Unsung Hero1

Unsung Hero, Dinda, dan Kita

BEBERAPA hari lalu, saya nonton sebuah TV Commercial (TVC) di situs YouTube yang di-share banyak orang baik di Twitter maupun Facebook. Iklan milik sebuah perusahaan asuransi di Thailand ini diberi judul “Unsung Hero”, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Situs 9GAG.tv melabeli TVC ini dengan judul yang menarik perhatian: This Heartwarming Thai Commercial Will Make You Cry. Inilah yang membuat saya penasaran dan ingin membuktikan; benar nggak sih saya bisa nangis lihat iklan ini?

Adalah seorang pemuda, orang Thailand, seorang pegawai rendahan sepertinya, yang melakukan beberapa hal yang berulang-ulang setiap hari, hal-hal yang mungkin sebagian besar kita juga pernah melihat atau “berhadapan” langsung dengannya, tapi mungkin luput kita perhatikan dan luput menyentuh kita untuk berbuat sesuatu.

Pertama, pemuda ini menemukan sebuah “kesia-siaan” air yang terbuang percuma dari saluran pembuangan sebuah rumah di ruko berlantai dua di pinggir jalan. Tak jauh dari tempat air itu jatuh, ada pot dengan setangkai bunga yang sudah mati kekeringan. Pemuda bertampang ndeso ini menarik pot bunga itu sedikit, sampai tumpahan air tepat menyirami rerantingnya yang sudah kerontang.

Kedua, adalah seorang Ibu Pendorong Gerobak Dagangan–sebut saja begitu–yang tak kuat mengangkat gerobak dagangannya yang berat memanjat trotoar. Kembali, si Unsung Hero ini datang menjadi pahlawan, dan membantu si Ibu Dagangan Gerobak menyelesaikan persoalan kecilnya.

Ketiga, saat makan siang di warung pinggir jalan, si pemuda didatangi seekor anjing tak bertuan, anjing lapar tentunya, dan si pemuda memberikan seluruh ayam yang jadi lauk makan siangnya pada di anjing. Hal ini membuat si pemilik warung tergeleng-geleng heran.

Keempat, ia bertemu dua pengemis perempuan, yang satu dewasa, satu lagi masih kecil, ibu dan anak pastinya. Di depan keduanya ada tulisan “For Education” (dalam bahasa Thailand). Si pemuda mengeluarkan dompet dan satu detik kemudian seluruh isi dompetnya berpindah ke dalam mangkuk di tangan si bocah perempuan. Di hari kedua, saat kembali memberi ibu-anak pengemis itu uang, pedagang kacamata tak jauh dari sana menggeleng-gelengkan kepala.

Unsung Hero

Kelima, saat sudah sampai di rumah, si pemuda diam-diam menggantung sesisir pisang di atas handel pintu sebuah petakan. Kita kemudian melihat, penghuni petakan itu adalah seorang nenek jompo, yang terheran-heran melihat ada pisang tanpa tuan di handel pintunya, tanpa tahu siapa yang meletakkannya di sana.

Keenam, di hari lain, si pemuda memberikan tempat duduknya di bus pada seorang perempuan muda yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka tak saling kenal, tapi lalu berbagi senyuman.

Enam hal itulah yang terjadi. Dan, rupanya, nasib membuat si pemuda ini bertemu lagi dengan Bunga Kering, Ibu Pendorong Gerobak Dagangan, Anjing Lapar, Sepasang Pengemis, Nenek Jompo, dan Perempuan yang Berdiri dalam Bus.

Sampai di sana, saya tak menemukan hal yang membuat saya harus menangis, atau paling tidak, berkaca-kaca. Tapi, adegan-adegan selanjutnya dari video berdurasi 3 menit 5 detik itu akhirnya berhasil membuat saya meneteskan air mata.

Apa yang terjadi? Di hari lain, saat mau memberi uang pada sepasang pengemis, si pemuda tak melihat si bocah kecil. Cuma ada ibunya di sana. Saat wajahnya masih bertanya-tanya, si pemuda mendengar suara bocah perempuan memanggil ibunya. Saat itulah, kemudian, film ini menayangkan adegan yang berhasil menyentuh perasaan saya. Saat si pemuda menoleh ke asal suara, ia melihat si gadis kecil, dalam pakaian sekolah, berdiri tak jauh darinya, dengan senyum malu-malu. Adegan inilah yang membuat mata saya berkaca-kaca.

Unsung Hero

Tapi, cerita belum selesai. Bunga Kering dalam pot di pinggir jalan akhirnya tumbuh segar lagi, bahkan berbunga, bahkan kemudian ada rama-rama hinggap di pucuknya. Si Anjing Lapar, suatu hari akhirnya mengikuti si pemuda pulang ke rumahnya, dan tinggal di sana. Si Nenek Jompo akhirnya tahu siapa pahlawan tak dikenalnya, dan atas kebaikannya itu, si pemuda mendapat pelukan hangat dari tubuh ringkihnya. Video ini selesai.

Saya lalu merenung. Oke, ini hanya sebuah iklan, bukan kisah nyata, yang dibuat sedemikian rupa hanya agar orang tersentuh. Oke, ini Thailand, bukan Indonesia, dan di sini, kita dilarang memberi uang pada pengemis di jalanan. Oke, mungkin saya yang cengeng dan terlalu gampang mengumbar air mata. Tapi coba Anda lihat gambar hasil screenshot di bawah ini:

ibu-hamil

Ya, pagi ini saya membaca kehebohan yang muncul dari komentar seseorang bernama Dinda di akun Path-nya, yang melontarkan kebencian dan kekesalannya pada perempuan hamil di atas kereta yang ujuk-ujuk minta tempat duduk, dan “tak mau usaha”. Nama Dinda langsung ramai dibincangkan, ia bahkan di-bully atas komentarnya itu. Beberapa temannya mendukungnya, tapi sebagian besar orang mencaci maki komentarnya itu.

Saya berpikir, ternyata rasa perisa orang Indonesia benar-benar mulai hilang. Mungkin saya salah, dan kasus Dinda memang tak bisa dijadikan ukuran untuk menyebut bangsa kita sudah kehilangan hati nurani. Saya memang tak bisa main pukul rata begitu saja. Tapi paling tidak, buat saya, apa yang dilontarkan Dinda adalah sedikit dari “ketidakpedulian” yang akhirnya bocor ke permukaan, ketidakpedulian yang berhasil menampakkan wajah aslinya, yang selama ini berhasil disimpan rapat-rapat entah di mana.

