leenahnasir.blogspot.com

Gadis Hujan

PUKUL tiga sore, kafe tempatku bekerja masih sepi. Pengunjung biasanya ramai selepas jam kerja. Pukul enam atau tujuh sore, kafe ini dipenuhi orang-orang yang baru pulang atau pengunjung setia yang memang sengaja datang untuk nongkrong. Mereka minum, makan, rapat, pacaran atau sekadar ngobrol-ngobrol asyik bersama teman-teman. Ada pula yang ngopi sambil menunggu kemacetan reda, browsing memanfaatkan Wi-Fi gratisan atau sekadar mencari colokan listrik untuk mengisi batere gadget yang sudah lemah. Atau,menjadikannya sekadar tempat singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana.

Sekarang hanya ada tiga meja yang terisi. Satu meja ditempati sepasang remaja yang tampak baru mulai pacaran. Usia mereka mungkin masih 19-20 tahunan. Sejak muncul dari pintu masuk, tangan mereka hampir tak pernah lepas, terus-terusan berpegangan. Si lelaki tiap sebentar merapikan rambut yang tergerai di dahi si perempuan yang punya wajah cantik dan senyum yang manis. Dan si perempuan tiap sebentar meninju bahu si lelaki yang agak gemuk tapi tampan dengan gemas, saat lelaki muda itu melontarkan canda. Kemesraan mereka seolah tak habis-habis, membuat siapa pun yang melihat jadi sedikit iri. Kalau ini bukan Indonesia, aku yakin keduanya sudah saling rangkul dan berciuman. Mereka berpotensi menjadi pasangan yang serasi. Tiap sebentar tersenyum. Tiap sebentar saling berbisik. Aduhai.

Meja kedua ditempati dua orang lelaki yang mungkin berusia pertengahan 30-an, dua orangy ang tampak sedang reuni kecil-kecilan, mungkin dua sahabat yang sudah lama tak jumpa, tiap sebentar keduanya tertawa, sesekali terpingkal-pingkal. Pasti ada lelucon masa lalu yang membuat mereka seperti itu.

Meja ketiga, meja yang berada paling dekat ke pintu masuk, ditempati seorang gadis muda berumur kira-kira 25 tahun. Dia gadis yang cantik. Kulitnya bersih dan terang. Hidungnya pun bangir. Di bibirnya yang pucat, dia memoles lipstik warna beige pekat, yang membuat wajahnya tampak lebih pucat. Gadis itu mengenakan baju dan rok panjang sampai ke mata betis yang dua-duanya didominasi warna hitam. Dia juga membawa sebuah tas jinjing yang juga didominasi warna hitam. Sejak datang, matanya yang gelisah tiap sebentar menoleh ke arah pintu masuk, bahkan kadang-kadang tatapannya tampak lebih jauh, menembus dinding-dinding kaca kafe, sampai ke perempatan yang ramai oleh kendaraaan dan orang yang lalu-lalang. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang, mungkin teman atau pacar. Di depan meja gadis itulah sekarang aku sedang berdiri menunggu dia memesan.

“Saya pesan segelas cappuccino,” katanya.

“Oke. Cappuccino satu. Ada lagi?” Aku mencatat di buku kecilku. Gadis itu melirik jam tangannya, memikirkan sesuatu beberapa detik, kemudian menjawab, “Itu saja. Saya sedang menunggu seseorang. Mungkin nanti kalau dia datang, saya akan pesan lagi.”

“Oh, baik. Jadi, satu cappuccino, ya. Saya akan siapkan.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Aku pergi, dan beberapa menit kemudian datang lagi membawa pesanan gadis itu. Saat aku mau kembali ke belakang, gadis berbaju hitam itu bertanya, “Menurut Mbak, apakah di Depok sekarang sedang hujan?”

Aku mulanya heran mendengar pertanyaan itu. Kenapa tiba-tiba gadis itu menanyakan itu? Tapi kemudian aku menyahut, “Saya tidak tahu, Mbak. Tapi belakangan ‘kan memang sering hujan. Di luar juga sedang mendung sepertinya.”

“Jadi menurut Mbak, apakah di Depok sedang hujan?” kejarnya lagi. Aku tersenyum. Pertanyaan yang sama dan sudah kujawab. Tapi dengan ringan aku menjawab kembali, “Sepertinya begitu.”

Gadis itu diam. Jawabanku berlalu bagai angin begitu saja. Merasa percakapan itu telah selesai, aku memutar badan mau beranjak pergi. Tapi gadis itu tiba-tiba berkata lagi, “Ya, semoga dia tidak kehujanan di jalan.”

“Maaf?”

“Orang yang saya tunggu.”

“Oh.”

Aku menunggu sebentar, berjaga-jaga kalau gadis itu masih ingin bicara, tapi ketika dia mengeluarkan novel “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami dari dalam tas hitamnya dan mulai membaca, aku meninggalkannya.

Menit-menit berlalu seperti biasa. Sejoli yang tampak seperti baru jadian tertawa terkikik-kikik, membuat dua pria di meja lain melirik mereka sembari tersenyum. Dua pria itu tak lama kemudian bangkit dari kursi masing-masing, bersalaman, kemudian salah seorang di antaranya melangkah ke pintu. Pria satunya lagi kemudian mengeluarkan laptop dari sebuah tas ransel, kemudian asyik dengan benda itu. Seorang remaja berpakaian seragam SMA masuk ke kafe, memesan segelas besar Ice Blended Cappuccino kemudian pergi lagi. Lalu, ada satu pelanggan lagi datang dan memesan kopi untuk dibawa pergi.

Pukul empat sore kurang beberapa menit, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Jendela kaca kafe berembun, dan beberapa pejalan kaki yang menghindari hujan merapatkan diri ke pinggiran kafe, membuat cahaya di dalam jadi semakin gelap.

Gadis yang duduk sendirian melambaikan tangan ke arahku. Aku datang mendekat.

“Saya pesan secangkir kopi. Kopi hitam, tanpa gula,” katanya. Aku menggangguk. “Ada lagi?” tanyaku. Dia menggeleng. Gelas Cappuccino-nya hanya berkurang sedikit, mungkin baru seteguk. Bekas lipstiknya menempel di bibir cangkir yang berwarna putih santan. Lalu, dia kini memesan secangkir kopi pahit. Aku berpikir, jangan-jangan dia tak suka cappuccino buatan kami kemudian memesan yang lain. Tapi tunggu… secangkir kopi pahit? Aku jarang menemukan perempuan yang suka jenis minuman ini.

“Kopi pahitnya bukan buat saya, tapi pacar saya, dia sebentar lagi datang,” katanya seolah tahu isi kepalaku. Mendengar kata-katanya itu, aku terus terang jadi sedikit kikuk, kalau tak mau disebut malu. Tatapan matanya—yang baru kusadari ternyata maniknya teramat hitman—kini membuatku agak gugup. Cepat-cepat aku minta maaf kemudian berlalu. Sambil membuatkan kopi pahit pesanannya, aku berpikir aneh: jangan-jangan gadis itu punya indra keenam yang bisa membaca pikiran orang lain.

Aku mengantar kopi hitam tanpa gula pesanannya dan cepat-cepat kembali ke belakang konter tempat tugasku. Beberapa orang yang terjebak hujan akhirnya memilih masuk ke dalam kafe dan duduk-duduk minum kopi sambil menunggu hujan berhenti. Aku dan rekanku Rio bergantian melayani mereka. Pukul setengah lima, hujan mulai reda, dan kerumunan orang-orang di balik dinding kaca kafe pergi satu-satu. Sepasang sejoli yang baru jadian dan pria yang duduk sendirian akhirnya juga pergi, dan kini di kafe hanya ada satu tamu; gadis bermanik mata hitam itu.

Manajerku keluar dari kantor yang ada di belakang dapur, bicara basa-basi denganku dan Rio soal cuaca dan curhat tentang kemacetan yang kian parah, kemudian pergi lagi ke ruangan kerjanya beberapa menit kemudian. Rio pergi pipis ke toilet dan kini hanya ada aku dan gadis itu, gadis yang sedang menunggu pacarnya.

Di depan kafe tampak sepi. Daniel, anak magang yang bertugas menyambut tamu tampak berdiri dengan tampang bosan. Aku mengisi kekosongan dengan merapikan bungkus gula dan krim sambil nonton televisi yang tergantung di pojok kafe. Aku nonton acara infotainment seperti biasa, tentang artis kawin-cerai, dan hal-hal semacam itu. Lalu, aku mendengar suara itu, suara isak perempuan. Awalnya kupikir suara isak dari acara di televisi, tapi suara itu begitu dekat denganku.

Ternyata gadis berbaju hitam itulah yang terisak. Awalnya isakannya nyaris tak terdengar, tapi makin lama makin jelas. Aku agak bingung. Apa yang harus kulakukan? Diam saja atau bertanya? Aku memilih yang pertama. Mungkin dia cuma butuh beberapa detik untuk melepas perasaan sedihnya. Biarkan saja.

Tapi memasuki menit ketiga, isak itu tak juga berhenti. Apakah gerangan yang membuat dirinya seduka itu? Rio, teman sejawatku datang dari toilet dan langsung ikut terpaku menatap gadis yang sedang terisak itu.

“Kenapa dia, Del?” bisik Rio. Aku menggeleng. Rio juga tampak bingung. “Samperin saja, sana,” kata Rio sambil menyenggol pelan siku tanganku. Aku bergeming, meneruskan menonton televisi. “Kamu aja sana,” kataku pada Rio. Rio memilih pura-pura sibuk merapikan meja.

Isak gadis itu kini berubah jadi tangisan. Tepat pada saat itu, dua orang tamu pria masuk dan langsung menatap heran ke arah gadis itu. Aku dan Rio saling pandang. Ini mulai tak baik. Salah seorang dari kami harus melakukan sesuatu.

Rio memilih melayani tamu yang baru masuk, dan aku terpaksa melangkah mendekati gadis itu. “Mbak… maaf, ada apa? Kenapa Mbak menangis?” Aku menata baik-baik kata-kata yang meluncur dari mulutku. Bagaimanapun, aku adalah seorang pelayan dan gadis itu tamuku. Aku harus sesopan mungkin bertanya, agar tak menyinggung perasaannya. Gadis itu menatapku, lalu cepat-cepat menyapu airmata di pipinya dengan saputangan yang juga berwarna hitam.

“Ah, maaf, Mbak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud…” Dia berusaha sekuat tenaga mengulas senyum. Meskipun kini tangisnya sudah berhenti, tetap saja dia gagal mengubur kesedihan itu dari matanya. Usahanya untuk menghapus dukanya tampak sia-sia saja. Aku mendadak merasa iba. Aku jadi ingat Ranti, adik sulungku, yang suka menangis.

“Mbak mau saya ambilkan air putih? Air putih bisa…” kata-kataku tertahan saat gadis itu tiba-tiba meraih lengan kananku dan melalui gerakan yang lembut menyuruhku duduk di depannya.

“Maukah menemani saya sebentar?” katanya meminta, atau lebih tepatnya memohon. Lewat sudut mata, aku menoleh ke arah Rio yang sedang sibuk menyiapkan pesanan para tamu, minta pendapat. Rio hanya mengangkat bahu, lalu kembali sibuk. Aku tak punya pilihan yang lebih baik, jadi kuputuskan duduk di depan gadis itu lalu memberanikan diri menatap matanya.

“Apa yang bisa saya bantu, Mbak? Maaf saya bukannya tidak sopan, tapi…”

“Maafkan saya. Saya menangis karena baru saja diputuskan oleh pacar saya. Saya sedih sekali. Saya tidak menyangka sama sekali dia memutuskan hubungan kami.” Suaranya parau. Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku diam saja. Tangisnya kembali pecah. Rio menatap dari kejauhan dengan gestur bertanya, aku menggeleng pelan.

Setelah menghapus air matanya dengan saputangan, gadis itu meneruskan, “Dia terlambat karena jalanan macet akibat hujan lebat. Tempat parkir mobilnya agak jauh dan dia tidak bawa payung. Jadi dia menerobos hujan deras untuk sampai ke sini. Pakaiannya dan rambutnya basah kuyup. Dia tadi langsung minum kopi yang saya pesan, sampai tak bersisa, mungkin dia kedinginan. Dia memang suka sekali kopi hitam, beda sekali dengan saya. Dia bilang dia sering ke sini, makanya mengajak saya bertemu di sini. Saya sendiri baru pertama kali ke sini. Mungkin Mbak sudah akrab dengan wajahnya. Dia tadi bilang Mbak sering melayaninya.”

