marah roesli

Novel Terakhir Bangsawan Terbuang

Dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Setelah 50 tahun lebih disimpan ahli warisnya, novel semiotobiografi Memang Jodoh Marah Roesli, pengarang Sitti Nurbaya, akhirnya diterbitkan. Novel yang selesai ditulis menjelang hari ulang tahun perkawinan emasnya itu baru diterbitkan setelah semua ninik mamaknya di Padang meninggal.

Bercerita tentang apakah novel itu? Marah Roesli menggugat adat lapuk priayi-priayi Minangkabau yang menganggap perkawinan antara laki-laki bangsawan Padang dan perempuan daerah lain sebagai suatu penghinaan. Tempo mengorek penjelasan anak-cucu Marah Roesli tantang penerbitan karya terakhir pengarang Angkatan Balai Pustaka itu.

NOVEL karya sastrawan Balai Pustaka, Marah Roesli, itu lama tersimpan di laci. Tak pernah dibukukan. Tak pernah disebarluaskan ke publik atau kritikus sastra. Sebelum wafat, Marah Roesli berwasiat kepada anak-cucunya bahwa novel tersebut hanya buleh dipublikasikan setelah dia dan semua orang yang disebutkan dalam naskah novel itu meninggal. Marah Roesli wafat di Bandung, 17 Januari 1968, pada usia 78 tahun. Dia dikubur di pemakaman keluarganya di Ciomas, Bogor.

Kini sudah 45 tahun kematian Marah Roesli. Belum genap 50 tahun. Pihak keluarga memutuskan menyerahkan “naskah rahasia” yang tak boleh dibaca siapa pun itu kepada penerbit. Dan pekan ini dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Naskah itu diterbitkan Qanita Classic, lini penerbitan khusus sastra klasik Mizan, dalam bentuk buku yang diluncurkan belum lama ini.

Marah Roesli terkenal dengan roman Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Kita ingat Sitti Nurbaya adalah kisah asmara antara Sitti Nurbaya, anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya, dan Samsul Bahri, anak Penghulu Sutan Mahmud. Sitti Nurbaya akhirnya diperistri Datuk Maringgih, yang menghancurkan kekayaan ayahnya dan kepadanya ayahnya berutang.

Kita tahu roman ini berakhir dengan tragedi. Sitti Nurbaya, yang lari dari Datuk Maringgih dan mencari Samsul Bahri, meninggal dibunuh Datuk Maringgih. Samsul Bahri, yang menjadi tentara Belanda dan berganti nama menjadi Letnan Mas, berhasil membinasakan Datuk Maringgih, yang memimpin pemberontakan antipajak di Padang-meski Samsul Bahri juga tertebas pedang Datuk Maringgih dan akhirnya meninggal di rumah sakit.

“Novel rahasia” yang tersimpan di laci itu juga berbicara tentang asmara, tapi tidak setragis Sitti Nurbaya. Novel berjudul Memang Jodoh itu sesungguhnya sudah rampung ditulis Marah Roesli pada 1961. Novel tersebut diselesaikan Marah Roesli tatkala usianya sudah uzur, yaitu 72 tahun. Novel itu merupakan kado Marah Roesli untuk istrinya, Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, pada hari ulang tahun ke-50 pernikahan mereka, 2 November 1961.

Apa isinya sehingga Marah Roesli melarang orang membacanya sebelum dia dan ninik mamaknya di Padang meninggal semua?

Novel itu berkisah mengenai jatuh-bangun perjalanan cinta seorang pemuda bangsawan Padang bernama Merah Hamli, yang mirip gambaran kehidupan cinta sang pengarang sendiri. Dalam kehidupan nyata, Marah Roesli adalah pemuda asal Padang yang merantau ke Buitenzorg (Bogor) dan kuliah di Nederlands Indische Veeartsenijschool (Sekolah Dokter Hewan Belanda). Di Bogor, Marah Roesli bertemu dengan Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, gadis keturunan bangsawan Sunda. Mereka menikah pada 2 November 1911. Pernikahan ini ditentang kedua keluarga mempelai.

