http://butheina.wordpress.com

Di Balik Produksi “Omar”

http://butheina.wordpress.com

SETELAH mencicil selama hampir dua bulan, akhirnya saya selesai juga menonton film kolosal terbesar dari Arab Saudi yang berjudul “Omar” (Umar bin Khattab) ini.

Film sepanjang 30 episode—tiap episode berdurasi 44 menit—ini adalah film yang luar biasa. Film produksi 03 Production & MBC Dubai, ini disebut-sebut menghabiskan dana lebih dari Rp200 miliar. Film kolosal yang menggambarkan kehidupan dan sepak terjang Khalifah kedua umat Islam, Umar bin Khattab—diperankan aktor Suriah Samer Ismail—ditayangkan saat sahur bulan Ramadhan tahun lalu di stasiun MNCTV. Tidak hanya di Indonesia, film Omar juga ditayangkan di banyak negara. Continue reading “Di Balik Produksi “Omar””

Kick Ass

Kick-Ass

Mari mulai dengan satu pertanyaan:

berapa banyak Anda menyaksikan kejahatan di depan mata, tanpa bisa berbuat apa-apa? Berapa banyak di antara Anda hanya bisa meringis, geram, dan mungkin gemetar ketakutan saat melihat sang korban ditikam, ditusuk, ditembak di depan mata Anda?

Kejahatan bisa muncul di mana-mana, dengan beragam modus dan versi, beragam senjata dan motif. Kejahatan hidup di dunia fakta dan lebih hidup lagi di dunia rekayasa (fiktif). Bedanya, kejahatan dunia fiktif selalu menyediakan pahlawan. Di sisi ini, setiap kejahatan akan menerima balasan yang setimpal. Di sisi ini, setiap pahlawan—pada akhirnya—akan memenangkan pertarungan. Di sisi ini, setiap korban—pada akhirnya—akan mengulas senyuman.

Di dunia nyata, kejahatan jauh lebih kejam. Tapi sayang, tak banyak yang mau jadi pahlawan. Tak ada yang menggebuk para penjahat sampai bonyok. Tak ada yang menyediakan punggung untuk menangkis peluru atau lemparan pisau untuk melindungi korban. Di dunia nyata, bahkan, di depan hakim sekalipun, penjahat masih bisa meraih kemenangan.

Keadaan inilah yang menggelisahkan Dave Lizewski (Aaron Johnson), seorang remaja pecandu komik dan Internet. Dave, bertekad menjadi pahlawan, minimal di lingkungannya. Fantasinya itu menggiringnya membeli kostum superhero dari Internet dan menyebut dirinya “Kick-Ass”, nama yang sungguh kontraproduktif untuk seorang calon-pahlawan.

Lewat sebuah momen adujotos dengan sejumlah preman di depan sebuah cafe donat, Kick-Ass langsung jadi berita di seluruh kota setelah video aksi heroismenya itu muncul di situs video YouTube. Kick-Ass jadi buah bibir, tapi sayangnya banyak yang belum tahu betapa konyolnya dia sebenarnya.

Tapi, keberuntungan Dave tak berlangsung lama. Seperti Pahlawan Kesiangan lainnya, Dave tak berdaya saat menghadapi penjahat yang sebenarnya, D’Amico. Tapi untungnyam film berdurasi 117 menit ini berlaku cukup adil pada Dave. Kick-Ass alias Dave ditolong oleh pahlawan sesungguhnya, Big Daddy (Nicolas Cage) dan Hit-Girl (Chloë Moretz), pasangan ayah-anak yang memang pahlawan sungguhan. Meski Big Daddy dan Hit-Girl punya motif sangat personal melawan D’Amico, tapi di film ini, seluruh kesengsaraan memang berasal dari penjahat yang sangat berkuasa itu.

Tapi, meski di film ini ada Nicolas Cage, pahlawan sesungguhnya ternyata justru Hit Girl, gadis kecil berusia 11 tahun yang mendapat didikan bertarung kelas satu dari ayahnya yang mantan polisi itu. Di puncak cerita, Big Daddy tewas, dan seluruh misi yang belum selesai, sekarang berada di pundah Hit Girl. Kick-Ass memang membantu, tapi bagian-bagian sulit, tetap menjadi bagian sang gadis kecil.

Bila Anda tipe yang bermimpi di dunia ini lahir pahlawan-pahlawan super, film ini cukup menghibur. Namun, meski film ini dibintangi aktris cilik berumur 12 tahun, adegan-adegan keras dalam film produksi Marv Films ini tak cocok ditonton anak-anak di bawah 10 tahun.

Judul Kick-Ass Sutradara Matthew Vaughn Penulis skenario Matthew Vaughn, Jane Goldman Pemain Aaron Johnson, Christopher Mintz-Plasse, Chloë Grace Moretz, Mark Strong, Nicolas Cage Studio Marv Films, Plan B Entertainment Rilis 26 Maret 2010 (UK), 16 April 2010 (US) Durasi 117 menit.