Aku bingung. Kucerna lagi apa yang dikatakan gadis itu. Dia bilang pacarnya datang dengan kondisi basah kuyup, duduk bersamanya persis di tempat aku duduk sekarang, dan meminum kopi hitam yang tadi dipesan gadis itu. Tapi aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu saat datang atau saat pergi. Aku hanya tahu gadis itu duduk menunggu sejak pukul setengah tiga, memesan Cappuccino kemudian kopi hitam, dan beberapa menit yang lalu terisak-isak sendirian. Tak ada lelaki. Tak ada siapa pun kecuali aku dan Rio.

“Maaf, tapi tak ada yang datang dan duduk di sini bersama Mbak sejak tadi,” kataku. Gadis itu menatapku, kini dengan sorot sedikit heran. “Apa maksud Mbak?”

“Ya, saya tidak ke mana-mana sejak tadi. Saya tidak lihat ada orang duduk dan ngobrol dengan Mbak di meja ini,” kata saya menjelaskan.

“Jadi, maksud Mbak saya mengarang-ngarang cerita itu?”

Kini aku bingung. Entah mana yang harus kuutamakan, menghargai perasaan tamu atau menghormati keyakinanku sendiri. Sumpah disambar gledek, aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu.

“Maaf, Mbak, saya tidak bermaksud begitu. Tapi saya memang tak melihat pacar Mbak itu.”

“Coba tanya teman Mbak yang menjaga pintu masuk, dia pasti ingat,” katanya, kini dengan nada agak sengit. Aku ke depan memanggil Daniel. Kuceritakan apa yang terjadi. Di depanku dan gadis itu, Daniel mengerutkan keningnya. Pemuda 19 tahun itu menggeleng.

“Tidak, Mbak Della, saya tidak lihat orang denganciri-ciri seperti itu masuk ke kafe,” katanya. Mendengar jawaban Daniel, gadis itu tiba-tiba bangkit, buru-buru mengambil selembar seratus ribuan dari dalam dompet dan menaruhnya di atas meja, kemudian beranjak ke pintu dengan lagak kesal. Begitu tubuhnya hilang di koridor, aku mengambil uang itu dan mengemasi gelas kopi di atas meja.

“Aneh banget ya, Mbak,” kata Daniel.

“Banget,” sahutku. “Ya, sudah, terima kasih, Daniel, silakan kembali ke depan lagi.”

Daniel pergi. Aku mengangkat nampan ke dapur. Saat meletakkannya di tempat cuci piring, sesuatu membuatku nyaris terhenyak. Cangkir kopi hitam yang dipesan gadis tadi untuk pacarnya sudah kosong. Tidak itu saja, aku tiba-tiba merasa bagian pantat celanaku agak lembab. Aku pergi memeriksa jok kursi tempat aku duduk bersama gadis tadi, dan jok kursi itu lembab seperti baru ditumpahi air.

Aku kembali teringat cerita gadis itu tentang pacarnya. Apakah dia berkata yang sebenarnya?

Seketika aku merinding.[]

© Melvi Yendra, 2014

Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 8 – Habis)

HANIF mengaku sudah lama tahu tentang Benny. Kenyataan ini membuatku berang.

“Kenapa kaurahasiakan? Kenapa aku tak diberitahu?” tanyaku saat kami melaju kencang dalam perjalanan ke Bandara Sultan Iskandar Muda. Siang itu juga aku memutuskan kembali secepatnya ke Jakarta. Aku tak ingin melewatkan saat-saat terakhir sebelum lelaki tua itu dikubur di tempat peristirahatan terakhirnya.

“Kau lupa, ya, kita baru berjumpa hari ini setelah berpisah selama 22 tahun. Dan, sekarang kau sudah mau kembali ke Jakarta,” sahut Hanif tanpa menoleh. Matanya tajam menatap jalanan di depannya. Kedua tangannya gemeter menggenggam setir. “Aku sendiri tak menyangka kau tahu tentang lelaki ini. Nenekmu dulu berpesan agar menjauhkanmu dari semua hal yang berkaitan dengan peristiwa 22 tahun lalu itu. Karena itulah beliau memercayakan semua kekayaan keluargamu dan seluruh rahasia ini pada keluargaku, karena hanya kamilah sahabat yang paling dekat yang bisa nenekmu percaya. Nenekmu membawamu jauh-jauh ke Jakarta, dan melarangmu pulang, juga karena alasan itu. Dia tak ingin kau menggali-gali sesuatu yang sudah lama terkubur, dan tak ada gunanya lagi diungkit-ungkit.”

“Tentu saja aku tak bisa melupakan peristiwa itu. Tentu saja aku harus mencari siapa yang membunuh ayah-ibuku!” kataku dengan suara keras. “Bagaimana mungkin aku melupakan saat-saat kematian mereka!?”

Hanif terdiam. Dia tampak ingin mengungkapkan sesuatu, tapi berusaha menahan diri untuk tidak bicara. Kurasa, masih banyak rahasia yang disimpan Hanif untukku, dan entah kapan akan diungkapkannya.

Memasuki bandara aku masih belum bisa percaya, bahwa aku sudah harus kembali ke Jakarta, padahal aku baru saja sampai di tempat ini beberapa jam yang lalu. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku begitu ngotot melihat saat-saat terakhir seseorang yang sebentar lagi tinggal nama.

“Dengar,” kata Hanif membujuk, “kalau kau masih percaya padaku, tolong jangan kembali ke Jakarta sekarang. Cutimu baru saja dimulai. Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu di sini.”

Bujukan Hanif tak menggoyahkan keputusanku. Sebelum berpisah dengannya di pintu keberangkatan, aku berkata, “Aku punya cukup banyak waktu untuk mendengar apa yang kau rahasiakan dariku selama 22 tahun terakhir ini.” Kupeluk dia sebelum membalikkan punggung. “Aku segera kembali,” kataku lagi.

AKU tak pernah menduga semuanya akan berakhir seperti ini. Lelaki yang ingin kueksekusi sendiri dengan tanganku, ternyata mati di atas tempat tidur, diiringi tetesan air mata putri yang sangat mencintainya. Untuk lelaki yang telah membantai kedua orangtuaku, dia tak layak mendapatkan penghormatan sebesar itu. Aku ingin dia mati di hadapanku—tentu saja setelah gagal mendapatkan ampunan dariku—dieksekusi regu tembak—satu-satunya hukuman yang paling layak untuknya—atau paling tidak dia bisa mengambil pilihan terakhir: membusuk seumur hidup di penjara.

Kehadiranku di rumah Kim Alia sore itu tidak saja mengejutkan gadis itu, tapi juga semua mata yang ada di sana. Aku, seorang lelaki asing, tiba-tiba datang melayat seorang lelaki yang selama ini mungkin tak punya banyak kawan, dengan stiker bagasi maskapai penerbangan masih melekat di tas koper yang kubawa, turun dari sebuah taksi yang melaju tergesa-gesa. Semua orang akan tahu aku berpacu dengan waktu agar bisa melihat lelaki itu untuk terakhir kali. Aku seperti seorang anak yang merantau jauh, yang baru saja ditinggal pergi sang ayah.

Aku sendiri masih belum percaya, kenapa aku bisa sampai di tempat itu. Motif apa yang mendorongku? Aku sama sekali belum tahu. Aku, lelaki asing bagi semua orang, termasuk bagi Kim, meski kami sudah kenal sejak dua bulan lalu. Kedatanganku yang tak disangka-sangka, sama mengejutkannya dengan pertanyaan dari mana aku mendapat kabar soal kematian ayahnya itu. Sementara dirinya sendiri—kalaupun ingin—mungkin tak tahu harus mencariku ke mana untuk menyampaikan kabar duka itu.

Benny. Kutatap wajah lelaki itu untuk yang terakhir kali. Wajah yang mendadak tampak lebih tua dari saat aku melihatnya pertama kali dua bulan yang lalu. Aku menatap wajahnya sejenak dengan perasaan yang aneh. Orang datang melayat karena kedekatan atau kekerabatan dengan sang mayat. Orang datang melayat untuk memberikan penghormatan terakhir. Lain denganku, aku tak punya semua alasan itu. Dendam? Dendam apalagi yang akan kuperlihatkan pada sesosok mayat yang sudah menyerahkan hidupnya pada Sang Pemilik? Murka apa lagi yang akan kutunjukkan pada seseorang yang kini hanya punya selembar kafan untuk dibawa pergi?

Jenazah Benny dimakamkan di sebuah pemakaman kecil di sebuah kampung di pinggiran Jakarta. Aku ikut mengantar kepergiannya sampai ke sana. Tak banyak yang mengantarnya ke liang kubur. Hanya ada Kim dan beberapa kerabat serta tetangga yang jumlahnya tak seberapa. Keluarga Benny tampaknya memang tak punya banyak sahabat dan tak akrab dengan tetangga. Bisa jadi mereka memang keluarga yang tertutup, atau bisa juga karena alasan lain, yang tak kuketahui.

“Terima kasih sudah datang, Kak,” kata Kim padaku sebelum aku masuk ke dalam taksi. “Tolong maafkan Ayah kalau-kalau beliau pernah berbuat salah.”

Kata-kata Kim itu sangat menyakitkan bagiku. Oh, Kim, kau tidak tahu apa yang telah ayahmu lakukan 22 tahun lalu pada keluargaku? Kalau saja aku tidak berada di rumah pohonku malam itu, mungkin aku tak akan ada di sampingmu saat ini.

Oh, Tuhan. Gadis ini, mungkinkah dia benar-benar tak tahu siapa ayahnya di masa lalu? Ayah seperti apakah gerangan Benny di matanya? Lalu, siapakah aku menurut pikirannya? Senior pujaannya di masa lalu, yang secara kebetulan bertemu kembali dengannya di Facebook dan suatu malam ditakdirkan hadir dalam acara malam malam bersama ayahnya? Hanya itukah. Ya, mungkin hanya itulah sosokku di mata Kim. Dia tak tahu, aku sudah 22 tahun mencari-cari ayahnya. Dia tak tahu aku sudah merencanakan sesuatu yang jahat pada mereka berdua. Dia tak tahu, kalau kedekatanku dengannya hanya bagian kecil dari sebuah skenario licikku untuk memasuki hidupnya.

Seluruh skenario yang kurancang kini hancur sudah. Tadi pagi, aku masih terus memikirkan rencanaku semula, siap mengorbankan hidupku untuk pembalasan dendam ini. Aku sudah menyiapkan diri untuk merebut hati Kim Alia—sesuatu yang sebenarnya tak perlu lagi kulakukan—melamar gadis yang tidak kucintai itu, menikahinya, menjadi suaminya, dan lalu perlahan-lahan menghancurkan hidupnya dan hidup ayahnya dari dalam. Dan ketika saatnya tiba, akan kuungkapkan siapa diriku kepada mereka berdua, dan setelah itu menuntut balas atas kematian ayah dan ibuku.

Seluruh skenario yang sudah kususun rapi itu kini hancur. Skenario besar Sang Pencipta menggagalkannya. Dan kini, aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Apakah aku harus melupakan dendamku pada Benny atau tetap melampiaskannya pada darah dagingnya satu-satunya?

SATU tahun kemudian, aku baru sempat kembali ke Aceh, dan berjumpa kembali dengan Hanif. Meski selama kurun waktu itu kami banyak berbicara atau berbalas pesan lewat telepon genggam, baik aku maupun Hanif nyaris tak pernah menyinggung lagi soal Benny. Setelah hari pemakaman Benny, aku menyibukkan diri kembali dengan pekerjaanku yang terbengkalai setelah hatiku remuk dikhianati Kania dan Affandi. Aku juga tak pernah lagi mendengar kabar tentang Kim.

Kepulanganku ke Aceh juga punya alasan khusus. Hanif mengundangku menghadiri acara pernikahannya, dan memintaku menjadi salah seorang saksi. Mungkin, karena ini pula, topik tentang Benny dan peristiwa 23 tahun lalu itu terlupakan. Rupanya Hanif juga sibuk menyiapkan hari istimewanya itu.

Seminggu setelah menikah, Hanif yang menunda bulan madunya karena beberapa urusan, mengajakku bertemu. Permintaan mendadak itu membuatku curiga. Hanif pasti punya kejutan lagi untukku.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu,” katanya saat kami sedang duduk di sebuah kedai kopi pinggir jalan, tempat yang kupilih sendiri. “Silakan, katakan saja semuanya sekarang,” jawabku setengah bercanda.

“Ini tentang Benny, lelaki yang membunuh ayah dan ibumu.” Aku menjatuhkan sendok kopiku ke lantai dan membiarkannya. Mataku nanar menatap Hanif.

“Aku tak tahu apa kau sudah tahu tentang ini. Aku hanya…”

“Jangan bertele-tele, katakan saja,” potongku. Hanif mengangguk. Lalu, kisah itu sampai juga ke telingaku.

