Adaptasi Manis Merry Riana

merry-riana1

SETELAH “berabad-abad” tidak nonton film Indonesia di bioskop, akhirnya pas hari Natal kemarin, saya menemani tiga ponakan perempuan (yang datang dari Sumatera untuk liburan ke Jakarta) nonton film Merry Riana di salah satu bioskop di Depok. Sejak semula, saya memang tidak punya rencana nonton film ini. Empat tiket yang dibeli istri saya awalnya memang salah satunya bukan buat saya, tapi di saat-saat terakhir, tugas untuk menemani para ponakan nonton, jatuh ke pundak saya. Ya, udah, saya nonton juga film ini akhirnya. Karena tanpa antusiasme sedikit pun menonton film ini, sejak masuk saya bawaannya sudah malas: main hape, atau ngajak ponakan saya ngobrol. Saat film ini dimulai, barulah saya menyesal telah suuzon duluan (sebagaimana biasa saya menyikapi film Indonesia) terhadap film yang diangkat dari buku Mimpi Sejuta Dolar yang disusun penulis kawakan Albertine Endah ini.

Film Merry Riana, ringkasnya menayangkan perjalanan Merry Riana, waktu itu baru lulus SMA, yang terpaksa hengkang dari Indonesia karena kerusuhan Mei 1998. Merry Riana memang keturunan Tionghoa, etnis yang masih sering mendapat perlakuan tidak adil di sini. Setelah uang kontan terakhir milik ayah Merry dirampas para perusuh saat mereka mencoba kabur dari rumah, keluarga ini terpaksa menjual isi koper mereka di Bandara Soekarno-Hatta untuk bisa membeli tiket. Tak diduga, hanya satu tiket yang bisa dibeli, dan ayah Merry memutuskan Merry berangkat duluan ke Singapura, nanti sisanya akan menyusul. Meski sempat protes dan menolak, Merry akhirnya terpaksa memenuhi permohonan ayahnya. Ayah dan ibunya berjanji akan menyusul Merry ke sana begitu keadaan memungkinkan.

Sialnya, saat sampai di Singapura, kerabat yang alamatnya menjadi destinasi dan harapan Merry satu-satunya, sudah pindah dari flat tempat tinggalnya karena sudah lama tidak membayar uang sewa. Sejak saat itulah, kisah dramatis perjuangan seorang gadis Tionghoa di sebuah negara yang demikian ketat birokrasinya (terutama kepada orang asing), dengan uang di dompet yang hanya cukup buat makan selama beberapa hari, sebuah laptop tua milik ayahnya, dan sebuah koper ukuran sedang warna merah, membetot perhatian saya.

Saya awalnya curiga, kesukaan saya pada film ini semata-mata karena akting memikat aktris muda berbakat Chelsea Islan yang memerankan karakter Merry Riana. Saya sudah lama “mengenal” Chelsea, lewat sitkom yang saya gemari, Tetangga Masa Gitu yang diputar di Net-TV. Entah benar Merry yang asli seceria dan seoptimis yang diperankan Chelsea, saya nggak tahu, karena saya belum pernah berjumpa langsung dengan Merry Riana yang asli. Tapi, setengah jam kemudian, saya akhirnya sadar bahwa kekuatan film ini ada pada storytelling-nya, ceritanya, skenarionya, screenplay-nya. Sejak awal, tokoh utama film ini menghadapi berbagai masalah yang tak kunjung usai, mulai dari soal tempat menginap sampai soal uang kuliah yang besarnya USD 40.000 dan harus dibayar di muka, dan anehnya, Merry, meski dengan berdarah-darah, berhasil melewati semua itu, dan hebatnya, melalui jalan keluar yang wajar dan masuk akal. Saya tersedak dan sedikit berkaca-kaca saat Merry makan roti baguette (tahu, kan, roti panjang dan kering seperti tongkat?) di dalam toilet karena di kantin kampus dilarang membawa makanan dari luar. This is my favorite scene!