Kebencian yang dilontarkan Dinda di Path, adalah pucuk gunung es dari samudera ketidakpedulian kita pada sesama. Dinda barangkali hanya keceplosan memuntahkan kekesalan hatinya, dan dia sudah menerima akibatnya. Tapi selain Dinda, jutaan orang di negara ini sebenarnya memang tak peduli, bedanya, mereka tak keceplosan merutuk, ngomel, dan melontarkan kejijikannya pada perempuan hamil seperti Dinda.

Selama ini, jagad ketidakpedulian itu berhasil di simpan rapat-rapat, ditutup-tutupi dengan wajah-wajah palsu kita. Dalam bahasa ringkas, bangsa ini sebenarnya memang tak punya lagi kepedulian. Kita bukan pemuda lugu dalam video Unsung Hero. Bahkan kita mungkin adalah sosok-sosok seperti si Tukang Warung dan si Tukang Kacamata dalam video itu, yang cuma bisa menggeleng melihat seseorang berkorban demi orang lain. Semoga saya salah.

Dinda dan kita bukanlah si Unsung Hero. Kita tak pernah menyelamatkan hidup setangkai bunga bukan punya kita di pinggir jalan (ada yang pernah?). Kita tak pernah membantu ibu-ibu pedagang mendorong gerobaknya yang berat di tengah pasar ( ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi makan anjing lapar dengan sepotong daging ayam dari piring kita (ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi pengemis uang tanpa disertai perasaan curiga jangan-jangan ini pengemis gajinya dua-tiga kali lipat besarnya dari kita (ada yang pernah?). Dan, kita tak pernah peduli pada para tetangga kita yang hidupnya papa (ada yang pernah?).

Sebagian kita mungkin masih peduli. Tapi, mungkin, sambil merutuk di dalam hati. Jadi, Dinda dan kita, sebenarnya serupa tapi tak sama.[]

Damhuri Muhammad

Jarum dalam Timbunan Jerami*

oleh Damhuri Muhammad
Ketua Tim Juri KLA 2013

BEBERAPA bulan belakangan ini, sebuah jaringan toko buku besar yang sejak bertahun-tahun lalu telah menjadi tumpuan dalam penyebarluasan buku-buku sastra ke seluruh wilayah Indonesia, tidak lagi menyediakan tempat bagi buku puisi. Secara tegas mereka menolak penawaran dari penerbit-penerbit yang masih bersetia menerbitkan buku sastra. “Tidak punya nilai jual,” “tak mungkin jadi best-selling,” “hanya menyesaki rak,” demikian alasan klise yang mereka ajukan, atau barangkali lebih tepat saya sebut sinisme dari para saudagar buku. Tak sampai di situ, seorang petugas pencatat kerjasama penjualan konsinyasi di sebuah toko buku, bahkan pernah mengatakan, “berhentilah menerbitkan buku puisi. Lebih baik kita berjualan buku tentang masa-memasak, atau buku panduan jitu cara bersolek, yang sudah pasti laris.”

Akibatnya, buku-buku sastra, utamanya jenis puisi, semakin sulit untuk didistribusikan. Alih-alih terjual, untuk dapat terpajang di rak toko buku saja, sukarnya alang-kepalang. Banyak penerbit yang mengeluh lantaran pembatasan itu, meski mereka tetap bersetia pada buku sastra. Memang, sudah tak terhitung banyaknya penerbit yang terpaksa menghentikan produksi buku-buku sastra, namun tak terhitung pula berapa banyak yang bermunculan kembali. Begitulah, tarik-ulurnya minat dan jatuh-bangunnya apresiasi terhadap buku-buku sastra di republik yang konon telah melahirkan sastrawan-sastrawan besar dengan segenap penghargaan yang tersemat di dada mereka.

Sinisme terhadap buku sastra sebagaimana yang secara pongah ditunjukkan oleh para saudagar buku itu membuat saya, sebagai pekerja sastra, mungkin juga saudara⎯praktisi atau sekadar penyuka sastra⎯merasa telah dicibirkan, bahkan mungkin sekali sudah terhina. Kedigdayaan pasar yang tegak atas dasar pemberhalaan pada uang, bukan sekadar meremehkan, memandang sebelah mata, tetapi perlahan-perlahan sedang membinasakan dunia sastra. Betapa tidak? Sedemikian rendahnya puisi di mata para saudagar itu, sebegitu najisnya tumpukan buku-buku sastra di rak-rak toko buku milik mereka, hingga sedapat-dapatnya disterilkan dari keparat-busuk bernama “puisi”. Kalau soal laku, saya kira, kecap dan terasi adalah juga barang yang laku di pasaran. Tapi, sebagai anak kandung keadaban yang paling manusiawi, puisi tidak selayaknya ditakar dan ditimbang semata-mata dengan parameter laku-tak laku, apalagi dengan kalkulasi untung-rugi belaka.

Bagi saya, dalam kancah peradaban yang dikendalikan oleh kuasa pasar, buku laku belumlah tentu berarti buku bermutu. Tengoklah, ribuan karya-karya picisan yang sama sekali tidak dipancangkan di atas kedalaman pikiran, justru laris-manis seperti martabak terang-bulan. Sementara karya sastra⎯termasuk puisi⎯yang dilahirkan dengan segenap kejernihan dan pencapaian estetik mumpuni, justru tergeletak, tak tersentuh, lalu berdebu selama berbulan-bulan. Maka, inilah sebuah keadaban yang gandrung memuja kedangkalan, abai pada kejernihan, dan senantiasa bersuka-ria dengan segenap kepandiran.