Setahun setelah ayah dan ibuku terbunuh, pihak berwajib berhasil menangkap Benny dan gerombolannya. Tapi semua informasi tentang mereka dirahasiakan oleh negara, karena saat itu isu ini sangat sensitif. Benny dan gerombolan yang menyerang rumahku diadili. Anak buah Benny mendapat hukuman 15 tahun penjara, sementara Benny sendiri diganjar hukuman penjara 25 tahun. Seluruh penyelidikan lalu berhenti. Pihak berwajib tak berhasil menyentuh siapa yang memerintahkan mereka melakukan pembunuhan itu. Karena berkelakukan baik, Benny mendapat keringanan hukuman 5 tahun. Dia dibebaskan dua tahun yang lalu, satu tahun sebelum aku melihatnya di gerbang tol malam itu.

Cerita Hanif membuatku terdiam. Kini semua pertanyaan telah terjawab. Tiba-tiba aku teringat pada Kim. Aku kini tahu kenapa gadis itu begitu kesepian. Dia ditinggal mati ibunya sejak kecil, dan dibesarkan ayahnya dari penjara. Ayahnya telah menerima ganjaran perbuatannya. Keadilan sudah ditegakkan, dan itu mungkin sudah cukup.

Mendadak dadaku lapang. Langit lalu tampak cerah. Di gugusan awan putih di atas sana membayang wajah Ayah, wajah Ibu, dan wajah Benny. Dan tak bisa kuelakkan, sebuah wajah juga membayang di gugusan awan-awan putih itu. Wajah Kim.[]

Tanah Baru, Februari 2013

Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 7)

SEKERAS apa pun aku melantangkan teriakan bahwa aku tak terluka, luka tetapkah sebuah luka. Berminggu-minggu kemudian setelah kejadian di bandara itu, aku larut dalam pelarian panjang yang membuat para stafku, terutama Sylvia, khawatir. Aku baru keluar dari kantorku pukul tiga pagi, dan pukul delapan pagi sudah duduk lagi di mejaku dengan mata merah karena kurang tidur. Aku minum kopi lebih sering dan membakar rokok lebih kerap dari sebelumnya. Sylvia, satu-satunya orang yang tahu mengapa aku jadi setengah gila, mengambil paket liburan sebulan penuh ke Eropa untukku, namun kutampik. Aku katakan, ini tak akan lama, dan aku akan baik-baik saja.

Luka yang digoreskan Kania tak akan melemahkanku, dan dengan cara itulah aku membuktikannya. Kania dan Affandi mencoba memperbaiki hubungan kami tapi selalu kusambut dingin. Lagi pula, bisa-bisanya mereka berharap aku mau kembali bersahabat dengan mereka. Apa lagi yang mereka inginkan? Melukaiku sekali lagi?

Setelah enam ratus jam kerja selama satu bulan penuh, aku akhirnya merasa aku sudah pulih dari lukaku. Untuk merayakannya, aku mengambil cuti seminggu dan menuruti saran Sylvia untuk berlibur. Alih-alih Eropa, aku memilih pulang ke Aceh, kampung halaman yang sudah 22 tahun tak pernah kukunjungi.

Rumah tua itu masih seperti yang kuingat. Meski telah kutinggalkan selama puluhan tahun, orang-orang yang disuruh Nenek merawatnya, menjaga semuanya tetap seperti semula. Nyaris tak ada yang berubah, kecuali bahwa bangunan itu kini sudah tak sendirian lagi. Jalanan di depan rumahku sudah ramai dilalui kendaraan, dan sudah banyak rumah lain berdiri di sekitarnya. Tempat itu tidak lagi sepi seperti saat terakhir kutinggalkan. Banyak kedai dan toko-toko. Di ujung jalan bahkan sudah berdiri sebuah minimarket yang tampak ramai. Rumahku itu kini tampak seperti foto hitam putih tua di sebuah album yang berisi foto-foto penuh warna.

Bahkan, rumah pohon itu masih ada di sana, meski sudah tak jelas lagi bentuknya. Entah kenapa mereka tak membongkarnya saja, dan membiarkan kenangan buruk itu lenyap pula bersama waktu. Kini, rumah pohon itu membuatku memejamkan mata beberapa menit, dan kenangan buruk itu kembali melintas.

Bagian dalam rumah juga masih seperti dulu. Tak ada perabotan yang diganti. Keramik di lantai juga masih seperti saat terakhir sebelum kutinggalkan. Tampaknya penjaga rumah tuaku itu benar-benar mematuhi segala perintah Nenek, agar tak mengubah apa pun yang ada di sana.

Aku memberanikan diri masuk ke dalam kamar tidur Ayah dan Ibu. Napasku sempat terhenti ketika aku menatap ranjang tua itu, tempat dulu kulihat Ayah dan Ibu mati bersimbah darah. Kupejamkan mataku, dan tubuhku menggigil. Aku nyaris jatuh ke lantai kalau seseorang tidak menahan tubuhku dari belakang.

Aku terkejut dengan kehadiran lelaki yang sepantaran denganku itu. Mulanya aku tak berhasil mengenalinya, tapi setelah menatap wajahnya beberapa lama, aku baru bisa mengingat, tapi aku masih saja ragu-ragu siapa dia.

“Kau seharusnya tak ke rumah ini lagi,” katanya sambil membopongku ke ruang tengah dan mendudukkanku di kursi jati tua yang dulu sering diduduki ayahku. Lelaki itu menuang air dari sebuah ceret tua ke dalam gelas dan menyuruhku minum. Begitu air dingin mengguyur kerongkongan, rasa peningku sedikit berkurang.

“Maaf, Anda ini siapa?” tanyaku. Terdengar formal.

Dia tersenyum geli lalu tiba-tiba meninju pelan bahuku.

“Kubunuh kau sekarang juga kalau kau sampai lupa padaku,” katanya.

Aku menatap wajah lelaki itu sekali lagi, mencoba memanggil kembali segala kenangan masa kecilku. Dua puluh dua tahun. Wajar bila aku sudah lupa. Apa saja bisa terlupakan dalam waktu selama itu.

“Aku Hanif, Nizar. Kubunuh juga kau di sini akhirnya,” katanya sambil tertawa.

Hanif. Hanif?

Aku tersenyum malu. Satu kata itu saja sudah cukup memanggil berjuta kenangan bersama sahabat masa kecilku itu.

“Kau operasi wajah di mana, sih? Aku nyaris tak mengenalimu,” sahutku setengah meledek sambil tertawa, kemudian memeluk Hanif dengan erat.

Hanif memang sudah tak seperti dulu lagi. Dulu badannya ceking dan kulitnya hitam. Di antara teman-temanku yang lain, Hanif adalah yang paling tidak enak dipandang. Teman-teman gadis kami tak seorang pun dulu yang mau jadi pacar Hanif. Meski begitu, otaknya encer. Dia selalu berada di tiga besar di kelas, tapi tak pernah berhasil menggeser posisiku.

“Kau gemuk sekali sekarang, Nif. Putih pula. Dikasih makan apa kau sama Mak?”

Pertanyaan itu terlontar tak sengaja, dan disusul cepat oleh sebuah pertanyaan lain di hatiku, disertai penyesalan. Waktu kami masih kecil, perempuan yang dipanggil Mak oleh Hanif sudah sakit-sakitan. Bahkan ibuku pernah bilang, penyakit Mak Hanif tak bisa disembuhkan. Perempuan itu tinggal menunggu waktu, kata ayahku pula waktu itu. Perempuan itu kini pasti telah tiada. Aku menyesal telah melontarkan candaan itu pada Hanif.

“Makku masih hidup, Zar. Sehat beliau sekarang. Beliaulah yang merawat rumah ini sejak kau pergi,” Hanif tersenyum geli. “Aku tahu apa yang kaupikirkan tadi.”

Aku ternganga. Begitulah kiranya takdir bermain. Ayah dan ibuku dipanggil Tuhan lebih dulu. Dan perempuan yang dulu dikira tinggal menunggu malaikat maut ternyata masih hidup dan sehat wal afiat.

“Maaf, aku tak bermaksud…”

“Ah, sudahlah,” sahutnya lalu tergelak.

“Di mana Mak sekarang?” kejarku. Aku rindu bertemu perempuan itu. Dulu waktu kecil aku suka duduk di pinggir ranjangnya, mendengarkan dia mendongengkan kisah para Nabi. Sebelum sakit, Mak adalah guru ngaji di kampung kami, dan aku belajar ngaji padanya.

“Tadi ke masjid, salat zuhur. Sebentar lagi pasti balik. Mau berkeliling kampung dulu? Kita makan di luar saja. Makku belum masak apa-apa. Habis, kau datang diam-diam seperti hantu begini.”

Di halaman rumah terparkir sebuah sedan hitam mewah. Diparkir di sebelah Toyota Innova yang kusewa dari sebuah rental mobil tak jauh dari bandara.

“Hei, sukses kau sekarang!” candaku.

“Ah, jangan menghina kau, Zar. Aku tahu siapa kau di Jakarta,” sahutnya sambil masuk ke mobilnya.
Kami berdua berkeliling kota kelahiranku itu, makan siang di sebuah rumah makan yang masakannya membawaku kembali ke masa-masa kecil. Sudah lama aku tak menikmati makanan asli Aceh.

“Ceritakan tentang dirimu,” kataku setelah makan. “Terutama sejak kita berpisah 22 tahun lalu.”
Hanif kembali tersenyum. “Kenapa tidak kau duluan saja yang bercerita?” tanyanya.

“Aku yang kangen, bukan kau,” sahutku telak.

Hanif mengalah dan mulai bercerita.

“Setahun setelah kau pergi ke Jakarta, nenekmu pulang ke sini dan datang menemui ayahku. Beliau meminta kami sekeluarga merawat rumahmu seperti rumah kami sendiri, bahkan nenekmu sempat memaksa kami pindah ke sana dan menghuni rumah itu.

“Ayahku menolak pindah ke rumahmu, tapi beliau berjanji akan merawat rumah itu dengan baik. Nenekmu juga meminta ayahku mengelola beberapa bisnis yang dulu dijalankan ayahmu. Sebelum ayahku meninggal dunia 10 tahun lalu, nenekmu pulang dan memintaku untuk melanjutkan tugas yang dibebankan pada ayahku. Jadi, ketika ayahku meninggal, seluruh aset usaha almarhum ayahmu, ada di bawah kendaliku.”

Aku terdiam. Sebuah rahasia yang tak pernah kutahu. Nenek tak pernah bercerita, dan aku juga tak pernah bertanya. Mungkin karena itu pula Nenek, semasa beliau masih hidup, tak pernah membolehkanku pulang ke sini, dengan alasan apa pun. Kini baru aku tahu ternyata bisnis ayahku sudah dikelola oleh keluarga Hanif. Dan bisnis itu tampaknya berkembang.

“Baguslah, aku ikut senang,” sahutku datar.

Hanif tertawa. “Jadi, sebenarnya, ini adalah perjumpaan seorang jongos dengan tuannya yang sudah bertahun-tahun tak pulang kampung,” katanya, lalu tergelak.

“Kubunuh kau jika terus bicara begitu,” ancamku bercanda. “Lanjutkan ceritamu.”

“Hmm… tak ada yang menarik dari hidupku. Aku tamat kuliah hukum di sini dan dibiayai nenekmu ambil S2 hukum di Amerika. Begitu pulang, aku adalah direktur utama perusahaan keluargamu sekaligus pengacara pribadi yang menjaga segala aset yang sekarang ada di bawah namamu. Sedan mewah yang kupakai tadi adalah hadiah dari nenekmu sebelum beliau meninggal.”

Sungguh banyak sekali yang tak kutahu. Aku seperti lelaki yang buta bertahun-tahun dan baru saja ditakdirkan bisa melihat kembali.

“Teruskan,” kataku pada Hanif, yang tampaknya sudah tak bersemangat lagi bercerita tentang dirinya.
iPhone milik Hanif bergetar di meja makan. “Sebentar,” katanya padaku setelah melihat siapa yang menelepon. Hanif bicara cepat di telepon, mengangguk, lalu menutup telepon dengan cepat. Setelah itu dia menatapku, dengan tatapan yang tak bisa kupahami.

“Dia baru saja meninggal dunia.”

“Siapa yang meninggal?” tanyaku tak mengerti maksud Hanif.

Hanif menyeringai. Wajahnya tampak puas. “Lelaki itu. Lelaki yang membunuh ayah dan ibumu.” [–bersambung–]

Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 6)

SEJAK aku dan Kania pacaran dua tahun lalu, kami hampir tak pernah bertengkar. Kalau menemukan masalah, salah satu dari kami akan mengalah dan persoalan itu lalu seolah tak ada. Kalaupun pernah, hanya kesalahpahaman biasa dan alasan-alasan sepele kecil saja. Kami berdua memang sengaja menghindari segala alasan untuk ribut, dan selama ini selalu berhasil.