Twist dan gimmick yang diberikan film ini renyah dan gurih, seperti munculnya karakter galak tapi lucu satpam asrama yang diperankan Sellen Fernandez, atau Mike Lucock atawa Mike Muliadro yang memerankan owner perusahaan abal-abal, dan akting apik aktris senior Niniek L. Karim yang memerankan karakter seorang senior citizen Singapura yang pandai cakap Melayu. Lucunya, sampai film ini selesai, bahkan sampai tulisan ini diturunkan di sini, saya tidak tahu siapa penulis skenarionya. Entah karena saya lengah saat credit film ini muncul di layar, atau memang nama penulis skenarionya tidak muncul di sana. Saya baru melacak kembali ke sumber YouTube trailer resmi film ini dan menemukan nama Titien Wattimena dan Rahabi Mandra sebagai penulis screenplay-nya. Melihat nama Titien, saya kurang surprise sih sebenarnya, karena Titien memang kampiun di scriptwriting. Silakan di-google sendiri apa saja yang sudah ditulis Titien.

Selain ceritanya yang kuat, tebakan saya meleset jauh ketika saya awalnya mengira film ini melulu akan berkisah tentang perjuangan Merry Riana mendapatkan sejuta dolar pertamanya di usia 26 tahun, yang menjadi jualan Merry Riana di dalam bukunya yang konon sudah diterjemahkan ke dalam 7 bahasa. Saya membayangkan film ini akan berisi montage-montage monoton tentang perjuangan Merry Riana mendapatkan kekayaan pertamanya yang luar biasa besar itu, tapi ternyata saya keliru. Film ini bukan tentang mimpi sejuta dolar, bukan tentang from zero to hero, bukan tentang Merry yang memulai dan membangun bisnisnya dari nol, atau segala tetek bengek kisah-kisah heroik manis yang sering kita lihat dari film-film motivasi bertema kebebasan finansial yang sudah banyak dibuat. Film ini bukan tentang itu. Film ini adalah film cinta yang romantis, dan menurut saya, sangat manis.

Ya, film yang diproduksi MD Pictures ini bukan hanya kisah inspiratif perjuangan Merry menghadapi Singapura dan segala aturannya yang ketat dan tak pandang bulu, bukan sekadar kisah Merry menghadapi segala rintangan terberat dalam hidup untuk menjadi sukses, tapi plot utama film ini adalah kisah Merry dan Alva, bagaimana mereka menghadapi cinta masa remaja mereka dan menyelesaikan segala problemanya. Meski kisah cinta Merry ini sangat tipikal dan bisa ditemui di banyak film romance lainnya, tapi saya memutuskan, film ini berhasil menyajikan sebuah kisah-cinta-yang tak-biasa.

Namun, di tengah luapan kegembiraan saya menonton film ini, ada sesuatu yang sedikit mengganjal di hati. Film ini mengambil lokasi di dua tempat, Jakarta dan Singapura, dengan porsi sangat besar ada di Singapura. Dan, ya, film ini lalu menjadi semacam ajang tebar pesona Singapura ke hadapan para penonton Indonesia. Keteraturan Singapura, kerapian tatakota, kebersihan taman dan lebarnya jalur pedestriannya, serta kemegahan venue dan gedung-gedungnya, menjadi set raksasa dan jualan sampingan film ini. Tak sekali dua kali, kita disuguhi pemandangan keren Marina Bay Sands yang menghadap ke Teluk Marina itu, keindahan kampus Nanyang Technology University (meski saya tak pasti apakah pengambilan gambar dilakukan di lokasi asli) dan bahkan pengambilan gambar dengan porsi lumayan besar dilakukan di dalam kapsul Singapore Flyer, wahana pengamatan tertinggi di dunia. Jadi, bilamana Anda kurang menyukai ceritanya, kekecewaan Anda akan terobati dengan stock shoot pemandangan Singapura yang keren lagi menawan itu. Saya, mau tak mau, jadi membandingkan kondisi kota saya (Jakarta, terutama) dengan Singapura, dan momen sakitnya-tuh-di-sini kian terasa di dada ketika ingat bahwa Merry Riana kabur dari Jakarta karena kerusuhan berbau rasial yang terjadi di Indonesia. Suatu ketika, saat-saat dibuat galau dengan urusan mencari pekerjaan agar bisa survive, Alva (diperankan Dion Wiyoko), nyeletuk pada Merry, “Ini Singapura, Mer, bukan Jakarta.” Dengan kalimat saya sendiri, saya bisa menambahkan ungkapan itu dengan, “Ini Singapura, Mer, elu nggak bisa seenaknya di sini seperti di Jakarta.” Jleb banget, kan?