The Lorax

Dr. Seuss’ The Lorax

Pada tanggal 2 Maret 2012, Universal Studios dan Illumination Entertainment merilis sebuah film 3D berjudul “The Lorax”. Film ini diangkat dari buku dengan judul yang sama karya penulis buku anak legendaris, Dr Seuss. Rilis bertepatan dengan ulang tahun ke-108 Dr Seuss, yang meninggal pada tahun 1991 dalam usia 87 tahun.

Siapakah Dr Seuss? Dr Seuss bernama lengkap Theodor Seuss Geisel. Dia lahir di Springfield, Massachusetts, Amerika Serikat, 2 Maret 1904. Dr Seuss adalah nama pena yang digunakannya dalam karya-karyanya. Dia adalah seorang pengarang dan kartunis Amerika yang paling dikenal karena buku anak-anaknya, khususnya The Cat in the Hat. Dia juga menulis dengan nama pena yang lain, yaitu Theo LeSieg dan Rosetta Stone. Dr Seuss meninggal di La Jolla, California, Amerika Serikat, 24 September 1991 pada umur 87 tahun.

Sejak dirilis, “The Lorax”, telah meraup keuntungan USD 70,7 juta di Amerika Serikat dan Kanada. Ini perolehan terbesar sebuah film layar lebar sepanjang awal tahun ini. Keren!

“The Lorax” pertama kali diterbitkan pada tahun 1971, bercerita tentang Lorax, jeruk kecil yang menjaga pohon-pohon. Film animasi dalam format 3D ini diisi aktor-aktor keren pengisi suara seperti Zac Efron, yang mengisi suara untuk karakter Ted, seorang anak laki-laki berumur 12 tahun yang berusaha memenangkan hati seorang gadis muda tetangganya, Audrey (disuarakan oleh Taylor Swift).

Audrey sangat ingin melihat pohon, padahal tak ada satu pun pohon asli di kota mereka, Thneedville. Saat memecahkan misteri hilangnya pohon-pohon, kedua bocah berjiwa petualang ini berjumpa dengan Once-ler (suara diisi oleh Ed Helms), yang menceritakan kisah tentang makhluk imut pelindung alam bernama Lorax (suara diisi oleh Danny DeVito).

Popularitas film animasi arahan sutradara Chris Renaud dan Kyle Balda ini jauh melebihi perkiraan. Film bergenre animasi, fantasi, dan keluarga, ini akan diminati oleh penonton segala umur, tidak hanya di Amerika dan Kanada, tapi juga tentunya di Indonesia. Kita tunggu saja.[]

Sumber foto: teaser-trailer.com

Coffee Prince

Coffee Prince

Go Eun Chan, tokoh sentral dalam drama sepanjang 17 episode ini dimainkan dengan sangat baik oleh Yoon Eun Hye. Sebelumnya, Yoon Eun Hye sukses membintangi drama Korea “Princess Hours”. Go Eun Chan adalah gadis tomboi berumur 24 tahun yang sering keliru dikira seorang cowok. Eun Chan bekerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarganya setelah ayahnya meninggal.

Dia bekerja apa saja, asal menghasilkan uang—guru Taekwondo, pelayan restoran, pengantar makanan, pengantar susu, penjual boneka. Dia susah payah merawat ibunya yang tak kuat lagi bekerja dan adiknya yang masih butuh banyak biaya karena masih sekolah.

Lawan main Eun Hye dalam serial yang dirilis di Korea Selatan 2 Juli 2007 ini adalah Gong Yoo, yang juga ngetop lewat serial “One Fine Day”. Dalam “Coffee Prince”, Gong Yoo memerankan tokoh Choi Han Kyul, pemuda sombong dari keluarga kaya raya yang punya sebuah perusahaan makanan. Han Kyul tak pernah memiliki pekerjaan dan tak peduli pada masa depannya. Han Kyul yang cinta mati pada seorang gadis yang kini jadi kekasih sepupunya, memutuskan untuk tidak menikah, meskipun sudah dicarikan jodoh oleh keluarganya.

Suatu kali, nenek Han Kyul memaksa sang cucu bekerja. Han Kyul diminta mengelola sebuah kedai kopi tua yang nyaris bangkrut. Han Kyul yang takut semua fasilitas kemewahannya dicabut sang nenek, menerima tantangan itu.

Dia mengganti nama kedai kopi itu menjadi “Coffee Prince”, menyulapnya menjadi sebuah café menjadi tempat nongkrong kaum remaja dan orang dewasa. Han Kyul ingin membuktikan bahwa dirinya mampu mengembalikan modal yang diberikan neneknya dalam waktu tiga bulan.

