sepatu

Sepasang Sepatu yang Ragu-Ragu

ia hanya sepasang sepatu
datang dari tempat yang jauh
berkilometer panas, lumpur, dan debu,
arah tak tentu
aus tapaknya, juga lusuh
mengusung langkah sepasang kaki yang sudah lama mati-nafsu

ia hanya sepasang sepatu,
kini berdiri di tubir waktu
tak ada lagi langkah maju
kecuali jatuh

ia hanya sepasang sepatu
kini menunggu
ke mana sepasang kaki mau menuju

~ tanah baru, 2013

Ibrahim bin Adham dan Sebutir Kurma

riorahadiant.blogspot.com

Mungkin Anda sendiri pernah melihat kejadian seperti yang sering saya saksikan di bawah ini:

Di sebuah supermarket pusat perbelanjaan besar, dijual berbagai macam buah-buahan, yang dipajang di atas keranjang-keranjang. Ada mangga, ada jeruk, ada semangka, ada durian, dan ada pula buah lengkeng.

Di keranjang besar berisi buah lengkeng, banyak sekali pengunjung sedang memilih-milih buah lengkeng yang besar dan baik kondisinya. Dan di antara mereka ini, ada beberapa orang—dengan tampang tak acuh—mengupas kulit buah lengkeng dan memakan buah sebesar kelereng itu dengan santai seperti sedang di rumah sendiri. Continue reading “Ibrahim bin Adham dan Sebutir Kurma”

Foto: "The Lost Correspondent" karya Jasonde Caires Taylor

Tempat untuk Menulis

Foto: “The Lost Correspondent” karya Jasonde Caires Taylor

Menulis adalah pekerjaan yang sunyi. Selama ini saya lebih banyak menulis di rumah, sebuah tempat yang paling membuat saya betah saat menulis. Kadang saya butuh ditemani alunan musik, tapi di lain waktu saya malah ingin keadaan sunyi senyap agar bisa berkonsentrasi lebih baik.

Beberapa penulis (seringnya ditemukan dalam film atau novel) sering melarikan diri ke tempat-tempat jauh; villa di tengah hutan, pondok di tepi danau, atau sebuah rumah musim dingin. Mereka butuh kesunyian agar bisa menderas ide dan gagasan lebih baik. Namun ada pula penulis yang justru lebih perkasa menulis bila berada di tengah hirup pikuk–saya tidak bermaksud mengatakan bahwa ada penulis yang bisa menulis di tengah hujan bom di Iraq atau di tengah golak suasana panik saat tsunami. Saya pernah dengar seorang teman suka menulis di tengah entakan musik cadas Linkin Park atau empasan nada-nada tinggi Jon Bon Jovi.

Beberapa waktu belakangan, saya mencoba tempat baru untuk menulis; cafe. Di dekat rumah, baru saja berdiri sebuah toko buku yang lokasinya cukup strategis. Ada cafenya, ada baristanya, dan ada daftar menu makanan yang bisa dipesan (baca: sesuai kantong saya hahaha). Saya jadi sering nongkrong di situ sambil membuka laptop dan menulis. Lumayan, sih. Melihat pengunjung keluar masuk atau desauan nada orang sedang ngobrol, menjadi jenak-jenak yang sangat berarti untuk mengisi jeda saat berhenti di satu kalimat atau paragraf.

Dulu, semasa masih menulis sitkom “The Coffee Bean Show” di Trans TV, saya saban hari nongkrong di gerai kopi franchise yang ada di sayap kanan gedung Trans TV. Bersama kawan-kawan penulis ANP (Aris Nugraha Productions) yang menulis sitkom itu, lekat sudah pantat kami berjam-jam duduk di cafe yang juga jadi tempat nongkrong para selebritas itu. Meski pengunjung keluar-masuk tiap sebentar, ya, tak masalah buat saya untuk terus menulis. Bahkan semacam menjalani “tamasya pikiran” bila melihat banyak orang berseliweran. Dan, itu tentu saja lebih menyenangkan daripada berjam-jam duduk di kamar sendirian.