Jadi, ketika Kania meneleponku malam itu, aku langsung masuk ke skenario yang baru saja kurancang beberapa menit sebelumnya; menyingkirkannya.

“Halo, Sayang.”

“Kamu lagi di mana, sih?” Suara Kania penuh tekanan, terdengar tak biasa. Ketus dan tajam. Tak lagi lembut. Tak lagi manis. Aku menarik napas sejenak. Kaget juga melihat reaksinya itu.

“Aku sedang nyetir, Sayang. Kamu lagi di mana?” sahutku dengan suara tetap hangat. Namun, herannya, aku merasa kehangatan itu kini sedikit dibuat-buat. Di ujung telepon, aku mendengar samar kesibukan sebuah bandara. “Terminal 2F,” jawab Kania. Singkat dan tegas.

“Soekarno-Hatta?” tanyaku. Terdengar suara napas dilepas penuh kekecewaan dan sambungan mendadak terputus. Setahuku, Kania pulang ke Jakarta besok, bukan malam ini.

Aku cepat-cepat mencari putaran untuk kembali ke jalan besar. Rumahku tinggal beberapa kilo lagi, tapi kini aku harus memutar arah dan mencari pintu tol terdekat. Mengejar waktu ke Bandara Soekarno-Hatta.

Sampai berumur 33 tahun, aku hanya mengenal dua orang perempuan, Ibu dan nenekku. Aku kehilangan ibuku saat berumur 13 tahun. Nenekku lalu membawaku ke Jakarta, membesarkan dan menyekolahkanku sampai aku sarjana. Tapi Nenek tak sempat melihat kesuksesanku, karena saat aku baru saja merintis usaha pertamaku, Nenek meninggal dunia pada usia 82 tahun. Segala harta warisan yang dimilikinya, jatuh ke ahli waris tunggalnya: aku. Nenek tak punya anak lain selain ibuku, dan ibuku tak punya anak lain selain aku. Sementara kakekku, sudah lama meninggal dunia.

Dengan harta warisan Nenek itulah aku memulai masa depanku. Aku jatuh-bangun, tapi aku tak pernah menyerah. Kerasnya didikan almarhum Ayah, dan suntikan ilmu wirausaha dari Nenek, membuat aku terus melangkah.

Selama 33 tahun itu, aku hampir tak pernah berhubungan dengan wanita lain selain mereka berdua. Saat remaja, aku tak pernah jatuh cinta pada gadis mana pun. Aku cuma punya beberapa orang teman lelaki dan kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar berkelompok atau mengerjakan PR bersama.

Lalu, Kania hadir dalam hidupku sejak dua tahun lalu, dan aku mulai sedikit demi sedikit belajar memahami perempuan. Tapi, dua tahun teramat singkat untuk mengenal dan mempelajari isi hati seorang perempuan. Dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menemukan sisi gelap tersembunyi yang tak kasat, yang selama ini mungkin mewujud secara tersirat, yang mungkin luput kutangkap.

Jadi, saat memasuki kawasan Bandara Soekarno-Hatta satu jam berselang, aku baru menyadari satu hal: bahwa letup kemarahan yang ditunjukkan Kania sejak pagi kemarin, adalah sesuatu yang selama ini belum terdeteksi olehku alasan dan sebab-musababnya. Itu seperti sinyal asing yang jatuh dari angkasa luar.

Sinyal asing seperti itu pula yang muncul di wajah Kania saat kami duduk berhadapan di sebuah cafe di area Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta. Sungguh, malam itu aku tak bisa menerka apa yang tersirat dari wajah kekasihku itu. Campuran marah, kesal, sedih, sekaligus takut.

“Aku minta maaf, Sayang, atas kejadian tadi pagi,” kataku sambil meraih jemari Kania. Di luar dugaanku, Kania menggeleng sambil menjauhkan pandangannya. Tapi dia menyambut genggaman tanganku dan matanya mulai berkaca-kaca.

Aku heran. Seharusnya bukan bening kristal itu yang menyambutku malam ini. Bukan genggaman penuh getar ketakutan ini yang kuterima malam ini. Aku seharusnya menerima luapan kemarahan, dan pukulan yang keras di dada dan bahuku.
Yang kulihat malam ini adalah Kania yang rapuh, yang tampak lelah entah oleh apa, yang tampak takut oleh sesuatu.

“Ada apa? Kenapa kamu nangis?” tanyaku sembari meraba-raba, adakah sesuatu yang kulewatkan sejak dua tahun ini?

Kania menghapus air matanya dengan tisu. Sembari menatap mataku—tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya—dia berkata, “Aku tahu kamu akan marah. Aku tahu kamu tak akan pernah bisa memaafkan aku…”

Aku belum benar-benar bisa menangkap apa yang sedang coba dikatakan Kania padaku. Rahasia apa yang disimpannya dariku selama ini? Otakku diterjang ribuan tanda tanya yang datang serempak. Dan di saat aku tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi, tiba-tiba seorang lelaki muncul di depan kami, berdiri dari kursi yang sebelumnya luput kuamati. Affandi.

Aku tak bisa menerka seperti apa rupa wajahku saat itu. Aku menatap Affandi, yang berdiri dengan gayanya yang tak kukenal, tidak lagi santai dan tanpa beban seperti biasa. Wajah Affandi juga diliputi ketakutan, sama seperti wajah Kania.

Dengan cepat otakku mengolah semua data dan fakta yang sebenarnya mungkin sudah kupikirkan sejak beberapa jam lalu, tapi entah kenapa kuabaikan. Mungkin karena aku sedang berkonsentrasi pada urusan lain yang jauh lebih penting. Tapi, kenapa aku bisa selalai ini?

“Semua salahku, Zar,” kata Affandi.

“Apa maksudmu? Aku belum mengerti kenapa kalian berdua saling berebut minta maaf?” tanyaku, masih belum tahu topik apa yang sedang dibincangkan Affandi.

Melihatku sangat tenang, Affandi memutuskan untuk menjadi juru bicara mewakili mereka berdua. Tapi, dia masih berusaha menjaga jarak dariku. Dia masih di tempatnya berdiri, dua langkah di belakang Kania.

“Aku minta maaf, Zar,” kata Affandi.

“Tenang, aku ini orang yang pemaaf, tapi jelaskan dulu apa masalahnya!” kataku, kini mulai agak kesal. Bukan karena apa yang akan kudengar dari mereka, tapi karena ketidaksabaranku menunggu. Affandi menatap Kania. Kania lalu mengangguk, seolah memberi restu.

“Begini, Zar…” Affandi berhenti sejenak, mencari oksigen untuk dadanya yang mungkin sedang sesak.

“Kania tadi pagi ke Kuala Lumpur bukan untuk urusan pekerjaan. Tapi…”

Kini aku mulai panas. Puncak gunung es sebuah pengkhianatan besar baru saja kulihat dari kejauhan.

“Tapi apa?” teriakku. Beberapa orang yang berada di dekat meja kami menoleh mendengar suaraku. Aku tak peduli.

“Kania ke KL ingin menggugurkan kandungannya…”

Ribuan tanda tanya yang tadi menyerbu kepalaku mendadak berubah menjadi granat-granat kecil yang lalu meledak bersamaan. Aku tiba-tiba seolah pingsan beberapa detik mendengar kata-kata itu. Sepersekian detik, aku seolah tak sadarkan diri.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Kucerna kata-kata Affandi itu sebisaku. Dan, dengan cepat aku sudah bisa membuat kesimpulan apa yang melatarbelakangi pertemuan kami bertiga malam ini. Curhat Affandi tentang istrinya yang dingin; Affandi yang mengaku sering “menggunjingkanku” bersama Kania entah kapan dan di mana; pertemuan mendadak antara aku dan Affandi di Kemang siang tadi; dan sikap asing Kania padaku beberapa menit yang lalu. Semua itu rupanya sudah dirancang dengan sangat baik oleh mereka berdua. Yang belum aku tahu, sejak kapan mereka berselingkuh di belakangku?

“Jadi, kamu sudah selesai melenyapkan bukti perselingkuhanmu dengan dia?” tanyaku pada Kania. Kali ini dengan ketenangan yang mengejutkan keduanya, lebih-lebih Affandi. Kini aku tahu kenapa Kania tampak sangat lelah. Aborsi itu pasti telah menguras banyak energinya.

Sebelum Kania menjawab, aku bertanya lagi, “Kenapa harus digugurkan? Apa setelah melenyapkan janin itu, kalian berdua bisa meneruskan perselingkuhan kalian dengan tenang? Apa untungnya merahasiakan ini semua dariku?”

Keduanya terdiam. Aku bertanya lagi, “Sejak kapan semua ini dimulai?”

Tak ada juga yang menjawab. Beberapa detik tak juga mendengar jawaban, kulontarkan pertanyaan terakhir dan yang paling penting, “Apa salahku? Apa dosaku pada kalian berdua? Kenapa aku harus menerima pengkhianatan sejahat ini?”

Isak Kania makin menjadi-jadi. Affandi mendekati gadisku itu dan menyentuh bahunya untuk menenangkan. Saat itulah aku sadar, bahwa keduanya sungguh sepadan dan tampak saling membutuhkan.

Aku lelaki yang dibesarkan dengan cobaan hidup paling kejam yang pernah diterima manusia normal. Hantaman kecil ini tak akan membuatku remuk, alih-alih hancur. Jadi, dengan segala ketenangan yang kumiliki, aku bangkit dari kursiku, menatap Kania dan Affandi, lalu memutuskan pergi dari hidup keduanya, selama-lamanya.

Dengan cara-Nya, Tuhan memberiku sebuah skenario yang jauh lebih baik dari skenarioku semula. Tanpa kusadari, sekarang tinggal satu skenario saja yang harus kujalankan. Namun begitu, aku tetap berduka kehilangan Kania.[–bersambung–]

Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 5)

BEBERAPA detik aku tidak melakukan apa pun selain mataku yang menatap dengan hampa ke arah gadis itu. Kim yang tampak lebih cantik dari fotonya yang mana pun, menghampiriku dan memberi senyum paling lebar yang pernah kuterima dari seorang gadis yang baru kukenal. Lelaki di sebelahnya, tampak lebih tua dari yang kulihat di malam sebelumnya. Kini kulihat bahwa lelaki itu kini tampak sedikit bungkuk, dan wajahnya lebih tirus. Untuk lelaki 60 tahun, dia tampak lebih tua beberapa tahun.

“Kok belanja di sini, Kak?” tanya Kim akrab, seakrab dua sahabat yang tinggal berlainan kota dan tiba-tiba salah satunya kepergok sedang belanja di sebuah minimarket di dekat rumah sahabatnya.

“Oh, eh…” Ada tambahan beberapa detik lagi ketika aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Beberapa detik yang terasa sangat panjang sampai aku menemukan kata-kata yang tepat, dan wajar, dan tak terkesan dibuat-buat.

“Oh, ini,” aku menunjukkan kanebo di tanganku. “Mau beli ini. Yang lama sudah usang.” Aduh! Itu sungguh alasan terbodoh yang pernah aku lontarkan. Kalau hanya untuk membeli kanebo, kenapa harus jauh-jauh ke tempat itu?
“Oh, gitu, ya” sahut Kim sambil menahan senyum. Dia tahu aku berbohong. Dia dan ayahnya lalu berbisik-bisik, dan, Kim lalu memperpendek jarak antara kami.

“Kak Nizar, kenalkan ini ayahku. Ayah, ini Kak Nizar, yang pernah Kim ceritakan,” kata Kim.

Aku bingung mana yang harus kudahulukan; menyodorkan tangan untuk menyalami lelaki itu, atau memikirkan kalimat terakhir Kim. Sudah berapa lama aku jadi bahan pembicaraan anak gadis dan ayahnya itu? Aku sedikit tersanjung dengan alasan yang tak kupahami. Lamunanku pupus saat tangan lelaki itu menggantung di depanku. Dengan kikuk aku menyalaminya. “Nizar, Om,” kataku memperkenalkan diri.

“Oh, iya, Ayah masih ingat. Kamu sering sekali bercerita tentang Nizar. Apa kabar, Nak Nizar?”

“Oh, eh, baik, Pak,” sahutku cepat. Astaga! Apa yang sedang terjadi padaku? Ke mana perginya amarah itu? Ke mana perginya segala rencana jahat itu? Ke mana perginya segala dendam itu?

Tapi, tunggu. Aku tentu saja harus berpura-pura. Untuk masuk ke sarang musuh, aku harus memasang muka manis seperti serigala. Ya, tindakanku sudah benar. Aku sudah di jalur yang tepat.

“Kak Nizar, ayo mampir ke rumah, sekalian makan malam. Ada pesta kecil untuk merayakan wisudaku,” kata Kim tak tanggung-tanggung.