Lewat sebuah perjumpaan yang tidak terduga, Eun Chan dan Han Kyul bekerja sama membesarkan café “Prince Coffee” dan menyuguhkan kepada kita sebuah drama Korea yang lucu, asyik, seru, dan bikin penasaran.[]

Sutradara
Lee Yoon Jung
Penulis naskah Lee Jung Ah
Genre Komedi Romantis
Pemain Yoon Eun Hye (Go Eun Chan), Gong Yoo (Choi Han Kyul), Lee Sun Gyun (Choi Han Seong), Chae Jung Ahn (Han Yoo Joo)

David Copperfield

David Copperfield, Charles Dickens

“David Copperfield” adalah drama televisi produksi BBC yang diadaptasi dari novel karya Charles Dickens, “David Copperfield”, oleh sutradara Adrian Hodges. Film ini ditayangkan BBC dalam dua bagian. Bagian pertama diputar pada Hari Natal (25 Desember) dan bagian kedua pada Boxing Day (26 Desember) tahun 1999. Ini adalah film pertama aktor Daniel Radcliffe, yang kemudian mencapai ketenaran sebagai bintang film Harry Potter.

Bagaimana kisahnya? David Copperfield adalah anak seorang anumerta. Dia lahir di Blunderstone, Suffolk, tiga bulan setelah ayahnya, yang juga bernama David Copperfield, meninggal dunia. Pada malam kelahiran David, bibinya, Betsey Trotwood tiba di Rookery—rumah keluarga Copperfield—dan penuh antusias menanti-nantikan kelahiran seorang bayi perempuan. Dia yakin bahwa Clara Copperfield akan melahirkan seorang bayi perempuan, dan dia bersikeras anak itu harus dipanggil Betsey Trotwood Copperfield, dan bahwa dia akan menjadi ibu walinya. Namun, ketika anak yang dilahirkan Clara ternyata laki-laki, Betsey tampak ketakutan (seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan laki-laki yang semuanya berakhir tragis) dan meninggalkan tempat itu sambil menggerutu.

David tumbuh penuh cinta dan kasih sayang ibunya Clara dan pelayan mereka, Peggotty. Ketika David berumur delapan tahun, Clara bertemu dan jatuh cinta pada Edward Murdstone, seorang pria yang menakutkan buat David. Edward pun tidak menyukai David. Peggotty menawarkan untuk mengajak David ikut bersamanya ke Yarmouth untuk mengunjungi kakaknya, Dan, dan keluarganya, dan David menerima tawaran itu. Ia kemudian bertemu dengan keponakan Dan, Emily.

Ketika mereka kembali ke rumahnya, David tampak shock ketika mengetahui bahwa ibunya telah menikah dengan Murdstone. Murdstone mengundang adiknya yang juga judes, Jane, untuk tinggal bersama mereka, dan dua orang kakak-beradik Murdstones itu dengan cepat mendominasi rumah tangga itu. Clara memiliki sedikit kebebasan mengatur rumahnya sendiri dan Murdstone mengatur rumah tangga itu dengan gaya otoriter. Ia sering menghukum David pergi tidur tanpa makan malam dan aturan-aturan ketat dan tidak adil pada Clara, David, dan Peggotty. Suatu kali Murdstone memberi hukuman pukulan tongkat pada punggung David karena tidak bisa menjawab pertanyaan soal pelajaran yang teramat sulit. David menggigit tangan ayah tirinya itu, dan sebagai hukuman, ia dikirim ke Salem House, sebuah sekolah asrama milik sahabat Murdstone yang juga kasar bernama Mr. Creakle. Di sana, David disiksa berdasarkan permintaan Murdstone. Satu-satunya yang membuat David nyaman adalah persahabatannya dengan James Steerforth, seorang siswa senior dari keluarga kaya dan berpengaruh.

Mau nonton? Yuk!

Episode 1: Childhood Days
Episode 2: Growing Up
Episode 3: Romance is in the Air
Episode 4:Tragedy of Triumph

Sumber: David Copperfield, Kisah Klasik Karya Charles Dickens

Cinderella Man

Cinderella Man

Saya menyesal kenapa tidak menonton film yang diangkat dari kisah nyata ini sejak dulu. Saya pikir, film ini senada dengan “Million Dollar Baby” atau “Ali”, atau “Rocky” yang bercerita seputar heroisme di atas ring tinju. Ternyata saya salah; film ini benar-benar luar biasa.

Adalah sebuah novel dengan judul yang sama yang membuat saya akhirnya memilih film ini untuk ditonton. Penasaran oleh endorsment di sampul bukunya, saya bukannya beli bukunya, malah tertarik untuk menontonnya terlebih dahulu (padahal ini pantangan saya; saya biasa baca dulu bukunya, baru nonton filmnya).