Karena belum mampu membeli sebuah villa di tengah hutan, pondok di tepi danau, atau sebuah rumah musim dingin, saya akan bereksperimen menulis di tempat-tempat baru–meskipun tempat andalan utama adalah di rumah (yang selalu menjadi tempat paling nyaman untuk menulis). Apa kalian punya pengalaman menulis di tempat-tempat yang unik dan asyik?[]

ikhwan-berdoa

Siapa Bilang Allah Tidak Sayang Kamu?

Tahun 2007, saya menerjemahkan sebuah naskah berbahasa Malaysia ke dalam Bahasa Indonesia. Judulnya “Kisah-Kisah Doa dan Taubat Para Nabi”. Di halaman 30 naskah tersebut, saya menemukan sebuah Hadis Qudsi yang indah dan sangat menyentuh ceruk kehambaan kita. Hadis ini menunjukkan betapa Allah Swt. sangat menyayangi kita, para hamba-Nya. Hadis yang sangat panjang ini diriwayatkan oleh Ibnu Husain. Berikut salinannya:

“Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku dan juga demi kemurahan dan ketinggian kedudukan-Ku di atas arasy. Aku akan mematahkan harapan orang yang berharap kepada selain Aku dengan kekecewaan. Akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata manusia. Aku singkirkan dia dari dekat-Ku, lalu Kuputuskan hubungan-Ku dengannya.

Mengapa dia berharap kepada selain Aku ketika dirinya sedang berada dalam kesulitan? Padahal sesungguhnya kesulitan itu berada di tangan-Ku dan hanya Aku yang dapat menyingkirkannya? Mengapa dia berharap kepada selain Aku dengan mengetuk pintu-pintu lain padahal pintu-pintu itu tertutup? Padahal, hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapa pun yang berdoa memohon pertolongan dari-Ku.

Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena dosa-dosanya yang besar, lalu Aku putuskan harapannya? Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan?

Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antara Aku dengan angan-angan dan harapan seluruh makhluk-Ku. Akan tetapi, mengapakah mereka malah bersandar kepada selain Aku? Aku telah menyediakan semua harapan hamba-hamba-Ku, tetapi mengapa mereka tidak puas dengan perlindungan-Ku?

Dan Aku pun telah memenuhi langit-Ku dengan para malaikat yang tiada pernah jemu bertasbih pada-Ku, lalu Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara Aku dan hamba-hamba-Ku. Akan tetapi, mengapa mereka tidak percaya kepada kata-kata-Ku?

Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa pun yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya kecuali Aku? Akan tetapi, mengapa Aku melihat mereka, dengan segala angan-angan dan harapannya itu, selalu berpaling dari-Ku? Mengapakah mereka sampai tertipu oleh selain Aku?

Aku telah memberikan kepadanya segala kemurahan-Ku apa-apa yang tidak sampai harus mereka minta. Ketika semua itu Aku cabut kembali darinya, lalu mengapa mereka tidak lagi memintanya kepada-Ku untuk segera mengembalikannya. Tetapi malah meminta pertolongan kepada selain Aku?

Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, lalu ketika dimintai tidak Aku berikan? Apakah Aku ini bakhil, sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku? Tidakkah dunia dan akhirat itu semuanya milik-Ku? Tidakkah semua rahmat dan karunia itu berada di tangan-Ku? Tidakkah dermawan dan kemurahan itu adalah sifat-Ku?

Tidakkah hanya Aku tempat bermuaranya semua harapan? Dengan demikian, siapakah yang dapat memutuskannya dari-Ku?

Apa pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi, ‘Mintalah kepada-Ku! Aku pun lalu memberikan kepada setiap orang, apa saja yang mereka inginkan.

Dan semua yang Kuberikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku meskipun sebesar debu. Bagaimana mungkin kekayaan yang begitu sempurna akan berkurang, sedangkan Aku mengawasinya?

Sungguh alangkah celaka orang-orang yang terputus dari rahmat-Ku. Alangkah kecewanya orang-orang yang berlaku maksiat kepada-Ku dan tidak memerhatikan Aku dan tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang haram seraya tiada malu kepada-Ku.” [H.R. Ibnu Husain]

kopi dan secangkir pelarian

Kopi dan Secangkir Pelarian

Bila di tengah malam buta, saat kau pasrah menghadapi malam, saat kau menerima lebih banyak gelisah daripada rasa kantuk, saat itulah kau butuh secangkir kopi untuk melarikan diri.