Tapi, sekali lagi, saya suka dan merekomendasikan film ini, dan meski saya belum baca buku darimana film ini diadaptasi, saya yakin, terlepas versi filmnya sama atau tidak dengan versi buku, Anda juga akan menyukai film ini, sebagaimana saya dan ketiga ponakan saya menyukainya.

Judul: Merry Riana
Jenis Film: Drama
Produser: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Produksi: MD Pictures
Sutradara: Hestu Saputra
Penulis naskah: Titien Wattimena, Rahabi Mandra
Pemeran film: Chelsea Islan, Dion Wiyoko, Kimberly Ryder, Ferry Salim, Niniek L. Karim, Cyntia Lamusu, Lanawati Tuti Wulandani, Sellen Fernandez, Mike Luccock.

Spike-Jonze-Her-ss-02

Her (2013)

“This was a great movie. It had a believable love for once, and it was between an OS and a human. The characters were so believable, and I loved every second of what I was watching.”

Buat saya, film ini teramat indah, teramat manis, teramat romantis.

Ya, ini film cinta, sebuah film science fiction romantic drama yang menceritakan kisah cinta antara Theodore Twombly dan Samantha. Dalam banyak kesempatan, saat memperkenalkan sosok Samantha pada teman-temannya, Theo selalu menyebut Samantha sebagai sosok yang “tidak punya sistem otak” seperti manusia, karena perempuan bersuara seksi ini adalah sebuah karakter jenius yang diciptakan sebuah Operating System.

Ya, mereka hidup di tahun 2025, dan saat itu teknologi informasi sudah demikian canggih. Theo pria kesepian, tengah mengurus perceraian dengan istrinya, dan di tengah kehampaan jiwanya, membeli dan menginstal sebuah aplikasi canggih bernama OS1 yang memungkinkan user punya teman atau pasangan maya. Saat instalasi selesai, Theo mendapatkan seorang teman baru bernama Samantha. Samantha bukan hanya jadi teman ngobrol yang asyik, ia bahkan bisa membaca perasaan, menghibur saat gundah, membuka dan membalas email, menyambungkan telepon ke seseorang, bahkan nyanyi bareng. Samantha punya mata dan punya telinga digital, perasaan dan logikanya dibangun oleh program yang nyaris sempurna, yang sayangnya tentu saja tidak menyediakan raga, karena Samantha hanyalah sebuah OS, bukan robot. Kedua sosok berlainan dimensi ini lalu jatuh cinta.

Layaknya pasangan normal, mereka bisa melakukan banyak hal seperti layaknya orang pacaran (termasuk phonesex, misalnya). Samantha bisa kangen saat Theo sibuk dan sudah berjam-jam tidak menghubunginya, Samantha juga cemburu dan takut kehilangan. Mungkin, bila dipikir-pikir, ini agak menggelikan, tapi begitulah. Spike Jonze, yang telah menulis dan menyutradarai film ini, rupanya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dengan akal dan perasaan manusia di masa depan. Di masa di mana Theo dan Samantha hidup, manusia tidak lagi menggunakan pakem “yang jauh dekat, yang dekat jauh” seperti yang kita rasakan saat ini setelah gempa sosial media melanda dunia, saat semua orang sibuk bersosialisai di media sosial dan lupa dengan orang-orang di dekat mereka. Dalam film ini, kondisi terparah sudah diprediksi, bahwa saat kau gagal membangun sebuah hubungan dengan sesamamu, kau bisa mencobanya dengan program canggih seperti OS1. Agak ngeri-ngeri sedap juga bila ini jadi nyata.