Film ini–menurut saya–tidak bercerita tentang prestasi tinju James J. Braddock (Russell Crowe), tapi tentang perjuangannya mengangkat harkat keluarga dan kaum papa Amerika Serikat saat depresi nasional menimpa negara besar itu di sejak 1929. Saham-saham Wallstreet terjun bebas ke harga yang tak pernah dibayangkan. Para pengacara, pengusaha dan pebisnis jatuh melarat dan bersama jutaan keluarga Amerika lainnya mulai mengantre untuk bisa mendapatkan sedikit roti untuk makan keluarga mereka. Para lelaki berebutan mengajukan diri untuk bisa bekerja menjadi buruh harian di pelabuhan, dan pabrik-pabrik yang masih bertahan.

Dengan tanggungan seorang istri, Mae (Renee Zellweger) dan tiga orang putra yang masih kecil-kecil, Jim Braddock harus banting tulang mencari pekerjaan. Sebelum depresi melanda, dia adalah seorang petinju profesional yang tak pernah KO di ring tinju. Namanya berkibar, keluarganya dihormati, dan dia bisa menjadi sedikit di antara keluarga Amerika yang bisa punya apartemen mewah dan menghadiri pesta-pesta mahal. Tapi keadaan berubah 180 derajat setelah 4 tahun masa depresi. Jim dan keluarga hanya bisa menyewa sebuah apartemen tua tanpa ruang tidur, dengan penerangan dan pemanas seadanya. Selain berharap mendapat kerja harian, Jim sesekali masih bertanding untuk mendapat 50–75 dolar, itu pun kalau dia berhasil menjatuhkan lawannya. Tapi suatu hari, komisi tinju New Jersey mencabut izin bertanding Jim, karena dia dianggap tidak bisa menghadirkan pertandingan yang menarik untuk penonton.

Walaupun tidak panik, Mae mulai khawatir. Mereka harus membayar sewa apartemen, melunasi tagihan listrik dan alat pemanas, dan susu untuk kebutuhan sehari-hari. Lalu, suatu kali, anak-anak mereka mulai tidak bisa bertahan, dan akhirnya jatuh sakit.

Bingung harus melakukan apa, Jim membuang jauh-jauh harga dirinya sebagai petinju yang pernah diperhitungkan. Dia pergi ke klub tinju, di mana berkumpul para bos dan pemilik sasana yang kaya raya, termasuk Joe Gould (Paul Giamatti), pelatih Jim. Jim hanya punya uang 1,6 dolar upahnya hari itu di pelabuhan, dan ia butuh sekitar 56 dolar untuk membayar sewa apartemennya dan menyambung kembali aliran listrik ke ruang keluarganya. Jim mengemis di depan orang-orang yang pernah dekat dengannya!

Keadaan lalu berubah. Suatu kali, Jim mendapat kesempatan bertanding melawan seorang petinju, menggantikan lawannya yang sedang sakit. Mulailah semangat berjuang Jim bangkit. Satu demi satu pertandingan dimenangkan dan publik mulai melirik kembali jagoan masa lalu mereka.

Sepanjang film ini kita disuguhkan ribuan perenungan tentang perjuangan melawan kemiskinan. Jim bertanding bukan untuk meraih gelar, tapi agar bisa membelikan susu dan roti untuk keluarganya. Jim mewakili jutaan penduduk Amerika yang jatuh melarat saat itu.

Ada sebuah dialog yang membuat saya nyaris menangis. Hari itu Jim akan berangkat mencari pekerjaan. Ketika Mae sedang membuatkan roti untuknya, Rosemarie, putri bungsu mereka terbangun. Ia merasa lapar dan ingin ikut makan. Tapi ternyata, Rosy belum merasa cukup dengan satu roti, ia ingin minta tambah. Kata ibunya, “Sayang, kita harus menyisakan sedikit untuk kakak-kakakmu.” Rosy tampak mengerti.

Tapi Jim cepat bertindak. Ia duduk di meja menghadap putrinya yang kelaparan, lalu bercerita:
“Semalam Ayah bermimpi makan malam di Ritz.”
“Oh ya?” tanya Rosy tertarik.
“Ya. Makanannya sangat banyak. Ayah menghabiskan tiga potong steak, dan menambah es krim sampai tiga kali. Jadi, pagi ini Ayah sangat kenyang.”
Sambil menatap istrinya yang tampak tidak setuju, Jim melanjutkan. “Sekarang maukah kau membantu Ayah menghabiskan sarapan Ayah?”
Rosy mengangguk cepat dan langsung makan.

So, two tumbs up untuk film ini!

Incendies8

Incendies

Sutradara: Denis Villeneuve
Produser: Luc Déry
Penulis naskah: Denis Villeneuve, Wajdi Mouawad
Rilis: 12 Januari 2011
Genre: Drama, Misteri, Perang
Durasi: 130 menit

Pemain:
Lubna Azabal (Nawal Marwan)
Mélissa Désormeaux-Poulin (Jeanne Marwan)
Maxim Gaudette (Simon Marwan)
Rémy Girard (Jean Lebel)
Abdelghafour Elaaziz (Abu Tarek)

Setelah kematian ibunya yang menderita stroke, sepasang anak kembar—Jeane Marwan dan Simon Marwan—baru mengetahui bahwa mereka memiliki seorang kakak laki-laki dan bahwa ayah kandung mereka masih hidup. Dalam surat wasiatnya, Nawal Marwan meminta Jean dan Simon mencari kakak dan ayah mereka serta menyerahkan masing-masing sebuah surat yang ditulis sendiri olehnya. Berbeda dengan Jean, Simon tidak mempercayai isi surat wasiat ibunya. Terlebih ibunya minta dirinya dikuburkan dalam keadaan telungkup dan telanjang tanpa peti mati serta tanpa batu nisan.