Aku butuh beberapa detik lagi untuk mengambil keputusan. Sebenarnya ini kesempatan baik bila kuterima. Tanpa perlu bersusah-payah menerobos sarang musuh, aku malah diundang untuk masuk ke sana. Tapi, aku mempertimbangkan hal lain. Apakah ini terlalu terburu-buru? Apakah ini tidak lantas malah mencurigakan? Atau jangan-jangan lelaki itu sudah tahu siapa aku sebenarnya dan ini semua justru sebuah perangkap? Entahlah. Kepalaku butuh lebih banyak waktu untuk mencerna semua kemungkinan itu.

“Terima kasih banyak, Kim, tapi saya…”

Belum selesai aku menjawab, tangan ayah Kim jatuh di bahuku. “Tidak baik menolak rezeki, Nak Nizar,” kata lelaki itu dengan suaranya yang berat. Mata kami bertatapan sekilas. Dadaku seketika berdesir. Hanya dalam jarak beberapa senti, aku bisa menatap orang yang menghabisi nyawa kedua orangtuaku.

Aku mengangguk, lalu membayar kanebo di kasir. Aku lalu mengiringi langkah Kim dan ayahnya ke rumah mereka yang tak berapa jauh dari tempat itu.

Rumah yang ditempati Kim Alia dan ayahnya tidak terlalu besar. Ruang tamunya hanya berisi mebel sederhana, jauh dari mewah. Tapi ruangan kecil itu ditata dengan baik. Ada beberapa foto keluarga tergantung di dinding. Dari sofa tempat aku duduk, aku bisa melihat bahwa Kim adalah anak tunggal dalam keluarga itu. Tak ada foto lain selain foto Kim, ayah, dan ibunya. Tak kulihat foto bersama kerabat dan teman-teman. Keluarga yang suka menyendiri.

Ayah Kim duduk menemaniku di ruang tamu. Obrolan dimulai dengan pertanyaan basa-basi seperti tentang pekerjaan dan aktivitasku. Lalu, di suatu titik yang aku tak tahu dipicu oleh apa, ayah Kim mengatakan sesuatu yang sebenarnya belum layak kudengar. Tapi kemudian kupikir, lelaki itu pasti sudah lama tidak punya teman ngobrol selain anak gadisnya. Dia pasti tak pernah bermain tenis atau bermain catur dengan lelaki sebaya. Aku bisa menyimpulkan semua itu hanya dari muram yang menyembur dari wajahnya.

“Ibu Kim sudah meninggal dunia,” katanya.

Terlontar kata “oh” halus dari mulutku, dan itu ungkapan yang jujur, tidak kubuat-kubuat. Baru aku sadar, aura kesedihan dan kesepian yang kutangkap dari obrolanku dengan Kim semalam, ternyata berakar dari fakta yang baru saja kudengar.

“Maafkan saya, saya ikut berduka,” sahutku.

“Tidak apa-apa, itu sudah lama. Sejak Kim berumur beberapa minggu,” kata lelaki itu lagi. Wajahnya tiba-tiba memberat. Dan aku berada dalam posisi yang serbasalah, antara berusaha menghibur atau membiarkan lelaki itu menikmati kembali kesedihan yang mungkin sudah lama tak dibagikannya kepada orang lain.

Kim muncul dari ruang tengah membawa dua cangkir teh dan sepiring makanan kecil.

“Ayah sudah membuat Kak Nizar bersedih, ya?” tebak Kim setengah tergelak. Dia meletakkan teh dan piring makanan kecil di atas meja, dan tanpa kusadari aku memerhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh gadis itu. “Jangan dipikirkan, Kak. Ayah memang suka begitu. Suka berbagi kesedihan dengan para tamu,” sambung Kim sambil mencium kening ayahnya. “Sekarang ngobrol dulu, ya, berdua. Kim mau siapkan makan malamnya.”

Gadis itu pergi tanpa sedikit pun menatap ke arahku. Ayahnya memergoki aku memerhatikan anak gadisnya saat melangkah ke ruang dalam. Aku langsung kikuk.

“Kim cuma satu-satunya, Nak Nizar. Jadi kami hanya berdua saja di dunia ini…” kata lelaki itu seolah mengkonfirmasi segala hipotesa yang kubuat sebelumnya. “… dan saya menyangsikan, saya akan bisa menemani Kim lebih lama…”

Seolah sudah diatur demikian, Benny terbatuk setelah selesai mengucapkan kalimatnya yang terakhir. Kalimat yang tergantung, tapi sudah bisa kutangkap ke mana arahnya.

“… seandainya saja ada lelaki yang mau menjadi pendamping Kim sebelum semua kesangsian saya itu terjadi, saya akan lebih bahagia menghabiskan sisa-sisa umur saya ini.”

Dia kembali terbatuk dan aku tidak tahu harus berkomentar apa. Sebagai perantau yang sudah banyak bergaul dengan berbagai macam orang, aku tahu tujuan Benny mengungkapkan kata-kata itu. Mungkin, mungkin aku adalah lelaki kesekian yang duduk di sofa ruang tamu itu, dan skenario itu sudah belasan kali dimainkannya.

Secara sederhana bisa kusimpulkan bahwa lelaki ini, Benny, memang sedang berusaha setengah mati mencari pendamping hidup untuk Kim. Mungkin penyakit yang dideritanya atau ada alasan lain yang membuat lelaki itu terpaksa mengambil jalan instan seperti ini. Dan menurut dugaanku, overacting Kim saat chating denganku, juga disebabkan oleh motivasi yang sama. Mungkin gadis itu tidak seterbuka atau seagresif itu, tapi desakan dari ayahnya membuatnya menjadi gadis yang seolah terang-terangan memproklamirkan dirinya sedang mencari suami.

Jauh di dalam hati, kondisi ini membuatku sedikit lega. Tiba-tiba saja, Tuhan seolah telah menuntunku datang ke minimarket itu malam ini, dan Dia menggiringku pada skenario yang tiba-tiba kusadari menjadi jalan bagiku untuk memasuki kehidupan lelaki itu. Seolah tak tega membiarkanku terus-terusan dihantam kepanikan mencari jalan untuk melampiaskan dendamku, Tuhan menunjuki jalan yang teramat singkat dan mudah menerobos benteng pertahanan musuhku.

Makan malam sudah tersedia di meja. Kim datang ke ruang tamu memanggil kami berdua ke meja makan. Saat sekilas kami bertatapan sebelum aku bangkit dari sofa, kulempar seulas senyum padanya. Senyum yang akan membuatnya merasa sesuatu telah terjadi dalam percakapan aku dan ayahnya, yang akan membuatnya tak bisa tidur malam ini karena mengira perangkap ayahnya kali ini berhasil menangkap mangsa. Dan, aku, Nizar, mulai malam ini akan memainkan peran sebagai serigala berbulu domba, yang ketika saatnya tiba, akan melepas baju dombaku dan mengejutkan si tua bangka itu dengan seringai dan gigi tajam serigalaku.

Saat aku memacu mobilku keluar dari kawasan itu satu setengah jam kemudian, tiba-tiba rencana besar itu sudah matang di kepalaku. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat bahwa Kim Alia ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Dia cantik, dan kurasa layak duduk bersamaku di pelaminan, sepalsu apa pun pernikahan itu bagiku nanti.

Mendekati rumahku, telepon genggamku tiba-tiba bergetar. Layarnya menampilkan sebuah nama. Aku tersentak karena menyadari sesuatu. Skenarioku masih belum sempurna. Rencana besarku masih belum mulus. Ada kerikil kecil yang harus segera kusingkirkan. Kerikil kecil bernama Kania.[–bersambung–]

Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 4)

AKU sudah lupa sejak kapan kenal Affandi. Kalau aku tak keliru, kami pertama kali bertemu dalam sebuah pameran mobil. Affandi adalah seorang wartawan majalah lifestyle. Selain itu dia juga bekerja sambilan sebagai fotografer. Dia punya usaha rumah foto yang lumayan sukses. Sering aku bertanya-tanya, kenapa Affandi masih mau jadi wartawan kalau dari usaha fotografi saja dia sudah bisa menghasilkan banyak uang. Bila hal itu kutanyakan, Affandi selalu mengatakan bahwa dengan jadi wartawan, dia jadi punya akses ke orang-orang penting, sebuah anugerah yang tidak akan didapatkan oleh orang-orang biasa seperti aku, misalnya. Tampaknya, bisnis foto Affandi memang didukung jaringan yang dia bangun dari pekerjaannya sebagai seorang jurnalis. Beda denganku, Affandi sudah menikah, dengan Fiona, dan punya seorang putri berumur tiga tahun bernama Katri.

“Angin apa yang membuatmu mengajakku ketemu di akhir pekan seperti ini?” gurauku. Affandi tersenyum. Dia punya wajah yang agak unik. Wajahnya lonjong seperti bule, hidungnya mancung, rambutnya agak pirang, dan matanya tidak hitam seperti mata sebagian besar orang Indonesia. Dia lebih sering dikira turis asing ketimbang wartawan bila sedang meliput berita. Tapi kombinasi yang nyaris sempurna itu dirusak oleh tinggi badannya yang pas-pasan. Tinggi Affandi cuma 160 senti, 15 senti lebih pendek dariku.

“Aku tahu,” godanya. “Kania sedang keluar negeri, dan kau pasti kesepian seperti duda yang baru ditinggal mati istri beberapa hari.” Affandi tergelak. Dia memang paling suka menyudutkanku.

“Kau tahu dari mana Kania ke luar negeri?” serobotku agak kaget. Aku sudah hampir dua bulan tidak bertemu Affandi, jadi agak mengherankan dia tahu jadwal Kania. Tidak mungkin—di tengah kesibukan kami bertiga—Affandi dan Kania menggunjingkanku.

“Man, jangan lupa, aku ini wartawan. Telingaku ada di atas atmosfer sana dan mataku setajam satelit mata-mata Rusia.”

“Pembual!” semburku, ikut tertawa. Kami bertemu di sebuah cafe di kawasan Kemang sore itu. Seorang barista yang muda dan cantik mengantarkan pesanan kami. “Hot capuccino. Silakan.” Si barista tersenyum kemudian pergi. Affandi melirik tubuh seksi gadis itu dengan tatapan nakal. Aku menendang kaki Affandi. Affandi melotot dan kami tertawa.

Affandi membuka obrolan dengan mengangkat tema keluarga. Dia curhat padaku soal Fiona, istrinya, yang dia rasa belakangan ini mulai dingin.

Aku bukan psikolog yang mengerti persoalan kejiwaan manusia, tapi aku bisa katakan pada Affandi, agar dia lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga.

“Aku belakangan ini memang sedikit lebih sibuk,” katanya. “Pekerjaan di kantor benar-benar menyita waktu. Kalo studio, sudah bisa kutinggal, karena aku sudah percayakan sama anak-anak.”

Aku menyeruput kopiku. Terasa agak berbeda di lidahku, tapi aku merasa, ini disebabkan mood-ku yang sedang tidak baik.

“Kenapa tidak berhenti saja jadi wartawan? Kau bisa lebih serius di fotografi. Kalau mau lebih maksimal, memang harus fokus.”

Affandi menggeleng. “Tidak bisa, Zar. Di dunia ini, aku hanya punya dua hobi, menulis dan fotografi. Itu sudah seperti darah untuk jantungku. Aku tidak ingin melepaskan salah satunya. Keduanya sejalan, harus seimbang, terus ada.”

Aku menatap mata Affandi. “Setidaknya, kau bisa menulis buku atau menulis freelance di rumah.”
Dia tertawa. “Mungkin suatu saat nanti akan kucoba. Tapi tidak sekarang.”

Kami lalu mengobrol soal bisnis. Affandi menanyakan bagaimana usahaku. Aku ceritakan bahwa persaingan di dunia otomotif makin ketat. Aku sekarang sedang konsentrasi bagaimana meningkatkan porsi penjualan. Pembicaraan soal bisnis lalu berganti dengan tema yang malas kubahas, soal Kania.

“Jadi, kapan jadinya kau akan menikah?” tanya Affandi, dan yang membuatku heran, kali ini tampak sungguh-sungguh.

Aku tersenyum. “Belum. Aku belum siap.” Kunyalakan rokok kelimaku dan kuisap dalam-dalam. “Aku harus yakin dulu kalau Kania benar-benar orang yang tepat.”

“Jawaban klise,” sahut Affandi asal.

“Terserah,” balasku.

“Kalian sedang ada masalah?”

Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur seperti peluru yang terlontar dari senapan yang pelatuknya tak sengaja ditekan Affandi. Aku, yang tidak pandai bermain peran, menyadari bahwa pertemuanku sore ini ada kaitannya dengan kekacauan yang kubuat dengan Kania tadi pagi. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

“Sialan,” sentakku kesal. Aku tidak suka cara Kania mengadukanku seperti ini. Apalagi pada satu-satunya sahabatku.

