Hujan Bulan Desember – Efek Rumah Kaca

Selalu ada yang bernyanyi
Dan berelegi di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi
Sisi gelap ini menanti seperti pelangi
Setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Selalu ada yang bernyanyi
Dan berelegi di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi
Sisi gelap ini menanti seperti pelangi
Setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember
Karena aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

o-MAN-SLEEP-BED-facebook
Pemenag-KLA-2013

Inilah 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa Ke-14

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Kusala Sastra Khatulistiwa, atau yang dulu dikenal dengan nama Khatulistiwa Literary Award, kembali diselenggarakan. Ajang penghargaan sastra ini menyeleksi karya-karya sastra Indonesia, baik fiksi dan puisi, yang terbit dalam kurun 12 bulan terakhir, yaitu dari bulan Juli 2013 hingga bulan Juni 2014.

Juri pertama-tama akan menyeleksi dan memilih masing-masing 10 karya terbaik, baik untuk fiksi maupun puisi, kemudian dalam sebuah komite juri akan disaring lagi menjadi 5 karya terbaik yang kemudian akan memilih satu karya terbaik untuk kedua kategori.

Senin, 15 September 2014 kemarin, setelah direkap, dalam urutan acak, panitia merilis 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa Ke-14. Berikut daftarnya:

A. Kategori Prosa

1. Afrizal Malna, Kepada Apakah
2. Iksaka Banu, Semua untuk Hindia
3. Eka Kurniawan, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas
4. Ayu Utami, Maya
5. Triyanto Tiwikromo, Surga Sungsang
6. Norman Pasaribu, Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
7. Rio Johan, Aksara Amananunna
8. Zaky Yamani, Bandar
9. Isbedy Setiawan ZS, Perempuan di Rumah Panggung
10. Remy Sylado, Malaikat Lereng Tidar

B. Kategori Puisi
1. Ook Nugroho, Tanda-tanda yang Bimbang
2. Acep Zamzam Noor, Bagian dari Kegembiraan
3. Hasta Indirayana, Piknik yang Menyenangkan
4. A. Muttaqin, Tetralogi Kerucut
5. Oka Rusmini, Saiban
6. Ahda Imran, Rusa Berbulu Merah
7. Made Adnyana Ole, Dongeng dari Utara
8. Adimas Immanuel, Pelesir Mimpi
9. Tia Setiadi, Tangan yang Lain
10. Mario F. Lawi, Ekaristi

(Melvi Yendra/AlineaTV)

Sumber: AlineaTV

marah roesli

Novel Terakhir Bangsawan Terbuang

Dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Setelah 50 tahun lebih disimpan ahli warisnya, novel semiotobiografi Memang Jodoh Marah Roesli, pengarang Sitti Nurbaya, akhirnya diterbitkan. Novel yang selesai ditulis menjelang hari ulang tahun perkawinan emasnya itu baru diterbitkan setelah semua ninik mamaknya di Padang meninggal.

Bercerita tentang apakah novel itu? Marah Roesli menggugat adat lapuk priayi-priayi Minangkabau yang menganggap perkawinan antara laki-laki bangsawan Padang dan perempuan daerah lain sebagai suatu penghinaan. Tempo mengorek penjelasan anak-cucu Marah Roesli tantang penerbitan karya terakhir pengarang Angkatan Balai Pustaka itu.

NOVEL karya sastrawan Balai Pustaka, Marah Roesli, itu lama tersimpan di laci. Tak pernah dibukukan. Tak pernah disebarluaskan ke publik atau kritikus sastra. Sebelum wafat, Marah Roesli berwasiat kepada anak-cucunya bahwa novel tersebut hanya buleh dipublikasikan setelah dia dan semua orang yang disebutkan dalam naskah novel itu meninggal. Marah Roesli wafat di Bandung, 17 Januari 1968, pada usia 78 tahun. Dia dikubur di pemakaman keluarganya di Ciomas, Bogor.

Kini sudah 45 tahun kematian Marah Roesli. Belum genap 50 tahun. Pihak keluarga memutuskan menyerahkan “naskah rahasia” yang tak boleh dibaca siapa pun itu kepada penerbit. Dan pekan ini dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Naskah itu diterbitkan Qanita Classic, lini penerbitan khusus sastra klasik Mizan, dalam bentuk buku yang diluncurkan belum lama ini.

Marah Roesli terkenal dengan roman Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Kita ingat Sitti Nurbaya adalah kisah asmara antara Sitti Nurbaya, anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya, dan Samsul Bahri, anak Penghulu Sutan Mahmud. Sitti Nurbaya akhirnya diperistri Datuk Maringgih, yang menghancurkan kekayaan ayahnya dan kepadanya ayahnya berutang.