Tanpa ditemani Simon, dari Kanada, Jean berangkat sendirian menuju Timur Tengah menelusuri jejak masa lampau ibunya untuk mencari keberadaan ayah dan kakaknya. Di sini tak disebutkan dengan pasti di daerah manakah seting film ini, tapi saya menduga kuat kisah ini dirangkai saat Perang Sipil di Lebanon. Dari sinilah cerita dimulai. Melalui pencarian Jean, kita diajak mengikuti kisah pahit Nawal Marwan yang melalui hidupnya di tengah peperangan hingga dia harus terpisah dari anaknya.

Nawal, seorang Kristiani, menjalin hubungan asmara dengan Wahab, seorang pengungsi (mungkin seorang pengungsi Palestina) di Libanon. Wahab mati ditembak saudara lelaki Nawal saat pasangan beda keyakinan ini mencoba melarikan diri. Saat dicecar neneknya, Nawal mengaku bahwa dia sedang mengandung bayi Wahab. Sang nenek yang cemas aib itu terkuak, kemudian sengaja merahasiakan kehamilan itu untuk menyelamatkan muka keluarga mereka. Setelah sang bayi lahir, sang nenek memberi tanda tiga tusukan jarum pada tumit kanan sang bayi, dan bayi tak bernama itu kemudian dibawa pergi.

Setelah melahirkan, Nawal pindah ke Daresh (sebuah kota fiksi), tinggal bersama pamannya, dan melanjutkan sekolahnya di sana. Saat Perang Sipil Libanon pecah, Nawal yang kemudian menjadi aktivis anti-perang, kembali ke desa asalnya untuk mencari anak lelakinya. Tapi panti asuhan tempat anak lelakinya selama ini tinggal, telah dihancurkan milisi bersenjata. Dari seorang lelaki tua yang sedang menunggui reruntuhan bekas panti asuhan, Nawal mendapat informasi bahwa seluruh penghuni panti telah diungsikan ke sebuah kamp.

Dalam perjalanan ke kamp, bus yang ditumpangi Nawal dihadang milisi Kristen bersenjata. Bus dan seluruh penumpang Muslim yang ada di dalamnya dibakar hidup-hidup. Nawal berhasil lolos dari maut setelah menunjukkan kalung salibnya, tapi kejadian itu membuatnya trauma dan membenci perang. Dendamnya itu membuat Nawal bergabung dengan kelompok pemberontak bersenjata. Dia kemudian disusupkan dalam sebuah misi untuk membunuh pemimpin Kristen terkemuka dan mengeksekusinya. Meskipun misinya sukses, Nawal tertangkap dan dihukum penjara selama 13 tahun. Di penjara ini, Nawal dikenal dengan sebutan “Wanita yang Menyanyi”, karena Nawal menyanyi sepanjang waktu untuk mengurangi rasa sakit yang diterimanya setiap kali mendapat siksaan.

Di penjara inilah dia diperkosa oleh algojo bernama Abu Tareq. Nawal hamil dan melahirkan bayi kembar di penjara. Perawat yang membantu kelahiran bayi kembar itu, diam-diam merawat kedua bayi itu dan menyerahkan mereka kembali pada sang ibu saat perempuan itu sudah dibebaskan. Nawal dan kedua anaknya kemudian pindah ke Kanada.

Bertahun-tahun setelah kejadian mengenaskan itu, Jean sedikit demi sedikit menemukan kepingan puzzle masa lalu ibunya yang selama ini kelam pekat. Jean menemukan keluarga besar ibunya, yang menolak bicara tentang Nawal karena aib masa lalu yang masih berbekas meski telah berlalu puluhan tahun. Jean juga mendatangi penjara tempat ibunya pernah dikurung dan menggali kepingan puzzle lainnya dari mantan sipir yang pernah bekerja di sana.

Di Kanada, Simon akhirnya bersedia menyusul saudari kembarnya ke Timur Tengah setelah dibujuk Jean Lebel, pengacara ibunya. Setelah perjalanan panjang dan pencarian berliku, akhirnya, mereka berhasil bertemu dengan perawat penjara yang pernah membantu ibunya melahirkan. Perempuan renta itu mengatakan bahwa anak yang dilahirkan Nawal adalah sepasang bayi kembar. Saat itulah Jean dan Simon sadar, bahwa anak kembar yang dilahirkan ibu mereka di penjara adalah mereka sendiri.