Ayah Marah Roesli adalah Sutan Abu Bakar, bangsawan Pagaruyung, sementara ibunya perempuan biasa. Gelar “Marah” diberikan keluarga ayahnya. “Dalam diri Marah Roesli memang mengalir darah Pagaruyung, tapi dia bukan ahli waris dari Kerajaan Pagaruyung, karena di sini garis keturunannya matrilineal,” kata Raudha Thaib, ahli waris Kerajaan Pagaruyung. Dari pihak Marah Roesli, keluarga dari ibunyalah yang paling lantang menolak. Dari pihak Ratna, hanya keluarga inti yang memberikan restu. Akibat perkawinan itu, Marah Roesli dikucilkan secara adat dan terbuang dari tanah kelahirannya.

Berbagai cara dilakukan keluarga besar mereka untuk memisahkan pasangan itu. Siti Nur Chairani, putri bungsu Marah Roesli yang biasa dipanggil Tante Nani, ingat, suatu hari seorang pria muncul di rumah mereka di Jalan Merdeka, Bogor, membawa pesan untuk Marah Roesli dari ibunya di Padang. Marah Roesli dan Ratna tak curiga dan menerimanya dengan baik. Terkesan oleh kebaikan Ratna, tamu ini akhirnya mengaku bahwa ia adalah dukun yang dikirim keluarga ibu Marah Roesli untuk mengguna-gunai Ratna. Dalam novel itu, kisah dukun yang hendak mengguna-gunai Marah Roesli dan istrinya juga digambarkan.

“Perkawinan seorang laki-laki Padang, lebih-lebih yang berbangsa tinggi seperti Hamli ini, dengan perempuan negeri lain, dipandang orang di Padang sebagai suatu penghinaan yang besar atas kaum bangsawan,” kata seorang tokoh dalam novel bernama Datuk Sati, dukun besar dari Padang.

Novel berlatar masa penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan itu mengisahkan perjalanan Merah Hamli, yang merantau ke Bogor untuk kuliah di sebuah sekolah pertanian. Di kota inilah dia bertemu dengan jodohnya, Nyai Radin Asmawati, putri Wedana Cibinong. Namun rencana perkawinan tak direstui kedua keluarga besar mereka. Keributan sempat terjadi di Padang dan di Bogor. Tapi keduanya tetap menikah dan berkali-kali mendapat cobaan yang mengancam perkawinan itu, dari guna-guna hingga paksaan agar Hamli menikah lagi. Semua cobaan itu mereka hadapi dengan tabah hingga mereka beranak-cucu dan merayakan perkawinan emas pada 1961 di Sukabumi.

Menurut Rully Marsis Amirullah, cucu Marah Roesli yang kini bermukim di Bandung, Memang jodoh bukanlah otobiografi lengkap kakeknya. ”Ini novel semiotobiografi, karena kebanyakan bercerita tentang masalah perkawinan beda adat dan anjuran berpoligami clari keluarganya,” ujarnya.

Rully mengenang, pada 1961, saat perayaan ulang tahun perkawinan emasnya, Marah Roesli menyampaikan pidato panjang mengenai Memang Jodoh di hadapan anak-anak dan cucu-cucunya. Beberapa cucunya, termasuk Rully dan adiknya, musikus Harry Roesli, kemudian membentuk band bocah dan bernyanyi di hadapan kakek dan nenek mereka.

NOVEL BERLATAR MASA PENJAJAHAN BELANDA HINGGA ZAMAN KEMERDEKAAN ITU MENGISAHKAN PERJALANAN MERAH HAMLI, YANG MERANTAU KE BOGOR UNTUK KULIAH DI SEBUAH SEKOLAH PERTANIAN. DI KOTA INILAH DIA BERTEMU DENGAN JODOHNYA, NYAI RADIN ASMAWATI, PUTRI WEDANA CIBINONG.

Seperti karya Marah Roesli yang lain, Memang Jodoh awalnya ditulis tangan dalam aksara Arab Melayu gundul di buku panjang yang kerap digunakan akuntan, lalu diketik di atas kertas minyak tipis. Manuskripnya sudah hilang, tapi naskah ketikannya masih ada dan disimpan Rully. Agar tak rusak, naskah ini kemudian diketik ulang di atas kertas biasa yang tiap lembarnya dilapisi plastik.