“Kapan Kania meneleponmu?” kejarku.

Affandi menyunggingkan bibir, mengukur tingkat kemarahanku yang tak seberapa, lalu menunjukkan kemenangan sesaatnya. “Tadi siang, begitu dia sampai di Kuala Lumpur.”

Mata Affandi tampak mengelam. Senyumnya hilang. “Kalau ada masalah, ceritalah padaku. Aku akan bantu. Sejak masuk tadi aku tahu, pikiranmu menerawang ke mana-mana. Kau tidak fokus. Ada apa di kantor?”
Sialan, hebat betul orang satu ini. Dia bisa menjerat petunjuk hanya dengan melihat air mukaku, walau dengan alur yang masih keliru.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya lelah. Minggu ini minggu yang benar-benar sibuk. Aku nyaris tak tidur semalam, dan pagi-pagi aku terlambat bangun,” aku berkata. Affandi melumat rokoknya yang masih setengah di asbak. “Jangan berdusta padaku, Nizar. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Dadamu digelayuti sesuatu yang berat, dan karena itu matamu jadi tampak gelisah. Aku bisa membaca perasaanmu.”

“Mungkin kau benar. Aku memang gelisah dan sedang ada masalah, tapi hanya masalah biasa.”

Cahaya di mata Affandi kian redup. Senyum di bibirnya kembali mengembang, tapi tampak sangat dipaksakan. “Oke, oke. Aku tidak akan memaksa. Hanya saja, kalau kau butuh aku, jangan ragu-ragu. Kautahu ke mana mencariku kalau aku tak bisa dihubungi via telepon.”

Aku ikut tersenyum. “Oke,” sahutku. “Jangan kuatir. Kau tetap sahabatku yang terbaik.”

Obrolan lalu terasa membosankan. Walau tidak tertangkap basah, aku seperti anak kecil yang baru saja turun dari pohon mangga yang berhasil menyembunyikan hasil curianku di semak-semak. Aku bukan aktor yang hebat, tapi tampaknya usahaku berhasil membuat Affandi diliputi keraguan.

Pukul enam lebih sedikit, aku dan Affandi berpisah di tempat parkir. Di dalam mobil, aku berpikir dan menyisir ulang apa yang telah kuputuskan hari ini. Keputusanku untuk merahasiakan masalah ini dari Kania, dan kemudian Affandi, kurasa semakin lama semakin tepat. Lebih dari dua dekade aku berhasil mengunci mati rahasia terbesarku ini di dalam sanibariku terdalam. Aku berhasil tidak menangis tiap kali melihat foto dua orang yang kukasihi, dan selalu berhasil menahan diri saat paman, istri paman, dan sepupu-sepupuku menyebut-nyebut nama mereka di dekatku. Aku seorang tawanan perang yang setia tidak mengungkapkan markas pasukanku, walau karena itu aku harus ditembak mati.

Mulanya aku berencana langsung pulang ke rumah. Tapi dalam perjalanan, aku berubah pikiran. Sesuatu di kepalaku bergetar, memerintahku untuk membelokkan mobilku menuju kawasan Rangunan, menuju rumah bajingan itu. Aku tiba-tiba ingin kembali mendekatkan diri dengan orang yang telah membantai orangtuaku. Aku, entah kenapa, seperti kerasukan sesuatu, yang membuatku selalu kehausan. Dan tempat aku bisa memuaskan rasa haus itu adalah dengan berada semakin dekat dengan musuhku itu.

Aku menemukan sebuah minimarket 24 jam beberapa puluh meter sebelum rumah kediaman Kim Alia dan ayahnya Benny. Rencanaku, aku akan berjalan kaki ke rumah itu. Aku sadar ini akan sedikit menimbulkan kecurigaan, tapi kegelisahanku sudah tak bisa diredam lagi.

Turun dari mobil, aku masuk ke minimarket, pura-pura mencari sesuatu. Aku pergi ke rak parfum dan sambil melihat-lihat parfum aku memikirkan apa yang harus kulakukan nanti bila telah sampai di depan rumah Kim Alia. Apa aku harus mengetuk pintu dan memperkenalkan diri sebagai yatim piatu yang nyawa kedua orangtuanya telah direnggut paksa oleh ayahnya?

Aku menggeleng. Seharusnya aku melakukan segalanya dengan penuh persiapan. Akan terlalu mencurigakan. Pria perlente seperti aku jalan kaki sambil celingak-celinguk di depan rumah orang lain di sebuah komplek perumahan yang lengang. Bisa-bisa aku dikira anggota sindikat maling.

Kuputuskan untuk kembali pulang saja, tidur dan mencoba berdamai dengan Kania. Sudah cukup waktu untuk meredam kemarahannya, dan saatnya bagiku untuk memperbaiki kesalahanku. Kutarik sebuah kotak pembersih kanebo dari rak dan berjalan ke kasir dan berdiri di antrean ketiga. Minimarket itu lumayan ramai.

Tiba-tiba kudengar suara tertahan dari belakangku.

“Kak Nizar!”

Aku spontan menoleh ke asal suara. Dan jantungku seketika rasanya berhenti berdetak.

Seorang gadis berjilbab—yang foto-fotonya sudah kuintip semua semalam lewat akun Facebook—berdiri dengan seorang lelaki gagah berumur 60-an tahun yang wajahnya mungkin tak akan bisa kulupakan sampai aku mati. Kim Alia dan ayahnya, Benny.[–bersambung–]

Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 3)

WAKTU aku kecil, aku punya sebuah rumah pohon, yang sudah kumiliki sejak aku berumur delapan tahun. Di belakang rumah kami, beberapa meter sebelum hutan, berdiri sebuah pohon besar yang kata ayahku sudah ada sejak kakekku masih kecil. Pohon itu sungguh besar. Aku dan salah seorang sahabatku, pernah mencoba melingkarkan tangan kami berdua memeluk pohon itu. Dan, kami tidak bisa saling menyentuhkan tangan kami. Di pohon itulah Ayah membuatkan sebuah pondok untukku. Aku senang bukan main, walaupun sebenarnya Ibu tidak terlalu setuju. Ibu bilang, aku bisa saja jatuh dan kakiku bisa patah.

Rumah pohon itu tak terlihat dari bawah, karena daun-daunnya begitu rimbun. Tapi aku bisa melihat apa saja yang ada di bawah, termasuk seluruh bagian rumahku. Agar aku gampang memanjatnya, Ayah membuatkan pijakan-pijakan kayu yang sekaligus bisa dijadikan tempat berpegangan. Dari dalam rumah pohon, aku bisa melihat hamparan sawah di kejauhan, bahkan kerbau-kerbau yang sedang berkubang di dalamnya. Rumahku tampak agak aneh, bahkan rasa-rasanya tampak seperti bukan rumahku karena aku merasa tidak mengenalinya. Sungai tempat aku biasa mandi dan berenang sepulang sekolah, tampak agak lain.

***

SAAT itu aku baru berumur 13 tahun. Aku masih ingat, saat itu sedang musim hujan. Hampir setiap hari hujan turun, sangat lebat pula. Hari itu hujan turun dari pagi. Tapi menjelang senja, hujan berhenti. Ayah pulang dari pasar kabupaten membawakan sebuah hadiah untukku. Aku mau membuka hadiah itu di rumah pohonku, tapi Ibu bilang aku bisa jatuh karena dahan pohon besar itu pasti licin setelah sekian jam disiram hujan. Tapi aku membandel, kukatakan aku sudah memanjat pohon itu selama tiga tahun, dan tak sekali pun aku terpeleset atau jatuh. Ibu akhirnya pasrah.

Hadiah yang dibelikan Ayah adalah hadiah yang sudah lama kuminta. Sebuah teropong medan versi asli, versi yang dipakai oleh tentara. Entah dari mana ayahku mendapatkannya. Sebenarnya aku sudah punya teropong, tapi barang lama itu cuma sebuah mainan yang tidak istimewa, karena semua anak di kampungku pasti memilikinya.

Tapi teropong baruku ini lain. Ketika kucoba menggunakannya di atas rumah pohonku, aku jadi takjub. Bahkan dalam gelap, teropong itu bisa melihat sampai jauh. Dari atas pohon, aku bisa membaca tulisan kabur Masjid Muhlisin di gerbang masjid di samping bukit di kejauhan.

“Jangan sampai kauhilangkan,” kata Ayah. “Itu harganya mahal sekali. Ayah pesan secara khusus langsung ke agennya di Jakarta.”

“Baik, Yah,” sahutku.

Suatu hari aku pulang terlambat sampai di rumah. Ayah memarahiku. Marah yang benar-benar marah. Aku maklum kenapa Ayah begitu marah padaku. Aku tidak ada di rumah seharian, sementara Ibuku sedang hamil tua. Ibu butuh aku untuk membantu beberapa pekerjaan di rumah. Kami memang tidak punya pembantu.

Malam itu aku merajuk. Jadi, aku pergi ke belakang rumah membawa teropong dan selimut dan naik ke atas rumah pohonku. Aku berharap, setelah gelap Ayah akan memanggilku pulang dan membiarkan aku masuk ke kamar. Tapi sampai tengah malam, tidak terjadi apa-apa. Aku akhirnya menyimpulkan bahwa kesalahanku kali ini benar-benar tidak termaafkan.

Aku tak tahu saat itu jam berapa. Langit cerah. Udara terasa dingin dan tubuhku menggigil. Aku terbangun karena mendengar suara-suara dari arah rumahku. Kupikir Ayah merasa sudah cukup menghukumku dan bermaksud memanggilku pulang. Tapi itu suara-suara yang tak kukenal. Suara laki-laki. Suara laki-laki dewasa seusia ayahku. Dan mereka lebih dari satu orang.

Kemudian kudengar jerit ibuku. Jerit tertahan, terdengar samar-samar karena dari rumah pohon ini yang kudengar hanya apa yang dibawa angin ke telingaku. Aku berhenti bernapas. Dadaku seolah berguncang. Tubuhku makin menggigil. Aku tidak berani menggerakkan badanku, bahkan kupejamkan mataku kembali berharap dengan begitu rasa takutku berkurang.

Lalu kudengar suara tembakan. Sekali, dua kali, tiga kali. Lalu sebuah rentetan tembakan yang terdengar selama beberapa detik. Ibuku tak menjerit lagi. Suasana sunyi senyap. Aku takut. Tubuhku gemetar. Dadaku sesak. Aku semakin sulit bernapas.

Apa yang telah terjadi di rumahku? Siapa orang-orang itu? Kenapa suara Ibu tak terdengar lagi? Ke mana Ayah? Kenapa Ayah tidak melakukan sesuatu?

Bayangan buruk menyerbu kepalaku, tak bisa kutahan. Aku pernah mendengar hal ini dari cerita Ayah atau yang kudengar dari cerita teman-temanku di sekolah. Penculikan, perampokan, dan pembunuhan oleh sekelompok orang tak dikenal. Di masa lalu, hal itu hanya terjadi di tempat-tempat yang jauh. Tapi kejadian-kejadian itu sudah mulai memasuki wilayah kami. Kami mendengar rumah tetangga kami diserang di tengah malam buta, hartanya dirampas, dan penghuninya dibantai.

Aku tidak tahu apakah yang terjadi di rumahku sama dengan yang terjadi di rumah-rumah tetanggaku. Aku tidak tahu siapakah yang telah mendatangi rumahku. Ayah cuma seorang petani yang punya toko hasil bumi di pasar kabupaten. Ayah cuma seorang saudagar kecil yang belum bisa disebut kaya raya seperti saudagar lainnya.

Aku memberanikan diri bangun dari lantai papan tempat aku berbaring. Samar-samar kudengar suara lelaki dewasa sedang berbicara satu sama lain. Mereka membicarakan sesuatu. Terdengar pula suara tawa. Tapi bukan tawa Ayah atau Ibu. Kutekuk kakiku perlahan-lahan dan kuraih tepian jendela papan rumah pohonku. Sampai di sana aku berhenti. Aku tak berani mengintip ke bawah. Aku takut orang-orang itu melihatku dan mengetahui keberadaanku.

Suara-suara mereka terdengar makin jelas. Aku mendengar suara mobil dihidupkan. Pelan-pelan kuangkat tubuhku dan kupandangi apa yang ada di halaman rumahku. Tak tampak jelas. Yang terlihat hanya sorot dua lampu mobil yang menerangi teras rumahku. Aku teringat teropongku. Kuraih benda itu kemudian kuintip apa yang ada di bawah sana.

