Adaptasi Manis Merry Riana

merry-riana1

SETELAH “berabad-abad” tidak nonton film Indonesia di bioskop, akhirnya pas hari Natal kemarin, saya menemani tiga ponakan perempuan (yang datang dari Sumatera untuk liburan ke Jakarta) nonton film Merry Riana di salah satu bioskop di Depok. Sejak semula, saya memang tidak punya rencana nonton film ini. Empat tiket yang dibeli istri saya awalnya memang salah satunya bukan buat saya, tapi di saat-saat terakhir, tugas untuk menemani para ponakan nonton, jatuh ke pundak saya. Ya, udah, saya nonton juga film ini akhirnya. Karena tanpa antusiasme sedikit pun menonton film ini, sejak masuk saya bawaannya sudah malas: main hape, atau ngajak ponakan saya ngobrol. Saat film ini dimulai, barulah saya menyesal telah suuzon duluan (sebagaimana biasa saya menyikapi film Indonesia) terhadap film yang diangkat dari buku Mimpi Sejuta Dolar yang disusun penulis kawakan Albertine Endah ini.

Film Merry Riana, ringkasnya menayangkan perjalanan Merry Riana, waktu itu baru lulus SMA, yang terpaksa hengkang dari Indonesia karena kerusuhan Mei 1998. Merry Riana memang keturunan Tionghoa, etnis yang masih sering mendapat perlakuan tidak adil di sini. Setelah uang kontan terakhir milik ayah Merry dirampas para perusuh saat mereka mencoba kabur dari rumah, keluarga ini terpaksa menjual isi koper mereka di Bandara Soekarno-Hatta untuk bisa membeli tiket. Tak diduga, hanya satu tiket yang bisa dibeli, dan ayah Merry memutuskan Merry berangkat duluan ke Singapura, nanti sisanya akan menyusul. Meski sempat protes dan menolak, Merry akhirnya terpaksa memenuhi permohonan ayahnya. Ayah dan ibunya berjanji akan menyusul Merry ke sana begitu keadaan memungkinkan.

Sialnya, saat sampai di Singapura, kerabat yang alamatnya menjadi destinasi dan harapan Merry satu-satunya, sudah pindah dari flat tempat tinggalnya karena sudah lama tidak membayar uang sewa. Sejak saat itulah, kisah dramatis perjuangan seorang gadis Tionghoa di sebuah negara yang demikian ketat birokrasinya (terutama kepada orang asing), dengan uang di dompet yang hanya cukup buat makan selama beberapa hari, sebuah laptop tua milik ayahnya, dan sebuah koper ukuran sedang warna merah, membetot perhatian saya.

Saya awalnya curiga, kesukaan saya pada film ini semata-mata karena akting memikat aktris muda berbakat Chelsea Islan yang memerankan karakter Merry Riana. Saya sudah lama “mengenal” Chelsea, lewat sitkom yang saya gemari, Tetangga Masa Gitu yang diputar di Net-TV. Entah benar Merry yang asli seceria dan seoptimis yang diperankan Chelsea, saya nggak tahu, karena saya belum pernah berjumpa langsung dengan Merry Riana yang asli. Tapi, setengah jam kemudian, saya akhirnya sadar bahwa kekuatan film ini ada pada storytelling-nya, ceritanya, skenarionya, screenplay-nya. Sejak awal, tokoh utama film ini menghadapi berbagai masalah yang tak kunjung usai, mulai dari soal tempat menginap sampai soal uang kuliah yang besarnya USD 40.000 dan harus dibayar di muka, dan anehnya, Merry, meski dengan berdarah-darah, berhasil melewati semua itu, dan hebatnya, melalui jalan keluar yang wajar dan masuk akal. Saya tersedak dan sedikit berkaca-kaca saat Merry makan roti baguette (tahu, kan, roti panjang dan kering seperti tongkat?) di dalam toilet karena di kantin kampus dilarang membawa makanan dari luar. This is my favorite scene!

