai dua di pinggir jalan. Tak jauh dari tempat air itu jatuh, ada pot dengan setangkai bunga yang sudah mati kekeringan. Pemuda bertampang ndeso ini menarik pot bunga itu sedikit, sampai tumpahan air tepat menyirami rerantingnya yang sudah kerontang.

Kedua, adalah seorang Ibu Pendorong Gerobak Dagangan–sebut saja begitu–yang tak kuat mengangkat gerobak dagangannya yang berat memanjat trotoar. Kembali, si Unsung Hero ini datang menjadi pahlawan, dan membantu si Ibu Dagangan Gerobak menyelesaikan persoalan kecilnya.

Ketiga, saat makan siang di warung pinggir jalan, si pemuda didatangi seekor anjing tak bertuan, anjing lapar tentunya, dan si pemuda memberikan seluruh ayam yang jadi lauk makan siangnya pada di anjing. Hal ini membuat si pemilik warung tergeleng-geleng heran.

Keempat, ia bertemu dua pengemis perempuan, yang satu dewasa, satu lagi masih kecil, ibu dan anak pastinya. Di depan keduanya ada tulisan “For Education” (dalam bahasa Thailand). Si pemuda mengeluarkan dompet dan satu detik kemudian seluruh isi dompetnya berpindah ke dalam mangkuk di tangan si bocah perempuan. Di hari kedua, saat kembali memberi ibu-anak pengemis itu uang, pedagang kacamata tak jauh dari sana menggeleng-gelengkan kepala.

Unsung Hero

Kelima, saat sudah sampai di rumah, si pemuda diam-diam menggantung sesisir pisang di atas handel pintu sebuah petakan. Kita kemudian melihat, penghuni petakan itu adalah seorang nenek jompo, yang terheran-heran melihat ada pisang tanpa tuan di handel pintunya, tanpa tahu siapa yang meletakkannya di sana.

Keenam, di hari lain, si pemuda memberikan tempat duduknya di bus pada seorang perempuan muda yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka tak saling kenal, tapi lalu berbagi senyuman.

Enam hal itulah yang terjadi. Dan, rupanya, nasib membuat si pemuda ini bertemu lagi dengan Bunga Kering, Ibu Pendorong Gerobak Dagangan, Anjing Lapar, Sepasang Pengemis, Nenek Jompo, dan Perempuan yang Berdiri dalam Bus.

Sampai di sana, saya tak menemukan hal yang membuat saya harus menangis, atau paling tidak, berkaca-kaca. Tapi, adegan-adegan selanjutnya dari video berdurasi 3 menit 5 detik itu akhirnya berhasil membuat saya meneteskan air mata.

Apa yang terjadi? Di hari lain, saat mau memberi uang pada sepasang pengemis, si pemuda tak melihat si bocah kecil. Cuma ada ibunya di sana. Saat wajahnya masih bertanya-tanya, si pemuda mendengar suara bocah perempuan memanggil ibunya. Saat itulah, kemudian, film ini menayangkan adegan yang berhasil menyentuh perasaan saya. Saat si pemuda menoleh ke asal suara, ia melihat si gadis kecil, dalam pakaian sekolah, berdiri tak jauh darinya, dengan senyum malu-malu. Adegan inilah yang membuat mata saya berkaca-kaca.

Unsung Hero

Tapi, cerita belum selesai. Bunga Kering dalam pot di pinggir jalan akhirnya tumbuh segar lagi, bahkan berbunga, bahkan kemudian ada rama-rama hinggap di pucuknya. Si Anjing Lapar, suatu hari akhirnya mengikuti si pemuda pulang ke rumahnya, dan tinggal di sana. Si Nenek Jompo akhirnya tahu siapa pahlawan tak dikenalnya, dan atas kebaikannya itu, si pemuda mendapat pelukan hangat dari tubuh ringkihnya. Video ini selesai.

Saya lalu merenung. Oke, ini hanya sebuah iklan, bukan kisah nyata, yang dibuat sedemikian rupa hanya agar orang tersentuh. Oke, ini Thailand, bukan Indonesia, dan di sini, kita dilarang memberi uang pada pengemis di jalanan. Oke, mungkin saya yang cengeng dan terlalu gampang mengumbar air mata. Tapi coba Anda lihat gambar hasil screenshot di bawah ini:

ibu-hamil

Ya, pagi ini saya membaca kehebohan yang muncul dari komentar seseorang bernama Dinda di akun Path-nya, yang melontarkan kebencian dan kekesalannya pada perempuan hamil di atas kereta yang ujuk-ujuk minta tempat duduk, dan “tak mau usaha”. Nama Dinda langsung ramai dibincangkan, ia bahkan di-bully atas komentarnya itu. Beberapa temannya mendukungnya, tapi sebagian besar orang mencaci maki komentarnya itu.

Saya berpikir, ternyata rasa perisa orang Indonesia benar-benar mulai hilang. Mungkin saya salah, dan kasus Dinda memang tak bisa dijadikan ukuran untuk menyebut bangsa kita sudah kehilangan hati nurani. Saya memang tak bisa main pukul rata begitu saja. Tapi paling tidak, buat saya, apa yang dilontarkan Dinda adalah sedikit dari “ketidakpedulian” yang akhirnya bocor ke permukaan, ketidakpedulian yang berhasil menampakkan wajah aslinya, yang selama ini berhasil disimpan rapat-rapat entah di mana.

Kebencian yang dilontarkan Dinda di Path, adalah pucuk gunung es dari samudera ketidakpedulian kita pada sesama. Dinda barangkali hanya keceplosan memuntahkan kekesalan hatinya, dan dia sudah menerima akibatnya. Tapi selain Dinda, jutaan orang di negara ini sebenarnya memang tak peduli, bedanya, mereka tak keceplosan merutuk, ngomel, dan melontarkan kejijikannya pada perempuan hamil seperti Dinda.

Selama ini, jagad ketidakpedulian itu berhasil di simpan rapat-rapat, ditutup-tutupi dengan wajah-wajah palsu kita. Dalam bahasa ringkas, bangsa ini sebenarnya memang tak punya lagi kepedulian. Kita bukan pemuda lugu dalam video Unsung Hero. Bahkan kita mungkin adalah sosok-sosok seperti si Tukang Warung dan si Tukang Kacamata dalam video itu, yang cuma bisa menggeleng melihat seseorang berkorban demi orang lain. Semoga saya salah.

Dinda dan kita bukanlah si Unsung Hero. Kita tak pernah menyelamatkan hidup setangkai bunga bukan punya kita di pinggir jalan (ada yang pernah?). Kita tak pernah membantu ibu-ibu pedagang mendorong gerobaknya yang berat di tengah pasar ( ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi makan anjing lapar dengan sepotong daging ayam dari piring kita (ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi pengemis uang tanpa disertai perasaan curiga jangan-jangan ini pengemis gajinya dua-tiga kali lipat besarnya dari kita (ada yang pernah?). Dan, kita tak pernah peduli pada para tetangga kita yang hidupnya papa (ada yang pernah?).

Sebagian kita mungkin masih peduli. Tapi, mungkin, sambil merutuk di dalam hati. Jadi, Dinda dan kita, sebenarnya serupa tapi tak sama.[]

One thought on “Unsung Hero, Dinda, dan Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *