yip87.deviantart.com

Anak Daro

yip87.deviantart.com

TAK ADA kata-kata yang terucap dari mulut Firdaus. Mulutnya terkunci. Setelah lama diam, dia hanya bisa berucap, “Tapi, Mak, saya tidak bisa ….”

Datuk Sinaro Rajo melepas napas panjang. Sikap ragu keponakannya membuat tenggorokan lelaki 60 tahun itu serasa tersumbat. Dia tak menduga Firdaus akan membantah kata-katanya. Matanya menatap Firdaus dengan kecewa. Lalu, ia beranjak ke jendela, mencari angin. Di halaman rumah, tiga ekor anak ayam sedang mencari makan bersama induknya.

“Sepanjang hayat, kau tahu, Mamak menghabiskan hidup untuk mengurus kalian. Mamak yang mencarikan ibumu suami, walau kemudian ternyata pilihan Mamak salah. Mamak yang membiayai semua alek gadang-nya, mulai dari garam dapur sampai satu setelan jas yang dipakai bapakmu. Ketika kau lahir dengan bedah Caesar, Mamak yang menanggung semua biaya operasi, karena saat itu bapakmu tak jelas di mana rimbanya. Mamak yang membiayai sekolah dan kuliahmu karena ibumu kepayahan mengendalikan penyakit yang sudah diidapnya bertahun-tahun itu.” Lelaki tua itu berhenti, mengambil napas dalam-dalam, dan sejurus kemudian ia meneruskan.

“Kini, mamakmu yang sudah tua ini berada tergantung-gantung di pinggir jurang. Dan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Mamak adalah kau. Kalau kau tidak julurkan tangan, artinya kau membiarkan mamakmu ini mati terempas ke dalam jurang.”

Datuk Sinaro Rajo berhenti sekali lagi. Firdaus tidak berani mengangkat wajahnya. “Saya tidak bermaksud menolak, Mak ….” sahutnya terputus.

“Hanya sekali ini, Fir,” Datuk Sinaro Rajo menyela. “Sekali ini saja Mamak meminta bantuanmu. Tapi Mamak tidak akan bersikap egois. Mamak sudah pertimbangkan hakmu. Mamak sadar Nelva tidak sempurna. Karena itu, setelah resmi menikah dengan Nelva, Mamak mengijinkan kau menikah lagi dengan gadis lain, gadis mana pun yang kau inginkan. Bahkan Mamak akan biayai pernikahan kalian. Tapi satu hal harus kau ingat, jaga semua rahasia ini rapat-rapat dari Nelva. Nelva tidak boleh tahu kalau kau punya istri lagi setelah menikah dengannya.”

Datuk Sinaro Rajo memperbaiki letak peci hitam di atas kepalanya. Ia menatap Firdaus dengan tatapan tajam sebelum beranjak ke pintu. “Tolong dipikirkan masak-masak, Fir. Ini permintaan Mamak yang pertama sekaligus yang terakhir. Kasihanilah Nelva, dan ibalah pada Mamak.

Kalau kau menolak, Nelva akan jadi perawan tua seumur hidupnya.”

Datuk Sinaro Rajo sudah sampai di ambang pintu. Firdaus tidak sempat menahan pamannya itu. Ia bahkan tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun.

Datuk Sinaro Rajo adalah orang terpandang di Payakumbuh. Ia kaya raya dan dermawan. Ia dulu yang membangun Masjid Raya Payakumbuh, yang paling megah dan besar di kota itu. Ia pula yang menghibahkan tanahnya di Koto Nan Gadang kepada pemerintah kota untuk dijadikan stadion olahraga. Ia punya lima hotel, sebuah armada taksi, dan puluhan pom bensin yang tersebar di berbagai kota. Ia ninik mamak yang sangat disegani. Ia tonggak kokoh dalam adat yang menjadi panutan semua orang.

Sayangnya, hidupnya dipenuhi cobaan. Istrinya mati muda ketika melahirkan Nelva, putri tunggal mereka. Namun, cobaan hidup untuknya tidak hanya sampai di sana. Karena lahir prematur, Nelva kecil punya fisik tidak sempurna. Kedua kakinya lumpuh total. Dokter mengklaim, Nelva akan duduk di kursi roda seumur hidupnya. Walau butuh pendamping untuk mengurus dirinya dan Nelva, Datuk Sinaro Rajo tidak pernah berniat kembali menikah.
Ia membesarkan Nelva dengan penuh cinta. Ketika umur putrinya cukup untuk sekolah, Datuk Sinaro Rajo mendatangkan guru privat ke rumahnya. Begitu seterusnya sampai Nelva menginjak usia SMA. Rumah besar mereka disulap jadi sekolah pribadi. Walau tak pernah punya ijazah, Nelva akhirnya tumbuh jadi gadis yang pintar.

Tapi Datuk Sinaro Rajo mulai cemas ketika Nelva menginjak usia 28 tahun. Kekurangan fisik yang ditanggungnya membuat gadis itu jarang bergaul dengan lawan jenisnya. Jangankan pacar, teman lelaki pun ia tidak punya. Datuk Sinaro Rajo tidak bisa mencarikan jodoh untuk anak gadisnya, padahal ia sendiri makin renta. Sang datuk ingin anak tunggalnya itu menikah sebelum segala-galanya terlambat. Tapi, meskipun kaya, cantik, dan pintar, banyak orangtua yang enggan mengambil gadis lumpuh itu sebagai menantu mereka.

Akhirnya, Datuk Sinaro Rajo ingat pada kemenakannya sendiri, Firdaus, yang baru saja pulang dari Inggris, menyelesaikan kuliah S2-nya. Firdaus adalah teman bermain Nelva sejak kecil. Teman yang paling dekat.

Datuk Sinaro Rajo berkesimpulan, sudah saatnya kacang diingatkan pada kulitnya.

Namun ada perkara yang belum diketahui Datuk Sinaro Rajo tentang Firdaus. Sesungguhnya kemenakannya itu sudah punya belahan hati dan jiwa di tempat lain.

“Tidak soal. Kalian boleh menikah, tapi setelah kau menikahi Nelva terlebih dahulu,” ucap Datuk Sinaro Rajo tegas.

“Tapi itu tidak mungkin, Mak. Rahmi pasti tidak mau diduakan,” sahut Firdaus.

Datuk Sinaro Rajo tampak berang. “Jadi kau lebih mementingkan orang lain ketimbang mamakmu ini dan Nelva? Apa yang sudah diberikan orang itu padamu? Siapa yang membesarkanmu dan menyekolahkanmu sehingga bisa seperti sekarang? Lagi pula Mamak tidak melarang kau dan pacarmu itu menikah. Mamak hanya minta kau mengambil Nelva menjadi istri pertamamu. Hanya itu! Berkacalah, Nak! Kalau bukan karena mamakmu ini, kau pasti sudah jadi gelandangan! Kau tidak punya alasan lagi untuk menolak. Sebelum kembali ke Lampung, kau sudah harus jadi suami Nelva!”

Wajah Firdaus terasa panas. Hatinya sakit dikatai begitu. Tapi ia tidak bisa membantah kata-kata mamaknya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pasrah.

NELVA tersenyum manis ketika ayahnya usai bicara.
“Ayah bercanda, kan?” Alis semut beriring gadis itu terangkat. Ia melirik ayahnya dengan tatapan menggoda. Gadis itu duduk di sebuah kursi roda. Sebuah buku tengkurap di kedua pahanya yang kecil.
Datuk Sinaro Rajo memaksakan senyum. “Tentu saja Ayah sungguh-sungguh, Sayang … Firdaus sudah pulang. Dia ingin sekali bertemu denganmu. Rindu, katanya.”

Nelva menerawang diterbangkan angan. Ia terakhir kali bertemu Firdaus saat Idul Fitri empat tahun yang lalu, lebaran terakhir Firdaus sebelum pemuda itu disibukkan oleh urusan mengajar di sebuah perguruan tinggi di Bandar Lampung. Ketika berangkat ke Inggris, Firdaus bahkan tidak sempat berpamitan ke Payakumbuh. Digebah bayangan masa lalu, wajah gadis itu merah memendam kerinduan yang dalam.

“Kapan Uda Fir mau ke sini, Yah?

Datuk Sinaro Rajo tersenyum kembali. “Dia baru datang empat hari yang lalu. Mungkin masih lelah. Lagi pula banyak yang harus disiapkan sebelum pernikahan kalian.”

Nelva tersipu malu. Ia menggeser kursi rodanya mendekati ayahnya, yang duduk di kursinya sendiri; sebuah kursi besar yang selalu menghadap jendela. Diambilnya tangan ayahnya dan diciumnya dengan penuh sayang dan hormat.
“Terima kasih, Ayah,” lirihnya.

Datuk Sinaro Rajo mengangguk.
“Kau tahu tanah kita yang di Balai Baru, Nel?”

Mata Nelva bergerak-gerak cerdas. “Yang di pinggir jalan itu, Yah? Tentu saja Nelva ingat. Ada apa, Yah?”
“Ada yang mau Ayah perlihatkan padamu dan Firdaus nanti di sana.”
Sekarang mata Nelva mengerjap penuh tanya.
“Ada apa di sana, Yah?” Ia menunggu.

Datuk Sinaro Rajo meraih kepala anak gadisnya lalu mengecupnya. “Ayah sudah membangun sebuah rumah besar untuk kalian di atasnya, sebagai hadiah pernikahan dari Ayah untuk kau dan Firdaus.”

Inginnya Nelva bangkit dari kursi rodanya dan menghambur ke pelukan ayahnya. “Terima kasih, Ayah,” ucapnya.
Gadis itu tersenyum. Ia melepas pandang ke halaman. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum. Sejurus kemudian ia berkata tanpa melihat pada ayahnya. “Ayah, ada yang ingin Nelva tanyakan pada Ayah.”

Datuk Sinaro Rajo agak terkejut. Air mukanya berubah. “Tanyakan saja.”
Nelva menggeleng-geleng dengan gaya yang manis. Ia menundukkan wajah, menatap kursi rodanya. “Apa Uda Firdaus tidak malu beristrikan wanita cacat seperti Nelva, Yah? Banyak gadis lain yang lebih baik dari Nelva, yang bisa ia pilih sesuka hatinya. Apa yang membuat Uda Firdaus mau menikah dengan Nelva, Yah? Apakah Uda Fir benar-benar mencintai Nelva, seperti cerita Ayah? Kalau benar, kenapa Uda Fir tak pernah menunjukkannya?”

Datuk Sinaro Rajo langsung tercekat. Ia terjepit dan sulit menemukan kata-kata. “Sayang,” katanya secepat yang ia bisa. “Bukankah cinta tak harus diungkapkan? Seharusnya kau bisa melihat bahwa Firdaus sudah menyukaimu sejak kalian masih kecil. Bukankah keinginannya untuk menikah denganmu, sudah merupakan bukti nyata kecintaannya?”

Nelva menatap ayahnya lama-lama. Ia mengangguk, lalu tersenyum. “Maafkan Nelva, Ayah. Nelva percaya.”

PERNIKAHAN itu berlangsung dengan meriah. Tiga ribu undangan disebar ke seluruh pelosok negeri. Tamu-tamu datang dari Jakarta, Medan, Surabaya, Lampung, dan Dumai. Pernikahan itu dilansungkan selama tiga hari berturut-turut.

Dua minggu setelah menikah, Firdaus kembali ke Lampung. Tiap dua minggu ia pulang ke Payakumbuh, menjalankan kewajibannya sebagai suami. Setelah seminggu di Payakumbuh, Firdaus kembali lagi ke Lampung untuk mengajar. Dua minggu kemudian ia pulang lagi ke Payakumbuh. Begitulah seterusnya.

Setelah setahun menikah dengan Nelva, Firdaus menikahi kekasihnya Rahmi secara diam-diam di Lampung. Sesuai pesan Datuk Sinaro Rajo, kabar pernikahan itu disimpan rapat-rapat dari Nelva. Disepakati bersama bahwa Firdaus akan datang ke Payakumbuh dua minggu sekali seperti yang sudah-sudah.

Tiga bulan setelah Firdaus menikahi istri keduanya, Datuk Sinaro Rajo meninggal dunia. Kepergian ayahnya tercinta, membuat semangat hidup Nelva menurun. Ia jatuh sakit dan semakin lemah. Meski begitu, tiba-tiba ia positif hamil, sesuatu yang sama sekali tidak diduga banyak orang, termasuk Firdaus, suaminya sendiri. Tepat sembilan bulan kemudian, dalam perjuangan antara hidup dan mati Nelva melahirkan seorang bayi perempuan cantik yang sehat. Sejak putrinya lahir, bukannya semakin sering pulang, Firdaus malah semakin betah di Lampung. Padahal Nelva mulai sakit-sakitan.

Suatu hari, ketika turun dari taksi di depan rumah hadiah pernikahan yang diberikan mamaknya, Firdaus menemukan rumahnya dalam keadaan kosong. Ia tidak menemukan Nelva dan Fitri, putri mereka, di teras seperti biasa. Ibunya, sambil menggendong cucunya yang masih kecil, menangis terisak-isak ketika menceritakan pada Firdaus bahwa Nelva telah pergi menghadap Allah seminggu sebelum dia pulang. Kata dokter, kondisinya yang lemah membuat Nelva tidak mampu bertahan lebih lama. Sebelum meninggal, Nelva meninggalkan sebuah surat untuk Firdaus dan berpesan pada orang-orang agar suaminya tidak diberi tahu tentang kematiannya.

Dalam surat terakhirnya, Nelva menulis:

Uda Sayang, cinta seperti apakah yang Uda punya? Telah tiba masa ketika bangkai yang Uda simpan selama ini tercium juga baunya. Jangan kira seorang istri tidak tahu apa yang berubah dari suaminya. Sejak Uda menikah lagi, Nelva sudah tahu segalanya. Walau semua orang tutup mulut, tapi panca indra yang Uda punya justru menyibak semua yang Uda sembunyikan. Tatapan Uda, senyum Uda, sikap Uda. Semuanya berubah. Petunjuk apa lagi yang bisa dipakai selain itu semua?

Tapi Nelva ikhlas Uda. Biarlah Tuhan saja yang mengganjar semua perbuatan kita. Mungkin ini salah Ayah, karena memaksa Uda menikah dengan Nelva. Mungkin pula ini salah Nelva, yang terlalu berharap pada kebaikan Uda.

Selamat tinggal Uda Sayang. Nelva minta maaf atas segalanya. Jagalah putri kita. Besarkan dia dengan cinta, sebagaimana dulu kakeknya membesarkan ibunya.

Dengan cinta,
Nelva.

DI MAKAM Nelva, yang dibangun di sebelah makam Datuk Sinaro Rajo, Firdaus menangis sesunggukan. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi kembali ke Lampung. Ia menalak-tiga istri keduanya dan mengundurkan diri dari tugas mengajarnya di Lampung. Ia lalu menetap di Payakumbuh bersama putri dan ibunya, sambil meneruskan usaha yang diwariskan pamannya pada mereka. Firdaus tidak memiliki putri dari istri keduanya, Rahmi.[]

Guantanamo

Chaplain

SAAT itu awal Desember, persis tiga minggu sebelum perayaan Natal.

Pesawat Boeing 737 yang ditumpangi Kevin menukik mendekati Bandara Heathrow. Lewat pengeras suara, pramugari pesawat kembali mengingatkan penumpang agar tetap memasang sabuk pengaman. Pesawat itu lepas landas beberapa jam lalu dari Birmingham, setelah sebelumnya tertunda sekitar satu jam karena cuaca buruk. Beberapa penumpang melipat koran, buku, atau majalah yang mereka baca lalu melihat keluar jendela.

Kevin duduk sendirian di bangku paling belakang. Ia menoleh ke jendela, memerhatikan kota London yang diselimuti salju. Gedung-gedung, rumah, jalan-jalan, dan jembatan tampak putih. Sungai Thames yang membelah kota membeku dan orang-orang yang berjalan di atasnya tampak kecil. Kevin menutup bukunya dan siap-siap turun. Sebentar lagi pesawat itu mendarat. Minggu ini liburan Natal dimulai, dan Kevin sudah rindu bertemu kedua orangtuanya.

Sambil menunggu tas kopernya di bagage claim, Kevin menghidupkan handphonenya dan menelepon ke rumah.
“Assalamualaikum, Ayah! Aku baru saja mendarat. Bagaimana kabar Ibu …? Apa? Ibu masak ikan bakar kesukaanku? Bilang pada Ibu, aku sudah kangen sekali. Ya, ya, aku bawa pesanan Ibu. Oke, Yah. Satu jam lagi aku sudah ada di rumah. Ya, ya. Assalamualaikum!”

Masih dengan tersenyum, Kevin menyimpan kembali handphonenya. Ia melihat tasnya di belt conveyor. Setelah mengecek nomor bagasinya dan memastikan tas itu memang miliknya, Kevin menjinjing tas itu dan pergi dari sana.
Ia sedang berdiri di antrean menuju pintu keluar saat tiga orang pria mendekatinya. Dua orang mengenakan seragam petugas keamanan bandara, dan yang satunya lagi tampak seperti pimpinan mereka.

“Maaf, Anda yang bernama Kevin?” tanya lelaki yang tidak berseragam. Ia mengenakan setelan hitam-hitam dan wajahnya kebapakan. Usianya mungkin belum lebih dari 40 tahun.

Kevin menatap ketiga orang itu dengan tatapan heran. “Ya? Ada apa? Anda ini siapa?” tanyanya dengan nada datar. “Aku John Smith, kepala keamanan bandara. Kami perlu memeriksa tas Anda. Silakan ikut kami,” si Jas Hitam berkata.

Wajah Kevin tampak heran. “Kenapa? Bukankah tas saya sudah diperiksa di Birmingham? Kenapa diperiksa lagi di sini?”

Smith diam. Anak ini jelas bukan anak yang gampang dibodohi, pikirnya.

“Betul. Tapi kami perlu memeriksa tas Anda. Sekali lagi,” ia berkata, dengan tekanan.
Kening Kevin berkerut heran. “Ini jelas prosedur yang tidak biasa. Kalau memang ada sesuatu dalam tasku, seharusnya kalian sudah tahu sejak dari Birmingham,” protesnya.

Smith mengangguk. “Ini memang bukan prosedur standar. Ini kasus khusus. Jadi, ayo ikut kami.”
Kevin dengan enggan mematuhi permintaan itu. Ia mengikuti Smith sementara dua petugas berseragam mengawal mereka dari belakang. Orang-orang memerhatikan mereka.

Kevin dibawa ke kantor Smith. Ketika memasuki ruangan itu, Kevin terkejut karena di sana sudah ada tiga pria lain. Smith memberi tahu Kevin bahwa ketiga pria itu adalah agen FBI.

“Apa? Aku tidak punya urusan dengan FBI!” teriak Kevin marah. Tapi percuma ia protes, karena pria-pria itu tidak meladeni kemarahannya. Ketiga pria FBI itu membongkar tas Kevin, semua isinya dikeluarkan dan diperiksa satu per satu. Laptop yang ia pakai untuk keperluan kuliah dihidupkan dan diperiksa isinya. Saat semua itu berlangsung, Kevin tidak bisa mengerti apa yang sedang dihadapinya.

“Anda harus ikut kami. Barang-barang ini kami sita,” kata salah seorang agen FBI.
Percuma berteriak, karena kemudian Kevin diborgol dan salah satu pria itu meneriakinya untuk diam. Bahkan Kevin tidak diizinkan menelepon orangtuanya.

“Saat ini petugas kami sedang menuju rumah Anda untuk memberi tahu mereka,” ucap salah seorang agen FBI.

KEVIN dibawa ke beberapa tempat, berpindah-pindah, dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Tapi mereka mengajukan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang tidak diketahui Kevin jawabannya. Mereka menyebut-nyebut serangan 11 September dan Osama Bin Laden. Mereka bertanya tentang Al-Qaeda, jaringan teroris, dan hubungan Kevin dengan semua itu.

“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan dan sama sekali tidak terkait dengan serangan 11 September itu!” pekik Kevin.

Setiap kali Kevin bicara, mereka merekam dan mencatatnya. Suatu kali, Kevin dibawa ke suatu tempat. Tapi sebelum pergi ke sana, matanya ditutup kain hitam dan mulutnya diberi lakban. Ia juga diborgol seperti sebelum-sebelumnya. Mereka naik mobil ke suatu tempat selama berjam-jam. Saat mobil akhirnya berhenti, hari sudah malam. Kevin dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan dan ketika kain hitam yang menutup matanya dibuka, Kevin kaget ketika melihat dua sahabatnya, Jonash dan Hook, juga ada di sana. Jonash dan Hook adalah sahabat Kevin di kampus. Tapi Kevin, Jonash, dan Hook tidak bisa saling bicara, karena mereka dimasukkan ke dalam sel yang berbeda. Ternyata tempat itu adalah sebuah penjara.

SETELAH lima hari dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat lain, akhirnya Kevin, Jonash, Hook, dan belasan orang lainnya dinaikkan ke sebuah pesawat militer milik angkatan laut AS di sebuah pangkalan militer yang tidak mereka kenal. Mereka diborgol di bangku masing-masing dan dijaga ketat oleh tentara bersenjata lengkap. Mata mereka ditutup dan mereka dilarang bicara satu sama lain.

“Hei, bangsat! Kami mau dibawa ke mana?” teriak seorang lelaki di bagian belakang kepada seorang tentara. Tidak ada yang menjawab.

Mereka tidak tahu kalau mereka semua sedang menuju Teluk Guantanamo, Kuba.

MEREKA mendarat di Kuba. Dengan pengawalan ketat dari prajurit-prajurit marinir AS dengan senapan M16, satu per satu tawanan dinaikkan ke dalam sebuah bus yang seluruh kacanya ditutup dan dicat hitam. Di luar, udara terasa sangat kering meskipun saat itu bulan Desember. Apalagi ketika mereka menaiki bus yang tertutup rapat. Dalam sekejap Kevin merasa terpanggang. Sebentar saja ia sudah basah kuyup oleh keringat.

Tidak satu pun dari mereka bicara satu sama lain di dalam bus. Suasana hening. Mereka dicekam rasa takut. Dari lama penerbangan dan cuaca yang sangat berbeda, mereka sadar, mereka sekarang jauh dari rumah.

Bus yang mereka tumpangi mulai bergerak. Dengan mata tertutup mereka tidak tahu ke mana mereka akan dibawa.

“Kenapa kita tidak diberi tahu kita di bawa ke mana?” tanya Kevin ke orang di sebelahnya, seorang lelaki asal Turki. Lelaki yang ditanya menoleh pada Kevin, tapi tentu saja ia tidak bisa melihat siapa yang bertanya.
“Aku rasa kita sedang berada di Guantanamo. Kita semua akan dimasukkan ke dalam penjara yang paling ketat penjagaannya dan paling kejam perlakuannya terhadap tawanan di seluruh dunia,” sahut lelaki itu.

Tebakan lelaki Turki itu benar. Beberapa menit kemudian, bus yang membawa mereka memasuki sebuah gerbang yang di sampingnya ada papan petunjuk yang bertulisan: Camp Delta—Joint Task Force Guantanamo.

KAMP DELTA terletak di tepi pantai Karibia, Kuba dengan luas lima hektar. Beberapa mil sebelum gerbang utama Kamp Delta, penjagaan sudah terlihat ketat. Bus penjara melewati beberapa jaring-jaring pembatas yang membawa mereka ke pos pemeriksaan. Bus berhenti dan dua orang tentara lengkap dengan senapan M16 memeriksa bus, sementara yang lain memeriksa tanda pengenal pengemudinya. Kamp ini dikelilingi dengan pagar rapat yang bagian atasnya dipasangi kawat berduri yang tingginya kira-kira hampir mencapai empat belas kaki. Setiap incinya dilapisi dengan jaring hijau sehingga orang tidak bisa melihat keadaan di dalam. Papan peringatan berukuran besar yang bertuliskan DILARANG MEMOTRET dipasang tiap beberapa kaki di sepanjang pagar. Beberapa penjaga berdiri mengamati dari menara pengawas yang terbuat dari kayu. Masing-masing menara dihiasi dengan bendera Amerika, di sana beberapa orang penjaga berdiri mengacungkan senapan menjaga sekeliling kamp. Saat itulah tutup mata Kevin dan tahanan lainnya dibuka. Para tawanan diturunkan dari bus dan digiring memasuki sebuah blok penjara. Kevin merasa ngeri ketika saat melihat apa yang ada di hadapannya.

Para tawanan ditahan di dalam dua baris kurungan kecil yang saling berhadapan satu sama lain, dipisahkan oleh sebuah gang sempit di antara keduanya. Kurungannya berjeruji dan di bagian langit-langit terdapat lubang fentilasi tempat keluar masuknya udara. Udara terasa pengap dan lembab, ditambah lagi dengan bau empat puluh delapan orang tahanan yang dikurung dalam ruangan sesempit ini. Peluh di kening Kevin mulai bercucuran, udara di dalam terasa lebih panas dibandingkan dengan di luar, ruangan ini bahkan tidak dilengkapi dengan AC maupun kipas angin.

Sel itu kira-kira berukuran enam kali delapan kaki dan terdapat sebuah dinding penghubung di mana seorang tawanan bisa melihat 2 sel di sebelah kanan dan kirinya, dan mereka bisa dengan leluasa memandang rekan lainnya yang dikurung di seberang gang. Saat melintasi sebuah sel, Kevin melihat seorang lelaki yang sepertinya sedang duduk berjongkok di sudut sel. Mereka saling menatap dan kemudian—sesaat sebelum Kevin berniat menyapa—ia terperangah. Sudut di mana lelaki itu duduk adalah toilet. Di setiap sel terdapat toilet jongkok yang tertanam langsung di lantai baja, dan sama sekali tidak ada privasi dalam penggunaannya. Kevin merasa sangat malu.

Kebanyakan tahanan sedang berbaring di tempat tidurnya. Yang lain tampak duduk di lantai sel yang terbuat dari baja atau melangkah hilir mudik di dalam sel mereka. Mereka terlihat lesu, tak bergairah dengan wajah cemberut. Kevin mendengar beberapa percakapan tentang cerita, komplain, doa, dan diskusi mereka pada waktu yang bersamaan dengan menggunakan bahasa yang berbeda-beda saat melewati deretan sel-sel tersebut. Nyamuk dan lalat beterbangan, berdengung di atas kepala. Para tawanan mengenakan pakaian berwarna oranye, seperti beberapa foto yang pernah dilihat Kevin di koran-koran. Sebuah tanda panah berwarna hitam sebagai simbol penunjuk arah kiblat tertera pada kerangka tempat tidur baja yang dibaut langsung pada dinding sel dan juga terdapat bak cuci kecil yang digunakan sebagai keran air minum.

Kevin dan para tawanan dimasukkan ke sel-sel yang masih kosong dan sejak saat itulah “Neraka Guantanamo” mengisi hari-hari mereka.

SIANG ITU—hari kedua—Kevin sedang duduk membaca Al-Quran ketika ia mendengar tawanan yang lain berteriak-teriak gembira. “Ulama! Ulama! Ulama!”

Kevin bangkit untuk melihat siapa yang dipanggil-panggil “ulama”. Seorang lelaki berseragam militer dikawal oleh 2 orang penjaga memasuki blok. Ia melambai dan mengucapkan salam kepada para tahanan.
“Siapa dia?” tanya Kevin pada Jonash yang ada di sel di sebelahnya.

“Kata tahanan lama, dia Ulama Rahim. Dia seorang chaplain. Konon, dia satu-satunya prajurit yang tidak dibenci para tawanan di sini. Dia seorang Muslim yang taat, seperti kita.” Jonash mengalihkan pandangannya ketika seorang penjaga melihat padanya.

Ulama Rahim adalah seorang prajurit keturunan Afro-Amerika berpangkat kapten, yang ditugaskan di Joint Task Force Guantanamo sejak beberapa bulan yang lalu. Sebelum berangkat ke Guantanamo, ia mendapat pelatihan selama beberapa minggu. Pelatihan itu menjelaskan tugas setiap chaplain adalah menjamin setiap tawanan mendapatkan haknya dalam menjalankan semua kebutuhan ibadah dan keagamaannya selama berada dalam penjara. Namun dalam kenyataannya, Ulama Rahim menemukan berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh personel tentara Amerika, mulai dari pelecehan seksual yang dilakukan personel tentara wanita sampai penghinaan secara terang-terangan terhadap Al-Quran.

Ulama Rahim berhenti di depan sel Kevin dan tersenyum. Kevin mendekat ke jeruji sel dan balas tersenyum. “Berapa umurmu sekarang?” tanya Ulama Rahim sambil melihat berkas data yang dibawanya.

“Sekarang jalan 18 tahun,” sahut Kevin. Matanya menatap takut pada dua penjaga yang berdiri tak jauh dari mereka dengan mata senantiasa mengawasi. “Ulama,” Kevin berbisik. “Kenapa kami ditangkap dan di bawa kemari?”
Ulama Rahim menggeleng. “Aku juga tidak tahu,” katanya. “Aku sendiri sering mempertanyakan hal ini. Kalian ditangkap dan ditawan di sini, tapi tanpa tuduhan apa pun. Kalau kalian pelaku kriminal, seharusnya kalian segera disidangkan dan diputuskan berapa lama kalian akan berada di sini. Sejak 11 September, tidak ada yang pasti di Guantanamo,” sahut Ulama Rahim.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut. Delapan orang penjaga berpakaian lengkap, melesak masuk ke dalam blok, berbanjar menuju sebuah sel tak jauh dari sel Kevin. Suara hentakan sepatu bot mereka yang berat menggema di seluruh koridor, dan suara nyanyian mereka memantul ke seluruh lapisan langit-langit blok penjara. Suaranya bergemuruh. Para tahanan di seluruh di blok terdekat mulai berteriak dan mengguncang-guncang pintu sel mereka.

“Ada apa?” tanya Kevin.
Wajah Ulama Rahim tampak cemas. “IRF. Mereka melakukannya lagi,” ucapnya tak jelas.

IRF atau Initial Response Force adalah sebutan untuk satu pasukan kecil yang terdiri dari delapan orang Polisi Militer. Ulama Rahim menyaksikan kejadian itu pertama kalinya setelah beberapa minggu berada di Gitmo. Seorang tawanan mendorong seorang PM yang secara keterlaluan memeriksa alat kelamin dan menekan jari-jarinya ke dalam lubang anus sang tawanan untuk menggeledah dan mencari barang-barang selundupan atau senjata yang disembunyikan. Tindakan ini dikenal dengan istilah “sapu bersih”, yang dilakukan setiap kali para tawanan masuk ke sel mereka setelah selesai olahraga atau mandi. Kontak fisik seperti ini sama sekali tidak diperbolehkan dalam hukum Islam. Karena tahanan tidak diperbolehkan menyerang Polisi Militer, maka tim IRF dikerahkan.

Di bawah perintah perwira yang tidak termasuk dalam kelompok itu, mereka dengan cepat berkumpul dan mengenakan perlengkapan anti huru-hara—helm dengan pelindung muka terbuat dari plastik, sarung tangan tebal seperti yang dipakai para penjaga gawang olahraga hoki, pelindung tulang kering, dan pelindung dada. Mereka terlatih untuk mengenakan perlengkapan ini dalam waktu singkat, dan sering kali Ulama Rahim melihat tim IRF berlatih, menghitung berapa lama waktu mereka memasang perlengkapan tersebut.

Kevin melihat Tim IRF berhenti di depan sel seorang tawanan—seorang lelaki yang diketahui berasal dari Afghanistan—menyusun formasi satu baris lurus di luar sel. Ketua tim kemudian menyemprot si tawanan menggunakan gas air mata dan membuka pintu sel. Yang lainnya kemudian masuk dan menyerang dengan menggunakan perisai sebagai pelindung mereka. Mereka melumpuhkan si tawanan secepat mungkin, dengan menggunakan perisai pelindung, sepatu bot, dan kepalan tinju. Aksi ini tidak berlangsung lama, karena si tawanan langsung jatuh ke lantai selnya. Salah seorang dari anggota tim mengikat pergelangan tangan tahanan ke belakang punggung kemudian pergelangan kaki tawanan tersebut dengan menggunakan tali plastik, tidak menggunakan borgol. Sementara ia terkulai lemah di lantai dengan luka-luka memar yang dideritanya, anggota IRF beristirahat sejenak sambil meminum air yang dibawakan oleh penjaga untuk mereka. Tidak lama setelah itu mereka menyeret tawanan tersebut ke sel tersendiri.

Pada saat semua ini berakhir, mereka merasa sangat gembira. Para penjaga saling berjabat tangan, seolah-olah mereka telah mencetak sebuah gol. Melakukan toas dan mengadu dada mereka satu sama lain, seperti yang dilakukan pemain bola basket profesional. Sungguh perayaan yang aneh, delapan orang menjatuhkan satu orang tawanan.

Kevin merasa sangat tidak nyaman. Ia tidak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan dengan bebas, memperlihatkan yang kuat melawan yang lemah. Tahanan yang mendapat perlakuan jelas kelihatan tak berdaya, diserang secara brutal dan emosional oleh para anggota IRF.

“Apa ini sering terjadi?” tanya Kevin.
“Hampir setiap saat,” Ulama Rahim mengangguk. “Dengan frekuensi yang rapat.”
Tiba-tiba dua PM yang tadi mengawasi mereka, mendekat. Ia menatap Ulama Rahim, lalu Kevin.
“Maaf Ulama,” katanya tegas. “Tawanan ini dapat giliran interogasi sekarang.”

Kevin menggigil di tempatnya berdiri. Ia menatap Ulama Rahim, dengan tatapan memohon. Tapi Ulama Rahim menabahkannya lewat seulas senyuman.

APA yang disebut sebagai ruang interogasi—atau “ruang periksa”, kata yang lebih disukai pemerintah AS—adalah jejeran trailer yang ditempatkan di pinggir pagar pembatas penjara. Ruangan-ruangan itu berukuran kecil dan ber-AC. Di tiap lantai trailer, terpasang sebuah logam berbentuk huruf D, yang digunakan untuk memborgol para tahanan selama masa interogasi yang biasanya berlangsung berjam-jam. Di situlah sekarang Kevin berada, diborgol ke logam D dalam posisi membungkuk, sehingga ia sama sekali tidak bisa berdiri atau duduk dengan nyaman.

“Namamu Kevin, bukan?” sebuah suara bertanya. Kevin mengangkat kepalanya dengan susah payah agar bisa melihat wajah si petugas. Lelaki itu berdiri dengan pongah di hadapan Kevin, jari di tangan kanannya mengepit sebatang rokok, sepatu lars yang dia pakai hanya beberapa senti dari muka Kevin.

“Kalian sudah tahu,” sahut Kevin dingin. Ia memang gemetar, tapi bukan jenis anak muda yang penakut.
“Permulaan yang bagus, Kevin,” kata si petugas, sambil melangkah ke sudut trailer, di mana sebuah CD player berada. Ia menghidupkan alat itu. Seketika, Kevin mendengar suara musik rock dengan volume yang bisa memecahkan telinganya.

Apa yang dialami kemudian oleh Kevin, sungguh tidak bisa dipercaya. Sesaat setelah musik keras diperdengarkan, si petugas menyerang Kevin dengan membabi buta, menggunakan berbagai peralatan yang ada di ruangan itu. Kevin dicambuki dengan ikat pinggang, ditendang, dipukuli, dan kepalanya dihantamkan ke lantai. Di antara berbagai siksaan itu—sementara musik keras terus diputar—Kevin dipaksa membuat pernyataan bahwa ia memang anggota jaringan teroris Al-Qaeda, bahwa serangan 11 September memang bagian dari aksi yang direncanakan dan dibiayai oleh Osama bin Laden. Sambil menahan perih di sekujur tubuhnya, Kevin menggeleng dan sesekali balas meneriaki si petugas. Tindakannya itu membuat Kevin dipukuli lebih keras dan lebih sadis lagi.

Setelah satu jam, musik dimatikan. Lantai di bawah tubuh Kevin penuh noda darah dari tubuhnya sendiri. Si petugas keluar dari trailer, pergi merokok. Seorang petugas medis berpakaian militer kemudian masuk ke dalam ruang interogasi dan memeriksa kondisi Kevin. Tanpa bicara apa-apa, si petugas medis membuat catatan di buku yang dibawanya kemudian keluar dari trailer.

Beberapa menit, tak ada yang masuk. Ia dibiarkan sendirian. Kevin mencoba menggeser tubuhnya, mencari posisi yang lebih nyaman, tapi tak berhasil. Sudah sejak awal, ia berusaha untuk tidak memelas, merintih, atau menyerah dengan mengeluarkan pernyataan seperti yang diminta si petugas. Ia merasa tidak melakukan apa pun berkaitan dengan serangan 11 September. Ia hanya seorang mahasiswa Muslim, dari sebuah keluarga Muslim yang sudah bermukim di London sejak berpuluh tahun lalu, jauh sebelum Kevin lahir. Sewaktu muda, kakeknya pernah bekerja di sebuah kilang minyak di Arab Saudi. Bertahun-tahun bekerja di sebuah negara Islam, membuat hatinya terbuka untuk memeluk Islam. Kakek Kevin lalu menikahi wanita setempat dan melahirkan banyak anak, yang salah seorang di antaranya kemudian melahirkan dirinya. Ketika pensiun, si kakek memboyong seluruh keluarganya kembali Inggris dan tak pernah kembali lagi ke Arab Saudi. Rupanya hal itulah yang membuat ia diculik dan dijebloskan ke neraka Guantanamo. Jadi memang tidak ada yang perlu ia nyatakan pada mereka.

Seorang prajurit wanita masuk. Ia menatap Kevin dengan tatapan genit. Kevin kaget setengah mati. Ia pernah membaca, mereka menggunakan perempuan untuk melunakkan hati para tawanan.

“Halo Kevin … Namaku Vicky. Mungkin, setelah sesi yang cukup melelahkan barusan, kau butuh sedikit hiburan.”

Suara itu bagi Kevin, lebih mirip suara iblis ketimbang suara seorang prajurit militer Amerika Serikat. Kevin memejamkan mata dan berdoa sekuat-kuatnya pada Tuhan.

BEGITU dikembalikan ke selnya beberapa jam kemudian, langit di atas penjara sudah gelap. Begitu penjaga pergi, Kevin langsung jadi perhatian para tawanan yang lain.

“Kau baik-baik saja, kan?” teriak seseorang di sel sebelah kiri Kevin. Kevin mengangguk, menatap seorang pria dengan jenggot yang panjang. Namanya Jamal, asal Prancis. “Kau tidak melakukannya, kan? Kau tahu maksudku,” sambung lelaki itu. Kevin mengangguk mantap. Jamal tersenyum menabahkan Kevin. “Syukurlah. Jangan mudah diperdaya mereka. Insya Allah di blok ini belum satu pun yang berhasil mereka perdaya,” tambahnya.

Kevin merebahkan tubuhnya ke ranjang besi. Tubuhnya terasa sakit. Ia ingin menangis, tapi tak ingin terlihat tawanan yang lain. Akhirnya ia mengambil Al-Quran miliknya yang diikat tali di langit-langit sel. Ketika itulah Ulama Rahim tiba-tiba sudah berdiri di luar selnya. Kevin mendekat dan melihat dua orang penjaga mengawasi Ulama Rahim dari ujung blok..

“Kevin, apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Ulama Rahim dengan napas memburu. Ulama Rahim melihat mata dan wajah Kevin lebam dan membiru.

Kevin tidak menjawab. Jawaban justru datang dari Hamza, seorang pria asal Damaskus. “Apa yang terjadi pada kami selama ini dan pada anak muda itu, bukan masalah lagi sekarang, Ulama. Yang paling penting bagi kami adalah kami diberi keadilan. Seharusnya kalian memberikan hak kami selaku tawanan sebagaimana tertulis dalam Konvensi Jenewa. Kami tidak bisa begini terus tanpa status yang tidak jelas. Kalau kami memang dianggap teroris, seharusnya kami diadili dan diganjar sesuai hukum yang berlaku.”

Ulama Rahim tampak menahan napas. Ia menoleh pada Hamza. “Aku sudah berusaha, Hamza. Aku melakukan protes pada pimpinan tertinggi di sini, dan mengatakan bahwa semua ini tidak benar. Tapi mereka mengatakan bahwa orang yang tertangkap di dalam perang melawan terorisme tidak dianggap sebagai tawanan perang, dan tidak akan dilindungi dengan pasal-pasal yang terdapat di dalam Konvensi Jenewa.”

“Omong kosong!” Hamza membanting sesuatu ke lantai selnya dengan kesal. Suaranya menggelegar ke seantero blok penjara. Tawanan lain melihat dari jeruji sel mereka. Seorang penjaga melihat apa yang dilakukan Hamza, tapi tidak melakukan apa-apa. Ulama Rahim menatap Hamza dengan tatapan prihatin. “Aku mengerti dan tahu apa yang terjadi dengan kalian. Aku akan berusaha. Paling tidak, aku juga seorang Muslim, sama seperti kalian. Kalian harus tahu, sungguh sulit bagiku berada di antara …”

Dua orang penjaga mendekati Ulama Rahim. “Maaf Ulama. Waktu kunjungan Anda sudah habis. Silakan keluar dan kembali ke tempat Anda.”

Ulama Rahim menatap Kevin dengan tatapan seolah-olah hendak menangis. Ia berbisik sebelum pergi. “Kevin, kau harus kuat. Ingat kata-kataku. Aku sudah pelajari berkasmu. Kau bersih. Kau tidak seharusnya berada di sini, sama seperti yang lain. Aku melacak namamu di Internet dan menemukan blog-mu. Aku sudah mengabari orangtuamu bahwa kau baik-baik saja.”

Dia kemudian pergi diiringi dua penjaga sampai ke luar blok. Kevin hanya bisa mengangguk.

PERLAKUAN dan kebiadaban yang dilakukan para personel tentara AS terhadap para tawanan di Guantamo dari hari ke hari makin menjadi-jadi. Suatu hari seorang penjaga menjatuhkan Alquran milik salah seorang tawanan saat melakukan penggeledahan sel, dan mereka mulai rusuh. Seorang tawanan berteriak-teriak memberitahukan apa yang terjadi kepada rekan-rekannya yang lain dan kemudian menggedor-gedor tempat tidur dan pintu sel mereka dengan keras. Tahanan yang berada di sekelilingnya yang mendengar keributan menghentikan aktivitas mereka; segera bangun dari tidur, menghentikan doa, atau sesaat melupakan kesedihan mereka dan kemudian melakukan hal yang sama, berteriak-teriak dan membuat keributan. Suaranya sungguh memekakkan telinga, dan ini terus berlanjut dari satu sel ke sel lainnya, dari blok satu ke blok lainnya. Beberapa dari mereka kadang mendorong dinding sel dengan liar, mencoba menerobos. Mereka akan menggunakan apa saja yang mereka punya—tangan, kaki bahkan kepala mereka. Biasanya kerusuhan ini berakhir dengan aksi IRF.

Pernah pula seorang penjaga membanting Alquran ke dalam toilet saat sedang memeriksa sel seorang tawanan. Melihat itu, si tawanan murka. Dengan membabi buta ia menyerang ketiga penjaga. Salah seorang penjaga tersungkur dengan muka hancur. Namun ia kemudian kalah, para penjaga balik menyerang dan memukulinya. Setelah kedua tangannya diborgol di belakang punggung, salah satu dari ketiga penjaga tersebut memukuli kepalanya dengan pesawat radio, bertubi-tubi. Penjaga tersebut memukulinya hingga kepala tawanan itu robek dan darah berceceran di lantai. Setelah semuanya selesai, sang tawanan dibawa ke rumah sakit.

Hampir tiap hari Kevin melihat kekerasan-kekerasan seperti itu. Setiap hari ia menyaksikan para tawanan diperlakukan tidak senonoh, bahkan dengan tindakan-tindakan tak bermoral sehingga memancing kemarahan. Seperti hal yang satu ini: pihak penjara memutar rekaman azan tiap kali waktu salat tiba, tapi tak jarang “niat baik” itu diiringi dengan teriakan-teriakan penghinaan dari para penjaga atau musik keras dari speaker yang tersebar di seluruh blok. Kevin sendiri pernah mengalami pelecehan ketika akan melaksanakan salat di dalam selnya. Ia didatangi dua orang penjaga yang akan membawanya ke ruang interogasi. Kevin minta waktu sepuluh menit untuk salat. Kedua penjaga memang mengizinkan, tapi selama Kevin salat, mereka mengolok-olok apa yang dikerjakan Kevin dengan kata-kata yang sarat penghinaan terhadap Islam.

Semua itu berlangsung hampir tiap hari, dan Kevin tidak tahu kapan semua itu akan berakhir.

HARI ITU hari pertama di bulan keenam keberadaan Kevin di Guantanamo. Sejak pagi ia menunggu kedatangan Ulama Rahim. Ada yang ingin dibicarakan Kevin dengannya. Tapi chaplain Muslim itu tidak menampakkan batang hidungnya sampai Kevin selesai salat zuhur. Ketika Jonash kembali ke selnya setelah dapat giliran mandi, ia memberi tahu Kevin informasi yang didengarnya tentang Ulama Rahim.

“Ada kabar, Ulama ditangkap dan dipenjara di bagian lain pulau ini,” bisik Jonash dari selnya. Saat itu sedang ada pergantian shift penjaga, jadi tidak ada yang mengawasi mereka kecuali kamera-kamera di dinding.
Kevin jelas saja kaget. “Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Ulama dituduh membawa data-data dan peta kamp dan menjualnya pada pihak asing. Dia juga dituduh sebagai bagian dari teroris yang sengaja disusupkan Al-Qaeda ke sini untuk membantu kita, para tawanan.”

Kening Kevin berkerut. “Itu jelas tuduhan palsu. Semua itu tidak benar.”

Jonash mengangguk setuju. “Aku pikir begitu. Ulama Rahim ditangkap lebih karena ia seorang Muslim. Selama ini ia menjalankan tugasnya dengan baik. Prosedur Standar Operasional yang dibuatnya tentang pemberian kebebasan pada para tawanan untuk beribadah berhasil digolkan.”

“Lantas apa yang terjadi?”
“Sekarang seluruh pers di Amerika mengecamnya. Istri, anak, dan seluruh keluarganya di Amerika sana menerima perlakuan rasis dari berbagai pihak, termasuk aparat pemerintah.”

Kevin termenung. Keberadaan Ulama Rahim di kamp selama ini sangat membantu para tawanan. Paling tidak buat Kevin, lelaki itu bisa jadi tempat curhat.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya pada Jonash.

Jonash memiringkan kepalanya dengan tatapan heran. “Apa maksudmu, Kev? Tentu saja tidak ada yang bisa kita perbuat untuk Kapten Rahim. Nasib kita sendiri di sini belum jelas akan seperti apa.”

Berhari-hari kemudian tidak ada kabar apa-apa lagi tentang Ulama Rahim. Seorang ulama militer Muslim baru didatangkan ke Guantanamo untuk menggantikannya, tapi para tawanan belum bisa melupakan Ulama Rahim.

HARI ITU langit cerah. Saat sedang dapat giliran berolah raga di luar sel, Kevin mendengar desas-desus bahwa sejumlah tawanan akan dibebaskan. Tapi siapa dan kapan pembebasan akan dilakukan, masih penuh rahasia.

Tapi beberapa hari kemudian, Kevin melihat perubahan perilaku para penjaga terhadap beberapa orang tawanan, termasuk dirinya. Semua penjaga tiba-tiba berubah sangat sopan. Mereka mendapat makanan spesial selama beberapa malam. Mereka boleh mengambil makanan sendiri, dan memakan apa saja yang mereka mau. Mereka juga diberi dua buah buku dari perpustakaan dan masing-masing diberi satu buah Alquran—beberapa di antaranya masih baru dan terbungkus plastik.

Pada tanggal 19 Juni, penjaga memanggil beberapa tawanan termasuk Kevin, Jonash, dan Hook untuk berkumpul. Semuanya ada 20 orang, sebagian besar asal Afghanistan. Mereka dipindahkan ke Kamp 4—yang belakangan mereka ketahui dijadikan tempat para tawanan ditempatkan sebelum dibebaskan. Di sanalah mereka semua diberi tahu bahwa mereka akan dibebaskan.

Keesokan harinya, subuh-subuh, apa yang kemudian terlihat sungguh mengejutkan Kevin. Para tawanan dipaksa mengenakan setelan kemeja kotak-kotak atau denim dan celana jins serta sepatu sneaker. Aneh dan terkesan lucu. Buat Kevin dan teman-teman Eropa-nya, pakaian seperti itu mungkin sudah lazim. Tapi bagi orang Afghanistan yang di kampung halamannya biasa mengenakan gamis, serban, dan sepatu sendal, pakaian ala Michael Jordan seperti itu sungguh terlihat aneh.

Pihak militer memoles mereka sedemikian rupa sebelum dibebaskan, dan hal ini cukup bisa dimengerti. Para tawanan ini dipulangkan dengan pakaian baru, sepatu sneaker buatan Amerika, dan buku-buku yang dengan jelas memperlihatkan bahwa mereka mendapat perlakuan yang layak selama berada di Guantanamo. Sebuah propaganda untuk mengelabui dunia internasional tentang apa yang sebenarnya terjadi di Guantanamo.

“Menurut kalian,” kata Kevin pada dua orang temannya. “Apakah kita benar-benar akan dibebaskan atau ini taktik baru interogasi mereka?”

“Ini tampaknya sungguh-sungguh, Kev,” kata Hook, yakin. “Tidak lama lagi kita akan kembali ke rumah.”

Setelah selesai berpakaian, para tawanan diborgol dan dibawa menuju dua buah bus yang diparkir di depan gerbang Kamp 4. Kegembiraan menyelimuti mereka semua. Bahkan para tawanan di Kamp Delta memperlihatkan kegembiraan kepada mereka yang diperbolehkan kembali pulang. Mereka berteriak dari jendela kecil di pintu sel mereka, “Selamat jalan, Saudaraku! Semoga berhasil!” Saat itulah, dalam sorot lampu dari menara pengawas, Kevin melihat Ulama Rahim dalam pakaian sipil ikut berbaris di bagian belakang.

“Ulama!” teriak Kevin tak percaya. Tawanan yang lain melihat ke belakang dan ikut-ikutan kaget. Kenapa Ulama Rahim diikutsertakan dalam rombongan yang akan dibebaskan? pikir Kevin. Ulama Rahim melambaikan tangan sambil tersenyum.

Seluruh jendela bus dicat hitam, dan beberapa kendaraan militer jenis Humvess dan satu buah ambulans sudah bersiap untuk mengawal bus-bus ini—seperti parade iring-iringan mobil kepresidenan. Beberapa orang petugas yang biasa melakukan interogasi menunggu di sana. Mereka datang untuk mengucapkan selamat jalan dan mengharapkan agar para tawanan baik-baik saja. Hal ini sungguh jauh berbeda dengan keadaan yang biasanya terjadi di Kamp Delta.

Saat sopir menghidupkan mesin dan bus itu mulai bergerak, Kevin bangkit dari tempat duduknya kemudian duduk di sebelah Ulama Rahim di bangku belakang. “Apa yang terjadi, Ulama?” tanya Kevin.

Ulama Rahim tersenyum pahit. “Entahlah, tapi hari ini aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.”

Dua orang PM yang melihat mereka bicara, meminta Kevin kembali ke tempat duduknya.

Sampai di pangkalan, sebuah kapal feri sudah bersiap membawa mereka menyeberang menuju bagian timur pangkalan. Saat mulai mendekati jalur penerbangan, melalui kaca depan bus, Kevin bisa melihat beberapa pesawat militer dari kejauhan. Mendadak, perasaannya tidak enak. Tapi ia tidak berani mengungkapkannya pada yang lain. Ia menoleh beberapa kali ke belakang, ke arah Ulama Rahim. Tapi Ulama Rahim sedang tertunduk di tempatnya.

Bus berhenti pada lintasan, jaraknya hanya sekitar empat puluh yard dari pesawat. Para penjaga mempersiapkan mereka—bekas tahanan—satu per satu. “Ambil tas kalian,” seorang PM memberikan pengumuman di depan sana, “dan maju ke depan jika sudah dipanggil.”

Sebelum keluar dari bus, anggota PM melepaskan borgol mereka, dan meminta mereka menaiki pesawat satu per satu. Personel angkatan udara yang akan mengantarkan mereka tampak tengah mempersiapkan pesawat.

Saat seluruh tahanan sudah duduk di bangku masing-masing dengan wajah senang dan gembira, pilot dan krunya diam-diam turun dari pesawat—dan tanpa terlihat oleh para tahanan di atasnya—bergerak perlahan-lahan menjauhi pesawat. Pada saat yang sama Kevin tengah tepekur di bangkunya, berdoa agar Allah menyelamatkan mereka semua.

Saat itu matahari belum muncul di cakrawala, langit masih gelap. Kecuali lampu di dalam pesawat, tidak ada cahaya apa pun yang terlihat di landasan. Seseorang, entah di mana, memberi perintah; lalu sebuah tangan yang berada tak jauh dari landasan, menekan sebuah tombol merah. Sedetik kemudian, kembang api raksasa tercipta di tengah-tengah udara pagi Kuba yang dingin. Pesawat militer itu hancur lebur, tak bersisa, bersama 20 orang bekas tawanan Guantanamo yang dinyatakan bebas hari itu berikut seorang chaplain berpangkat kapten bernama Abdul Rahim.[]

Jatipadang, 17 April 2006
Ket: sejumlah informasi dan deskripsi dalam cerita ini dikutip dari buku For God and Country karya James Yee, terbitan Public Affairs, New York, 2005

[Dimuat di Majalah Annida edisi Mei 2006]

rahasia ibu

Rahasia Ibu

IBU jatuh sakit. Kondisinya kian hari kian lemah. Napasnya pendek-pendek, dan itulah yang paling membuat aku takut. Ibu memang sudah tua, hampir tujuh puluh tahun. Tapi, setahuku, baru kali ini sakit Ibu begitu mengkhawatirkan sampai-sampai kami memutuskan merawat Ibu di rumah sakit. Walau wajar seorang wanita setua Ibu sakit-sakitan, tapi aku tidak percaya, bahkan tak ingin percaya, bahwa pada akhirnya usia akan merebut Ibu dari kami.

Ibu sudah lama menjanda. Ayahku, Wiraatmaja, meninggal dunia dua puluh tahun lalu dalam sebuah peristiwa tragis. Kapal yang dinakhodainya tenggelam ditelan samudra. Sejak itu, Ibu tak pernah lagi menikah. Ibu tampaknya terlalu sulit melupakan Ayah.

Aku bungsu dari lima bersaudara. Sejak menikah, aku diminta suamiku berhenti bekerja dan tinggal di rumah. Awalnya, kupikir aku bakal punya bayi, sehingga aku punya kesibukan di rumah. Tapi ternyata Tuhan menakdirkan lain, setelah lima tahun aku tidak kunjung hamil. Karena selalu kesepian di rumah, dua tahun lalu aku minta Ibu pindah ke Jakarta dan tinggal bersamaku. Suamiku setuju. Kakak-kakakku pun tak ada yang keberatan.

Adrian, suamiku, adalah ilmuwan di sebuah pusat riset nuklir di luar kota. Dia jarang di rumah. Berangkat bekerja Senin pagi dan pulang pada Jumat petang. Aku tidak protes, karena sebelum kami menikah, kami sudah sepakat soal itu. Kami saling memercayai. Karena hari-hariku begitu panjang, aku membunuh waktu bersama Ibu. Mengejutkan bagiku ketika sadar bahwa betapa sudah lamanya waktu memisahkan aku dengan Ibu. Sejak mulai kuliah, mulai bekerja, dan sampai akhirnya menikah, baru sekaranglah aku benar-benar kembali bisa dekat dengan Ibu.

SEBELUM jatuh sakit, Ibu menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Koleksi buku kami lumayan banyak. Kadang-kadang Ibu mendiskusikan buku yang baru dibacanya bersamaku. Sesekali aku mengajak Ibu pergi ke mal, berbelanja keperluan dapur, sambil ganti suasana. Aku juga sering mengajak Ibu melihat pameran foto, lukisan, atau pagelaran karya seni. Sejak tinggal bersamaku, dua kali aku mengajak Ibu melihat pentas teater di TIM, dan Ibu tampaknya senang. Rupanya bagi Ibu, ini pengalaman baru yang dulu tak pernah beliau dapatkan.

Tapi tentu saja aku tak selalu bisa mengajak Ibu bila aku punya acara di luar rumah. Sejak aku resign dari majalah tempat aku bekerja, aku jadi banyak bergabung dengan milis-milis di dunia maya. Aku juga membangun jejaring pertemananku lewat komunitas blogger, dan hal itu bisa menerbitkan gairah baru dalam hidupku. Beberapa kali aku ikut hadir dalam acara kopi darat milis-milis yang kuikuti, acara ulang tahun rekan-rekan chatting-ku, atau hadir dalam acara berbuka puasa bersama di bulan ramadhan. Dari waktu ke waktu, aku mendapat teman-teman baru, laki-laki dan perempuan. Dan sialnya, karena selalu datang sendiri ke acara kumpul-kumpul itu, beberapa di antara mereka ada yang mengira aku masih sendiri. Beberapa orang mendapatkan nomor handphone-ku entah dari siapa dan mulai mengirimiku SMS. Mulanya mengajakku berkenalan, tapi lama-lama mengajak kencan. Ada pula yang to the point, bilang suka padaku. Tapi begitu tahu aku sudah menikah, mereka semua kaget, lalu kemudian menghilang secara teratur dari hidupku.

Tapi tidak dengan Zulfi. Dia tidak menyerah. Cowok yang lebih muda dua tahun dariku itu ingin jadi pacarku, meskipun berulang kali kukatakan bahwa aku sudah menikah. Zulfi tidak peduli. “Setidaknya kita bisa selingkuh,” katanya waktu itu, sungguh-sungguh. Aku tersenyum. Setengah kaget, setengah geli. Kukatakan bahwa aku adalah wanita yang setia. Aku mencintai suamiku dan aku tidak mungkin mengkhianatinya. Zulfi mengatakan, “Sebagaimana halnya lelaki, di dunia ini tak ada perempuan yang benar-benar setia.” Zulfi bertaruh, dalam satu bulan sejak dia mengungkapkan perasaannya itu, aku akan menerima tawarannya. Dia bilang, “Bulan depan, kau akan jatuh cinta padaku.” Dan sialnya, hal itu ternyata benar. Sejak hari itu aku tak berhenti memikirkannya. Aku menerima Zulfi, dengan catatan, tak ada komitmen apa pun di antara kami.

PERSELINGKUHANKU dengan Zulfi tak tercium suamiku. Aku dan Zulfi menyimpannya rapat-rapat. Kami mengatur kencan-kencan kami sedemikian rupa, sehingga tak seorang pun tahu affair kami. Adrian sendiri makin sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan sejak ada Ibu di rumah, dia seolah punya alasan untuk semakin sering meninggalkanku. Aku menyimpan dengan rapi gairah baruku agar tak tampak ke permukaan, walau sebenarnya kalau Adrian sedikit lebih perhatian, dia pasti akan bisa menangkap bahwa gairah itu bukan untuknya.

Barangkali, itu juga yang jadi pangkal sebab perkawinanku terasa hambar. Pernikahanku dengan Adrian adalah kalender-kalender yang sunyi. Sebelum menikah, masa pacaran kami memang singkat, cuma enam bulan. Tapi saat itu bagiku Adrian adalah sosok yang sempurna. Dia matang dan mapan. Saat itu dia juga romantis. Perhatiannya ibarat hangatnya cahaya matahari yang berhasil melumerkan ice cream di hatiku. Memang, dari segi materi, Adrian sudah memberiku lebih dari cukup. Tapi apa gunanya semua itu bila aku selalu kesepian di rumah? Kehadiran Ibu di rumah kami memang menolong, tapi tentu ini bukan soal itu. Aku tetap saja merasa kesepian. Dan, ketika Zulfi hadir, aku merasa tidak salah bila aku sedikit bersenang-senang.

SORE ITU, saat sedang minum kopi di sebuah kafe bersama Zulfi, aku mendapat telepon dari rumah sakit. Ibu dalam keadaan kritis. Zulfi meminta ikut ke rumah sakit, tapi aku melarang. Kutinggalkan Zulfi sendirian dan bergegas ke rumah sakit. Di jalan, aku menangis. Alangkah hinanya aku, meninggalkan Ibu sendirian menghadapi saat-saat sulit sementara aku ngobrol dan ketawa-ketiwi dengan lelaki yang bukan suamiku. Aku menelepon Adrian dan kakak-kakakku. Saat kakak sulungku bertanya apakah aku bersama Ibu, aku makin terpojok ketika kukatakan aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.

Ketika aku sampai, dokter yang merawat Ibu belum memperbolehkan aku masuk. Ibu baru saja melewati fase kritis, kata dokter. Ginjal Ibu semakin kehilangan fungsinya. Dan dokter mengatakan, bahwa mereka akan berusaha semaksimal mungkin; jawaban standar seorang dokter ketika mereka sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan pasien mereka.

Sepanjang malam aku cuma menangis. Adrian tampak kuyu. Wajahnya letih. Ia memelukku dan menyabarkanku. Aku benar-benar gelisah. Begitu banyak penyesalan yang menyesak dalam dada yang membuatku kadang sulit memilah, mana yang harus kumintakan ampun lebih dulu.

Tepat tengah malam, dokter keluar dari ruangan tempat ibuku dirawat. Ia tersenyum. Dokter setengah baya itu mendekatiku, dan menyampaikan kabar baik.

“Ibu Anda sudah sedikit membaik. Beliau ingin bicara dengan Anda,” kata dokter. Aku ingin menelepon suamiku yang sedang keluar mencari makan malam, tapi kutangguhkan. Kakak-kakakku saat ini mungkin masih berjuang mendapatkan tiket pertama untuk berangkat ke Jakarta esok pagi.

Ibu tersenyum begitu aku masuk, seolah ingin memberi tahu bahwa semuanya baik-baik saja. Namun begitu, aku merasa Ibu sengaja mengesampingkan penderitaannya. Ibu seperti memaksakan dirinya kuat di hadapanku.

“Duduklah dekat Ibu,” kata Ibu. “Ibu ingin menyampaikan sesuatu padamu.”
Aku duduk. Kuraih tangan Ibu dan kuciumi. Air mataku kembali berlinang. Mata Ibu tampak bening. Aku heran, dari mana Ibu dapat kekuatan yang bisa membuatnya begitu tegar.

“Ibu punya rahasia yang belum pernah Ibu ceritakan pada siapa pun, termasuk kepada almarhum ayahmu,” suara Ibu terdengar parau. Sangat pelan, nyaris berbisik. Aku mengangguk. “Rahasia ini Ibu pegang selama puluhan tahun, dan sekarang, Ibu mau ceritakan padamu. Hanya padamu,” lanjut Ibu.

Air mataku kian deras. Aku merasa ini seperti penyampaian wasiat terakhir. Oh, Tuhan! “Ibu mau menceritakan apa?” tanyaku. Apakah rahasia yang disimpan Ibu selama bertahun-tahun dari kami, bahkan dari suami yang sangat dicintainya?

“Dalam dompet Ibu ada sebuah foto, ambillah.”
Aku kaget, tak bisa menduga ke mana semua ini mengarah. Foto apa yang ingin diperlihatkan Ibu padaku? Aku mengambil dompet yang disimpan Ibu dalam laci meja rumah sakit dan membukanya. Foto yang kulihat pertama kali adalah foto kami sekeluarga, saat Ayah masih hidup, foto masa kecilku.

“Bukan yang itu. Ada satu foto lagi,” kata Ibu. Aku mencari-cari lagi, dan akhirnya menemukan foto lain. Sebuah foto yang tak pernah kulihat sebelumnya. Foto seorang lelaki yang tak kukenal. Sebuah foto lama, foto buram hasil rekaman kamera zaman lampau. Aku memerhatikan lelaki dalam foto itu.

“Ini siapa, Bu?” tanyaku pada Ibu.
Ibu mendadak menangis. Terisak-isak. Ibu meraih kepalaku dan menciumi keningku. Lama sekali rasanya sebelum akhirnya Ibu mampu berkata-kata lagi.

“Dialah ayahmu, Nak. Namanya Faisal.”
Aku tersentak kaget. Sungguh, kata-kata itu bagai badai yang menghantam jiwaku. “Ayah? Bukankah ayahku …”
“Percayalah. Dia adalah ayah kandungmu. Wiraatmaja yang kaukenal selama ini bukan ayahmu. Kau memang putri bungsu Ibu, tapi kau tidak seayah dengan kakak-kakakmu. Dan hanya Ibu yang tahu soal itu. Faisal dan Wiraatmaja tak pernah ibu beri tahu.”

“Tapi, bagaimana bisa?” Aku tidak punya ungkapan lain yang lebih tepat selain itu. Pantas saja selama ini aku merasa garis wajahku sedikit lain dengan kakak-kakakku.

Ibu menerawang. Matanya tampak menjangkau kenangan masa lalu. Mata itu kini kian tergenang.
“Setelah kakakmu Noura lahir, Ibu bertemu Faisal dan kami saling jatuh cinta. Wira tidak tahu Ibu mengkhianatinya. Ibu dan Faisal diam-diam menjalin hubungan di belakang ayahmu. Dan kau adalah buah cinta kami.”

Aku sekali lagi tersentak. Ibu selingkuh? Dan aku adalah anak hasil perselingkuhan Ibu? Tidak, ini tidak mungkin! Ini tidak nyata! Ini tidak pernah benar-benar terjadi!

“Kenapa Ibu ceritakan ini padaku?” tanyaku agak keras, melampaui yang seharusnya. Ibu menatapku dengan sayu. Wajahnya pasrah, seperti siap menerima hukuman.

“Ibu ceritakan ini, agar kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
“Maksud Ibu? Aku nggak ngerti maksud Ibu,” kataku.
Ibu tersenyum tipis. Tampak seolah mengejekku, dan mengatakan bahwa dia tahu segalanya.
“Ibu tahu tentang Zulfi.”

Aku seperti disambar petir. Tubuhku seakan dialiri listrik ribuan volt ketika mendengar kata-kata itu.
“Ya. Sebelum Ibu masuk rumah sakit, anak muda itu datang sekali ke rumah saat kau tidak ada. Ibu mengajaknya masuk dan kami bicara cukup lama. Ibu menasihati dia agar segera mengakhiri hubungan kalian, tapi rupanya dia agak keras kepala. Dia mengaku sangat sayang padamu dan terlalu sulit berpisah darimu. Ibu menyerah, tapi Ibu berpesan padanya agar merahasiakan pertemuan kami sore itu darimu.” Ibu berhenti, menarik napas. Air mata yang kini sudah mengering, membentuk noda di keriput tua matanya. Noda itu basah lagi ketika tetesan air mata baru jatuh.

Aku kehilangan kata-kata. Saat itu seolah seluruh aibku terbuka, dan aku benar-benar sedang telanjang. Seluruh kehormatan dan kesucian yang kubangun selama ini di depan mata Ibu, kini gugur satu per satu.

“Kalau kamu sangat mencintai Zulfi, lebih baik berterus terang pada Adrian. Itu lebih baik daripada kamu menimbun dosa yang kelak takkan mampu kamu hapus. Belajarlah dari Ibu. Jangan ulangi kesalahan ini. Walaupun kamu berhasil menyimpan rahasia kalian seumur hidupmu, percayalah, rahasia itu akan jadi siksaan yang akan terus membayangimu sampai kamu mati. Percayalah, Nak, pada Ibu.”

Aku menangis. Kurenungi kata-kata Ibu. Aku adalah bukti nyata hasil perselingkuhan ibu dengan lelaki lain yang kemudian menjadi darah dagingku. Kehadiranku di dunia seolah membuat Ibu semakin dibayangi rasa bersalah, yang telah menghantuinya seumur hidup.

Dua hari kemudian, Ibu meninggal dunia. Ibu meninggalkan warisan yang tak kuduga sebelumnya, dua rahasia besar yang belum akan kubuka kepada siapa pun; rahasia perselingkuhan ibuku dan dan rahasia perselingkuhanku sendiri. Aku belum mengambil keputusan mau kuapakan kedua rahasia ini. Aku ingin mengikuti nasihat Ibu, tapi tak tahu, memilih yang mana.[]

Jakarta, 2008

Bangkai

Cerpen Melvi Yendra

JAM dinding di ruangan ini menunjuk pukul tujuh tepat. Belum satu orang pun terlihat. Aku berangkat terlalu pagi dari rumah. Selepas subuh, aku sudah berdiri di halte bus terdekat. Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku. Padahal jarak rumahku dan kantor sebenarnya tak terlalu jauh. Tapi ini kota besar, dan ini hari Senin. Apa pun bisa terjadi di hari Senin. Tapi, aneh juga bila di kantor besar ini, belum satu pegawai pun hadir.

Tapi bukan itu sebenarnya yang menggangguku. Aku mencium bau tak sedap, busuk. Tapi entah apa. Bau tak sedap itu, sebenarnya tercium sejak pertama kali aku memasuki ruangan ini. Awalnya kukira aroma tong sampah yang belum dikuras. Tapi, bau ini terlalu busuk untuk sebuah tong sampah di ruang kerja. Apakah ada yang membuang bangkai tikus atau makanan basi di dalamnya? Ah, mungkin saja ada tikus yang mati di salah satu lorong angin entah di mana, dan sialnya, tikus malang itu mati tak jauh dari meja kerjaku.

Walaupun bau itu sangat mengganggu dan membuatku tidak nyaman, aku masih sungkan untuk bertanya. Saat seorang office boy masuk ke ruangan kemudian sibuk mondar-mandir menaruh gelas-gelas teh manis di atas meja, aku diam saja. Yang mengherankanku, dia tampak seolah tak mencium bau busuk itu.

AKU baru saja pindah ke kota besar ini. Bulan lalu, aku dimutasi ke kantor pusat ini. Meskipun istriku keberatan karena kami terpaksa mencari kontrakan baru, aku tak punya pilihan lain.

Bau tak sedap di ruangan kerjaku itu segera terlupakan saat aku mengikuti apel pagi. Kepala Bagian Kepegawaian, Pak Sohib, memperkenalkanku kepada seluruh jajaran staf. Apel pagi itu berlangsung setengah jam, sebagian besar diisi oleh sambutan-sambutan oleh Bapak Kepala dan Bapak Wakil Kepala.

Ketika apel pagi usai, dan aku kembali ke ruanganku, bau busuk itu masih tercium. Bahkan, baunya semakin kuat ketika aku duduk di mejaku. Pegawai yang lain sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi, aku semakin heran, tak seorang pun tampak terganggu dengan bau busuk itu. Apakah mereka sungguh-sungguh tak menciumnya?

Pak Sohib mendadak muncul di depan mejaku. “Pak Andre, mari ikut ke ruangan saya sebentar,” katanya. Dalam hati aku merasa senang. Aku punya kesempatan untuk kabur sementara dari ruangan yang berbau busuk itu.

Di ruangan Pak Sohib bau itu memang tak tercium benar. Tapi, samar-samar, bau itu masih tertangkap juga olehku, seolah-olah biangnya sudah lekat di pucuk hidungku. Ataukah ini cuma perasaanku saja? Pak Sohib menyerahkan SK baruku dan berkas-berkas kerja pegawai yang posisinya kini aku gantikan.

“Oh ya, atasan langsung Pak Andre, Pak Bobby sedang cuti. Jadi untuk sementara Pak Andre silakan langsung koordinasi dengan Bapak Wakil Kepala. Kalau ada hal lain yang Pak Andre perlukan, jangan sungkan-sungkan menemui saya,” Pak Sohib berkata. “Selamat bergabung dan selamat bertugas.”

“Terima kasih, Pak Sohib…” ucapku agak menggantung. Haruskah aku bertanya soal bau busuk itu sekarang, di hari pertamaku? Apakah cukup sopan?

“Hmmm… begini, Pak Sohib… ruangan saya…”
“Kenapa dengan ruangan, Pak Andre?”
Aku mendadak merasa sungkan.
“AC-nya kurang dingin, ya?” Lelaki tambun di depanku langsung menyambar. Dia tersenyum. “Jangan kuatir, hari ini kebetulan ada tukang AC yang datang, Biar nanti saya minta mereka memeriksa AC di ruangan Pak Andre,” kata Pak Sohib.

Aku cepat menukas, “Tidak perlu, Pak Sohib. Di sana AC-nya sangat sejuk.”

Aku kembali ke ruanganku. Beberapa langkah sebelum sampai di meja, bau busuk itu kembali tercium. Aku mendadak mual. Aku mencari-cari saputangan di dalam tas dan cuma menemukan masker penutup hidung yang biasa aku pakai bila mengendarai motor. Tapi aneh rasanya, mengenakan masker di dalam ruangan ber-AC, bisa-bisa aku dikira sudah senewen. Jadi, kubiarkan bau busuk itu tetap menerjang hidungku. Tapi rasa penasaranku sudah memuncak. Aku tidak tahan lagi untuk tidak bertanya. Kucegat office boy saat lewat di depan ruanganku.

Joni—begitu nama yang terjahit di atas saku seragamnya—bingung mendengar penjelasanku. “Bau busuk apa ya, Pak?” tanyanya penuh keheranan sambil melihat ke loteng.

“Bau bangkai tikus atau kucing barangkali,” jawabku sambil menutup hidung. Terpikir juga olehku, jangan-jangan itu bau bangkai manusia, tapi apakah mungkin?

“Saya tidak mencium apa-apa, kok, Pak, kecuali bau pewangi ruangan,” kata Joni. Dia menatapku yang sedang berusaha menahan napas dengan tatapan makin heran.

Apa yang harus kukatakan lagi? Apakah aku benar-benar sudah sinting karena sepertinya hanya aku yang mencium bau busuk itu sementara di ruangan ini ada belasan orang?

“Tapi, saya akan coba cek ke atas, Pak,” janji Joni. Itu membuatku sedikit lega.
“Terima kasih, Mas,” sahut saya. Joni nyengir, kemudian berlalu.

Jam istirahat datang juga setelah tiga jam penuh siksaan di meja kerja. Sehabis makan siang, aku mendengar suara-suara di loteng di atas ruanganku. Perasaanku sedikit lega. Pastilah si Joni sekarang sedang merangkak-rangkak di lorong angin sambil menyeret bangkai tikus besar.

Tapi, setengah jam kemudian, Joni kembali dengan wajah sedikit kesal. “Di atas tidak ada apa-apa, Pak,” katanya merungut, kemudian bergegas pergi. Aku menghela napas karena tak diberi kesempatan bertanya. Aku kembali duduk di mejaku dan mencoba berkonsentrasi pada pekerjaan. Tapi sampai jam pulang, yang ada di kepalaku hanya soal bau busuk itu. Tak ada yang lain.

Di rumah, Suri, istriku heran dan sama sekali tak percaya mendengar ceritaku. “Abang becanda, kan?” tanyanya. Tapi demi melihat wajahku yang serius, Suri akhirnya mau percaya. Tapi, akibatnya, malam itu juga, aku diajak mendatangi sebuah klinik THT yang tak jauh dari rumah kami.

“Hidung Anda tidak apa-apa,” kata perempuan muda berbaju putih setelah selesai memeriksa hidungku. Suri dan aku makin bingung.

“Tapi kenapa cuma saya yang bisa mencium bau itu?” tanyaku.

PERTANYAAN itu kuulang-ulang puluhan kali. Kepada dokter spesialis, kepada tetangga, kepada sahabat dekat, bahkan tukang ojek langgananku. Puluhan jawaban muncul, tapi tak ada yang bisa memberi jawaban yang masuk akal. Di kantor, aku sudah seperti orang gila, bekerja mengenakan masker, dan tiga kali sehari aku muntah-muntah di kamar mandi. Anehnya, aku tak pernah jatuh sakit. Baru dua minggu bekerja di sana, berat badanku memang menurun drastis, tapi aku sehat walafiat. Istriku mulai tidak tahan melihat penderitaanku. Terutama ketika hampir setiap malam aku mendapat mimpi buruk.

“Berhenti saja. Cari pekerjaan lain,” kata Suri suatu malam sambil menangis.
“Jangan. Ini satu-satunya sumber nafkah kita. Ini satu-satunya keahlianku. Kalau aku mengundurkan diri, kita makan apa?”

Pertanyaan itu membuat Suri terdiam. Dan, aku memaki-maki diriku sendiri sampai pagi.

SUATU kali ada tanggal merah yang jatuh pada hari Kamis. Jumat aku bolos kerja. Kumanfaatkan libur panjang itu untuk jalan-jalan bersama keluargaku. Soal bau busuk dan hidungku yang aneh itu, sedikit terlupakan.

Hari Senin, saat masuk kerja kembali, aku berharap bau busuk itu tak ada lagi. Namun, ketika aku sampai di meja kerjaku, aku salah besar. Bau itu bahkan lebih sengit dari biasanya. Perutku terasa mual dan aku muntah-muntah di kamar mandi. Teman-teman sekerja yang sejak awal sudah heran dengan tingkah anehku, kini mulai bertanya ada apa. Aku coba menjelaskan tentang bau busuk itu. Kubawa mereka ke ruanganku dan reaksi yang kudapatkan hanya kerutan kening dan gelengan kepala. Alih-alih ikut prihatin, mereka semua malah meninggalkan aku sendirian sambil senyum-senyum.

Setelah istirahat siang, perutku kembali mulas. Aku ingin muntah lagi. Aku lari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutku yang tersisa ke dalam lubang kakus. Di cermin, wajahku memucat. Sebagian karena kehabisan cairan, setengahnya lagi karena rasa bingung campur takut. Apa sebenarnya yang terjadi denganku?

“Kau bukan yang pertama.”

Aku tersentak kaget. Entah sejak kapan lelaki itu ada di sana, duduk di atas bangku kayu, di sebuah ruangan sempit penuh peralatan pembersih di depan kamar mandi. Separuh baya, ringkih, dan tampak penyakitan. Baru hari ini aku melihat sosoknya. Di manakah dia selama ini?

“Maaf, apa maksud Bapak?”

“Kau bukan yang pertama,” katanya lagi dengan misterius, kemudian bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. Kuikuti langkahnya. Aku penasaran, bagaimana lelaki itu bisa tahu soal bau itu. Dan siapa yang pertama kalau bukan aku? Tapi aku kehilangan jejak lelaki itu saat membuka pintu pantri. Di ruangan sempit itu hanya ada Joni.

“Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Tadi ada bapak-bapak setengah baya masuk ke sini. Kamu lihat tidak?”
Joni mengerutkan kening. “Bapak yang mana?”
“Bapak yang barusan masuk ke sini. Saya tadi bicara dengannya di depan kamar mandi.”
“Pegawai juga? Tidak ada yang masuk ke sini dari tadi, Pak. Hanya ada saya,” kata Joni yakin.
“Dia bukan pegawai, sepertinya rekan kerja Mas Joni. Sudah agak berumur, saya baru lihat dia hari ini,” kataku masih yakin.

Joni terdiam sebentar, lalu kembali sibuk mengelap gelas basah yang baru saja selesai dicuci. “Tidak ada OB lain di kantor ini, Pak. Hanya ada saya,” katanya sambil menatapku heran.

Aku pergi. Saat melangkah kembali ke ruanganku, kepalaku terasa sakit. Segala keanehan yang kualami ini membuat otakku mendidih. Belum satu bulan bekerja di kantor ini, aku sudah mulai tak betah. Soal bau tak sedap itu membuat rekan-rekan kerja mengira aku sudah sinting. Tatapan yang diikuti tawa cekikian sering aku terima dari mereka.

Siang itu aku menelepon istriku dan mengutarakan niatku untuk mengundurkan diri. Istriku, meskipun pernah mengusulkan aku mengambil langkah ini, tetap terkejut mendengar keputusanku.

Malam itu Suri menangis mendengar ceritaku. Kalau aku benar-benar berhenti bekerja, maka kami terpaksa mulai menjual beberapa barang sampai aku mendapat pekerjaan lain.

Sekitar pukul sepuluh malam, saat menutup gorden jendela, aku melihat ada orang berdiri di luar pagar depan rumahku. Sosok itu berdiri di bawah tiang listrik dan diam di sana tanpa melakukan apa-apa: hanya matanya saja yang menatap ke arah rumah kami.

Aku keluar dari rumah dan menghampiri.

“Bapak mencari siapa?” tanyaku setelah membuka pintu. Dia bergeming. Bagian depan rumahku memang tak banyak mendapat cahaya lampu, jadi sosoknya tampak gelap dari tempatku berdiri. Aku mendekat agar bisa melihat wajahnya.

Darahku seperti diisap tak bersisa ketika kukenali siapa sosok itu. Lelaki itu, lelaki setengah baya yang tadi siang bicara denganku di depan kamar mandi kantor!

Aku refleks bergerak mundur.

“Bapak… bagaimana Bapak bisa tahu rumah saya?” tanyaku gemetar. “Dan ada perlu apa ke sini?”

Lelaki itu melangkah dari bawah bayangan gelap yang menutupi tubuh kurusnya dan kini aku bisa melihat matanya yang gelap. “Maafkan saya, saya hanya ingin bicara sebentar dengan Saudara. Itu pun kalau Saudara tidak keberatan…” sahutnya. Tangannya memegang tiang besi pagar kuat-kuat, seolah-olah kalau tidak begitu tubuhnya akan ambruk ke tanah.

“Bicara tentang apa?” tanyaku khawatir. Lelaki ini, sungguh membuatku takut. Siang tadi dia muncul dan menghilang begitu saja, sekarang tiba-tiba nongol di depan rumahku. Dari mana dia tahu tentang aku?

“Bau itu…” katanya parau. Suaranya mendadak serak. Sebentar kemudian dia terbatuk-batuk. Dengan susah payah dia meredakan sesak yang menyelubungi dadanya. “Kalau tidak keberatan, saya mau segelas air,” ucapnya.

Aku jatuh kasihan. Kubuka gembok pagar dan kubukakan jalan menuju pintu rumahku. Kami duduk di ruang tamuKU yang kecil. Kuambilkan dia segelas air di dapur, dan dengan suara pelan kami mulai bicara. Dan apa yang kemudian kuceritakan setelah ini—sama sepertiku—pasti membuat Anda tak bisa percaya.

Lelaki gaek itu mengaku bernama Ihsanuddin. Dulu, dia adalah office boy di kantorku. Tujuh tahun silam, tepat saat berusia 55 tahun, dia pensiun, setelah menjadi office boy hampir selama dua puluh tahun! Pak Ihsan adalah karyawan yang tekun. Sebagaimana semua office boy, dia datang paling pagi dan pulang paling malam. Rentang paling panjang yang dia miliki itu membuat dia tahu segala peristiwa yang terjadi di kantor itu. Kadang-kadang, dia tanpa sengaja memergoki para staf atau pimpinan melakukan hal-hal tak senonoh di ruang kerja mereka—antara sesama karyawan kantor atau dengan orang di luar kantor. Dia pernah misalnya memergoki, Kepala Bagian Keuangan waktu itu, bercinta dengan seorang wanita panggilan malam-malam saat semua karyawan sudah pulang. Pak Ihsan beruntung, si Kepala Bagian Keuangan, tidak sadar perbuatan kotornya ada yang mengetahui.

Banyak sekali yang sudah dia lihat dan saksikan. Yang paling sering adalah selingkuh kecil-kecilan antarsesama karyawan. Sering dia menangkap basah sepasang kekasih berciuman di pantri atau di dalam kamar mandi, padahal Pak Ihsan tahu, masing-masing sudah punya pasangan dan anak sah di rumah. Sering pula dia menemukan kondom-kondom (atau bungkus kondom) di tong-tong sampah di samping meja pegawai. Pak Ihsan juga tahu siapa berselingkuh dengan siapa, dan siapa saja yang sengaja menutupi perselingkuhan itu.

Tak hanya soal perempuan nakal atau perselingkuhan, Pak Ihsan juga sering jadi saksi hidup praktik-praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme yang terjadi di kantor itu, terutama di ruanganku berada. Dia berkisah, lelaki-lelaki berdasi datang dengan koper-koper berisi uang-uang haram dan membawa pergi surat-surat izin yang sudah ditandatangangi dan distempel oleh Bapak Kepala. Pak Ihsan juga tahu dan hafal, mana saja karyawan yang masuk dengan jalur yang legal, dan mana yang masuk dengan amplop besar.

“Tapi ada satu rahasia besar yang sampai saat ini belum saya ceritakan pada siapa pun,” kata lelaki itu di tengah cerita.

“Rahasia apa?” sergapku penasaran.

Pak Ihsan menghela napas, memandang isi ruang tamuku untuk mengisi waktu sebelum paru-parunya terisi udara kembali. Dia lalu menatapku penuh harap. “Saya percaya pada Saudara, karena Saudara orang baik. Jadi tolong pegang rahasia ini baik-baik.”

“Baik, saya berjanji demi nyawa saya,” kataku meyakinkannya.
Lelaki seusia ayahku itu kini menatapku penuh harap. “Satu tahun sebelum saya pensiun, terjadi pembunuhan di kantor itu,” kata Pak Ihsan nyaris berbisik.

Aku tercekat. Tak kusangka akan mendengar hal itu. “Siapa, Pak? Siapa yang dibunuh?”

“Namanya Ahmad, seorang office boy.”
“Siapa yang membunuh dia dan kenapa?”

Raut muka Pak Ihsan tampak makin risau. “Bapak Kepala.”
“Bapak Kepala di zaman Pak Ihsan?” kejarku.
“Ya, dan dia masih menjabat Kepala sampai sekarang.”

Napasku tiba-tiba serasa berhenti saat mendengar kata-kata itu. Wajahku mendadak memucat. Tubuhku terasa dingin. Terbayang olehku wajah Bapak Kepala. Kami sering bertemu saat rapat. Tak kusangka lelaki yang tampak alim dan santun itu ternyata seorang pembunuh.

“Kenapa Ahmad dibunuh?” tanyaku bergetar.
“Dia juga sih yang cari gara-gara. Dia tidak bisa tutup mulut. Semua orang di kantor sudah tahu bajingan seperti apa Bapak Kepala itu, tapi tak satu pun yang berani macam-macam. Semua orang takut, semua orang diam, semua orang tutup mulut.”

“Apa yang dilakukan Pak Kepala sehingga dia Bapak katakan bajingan?”
Lelaki ini makin membuatku penasaran. “Berzina di kantor. Tapi yang diketahui Ahmad jauh lebih banyak, termasuk soal suap dan korupsi. Dia ini pandai menyelidik. Punya bakat jadi intel. Dia menyimpan bukti-bukti.”

Mengejutkanku, Pak Ihsan tiba-tiba bangkit dan beranjak ke pintu. Aku kaget. Sebelum keluar dia berkata,

“Ahmad dibunuh persis di ruangan tempat Saudara sekarang bekerja. Mayatnya tak pernah ditemukan. Saya satu-satunya saksi mata atas terbunuhnya Ahmad. Karyawan kantor tak seorang pun yang tahu. Sejak kejadian itu, saya selalu mencium aroma tak sedap di ruangan celaka itu. Anehnya, hanya saya saja yang bisa menciumnya, yang lain tidak. Sama seperti yang Saudara rasakan.”

Aku tercenung. “Apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanyaku.

“Tetaplah bekerja di sana. Setelah malam ini, bau itu akan hilang. Saya pamit. Terima kasih sudah mendengar kisah saya.” Lelaki itu keluar dari pintu rumahku dan dengan cepat menghilang di balik pagar rumah. Aku sama sekali tak sempat menahan langkahnya.

PAK IHSAN benar. Pagi-pagi, ketika sampai di kantor, bau itu sudah hilang, yang tinggal hanya aroma segar pewangi ruangan. Aku merasa lega. Persoalan bau itu selesai sudah dan surat pengunduran diri yang kemarin mau aku serahkan ke Pak Sohib, aku remuk dan kulempar ke tong sampah. Dengan lega aku beranjak ke kamar mandi.

Joni tampak sedang sibuk menyiapkan teh pagi. Dengan ramah kuhampiri dia dan mengabarkan soal bau yang sudah lenyap itu.

“Oh, ya? Syukurlah,” jawabnya singkat kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sebelum meninggalkan office boy pendiam itu, mataku menangkap sebuah foto usang tertempel di lemari tua di sudut pantri. Aku penasaran.

“Foto siapa itu, Mas?”

Joni menoleh ke arah foto yang kumaksud dan menyahut dengan nada suram. “Namanya Pak Ahmad. Dulu office boy di sini. Suatu hari dia lenyap. Tak pernah kembali lagi. Hilang seperti ditelan bumi,” jelas Joni.

Ya, Tuhan… lelaki yang mati dibunuh Bapak Kepala itu… Dengan dada berdebar aku melangkah mendekati lemari tua itu dan memerhatikan foto itu dari dekat.

Saat melihat wajah siapa dalam foto itu, napasku mendadak berhenti.

Wajah dalam foto usang itu adalah wajah Pak Ihsanuddin, lelaki yang semalam bertamu ke rumahku. Hanya saja, di foto itu dia tampak lebih muda beberapa tahun.

“Bukannya ini Pak Ihsanuddin?” tanyaku cepat pada Joni. Badanku seketika panas dingin.

“Ya, betul, ada juga yang manggil dia begitu. Nama lengkapnya memang Ahmad Ihsanuddin.”

Kini, kerongkonganku seolah tersumbat. Aku terpaku di atas kedua kakiku. Badanku menggigil.[]

Tanah Baru, 7 Oktober 2011

Datuk Rajo Malano

Datuk Rajo Malano

SALIM baru saja turun dari bendi ketika Upik adiknya bergegas menuruni tangga batu rumah gadang dan bersorak-sorak kegirangan. Gadis itu berlari-lari kecil melintasi halaman sehingga jilbab putihnya bergoyang-goyang. Bibir Salim menyungging senyum. Upik sudah 18 tahun, tapi perangainya tak berubah juga. Masih juga seperti anak-anak.

“Biar Upik yang angkat Uda,” gadis itu mengambil alih dua kantong plastik dari tangan Salim sambil menunggu udanya membayar bendi. Kemudian Salim menyandang ranselnya yang besar.

“Ada apa sih, Pik? Kenapa Bundo meminta Uda bergegas pulang? Bundo kan tahu sekarang Uda sedang butuh konsentrasi untuk menyelesaikan TA,” Salim menatap adik semata wayangnya. Sejak Salim kuliah di Padang, ia selalu mencemaskan adiknya itu. Mereka jadi jarang bertemu dan Salim sulit mengontrol semua kegiatannya. Untunglah bulan puasa tahun lalu Upik sudah mau memakai jilbab.

Upik bersikap seolah-olah tidak mendengar pertanyaan udanya. Tadi malam, sesudah menelepon Salim, Bundo mengingatkan agar Upik tidak bicara apapun sebelum Bundo sendiri yang bicara. Jadi sekarang dia diam saja.

“Hei, Upik tak mendengar Uda bertanya?”

Upik memain-mainkan kantong di tangannya. Ia menunduk saja ke bawah. Tapi akhirnya diangkatnya juga kepalanya sampai matanya menangkap sorot mata Salim.

“Sebentar lagi Uda juga akan tahu. Jadi ya percuma. Kalaupun Upik paksa, nanti penjelasannya tidak akan memuaskan.”

Mereka berjalan terus menuju rumah bagonjong. Di depan tangga Salim melihat sepasang sepatu milik mamaknya. Salim yakin karena ia hapal betul model sepatu mamaknya itu. Salim mengerutkan keningnya. Mamak? Ada apa pula mamaknya jauh-jauh dari Jambi pulang ke Payakumbuh. Tak biasanya adik Bundonya itu rela meninggalkan kedai kainnya kalau tak ada keperluan yang penting. Pasti ada apa-apa, pikir Salim.

Pemuda itu menaiki tangga batu rumahnya dengan hati bertanya-tanya. Tiba-tiba dia berhenti dan memegang bahu Upik. Karena kaget hampir saja si Upik menjerit.

“Ssstt! Pik, apa kepulangan Uda ini ada hubungannya dengan Nisa?”

Nisa adalah putri sulung mamaknya. Usianya dua tahun di atas Upik. Sekarang jadi bidan desa di Situjuh Batur, hanya sekali naik mobil dari rumahnya. Sesekali Nisa datang berkunjung ke Koto Nan Gadang, melihat bakonya. Dulu Salim sempat mendengar-dengar dirinya mau dijodohkan dengan Nisa. Itu yang sekarang ditakutkannya. Jangan-jangan karena kuliahnya hampir selesai, mamaknya ingin cepat-cepat menikahkannya dengan Nisa.

“Ah, Uda ko ge-er bana ma! Siapo nan nio jo Uda buruak ko?” Upik terkekeh.

“Indak usah takuik, Uda sayang. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan uni Nisa. Kepulangan Uda kali ini Upik rasa akan jadi kesempatan yang baik sekali untuk Uda.”

“Kesempatan, kesempatan apa, Pik?” Kening Salim berkerut lagi. Dipandanginya wajah Upik dengan bingung. Adiknya itu benar-benar sukses membuatnya penasaran. Upik tertawa-tawa senang melihat udanya kebingungan. Diacak-acaknya rambut ikal Salim.

“Yang Upik dengar, Uda mau diangkat jadi datuk. Bagaimana, lai jelas?” Upik merapikan jilbabnya dan menunggu reaksi Salim.

Salim terpaku. Datuk? Aku dipilih jadi datuk?
Seulas senyum terukir di wajah Salim. Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah! Akhirnya Engkau berikan juga kesempatan itu, doa Salim dalam hati.

“Uda? Apa Uda akan berdiri saja di luar?”
Salim tidak mendengar lagi panggilan Upik dari jendela.

@@@

Mereka semua duduk di tikar pandan yang digelar di ruang tengah. Mereka sedang menunggu penuturan akhir dari Kaharuddin, mamak Salim.

“Jadi begitulah Salim. Kami para ninik mamak, bundo kanduang dan tuo-tuo di pasukuan kita sudah sepakat akan mengangkat engkau jadi datuk, menyandang gelar dan meneruskan tugas Datuk Rajo Malano yang terdahulu. Apakah engkau bersedia?”

Suara mamaknya terdengar sangat jelas di telinga Salim. Rapat kaum itu dihadiri orang-orang tua, ninik mamak, bundo kanduang dan keluarga-keluarga sesuku lainnya. Mereka semua menunggu jawaban dari Salim.

Salim melempar pandang mancari wajah Upik. Upik dilihatnya tersuruk dibalik wajah amak-amak. Sekilas dilihatnya Upik tersenyum dan mengangguk.

“Dengan segala senang hati, saya bersedia,” akhirnya Salim menjawab, disambut suara dengungan di mana-mana. Wajah-wajah di ruangan itu terlihat senang.

Sekarang kaum mereka punya datuk baru. Datuk yang akan menjadi tiang sangga dalam kaum, tempat bertanya tempat mengadu. Datuk yang akan mengangkat batang tarandam, tempat para kemenakan bergayut dan tempat orang kampung berunding. Datuk yang akan mengangkat harga diri suku Piliang di tengah suku-suku lain di Minang Kabau. Datuk itu bergelar Salim Datuk Rajo Malano.

@@@

Sudah lama sebenarnya Salim ingin merubah tatanan adat yang telah berlaku di kampungnya. Banyak adat dan kebiasaan yang sudah melenceng dari syariat Islam. Tapi ia sering tidak berdaya menghadapi para datuk-datuk itu. Ini menurutnya, itu pula kata para datuk. Jadinya, keras sama keras, buruk akibatnya.
Pernah suatu kali, ia mengkritik adat yang berlaku ketika khutbah Jum’at. Pulang dari sana datang ke rumahnya seorang datuk tua berpakaian hitam dengan kopiah berlilik. Bundo-nya sampai-sampai bertindak tidak patut waktu itu. Beliau menerima saja semua omelan orang tua itu tentang anaknya. Dikatakannya perempuan itu tidak pernah mengajari anaknya etika sopan santun. Dan yang membuat Salim sakit hati, bundonya diharuskan meminta maaf secara adat pada para datuk yang duduk di Kerapatan Adat Nagari.
Secara adat, fungsi datuk mulai dilaksanakan setelah acara Batagak Pangulu diadakan. Batagak Pangulu adalah sebuah upacara penobatan gelar para datuk yang baru diangkat yang diadakan dalam sebuah baralek gadang. Sejak hari itu, kemana-mana Salim memakai kopiah berlilik, sebagai tanda kalau dirinya seorang datuk. Terlebih-lebih dalam acara-acara adat, pakaian yang dikenakan harus sesuai dengan ketentuan adat yang sudah turun temurun. Pakaian pergi baralek berbeda dengan pakaian untuk pergi melihat kematian. Dan yang paling terasa, dimana-mana, tua muda, besar kecil akan memanggilnya ‘Datuk’.

@@@

Tugas pertama Salim sebagai seorang datuk datang tiga bulan kemudian. Ketika pulang kampung begitu wisudanya selesai, ke rumahnya datang seorang wanita sebaya bundonya. Wanita itu langsung minta bertemu dengan Salim.

“Begini Datuk, anak saya si Husna kan baru tamat dari AQABAH Bukittinggi. Kemarin ada anak muda datang ke rumah, nampak-nampaknya teman sekolah si Husna juga waktu SMA. Anak muda itu ternyata mau mengambil si Husna jadi istrinya.”

Datuk Rajo Malano tersenyum saja. Dalam Islam, tradisi seperti ini tidak ada. Sebenarnya orang tua saja sudah cukup buat memutuskan perkara pernikahan anak gadis mereka. Tak perlu minta ijin atau memberi tahu mamak suku segala. Kadang-kadang urusannya malah makin berbelit-belit bila sudah di tangan sang datuk. Banyak perkara dan syarat yang harus dipenuhi sebagai syarat adat. Pepatah minangnya, banyak pintak yang harus diisi dan kandak yang harus diberi. Padahal, nikah merupakan pekerjaan mulia yang harus disegerakan.

“Baguslah itu, Tek. Kapan rencananya?” jawab Salim.

Bundo dan etek Sanin, ibu si Husna itu, jelas-jelas tercengang. Bukan begitu seharusnya jawaban seorang datuk.

“Tapi Datuk, tentu saja kita harus berunding dulu mengenai uang jemputan…”
“Uang jemputan?” Salim menyela. Ia segera bisa menebak sesuatu.

Etek Sanin dengan risau berkata, “Benar Datuk. Calon si Husna itu, si Amin namanya, orang asli Pariaman. Tapi masalahnya tidak sampai disitu saja. Si Husna dan si Amin tidak ingin kawin secara adat. Mereka katanya ingin, apa itu, etek hampir lupa, walim…”

“Walimahan, Tek,” ujar Salim membantu.
“Ya, betul walimahan. Dan herannya si Amin tidak ingin uang jemputan pula. Bahkan dia mau memberi kita uang lima juta, katanya untuk walimahan itu.”

Dalam hati Salim tersenyum. Alhamdulillah, sudah mulai ada keluarganya yang menerapkan sunah Rasulullah. Sekarang tugasnya tinggal meyakinkan eteknya itu bahwa keputusan si Husna sudah tepat.
“Sebenarnya Tek, keputusan anak dan calon menantu Etek itu sudah benar. Saya sebagai orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting dalam kaum kita, setuju-setuju saja.”

Kedua wanita setengah baya di depan Salim cuma bingung mendengar ucapan datuk mereka.

@@@

Akhirnya, walau banyak protes dan sikap-sikap kontroversial di beberapa pihak, pernikahan Husna dan Amin berhasil dilaksanakan tanpa insiden apapun. Tapi banyak orang kampung mengatakan, tidak layak kemenakan Datuk Rajo Malano dikawinkan dengan cara sederhana seperti itu. Tapi kehadiran Salim dalam acara walimahan hanya dengan mengenakan baju koko, membuat merah telinga bundo.

“Ondeh, Salim! Datuk macam apa kau ini? Dalam baralek kampung tak pantas seorang datuk terhormat seperti engkau datang cuma berbaju gunting cino itu. Apalagi kau datang ke baralek kemenakanmu. Apa kau bermaksud mempermalukan Bundo?”

Saat itu Salim cuma tertunduk. Ia tahu tabiat ibunya kalau sedang marah. Pantang dibantah. Tapi sudah saatnya Salim meluruskan pemahaman ibunya.

“Maafkan Salim, Bundo. Tapi Salim tidak ingin terlalu disanjung-sanjung orang kampung secara berlebihan. Seorang datuk seharusnyalah lebih merakyat. Salim tidak ingin seperti menara gading, yang berada tinggi di atas langit tapi tidak memberikan manfaat apa-apa pada orang lain kecuali rasa takut dan segan. Seorang datuk juga seorang manusia, yang bisa salah dan berdosa. Cukuplah fungsi seorang datuk lebih banyak pada usaha membimbing anak-kemenakan dan mengurus kampung halaman. Yang lebih penting adalah bagaimana mengembalikan pepatah kita: Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Syara’ mangato, adat mamakai, dalam arti yang sebenarnya. Yang di atas itu syara’, Bundo, bukan adat. Adat lah yang harus menyesuaikan diri dengan syara’, bukan sebaliknya.

“Salim tidak ingin nama datuk cuma terpakai dalam acara baralek, dalam rapat-rapat adat dan dalam sapaan orang-orang kampung.

“Salim ingin jadi datuk yang sesungguhnya, Bundo; yang peduli pada perkembangan anak-kemenakan, yang bertanggung jawab secara utuh terhadap kerusakan moral generasi muda dan yang paling penting, tidak memanfaatkan kedudukan datuk untuk menguras harta milik kaum dan kekayaan anak-kemenakannya. Salim cuma ingin merubah segala sesuatunya, Bundo. Dan itu yang sekarang mulai Salim lakukan.”

Setelah berkata begitu, Salim beranjak dari kursi dan melangkah ke kamarnya. Tinggallah bundo seorang diri dengan perenungannya.

@@@

Malam hari sebelum tidur, Bundo kembali mengingat-ingat semua kata-kata Salim siang tadi. Uraian panjang lebar Salim mengena juga di hatinya. Pengalaman hidupnya yang hampir enam puluh tahun sedikit banyak membenarkan apa yang dikatakan anaknya itu. Matanya sudah banyak melihat, telinganya sudah banyak mendengar dan hatinya sudah banyak merasakan apa yang sudah terjadi selama ini di kampung halamannya. Seorang datuk tak lebih cuma sebuah simbol keagungan, yang tak memberi perubahan apa-apa lagi pada orang kampung. Kerusakan moral masyarakat, mulai jauhnya pemuda dari langgar dan surau serta menguapnya tradisi anak-anak gadis berbaju kurung dan berkerudung, sesungguhnya juga merupakan tanggung jawab seorang datuk, bukan hanya tanggung jawab para ulama.

Yang terjadi adalah sebaliknya. Ada datuk yang malah bertindak semena-mena, melarang ini, menyuruh itu sementara periuk nasinya ditanggung kemenakan-kemenakannya. Istri dan keluarga tak terurus dan orang kampung terabaikan. Sering menangguk di air keruh dan hidup bagai parasit di tengah-tengah masyarakat.
Dalam hati bundo tersenyum. Menurun benar watak mendiang ayah si Salim pada anaknya itu. Sudah saatnya semuanya dikembalikan pada tempat yang semestinya.

Bundo bangkit dari dipannya meninggalkan Upik yang sudah lama terlelap. Perlahan ia melangkah keluar dari kamar dan mendapati anak bujangnya tengah khusyuk membaca al-Qu’an. Mungkin pertengkaran siang tadi telah membuat hati anaknya gundah.

“Salim,” Bundo berdiri di depan Salim. Salim menghentikan tilawahnya dan menatap bundonya.
“Bundo belum tidur?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Maafkan Bundo, Salim,” Bundo mendekat, matanya basah. Salim bangkit dan memeluk bundonya dengan haru.

“Salim yang seharusnya minta maaf, Bundo.”

Dari balik kain gorden kamar Bundo, Salim melihat wajah Upik menyembul. Adiknya itu tersenyum sambil memberi dua acungan jempol buatnya.

@@@

Salat Jum’at baru saja usai.

Salim hendak beranjak dari masjid ketika Datuk Rangkayo Basa datang menghampirinya. Salim tersenyum dan menyalami ketua KAN itu.

“Apa kabar, Datuk?” Salim menyapa lebih dulu.

Datuk Rangkayo Basa sudah hampir 70 tahun. Dari umurnya yang sebanyak itu, ia sudah jadi datuk selama 60 tahun. Jadi sudah cukup banyak dia mencoba asam garam kehidupan. Tapi sayang, sikapnya sangat keras dalam mempertahankan adat.

“Baik-baik saja Datuk Salim. Oh, begini, sebelum pulang ke rumah, saya mau mengajak Datuk mampir ke rumah saya. Kami ada acara mendoa sedikit.”

Salim mengangguk-angguk.

“Baguslah kalau begitu, Datuk. Langkah suok kiranya. Tapi ngomong-ngomong acara mendoa dalam rangka apa, Datuk? Apa Datuk mau berminantu?” ujar Salim tertawa, mencoba bergurau.

“Oh, tidak Datuk Salim. Hari ini kan bertepatan seratus hari meninggalnya ibu si Aminah. Ya, manyaratu lah tepatnya.”

Wajah Salim langsung berubah. Ini salah satu kebiasaan yang harus segera diperbaikinya. Dalam Islam tidak ada istilah acara peringatan hari ketujuh, hari keseratus atau hari keseribu kematian seseorang. Apalagi acara mendoa itu selalu disertai acara makan-makan dengan mengundang kaum laki-laki sekampung. Bukannya membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, kebiasaan seperti itu justru memberatkan mereka. Apalagi kalau yang meninggal itu misalnya suami atau anak lelaki mereka yang selama ini jadi tumpuan hidup keluarga.

“Maaf Datuk. Kalau acaranya seperti itu, terus-terang saya tidak bisa menghadirinya. Karena dalam Islam tidak dibenarkan tradisi seperti itu,” ujar Salim tegas-tegas.

Wajah Datuk Rangkayo Basa merah padam. Lancang sekali anak muda itu menolak undangan darinya.
“Apa salahnya? Ini kan adat kita yang sudah berlaku jauh sebelum aku atau engkau sendiri dilahirkan?”
Kata-kata Datuk Rangkayo begitu pedas sampai ke telinga Salim. Ajaran Rasulullah jauh lebih tua dari itu, maki Salim dalam hati. Tapi ia tahu, sudah kepalang basah jika ia tiba-tiba mundur. Tekadnya sudah bulat sejak awal pertama diangkat jadi datuk. Ia sudah siap menerima resiko apapun dari pendiriannya itu.
“Maafkan saya, Datuk. Mulai saat ini anak-kemenakan saya, saya larang melakukan atau menghadiri acara-acara seperti itu. Acara itu tidak sesuai dengan dengan hati nurani dan bertentangan dengan yang saya anut. Permisi, assalamualaikum!”

Salim beranjak meninggalkan Datuk Rangkayo yang tampak kepanasan mendengar-kata-kata Salim. Darah Datuk Rangkayo mendidih, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat karena marah.

“Anak kurang ajar! Umur belum setahun jagung, darah belum setampuk pinang, sudah berani menentang adat negeri ini. Awas kau, akan kuperkarakan kau nanti di rapat adat!”

Kata-kata Datuk Rangkayo Basa cukup keras didengar orang-orang, tapi tak sedikitpun sampai ke telinga Salim yang sudah jauh dari masjid.

@@@

Bundo Salim tidak tahu menahu tentang pertengkaran anaknya dengan Datuk Rangkayo hari Jum’at tersebut. Ia baru tahu ketika suatu siang, Upik berlari tergesa-gesa menaiki tangga batu.

“Bundo! Bundo! Uda Bundo! Uda!”

Bundo yang sedang menjerang nasi di dapur, terkejut mendengar suara Upik yang seperti dikejar-kejar hantu.
“Ada apa, Pik? Kenapa kau ini?” Bundo bertanya dengan perasaan was-was.

Upik dengan suara terisak-isak dan mata basah langsung memeluk Bundonya.

“Uda Salim, Bundo! Uda Salim ditikam orang di pasar!”
Kata-kata Upik seperti suara petir sampai ke telinga Bundo.
“Apa? Apa yang terjadi, Pik?”

Upik tidak bisa menjawab, karena tiba-tiba pelukannya melonggar dan ia jatuh pingsan. Bundo cuma bisa berterik-teriak minta tolong.

@@@

Bulan Nopember, hujan yang turun tiada henti menyebabkan ranah minang dilanda bencana. Solok dan Pasaman dilanda banjir besar, Pesisir Selatan dan Padang Panjang ditimpa tanah longsor dan galodo. Ratusan jiwa melayang dan ratusan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Salim yang baru saja keluar dari rumah sakit setelah tiga minggu dirawat intensif, cuma bisa melihat beritanya dari televisi.. Ia sering menangis sendirian menatap rumah-rumah yang hancur dan potongan-potongan tubuh yang pucat dan busuk bercampur lumpur yang ditayangkan televisi. Hatinya pilu mendengar jerit tangis anak-anak kecil kelaparan yang kehilangan ayah ibunya…

Bagian dirinya yang lebih dalam menjerit meneriakkan bahwa ia termasuk satu diantara sekian banyak orang yang bertanggung jawab terhadap malapetaka itu. Bukan kerusakan alam yang menyebabkan semua bencana tersebut. Tapi peringatan Allah-lah yang telah berlaku. Allah telah menurunkan peringatanNya pada negeri yang sudah mulai meninggalkan ajaranNya, melecehkan sunah nabiNya. Surau dan masjid yang dulu ramai sekarang sepi bahkan kadang tak terurus. Jemaahnya sudah menjelma menjadi pengunjung setia lapau-lapau yang menyediakan kartu remi, kartu koa, domino, kaset VCD porno dan play stasion. Di bulan Ramadhan bertebaran warung-warung kelambu. Bar-bar, diskotik-diskotik mulai tumbuh bak cendawan di musim hujan. Anak-anak gadis mulai menanggalkan baju kurung mereka dan menggantinya dengan baju-baju ‘kutung’ yang lebih pantas dipakai adik-adik mereka. Narkotika meruyak, alkohol sudah jadi kebanggaan. Suara azan kadang hilang lenyap ditelan suara-suara musik dari kedai-kedai kaset dan pasar.

Salim ingin mengembalikan mereka. Salim ingin negerinya kembali disebut serambi mekah, negeri seribu masjid dan tempat orang-orang jauh datang untuk belajar mengaji.

Tapi tangan Salim terlalu kecil untuk mengemban itu semua.[]

Air Tawar, 20 Ramadhan 1421 H.

Keterangan bahasa Minang :
uda = kakak laki-laki
bundo = ibu
bagonjong = bergonjong
mamak = paman, saudara laki-laki ibu
bako = keluarga ayah
ge-er bana ma = geer sekali
siapo nan nio jo Uda buruak ko = siapa yang mau dengan Uda jelek ini
indak usah takuik = tidak usah takut
uni = kakak perempuan
datuk = gelar kebangsawanan
ninik mamak = para datuk
bundo kanduang = kaum wanita yang dihormati
tuo-tuo = orang-orang tua
pasukuan = suku
batagak pangulu = acara penobatan penghulu/datuk
baralek gadang = pesta besar
pintak = permintaan
kandak = kehendak, keinginan
etek = panggilan untuk wanita yang sebaya dengan ibu atau saudara perempuan ibu
ondeh = aduh
gunting cino = koko
menangguk = menjala
mendoa = berdoa yang diiringi dengan acara jamuan makan
langkah suok = langkah kanan, beruntung
minantu = menantu
manyaratu = memperingati hari keseratus kematian seseorang
galodo = gempa bumi
lapau-lapau = warung-warung

  • Dimuat dalam Majalah Annida No. 13/X/16 April 2001
  • Termasuk salah satu cerpen dalam buku Merajut Cahaya, Kumpulan Cerpen Terbaik 10 Tahun Annida Berkarya (Pustaka Annida, 2001)
Paderi

Paderi

MATAHARI tepat di ubun-ubun ketika pedati beratap daun rumbia itu berhenti di bawah sebuah pohon beringin besar yang tumbuh tak jauh dari jalan. Suara ganto yang sepanjang perjalanan jadi musik pengusir sepi ikut pula berhenti. Sutan Pandeka, lelaki pemilik gerobak kayu itu melompat turun sambil melihat posisi matahari. Sudah masuk zuhur, pikirnya. Setelah membelitkan kain sarung di pinggang, ia memeriksa keadaan kerbaunya yang sejak dari Bukit Ngalau mulai banyak perangai.

Kerbau besar itu dibelinya di Pekan Rabaa tiga hari yang lalu. Si Penjual meyakinkannya setengah mati bahwa hewan itu bekas penghela pedati, sesuai syarat yang diberikan Tuanku Sulaiman padanya. Tapi kini Sutan Pandeka tidak percaya lagi. Kerbau itu tidak sekali dua kali membuat ulah sepanjang perjalanan. Kini kerbau pongah itu mendengus-dengus mengusir langau yang beterbangan di sekitar kepalanya.

Sekilas melihat, orang-orang akan menyangka Sutan Pandeka seorang saudagar yang akan pergi ke pekan-pekan untuk berdagang. Pedati itu penuh berisi muatan kelapa, beras, cabe giling dan garam, seolah-olah akan dibawa ke Piladang dan Bukittinggi untuk di jual.

Tapi sebenarnya bukan begitu. Sutan Pandeka bukan pedagang dan gerobak kayu itu hanya dimuat setengahnya.

“Tuanku,” Sutan Pandeka berbisik ke dalam pedatinya. “Sudah waktunya salat zuhur. Di bawah sini ada batang air. Kita bisa istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.”

Sembari berkata begitu, mata Sutan Pandeka melihat ke jalan, berjaga-jaga kalau-kalau ada pedati atau orang lain yang akan melewati tempat itu. Namun tidak ada siapapun di sekitar tempat itu.

Dari balik tirai kain, di belakang tumpukan kelapa dan sagu, muncul seorang lelaki muda. Dialah Tuanku Sulaiman.

“Apakah keadaan aman, Sutan?”

“Insya Allah, Tuanku. Ambo mengenal daerah ini dengan baik. Sewaktu bujang-bujang tanggung dulu sering bermain randai ke daerah sini. Pos Balando paling dekat ada setengah hari perjalanan dari sini.”

Tuanku Sulaiman keluar dari pedati. Ia mengenakan pakaian seperti rakyat kebanyakan. Hanya wajahnya saja yang terlihat lebih putih dari wajah orang-orang Minangkabau kebanyakan. Ia sudah mencukur jenggotnya yang panjang sebelum berangkat. Kecuali bagi yang benar-benar mengenalnya, tidak akan ada yang tahu bahwa ia adalah salah satu murid kesayangan Tuanku Imam Bonjol yang diutus kaum Paderi untuk berangkat menemui keluarga Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung.

Sutan Pandeka dan Tuanku Sulaiman turun ke batang air mengambil air wudhu. Berdua mereka salat di atas batu picak yang ada di tengah sungai.

Sebenarnya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan. Sejauh ini mereka belum menemui halangan apa-apa. Di setiap kota dan nagari, mereka berhenti dan beristirahat, sambil mencari-cari kendaraan yang lebih aman untuk melanjutkan perjalanan. Di Limo Puluh Koto mereka terpaksa menjual kuda-kuda mereka dan membeli sebuah pedati dan kerbau penghelanya. Mereka perlu mengganti penyamaran. Lewat dari Limo Puluh Koto, mereka sudah memasuki daerah kekuasaan orang-orang kaum adat.

Sebenarnya, ada jalan yang lebih aman. Mereka bisa berkuda lewat jalan hutan dan gunung dari Bonjol ke Pagaruyung, tapi perjalanan bisa makan waktu berhari-hari. Karena urusannya sudah mendesak, terpaksa diambil jalan biasa, walau dengan resiko tertangkap Belanda atau dicegat orang-orang kaum adat.

Sejak pos Belanda di Tanjung Alam, Panampung, Koto Baru dan Lubuak Agam berhasil direbut pasukan Paderi, Belanda mengerahkan kekuatan terbesarnya di bawah komando Letkol Raaff untuk mengejar orang-orang Paderi. Celakanya belasan ribu orang-orang pribumi yang tergabung dalam pasukan adat masih berpihak kepada Belanda dan ikut memburu para pemimpin dan pengikut kaum Paderi yang dipimpin delapan ulama Harimau nan Salapan. Entah kapan orang-orang adat akan sadar bahwa lawan mereka yang sebenarnya bukan orang-orang Paderi —saudara mereka sendiri— tapi adalah si kafir penjajah kolonial Belanda.

@@@

Satu jam kemudian pedati itu berangkat melanjutkan perjalanan. Sutan Pandeka merasa tak perlu lagi cemas ada yang melihat mereka dan mengenali Tuanku Sulaiman. Ia mengendalikan kerbau pedatinya dengan tenang seperti pedagang biasa. Dalam hitungannya besok sore mereka sudah sampai di Pagaruyung.

Tapi Sutan Pandeka salah.

Sepasang mata tak bersahabat yang dibingkai wajah separoh cacat telah melihat semuanya.

@@@

Masyarakat Minangkabau telah memeluk ajaran Islam sejak Abad 16 atau bahkan sebelumnya. Namun hingga awal abad 19, masyarakat tetap melaksanakan adat yang berbau maksiat seperti judi, sabung ayam maupun mabuk-mabukan. Hal demikian menimbulkan polemik antara Tuanku Koto Tuo -seorang ulama yang sangat disegani—dengan para muridnya yang lebih radikal. Terutama Tuanku nan Renceh.

Mereka sepakat untuk memberantas maksiat. Hanya, caranya yang berbeda. Tuanku Koto Tuo menginginkan jalan lunak. Sedangkan Tuanku nan Renceh cenderung lebih tegas. Tuanku nan Renceh kemudian mendapat dukungan dari tiga orang yang baru pulang haji dari Mekah (1803) yang membawa paham puritan Wahabi. Mereka Haji Miskin dari Pandai Sikek, Haji Sumanik dari Delapan Koto, dan Haji Piobang dari Limo Puluh Koto.

Kalangan ini kemudian membentuk forum delapan pemuka masyarakat. Mereka adalah Tuanku nan Renceh, Tuanku Bansa, Tuanku Galung, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Kubu Ambelan dan Tuanku Kubu Sanang. Mereka disebut “Harimau nan Salapan” (Delapan Harimau). Tuanku Koto Tuo menolak saat ditunjuk menjadi ketua. Maka anaknya, Tuanku Mensiangan, yang memimpin kelompok tersebut. Sejak itu, ceramah-ceramah agama di masjid berisikan seruan untuk menjauhi maksiat.

Ketegangan meningkat setelah beberapa tokoh adat sengaja menantang gerakan tersebut dengan menggelar pesta sabung ayam di Kampung Batabuh. Konflik terjadi. Beberapa tokoh adat berpihak pada ulama Paderi. Masing-masing pihak kemudian mengorganisasikan diri. Kaum Paderi menggunakan pakaian putih-putih, sedangkan kaum adat hitam-hitam.

Tuanku Pasaman yang juga dikenal sebagai Tuanku Lintau di pihak Paderi berinisiatif untuk berunding dengan Kaum Adat. Perundingan dilangsungkan di Koto Tangah, antara lain dihadiri Raja Minangkabau Tuanku Raja Muning Alamsyah dari Pagaruyung. Tapi perundingan damai tersebut malah berubah menjadi pertempuran sengit. Raja Muning Alamsyah melarikan diri ke Kuantan, Lubuk Jambi. Pada 1818, Raja Muning mengutus Tuanku Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam untuk menemui Jenderal Inggris Raffles di Padang. Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto yang berkedudukan di Kalkuta saat itu menolak untuk campur tangan soal ini. Melalui “Tractat London”, Inggris bahkan menyerahkan kawasan Barat Sumatera pada Belanda.

Pada 10 Februari 1821, Tuanku Suruaso memimpin 14 penghulu dari pihak Adat mengikat perjanjian dengan Residen Du Puy. Du Puy lalu mengerahkan 100 tentara dan dua meriam untuk menggempur kota Simawang. Perang pun pecah. Sejak peristiwa itu, permusuhan kaum Paderi bukan lagi terhadap kalangan Adat, melainkan pada Belanda. Mereka pun memperkuat Benteng Bonjol yang telah dibangun Datuk Bandaro. Muhammad Syahab –kemudian lebih dikenal dengan panggilan Tuanku Imam Bonjol—ditunjuk untuk memimpin benteng itu.

@@@

Seorang pejuang Paderi berpakaian putih-putih berlari sekuat tenaga menuju masjid tempat Tuanku Imam Bonjol berkumpul dan menyusun strategi. bersama sahabat-sahabatnya. Masjid itu dibangun di dalam benteng Bonjol.

Sampai di tangga masjid itu, prajurit itu disambut seorang pengawal. “Sanak, sampaikan kabar pada Tuanku Imam Bonjol, ada seorang utusan ingin bertemu dengan beliau. Ini penting sekali,” ucapnya terburu-buru.
Pengawal itu mengangguk, lalu naik ke atas masjid.

Utusan yang dimaksud ternyata seorang pejuang Paderi yang telah lama disusupkan di kubu orang-orang adat. Sekali sebulan ia melaporkan perkembangan yang terjadi di kubu lawan.

“Langsung saja, Sutan Sati, apa yang ingin kau laporkan?” tanya Tuanku Sinaro nan Balang.
Di ruangan masjid itu berkumpul empat dari delapan pemimpin pejuang yang menjadikan Bonjol sebagai basis. Tapi sang utusan tidak melihat Imam Bonjol di sana. Namun ia kemudian diberitahu bahwa Tuanku Imam Bonjol sedang sakit.

Sutan Sati memulai laporannya.

“Tuan-tuan, Belanda telah berhasil menguasai Sulit Air, Simabur dan Gunung,” ucapnya memulai. Terdengar ucapan-ucapan khawatir diruangan itu. “Dari Batavia, Belanda telah mengirim bantuan 494 pasukan dan 5 pucuk meriam. Pagaruyung dan Batusangkar dapat direbut, walaupun istana tidak diapa-apakan. Mereka juga telah membangun benteng Fort van der Capellen, dan menawarkan damai pada Taunku Lintau. Tapi Tuanku Lintau menolak. Pertempuran sengit terjadi lagi. Alhamdulillah, pasukan Belanda yang dipimpin Letkol Raaff yang hendak menyerang melalui Kota Tengah dan Tanjung Berulak berhasil dijebak Tuanku nan Gelek.”

Tuanku Koto Gadang, Tuanku Samek Perak, Tuanku Gunuang Sago dan Tuanku Sinaro Balang saling berpandangan.

Tuanku Samek Perak, yang paling muda diantara mereka angkat bicara, “Kalau begitu posisi kita mulai terancam. Tuanku Imam Bonjol sedang sakit, jadi kita tidak bisa memberitahu beliau mengenai berita ini. Saya ingin pendapat Tuan-tuan yang lain.”

“Yang paling penting sekarang adalah menyadarkan Tuanku Suruaso, para penghulu dan para pemimpin adat bahwa sekarang tidak ada lagi gunanya kita saling berpecah,” Tuanku Koto Gadang urun rembuk. “Musuh kita sudah sangat jelas. Tidak perlu lagi jatuh korban dari kalangan kaum kerabat dan anak kemenakan kita sendiri,” tambahnya sedih.

“Aku berharap, pihak kerajaan di Pagaruyung bisa menerima Tuanku Sulaiman dengan hati bersih. Walaupun Raja Muning Alamsyah masih di Jambi, kita bisa berunding dengan para Sultan Kerajaan yang masih berada di Pagaruyung. Kalau perlu ikut sertakan Bundo Kandung dalam masalah ini. Kurasa sudah saatnya kita bersatu melawan si kapia Belanda itu,” Tuanku Gunuang Sago melihat pada Sutan Sati.

“Apa kau mendengar kabar tentang Tuanku Sulaiman dan Sutan Pandeka? Sudah sampai di manakah mereka?”

“Antah, Tuanku. Mungkin karena penyamarannya begitu sempurna, saya sendiri tak mendengar apapun tentang mereka. Tapi perlu saya katakan pada Tuan-tuan, diantara orang-orang kaum adat, banyak yang mengasapi dapurnya dengan jadi mata-mata Belanda. Mereka banyak yang berhasil membocorkan segala rahasia tentang pasukan kita ke telinga Belanda. Mereka juga tak segan-segan membantai para pengikut kaum Paderi yang mereka temui di jalanan.”

Para pemimpin Paderi itu mendesah khawatir.

“Semoga utusan kita bisa selamat sampai di tujuan dan bisa menyerahkan pesan yang telah dibuat Iman Bonjol kepada orang-orang di istana Pagaruyung.”

@@@

Pedati yang ditumpangi Tuanku Sulaiman bergerak terseok-seok di jalanan tanah mendekati daerah Barulak, Tanah Datar. Senja sedang menjelang, sebentar lagi gelap. Sutan Pandeka sesekali melontarkan beberapa patah kata kepada Tuannya untuk mengusir rasa bosan. Melewati rimba seluas itu, tak ada yang tak mustahil akan terjadi. Singa dan Harimau kumbang sudah sering terdengar penguasa belantara itu. Tak sedikit pula kabar terdengar tentang para penyamun yang sering merampok para pedagang yang lewat di tempat itu malam-malam.

Sutan Pandeka memasang pusung dan mengebatnya di tiang pedati. Api pusung itu melambai-lambai di tiup angin malam, terlihat seperti bintang kecil di jagat raya hutan yang maha lebat itu.

Si kerbau besar entah kenapa tidak banyak ulah sejak habis ashar tadi. Ketika berhenti untuk makan di Batu Ampar, Sutan Pandeka telah mencarikan rumput untuk si besar bangkalai itu. Mungkin perutnya sudah kenyang. Suara genta di lehernya mengeluarkan irama seolah-olah ingin menunjukkan betapa gembiranya dia.
“Tidak adakah surau untuk tempat salat di dekat sini, Sutan?” Suara halus Tuanku Sulaiman terdengar. “Aku ingin salat dan membaca al-Quran barang sepatah dua patah ayat. Kering sekali jiwaku sejak lima hari ini.”
Sutan Pandeka tersenyum. “Bukankah Tuanku sudah hapal al-Quran luar kepala?” tanyanya. Terdengar Tuanku Sulaiman tertawa.

“Betul, Sutan. Tapi aku rindu sekali duduk dalam surau dan berdoa panjang-panjang di hadapan Allah.”
“Tidak akan lama lagi, Tuanku. Sebentar lagi kita akan sampai di sebuah surau tua di pinggir hutan ini. Di sana aman. Kita akan istirahat di sana,” janji Sutan Pandeka.

Tak lama kemudian ia mendengar senandung lantunan ayat al-Quran dari dalam pedatinya. Begitu terasa betapa rindunya Tuanku Sulaiman untuk segera bersujud di hadapan Tuhannya. Tuanku Sulaiman masih sangat muda, tidak sebanding dengan tanggung jawab yang kini dipikulnya.

Sesuatu lalu terdengar berkelebat dalam kegelapan malam. Sutan Pandeka menggenggam pedang yang ia sampirkan di dada. Di antara suara-suara halus tilawah Tuanku Sulaiman, ia mendengar suara-suara mencurigakan di sekitar mereka. Sutan Pandeka menarik kekang kerbau sampai pedati itu berhenti.
“Tuanku…” ia berbisik memberi tanda. Tuanku Sulaiman menghentikan tilawahnya. Seketika itu pula hutan itu sunyi senyap. Hanya suara kibaran api pusung tertiup angin dan lenguhan kerbau pedati yang terdengar. Tapi kesunyian itu tak berlangsung lama. Dari rimbunan semak belukar, dari balik kegelapan pohon-pohon raksasa, melesat lima bayangan hitam. Dalam tiga detik mereka menghadang jalan pedati Sutan Pandeka. Kelimanya memakai topeng dan pakaian hitam-hitam. Pantulan cahaya lampu pusung memantulkan kemilau golok-golok di tangan mereka.

Sutan Pandeka bukan pendekar sembarangan. Ia sudah menuntut ilmu dan berguru silat ke berbagai gunung. Dan selama perang berlangsung, ia termasuk prajurit yang paling ditakuti kaum adat dan Belanda. Tak salah jika para pemimpin Paderi memilihnya untuk mengantar Tuanku Sulaiman ke Pagaruyung.

“Tak ado gadiang nan tak ratak. Tak ado tupai nan tak gawa. Manusia basifat kilaf. Nan qadim hanyo sifat Tuhan. Ampunkan denai dek Mamak-mamak, kok lah sasek denai masuak, kok salah denai malangkah. Apo garan nan mambuek Mamak-mamak mahambek jalan denai. Apo garan kasalahan denai?”

Sahut sapa pembuka itu ternyata tidak mendapat balasan yang setimpal. Sutan Pandeka menerka-nerka siapakah orang-orang ini? Penyamun kah? Atau sekelompok orang-orang adat yang santer terdengar suka menghadang orang-orang Paderi?

“Jangan banyak cincong, wa-ang!” Terdengar suara hardikan. “Periksa pedatinya!”

Tak jelas siapa yang memberi perintah. Tapi Sutan Pandeka merasa hal itu tidak perlu lagi sekarang. Sekali sentak ia meniup pusung pedatinya. Ia merasa lebih leluasa bertempur dalam gelap. Lagipula ia merasa orang-orang ini tak lebih dari penyamun biasa.

“Siapa dunsanak-dunsanak ini sebenarnya? Kenapa menghalangi jalan saya?” Sekali lagi Sutan Pandeka mencoba menghindari pertempuran. Tapi ia tidak menerima jawaban apa-apa. Tiga orang penghadang itu malah meloncat ke atap pedati dan mencoba menghancurkannya.

Sutan Pandeka menerjang lawan-lawannya. Dalam perkiraannya, tak akan lama baginya menghabisi kelima perampok itu. Tapi ternyata mereka bukan penyamun biasa. Tampaknya mereka telah terbiasa bertempur dalam kegelapan malam.

“A..aah!” Sutan Pandeka mengaduh. Sabetan golok seorang diantara perampok itu merobek pinggangnya. Tapi tak diduganya kalau hal itu telah menimbulkan akibat yang belakangan disesalinya seumur hidup. Mendengar suara pengawalnya, Tuanku Sulaiman keluar dari dalam pedati dan melibatkan diri dalam pertempuran.

Dengan tidak percaya, ia melihat Tuanku Sulaiman dalam waktu sebentar saja telah melumpuhkan kelima perampok itu.

“Ampunkan saya, Tuanku. Kenapa Tuan keluar dari pedati? Saya masih bisa mengatasi mereka.” Penuh rasa bersalah Sutan Pandeka berkata.

“Aku dengar kau kewalahan, Sutan. Aku tak ingin kau mati di sini,” Tuanku Sulaiman menjawab tegas.
“Tapi kita tidak tahu siapa mereka. Saya sempat berpikir kalau ini hanya jebakan. Ini suatu pancingan agar Tuanku keluar dari persembunyian. Mereka bisa jadi mata-mata musuh yang ingin membongkar penyamaran kita.”