Oh, ya, dialog-dialog romantis dalam film yang dibintangi Joaquin Phoenix (Theo) dan Scarlett Johansson (Samantha) ini mengingatkan saya pada “Before Sunrise”, film komedi romantis produksi 1995 yang dibintangi Ethan Hawke dan Julie Delby. Menyentuh dan menggetarkan. Scene-scene-nya juga keren. Tak keliru kalau di ajang Oscar yang baru lalu film ini masuk di tiga nominasi, yaitu Best Actor, Best Picture, dan Best Screenplay.[]

Judul: Her
Sutradara: Spike Jonze
Penulis naskah: Spike Jonze
Pemain: Joaquin Phoenix, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, Scarlett Johansson
Studio: Annapurna Pictures
Rilis: 13 Oktober 2013
Durasi: 126 menit
Bahasa: Inggris
Biaya produksi: U$D 23 juta

Foto diambil dari sini.

imdb.com

Tak Semua Harus Berakhir dengan Kebencian

JOSEPH SILBERG (Jules Sitruk), yang berusia 18 tahun, tengah menjalani serangkaian tes untuk mengikuti wajib militer di Israeli Defence Forces (Angkatan Pertahanan Israel). Saat menerima hasil tes darah, Orith, ibu Joseph, menemukan keanehan karena jenis darah Joseph berbeda dari mereka. Setelah menjalani tes lagi, termasuk DNA, mereka menemukan Joseph bukanlah anak mereka.

Konflik yang awalnya terjadi hanya di lingkungan keluarga, belakangan merembet menjadi xenophobia antara dua bangsa yang sudah sekian lama saling membenci. Penyelidikan yang dilakukan di rumah sakit tempat Joseph dilahirkan 18 tahun silam, memberi hasil yang mengejutkan. Serangan bom yang terjadi pada malam ia lahir, membuat orok Joseph Silberg tertukar dengan bayi lain di tempat penampungan. Celakanya, bayi lain itu adalah putra sebuah keluarga Palestina. Bayi itu, Yacine Al Bezaaz, lahir pada malam yang sama.

Fakta bahwa satu keluarga Yahudi telah membesarkan seorang anak Palestina, dan satu keluarga Palestina telah membesarkan satu anak Yahudi, menjadi urat nadi konflik dalam film ini. Persoalannya justru bukan karena mereka jadi jijik karena telah membesarkan anak seorang musuh, tapi sebaliknya, cinta mereka sudah terlalu besar sehingga ketakutan terbesar mereka justru si anak kembali ke keluarga asalnya.

Sejak awal, film besutan sutradara Lorraine Lévy ini sudah merangsang rasa ingin tahu penonton. Tiap menit, penonton menunggu, apa yang akan terjadi antara dua keluarga dari dua bangsa yang sampai hari ini masih saling serang itu. Cerita berkembang di bawah masalah yang melibatkan konflik Israel-Palestina di mana kedua ayah enggan menerima situasi ini, yang tak rela melepas anak bujang mereka kembali ke tempat asalnya, sementara kedua ibu bahagia dengan harapan bisa semakin dekat dengan anak-anak kandung mereka. Joseph adalah calon musisi, yang punya karier gemilang di masa depan, dan Yacine baru saja lulus dari kuliah dokter di Prancis. Dua remaja ini anak kesayangan di masing-masing pihak, di punggung mereka tersampir banyak cinta, harapan, dan kebanggaan semua keluarga.