Menurut Siti Nur Chairani, ayahnya berwasiat bahwa novel itu tak boleh diterbirkan sebelum semua orang yang disebutkan di naskah tersebut meninggal karena tak ingin menyakiti perasaan kerabat di Padang. ”Bahkan naskahnya juga tak boleh dibaca sebelum ayah saya meninggal,” kata Siti.

Mengapa setelah 50 tahun berlalu sejak Marah Roesli berpidato tentang novelnya, anak-ucunya akhirnya memutuskan menerbitkan novel itu? ”Seluruh keluarga sepakat, novel itu bukan milik keluarga lagi, melainkan milik kesusastraan nasional,” ujar Rully, yang kemudian bertugas mengurus penerbitannya.

Rully menyerahkan naskah itu tahun lalu ke Mizan. Mizan pun menyambut baik tawaran ini. Editor Mizan, Melvi Yendra, menyuntingnya dan menilai naskah itu sebagai naskah kelas berat. “Itu naskah yang sulit untuk disunting,” kata Melvi, yang butuh waktu dua setengah bulan untuk menyunting novel yang setelah dicetak jadi setebal 525 halaman itu.

Marah Roesli, kata Melvi, sering menulis dengan kalimat panjang dan memakai banyak kata dari Bahasa Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia. Melvi berusaha menyunting naskah itu menjadi lebih ringan bagi pembaca tanpa menghilangkan gaya bercerita Marah Roesli. Melvi memecah kalimat yang panjang menjadi beberapa kalimat pendek dan menambahkan catatan kaki untuk beberapa kata yang terasa asing. Dia hanya mengganti beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” untuk “sekolah swasta”.

Sapardi Djoko Damonu, yang sudah membaca naskah Memang Jodoh, menilai novel itu biasa saja, dalam arti bukan yang penting atau terbaik dari karya Marah Roesli. “Berbeda dengan Sitti Nurbaya yang disebut sebagai novel modern pertama dan masuk buku-buku pelajaran sekolah sehingga dianggap sebagai kanon sastra,” ujar guru besar Fakultas llmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu.

Novel itu, kara Sapardi, sangat berbeda dengan novel-novel Marah Roesli sebelumnya, seperti Sitti Nurbaya, yang warna lokalnya sangat kental sehingga sangat sulit dipahami orang di luar Sumatera Barat.

”Dalam Memang Jodoh, Marah Roesli memakai cara yang baru,” ujarnya. ”Gaya novel ini bisa disebut sebagai novel populer, dalam arti sangat mudah dipahami orang banyak. Pengalaman pribadinya ia ceritakan dengan enteng saja.”

-KURNIAWAN, DODY HIDAYAT, RATNANING ASIH, IQBAL MUHTAROM, ANWAR SISWADI, FEBRIYANTI

Sumber : Tempo | Edisi 22-28 Juli 2013 | Hal 60

20131211_073030

Di Bawah Bendera Merah (Mo Yan)

SAYA merasa agak rendah diri mau membahas buku Pemenang Hadiah Nobel Sastra 2012 ini. Soalnya, para suhu dan senior saya sudah sangat dalam mengulasnya, di antaranya bisa Anda tengok di Artefak Kenangan Mo Yan oleh Damhuri Muhammad, atau ulasan yang apik dari Hernadi Tanzil di “Di Bawah Bendera Merah by Mo Yan“.

Yang ingin saya sampaikan tentang buku ini, bahwa perjalanan hidup Mo Yan, yang berangkat dari masa-masa kecil dan remajanya yang sulit, tetap bisa menjadi kisah yang menarik. Nyaris tak ada kata-kata sulit yang tak terpahami; semuanya diungkapkan dengan kata-kata dan kalimat yang sederhana, tak berbelit-belit (juga tak bergenit-genit dengan diksi). Perasaan cinta, getar-getir pengungkapannya, dan bagaimana semua kegalauannya terselesaikan, juga diungkapkan dengan enak. Akhir kisah Mo Yan dan Lu Wenli, si gadis yang diam-diam dia cintai, juga berakhir sangat wajar: tanpa drama seperti telenovela, tanpa air mata.