Belum sempat kata-kata Sutan Pandeka selesai, dari balik pepohonan di sekeliling mereka muncul belasan tentara Belanda dengan bedil siap ditembakkan. Di bawah cahaya bulan yang samar-samar, Sutan Pandeka melihat ada satu orang pribumi di antara para kumpeni itu. Tentara-tentara itu lalu menyalakan obor.

“Masya Allah!” Kedua pejuang Paderi itu berseru kaget. Benar rupanya dugaan Sutan Pandeka. Ini jebakan. Mereka telah dicido!

“Bunuh mereka!” Lelaki pribumi berpakaian hitam-hitam memberi perintah.

“Tahan!” Sutan Pandeka menyahut. Ia ingin mencoba taktik lain. Mereka masih dalam penyamaran. Lagipula Tuanku Sulaiman berpakaian seperti rakyat jelata. Belum ada yang tahu siapa mereka sesungguhnya. Kecuali jika ada yang telah berkhianat pada Tuanku Imam Bonjol.

“Tidak perlu mencoba meneruskan penyamaranmu, Sutan,” suara lelaki pribumi itu bercampur tawa. “Kami sudah tahu siapa kalian berdua. Kalian utusan Imam Bonjol yang akan berunding dengan para pemimpin adat di Pagaruyung. Dan kami tidak ingin itu terjadi. Kami tidak ingin kalian berdamai. Kami lebih suka kalian terus bertempur satu sama lain. Tamatlah riwayat kalian malam ini!”

Tubuh Sutan Pandeka dan Tuanku Sulaiman manggariti karena marah. Tak disangka mereka justru tertangkap karena pengkhianatan yang dilakukan sesama kaum pribumi.

“Kalian akan menerima balasan setimpal,” ancam Tuanku Sulaiman akhirnya. “Setidaknya dari anak cucu kami kelak. Kalian tak layak hidup di ranah minang ini. Jiwa kami boleh kalian ambil. Tapi tidak semangat juang kami.” Seiring dengan itu ia menerjang maju, memanfaatkan saat-saat terakhir perjuangannya. Sutan Pandeka mengikuti tindakan Tuanku-nya.

Suara letusan bedil-bedil Belanda memecah kesunyian rimba raya Tanah Datar.
Kedua utusan yang dikirim Tuanku Imam Bonjol itu tak pernah sampai ke Pagaruyung.

@@@

Epilog
Pada 16 Desember 1823, Letkol Raaff kemudian diangkat menjadi Residen Belanda di Minangkabau menggantikan Du Puy. Ia berhasil membuat perjanjian damai di Bonjol. Namun, diam-diam ia juga mengkonsolidasikan pasukan. Dan bahkan menggempur Guguk Sigadang dan Koto Lawas. Pemimpin Paderi, Tuanku Mensiangan terpaksa hijrah ke Luhak Agam. Paderi semakin kuat karena saat itu pasukan adat mulai berpihak ke mereka.

Raaff meninggal lantaran sakit. Penggantinya, de Stuers memilih jalan damai. Langkah ini ditempuhnya karena Belanda mengkonsentrasikan kekuatan untuk menghadapi pemberontakan Diponegoro. Stuers menugasi seorang Arab, Said Salim al-Jafrid, untuk menjadi penghubung. Tanggal 15 Nopember 1825, perjanjian damai pun diteken antara de Stuers dan Tuanku Keramat. Suasana Ranah Minang kemudian relatif tenang.
Namun pengkhianatan terjadi lagi. Kolonel Elout menggempur Agam dan Lintau. Ia juga menugasi kaki tangannya, anak Tuanku Limbur, untuk membunuh Tuanku Lintau dengan bayaran. Pembunuhan terjadi pada 22 Juli 1832. Usai Perang Diponegoro itu, tentara Belanda dikerahkan kembali ke Sumatera Barat. Kota demi kota dikuasai. Benteng Bonjol pun bahkan berhasil direbut. Namun sikap kasar tentara Belanda pada tokoh-tokoh masyarakat yang telah menyerah, membuat rakyat marah. Ini membangkitkan perlawanan yang lebih sengit.

Pada 11 Janurai 1833, Paderi bangkit. Secara serentak mereka menyerbu dan menguasai pos-pos Belanda di berbagai kota. Benteng Bonjol berhasil mereka rebut kembali. Seluruh pasukan Letnan Thomson, 30 orang, mereka tewaskan. Belanda kembali menggunakan siasat damai lewat kesepakatan “Plakat Panjang”, 25 Oktober 1833. Namun Jenderal Van den Bosch kembali menyerbu Bonjol. Namun ia gagal, 60 orang tentaranya tewas. Kegagalan serupa terjadi pada pasukan Jenderal Cochius.

Namun serangan dadakan berikutnya menggoyahkan kubu Paderi. Masjid dan rumah Imam Bonjol terbakar. Paha Imam Bonjol tertembak. Ia juga terkena 13 tusukan, meskipun ia sendiri berhasil menewaskan sejumlah serdadu. Dalam keadaan terluka parah, Imam Bonjol terus memimpin Paderi dari tempat perlindungannya di Merapak, lalu pindah ke Ladang Rimbo, dan terakhir Bukit Gadang.

Benteng Bonjol kembali jatuh pada 16 Agustus 1837. Belanda kemudian menawarkan perundingan damai. Saat itulah Tuanku Imam Bonjol dapat dijebak dan kemudian ditangkap pada 28 Oktober 1837. Imam Bonjol kemudian diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat, lalu dipindah ke Ambon pada 19 Januari 1839. Pada 1841, ia dipindahkan ke Manado dan wafat di sana pada 6 Nopember 1864.

Tuanku Tambusai melanjutkan perlawanan dan berbasis di Mandailing -Tapanuli Selatan. Tuanku Tambusai inilah yang menjadikan Mandailing sebagai daerah berbasis muslim.[]

Keterangan :
pekan : pasar
langau : lalatrandai : seni yang memadukan silat, tari dan cerita
picak : lempeng, datar
nagari : negeri, pembagian daerah menurut adat
kapia : kafirantah : entah
pusung : obor
wa-ang : kamu
dicido : ditipu
manggariti :menggigil menahan marah

Seperti Purnama

Cerpen Melvi Yendra

(Majalah Ishlah No. 77/IV/1997)

“Jadi, mungkin nanti malam Mas pulang agak telat.”

Imron memasang helm dan menatap Ines.

“Lembur lagi?” tanya Ines cemberut. Wanita itu memberikan rantang bekal makan siang pada suaminya.

“Iya, sekarang sedang banyak kerjaan. Sementara montir yang ada tidak seberapa.”

“Kenapa Pak A Seng itu nggak nambah karyawan saja, Mas?”

Imron menghidupkan vespanya. Begitu hidup, suara motor tua itu melengking, ribut sekali. Sampai-sampai ada tetangga yang melongokkan kepalanya dari dalam rumah.

“Nggak tau tuh, Mas sudah pernah usulkan. Tapi Pak A Seng itu bilang, sekarang susah nyari montir yang berpengalaman. Maksudnya, banyak yang tidak mengerti mesin. Nah, katanya lagi, biarlah punya montir sedikit asal terampil dan punya pengalaman. Dan…”

Imron berhenti bercerita ketika dilihatnya Ines menyilangkan telunjuknya di bibir. “Sudah, Mas. Nanti saja ceritanya. Sekarang ayo berangkat, nanti telat lagi seperti kemarin.”

Imron tersenyum mendengar ucapan istrinya. “Iya deh. Kalo gitu Mas berangkat. Jaga rumah baik-baik. Assalamu’alaikum.”

Vespa itu melaju, meninggalkan kepulan asap putih. Ines menutup pintu pagar dan melangkah ke dalam. Ia segera ingat bahwa ia ada janji menelepon Rani, teman kuliahnya. Ada sedikit perubahan pada kegiatan bedah buku yang sedang mereka persiapkan. Mas Imron, suaminya yang tercinta, tidak jadi mengisi acara tersebut, karena harus keluar kota pada hari yang sama.

Ines sudah mengangkat telepon ketika didengarnya suara pagar dibuka seseorang. Dibukanya tirai jendela dan mengintip keluar.

O la la, Ines tersenyum geli. Diletakkannya lagi gagang telepon dan ia memburu keluar. “Mogok lagi ya, Mas?”

Imron mengangguk. Ia mendorong vespa masuk.

“Mas jadi heran deh, mobil sebandel apapun bisa Mas perbaiki, tapi motor butut milik sendiri, kok nggak pernah bersahabat ya?”

“Mungkin sudah waktunya diganti, Mas,” ucap Ines bercanda. Ia ikut jongkok di samping suaminya. Imron mengutak-atik vespanya itu sebentar. Lantas dicobanya menghidupkan motor warisan ayahnya itu. Tapi vespa itu nggak kunjung hidup. Dicobanya lagi, tapi gagal lagi.

“Naik angkot saja, Mas. Udah hampir siang nih,” tahan Ines ketika Imron mencoba membongkar mesin motornya. Imron mengangguk setuju. Ia segera membereskan alat-alat motornya dan mencuci tangan. Setelah itu ia berangkat.

“Hati-hati ya, Mas,” pesan Ines melepas suaminya.

@@@

Ketika Imron turun dari angkot, ia melihat Pak A Eng berdiri di pintu gerbang bengkel. Imron langsung deg-degan. Soalnya sudah empat kali dia terlambat dalam minggu ini. Perkaranya, ya, masih soal vespa tua itu. Tidak ada alasan lain.
Imron berjalan mendekat. Ia sudah siap menerima apa saja yang akan dikatakan lelaki Cina itu. Dengan tenang ia menyapa. “Selamat pagi, Pak.”

Pak A Seng tersenyum. Lho? Debar di dada Imron langsung lenyap menatap senyum lebar lelaki itu.

“Vespanya mogok lagi ya, Im?”

“Iya, Pak. Baru saja satu kilo, eh sudah mogok lagi,” jawab Imron akrab. Pak A Seng tersenyum lagi.

“Masak sih, kamu nggak bisa betulin. Kamu kan montir terbaik di sini.”

Imron tersipu juga menerima pujian itu.

“Ya…memang mesinnya sudah tua begitu. Diperbaiki pun tidak akan bertahan lama, Pak.”

“Kenapa nggak diganti saja motornya?”

Sekarang Imron yang tersenyum. Ia menangkap nada canda dalam ucapan lelaki itu.
“Orang kecil macam saya mana bisa beli motor, Pak? Wong untuk makan sehari-hari saja susah,” jawab Imron sekenanya.

Pak A Seng tertawa. “Ya, sudah. Sekarang kamu kerja yang rajin. Kalau kamu sungguh-sungguh, jangankan motor, kapal terbang bisa kamu beli. Ya, kan?”

“Iya, Pak,” jawab Imron sambil berlalu dari hadapan lelaki itu. Hatinya benar-benar lega.

@@@

“Kalau dipikir-pikir, sikap Pak A Seng akhir-akhir ini kok agak lain, ya?” Imron membuka perbincangan itu sebelum mereka tidur. Ines menatap sekilas pada suaminya, lalu matanya terjuju lagi pada buku di pangkuannya.

“Lain bagaimana sih, Mas?” tanyanya.

“Ya. Sikapnya pada Mas dari hari ke hari makin baik. Tadi pagi, ketika Mas terlambat, ia tidak marah. Padahal kemarin Mas lihat sendiri dia mendamprat Parto habis-habisan karena terlambat masuk.”

“Barangkali, tadi pagi suasana hatinya sedang baik,” duga Ines.

“Mungkin juga. Tapi masih ada sikap-sikapnya yang membuat Mas semakin heran.”

“Contohnya?”

“Ya, pokoknya ia begitu baik. Itu saja.”

Keduanya kemudian diam. Imron masih berpikir tentang Pak A Seng. Dan Ines sedang hanyut dengan bukunya. Namun tak lama kemudian ia teringat sesuatu.

“Mas…,” panggilnya.

“Hmm?” Imron menatap istrinya.

“Mas tidak berpikir kalau Pak A Seng itu sedang merencanakan sesuatu terhadap Mas?”
Imron membalikkan tubuhnya menghadap Ines. Ia menatap istrinya heran. “Rencana apa?”

“Ya, barangkali saja ia punya maksud yang tidak baik di balik sikap-sikapnya itu.”

“Hush! Nggak baik berburuk sangka begitu. Biarpun Pak A Seng itu nggak seaqidah dengan kita, kita nggak boleh menuduh dia yang macam-macam.”

Ines terdiam. Suaminya benar. Nggak baik berburuk sangka pada orang lain. Apalagi pada orang sebaik Pak A Seng.

@@@

Imron sedang sibuk mengutak-atik perut sebuah Kijang ketika seseorang menepuk kakinya. “Mas Im, dipanggil Bos!”

Suara Aji membuat Imron melongokkan kepalanya. “Ada apa Ji?” tanyanya seraya melap tangannya.

“Nggak tau tuh. Kayaknya penting!” jawab Aji, anak STM yang magang di bengkel itu.
Imron segera ke ruangan Pak A Seng. Ketika Imron masuk, bosnya itu sedang menelepon. Pak A Seng menggerakkan tangannya, menyuruh Imron menunggu.

“Kerjamu sudah beres, Im?” tanya Pak A Seng setelah meletakkan telepon.

“Sedikit lagi, Pak.”

“Kalau begitu suruh si Parto melanjutkan kerjamu. Sekarang ikut saya ke Menara Agung,” ucap Pak A Seng sambil mengantongi handphonenya.

Imron tersentak. Menara Agung? Ngapain bos mengajaknya ke showroom Honda itu?
“Maaf, Pak. Boleh saya tahu…”

“Ah, ikut saja. Saya ingin memperlihatkan sesuatu padamu.”

Imron tidak bertanya lagi. Segera ia ke bengkel menyuruh Parto membereskan Kijang yang masih terbengkalai. Ia kemudian mengikuti langkah Pak A Seng memasuki sedan yang terparkir di depan kantor.

Dalam perjalanan, Imron tidak banyak bicara. Ia masih diliputi kebingungan. Ia sungguh heran melihat tingkah bosnya akhir-akhir ini. Orang Cina itu dirasanya terlalu mengistimewakannya. Pokoknya dia terlalu baik. Buktinya?

Pertama, ketika ia melamar kerja di bengkel itu, Pak A Seng langsung menyamakan gajinya dengan pegawai yang sudah senior. Padahal setahu Imron tidak begitu untuk karyawan yang lain. Kedua, ia diizinkan untuk melaksanakan semacam kelompok pengajian untuk karyawan bengkel itu. Bahkan orang Cina itu memberikan jatah setengah hari setelah Jum’at kepada Imron dan teman-temannya untuk melaksanakan kegiatan mereka. Ketiga, soal keterlambatannya tempo hari, Pak A Seng sama sekali tidak menegur atau memarahinya.

Benarkah dugaan Ines kalau lelaki itu punya ‘udang di balik batu’ di balik semua kebaikannya?

“Mungkin karena Bang Imron rajin dan tekun bekerja,” jawab Parto ketika Imron bercerita padanya suatu kali. “Jadi, Bos kita jatuh sayang pada Abang.”

“Kamu yakin cuma karena itu?” tanya Imron kurang puas.

“Ya, lalu apalagi kalau bukan itu? Lagian Pak A Seng itu nggak punya siapa-siapa lagi lho, Bang. Istri dan anak-anaknya tewas dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu.”

Imron diam saja mendengar penjelasan Parto. Parto memang lebih banyak tahu. Lelaki lulusan SMP itu sudah bekerja di bengkel Pak A Seng sejak lima tahun yang lalu.
Imron tercenung. Kini apalagi kebaikan laki-laki itu yang akan diterimanya?

@@@

Imron sudah menduga kalau istrinya akan terkejut melihat ia pulang dengan sebuah motor baru.

“Motor siapa, Mas?” tanya Ines ketika Imron memasukkan motor baru itu ke dalam rumah.

“Mas akan mandi dulu, trus makan yang lahap. Nah, setelah itu baru Mas akan cerita. Setuju?” usul Imron. Ines segera menyiapkan handuk dan pakaian ganti. Setelah itu ia menyiapkan makan malam.

@@@

Setengah jam kemudian.

“Jadi Mas terima saja pemberian itu?” tanya Ines khawatir.
Imron menangkap kegelisahan istrinya. “Mas sudah coba menolak, tapi Pak A Seng mengancam akan memecat Mas kalau pemberiannya itu ditolak.”

Ines tercenung. Matanya menatap motor baru yang kini ada di rumah mereka. Ines tidak tahu, apakah ia senang atau justru harus membenci pemberian bos suaminya itu. Semestinya ia bersukacita, tapi dugaan lain menyelinap di kepalanya. Apa maksud Pak A Seng memberi hadiah motor yang harganya hampir tiga belas juta itu?

Oh, semoga pemberian itu didasari oleh ketulusan, bukan oleh niat jahat terselubung, harap Ines dalam hati.

@@@

Hari-hari terus berlalu. Sejak menerima hadiah motor baru itu, Imron jadi tambah rajin bekerja. Ia tak pernah lagi datang terlambat. Ia merasa jadi punya hutang budi pada Pak A Seng. Untuk membalas kebaikan lelaki itu ia harus bekerja dengan baik dan rajin. Ia tak akan mengampuni dirinya sendiri, kalau kedapatan melalaikan pekerjaannya.

Waktu terus saja berlalu. Tapi sampai saat ini Imron masih belum juga mengerti maksud pemberian hadiah itu. Akhirnya Imron menyerahkan semuanya pada Allah. Imron berdoa, semoga tidak ada maksud yang tidak baik dari kebaikan bosnya itu.

@@@

Jam sepuluh malam, saat Imron sedang khusyuk membaca Al-Quran, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Imron meletakkan Al-Quran dan bergegas membukakan pintu.
Sebuah wajah bermata sipit berdiri di luar pintu. Imron terkejut. Sangat terkejut!

“Oh, Pak A Seng. Silakan masuk, Pak.”

“Terima kasih, Im. Apakah saya mengganggumu?”

“Oh, tidak Pak,” jawab Imron cepat.

Pak A Seng duduk. Ia mengenakan sweater yang serasi sekali dengan warna kulitnya yang putih. Tapi wajahnya terlihat begitu lain. Wajah itu seakan menanggung sesuatu yang amat berat.

Imron memanggil Ines dan menyuruhnya membuatkan minum. Ia lalu duduk menemani tamunya.

“Maaf, Pak. Rumah saya masih berantakan begini,” ucap Imron memecah kebisuan diantara mereka.

“Ah, tidak apa-apa. Saya dulu juga begini.”

Imron tersenyum. “Ngomong-ngomong, Bapak tahu rumah saya dari siapa?” Ia ingat, ia tak pernah cerita tentang tempat tinggalnya pada laki-laki itu.

“Dari si Aji.”

Imron mengangguk-angguk lagi. Ines kemudian muncul membawan minuman dan kue.

“Silakan diminum, Pak. Saya cuma punya ini.”

“Ah, tidak apa-apa,” Pak A Seng mengangkat gelasnya dan meneguk minuman itu perlahan. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dan matanya terpaku pada sebuah kaligrafi besar di dinding. Imron menangkap perubahan wajah lelaki setengah baya itu.

“Begini, Im. Saya mau minta tolong,” Pak A Seng berkata begitu pelan.

“Apa yang bisa saya lakukan untuk Bapak?”

Pak A Seng kelihatan ragu. Ia menatap Imron daam-dalam. “Saya sudah memikirkannya masak-masak tadi malam. Dan akhirnya saya memutuskan ini,” lanjutnya. Imron masih bingung. Apa yang akan diminta lelaki itu? Apa ia mau mengambil kembali motor pemberiannya?

Tidak! Imron tidak akan keberatan sama sekali. Ia sudah siap melepas motor itu kembali pada pemiliknya. Ia ikhlas.

“Saya…saya…,” kata-kata itu terputus dari mulut Pak A Seng.

“Katakan saja, Pak. Saya akan bantu sebisa saya,” dorong Imron.

Pak A Seng menatap lelaki muda di depannya. Ia yakin, Imron pasti orang yang tepat.
“Saya ingin masuk Islam, Im,” ucapnya akhirnya.

Kata-kata itu membuat tubuh Imron tersentak. Allahu Akbar! Pekiknya dalam hati. Tidakkah telinganya salah dengar?

“Alhamdulillah…,” ucap Imron tersenyum lebar. Pak A Seng ikut tersenyum.

“Bagaimana, Im? Bisa bantu Bapak mengenal Islam lebih dalam?”

Imron mengangguk kuat-kuat.

Ya, Rabb, inikah hikmah dari semua kebaikan lelaki itu?

@@@

Semua jadi senang dan terharu. Masing-masing karyawan bergantian memeluk dan menyalami Pak A Seng. Ketika tiba giliran Imron, lelaki Cina itu menangis.

“Terima kasih, Im. Aku tertarik pada Islam lewat pribadimu. Kau menjadi pintu dari setiap kebenaran yang aku cari selama ini.”

Imron juga tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk lelaki yang kini sudah seiman dan seaqidah dengannya itu.

“Allah telah mengatur semuanya, Pak. Semoga jalan ini benar-benar membuat kita lebih mencintai-Nya.”

Imron memperkuat pelukannya. Entah kenapa, ia merasa sudah lama mengenal Pak A Seng.
Imron menatap sekali lagi pada lelaki itu sebelum melepas pelukannya. Dalam baju koko dan peci yang dikenakannya, Pak A Seng benar-benar lain dari sebelumnya. Tapi ada yang lebih patut diperhatikan.

Wajahnya.