Hantaman bahwa mereka adalah anak seorang algojo penjara masih bisa mereka terima. Tapi ada hantaman yang lebih besar yang membuat keduanya shock. Pengacara setempat, yang membantu mencari saudara tiri mereka, menemukan bahwa kakak mereka yang sudah lama hilang itu bernama Nihad. Mereka juga berhasil bertemu panglima perang yang dulu merebut panti asuhan di mana Nihad pernah tinggal. Sang panglima peranglah yang dulu mendidik Nihad menjadi seorang prajurit. Tapi dia sempat kehilangan jejak Nihad sampai akhirnya dia mendengar bahwa Nihad telah menjadi seorang algojo di sebuah penjara, yang ternyata penjara di mana Nawal Marwan, pernah dibui dan diperkosa. Saat bekerja di penjara, Nihad mengganti namanya menjadi Abu Tareq. Inilah hantaman kedua itu: Nihad alis Abu Tareq adalah saudara tiri Jean dan Simon, yang sekaligus ayah kandung mereka!

“Incendies” adalah film Kanada produksi tahun 2010 yang ditulis dan disutradarai oleh Denis Villeneuve. Diputar pertama kali di Venice and Toronto Film Festival pada bulan September 2010 dan dirilis di Quebec, Kanada pada 17 September 2010. Pada tahun 2011, “Incendies” dinominasikan menerima Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik. Film ini memenangkan delapan penghargaan pada Genie Award Ke-31, untuk kategori Best Motion Picture, Aktris Terbaik (Lubna Azabal), Sutradara Terbaik, Skenario Adaptasi Terbaik, Sinematografi, Editing, Overall Sound and Sound Editing. Selain itu, film panjang berdurasi 130 menit ini memenangkan The Best Feature Film pada Festival Film Adelaide 2011.

Film ini menggabungkan masa lalu Nawal Marwan dan masa kini yang sedang dilalui Jean dan Simon dalam satu plot cerita dengan penceritaan alur maju-mundur. Pelan tapi pasti “Incendies” membangun pusaran demi pusaran yang begitu solid sampai pada klimaksnya kita dihadapkan pada pusaran angin puyuh terakhir yang mencengangkan namun begitu masuk akal.

Meski garis waktu cerita dari masa lalu Nawal Marwan saling berjauhan, namun setiap momen yang ditampilkan mampu mewakili penjelasan cerita secara gamblang, jelas dan mudah dimengerti.

Saya menonton film ini dua kali. Dua kali mengikuti kisah mengharukan ini, saya bisa membayangkan apa yang kemudian dirasakan oleh Jeanne dan Simon, begitu semua rahasia masa lalu ibu mereka—yang juga pintu rahasia mereka—terkuak.[]

bts1

Bangkok Traffic Love Story (2009)

Judul: Bangkok Traffic Love Story
Sutradara: Adisorn Trisirikasem
Skenario: Navapol Thamrongruttanarit
Pemain: Theeradeth ‘Ken’ Wongpuapan, Sirin ‘Cris’ Horwang, Ungsumalynn ‘Pattie’ Sirapatsakmetha
Dirilis di Thailand: 15 Oktober 2009

Bangkok Traffic Love Story adalah film komedi romantis Thailand yang berseting di Bangkok, berkisah tentang Mei Li (Sirin Horwang), gadis 30 tahun yang berjuang mati-matin mencari cinta sejatinya. Suatu kali, dalam sebuah kecelakaan kecil sepulang dari merayakan pernikahan sahabatnya, Mei Li bertemu seorang petugas BTS (Bangkok Traffic System) yang tampan bernama Lung (Theeradeth ‘Ken’ Wongpuapan).

Mei Li jatuh cinta pada pandangan pertama dan yakin Lung adalah lelaki yang tepat untuk mengisi hatinya. Takut kehilangan kesempatan mengenal Lung lebih jauh, Mei berencana “nembak” cowok itu terlebih dulu. Meskipun banyak hambatan, Mei Li tak pernah menyerah. Sayangnya Mei Li tak punya sedikit pun pengalaman dalam merayu seorang pria. Celakanya lagi, tetangga Mei, Pluen (Ungsumalynn ‘Pattie’ Sirapatsakmetha) juga naksir pada Lung!

Namun, nasib sesungguhnya sedang berpihak pada Mei Li. Lung, tak dapat disangkal, juga menyukai Mei Li. Tapi cowok ini tak kunjung mengungkapkan isi hatinya pada Mei Li, karena takut Mei Li kecewa. Di tengah kedekatan hati mereka, Lung harus berangkat ke Jerman untuk melanjutkan pendidikannya selama dua tahun. Dua tahun dalam LDR, siapa yang mau?