Tentu, bukan sisi ini saja yang membuat karya Mo Yan ini merebut penghargaan paling bergengsi di panggung sastra dunia, dan berhak atas hadiah uang sekitar 12 miliar rupiah. Mo Yan, lagi-lagi dengan santai membawa sosok sebuah truk Gaz 51, sebuah truk militer buatan Soviet, truk yang dipakai oleh tentara Cina semasa perang, menjadi sosok yang sangat hidup, bahkan menjadi urat nadi cerita dari awal hingga akhir.

Akan truk Gaz 51 ini, saya jadi teringat pada kata-kata Melquiades, tokoh gipsi di pembukaan novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez, “Tiap benda memiliki hidupnya sendiri, persoalannya hanyalah bagaimana membangunkan jiwa mereka.” Bagi Mo Yan–juga bagi semua anak lelaki lain di desa kelahirannya–truk Gaz 51 adalah benda impian yang dibawa-bawa sampai ke tempat tidur, tidak hanya membuat decak kagum, tapi menjadi hasrat yang terbawa-bawa sampai mereka dewasa. Dan itu terbukti pada teman masa kecil Mo Yan lainnya, He Zhiwu.

Sayangnya, novel otobigrafis setebal 140 halaman ini terlalu “pelit” mengungkap proses kreatif sang pengarang. Mo Yan sedikit sekali bercerita tentang proses kreatif kepengarangannya, terutama bagaimana novel-novelnya yang sangat terkenal, dilahirkan. Mungkin Mo Yan tak ingin rahasia dapurnya terdedah terlalu banyak ke ruang publik, atau memang dia punya alasan lain yang belum kita ketahui. Lepas dari itu semua, buku ini sangat saya rekomendasikan.[]

Data Buku:

Judul: Di Bawah Bendera Merah
Penulis: Mo Yan
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Juli 2013
Tebal: 140 hlm

Foto: moviemail.com

Norwegian Wood (2010)

MEMBANDING-bandingkan sebuah novel dengan versi film dari novel tersebut memang perbuatan yang “tak adil”, selain itu juga (terkadang) tak ada gunanya, tapi itulah yang sering saya lakukan. Usai membaca sebuah novel, saya akan menonton versi filmnya, itu pun bila novelnya diangkat jadi film. Baca novelnya kemudian tonton filmnya, kemudian bandingkan, begitulah pola yang sering saya lakukan. Jarang-jarang sebaliknya. Saya sering menyesal membaca sebuah novel yang filmnya sudah saya tonton duluan. Kenapa? Biasanya imajinasi saat menonton film kalah kampiun dibanding imajinasi saat membaca novel.

Sudah lazim terjadi, versi film dari sebuah novel akan berbeda dari novelnya. Beberapa sebab bisa dijadikan alasan, tapi yang terutama tentulah bahwa film tidak bisa memvisualisasikan segala imajinasi yang bisa dibangun oleh sebuah novel di benak pembaca.

Setelah menamatkan “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami, saya mencari-cari film dari novel ini, tapi tak berhasil menemukannya. Mungkin usaha saya kurang maksimal, ya? Film ini dirilis tahun 2010, dan pramuniaga di beberapa toko yang menjual DVD mengaku tak kenal judul film ini. Bahkan seorang Mas-Mas penjual DVD di sebuah toko dengan lucu menjawab, “Saya belum pernah menjual film Norwegia.” Haha. Saya juga mencari film ini ke lapak-lapak penjual DVD bajakan, tapi mereka tak tahu film ini. “Norwegian Wood” mungkin tak sepopuler “The American”, “Black Swan”, “Blue Valentine”, “The King’s Speech”, “Inception”, atau bahkan “Never Let Me Go” (sebuah film yang diangkat dari novel dengan judul sama karya penulis Jepang, Kazuo Ishiguro) yang dirilis di tahun yang sama dengan film “Norwegian Wood”. Tapi, ya, sudahlah, akhirnya jalan terakhir adalah menontonnya di YouTube, itu pun yang lengkap cuma bersubtitle Lithuania.

“Norwegian Wood” ditulis dan disutradarai oleh Tran Anh Hung dan dibintangi Ken’ichi Matsuyama (sebagai Toru Watanabe), Rinko Kikuchi (sebagai Naoko), dan Kiko Mizuhara (sebagai Midori). Begitu melihat karakter Naoko di film ini, saya langsung teringat film “Babel” di mana Rinko Kikuchi ikut bermain.