Di titik inilah pentingnya apresiasi sebagaimana yang ditunjukkan oleh Khatulistiwa Literary Award (KLA). Dalam keriuhan suara yang memandang rendah dunia sastra di republik yang kementrian kebudayaannya sibuk menghambur-hamburkan uang negara dalam peristiwa-peristiwa seremonial berkedok gagasan kebudayaan, dan televisinya amat gandrung pada retorika politik bermuka dua ala Sutan Batoegana dan Ruhut Sitompul, KLA masih bertahan hingga tahun penyelenggaraan yang ke-13. Baik penerbit, maupun para pengarang, tetap bergairah mengirimkan karya-karya mereka, guna dibaca, diapresiasi, dan dipertimbangkan oleh tim juri. Tahun ini, tak kurang dari 70 judul buku prosa dan 40 judul buku puisi terhimpun dalam list penjurian. Jumlah yang cukup mencengangkan bila ditakar dengan klaim tentang kelesuan dunia sastra yang kerap mengemuka dalam berbagai perbincangan.

Peristiwa penghargaan sastra yang tentu saja berakibat pada hadiah yang menggiurkan, menurut hemat saya, tak sekadar mengantarkan piala bagi pemenang, namun yang jauh lebih penting adalah penegasan perihal mutu dan kedalaman. Dalam gelombang euforia para cerpenis koran yang tak henti-henti berlomba mengejar kuantitas pubikasi, dan iklim fabrikasi yang telah merasuki dunia penciptaan, setahun sekali KLA secara tidak langsung hendak mengingatkan, bahwa ada yang sedang terabaikan, atau bahkan tak dianggap penting lagi dalam proses kreatif, yakni kedalaman. Tengoklah akibat dari kelisanan yang tumpah-ruah dan begitu mewabah di dunia maya. Apa saja bisa dicerpenkan, dipuisikan, bahkan dinovelkan, tanpa kontemplasi dan penggalian-penggalian yang terukur. Seorang cerpenis bisa memproduksi belasan cerpen dalam sebulan, dan hampir setiap minggu bergentayangan di koran-koran, lalu bersuka-ria, berjingkrak-jingkrak, memuja-muja keseringan tampil itu di laman-laman media sosial. Bagaimana dengan pencapaian artistik? Kebaruan dan kedalaman gagasan? Karya-karya yang bermunculan bagai terjun-bebas, lalu karam dalam pusaran arus keberlimpahan, namun terpelanting sebagai sampah visual dengan usia tak lebih dari satu hari. Meski begitu, KLA gigih berupaya menemukan kedalaman di sepanjang sungai yang terus-menerus melesat menuju kedangkalan, mencari yang istimewa dalam keranjang yang sarat oleh barang-barang tiruan, mengais-ngais kilau berlian dalam kotak sampah peradaban. Kerja yang tak segampang membalik telapak tangan. Bagai mencari jarum yang hilang dalam timbunan jerami…

*Dibacakan pada acara Malam Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2013, Selasa, 26 November 2013, di Jakarta

“The Stupas of Borobudur”, foto
karya Prihanda Muhardika yang menjadi salah satu foto terbaik dalam "Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia"

Melestarikan Mahakarya Borobudur Sampai ke Hati

CANDI Borobudur berada di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah, lebih kurang 41 kilometer dari Yogyakarta dan 80 kilometer dari kota Semarang, Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh pegunungan Manoreh di sisi selatan, Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah utara serta terletak di antara Sungai Progo dan Sungai Elo. Candi Borobudur berdiri di atas bukit dengan ketinggian 265 dpl.

Mahakarya Borobudur
Mahakarya Borobudur

Sejarah mencatat, Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga yang memerintah tahun 782-812 M pada masa Dinasti Syailendra. Pembangunan tahap pertama dilaksanakan tahun 780 M. Selanjutnya tahap kedua dan ketiga diperkirakan berlangsung 792 M. Tahap pembangunan keempat terjadi 824 M dan tahap kelima pada 833 M.

Namun, meski dibangun pada abad VIII-IX Masehi, oleh sebab-sebab yang belum diketahui dengan pasti, Candi Borobudur kemudian ditinggalkan oleh masyarakatnya. Bangunan ini tak terjamah peradaban manusia dan kemudian terkubur selama lebih kurang 900 tahun sampai akhirnya pada tahun 1814, Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stanford Raffles, berkunjung ke Semarang dan menemukan tanda-tanda adanya candi di bawah sebuah bukit yang sudah dipenuhi pepohonan dan semak belukar. Saat bukit itu digali dan dibongkar, kondisi candi ini sudah setengah hancur dan memerlukan pemugaran total. Namun, upaya penyelamatan baru dilakukan setelah hampir seratus tahun kemudian, yaitu pada tahun 1907-1911 dengan dilakukannya pemugaran pertama oleh seorang perwira zeni Kerajaan Belanda bernama Theodoor van Erp. Setelah dipugar, kondisi candi sudah lebih stabil, namun masih memerlukan pemugaran lebih lanjut, namun kondisi dunia yang dipenuhi gejolak perang pada saat itu membuat perhatian terhadap candi ini terabaikan. Barulah pada tahun 1973-1983, pemugaran terhadap Candi Borobudur kembali dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan UNESCO.

Pemeliharaan dan pemugaran candi dalam skala kecil tetap dilakukan sampai sekarang.
Pemeliharaan dan pemugaran Candi Borobudur dalam skala kecil tetap dilakukan sampai sekarang.

TAHUN ini, saya berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur sebanyak dua kali; dua-duanya dalam rangka penelitian dan riset untuk penulisan naskah film bertema Borobudur. Selama masa riset, tim kami didampingi berbagai pihak, baik instasi pemerintah maupun lembaga-lembaga sosial-budaya setempat. Bahkan, khusus untuk memaparkan bagaimana Candi Borobudur dipugar pada tahun 1973-1983, kami didampingi oleh Bapak Ismijono, Kepala Pemugaran Candi Borobudur pada masa itu.

Saya (paling kanan) bersama anggota tim riset film Borobudur berfoto bersama Bapak Ismijono (paling kiri), mantan Kepala Pemugaran Candi Borobudur 1973-1983
Saya (paling kanan) dan anggota tim riset film Borobudur berfoto bersama Bapak Ismijono (paling kiri), mantan Kepala Pemugaran Candi Borobudur 1973-1983

Tak bisa dibantah, Borobudur adalah mahakarya yang teramat memesona. Bukan bagi masyarakat Indonesia saja, tapi juga masyarakat seluruh dunia. Borobudur dibangun dengan perencanaan yang matang, dan memerlukan waktu puluhan tahun untuk menyelesaikannya. dikagumi oleh pengunjung dari seluruh dunia. Tak sedikit lembaga atau instansi asing yang melakukan riset dan penelitian terhadap candi ini serta seluruh aspek yang melingkupinya. Bahkan, belakangan, para sineas dari luar negeri tertarik untuk memfilmkan candi ini atau menjadikan Candi Borobudur sebagai latar cerita dalam film-film mereka.