Bangkok Traffic Love Story dirilis oleh GTH pada 15 Oktober 2009. Film ini disutradarai oleh Adisorn Tresirikasem dan naskahnya digarap oleh Navapol Thamrongruttanarit. Dalam versi Thailand dan Inggris, film ini berjudul Bangkok Skytrain Love Story. BTS Skytrain, kereta monorel di Bangkok, yang merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh pada 2009 meminjamkan namanya untuk judul dan sekaligus mensponsori film ini. BTS Skytrain, secara jelas ditampilkan hampir di seluruh bagian cerita.

Film ini mendapat kritik atas plotnya yang longgar, tapi kritikus merasa kalangan muda kelas menengah Bangkok (juga di seluruh dunia), terutama kaum cewek, akan menyukai film ini. Film ini sukses secara finansial, meraup 57 juta baht pada akhir pekan pembukaannya dan lebih dari 140 juta baht empat minggu kemudian.

Film ini memenangkan beberapa penghargaan dan nominasi di berbagai festival, di antaranya People’s Choice Award 2009 untuk kategori Best Picture, Best Actor dan Best Actress; 7th Kom Chad Luek Awards untuk kategori Best Actress dan beberapa penghargaan lainnya.[]

Hachiko: A Dog’s Story: Kesetiaan Tak Berujung

SAYA jarang sekali menangis karena sebuah film. Biasanya suka nangis kalau begitu kesakitan atau lagi enggak punya duit pas akhir bulan (boong!). Seringnya sih nangis kalau disuruh Bunda motong bawang. Hehehe… Satu-satunya film yang sempat membuat saya berkaca-kaca adalah Kuch Kuch Hota Hay. Habis, Shahrukh Khan yang agak-agak mirip saya waktu itu juga berkaca-kaca, sih. Mungkin waktu itu karena saya masih sangat muda. Semua masih bergelora, termasuk emosi. Halah banget, ya?

Baiklah, saya mau membicarakan film ini nanti saja. Saya mau cerita dulu soal hewan piaraan kesayangan keluarga kami beberapa tahun lalu, di kala saya masih kecil, masih imut-imutnya (yang imut hewan piaraan saya, bukan saya).

Kami memanggilnya Kinoi. Entah siapa yang memberi nama itu padanya. Ia seekor kucing jantan nan gagah dan lucu. Kinoi adalah generasi entah ke berapa dari kucing keluarga kami yang memang dari sejak zaman baheula selalu didominasi warna kuning. Semua sayang sama Kinoi. Semua suka melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan, terutama Tegra, adik bungsu saya.

Selain imut dan menggemaskan, Kinoi juga pintar. Beberapa hal bisa dilakukannya, yang paling kami kagumi adalah membuka pintu dapur dengan cara melompat ke handel pintu sampai pintu itu terdorong dan terbuka. Itu pula sebabnya dia tak pernah berhasil dikurung di rumah. Dari pintu dapur yang memang jarang dikunci, Kinoi bisa keluar dari rumah dengan cara masuk ke lubang angin yang cukup rendah untuk dilompatinya.

Suatu hari, saya lupa hari, bulan, dan tahunnya, Kinoi pulang dengan tubuh penuh luka. Entah kucing entah manusia yang berbuat, kami sekeluarga tak tahu. Tegra yang pertama kali melihat Kinoi dalam keadaan seperti itu, histeris dan ngamuk-ngamuk. Tak ada tersangka, karena tak ada saksi. Kami tidak tahu kucing atau manusia jahat mana yang telah melukainya. Syukurnya Kinoi tidak menderita lama-lama. Ia meninggal di pangkuan Tegra dan kami menguburnya di sudut depan halaman rumah. Sejak saat itu, untuk mengenang Kinoi, beberapa generasi kucing keluarga selalu dipanggil Kinoi. Tegra yang meminta.

Lalu, suatu hari, bertahun-tahun kemudiaan, suatu hari saya menerima telepon dari Bunda. Di telepon Bunda terisak-isak sejadi-jadinya. Saya langsung mengira ada kabar duka dari kampung. Tapi setelah saya desak, Bunda mengatakan bahwa Cinci, salah satu kelinci kami, mati setelah menderita cukup lama akibat diterkam kucing beberapa hari sebelumnya.

Untuk kematian Kinoi dan Cinci, tentu saja saya ikut bersedih. Saya berkaca-kaca. Walau hanya seekor hewan piaraan, mereka terus terang mengisi hari-hari kami sekeluarga.

Namun beberapa hari lalu, saat dan usai nonton film berjudul Hachiko, A Dog’s Story, ini saya merenung cukup lama. Saya benar-benar larut dalam cerita film yang dibintangi Richard Gere ini. Bagi saya, Hachiko—anjing lucu yang menjadi sentra cerita ini—tidak sekadar seekor anjing. Ia adalah ungkapan cinta, sayang, kesetiaan seekor binatang piaraan pada tuannya.