Banyak hal yang ada dalam novel tak ada dalam film berdurasi 2 jam 8 menit 22 detik ini. Lagi pula, kalau Tran Anh Hung menampilkan semua yang ada di novel ke layar, film ini akan jauh lebih panjang dan… “membosankan”. Tapi saya mengacungkan jempol untuk kedua-duanya, karena baik novel atau filmnya, sama-sama membuat saya merenung dan memikirkan karakter-karakter yang ada di dalamnya (terutama Wanatabe, Naoko, dan Midori) cukup lama.

“Norwegian Wood” adalah film drama percintaan yang tergolong “berat” untuk disukai penonton kebanyakan, terutama remaja, terutama lagi remaja Indonesia yang tak terlalu suka membaca sastra. Tapi, seperti yang sudah-sudah, kalau sudah jatuh cinta pada novelnya, tentu, seperti saya, Anda akan tertarik menonton filmnya.[]

Norwegian Wood

Karnaval Kehilangan dalam “Norwegian Wood”

BENAR sudah apa yang dikatakan Virginia Quarterly Review saat mendeskripsikan novel-novel Haruki Murakami: “mudah dimengerti, namun dalam dan kompleks.” Meski baru membaca dua bukunya, saya setuju dengan pendapat itu. “Dengarlah Nyanyian Angin”, yang memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979 adalah buku Murakami pertama yang saya kunyah-kunyah (akan saya ulas pula di lain kesempatan). Tuntas dengan buku itu, saya kemudian melahap habis “Norwegian Wood”, buku yang sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan terjemahan Indonesianya (KPG, Juli 2005), namun baru sempat saya baca baru-baru ini.

Toru Wanatabe, karakter utama dalam novel ini adalah anak muda Jepang yang berteman dengan Kizuki, dan juga pacar Kizuki yang bernama Naoko. Setelah Kizuki mati bunuh diri, Naoko belakangan dekat dengan Wanatabe dan keduanya saling jatuh cinta. Namun, karena kondisi kejiwaan Naoko yang tak terlalu stabil, mereka terpaksa berpisah kota, dan itu menyakitkan buat keduanya, terutama Naoko. Sementara berusaha menekan rasa hampa karena ketiadaan Naoko, Wanatabe bertemu Midori, gadis sekampusnya, yang kemudian jatuh cinta setengah mati pada pemuda pendiam yang bekerja paruh waktu di sebuah toko penyewaan piringan hitam itu.

Karakter-karakter yang muncul dalam Norwegian Wood adalah karakter-karakter sunyi dan mendung. Hanya Midori yang terlihat ceria, meski sebenarnya Midori punya beban tak kalah rumit yang dibawa-bawanya setiap hari; sakit dan kematian ayahnya, juga kekasihnya yang tak bisa membuatnya bahagia seperti harapannya. Sepanjang membaca novel ini, saya membayangkan suasana Tokyo yang redup, jaket-jaket musim dingin, salju yang menempel di jendela, dan bibir-bibir yang pucat menahan dingin. Wanatabe adalah pemuda tertutup, pilih-pilih teman, penyendiri, menyukai musik dan buku, dan sangat percaya pada kata hatinya sendiri. Novel ini kian sendu karena tiga tokohnya bunuh diri; Kizuki, Naoko, dan Hatsumi (kekasih Nagasawa, teman Wanatabe yang doyan tidur dengan perempuan).

Novel ini banyak mengulas buku yang dibaca, penulis yang digemari, dan juga musik yang didengarkan Wanatabe. Haruki Murakami memang seorang penyuka musik. Entah terkait entah tidak dan mungkin karena itu pula novel ini diberi judul “Norwegian Wood”, satu tembang yang ditulis John Lennon dipopulerkan oleh The Beatles. Dalam cerita, lagu ini sangat disukai Naoko yang di sebuah pusat rehabilitasi berteman dekat dengan Reiko Ishida yang pandai bermain musik dan sering menyanyikan lagu ini untuk Naoko–dan belakangan untuk Wanatabe.