Lorraine Lévy lalu menggiring film ini dengan pesan yang teramat manis. Segala persoalan dan konflik ini kemudian ternyata bisa diselesaikan dengan mudah. Pusat persoalan, Joseph dan Yacine, lucunya, malah akrab bagai dua saudara kembar yang sudah lama terpisahkan, menjalin persahabatan yang di mata keluarga masing-masing tampak “aneh”, seaneh kedekatan seorang Palestina dan seorang Israel hari ini. Karena kedua anak laki-laki ini berteman, kedua keluarga harus mengevaluasi kembali keyakinan dan sikap xenophobia mereka sebelum terhubung dengan identitas asli mereka.

Apakah Joseph dan Yacine akhirnya angkat koper dari rumah masing-masing dan kembali ke keluarga asal mereka yang berada di balik tembok tinggi yang memisahkan Israel dan Palestina? Saya tidak ingin tulisan ini jadi spoiler. Silakan cari sendiri filmnya dan cari tahu sendiri akhirnya.[]

Judul: The Other Son
Sutradara: Lorraine Lévy
Produser: Virginie Lacombe, Raphael Berdugo
Pemain: Emmanuelle Devos, Pascal Elbé, Jules Sitruk, Mehdi Dehbi, Areen Omari, Khalifa Natour
Musik: Dhafer Youssef
Rilis: 23 Maret 2012 (Alès Film Festival), 4 April 2012 (Prancis)
Durasi: 110 menit

Egy Massadiah (paling kiri) dan Sukmawati Soekarnoputri (kedua dari kanan) bersama para pemain (foto: @nining_ningsih)

Ketika Bung Karno di Ende

SETELAH menembus kemacetan luar biasa yang mendera sebagian besar jalan utama di Jakarta Kamis sore (28 November 2013) kemarin, saya akhirnya sampai juga ke lokasi pemutaran perdana film “Ketika Bung di Ende” di Studio XXI Djakarta Theatre, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Jam saya menunjuk pukul 19.47 WIB. Untuk sampai ke sana dari rumah saya di Depok, saya menghabiskan waktu 3 jam 47 menit. Fiuh!

Saya melangkah ke Djakarta Theatre, masuk ke toilet untuk pipis, cuci muka, dan merapikan pakaian, lalu bergabung dengan belasan tamu yang sudah datang lebih dulu. Saya mengira saya sudah terlambat, karena rekan yang mengundang bilang acara dimulai pukul 18.00 WIB. Di pintu masuk, semua yang datang diberi sebuah buku berjudul “Bung Karno Ata Ende”, yang ditulis Roso Daras dan Egy Massadiah. Nama yang saya sebut terakhir, belakangan saya tahu ternyata produser film ini.

dok. pribadi
(Buku “Bung Karno Ata Ende”)

Film “Ketika Bung di Ende” ini adalah produksi bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (melalui Direktur Jenderal Kebudayaan) dan PT Cahaya Kristal Media Utama (Cakrisma) sebagai pelaksana produksi. Ditulis dan disutradarai oleh Viva Westi. Malam itu, beberapa aktor dan aktris yang bermain dalam film ini tampak hadir, seperti Baim Wong (sebagai Bung Karno), Paramitha Rusady (sebagai Inggit Ganarsih), dan aktor pemeran pembantu seperti Tio Pakusadewo dan Ninik L. Karim.

Salah satu cuplikan dalam film "Ketika Bung di Ende"
Salah satu cuplikan dalam film “Ketika Bung di Ende”

Film ini berkisah tentang pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada masa kolonial Belanda (1934-1938). Pembuatan film ini disebut-sebut merupakan bagian dari grand design Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mewujudkan pendirian Museum Presiden. Museum itu didirikan di lingkungan Istana Bogor dan ditargetkan akan rampung pada April 2014.