Di sebuah kota kecil, Bedridge, Professor Parker Wilson menemukan Hachi di stasiun kereta saat pulang kerja. Stasiun kereta itu berada tak jauh dari rumahnya. Professor Parker awalnya tidak berniat memelihara anjing kecil itu, tapi karena tidak ada tetangga dan koleganya yang mau memelihara, akhirnya ia putuskan untuk memelihara Hachi. Perlakuan Parker pada Hachi-lah yang membuat anjing ini pada akhirnya tidak bisa “melupakan” Parker. Tiap berangkat dan pulang kerja, Parker diantar dan dijemput Hachi ke stasiun. Suatu hari, Parker tidak muncul di pintu keluar stasiun. Ia terkena serangan jantung dan langsung meninggal dunia saat mengajar di kelas. Dan, hal ini tentu saja tidak bisa dipahami oleh otak seekor anjing. Sejak hari kematian Parker, Hachi tidak pernah absen menunggu Parker pulang kerja. Ia berdiri di atas pinggiran taman dan tak melepaskan matanya dari pintu keluar stasiun kereta, menunggu dan menunggu Parker yang memang takkan pernah muncul lagi dari sana. Dan itu dilakukannya setiap hari selama 10 tahun. Hachi meninggal dunia karena beku oleh musim dingin di atas taman tempat ia biasa menunggu Professor Parker.

Kisah Hachiko ini sebenarnya adalah adaptasi dari sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang beberapa dekade lalu. Hachiko yang sesungguhnya lahir tahun 1923. Ia punya tuan seorang pengajar di sebuah universitas di Jepang. Suatu hari, tuannya meninggal dunia dan—sama seperti versi filmnya, Hachiko yang asli menunggu selama 9 tahun.

Film ini sungguh menyentak kesadaran saya. Dan saya terus terang berkaca-kaca setelah menonton film ini. Banyak manusia yang setia dan dikagumi karena kesetiaannya itu. Tapi di dunia hewan—konon, hanya anjinglah yang bisa memberikan kesetiaan sebesar itu.[]

Tulisan ini pernah diposting sebelumnya di sini.

Case 39: Jangan Percaya Anak Kecil!

Setelah Hannah Dakota Fanning (I Am Sam, Man on Fire, Hide and Seek), saya sekarang punya satu lagi aktris muda Hollywood yang aktingnya sangat saya sukai di film layar lebar. Gadis yang beruntung itu adalah Jodelle Ferland. Dakota dan Ferland secara kebetulan sebaya, mereka sama-sama kelahiran 1994. Bedanya, Dakota berasal dari Georgia, USA, Ferland berasal dari Nanaimo, British Columbia. Walaupun seusia, tapi sepertinya Dakota lebih tinggi jam terbangnya ketimbang Ferland.

Setelah Silent Hill, Jodelle Ferland berhasil memukau saya dengan aktingnya yang benar-benar mantap dalam Case 39. Film thriller besutan sutradara Christian Alvart ini bercerita tentang Emily Jenkins (Renee Zellweger) seorang pekerja sosial yang suatu hari dihadapkan pada sebuah kasus paling misterius yang menghinggapi seorang gadis kecil berumur 10 tahun bernama Lilith Sullivan (Jodelle Ferland).

Kekhawatiran Emily semakin menjadi-jadi ketika mengetahui dan melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua orang tua Lilith mencoba membunuh putri semata wayang mereka itu. Emily menyelamatkan Lilith dan memutuskan untuk menjaganya hingga ia menemukan keluarga angkat yang sempurna untuknya. Emily lalu jatuh sayang pada gadis kecil itu dan merasa rumahnyalah tempat paling tepat untuk Lilith.

Namun beberapa kejadian membuat Emily mulai bergidik ketakutan. Gadis kecil itu ternyata lebih berbahaya dari yang terlihat. Emily lalu memutuskan untuk menemui orang tua Lilith yang saat itu mendekam di penjara. Ibu Lilith meyakinkan Emily bahwa putrinya sangat berbahaya dan berpotensi membunuh karena memiliki kemampuan di luar kebiasaan. Ayahnya menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghindar dari Lilith adalah dengan membunuhnya.

Beberapa menit pertama film ini, kita memang dibuat jatuh hati pada Lilith. Namun kemudian, di separuh terakhir, penonton dibuat menjerit-jerit karena gadis kecil itu punya kekuatan luar biasa: bisa mencelakakan orang lain dari jarak jauh, bisa membaca isi pikiran, dan nyaris tak ada yang bisa mencegahnya kalau dia sudah bermaksud ingin membunuh seseorang. Satu-satunya jalan untuk menghentikan Lilith adalah membuatnya mati di atas ketakutannya sendiri.

Jodelle Ferland akan menjadi bintang besar di masa depan. Dia sekarang masuk dalam jajaran aktor/aktris watak yang dimiliki Hollywood, yang membuat—paling tidak—saya menunggu-nunggu akting berikutnya di layar lebar.[]

Foto diambil di sini.
Tulisan ini sebelumnya pernah diposting di sini.