Ruang-ruang gelap dan dingin dalam buku ini memuncak saat Naoko bunuh diri di sebuah hutan yang sepi dan Wanatabe yang uring-uringan menggelandang dan melecut-lecut batinnya sendiri dari satu kota ke kota lain demi “melarikan diri” dari kesedihannya setelah kematian Naoko. Novel ini bicara tentang banyak sekali kehilangan. Kehilangan demi kehilangan yang sepertinya hanya orang yang kehilangan saja yang bisa memahami betapa sakitnya ketika sesuatu dicerabut dari diri mereka.

Saya tak tertarik mengulas kehilangan-kehilangan yang dihadirkan dalam novel ini lebih jauh, karena saya bukan pengulas yang baik. Sebagai penulis, ada banyak yang bisa saya pelajari dari gaya menulis Haruki Murakami terutama “Norwegian Wood”, dan sayangnya saya tidak bisa mengungkapkannya di sini. Saya kini sedang berjuang mendapatkan buku-buku Murakami lainnya, mudah-mudahan yang berbahasa Inggris. Oh, ya, saya juga sudah nonton versi film dari novel ini (terima kasih YouTube!), dan berniat membandingkan keduanya suatu hari nanti.[]

Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Terbit: Mei 2013, (Cetakan ke-4)
Tebal: 426 hal.

Memang Jodoh

Novel Terakhir Pengarang Sitti Nurbaya

WARTAWAN Majalah Tempo, Iqbal Muhtarom, mewawancarai saya tentang proses penyuntingan novel “Memang Jodoh” karya Marah Rusli. Berikut petikannya:

Bagaimana proses editing naskah novel yang sudah selesai ditulis pada tahun 1961 tersebut? Apa tantangan mengedit naskah yang sudah terbit lebih dari 50 tahun lalu?

Bagi saya, naskah “Memang Jodoh” ini termasuk naskah kelas berat. Artinya, naskah yang sulit untuk disunting. Kalimatnya panjang-panjang, dan banyak sekali ungkapan, kalimat, atau kata yang tidak “asing” atau jarang dibaca atau didengar oleh pembaca sekarang. Banyak pula kata-kata yang belum baku, masih merupakan bahasa asli Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia.

Berapa lama Anda butuhkan menyunting naskah novel?

Naskah ini saya sunting lebih kurang selama 2,5 bulan.

Pada bagian apa saja yang Anda edit, sunting, dalam naskah novel?

Penerbit meminta saya menjadikan naskah ini lebih ringan buat pembaca. Namun, saya sekaligus diminta untuk tidak menghilangkan gaya bercerita khas a la Marah Rusli seperti dalam novel beliau yang lain semisal Sitti Nurbaya. Kalimat yang panjang saya pecah menjadi beberapa kalimat pendek tanpa merusak isi dan maksudnya; saya juga membuat catatan kaki untuk kata/ungkapan agar lebih mudah dipahami pembaca.

Adakah kata-kata yang Anda ubah ejaannya, yang Anda sesuaikan dengan kondisi sekarang?

Di naskah yang saya terima, ejaan yang digunakan sudah EYD. Jadi, tidak ada ejaan lama dalam naskah Memang Jodoh yang saya terima dari penerbit. Kalaupun ada yang saya ganti atau ubah hanya beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” yang maksudnya “sekolah swasta”. Selagi kata yang dipakai masih bisa dipahami pembaca—meskipun kurang populer—saya akan mempertahankannya dan memberi catatan tentang kata tersebut.

Kesulitan apa yang Anda alami ketika menyunting naskah novel Memang Jodoh ini?

Kesulitannya hanya dalam mencari arti kata-kata yang tak saya temukan artinya di dalam kamus.

Dalam novel ini terdapat catatan kaki, apakah catatan kaki itu dari Anda? Mengapa diperlukan catatan kaki? Hal-hal apa saja yang Anda perlukan untuk diberikan catatan kaki?

Ya, catatan kaki itu dari saya, dan beberapa lagi ditambahkan oleh penerbit. Ya, tentu saja diperlukan, karena kalau saya biarkan tanpa catatan, pembaca akan merasa asing dengan kata yang dipakai oleh pengarangnya. Saya memang tidak berani mengubah kata-kata tersebut ke konteks sekarang, karena saya dan penerbit memang ingin tetap seperti itu. Nah, dengan catatan kaki inilah kita membantu pembaca untuk memahaminya.