Satu sendok kopi, sebuah cangkir, dan ribuan tetes air mendidih: itulah yang kaubutuhkan untuk melarutkan malam-malammu yang terasa lebih panjang dari semestinya. Secangkir kopi bisa kau dapatkan di mana saja, bahkan di malam paling buta sekali pun: di dapurmu, di kafe, di warung pinggir jalan, bahkan di atas kereta di sebuah perjalanan. Tapi, kau tak akan menemukan tempat untuk melarutkan gelisah hidupmu, meski kau punya berjuta cangkir kopi yang masih kosong.

Kopi, senikmat apa pun kauhirup, tetap ditakdirkan bukan secangkir pelarian dari semesta gelisahmu. Kopimu bukan pintu keluar; bahkan ketika kau percaya bahwa saat cangkir itu kemudian kosong, segala bebanmu ikut menguap.

Tapi suatu hari—di kesempatan lain, saat kau didera gelisah yang setara—kau akan mengalami peristiwa yang tak tersangka-sangka: saat secangkir kopi usai kau seduh, ajaib, semesta gelisahmu langsung lenyap. Bahkan, jauh sebelum aroma nikmatnya kausesap.

http://diarihati.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/Muslimah-solehah.jpg

Wanita Pemintal Benang

http://diarihati.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/Muslimah-solehah.jpg

 

DENGAN gundah, seorang wanita menghadap kepada Imam Hambali, minta fatwa dari beliau. “Wahai Imam Hambali, dengarkanlah kisahku ini. Semoga dirimu dan diriku mendapat keampunan Allah.”

Kemudian dia terdiam. “Sesungguhnya saya ini perempuan yang miskin. Saya tidak mempunyai apa-apa kecuali tiga orang anak yang masih kecil. Hidup saya sungguh melarat, hingga kami tidak mempunyai lampu untuk menerangi rumah,” sambungnya.

“Untuk membiayai hidup kami anak-beranak, saya bekerja sebagai pemintal benang. Saya akan memintal pada waktu malam dan akan menjualnya pada siang hari,” sambungnya lagi.

“Di manakah suamimu, Bu?” tanya Imam Hanbali.

“Dia ada di antara mereka yang menentang Khalifah Al-Mu’tasim yang zalim itu. Dia gugur syahid dalam satu pertempuran dengan pasukan tentara yang hendak menangkap mereka. Sejak itu, hidup kami melarat,” jawab wanita itu.

“Teruskan ceritamu,” pinta Imam Hambali.

“Karena rumah kami tidak ada lampu, maka saya terpaksa menunggu sampai bulan purnama, barulah saya dapat memintal benang,” kata wanita itu.

Kemudian dia menyambung ceritanya. “Pada suatu malam, ada kafilah dagang dari Syam datang lalu singgah bermalam, dekat dengan gubuk kami. Mereka membawa lampu yang banyak sehingga cahayanya sampai menerangi rumahku. Saya mengambil kesempatan untuk bekerja memintal benang di bawah cahaya lampu mereka.”

Dia diam sejenak kemudian melanjutkan, “Sekarang, pertanyaan saya adalah, apakah uang hasil jualan benang yang saya pintal di bawah cahaya lampu milik kafilah itu, halal untuk saya gunakan?”

Imam Hambali kagum, tercekat mendengar cerita wanita itu. Lalu dia bertanya, “Siapakah engkau wahai wanita muda yang sangat berpikir tentang hukum agama di saat umat Islam lalai dan kikir terhadap harta mereka?”

Pelan, wanita itu berkata, “Saya adalah adik perempuan Basyar Al-Hafidz yang meninggal dunia,” jawab wanita itu dengan kerendahan hatinya. Mendengar jawaban itu, Imam Hambali menangis tergugu. Janggutnya basah oleh air mata.

Imam Hambali sangat mengenali Basyar Al-Hafidz, seorang gubernur yang beriman dan beramal soleh. Setelah tangisannya reda, maka Imam Hambali pun berkata, “Sesungguhnya saya sangat takut pada azab Allah. Karena itu, berilah saya waktu untuk menjawab pertanyaanmu itu. Silakan kembali ke rumahmu, dan besok datang ke sini lagi, Bu.”