Twist dan gimmick yang diberikan film ini renyah dan gurih, seperti munculnya karakter galak tapi lucu satpam asrama yang diperankan Sellen Fernandez, atau Mike Lucock atawa Mike Muliadro yang memerankan owner perusahaan abal-abal, dan akting apik aktris senior Niniek L. Karim yang memerankan karakter seorang senior citizen Singapura yang pandai cakap Melayu. Lucunya, sampai film ini selesai, bahkan sampai tulisan ini diturunkan di sini, saya tidak tahu siapa penulis skenarionya. Entah karena saya lengah saat credit film ini muncul di layar, atau memang nama penulis skenarionya tidak muncul di sana. Saya baru melacak kembali ke sumber YouTube trailer resmi film ini dan menemukan nama Titien Wattimena dan Rahabi Mandra sebagai penulis screenplay-nya. Melihat nama Titien, saya kurang surprise sih sebenarnya, karena Titien memang kampiun di scriptwriting. Silakan di-google sendiri apa saja yang sudah ditulis Titien.

Selain ceritanya yang kuat, tebakan saya meleset jauh ketika saya awalnya mengira film ini melulu akan berkisah tentang perjuangan Merry Riana mendapatkan sejuta dolar pertamanya di usia 26 tahun, yang menjadi jualan Merry Riana di dalam bukunya yang konon sudah diterjemahkan ke dalam 7 bahasa. Saya membayangkan film ini akan berisi montage-montage monoton tentang perjuangan Merry Riana mendapatkan kekayaan pertamanya yang luar biasa besar itu, tapi ternyata saya keliru. Film ini bukan tentang mimpi sejuta dolar, bukan tentang from zero to hero, bukan tentang Merry yang memulai dan membangun bisnisnya dari nol, atau segala tetek bengek kisah-kisah heroik manis yang sering kita lihat dari film-film motivasi bertema kebebasan finansial yang sudah banyak dibuat. Film ini bukan tentang itu. Film ini adalah film cinta yang romantis, dan menurut saya, sangat manis.

Ya, film yang diproduksi MD Pictures ini bukan hanya kisah inspiratif perjuangan Merry menghadapi Singapura dan segala aturannya yang ketat dan tak pandang bulu, bukan sekadar kisah Merry menghadapi segala rintangan terberat dalam hidup untuk menjadi sukses, tapi plot utama film ini adalah kisah Merry dan Alva, bagaimana mereka menghadapi cinta masa remaja mereka dan menyelesaikan segala problemanya. Meski kisah cinta Merry ini sangat tipikal dan bisa ditemui di banyak film romance lainnya, tapi saya memutuskan, film ini berhasil menyajikan sebuah kisah-cinta-yang tak-biasa.

Namun, di tengah luapan kegembiraan saya menonton film ini, ada sesuatu yang sedikit mengganjal di hati. Film ini mengambil lokasi di dua tempat, Jakarta dan Singapura, dengan porsi sangat besar ada di Singapura. Dan, ya, film ini lalu menjadi semacam ajang tebar pesona Singapura ke hadapan para penonton Indonesia. Keteraturan Singapura, kerapian tatakota, kebersihan taman dan lebarnya jalur pedestriannya, serta kemegahan venue dan gedung-gedungnya, menjadi set raksasa dan jualan sampingan film ini. Tak sekali dua kali, kita disuguhi pemandangan keren Marina Bay Sands yang menghadap ke Teluk Marina itu, keindahan kampus Nanyang Technology University (meski saya tak pasti apakah pengambilan gambar dilakukan di lokasi asli) dan bahkan pengambilan gambar dengan porsi lumayan besar dilakukan di dalam kapsul Singapore Flyer, wahana pengamatan tertinggi di dunia. Jadi, bilamana Anda kurang menyukai ceritanya, kekecewaan Anda akan terobati dengan stock shoot pemandangan Singapura yang keren lagi menawan itu. Saya, mau tak mau, jadi membandingkan kondisi kota saya (Jakarta, terutama) dengan Singapura, dan momen sakitnya-tuh-di-sini kian terasa di dada ketika ingat bahwa Merry Riana kabur dari Jakarta karena kerusuhan berbau rasial yang terjadi di Indonesia. Suatu ketika, saat-saat dibuat galau dengan urusan mencari pekerjaan agar bisa survive, Alva (diperankan Dion Wiyoko), nyeletuk pada Merry, “Ini Singapura, Mer, bukan Jakarta.” Dengan kalimat saya sendiri, saya bisa menambahkan ungkapan itu dengan, “Ini Singapura, Mer, elu nggak bisa seenaknya di sini seperti di Jakarta.” Jleb banget, kan?