“Ini adalah film sejarah. Sejarah orang besar Indonesia. Karena itu, saya enggak mau sembarangan. Apalagi penulisan skenarionya saja melibatkan para sejarawan serta para ahli sejarah Sukarno,” ungkap Viva Westi dalam buku “Bung Karna Ata Ende”. Pengambilan gambar dilakukan di Ende sejak 28 September – 22 Oktober 2013.[]

5 centimeter 608x400

5 Cm Per Second

KETIKA membaca judul film ini pertama kali, saya penasaran kenapa film animasi Jepang ini diberi judul “5 Centimeters Per Second”. Ternyata itu adalah kecepatan jatuh bunga Sakura ke tanah; 5 sentimeter per detik. Lantas, apa hubungan kecepatan jatuh bunga Sakura dengan cerita dalam film ini? Ah, itu kan hanya judul, terlalu pentingkah mencari kaitannya dengan cerita film?

Film produksi tahun 2007 arahan sutradara Makoto Shinkai ini dibuat berdasarkan kehidupan tokoh nyata bernama Takaki Tono, sejak Takaki sekolah SD di awal 1990-an sampai dia dewasa di zaman modern Tokyo, yang dikemas dalam tiga segmen yang saling berhubungan. Film ini memenangkan Platinum Lancia Grand Prize untuk film animasi terbaik atau efek khusus pada Future Film Festival and Best Animated Feature Film pada Asia Pacific Screen Awards 2007. Film ini pun telah dibukukan, ditulis sendiri oleh Shinkai, dan juga diterbitkan dalam bentuk manga. “5 Centimeters Per Second” diputar sebagai film pembuka di Seoul International Cartoon and Animation Festival 2007.

Film anime ini dibagi tiga babak, masing-masing dibawakan narator yang membawakan cerita mengenai perjalanan hidup Takaki, terutama tentang hubungannya dengan dua perempuan bernama Shinohara Akari dan Sumida Kanae.

Saat SD, Takaki dan Akari adalah sahabat satu kelas di sebuah SD di Tokyo. Banyaknya kesamaan membuat hubungan mereka berdua lebih dekat daripada siswa lainnya. Namun pada usia 13 tahun, Akari pindah sekolah mengikuti orang tuanya ke daerah Tochigi yang jaraknya lumayan jauh dari Tokyo. Saat naik kelas dua SMU, giliran Takaki yang pindah ke daerah Kagoshima, sehingga Takaki memutuskan untuk mengunjungi dan bertemu Akari.

Babak kedua film ini bercerita saat Takaki duduk di kelas 3 SMU di daerah Kagoshima. Di sini Takaki bertemu seorang gadis teman sekelas yang diam-diam menyukai Takaki. Nama gadis itu Akane. Tapi cinta Akane tak berbalas, karena ternyata Takaki selalu membawa kenangan masa kecilnya bersama Akari ke mana pun dia pergi.

Di babak terakhir, Takaki telah lulus sekolah dan bekerja di sebuah perusahaan. Babak terakhir ini bercerita tentang Takaki yang masih belum dapat melepaskan dirinya dari bayangan masa lalunya bersama Akari, padahal di saat yang sama Akari sendiri sudah bertunangan dengan lelaki lain.

Selain cerita dan scene-scene yang menarik, saya juga sangat menyukai lagu tema film ini. Lagu balad berjudul “One More Time, One More Chance” ini dinyanyikan penyanyi Jepang Masayoshi Yamazaki. Lagu ini benar-benar membuat saya merasa kelabu, sebagaimana cerita filmnya.

Coba saja Anda resapi setiap baris lirik lagunya (versi Inggris-nya) di bawah ini:

If I lose any more than this, will my heart be forgiven
How much pain before I can see you again
One more time, please don’t change the season
One more time to the time when we fool around

When our path cross each other, I am always the first to turn
Making me indulge more in my selfish way
One more chance tripped by memories
One more chance we cannot choose our next place

I am always searching somewhere for you
Opposite of the house, the other side of the alley’s window
Even though I know you won’t be here
If my wish is to be granted, please bring me to you right now
Betting and embracing everything
To show you there’s nothing else I can do