Imam Hambali memang tidak mau terburu-buru memberikan jawaban, apalagi soal haram dan halalnya sesuatu.

Pada malam itu, beliau berdoa, bermunajat serta memohon petunjuk pada Allah SWT.

Keesokan harinya, wanita muda itu datang lagi untuk mendengar jawaban dari Imam Hambali.

“Wahai wanita yang solehah. Sesungguhnya kain penutup muka yang engkau pakai itu lebih mulia dari pada sorban yang aku pakai. Kami ini tidak layak untuk disamakan dengan orang tua yang telah mendahului kita. Sesungguhnya kamu seorang perempuan yang berhati luhur, bertakwa dan penuh rasa takut kepada Allah,” masygul Imam Hambali berkata, hampir menangis.

“Wahai tuan Imam Hambali. Bagaimana dengan pertanyaan saya semalam?” desak perempuan muda itu.

“Berkenaan pertanyaanmu, sekiranya engkau tidak mendapat izin dari rombongan kafilah dagang itu, maka tidak halal bagimu menggunakan uang dari hasil jualan benang itu,” jawab Imam Hambali.

Wanita itu kini sangat sedih, karena sampai hari itu belum mendapat izin dari rombongan kafilah dagang itu. Dia ingin dan sanggup menemui mereka seorang demi seorang dari rombongan tersebut agar mendapat izin, hingga dia dapat menggunakan uang yang kini berada di genggamannya.

Malang, rombongan itu telah pergi menjauh, berpencar. Usahanya tampaknya sia-sia. Berita tentang wanita solehah itu akhirnya sampai ke pengetahuan Khalifah Al-Mutawakkil. Beliau sungguh kagum dengan wanita tersebut lalu memberinya uang sebanyak 10 ribu dinar.

Wanita muda itu kembali menemui Imam Hambali sekali lagi lalu bertanya tentang uang hadiah khalifah. “Adakah uang itu halal bagi kami?”

“Khalifah juga pernah memberikan saya uang sebanyak itu. Tetapi saya sedekahkan kepada fakir miskin yang saya temui di jalan,” jawab Imam Hambali.

Wanita itu pun mengikuti jejak Imam hambali. Dia memberikan uang tersebut kepada fakir miskin…[]

Marhaban

Cari Aku di Antara Orang-Orang Miskin

“Cari aku di antara orang-orang miskin. Cari aku di antara orang-orang fakir. Cari aku di antara kerumunan anak-anak yatim. Sesungguhnya Allah memberikan pertolongan dan rezeki melalui doa-doa mereka.” (Al-Hadits)

Mereka lebih sering berpuasa dari kita,

bukan karena alasan takwa,

bukan pula karena diperintah,

tapi semata karena tak ada yang bisa dikunyah.

Kita diperintah berpuasa,

agar bisa rasa haus-lapar mereka,

agar bisa selami jerit-derita mereka.

Jika takdir diubah,

siapkah kita berganti peran dengan mereka?

Selamat berpuasa! Semoga kita takwa.

semut-hitam

Doa Tengah Malam Buta

Di tengah malam buta, saat hujan tak juga turun…

Seekor kecoa tua terpeleset dan terguling di lantai marmer yang licin. Sadar tak ada yang bisa menolongnya kecuali Tuhan, kecoa itu pun berhenti mengentakkan kaki-kakinya, lalu berdoa. Ia berharap bisa berdiri kembali di atas kaki-kakinya dan pulang ke sarangnya dan tidur di bawah kegelapan dapur yang hangat.

Di kejauhan, seekor semut pencari jejak melihat peristiwa itu dari kejauhan lalu tergesa-gesa kembali ke sarangnya untuk memberitahu koloninya tentang sebuah anugerah yang sebentar lagi terpampang di depan mata mereka. Pimpinan koloni menyiagakan satu unit pasukan elite untuk misi khusus itu. Sebelum tim ini berangkat, mereka pun berdoa, agar Tuhan memudahkan ikhtiar mereka dan memberikan mereka makanan yang banyak.

Di sudut ruangan tak terlihat, aku bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaan yang harus pula kutanyakan pada kalian:

Menurutmu, kisanak, doa manakah yang akan dikabulkan Tuhan?[]