Kita tahu roman ini berakhir dengan tragedi. Sitti Nurbaya, yang lari dari Datuk Maringgih dan mencari Samsul Bahri, meninggal dibunuh Datuk Maringgih. Samsul Bahri, yang menjadi tentara Belanda dan berganti nama menjadi Letnan Mas, berhasil membinasakan Datuk Maringgih, yang memimpin pemberontakan antipajak di Padang-meski Samsul Bahri juga tertebas pedang Datuk Maringgih dan akhirnya meninggal di rumah sakit.

“Novel rahasia” yang tersimpan di laci itu juga berbicara tentang asmara, tapi tidak setragis Sitti Nurbaya. Novel berjudul Memang Jodoh itu sesungguhnya sudah rampung ditulis Marah Roesli pada 1961. Novel tersebut diselesaikan Marah Roesli tatkala usianya sudah uzur, yaitu 72 tahun. Novel itu merupakan kado Marah Roesli untuk istrinya, Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, pada hari ulang tahun ke-50 pernikahan mereka, 2 November 1961.

Apa isinya sehingga Marah Roesli melarang orang membacanya sebelum dia dan ninik mamaknya di Padang meninggal semua?

Novel itu berkisah mengenai jatuh-bangun perjalanan cinta seorang pemuda bangsawan Padang bernama Merah Hamli, yang mirip gambaran kehidupan cinta sang pengarang sendiri. Dalam kehidupan nyata, Marah Roesli adalah pemuda asal Padang yang merantau ke Buitenzorg (Bogor) dan kuliah di Nederlands Indische Veeartsenijschool (Sekolah Dokter Hewan Belanda). Di Bogor, Marah Roesli bertemu dengan Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, gadis keturunan bangsawan Sunda. Mereka menikah pada 2 November 1911. Pernikahan ini ditentang kedua keluarga mempelai.

Ayah Marah Roesli adalah Sutan Abu Bakar, bangsawan Pagaruyung, sementara ibunya perempuan biasa. Gelar “Marah” diberikan keluarga ayahnya. “Dalam diri Marah Roesli memang mengalir darah Pagaruyung, tapi dia bukan ahli waris dari Kerajaan Pagaruyung, karena di sini garis keturunannya matrilineal,” kata Raudha Thaib, ahli waris Kerajaan Pagaruyung. Dari pihak Marah Roesli, keluarga dari ibunyalah yang paling lantang menolak. Dari pihak Ratna, hanya keluarga inti yang memberikan restu. Akibat perkawinan itu, Marah Roesli dikucilkan secara adat dan terbuang dari tanah kelahirannya.

Berbagai cara dilakukan keluarga besar mereka untuk memisahkan pasangan itu. Siti Nur Chairani, putri bungsu Marah Roesli yang biasa dipanggil Tante Nani, ingat, suatu hari seorang pria muncul di rumah mereka di Jalan Merdeka, Bogor, membawa pesan untuk Marah Roesli dari ibunya di Padang. Marah Roesli dan Ratna tak curiga dan menerimanya dengan baik. Terkesan oleh kebaikan Ratna, tamu ini akhirnya mengaku bahwa ia adalah dukun yang dikirim keluarga ibu Marah Roesli untuk mengguna-gunai Ratna. Dalam novel itu, kisah dukun yang hendak mengguna-gunai Marah Roesli dan istrinya juga digambarkan.

“Perkawinan seorang laki-laki Padang, lebih-lebih yang berbangsa tinggi seperti Hamli ini, dengan perempuan negeri lain, dipandang orang di Padang sebagai suatu penghinaan yang besar atas kaum bangsawan,” kata seorang tokoh dalam novel bernama Datuk Sati, dukun besar dari Padang.

Novel berlatar masa penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan itu mengisahkan perjalanan Merah Hamli, yang merantau ke Bogor untuk kuliah di sebuah sekolah pertanian. Di kota inilah dia bertemu dengan jodohnya, Nyai Radin Asmawati, putri Wedana Cibinong. Namun rencana perkawinan tak direstui kedua keluarga besar mereka. Keributan sempat terjadi di Padang dan di Bogor. Tapi keduanya tetap menikah dan berkali-kali mendapat cobaan yang mengancam perkawinan itu, dari guna-guna hingga paksaan agar Hamli menikah lagi. Semua cobaan itu mereka hadapi dengan tabah hingga mereka beranak-cucu dan merayakan perkawinan emas pada 1961 di Sukabumi.