Anybody should be fine if it was just to ease loneliness
Because the stars in the night sky seems like falling, I cant lie to myself
One more time, please dont’ change the season
One more time to the time when we fool around

I am always searching somewhere for you
Even at the intersection and dream
Even though I know you won’t be here
If miracle was to happen, I want to show it to you right now
A new morning, myself
and the “I love you” which I couldn’t say

Summer’s memory is revolving
The sudden disappearance of heart beat

I am always searching somewhere for you
At dawn’s town, At Sakuragi street
Even though I know you won’t come here
If my wish is to be granted, please bring me to you right now
Betting and embracing everything
To show you there’s nothing else I can do

I am always searching somewhere for your fragment
At the destination’s shop, At the corner of the newspaper
Even though I know you won’t be there
If miracle was to happen, I want to show it to you right now
A new morning, myself
And the “I love you” which I couldn’t say

I always end up looking somewhere for your smile
At the railway crossing of the fast pace town
Even though I know you won’t be here
If life can be repeated, I’ll go to you many times over
There’s nothing else that I want
Nothing else is more important than you.

Merasa belum cukup mengaduk-aduk hati penonton dengan lagu di atas, film ini lalu ditutup dengan alunan piano yang tak kalah mendungnya:

Yang ingin nonton, bisa di sini.[]

LifeOfPi 608x400

“Life of Pi”, Tragedi yang Mengagumkan

USAI membaca novel Yann Martel berjudul “Life of Pi” beberapa tahun lalu, saya bertanya-tanya dalam hati apakah buku pemenang Booker Price ini bisa diangkat ke layar lebar. Meski teknologi animasi sudah demikian canggih, saya masih meragukan novel luar biasa ini bisa menggambarkan secara tepat dan jitu suasana saat Pi (lengkapnya Piscine Molitor Patel) terapung-apung dan bertahan hidup 227 hari di atas sebuah sekoci di tengah Samudera Pasifik bersama seekor macan Bengali dewasa seberat 450 pon bernama Richard Parker.

 

life-of-pi-book1

 

Tapi ternyata sutradara asal Taiwan, Ang Lee bisa melakukannya. Bukan sekadar bisa, paling tidak di mata pengamat film amatiran seperti saya, film ini luar biasa. Film ini benar-benar seperti yang saya ingin buat kalau saya disuruh jadi sutradaranya.

Kepiawaian Ang Lee—sebagaimana Anda tahu—sudah teruji di banyak film sebelumnya, sebut saja Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000), Hulk (2003) dan Brokeback Mountain (2005). Jadi, ketika mendengar film ini digarap olehnya, sebelum nonton, saya berdebar-debar menunggu visual seperti apa yang akan disuguhkan Ang Lee.

Secara visual, mata Anda akan sangat dimanjakan oleh film ini. Dibuka dengan scene-scene cantik hewan-hewan penghuni kebun binatang milik keluarga Pi, lalu keindahan fauna laut Pasifik di malam hari, fenomena ikan terbang yang sangat jarang terlihat, konvoi lumba-lumba, lompatan salto ikan paus, pulau asing yang dihuni ratusan meerkat, digambarkan dengan sangat indah oleh Ang Lee.

Dan, saya terkagum-kagum pada dialog-dialog segar dan inspiratif yang dilontarkan tokoh-tokohnya, terutama yang diucapkan sang narator, Pi (diperankan oleh Suraj Sharma). Jalinan cerita sejak pencarian Tuhan oleh Pi kecil, tenggelamnya kapal yang mustinya membawa mereka ke Kanada, dan terdamparnya Pi di perairan Meksiko, sungguh sebuah kisah yang padu. Meski sebenarnya film ini menyuguhkan sebuah tragedi (ayah, ibu, dan kakak Pi yang bernama Ravi ikut tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi, juga puluhan hewan yang mereka bawa), dan horor yang dialami Pi bersama si Macan Richard Parker, sama sekali tak membuat penonton terisak-isak. Yang ada malah sebaliknya, keluguan Pi muda di tengah penderitaannya di samudera luas itu, malah membuat sebagian besar penonton tergelak-gelak. Saya juga begitu, dan saya tidak tahu kenapa. Mungkin Anda perlu menontonnya sendiri kalau tidak percaya.[]

thesigns 608x400

SIGNS

SAYA suka sekali nonton film-film pendek. Bahkan suka mengoleksi. Meski beda media, buat saya, film pendek mirip cerita pendek: singkat tapi dalam.