Kekaguman saya pada monumen ini tak habis-habis sejak dulu. Sejarah mencatat Borobudur yang dibangun pada sekitar abad VIII-IX Masehi ini menjadi bukti bahwa wilayah Jawa Tengah pernah mengalami masa-masa kejayaan sehingga mampu membangun sebuah candi yang teramat megah yang masyhur ke seluruh dunia. Jauhnya rentang masa itu dengan masa sekarang, dapat disimpulkan, nenek moyang kita ternyata manusia-manusia luar biasa, memiliki pemikiran yang cerdas, yang dengan teknologi masa itu yang sangat terbatas mampu mendirikan bangunan semegah Candi Borobudur.

Kini, setelah 100 tahun pascapemugaran yang pertama dan pemugaran yang kedua, kondisi Candi Borobudur sudah jauh lebih stabil. Teknologi memudahkan pemantauan perubahan struktur bangunan dalam skala tertentu yang terjadi pada bangunan Candi Borobudur. Sempat muncul kekhawatiran saat erupsi Merapi tahun 2010 lalu, karena abu vulkanik yang disemburkan Gunung Merapi yang menutupi seluruh bangunan candi diduga akan merusak batu andesit yang menjadi bahan utama bangunan candi. Namun, upaya pembersihan sudah dilakukan oleh para ahli, dan dinyatakan bangunan Candi Borobudur tidak mengalami kerusakan.

Candi yang pernah menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia ini kini telah diwariskan oleh leluhur kepada kita, anak bangsa yang masih hidup. Semangat untuk selalu melestarikan Candi Borobudur yang sudah dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai masa sekarang tentulah harus terus dilanjutkan di masa-masa yang akan datang. Dengan begitu, keberadaan Candi Borobudur sebagai salah satu karya budaya nenek moyang bangsa Indonesia akan dapat diwariskan terus kepada generasi selanjutnya.

Upaya Dji Sam Soe menggelar ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap mahakarya buatan manusia Indonesia, termasuk tentunya Candi Borobudur. Ajang ini memberikan peluang kepada putra-putri bangsa untuk ikut andil dalam mengapresiasi puncak hasil kreatifitas manusia nenek moyang yang tetap berangkat dan berpijak dari tradisi / kearifan lokal Indonesia dan seluruh ciptaan Tuhan dengan keunikannya masing-masing yang masih bertahan, bahkan berkembang di era modern saat ini.

Kemegahan Candi Borobudur bukan hanya untuk dinikmati pesonanya, tapi juga untuk dipelajari sejarah pembangunan dan filosofi dan kearifan lokal di masa lampau yang terkandung di dalam relief-reliefnya. Mewariskan benda budaya bukan hanya dengan menjaga kelestarian fisik bangunannya, tetapi, yang paling utama adalah bagaimana melestarikannya di hati dan di dada seluruh anak bangsa. Seperti kata Pak Ismijono pada saya, “Banyak peradaban di dunia bermimpi memiliki monumen mahakarya seindah Borobudur, kita yang sudah ditakdirkan memiliki, jangan sampai menyia-nyiakannya.”[]

AFI 2013_20131104_200431

Malam Anugerah Film yang Biasa-Biasa Saja

SAYA dan Ilma Fathnurfirda sudah sampai di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta, beberapa menit sebelum pukul 18.30 WIB, Senin (4/11) kemarin itu. Di undangan tertera acara dimulai jam segitu. Saya bertemu Ilma di tempar parkir, persis di samping mesin genset yang mensuplai listrik ke panggung dan seluruh tempat acara. Selain saya, ada dua teman lainnya yang juga diundang dalam acara bertajuk Malam Anugerah Apresiasi Film Indonesia 2013 (AFI 2013), tapi mereka belum kelihatan batang hidungnya.

“Acaranya di sini?” tanya saya pada Ilma.
“Iya,” sahut Ilma. “Emang kenapa?”
“Kirain di gedung. Kok mirip acara kawinan, ya?” kata saya lagi. Ilma cuma tersenyum.

Undangan AFI 20131106_072127

Melihat lokasi acara masih sepi dan parkiran mobil hanya berisi belasan mobil, saya langsung berpikir sepertinya saya keliru memasang ekspektasi saya tentang acara ini. Ada sebuah panggung utama, yang dalam hitungan saya agak kecil dari yang seharusnya. Di depannya ada sebuah tenda putih yang juga tak terlalu besar, yang berisi jejeran kursi, paling-paling hanya bisa menampung 150 orang, setara dengan tiga buah bus besar yang diparkir berdampingan. Lalu, di belakang tenda besar itu, ada beberapa tenda kecil, yang di dalamnya ada meja dan kursi, yang sepertinya disediakan untuk tempat makan tamu VIP dan VVIP. Lalu ada tenda-tenda berisi jenis-jenis makanan untuk makan malam para undangan. Lalu ada sebuah tenda ukuran kecil juga yang dipakai sebagai ruang pameran napak tilas perfilman Indonesia sejak zamannya Asrul Sani, Sukarno M. Noor, dan lain-lain. Yang paling mengejutkan saya adalah toiletnya. Ya, toiletnya, Saudara-saudara! Kalau Anda pernah tahu toilet portabel, ya, toilet seperti itulah yang disediakan panitia.

Menjelang pukul tujuh, wajah-wajah familiar mulai kelihatan. Slamet Rahardjo, Deddy Mizwar, Riri Riza, Erwin Arnada, para juri AFI 2013, dan para pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, tuan rumah ajang ini.

Saya dan Ilma berkeliling mencari-cari jajanan untuk mengisi perut. Saya makan sate Padang (“Pak, ini asli Padang nggak satenya?”) dan Ilma milih siomay. Masih saja sepi. Begitu panitia mulai manggil-manggil para tamu karena acara akan dimulai pun, kami memasuki tenda yang masih kosong. Bahkan sampai acara akan berakhir, masih banyak kursi yang tak ditempati.