Bisa diceritakan proses penerbitkan novel Memang Jodoh ini, mengapa Qanita bisa menerbitkannya? Apakah keluarga Marah Rusli yang menawarkan? Kapan tawaran itu diberikan?

Pertanyaan ini lebih tepat dijawab oleh penerbit.

Berdasar wawancara kami dengan keluarga Marah Rusli, terdapat salah penulisan Merah Hamli, yang seharusnya ditulis Marah Hamli? Meskipun menurut cucu Marah Rusli, dalam naskah aslinya memang ditulis Merah Hamli.

Ya, dalam naskah yang saya terima, memang ada dua versi penulisan nama tersebut: Merah Hamli dan Marah Hamli. Namun, kekeliruan ini sudah diluruskan dan diperbaiki.

Apakah Anda membaca naskah asli dari novel ini yang ditulis dalam Arab gundul? Juga naskah yang ditulis Marah Rusli yang sudah ditulis dalam huruf latin?

Tidak, naskah yang saya terima dari penerbit adalah naskah yang sudah ditik ulang. Saya juga baru tahu kalau naskah aslinya dalam bahasa Arab gundul.[]

Judul: Memang Jodoh
Pengarang: Marah Rusli
Penyunting: Melvi Yendra
Penerbit: Qanita, 2013
Tebal: 535 halaman

buku-wajah-politik-muawiyah-bin-abu-sufyan

Sahabat Nabi Paling Kontroversial

Foto: Dakwatuna.com

MUAWIYAH bin Abu Sufyan adalah satu di antara sahabat Nabi Saw. yang paling kontroversial. Dia lahir dari kedua orangtua yang sebelumnya sangat memusuhi Islam: Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah. Sikapnya terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib, dianggap makar dan tergolong bughat (pemberontak). Tindakannya mengangkat putranya Yazid sebagai khalifah, dituding telah menciptakan sistem baru yang tak pernah ada sebelumnya.

Di sisi lain, jasa Muawiyah tak bisa dipungkiri. Pencatat wahyu ini tak hanya mampu mengakhiri konflik antar kaum Muslimin di masanya, tapi juga berhasil menancapkan pondasi sebuah dinasti yang telah memberikan begitu besar jasanya bagi dunia Islam: Dinasti Umayyah.

Maka, sosok Muawiyah pun mendapat banyak sorotan. Di satu sisi, ada yang membencinya habis-habisan. Berbagai julukan ditabalkan. Dia disebut licik, culas, musang berbulu domba, bahkan pengkhianat!

Di satu pihak, kita justru menemukan banyak “nash” tentang keutamaan sahabat Nabi Saw. ini. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Tentara dari umatku yang mula-mula berperang mengarungi lautan sudah pasti mendapat surga,” (H.R. Bukhari dan Muslim). Dan, Muawiyah adalah pemimpin armada angkatan laut umat Islam pertama di masa pemerintahan Usman bin Affan.

Ketika mengangkatnya sebagai Gubernur Syam, Umar bin Khattab berkata, “Janganlah kalian menyebut Muawiyah kecuali dengan kebaikan.” Saat ditanya tentang mana yang lebih utama antara Muawiyah dan Umar bin Abdul Aziz, Abdullah bin Mubarak menjawab, “Demi Allah, debu yang berada di lubang hidung Muawiyah karena berjihad bersama Rasulullah Saw., lebih baik daripada Umar bin Abdul Aziz!”

Buku ini menguak biografi singkat Muawiyah bin Abu Sufyan dan segala kontroversi yang melingkupi dirinya. Juga tentang kronologis terjadinya Perang Shiffin, perang saudara yang menorehkan tinta hitam dalam lembar sejarah Islam.[]

Presiden yang Hafal Qur’an

Image

Judul: DR. Mursi, Presiden yang Hafal Qur’an
Penulis: Hepi Andi Bastoni, dkk.
Penerbit: Pustaka Al-Bustan, Bogor.
Cetakan Pertama: Juli 2012