“SIGNS” ini sudah lama saya temukan di YouTube. Tapi masih suka saya tonton kembali sambil tersenyum. Film yang sangat pas menggambarkan pentingnya sebuah isyarat/tanda/pertanda dalam sebuah komunikasi. Disutradarai Patrick Hughes dan diproduksi bersama oleh Publicis Mojo dan @RadicalMedia.[]

the note

Kertas Ajaib dan Gadis Cantik dalam Kereta

HAL-HAL besar dalam hidup ini kadang berawal dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil tanpa kita rencanakan sebelumnya. Mereka lahir dari kesempatan-kesempatan yang turun dari langit yang kita ambil begitu saja tanpa banyak pertimbangan. Iklan kecil lowongan kerja yang ditemukan di sobekan koran bekas mungkin mengubah secara total hidup seorang pengangguran. Begitu pula hal-hal kecil lain, yang saya atau Anda sendiri saksikan banyak sekali di keseharian.

Terkadang, keajaiban-keajaiban terlewati begitu saja karena kita terlalu lama mengambil keputusan. Atau justru keajaiban akan terjadi bila kita tak mengambil kesempatan itu? Hanya Allah yang tahu.

Video YouTube ini–meski tak terlalu berhubungan dengan apa yang saya sampaikan di atas–semoga bisa menyampaikan apa yang saya maksud.[]

Kenal One Direction dari Jokowi

AGAK lucu saja buat saya karena saya tahu tentang boyband/grup vokal One Direction yang kini sangat terkenal itu justru bermula dari ingar-bingar kampanye Cagub-Cawagub DKI pada pilkada kemarin. Suatu hari saat masa kampanye Pilkada DKI sedang berlangsung, saya nemu link YouTube video flashmob yang musiknya terasa keren di telinga. Flashmob yang di-create tim sukses Jokowi-Basuki ini berlangsung saat Car Free Day di Bundaran HI. Berikut videonya:

Nah, seiring berjalannya waktu, lagu yang musiknya bikin semangat itu makin sering saja saya dengar; baik dari radio, TV, atau terdengar selintas di jalan atau di pusat pertokoan. Iseng-iseng saya bertanya pada ponakan saya di rumah yang usianya 12 tahun di bawah saya. Iqbal, ternyata juga tidak tahu judul lagu itu, tapi, “Grupnya tahu, Om. One Direction, kayaknya,” jawab Iqbal.

Hehe. Akhirnya, dalam sekejap, saya menemukan versi asli video musik lagu One Direction yang berjudul “What Makes You Beautiful” itu. Di YouTube tentunya. Sudah tahu, kan video musiknya? Saya nggak hafal liriknya, tapi saya suka mendengarkannya pagi-pagi untuk memompa semangat. Coba dengerin deh:

Road No. 1 (2010)

www.imbc.com

SEBAGAI seorang sufi (pe-suka film), saya sangat menggandrungi film bertema perang. Namun, dari sekian banyak film yang sudah saya tonton, saya jarang sekali mendapat kesempatan menyaksikan film-film dari Korea (baca: Korea Selatan). Film perang pertama dari Korea yang saya tonton adalah “Taegukgi” yang dibintangi Won Bin. Meski sudah lama dirilis, “Taegukgi” baru sempat saya tonton sekitar setahun lalu. Setelah nonton film yang sangat menguras emosi ini, saya benar-benar merasa rugi telah memandang sebelah mata film-film Korea selama ini. Continue reading “Road No. 1 (2010)”