Acara dipandu Dik Doank dan Terry Putri dan seluruh musik disuplai oleh Purwacaraka Orkestra dan disiarkan live oleh Stasiun Kesayangan Kita Bersama, TVRI. Keseluruhan performance terasa biasa-biasa saja, kecuali monolog segar Butet Kartaredjasa yang mungkin membuat kuping para petinggi Depdikbud panas. Dan ada satu kejadian–kalau tak mau disebut insiden–saat salah seorang filmaker yang menerima anugerah kategori anu memasukkan piala yang dia terima ke dalam kantong kresek dan menentengnya seperti baru membeli gorengan di pinggir jalan. Haha. Ada-ada saja.

Begitu Mas Butet selesai monolog, saya merasa lapar. Sambil berencana sekalian pulang, saya mengajak Ilma makan. Saya milih gudeg Jogja yang lumayan enak, tapi begitu selesai makan, saya tidak menemukan satu gelas pun air putih. Pas seorang mas-mas yang tampaknya orang katering lewat saya nanya, “Mas, air putihnya masih ada nggak?” dia menjawab, “Sebentar ya, Pak, lagi diambil.” Untungnya saya tidak sendirian. Ada beberapa orang lagi yang setelah makan tampak kesal karena tak ada air putih. Sampai saya pulang, air putih yang saya minta tidak kunjung datang. Saya baru bisa minum ketika sudah di mobil dalam perjalanan pulang.

Buat yang penasaran siapa saja Penerima Penghargaan Apresiasi Film Indonesia 2013, berikut daftarnya:

Apresiasi Film Bioskop: “Atambua 39 Derajat Celcius”
Apresiasi Film Independen Umum: “Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya” (Yosep Anggi Noen)
Apresiasi Film Dokumenter: “Denok & Gareng” (Sutradara : Dwi Sujanti Nugraheni)
Apresiasi Film Pendek : “Halaman Belakang” (Sutradara : Yusuf Radjamuda)
Apresiasi Film Adi Karya : “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” (Sutradara : Asrul Sani)
Apresiasi Adi Insani : Garin Nugroho
Apresiasi Sutradara Perdana : Yosep Anggi Noen (“Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya”)
Apresiasi Komunitas: Cinema Lovers Community (Purbalingga)
Apresiasi Poster Film Bioskop: “5 CM.”
Apresiasi Media Cetak : Tabloid Bintang Indonesia
Apresiasi Media Non Cetak : http://www.filmindonesia.or.id
Apresiasi Lembaga Pendidikan : Institut Kesenian Jakarta
Apresiasi Festival Film : HelloFest
Penghargaan Khusus Dewan Juri: “Langka Receh” (Eka Sulistiawati)

Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.

Mudik 2013: 1380 Kilometer Nan Lancar

TAHUN ini, untuk pertama kalinya saya mudik ke kampung halaman saya, Payakumbuh dengan menyetir kendaraan sendiri, bergantian dengan seorang keluarga jauh yang saya minta menemani. Menyetir sendiri siang-malam sejauh 1380 kilometer melewati hutan-hutan sepi di sepanjang lintas Sumatera tentu bukan pilihan yang bijak, apalagi saya mengajak anak-istri dan seorang ponakan.

Berangkat dari Depok pada Selasa malam 30 Juli 2013 pukul 19.00 WIB, kami sampai dengan selamat di kampung halaman pada Kamis pukul 11.30 WIB. Itu berarti sekitar 40,5 jam perjalanan. Menggunakan sebuah SUV Toyota bermesin 1500 cc, saya menghabiskan sekitar Rp 870 ribu untuk bensin (+/- 133 liter, diisi ulang 3 kali selama perjalanan). Untuk tol sekitar Rp 50.000, untuk bayar kapal ferry Rp 275 ribu, dan untuk makan selama perjalanan sekitar Rp 300 ribu. Bila dihitung total jenderal, biaya perjalanan “hanya” sekitar Rp 1.500.000 saja. Uang segitu setara dengan tiket pesawat Jakarta – Padang untuk satu orang. Lumayan hemat, kan?

Saya memilih rute Lintas Tengah Sumatera, yaitu:

Pelabuhan Bakauheni
Bandar Jaya
Martapura
Baturaja
Muara Enim
Lahat
Tebing Tinggi
Lubuk Linggau
Sarolangun
Bangko
Muara Bungo
Darmasraya
Sijunjung
Payakumbuh

Di antara kota-kota/kabupaten-kabupaten di atas, yang paling rawan kejahatan adalah Lahat dan Lubuk Linggau, tapi alhamdulillah saat melintasi kawasan itu, kami lewat tanpa halangan apa pun juga. Di antara kota-kota di atas, yang paling parah kondisi jalannya adalah Bandar Jaya. Sebagian besar jalan di daerah ini tidak layak. Sementara kota-kota lainnya kondisi jalannya mulus.

Di pintu tol Jakarta Merak
Di pintu tol Jakarta Merak
Pintu masuk Pelabuhan Merak.
Pintu masuk Pelabuhan Merak.
Rehat sejenak di SPBU Bandar Jaya.
Rehat sejenak di SPBU Bandar Jaya.
Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.
Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.
Masjid Al-Ikhwan Sungai Rumbai Jambi. Perhentian terakhir sebelum kampung halaman.
Masjid Al-Ikhwan Sungai Rumbai Jambi. Perhentian terakhir sebelum kampung halaman.
Sumber gambar: http://bloopendorseinside.com

Saya dan Hikayat Sebuah Mesin Jahit Tua

MALAM ini, entah kenapa, kepala saya dipenuhi gambar-gambar mesin jahit. Bukan mesin jahit yang sudah modern dan canggih seperti yang dipakai orang sekarang, tapi mesin jahit tua, dengan sabuk dan pedal, dengan bau minyak dan aroma kainnya. Tiba-tiba saya merasa harus menyampaikan sebuah kisah pada Anda.