Aku melihat sekitar delapan atau sembilan orang pria bergegas masuk ke dalam dua buah mobil yang diparkir di halaman rumahku. Lelaki terakhir yang keluar dari rumahku berdiri agak lama sebelum ikut masuk ke dalam mobil. Sementara kedua mobil memutari halaman menuju pintu keluar, lelaki itu mengawasi rumahku untuk terakhir kali, bahkan sempat memandang ke arah pohon besar, ke arahku. Dalam lensa teropongku, wajahnya terlihat jelas. Sayang sekali sorot lampu mobil sudah mengarah ke jalanan, sehingga wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas. Tapi untungnya lelaki itu kemudian membakar rokoknya. Cahaya korek api menerangi wajahnya beberapa detik. Wajah yang kasar, yang memiliki sebuah bekas luka yang sangat mudah diingat di keningnya. Wajah itu langsung lekat di kepalaku. Lelaki itu masuk ke dalam mobil dan rombongan orang-orang tak dikenal itu pergi begitu saja.

Aku tidak berani turun dari pohon sampai aku yakin keadaan benar-benar sudah aman. Sambil membalut tubuhku dengan selimut, aku memeriksa setiap sudut rumahku. Tak terlihat siapa pun, juga Ayah dan Ibu. Suasana sunyi sepi. Geliat pagi tidak terdengar lagi seperti hari-hari sebelumnya. Di saat-saat seperti ini, Ibu biasanya sedang sibuk di dapur, atau sedang marah-marah karena aku belum juga bangun. Jam-jam begini Ayah biasanya sedang memanaskan mobil pick-upnya dan siap-siap berangkat ke kebun.

Pelan-pelan dan sangat hati-hati aku masuk ke dalam rumah lewat pintu dapur. Lampu dapur menyala dan semua yang ada di dalamnya berantakan. Semua isi lemari dibongkar, bahkan tumpukan kayu bakar yang ditaruh Ayah di sudut dapur bertebaran di mana-mana seperti baru saja dihantam angin badai.

“Ibu? Ayah?” Aku memanggil dengan suara pelan. Tapi tak ada jawaban. Dari dapur aku masuk ke ruang tengah, dan seperti halnya dapur, ruang tengah juga berantakan. Sepertinya orang-orang yang datang semalam sedang mencari sesuatu.

“Ibu?” suaraku kini bergetar. Aku tidak bisa membayangkan apa yang telah menimpa ayah dan ibuku. Aku tidak ingin melanjutkan semua ini. Aku tiba-tiba ingin berhenti di tempatku sekarang dan mati kaku seperti patung. Kesunyian ini menelanku masuk ke pusaran rasa takut tak berujung. Aku bahkan tak bisa mendengarkan suara napasku sendiri.

Pintu kamar tidur Ayah dan Ibu terbuka. Lampu di dalamnya menyala. Gorden kamarnya tersingkap dan dari tempatku berdiri aku melihat ujung kaki Ayah. Kaki itu tidak bergerak, tidak hidup. Mati.

“Ayah?” panggilku. Kini dengan suara yang begitu pelan sampai nyaris tak terdengar. Kulangkahkan tungkaiku yang semakin lemah mendekati pintu kamar. Ketika mataku melihat apa yang ada di atas tempat tidur, jantungku benar-benar berhenti berdetak. Pandanganku berkunang-kunang. Tubuhku ambruk ke lantai, tapi beberapa detik kemudian aku berusaha keras beringsut mendekati tempat tidur, mencoba meraih ke arah ayah dan ibuku yang kini terbaring tak bernyawa di atas genangan darah mereka sendiri.[–bersambung–]

Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 2)

AKU mengikuti mobil itu dengan terus menjaga jarak aman. Sedan itu melambat di depan sebuah rumah berpagar rendah dengan taman penuh bunga di pekarangannya. Sambil terus menekan gas, aku memerhatikan lelaki setengah baya itu turun dari kendaraannya dan membuka pagar. Anak gadisnya ikut turun sambil terus mengocehkan sesuatu. Ketika mobilku melewati mereka, gadis itu menatap ke arahku sekilas, tapi kembali bicara dengan ayahnya. Aku mengeluarkan handphone-ku dan merekam wajah kedua orang itu dan rumah kecil tapi asri itu. Setelah itu, kupacu mobilku pulang.

Di kamarku, aku merebahkan kepalaku di atas bantal dan memejamkan mata.

Sudah bertahun-tahun aku mencoba mengelus dada, mendinginkan darah mudaku yang menggelegak dan akhirnya berhasil keluar dari rasa putus asa. Aku sudah melupakan semua masa laluku. Telah kukubur semua dendamku. Aku bangkit menyongsong kehidupan yang lebih baik dan penuh kedamaian. Dua puluh dua tahun aku tak pernah lagi membuka kenangan hitam itu, dan masa sepanjang itu sangat cukup untuk meredam semua dendam dan kemarahanku. Aku sekarang bahkan bisa bangga dengan perjuanganku bangkit kembali, walau Ayah dan Ibu tidak tahu dan tidak bisa menyaksikan bahwa silsilah keluarga mereka belum punah.

Tapi kalau sekarang aku dihadapkan kembali pada sosok yang telah membantai mereka, sosok yang dengan sombong menobatkan dirinya jadi malaikat maut bagi orang-orang tercintaku, aku tidak bisa tenang lagi. Semua bayangan itu ternyata tidak pergi jauh. Mereka hanya tersimpan di tempat yang tidak pernah kulihat lagi tapi ternyata sangat dekat denganku. Seperti pintu yang tak pernah lagi kubuka, padahal setiap hari aku melewatinya.

Aku bangkit dari ranjang, melangkah ke jendela dan menyibak gorden. Di luar, kutemukan malam yang gelap. Di manakah kau selama ini, Bajingan? Kenapa baru sekarang kau muncul? Kenapa kau hadir di saat aku sanggup dan siap membalaskan dendamku? Kenapa kau memperlihatkan dirimu kembali? Kenapa kau tidak mati saja diterjang peluru atau mati dengan tenang di ranjang tuamu, dengan tembakan salvo mengiringi pemakamanmu? Kenapa kau tidak mengakhiri hidupmu sebagai pahlawan negara, dengan status lebih terhormat dan penuh wibawa dan anugerah dan bintang jasa?
Hatiku tak berhenti berkata-kata sendiri. Tubuhku menggigil, jadi kupejamkan mataku kuat-kuat. Tanganku mengepal. Aku bukan dalam amarah, tapi sedang berjuang mengusir amarah yang tiba-tiba menguasai seluruh tubuhku. Kuusir wajah lelaki itu jauh-jauh, tapi wajah itu sekarang lekat di benakku, seperti mimpi buruk. Kuingat lagi semua detailnya. Wajah itu… sungguh, aku takkan salah dan meleset.

Aku mengambil telepon genggamku dan melihat kembali foto-foto yang kuambil tadi. Nomor polisi sedan Toyota itu adalah nomor pelat Jakarta. Lelaki itu tinggal di kota ini. Aku duduk di meja dan membuka laptopku. Kulacak dari Internet nomor polisi kendaraan itu. Kudapatkan sebuah nama. Benny. Benny saja, tidak ada gelar atau nama kedua.

Kubuka situs jejaring sosial. Kulacak akun atas nama Benny. Internet memberiku banyak sekali pilihan, tapi dengan sabar kutelusuri satu per satu sampai kutemukan satu profile picture yang benar-benar serupa dengan sosok lelaki yang kulihat malam ini. Tak salah lagi, itu pasti akun Facebook-nya. Aku merasa benar-benar beruntung.

Sejenak aku menyandarkan punggung ke kursi. Teknologi dan keserampangan orang-orang mengumbar data dan foto pribadinya di situs jejaring sosial kini memberi dampak yang luar biasa untuk kepentinganku. Pelacakan ini tak akan makan waktu lama.

Aku kembali menghadap layar laptop. Kutelusuri seluruh link yang ada di halaman muka akun Facebook lelaki itu. Mulai dari teman-temannya, status-status yang ditulisnya di wall, dan foto-foto. Foto-foto lamanya juga semakin mendekatkanku pada kebenaran bahwa aku tak salah tentang siapa dirinya. Namun, selain itu, aku juga sangat ingin tahu semua hal tentang anak gadisnya berjilbab itu.

Sebentar saja, kutemukan akun Facebook gadis itu. Namanya Kim Alia. Dia putri tunggal lelaki bajingan itu. Kali ini kutekan tombol “add friend” agar aku bisa berteman dengan lelaki itu, juga putrinya, dengan maksud agar aku bisa mengakses lebih banyak informasi tentang mereka. Sambil menunggu kepalaku dingin, aku keluar dari kamar dan melangkah ke bar kecil di ruang tengah. Aku menarik sekaleng bir dari kulkas dan menghabiskannya pelan-pelan sembari berpikir.

Jam dinding di atas kulkas berdentang keras saat kedua jarumnya beradu di angka 12, membawaku kembali ke kesadaran awal. Apa yang sedang kulakukan sekarang? Kenapa tak kulupakan saja wajah itu dan meneruskan hidupku yang sedang menuju puncak karier dan kebahagiaan? Kenapa aku harus mengorbankan semuanya demi sebuah balas dendam? Tapi wajah Ayah dan Ibu kembali hadir di depan mataku. Dan seluruh saraf di kepalaku kembali berdenyut-denyut saat bayangan mayat kedua orangtuaku yang bersimbah darah kembali mengusik pikiranku.

Aku kembali ke kamar dengan berton-ton beban di kepala. Aku duduk kembali di depan laptop dan membenamkan wajahku di kedua telapak tanganku. Di tengah lamunan, aku dikagetkan oleh suara tone, ketika sebuah pesan masuk ke chat-box Facebook-ku.

“Hai, terima kasih sudah meng-add saya.”

Aku nyaris tak bisa bernapas. Pesan itu datang dari akun Kim Alia, yang baru beberapa menit lalu aku add sebagai teman. Rupanya, request yang kukirim langsung disambut saat itu juga. Gadis itu ternyata sedang online dan tengah menyalakan fasilitas chatting.

Aku cepat membalas, dengan seringai yang asing di wajahku.

“Sama-sama.”

Aku menunggu beberapa detik, penasaran apakah pembicaraan itu akan usai begitu saja. Tapi, alangkah kagetnya aku ketika dia kembali menulis,

“Senang sekali di-add oleh seorang senior yang sampai hari ini masih disebut-sebut namanya oleh para profesor di kampus. Apa kabar, Kak? Kalau setelah ini saya tak membalas pesan, itu berarti saya sedang pingsan.”

Dalam kondisi normal, aku pasti sudah tertawa membaca komentarnya yang lucu. Tapi kali ini amarah sungguh telah menguasai seluruh diriku. Meski dalam percakapan kami selama beberapa jam kemudian aku ramah, hangat, dan humoris seperti biasa, semuanya kusengaja demi mendapatkan sebanyak-banyaknya informasi tentang dirinya dan kesempatan untuk bisa mendekatinya. Di luar yang kusebut tadi, aku sebenarnya adalah serigala bagi hidupnya beberapa waktu ke depan.

Kim Alia ternyata dulu kuliah di kampus yang sama denganku, selisih tiga tahun denganku. Mungkin di banyak sekali kesempatan, dia melihatku, Ketua Senat Mahasiswa saat itu, berbicara di depan mahasiswa baru, memberi sambutan di atas panggung, atau berorasi saat demontrasi. Gadis itu lahir tahun 1980, masih sendiri, dan dosen muda di kampus kami. Dari status-statusnya di Facebook, aku menangkap kesan Kim Alia adalah gadis yang kesepian. Kesepian yang belakangan kuketahui sebabnya. Kesepian yang rumit dan akut. Sebentar saja, aku dan Kim langsung akrab. Dia gadis yang riang dan sepertinya hampir tidak tahan mengungkap segala rahasia kecil tentang dirinya, seperti dia masih suka mengirim surat lewat pos dan mengoleksi perangko. pada orang yang baru beberapa menit berteman dengannya di sebuah situs jejaring sosial.

Setelah berbincang ngalor-ngidul, aku mengambil inisiatif menarik diri lebih dulu dari dialog dini hari itu. Sebenarnya aku ingin menggali lebih banyak tentang gadis itu, tapi kini kurasa aku tak perlu bersusah payah lagi, karena tanpa kuminta Kim sendiri ternyata adalah pengagum beratku.

“Sayang sekali Kim, aku terpaksa offline. Besok harus kerja.”

“Oh, oke. Nggak apa-apa, Kak. Ngobrol dengan Kakak sangat menyenangkan,” sahutnya, jelas-jelas sangat kecewa.

“Kapan-kapan bisa kita teruskan, kok,” tulisku, dalam kadar sedikit, berusaha menghibur.

“Benarkah? Asyikkk… Awas, ya, kalau boong nanti Kim gigit cubit.”