Menurut Rully Marsis Amirullah, cucu Marah Roesli yang kini bermukim di Bandung, Memang jodoh bukanlah otobiografi lengkap kakeknya. ”Ini novel semiotobiografi, karena kebanyakan bercerita tentang masalah perkawinan beda adat dan anjuran berpoligami clari keluarganya,” ujarnya.

Rully mengenang, pada 1961, saat perayaan ulang tahun perkawinan emasnya, Marah Roesli menyampaikan pidato panjang mengenai Memang Jodoh di hadapan anak-anak dan cucu-cucunya. Beberapa cucunya, termasuk Rully dan adiknya, musikus Harry Roesli, kemudian membentuk band bocah dan bernyanyi di hadapan kakek dan nenek mereka.

NOVEL BERLATAR MASA PENJAJAHAN BELANDA HINGGA ZAMAN KEMERDEKAAN ITU MENGISAHKAN PERJALANAN MERAH HAMLI, YANG MERANTAU KE BOGOR UNTUK KULIAH DI SEBUAH SEKOLAH PERTANIAN. DI KOTA INILAH DIA BERTEMU DENGAN JODOHNYA, NYAI RADIN ASMAWATI, PUTRI WEDANA CIBINONG.

Seperti karya Marah Roesli yang lain, Memang Jodoh awalnya ditulis tangan dalam aksara Arab Melayu gundul di buku panjang yang kerap digunakan akuntan, lalu diketik di atas kertas minyak tipis. Manuskripnya sudah hilang, tapi naskah ketikannya masih ada dan disimpan Rully. Agar tak rusak, naskah ini kemudian diketik ulang di atas kertas biasa yang tiap lembarnya dilapisi plastik.

Menurut Siti Nur Chairani, ayahnya berwasiat bahwa novel itu tak boleh diterbirkan sebelum semua orang yang disebutkan di naskah tersebut meninggal karena tak ingin menyakiti perasaan kerabat di Padang. ”Bahkan naskahnya juga tak boleh dibaca sebelum ayah saya meninggal,” kata Siti.

Mengapa setelah 50 tahun berlalu sejak Marah Roesli berpidato tentang novelnya, anak-ucunya akhirnya memutuskan menerbitkan novel itu? ”Seluruh keluarga sepakat, novel itu bukan milik keluarga lagi, melainkan milik kesusastraan nasional,” ujar Rully, yang kemudian bertugas mengurus penerbitannya.

Rully menyerahkan naskah itu tahun lalu ke Mizan. Mizan pun menyambut baik tawaran ini. Editor Mizan, Melvi Yendra, menyuntingnya dan menilai naskah itu sebagai naskah kelas berat. “Itu naskah yang sulit untuk disunting,” kata Melvi, yang butuh waktu dua setengah bulan untuk menyunting novel yang setelah dicetak jadi setebal 525 halaman itu.

Marah Roesli, kata Melvi, sering menulis dengan kalimat panjang dan memakai banyak kata dari Bahasa Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia. Melvi berusaha menyunting naskah itu menjadi lebih ringan bagi pembaca tanpa menghilangkan gaya bercerita Marah Roesli. Melvi memecah kalimat yang panjang menjadi beberapa kalimat pendek dan menambahkan catatan kaki untuk beberapa kata yang terasa asing. Dia hanya mengganti beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” untuk “sekolah swasta”.

Sapardi Djoko Damonu, yang sudah membaca naskah Memang Jodoh, menilai novel itu biasa saja, dalam arti bukan yang penting atau terbaik dari karya Marah Roesli. “Berbeda dengan Sitti Nurbaya yang disebut sebagai novel modern pertama dan masuk buku-buku pelajaran sekolah sehingga dianggap sebagai kanon sastra,” ujar guru besar Fakultas llmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu.

Novel itu, kara Sapardi, sangat berbeda dengan novel-novel Marah Roesli sebelumnya, seperti Sitti Nurbaya, yang warna lokalnya sangat kental sehingga sangat sulit dipahami orang di luar Sumatera Barat.

”Dalam Memang Jodoh, Marah Roesli memakai cara yang baru,” ujarnya. ”Gaya novel ini bisa disebut sebagai novel populer, dalam arti sangat mudah dipahami orang banyak. Pengalaman pribadinya ia ceritakan dengan enteng saja.”

-KURNIAWAN, DODY HIDAYAT, RATNANING ASIH, IQBAL MUHTAROM, ANWAR SISWADI, FEBRIYANTI

Sumber : Tempo | Edisi 22-28 Juli 2013 | Hal 60