Saya—sedikit atau banyak—hidup bersama mesin jahit. Waktu balita, saya dan kakak lelaki saya sering dibawa ke kedai oleh ayah saya yang seorang tukang jahit. Bukan perjalanan wisata tentunya, karena hampir tiap hari kami dibawa ke kedai. Bukan perjalanan wisata namanya kalau dilakukan setiap hari, bukan? Itu semacam pembagian tugas antara Ibu dan Ayah, karena saat itu kami belum punya pembantu yang bisa menjaga kami di rumah.

Tiap hari (kecuali hari Minggu), begitu lelah bermain benang atau perca kain, saya atau kakak saya, tidur siang di kolong meja gunting. Meja gunting adalah sebutan Ayah untuk sebuah meja setinggi perut dengan panjang dua setengan meteran dan lebar satu meteran yang digunakan Ayah untuk memotong kain. Di bawah meja itu tidak ada apa-apa selain sebuah ruang kosong yang muat untuk kami yang masih kecil-kecil tidur berdua.

Sedikit lebih besar, ketika kaki-kaki saya dan kakak saya mulai bisa menjangkau pedal mesin jahit, Ayah mulai mengajari kami menjahit. Sebuah aktivitas, yang kalau saya pikir-pikir, teramat mengasyikkan untuk anak kecil seusia kami. Memasukkan benang ke lubang jahit, memutar pedal tangan, mengayuh pedal kaki, alangkah menyenangkannya. Begitu pedal dikayuh, jarum jahit menghunjam lubang jahit turun-naik, menarik dan mengaitkan benang, menyambung-mengikat-menjerat dua sisi kain yang akhirnya bisa disatukan.

Setelah matang berlatih menjahit kain perca, Ayah menyuruh kami menunaikan tugas sungguhan pertama: menjahit bendera. Menjahit bendera adalah bagian paling ringan dan paling kecil risikonya. Anda tinggal menyambung dua helai kain dua warna, merah dan putih, melipat keempat sisinya, memberi tiga atau lima kain ikatan di salah satu sisinya, dan jadilah ia sebuah bendera. Di awal-awal bulan Juli seperti sekarang, beberapa minggu sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI, sudah banyak pelanggan yang datang mencari bendera, dan itu adalah masa-masa “bekerja” pula bagi saya dan kakak saya. Itu pulalah masa-masa kami mencari uang jajan tambahan, dengan keringat kami sendiri.

Sedikit lebih besar lagi, saat duduk di kelas dua SMP (dan kakak lelaki saya di kelas tiga SMP), Ayah mulai menurunkan ilmu menjahitnya pada kami berdua, mulai dari bagaimana memilih kain dan benang, bagaimana mengukur kemeja dan celana, bagaimana membuat pola, dan bagaimana memotongnya, dan mulai menjahitnya.

Sebenarnya, menjahit itu dibagi ke dalam dua bagian kemahiran. Pertama, kemahiran menjahit. Kedua, kemahiran mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Di antara dua kemahiran ini, ilmu kedua memiliki strata lebih tinggi. Ketika ingin jadi seorang penjahit, Anda harus pandai terlebih dahulu menjahit. Kalau sudah mahir, Anda baru akan diajari bagaimana cara mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Paling tidak, seperti itulah yang diajarkan Ayah saya.

Awalnya, saya dan kakak saya, melakukan pemberontakan kecil-kecilan terhadap upaya Ayah “memaksa” kami belajar menjahit. Saya dan kakak saya tidak pernah bercita-cita jadi penjahit. Kami sudah cukup melihat betapa susahnya hidup dari profesi itu dijalani ayah kami. Dan, di antara saya dan kakak saya, sayalah yang paling kuat memberontak. Saya bilang pada Ayah, saya tidak punya bakat menjahit. Saya bilang, saya ingin jadi insinyur. Saya tidak ingin keluarga saya hidup susah kelak, sebagaimana Ayah membesarkan saya.

Namun Ayah berkata, “Kalau kamu tidak mau menjadi penjahit, tidak mau menjadikan ini sebagai mata pencaharian, tak apa. Tapi paling tidak, saat kelak hidupmu tiba-tiba susah, tiba-tiba kau terjepit hidup, kau bisa menjadikan ilmu menjahit ini sebagai ban serap, sampai kesempitanmu hilang.”

Kata-kata beliau itu lekat di kepala saya sampai hari ini. Dan satu lagi yang beliau pesankan pada saya dan kakak saya: “Meski nanti sudah jadi orang kaya, milikilah sebuah mesin jahit di rumah. Pasti bahagia rasanya, bisa sesekali melihat anak lelaki kalian memakai kemeja dan celana yang dijahit ayah mereka sendiri. Percayalah pada Ayah.”

Kata-kata itu tak pernah saya ikuti. Sampai sekarang, kalau ada keperluan memotong celana yang kepanjangan kakinya, atau baju yang terlalu longgar, saya pasti lari ke tukang jahit. Mengupah mereka untuk mengerjakan sesuatu yang sudah saya kuasai sejak saya masih kecil.

Sementara kakak saya, setelah berlika-liku mencari peruntungan dengan ijazah sarjananya, akhirnya memutuskan untuk menjadi penjahit seperti Ayah, tentu saja dengan skala yang berbeda. Kakak saya itu, bahkan ketika memutuskan menjadi penjahit, sudah merendam ijazah S1-nya, yang seingat saya, membuatnya ribut dengan Ibu saya dan istrinya selama berhari-hari.

Begitulah kenangan saya tentang sebuah mesin jahit. Kini, saat menulis tulisan ini, keinginan saya untuk memiliki sebuah mesin jahit manual tua (bukan mesin jahit listrik) kembali menggebu-gebu. Saya rindu mendengar derak-derik suara pedalnya, dan suara tik-tik saat benang kawin dengan benang, dan melihat putaran rodanya yang dulu sekali waktu kecil pernah menjepit jari-jari saya.[]

Ini sudut yang paling saya suka.

Paru-Paru Kecil

PAGI ini, tak direncanakan, saya mampir ke Taman Spathodea yang ada di Jalan Kebagusan Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Taman seluas satu hektar yang dibangun oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI pada 2011 ini punya 300 pohon Spathodea, sebuah jalur joging sepanjang 100 meter, sebuah danau buatan, dan lapangan bermain untuk anak-anak.