Aku membaca pesan terakhir itu dengan terpana dan hampir tidak punya ide untuk menuliskan jawaban. Di tengah kecanggunganku sendiri menghadapi putri musuh besarku, aku hanya bisa menulis, “Selamat malam, Kim. Bye.”

TIDUR yang cuma satu setengah jam, membuat kepalaku terasa berat saat bangun. Dering panggilan handphone yang membuatku terjaga. Kania sudah menghubungiku berkali-kali, tapi tak satu pun terjawab. Saat itu aku pasti masih terlelap. Gadis itu pasti sudah panik setengah mati menyangka aku kenapa-kenapa.

Kutelepon Kania dengan seribu ucapan maaf. Saat itu dia sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. Beberapa menit lagi pesawatnya akan terbang ke Kuala Lumpur. Secepat apa pun aku memacu mobilku ke Bandara Soekarno-Hatta, aku pasti terlambat.

“Sayang, maaf,” aku memulai pembelaanku di telepon. “Aku tidak bisa tidur semalam. Kepalaku sakit. Aku tidak dengar suara handphone.”

Kania diam, dan handphone-nya mendadak dimatikan. Dan peristiwa pagi itu, menjadi pemicu kehancuran hubungan yang sudah kami bangun selama bertahun-tahun.[–bersambung–]

Ilustrasi: Ahmad Fauzi

Wajah-Wajah di Langit (Bagian 1)

(Dimuat di Majalah Ummi, September 2012)

HUJAN yang mengguyur Jakarta sejak pagi membuat udara jadi lebih dingin di ruangan enam kali delapan meter yang kutempati. Pendingin udara di ruangan ini sudah sejak tadi kukecilkan, tapi tetap saja udara malam membuat tubuhku menggigil. Sialan, seharusnya aku tidak selemah ini menghadapi cuaca. Gelas kopiku sudah kosong lagi, padahal baru dibuat lima belas menit lalu. Hmm … Hari ini sudah tiga cangkir. Aku tidak berminat minum lebih banyak lagi. Bagaimana dengan rokok? Ah, dua bungkus sudah cukup untuk hari ini. Perokok tak pernah tua, kata sebuah iklan. Kenapa? Karena mereka selalu mati di usia masih muda.

Aku tidak ingin mati muda.

Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam, tapi aku masih belum ingin pulang. Pekerjaanku sebenarnya masih banyak, tapi tentu saja selalu masih ada hari esok. Hari ini memang sangat melelahkan. Dari pagi aku mengikuti rapat-rapat yang seperti tidak ada habisnya. Ketemu klien, makan siang dengan calon investor, mengontak klien-klien baru, membaca laporan-laporan, dan menjawab dering-dering handphone. Namun, semuanya membuat hidupku jadi semakin bergairah.

Di ujung mejaku, lampu salah satu tombol pesawat telepon menyala. Itu Sylvia, sekretarisku.

“Kamu belum pulang, Syl?” Aku bertanya lebih dulu sebelum Sylvia bicara.

“Belum, Pak. Ada yang bisa saya ambilkan untuk Bapak?”

“Tidak. Kamu sebaiknya pulang saja. Ini sudah terlalu malam. Saya baik-baik saja. Sebentar lagi juga pulang,” sahutku datar.

“Baik, Pak,” jawab Sylvia.

Aku melanjutkan sedikit pekerjaan yang ingin kutuntaskan sebelum pulang. Menjelang pukul sebelas malam, aku menyandarkan punggung dan menggeliat sambil melirik ke arah jam di atas meja. Sebaiknya aku pulang.

Aku mematikan laptop dan menyimpannya ke dalam tas. Setelah mematikan lampu ruangan, aku keluar dari ruanganku. Sebelum menutup pintu, hapeku bergetar. Dari Kania, pacarku.

“Kamu belum pulang? Udah jam berapa ini? Nanti kamu sakit lagi kayak kemarin.” Suara lembut Kania, walau terkesan menekan seperti biasa, terdengar manis.

“Ini juga udah mau jalan. Kamu kok belum tidur? Katanya besok mau ke KL?” Kania adalah owner sebuah event organizer. Besok dia terbang ke Kuala Lumpur, mengecek persiapan akhir resepsi seorang kliennya di sana.

“Aku mana bisa tidur sebelum tahu kamu udah nyampe rumah?”

Aku tertawa. “Ya, udah. Beberapa menit lagi aku udah nyampe rumah. Kamu tidur dulu, ya. Jangan khawatir. Besok kita ketemu di Soekarno Hatta, oke?”

“Oke. Selamat malam, Sayang. I love you.

I love you, too.

Kania menutup telepon. Aku tersenyum. Terbayang di mataku, gadisku itu sedang berbaring di ranjang, di bawah selimut tebal, mencoba tidur tapi tidak kunjung berhasil. I love you so much each day, Kania … aku bergumam dalam hati.

Aku berjumpa Kania dalam sebuah pameran komputer dua tahun lalu. Sejak saat itu kami saling jatuh cinta, dan makin dekat sampai sekarang. Kania sudah pernah memberi sinyal tentang pernikahan, tapi aku tak pernah meresponsnya. Bukannya tak ingin, atau bukannya aku tak mencintai Kania. Walau aku sudah 35 dan Kania 29, dan kami berdua sama-sama mapan, entah kenapa, rasanya aku belum siap saja untuk meneruskan hubungan kami ke arah yang lebih serius.

Aku turun dengan lift ke tempat parkir di basement. Di lift, aku bertemu beberapa karyawati perusahaan lain yang mengumbar senyum mereka padaku. Aku balas tersenyum dan mengangguk pada mereka. Ketika lift berhenti di lantai lima, mereka keluar sambil berbisik-bisik. Sebelum Lift menutup kembali, mereka masih sempat melirik ke belakang sekali lagi ke arahku. Aku hanya tersenyum. Gadis-gadis zaman sekarang memang tak mau kalah dengan kaum lelaki. Mereka juga bisa pulang kantor pukul sebelas malam!

Aku keluar dari tempat parkir dan meluncur ke luar gedung. Petugas yang memeriksa karcis parkir di pintu keluar pusat perkantoran elit itu tersenyum dan mengangguk. “Selamat malam, Pak Nizar,” ucapnya padaku. Aku tersenyum, kemudian meluncur membelah jalanan Ibu Kota yang mulai lengang.

Lalu lintas yang lengang membuat pikiranku melayang-layang pada Kania. Aktivitas harianku sungguh penuh godaan. Gadis-gadis cantik yang mengelilingiku di kantor. Rekan-rekan bisnis yang juga dipenuhi gadis-gadis cantik dan mapan. Di kantor, aku sering digoda, terlebih bila ada Kania di dekatku. Selalu muncul pertanyaan, “Kapan kalian akan menikah? Jangan kelamaan, ntar keburu dimakan rayap, lho!” Aku dan Kania selalu bisa memberi tangkisan yang manis. Tapi, terlalu sering digoda, membuat aku juga jadi sering memikirkan hal ini: menikah.

Kalau sedang sendirian dengan Kania, aku sering mencuri-curi pandang dirinya, sering kutanyakan pada hatiku, apakah Kania benar-benar menginginkan aku? Hari-hari yang sibuk, memang membuat aku dan Kania jarang bertemu. Tapi komunikasi bukan masalah buat kami. Bila Kania menelepon, aku sering keluar dari ruang rapat dan membiarkan karyawanku menunggu beberapa menit. Kania juga tak segan-segan membatalkan acaranya bila aku ingin jalan bersamanya.

Pernah sekali, aku bertanya pada Kania, apakah dia benar-benar mencintaiku. Dia hanya tersenyum dan memberi sebuah ciuman panjang untukku. Dia bilang, “Lamarlah aku, maka kamu akan tahu jawabannya.” Dan, tantangan itu tak pernah kubuktikan.

Kania cantik, baik, dan pintar. Aku sudah pernah bertemu keluarganya dan kulihat orang tua dan saudara-saudara Kania menyukaiku. Mama Kania bahkan sesekali meneleponku, menanyakan, apakah aku baik-baik saja. Sekali-sekali, Papa Kania mengajakku bermain tenis, catur, atau pergi memancing. Dari perkenalan dengan mereka, aku tahu, Kania adalah gadis baik-baik yang tepat untuk mengisi hidup dan hari-hari lelaki baik mana pun, tak terkecuali aku.
Jadi, kalau tidak ada masalah dan penghalang, apalagi yang kutunggu?

Rumahku masih dua puluh kilometer lagi. Mobilku melaju dengan kecepatan yang diinginkan semua pengemudi bila jalanan sedang sepi. Aku sekaligus mau mencoba kemampuan mobil baruku. Kuhidupkan CD player dan memutar musik jazz kesukaanku.

Di sebuah perempatan, aku dihentikan oleh lampu lalu lintas. Kusandarkan bahuku dalam-dalam ke bangku mobil sambil memerhatikan kondisi perempatan itu. Aman, pikirku. Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya tampak aman.
Sebuah sedan berhenti di sebelah kananku. Lampu dalam mobil itu dalam keadaan hidup, membuatku bisa melihat penumpangnya. Menyalakan lampu dalam mobil, di tengah perempatan lengang seperti ini di tengah malam adalah sebuah keputusan yang salah. Jangan percaya sepenuhnya pada jalanan di Jakarta. Apa saja bisa terjadi. Aku menoleh dan terdorong untuk memerhatikan. Ada dua penumpang di depan. Di sebelah kemudi duduk seorang gadis usia tiga puluhan, sedang tersenyum manis pada lelaki di sampingnya yang wajahnya tidak bisa kulihat. Mereka sedang tertawa. Di atas dasbor, tampak sebuah topi wisuda.

Keluarga yang bahagia, pikirku. Aku lalu melupakan momen itu. Aku kembali menatap ke depan. Satu lagi episode kehidupan orang lain membuatku merana dan sakit. Rindu itu, rasa sakit itu, entah kenapa tak pernah bisa pergi dari hidupku. Aku sudah coba melupakan semuanya, tapi sia-sia saja. Aku menghabiskan hari-hariku untuk melupakan itu semua, tapi selalu ada saja saat-saat ketika aku bisa kembali mengingat segalanya.

Lampu berganti warna. Aku melepas rem tangan dan menekan gas. Aku meluncur kembali, tidak lagi mendengarkan musik yang masih terus berputar. Lima menit kemudian aku mengalihkan speedometer digital mobil ke angka terendah ketika memasuki antrean yang tidak begitu panjang di pintu tol.

Sedan itu ada di lajur sebelah kananku, dalam posisi sejajar seperti di lampu merah tadi, tapi kali ini aku bisa melihat sang sopir dengan jelas, karena lampu di dalam mobil itu masih dinyalakan. Gadis yang mungkin baru diwisuda itu tampaknya bersama ayahnya, seorang lelaki berumur 60-an. Lelaki itu tampak masih bugar, mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja kuning gading yang membuat dia tampak lebih muda.

Aku mengalihkan pandangan ke depan. Menarik selembar sepuluh ribuan dari saku kemejaku dan maju beberapa meter ke depan. Antrean beringsut sampai aku berada tepat di bawah jendela petugas tol. Aku kembali menjalani rutinitas harianku. Menyerahkan uang, menerima kembalian, dan kembali meluncur cepat di jalanan.

Tapi rutinitas itu kali ini sedikit berbeda saat aku menoleh beberapa detik ke arah sedan yang mendadak muncul di sebelah kiriku. Tindakan spontanitas itu kulakukan ketika mendengar suara tawa renyah gadis itu saat ayahnya membuka kaca mobil mereka.

Napasku mendadak tertahan. Jantungku berhenti berdetak.
Sebuah wajah muncul, yang sangat kukenal. Bertahun-tahun lalu. Wajah yang—kalau aku boleh memilih—sebaiknya tidak kulihat malam ini. Malam yang seharusnya tidak pernah ada dalam hidupku. Malam yang tidak kuinginkan. Malam yang mungkin tidak pernah ada kalau aku duduk beberapa menit lebih lama di kantor.

Wajah itu…
Wajah itu–aku sangat yakin–akan membuat hari-hariku tidak akan pernah lagi sama. [–bersambung–]

foto: dok. pribadi

Cerbung Terbaru Saya

foto: dok. pribadi

Setelah sekian lama tidak menulis cerita panjang, mulai bulan September 2012 ini, saya menulis sebuah cerita bersambung untuk Majalah Ummi. Karangan yang saya beri judul “Wajah-Wajah di Langit” ini saya rencanakan terbagi dalam 24 bagian, yang akan dimuat selama dua tahun!

Saya tidak diperkenankan mengulas cerita itu di blog ini. Jadi, bagi yang ingin membaca, silakan beli dan baca sendiri di Majalah Ummi mulai edisi September 2012.
Semoga bisa menghibur, ya 🙂