Tapi, sekali lagi, saya suka dan merekomendasikan film ini, dan meski saya belum baca buku darimana film ini diadaptasi, saya yakin, terlepas versi filmnya sama atau tidak dengan versi buku, Anda juga akan menyukai film ini, sebagaimana saya dan ketiga ponakan saya menyukainya.

Judul: Merry Riana
Jenis Film: Drama
Produser: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Produksi: MD Pictures
Sutradara: Hestu Saputra
Penulis naskah: Titien Wattimena, Rahabi Mandra
Pemeran film: Chelsea Islan, Dion Wiyoko, Kimberly Ryder, Ferry Salim, Niniek L. Karim, Cyntia Lamusu, Lanawati Tuti Wulandani, Sellen Fernandez, Mike Luccock.

Hujan Bulan Desember – Efek Rumah Kaca

Selalu ada yang bernyanyi
Dan berelegi di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi
Sisi gelap ini menanti seperti pelangi
Setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Selalu ada yang bernyanyi
Dan berelegi di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi
Sisi gelap ini menanti seperti pelangi
Setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember
Karena aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

o-MAN-SLEEP-BED-facebook
Pemenag-KLA-2013

Inilah 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa Ke-14

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Kusala Sastra Khatulistiwa, atau yang dulu dikenal dengan nama Khatulistiwa Literary Award, kembali diselenggarakan. Ajang penghargaan sastra ini menyeleksi karya-karya sastra Indonesia, baik fiksi dan puisi, yang terbit dalam kurun 12 bulan terakhir, yaitu dari bulan Juli 2013 hingga bulan Juni 2014.

Juri pertama-tama akan menyeleksi dan memilih masing-masing 10 karya terbaik, baik untuk fiksi maupun puisi, kemudian dalam sebuah komite juri akan disaring lagi menjadi 5 karya terbaik yang kemudian akan memilih satu karya terbaik untuk kedua kategori.

Senin, 15 September 2014 kemarin, setelah direkap, dalam urutan acak, panitia merilis 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa Ke-14. Berikut daftarnya:

A. Kategori Prosa

1. Afrizal Malna, Kepada Apakah
2. Iksaka Banu, Semua untuk Hindia
3. Eka Kurniawan, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas
4. Ayu Utami, Maya
5. Triyanto Tiwikromo, Surga Sungsang
6. Norman Pasaribu, Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
7. Rio Johan, Aksara Amananunna
8. Zaky Yamani, Bandar
9. Isbedy Setiawan ZS, Perempuan di Rumah Panggung
10. Remy Sylado, Malaikat Lereng Tidar

B. Kategori Puisi
1. Ook Nugroho, Tanda-tanda yang Bimbang
2. Acep Zamzam Noor, Bagian dari Kegembiraan
3. Hasta Indirayana, Piknik yang Menyenangkan
4. A. Muttaqin, Tetralogi Kerucut
5. Oka Rusmini, Saiban
6. Ahda Imran, Rusa Berbulu Merah
7. Made Adnyana Ole, Dongeng dari Utara
8. Adimas Immanuel, Pelesir Mimpi
9. Tia Setiadi, Tangan yang Lain
10. Mario F. Lawi, Ekaristi

(Melvi Yendra/AlineaTV)

Sumber: AlineaTV