Sebuah taman kecil di tengah kawasan padat penduduk, tentu saja jadi seperti paru-paru kecil buat sebuah dada yang tengah sesak. Dua bintang saja. Lumayanlah.[]

Tampak depan. Itu mobil siapa, sih? Gangguin orang foto saja :-)
Tampak depan. Itu mobil siapa, sih? Gangguin orang foto saja 🙂
Sayangnya, parkirnya sempit.
Sayangnya, parkirnya sempit.
Pohon-pohon Spathodea itu.
Pohon-pohon Spathodea itu.
Jogging track-nya lumayan. Ada turun-naiknya.
Jogging track-nya lumayan. Ada turun-naiknya.
Danau kecil. Buatan. Agak butek.
Danau kecil. Buatan. Agak butek.
Pengumuman yang terkesan "nyampah".
Pengumuman yang terkesan “nyampah”.
Ini sudut yang paling saya suka.
Ini sudut yang paling saya suka.
Pemandangan dari tempat duduk di foto sebelumnya.
Pemandangan dari tempat duduk di foto sebelumnya.
Area bermain. Lumayan.
Area bermain. Lumayan.
Satu dari tiga area tempat duduk. Lumayan buat mojok, ya?
Tempat duduk kedua. Lumayan buat mojok, ya?
Demam Korea 608x400 1

Bagaimana Demam Korea Bermula?

ADAKAH remaja ABG (anak baru gede) Indonesia yang tak kenal SuJu (Super Junior) atau Girls Generation? Adakah di antara Anda yang tak kenal goyang Gangnam Style?

K-Pop (Korean Pop), bukan istilah yang asing lagi di Indonesia, terutama buat remaja. K-Pop adalah istilah yang lekat dengan musik populer asal Korea Selatan. K-Pop memiliki genre musik yang terdiri dari electropop, hip hop, pop, rock, dan R&B. Selain musik, K-pop telah tumbuh menjadi sebuah subkultur populer di kalangan remaja dan dewasa muda di seluruh dunia. Minat yang luas dalam mode dan gaya grup idola dan penyanyi Korea kini menjamur ke seluruh dunia.

Melalui halaman Facebook Fan Page, ketersediaan di iTunes, profil Twitter, dan video musik di YouTube, K-Pop mampu menjangkau khalayak yang sebelumnya tidak dapat diakses. Budaya pop Korea Selatan saat ini menjadi lokomotif utama budaya kaum muda di seluruh kawasan Lingkaran Pasifik, terlebih-lebih di daratan Cina, Hong Kong, Jepang, Taiwan dan Vietnam. Demam ini mirip demam musik Amerika saat merambah kawasan Eropa selama tahun 1980 dan 1990-an.

Bagaimana demam Korea ini bermula? Musik pop Korea pra-modern pertama kali muncul pada tahun 1930-an akibat masuknya musik pop Jepang yang juga turut memengaruhi unsur-unsur awal musik pop di Korea. Penjajahan Jepang atas Korea juga membuat genre musik Korea tidak bisa berkembang dan hanya mengikuti perkembangan budaya pop Jepang pada saat itu. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pengaruh musik pop Barat mulai masuk dengan banyaknya pertunjukan musik yang diadakan oleh pangkalan militer Amerika Serikat di Korea Selatan. Genre “oldies” yang dibawa musik Barat dan populer di era 60-an merupakan genre pertama yang mempengaruhi Musik Pop Korea. Cho Yong-pil, menjadi pionir genre musik rock Korea pada 1970-an. Selain itu, genre musik Trot yang dipengaruhi gaya musik Enka dari Jepang, juga cukup digemari pada zaman itu.

Penampilan pertama kelompok Seo Taiji and Boys di tahun 1992 menjadi awal mula musik pop modern Korea memberi warna baru dengan aliran musik rap, rock, dan techno. Sukses grup ini diikuti grup musik lain seperti Panic dan Deux. Tren ini turut melahirkan banyak grup musik dan musisi berkualitas lain hingga sekarang. Musik pop dekade 90-an yang cenderung beraliran dance dan hip hop memiliki pasar utama remaja, sehingga dekade ini muncul banyak grup “teen idol” yang sangat digilai seperti CLON, H.O.T, Sechs Kies, S.E.S, dan g.o.d. Kebanyakan dari kelompok musik ini sudah bubar dan anggotanya bersolo-karier.

Di tahun 2000-an, pendatang-pendatang baru berbakat mulai bermunculan. Aliran musik R&B serta Hip-Hop yang berkiblat ke Amerika mencetak artis-artis semacam MC Mong, 1TYM, Rain, Big Bang yang cukup sukses di Korea dan luar negeri. Beberapa artis underground seperti Drunken Tiger, Tasha (Yoon Mi-rae) juga memopulerkan warna musik kulit hitam tersebut.

Musik techno memberi nuansa modern yang tidak hanya disukai di Korea saja, penyanyi Lee Jung-hyun dan Kim Hyun-jung bahkan mendapat pengakuan di Cina dan Jepang. Musik balada masih tetap memiliki pendengar yang paling banyak di Korea. Musik balada Korea umumnya dikenal dengan lirik sedih tentang percintaan, seperti yang dibawakan oleh Baek Ji Young, KCM, SG Wannabe, dan sebagainya. Musik balada umumnya digemari karena sering dijadikan soundtrack drama-drama televisi terkenal seperti Winter Sonata, Sorry I Love You, Stairway to Heaven dan sebagainya.

Berdirinya talent agency terbesar Korea Selatan, SM Entertainment, pada tahun 1995 oleh pengusaha Korea, Lee Soo Man, memunculkan girls group dan boy band pertama. Pada akhir 1990-an, YG Entertainment, DSP Entertainment, dan JYP Entertainment ikut menghambur ke bisnis ini dan menghasilkan banyak anak muda berbakat yang dengan cepat dikonsumsi publik.

Berbagai artis Korea menangguk kesuksesan di dunia internasional seperti BoA yang menembus Jepang dan digemari di banyak negara. Kemudian artis-artis lain seperti Rain, Se7en, Shinhwa, Ryu Shi-won, dan sebagainya berlomba-lomba untuk menaklukkan pasar musik di Jepang. Rain tercatat sebagai artis Asia pertama yang mengadakan konser internasional bertajuk RAINY DAY 2005 Tour, di Madison Square Garden.