Dia lahir dari keluarga sangat sederhana di Desa al-Adawa, Provinsi asy-Syarqiya, Mesir bagian timur pada 20 Agustus 1951. Ayahnya petani dan ibunya seorang perempuan rumah tangga. Setelah mendapat gelar insinyur dari Universitas Kairo pada 1975, kemudian gelar master di bidang teknik di universitas yang sama, pria ini melanjutkan pendidikannya di University of Southern California, dan mendapat gelar doktor pada 1982 dari universitas tersebut. Continue reading “Presiden yang Hafal Qur’an”

buku

Buku dan Kenangan

Sebuah buku ternyata membawa banyak kenangan. Ia datang ke dalam hidup kita, bisa dengan cara tiba-tiba (seperti hadiah ulang tahun, misalnya), atau memang sudah diidam-idamkan sejak lama. Atau ia kita temukan secara tidak sengaja di toko buku, tanpa pernah kita rencanakan sebelumnya. Ia kemudian “ditakdirkan” menjadi milik kita, dan kita “ditakdirkan” memilikinya.

Sebuah buku kadang hadir sebentar saja dalam hidup kita. Ia kita akrabi cuma beberapa hari saja. Setelah selesai kita baca, kita melemparnya ke dalam kardus, atau disisipkan ke dalam rak buku (kadang di sudut terjauh) dan tak pernah kita sentuh lagi selamanya. Kadang-kadang kita sering lupa namanya (judulnya), dan sering pula lupa apakah kita pernah memilikinya. Konyolnya, kita kadang membeli buku yang sama dua kali, saking tidak ingatnya kalau kita pernah memilikinya.

Namun, ada pula buku yang “beruntung”. Ia menjadi kesukaan semua orang. Bahkan ketika ia hadir di tengah-tengah keluarga, semua anggota keluarga ingin menjadi yang pertama membacanya. Saking sukanya, kita suka mengulang-ulang membaca halaman yang sama, atau membaca lagi keseluruhan buku sampai kita benar-benar puas. Kita membicarakannya di kelas dengan teman-teman, menghadiahkannya kepada orang yang kita sayangi, atau begitu sedih ketika buku itu hilang dari rak buku kita di kamar. Kadang-kadang pula, kita ingin suatu saat bisa menulis buku seindah dan sehebat itu.

Dalam hidup saya, saya memiliki beberapa buku yang benar-benar penuh kenangan. Penuh kenangan dalam definisi saya adalah: buku yang mengesankan, buku yang saya miliki dilatari peristiwa “bersejarah”, buku yang memengaruhi hidup saya, dan buku yang membuat saya berubah.

Bagaimana dengan Anda?]

Andrea: Sebuah Puzzle Romansa

doc penerbit al-bustan

Judul: Andrea
Pengarang: D.A. Andiny
Penyunting: Melvi Yendra
Penata Letak dan Pewajah Sampul: Yudiarto Iskandar
Penerbit: Pustaka Al-Bustan
Cetakan 1: Juli 2011
Tebal: 300 hal. (13,5 x 20,5)

Novel sepanjang 300 halaman ini berkisah tentang Andrea, seorang gadis yang telah kehilangan satu-satunya cinta yang dikenalnya, Rio. Rasa itu terenggut saat Rio pergi dari hidupnya dan menikah dengan gadis asing yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam kehidupan mereka.

Andrea tak bisa menerima cobaan itu. Mencoba bertahan hidup dengan kondisi waras adalah hal tersulit baginya. Gadis ini makin labil dan kehilangan arah. Namun, seseorang muncul dalam hidupnya: Nadia, seorang pianis buta berparas jelita. Tapi kehadiran Nadia bukannya menyembuhkan lukanya, tapi menyeretnya ke jurang ketidakwarasan yang lebih menggila. Nadia jatuh cinta pada Andrea, dan tak ingin melepaskan gadis itu dari hidupnya.

Andrea terlena, mabuk, dan tidak bisa menolak gelora yang ditawarkan sosok Nadia yang memesona. Keduanya pun tenggelam dalam kubang rasa yang tidak mereka pahami.

Andrea adalah kisah pencarian identitas seorang gadis yang terempas di lautan kegalauan, terombang ambing oleh derasnya debur ombak patah hati.

Mas Ahmad Gozali, perencana keuangan Safir Senduk dan Rekan memberi endorsment untuk novel ini: “Buku yang Anda pegang adalah sebuah puzzle romansa. Penceritaannnya cerdas dan bikin penasaran.”

Nah, tunggu apa lagi?[]