Memasuki 2011, K-Pop semakin populer di Jepang, Malaysia, Polandia, Meksiko, Filipina, Indonesia, Thailand, Taiwan, Singapura, Perancis, Irlandia, Cina, Kanada, Brasil, Chili, Kolombia, Argentina, Rusia, Spanyol, Jerman, Rumania, Australia, Vietnam, Inggris dan Amerika Serikat (termasuk Puerto Rico).

Demam Korea 608x400

Bicara soal demam Korea, sejak beberapa tahun terakhir, para penggemar K-Pop dan K-Drama dimanjakan oleh sebuah situs video streaming bernama Viki.com. Viki, menyuguhkan konten premium video-video drama, film, video musik, berita infotainment dari berbagai negara termasuk Korea. Sejak dua tahun terakhir, film-film Indonesia pun sudah mulai masuk ke Viki. Selain bisa diakses di perangkat komputer seperti laptop, tayangan-tayangan yang ada di Viki juga bisa diakses via perangkat mobile. Jadi, di mana pun Anda berada, Anda bisa terus mengikuti drama-drama yang ada di Viki. Bahkan Viki tidak hanya mempersembahkan drama-drama Korea yang tak tayang lagi, tapi juga drama-drama yang sedang diputar di televisi-televisi Korea, seperti “Full House Take 2”, “I Miss You”, “May Queen”, dll.

Uniknya, Viki.com bukan sekadar sebuah situs penyedia konten video. Semua fans Viki bisa berkontribusi dalam segmentasi dan penerjemahan teks video. Singkatnya, sebuah tayangan di Viki, bisa dinikmati dalam 125 bahasa di dunia dan semuanya merupakan kontribusi dari para fans Viki. Hebat![]

IBF 608x400

Inilah Hasil Buruan Saya di IBF 2012

INDONESIA BOOK FAIR yang berlangsung 17-25 November 2012 lalu di Istora Senayan Jakarta, tergolong sepi pengunjung dibanding IBF tahun-tahun sebelumnya. Menurut saya, setidaknya ada dua penyebab:

Pertama, bulan sedang tanggung–kalau tidak mau disebut tua. Idealnya book fair seperti ini diadakan mulai tanggal 5 seperti penyelenggaraan sebelum-sebelumnya. Jadi untuk orang gajian seperti saya, tanggal segitu masih banyak dana tersisa di ATM atau dompet setelah semua cicilan dilunasi.

Kedua, hujan yang turun hampir setiap hari–sore pula–selama pameran, membuat niat sebagian pecinta buku urung datang berburu buku. Biasanya sih, pengunjung justru ramai di sore hari (Senin-Jumat) dan siang dan sore (Sabtu-Minggu).

IBF kali ini saya datangi dua kali. Kunjungan pertama saat pembukaan tanggal 17 November. Pengunjung sepi sekali. Beberapa stand bahkan kosong melompong tanpa pengunjung. Kunjungan kedua tanggal 24 November. Hujan deras mengguyur sebagian besar Jabodetabek, dan genangan air di mana-mana.

Di setiap pameran buku, saya pasti berburu buku-buku dengan diskon besar. Dan hasil perburuan saya kali ini adalah sebagai berikut:

1. “Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian”, Seno Gumira Ajidarma, Gramedia Pustaka Utama, Rp 7.000,-
2. “Daughter of Fortune”, Isabel Allende, Gramedia Pustaka Utama, Rp 20.000,-
3. “Pintu Terlarang”, Sekar Ayu Asmara, Gramedia Pustaka Utama, Rp 15.000,-
4. “The Devide”, Nicholas Evans, Gramedia Pustaka Utama, Rp 25.000,-
5. “Joshua, Joshua, Tango”, Robert Wolfe, Gramedia Pustaka Utama, Rp 10.000,-
6. “Maximum Ride, The Final Warning”, James Patterson, Gramedia Pustaka Utama, Rp 10.000,-
7. “Betrayed”, Lyndsey Harris dan Andrew Croft, Elex Media Computindo, Rp 15.000,-
8. “Doa Ibu”, Sekar Ayu Asmara, Gramedia Pustaka Utama, Rp 20.000,-

Totalnya Rp 122.000,- untuk 8 judul buku. Lumayan, kan?[]

buku

Buku dan Kenangan

Sebuah buku ternyata membawa banyak kenangan. Ia datang ke dalam hidup kita, bisa dengan cara tiba-tiba (seperti hadiah ulang tahun, misalnya), atau memang sudah diidam-idamkan sejak lama. Atau ia kita temukan secara tidak sengaja di toko buku, tanpa pernah kita rencanakan sebelumnya. Ia kemudian “ditakdirkan” menjadi milik kita, dan kita “ditakdirkan” memilikinya.

Sebuah buku kadang hadir sebentar saja dalam hidup kita. Ia kita akrabi cuma beberapa hari saja. Setelah selesai kita baca, kita melemparnya ke dalam kardus, atau disisipkan ke dalam rak buku (kadang di sudut terjauh) dan tak pernah kita sentuh lagi selamanya. Kadang-kadang kita sering lupa namanya (judulnya), dan sering pula lupa apakah kita pernah memilikinya. Konyolnya, kita kadang membeli buku yang sama dua kali, saking tidak ingatnya kalau kita pernah memilikinya.

Namun, ada pula buku yang “beruntung”. Ia menjadi kesukaan semua orang. Bahkan ketika ia hadir di tengah-tengah keluarga, semua anggota keluarga ingin menjadi yang pertama membacanya. Saking sukanya, kita suka mengulang-ulang membaca halaman yang sama, atau membaca lagi keseluruhan buku sampai kita benar-benar puas. Kita membicarakannya di kelas dengan teman-teman, menghadiahkannya kepada orang yang kita sayangi, atau begitu sedih ketika buku itu hilang dari rak buku kita di kamar. Kadang-kadang pula, kita ingin suatu saat bisa menulis buku seindah dan sehebat itu.

Dalam hidup saya, saya memiliki beberapa buku yang benar-benar penuh kenangan. Penuh kenangan dalam definisi saya adalah: buku yang mengesankan, buku yang saya miliki dilatari peristiwa “bersejarah”, buku yang memengaruhi hidup saya, dan buku yang membuat saya berubah.

Bagaimana dengan Anda?]