Wajah itu sungguh memancarkan kebahagiaan. Seperti purnama.[]

Peacemaker F-3000

Cerpen Melvi Yendra

Washington DC, 20 April 2008

“…Pesawat tempur ini dirancang oleh empat belas orang pakar dari seluruh dunia dengan investasi US$ 1 Milyar. Dimisikan untuk perdamaian terutama membantu Dewan Keamanan PBB dalam menjalankan sangsi-sangsinya terhadap negara-negara pembangkang. Anda semua akan tercengang kalau saya beritahu bahwa benda ini punya bobot hanya 2,8 ton, jauh lebih ringan dari F-117 Nighthawk Stealth. Dari segi bentuk keduanya tidak jauh berbeda.
Tapi F-117 kalah jauh dari segi teknologi. Disamping anti radar, benda ini juga mampu mengacaukan radar musuh, mendeteksi objek bergerak dari jarak 30.000 mil dan terbang di ketinggian 70.000 kaki. Selain itu mampu terbang dengan kecepatan 500 knot sekaligus mampu mengapung di udara tanpa suara. Harganya sangat mahal, US$ 10 juta. Mengenai persenjataan yang dimiliki dan spesifikasi lainnya dapat Anda lihat sendiri dalam brosur yang kami bagikan. Untuk sementara, saya rasa cukup. Kecuali jika ada pertanyaan dari Anda.”

Jendral Vincent Stewar, Kepala Staf AU Amerika Serikat membuka kacamatanya. Ia kembali duduk di kursinya dan mencoba menatap silau cahaya blitz kamera yang silih berganti menerpanya. Di samping kiri Vincent berturut-turut duduk pula Menteri Pertahanan dan Keamanan AS Bob Christopher, Juru Bicara Gedung Putih Michael J. Pullman, dan pilot penerbang Immanuel Ethan. Di belakang mereka, pada sebuah screen raksasa, tergambar sebuah pesawat berbentuk segitiga hitam.
Seorang wartawan tiba-tiba mengacungkan tangan. Di depan, Jendral Vincent mengangguk.

“Dalam brosur, tertulis bahwa proyek pembuatan pesawat ini dimulai tahun 1986 dan rampung sejak 10 tahun yang lalu. Namun kenapa pesawat ini tidak diterjunkan ketika sekelompok teroris membajak pesawat pribadi presiden tahun 1999 atau ketika Gedung Putih diserang pesawat siluman dua tahun berikutnya?”

Jendral Vincent dengan tenang menjawab, “Kita tidak dapat menerjunkannya waktu itu semata-mata karena kita lebih mengutamakan efisiensi. Kita tak perlu mengutus ‘Peacemaker karena dengan pesawat pemburu F-14 saja pesawat musuh dapat kita rontokkan. Ibarat membunuh seekor lalat, kita tidak perlu memakai rudal patriot, bukan?” Hadirin tertawa menanggapi lelucon itu. Tapi wartawan dari CNN yang bertanya tidak tersenyum sedikitpun. Ia tampak tidak puas.

“Tapi kita kehilangan seorang presiden waktu itu,” ucapnya seakan mengingatkan hadirin. Ia menatap rekan-rekannya dengan sinis, lalu duduk.

“Masih ada pertanyaan?” tanya Vincent Stewar. Seorang wartawati berdiri. “Silakan!” Vincent mempersilakan.

“Pesawat ini akan dipamerkan kepada publik pada IMAS (International Military Air Show) lusa. Siapakah pilot yang dipercaya menerbangkan pesawat ini?”

Jendral Vincent tersenyum. “Saya rasa itu pertanyaan terakhir buat saya,” katanya. “Setelah saya tunjukkan siapa orangnya, Anda semua bisa bertanya apa saja padanya. Nah, dialah pilot itu!” Jendral Vincent menoleh pada Immanuel Ethan yang pada saat bersamaan menganggukkan kepalanya pada semua orang. Laki-laki tampan berambut cut itu tersenyum. Segera setelah itu tiga pria penting di samping Ethan berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Press Meeting Gedung Putih itu.

Para wartawan mengerubungi Ethan dan menjepretnya tiada henti. Lalu pertanyaan-pertanyaan seputar karirnya pun meluncur tak terbendung.

***

Ketika Ethan keluar dari White House, seorang wartawati membuntutinya. Padahal jumpa pers sudah resmi ditutup.

“Maaf, Pak Ethan, ada satu lagi pertanyaan saya, kalau Anda berkenan,” ucapnya mencegat Ethan menuju mobil. Ethan berhenti dan menatap wanita itu. “Anda siapa?” tanyanya.

“Saya Aprilia, reporter khusus New York Times.”

“Apa yang ingin Anda ketahui?”

“Ada isu bahwa sejak tiga tahun yang lalu Anda pindah agama . Benarkah Anda sekarang seorang muslim?”

Ethan terdiam. Pertanyaan berbahaya. Tanpa menjawab ia melangkah meninggalkan gadis itu dan masuk ke mobilnya. April mengikutinya dengan heran.

“Pertanyaan Anda terlalu off the record, Nona!” jawab Ethan sambil menekan tombol power window. Jendela Porsche itu menutup dan mobil itu meluncur di jalanan.

***

Begitu sampai di rumahnya, Ethan langsung menghubungi seseorang lewat telepon.

“Saya Immanuel Ethan. Bisakah saya bicara dengan Ibrahim Khoir?”

“Maaf, Sir. Mister Ibrahim sedang di Ankara. Besok baru kembali,” jawab seorang pria.

“Baiklah, besok akan saya hubungi lagi!” Ethan menutup telepon. Beberapa saat ia terdiam. Matanya lalu terpaku menatap fotonya ketika berdiri bersama Peacemaker F-3000, pesawat tempur generasi terakhir yang akan diterbangkannya dua hari lagi. Foto itu diambil tiga bulan yang lalu, saat ia bersama 45 orang pilot lainnya diseleksi untuk menerbangkan Peacemaker. Ia akhirnya terpilih sebagai pilot utama dan seorang rekannya yang lain sebagai cadangan.

“Lusa, seluruh cita-citaku, akan sampai pada puncaknya!” ucap Ethan sambil mengepalkan tangan.

***

Washington DC, 21 April 2008

Pagi-pagi sekali, Ethan sudah sibuk mempersiapkan keberangkatannya. Ia mengemasi perlengkapannya dan memasukkannya ke dalam tas. Tepat pukul 10.00 Ethan menepati janjinya untuk menelepon kembali Ibrahim Khoir, sahabat sekaligus pengacaranya di Los Angeles. Di sana, Ibrahim Khoir mengangkat telepon.

“Apakah kau sudah baca surat kabar hari ini, Ethan?”

“Kenapa rupanya?” tanya Ethan lagi setelah mereka saling mengucapkan salam. Pagi ini ia memang belum sempat membaca korannya.

“Mereka semua menulis tentangmu. Juga tentang IMAS dan Peacemakernya. Seluruh stasiun TV mereplay wawancaramu kemarin. Mereka bilang kau seorang yang hebat!”

“Ah, biarkan saja. Besok mereka akan menyaksikan yang lebih dari itu semua!”
“Apa itu?” tanya Ibrahim penasaran. Ethan tertawa.
“Maaf, Saudaraku, aku tidak akan mengatakannya sekarang. Kita lihat saja nanti.”
“Baiklah. Lantas apa yang bisa saya bantu sekarang?”

Ethan menarik nafasnya dalam-dalam. Seluruh rencana sudah disusunnya begitu matang. Dan tak ada yang boleh tahu. Ia tidak ingin orang lain mendapatkan kesulitan karena perbuatannya itu. Juga Ibrahim Khoir.

“Saya punya sebuah amanah yang harus kau sampaikan kepada yang berhak menerimanya. Dan semuanya akan dijelaskan oleh sebuah disket yang akan saya kirim dari sini, hari ini juga. Paket itu saya kirim ke kantormu. Besok kau sudah menerimanya. Itu saja, assalamu’alaikum!” Belum sempat Ibrahim berkomentar, Ethan sudah memutuskan hubungan.

Ethan melirik jam tangannya. Satu jam lagi utusan Dephan akan menjemputnya. Ia masih punya waktu untuk menyelesaikan bagian dari rencananya.

Ethan membongkar isi meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah map dan membukanya. Pria itu mengeluarkan beberapa guntingan koran dan menumpuknya di tong sampah. Begitu yakin semuanya tak ada yang tersisa, ia mendekati perapian dan membakar kliping-kliping koran itu dengan hati-hati.

Setengah jam kemudian sebuah sedan milik Departemen Pertahanan dan Keamanan memasuki halaman rumahnya. Saat itu Ethan sudah menunggu di depan pintu. Ia langsung masuk ke mobil begitu sopirnya selesai memasukkan barang-barang ke mobil. Ethan menatap kembali rumahnya. Setelah itu ia tidak ingin melihatnya lagi.

“Kita ke kantor pos dulu sebentar,” ucap Ethan ketika mobil sudah dalam perjalanan.

“Ya, Pak!” jawab sopir.

***

Di dalam British Airways yang membawanya menuju New York, Ethan kembali memikir ulang seluruh rencananya. Semua resiko sudah diperhitungkannya. Beruntung ia hanya sebatang kara. Seluruh keluarganya sudah tewas puluhan tahun yang lalu, saat ia begitu menyesali kenapa ia tidak ikut tewas bersama mereka. Waktu itu ia baru 6 tahun.

Sejak tragedi itu tak ada yang ingin dilakukannya selain berjuang dan bekerja keras. Dan ia rasa, semuanya akan sampai pada puncaknya esok hari di New York. Ethan memejamkan matanya. Bibirnya terbenam dalam dzikir.

***

New York City, 22 April 2008

Di Bandara Internasional terlihat sebuah kesibukan. Dimana-mana terpasang umbul-umbul setinggi 4 meter berkibar-kibar diterpa angin. Ada ratusan pesawat tempur berbagai tipe dan jenis berbaris teratur sepanjang lintasan pacu. Di bagian depan menara pengawas, berdiri sebuah tenda raksasa berwarna biru tua dengan ratusan kursi di bawahnya. Di sana terlihat para pejabat puncak pemerintahan Presiden Alfred A Stokker, para Jendral US Army Force dan para undangan penting dari berbagai negara. Ratusan pria berjas rapi berkacamata hitam dengan seragam khusus sibuk di posisi masing-masing sambil berkomunikasi lewat headphone. Merekalah para bodyguard yang ditugaskan mengamankan event penting kedirgantaraan militer dunia itu. Di bawah sebuah spanduk raksasa bertulisan ‘Welcome to International Military Air Show 2008’ duduk teratur puluhan pilot yang akan melakukan atraksi udara dengan pesawat tempur masing-masing. Immanuel Ethan duduk di sayap kiri. Ia duduk dengan tenang sambil mengawasi keadaan di sekelilingnya.

Setengah jam berlalu. Sebuah F-117 Nighthawk Stealth memecah udara New York tanpa suara. Dari pengeras suara, seorang MC membacakan spesifikasi si ‘siluman’ itu. Kemudian bergemuruhlah dari arah panggung tepuk tangan para undangan. Setelah menunjukkan kebolehannya, pesawat yang pernah diterjunkan dalam perang Irak-Amerika tahun 1996 itu kembali ke sarangnya.

Giliran Immanuel Ethan pun tiba.

Dengan gagah lelaki 33 tahun itu menaiki Peacemaker dibantu seorang petugas Machine Service. Setelah mengacungkan jempolnya Ethan membawa pesawat itu memasuki landasan pacu. Setelah benar-benar merasa siap, Ethan menekan tombol turbo. Tanpa suara, pesawat itu take off dengan kecepatan kilat dan melintas di depan panggung kehormatan.

Ethan memutar pesawat dan kembali ke arah tenda raksasa. Tiba-tiba pesawat itu berhenti mendadak dan mengapung di angkasa, tepat di depan tenda para undangan. Tepuk tanganpun terdengar bergemuruh lagi. Begitu MC selesai menyebutkan jati diri pesawat tempur generasi terakhir itu, Ethan pun melesat menjauh dan menghilang di angkasa.

Beberapa saat pesawat itu tidak muncul. Panitia pengatur acara masih menunggu. Masih ada atraksi yang harus dipertunjukkan F-3000 itu. Tapi setelah lima menit, pesawat itu tidak juga muncul. Orang-orang di menara mulai panik.

“Di sini menara pengawas, apakah Peacemaker menerima pesan kami?” ucap petugas mencoba mengontak Ethan.

Beberapa saat. Belum ada jawaban. Di angkasa sana, di ketinggian 10.000 meter dan dalam kecepatan Mach 5 (1 Mach = kecepatan suara) Ethan tersenyum.

“Ya. Di sini F-3000. Kami segera kembali!” jawabnya. Petugas di menara melihat ke layar radar. Pesawat itu memang mendekati titik sentral. Tapi kemudian dia menghilang dari pantauan radar.

“Kenapa dia?” tanya Dick Forrery, Kepala Bandara. “Bukankah dia diperintah untuk tidak mengaktifkan sistem anti radar?” lanjutnya gusar.

“Benar, Pak!” jawab petugas kontrol radar. Beberapa petugas menara yang lain mencoba menggunakan teropong digital. Tapi Peacemaker tetap tak kelihatan.

“Peacemaker diperintahkan kembali!” bentak Dick emosional. Tak ada jawaban. Layar radar pun masih kosong. Ternyata Ethan mengacaukan sistem radar menara pengawas.
“Shit!” teriak Dick dengan muka merah padam. Ia mengambil handphonenya dan mengontak Jendral Vincent Stewar, di bawah sana.

“Peacemaker menghilang, Pak!” lapornya.

Jendral Vincent Stewar seperti bara, wajahnya memerah. Belum sempat ia memberi perintah atas berita itu, sebuah ledakan dahsyat terdengar dari arah lintasan parkir pesawat. Peacemaker muncul di balik asap hitam yang membubung ke angkasa sambil terus memuntahkan bomnya.

Orang-orang menjadi panik dan berusaha menyelamatkan nyawa masing-masing. Dari arah menara, meraung-raung sirine tanda bahaya. Menteri Pertahanan, Bob Christoper tiba-tiba sudah berdiri di depan Jendral Vincent.

“Apa yang dia lakukan?” bentaknya. Tapi suaranya hilang ditelan suara ledakan. Mr. Presiden segera diamankan. Para tamu negara kalang kabut. Dimana-mana terdengar teriakan kepanikan. Apalagi ketika tanpa diduga F-3000 mengapung tepat di depan tenda kehormatan dalam jarak 100 meter.

Di dalam benda hitam itu, Ethan tersenyum. Dendamnya terbalaskan. Lalu ia tiba-tiba muram. Di matanya muncul bayangan kepanikan para penduduk sipil ketika Amerika membombardir Timur Tengah tahun 2000. Terbayang juga saat keluarganya hangus bersama rumah mereka ketika pesawat militer Amerika membomnya 27 tahun silam.

“Sekarang kalian akan merasakan akibat kecongkakan kalian,” ucap Ethan sambil memencet tombol fire di tangannya. Dalam hitungan detik, tenda di depannya hancur lumat bersama isinya. Peacemaker kembali berputar-putar dan merudal seluruh pesawat tempur di bawahnya. Setelah yakin tak ada lagi yang tersisa, Ethan melesat ke arah barat menuju Seattle.

Di menara pengawas, Dick Forrery menatap F-3000 dengan mata tak berkedip. Ia sama sekali tak dapat berbuat apa-apa ketika pesawat itu bergerak menjauh dan menghilang di balik gumpalan asap tebal. Ia lalu menghubungi Jendral Vincent. Ia berharap jendral itu masih hidup.

“F-3000 itu menuju ke arah barat, Pak!” lapornya.

“Kejar dia dengan cadangan F-117 di Oklahoma. Perintahkan seluruh pangkalan untuk mengerahkan seluruh pesawat tempurnya untuk mencegat bajingan itu,” geram Jendral berbintang empat itu.

Dick Forrery melakukan tugasnya. Atas nama Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat ia menghubungi seluruh skuadron di daratan Amerika. Kemudian ia meneruskan perintah Menteri Pertahanan kepada seluruh bandara untuk membatalkan seluruh jadwal penerbangan ke Seattle. Perintah terakhir ini juga berlaku untuk seluruh bandara udara di seluruh dunia.

Berita pembelotan F-3000 itu segera mengguncang publik dunia. Beberapa stasiun televisi secara langsung menyiarkan berita itu.

Sementara itu Peacemaker F-3000 melesat dengan kecepatan penuh ke arah Seattle. Tujuan Ethan adalah Markas Besar CIA.

Tiba-tiba komputer di kokpit pesawat memberitahu bahwa ada yang mencoba mengontaknya dari bumi. Ethan menerimanya.

“Apa yang kau inginkan, Ethan?” Itu suara Bob Christoper. Ethan tertawa.
“Ah, tidak ada,” jawabnya ringan.
“Tidak ada? Lalu apa maksudmu?”
“Saya cuma menjalankan tugas sekaligus merampungkan obsesi saya.”
“Tugas apa?”

“Ha ha ha. Jangan membentak saya, Sir! Saya tidak ingin mendengar suara Anda lagi, selamanya!” Ethan memutuskan hubungan dengan bumi.

Empat puluh lima menit kemudian Ethan sudah berada di atas Denver. Saat itu komputer pesawat menangkap gerakan sebuah pesawat tak di kenal mendekati posisinya. Ethan melacak identitas pesawat pemburu itu.

“Oho, F-117 rupanya!” ucapnya dramatis. F-117 mencoba mengontak Ethan.
“Echo…echo…! F-3000 diperintahkan mendarat di pangkalan terdekat. Sekali lagi, F-3000 diperintahkan mendarat di pangkalan terdekat!”

Ethan tertawa. “Baiklah, Saudara Tua. Aku segera turun!”

Ethan menurunkan kecepatan dan menukik ke bawah. Ia membiarkan F-117 itu melesat melewatinya.

Ethan mengatur posisinya dan mengunci F-117 itu dalam sasaran tembak. Begitu saatnya tiba, Ethan melepas tembakan dan dalam hitungan detik melihat F-117 itu hancur di udara.

“Nah, selamat jalan, Kawan!” ucap Ethan sambil kembali menambah kecepatan.

***

Di Los Angeles, Ibrahim Khoir menerima disket yang dijanjikan Ethan. Ibrahim menghidupkan komputernya dan mengakses disket itu. Dalam sebuah file berinitial ‘Top Secret” Ethan menulis,

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Saudaraku Ibrahim, hari ini semuanya telah aku rampungkan. Dan aku bahagia bisa melakukannya, -menghancurkan kekuatan Amerika semampuku-. Dan itulah cita-citaku sejak 27 tahun yang lalu. Aku tahu ini bukan cara yang baik, tapi proyek pembuatan F-3000 sama sekali bukan untuk perdamaian –sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan- tapi untuk sebuah kejahatan yang akan mereka lakukan pada kita, orang-orang Islam. Kamu tahu Ibrahim, Amerika tak pernah rela Turki dipimpin oleh orang-orang yang istiqomah pada Islam. Dan mereka telah merencanakan sesuatu yang sangat jahat terhadap negara itu. Apalagi sejak Turki mampu mempertemukan kembali ikatan persaudaraan umat Islam yang telah lama terputus.

Ibrahim Saudaraku…

Jika ajalku sampai pada misi ini, aku berharap agar seluruh tabungan dan kekayaan pribadiku diserahkan untuk membantu perjuangan saudara-saudara kita di bumi Allah yang lain. Salamku untuk mereka semua di mana pun mereka berada. Dan terima kasih atas bimbinganmu selama ini.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

New York, 21-4-2008

Di akhir suratnya Ethan menulis :

File ini akan lenyap setelah tiga puluh detik.

Ibrahim menunggu. Begitu file itu lenyap dari layar, ia mendesah.

***

Di markas besar CIA sebuah pasukan telah disiapkan untuk menyambut kedatangan F-3000. Dalam radius 500 mil telah ditempatkan tiga puluh unit truk peluncur rudal patriot. Kota Seattle begitu lengang. Kepala CIA, Jody Powel tampak panik.

“Apa ia sudah muncul?” tanyanya pada operator radar.
“Belum, Pak! Pesawat itu anti radar!” jawab si Operator.
“Saya juga tahu!” balas Jody Powel kesal.

Seribu mil di luar Seattle, sebuah benda hitam yang begitu ditakuti muncul. Ethan melihat komputer pesawat menunjukkan tiga puluh subjek berbahaya. Ketika Ethan menekan enter, komputer meluncurkan tiga puluh rudal bergantian ke posisi titik-titik merah di layar komputer. Di bawah sana, Jody Powel tidak menyadari bahwa ketiga puluh peluncur rudal Patriotnya sudah hancur bersama awaknya.

Ethan mendekati posisi sentral, yaitu markas CIA. Radius 500 mil sudah dilumpuhkannya. Sekarang tinggal melumatkan gedung yang konon anti nuklir itu.

F-3000 itu sudah tepat mengapung di atas gedung bertingkat sepuluh itu. Ethan melepas bomnya dan melepaskan senjata pelumatnya. Tapi sekonyong-konyong, lima bayangan hitam sudah mengepungnya ketika ia menjauhi gedung yang hampir lumat itu.

Belum sempat komputer melacak, lampu ‘danger’ berkerlap-kerlip. Kemudian menyusul suara animasi komputer memerintahkannya meninggalkan tempat itu. Tapi Ethan terlambat. Sebuah goncangan ia rasakan ketika rudal musuh menubruk perut pesawat. Ketika itulah ia ingat apa yang harus dilakukannya. Dalam balutan helm hitam, bibir pilot terbaik Amerika itu melafalkan dzikir terakhirnya. Dan…Peacemaker F-3000 itu lumat di udara Seattle bersama pilotnya.

***

Pada saat yang sama.

Aprilia, reporter khusus New York Times, dipanggil bosnya. April dengan tergesa-gesa memasuki ruang kerja Larry Foster.

“Ada apa, Pak?” tanyanya. Dari kursinya, Larry melemparkan sebuah bungkusan paket pada gadis itu.

“Itu kiriman dari Immanuel Ethan! Kukira sebagai hadiah ulang tahun untukmu!” ucap pria 60 tahun itu.

“Immanuel Ethan? Apa isinya?” tanya April sambil mengira-ngira.

“Sebuah disket yang membuka kedok teka-teki proyek raksasa Peacemaker F-3000, beserta salinan program-program rahasia yang akan dilancarkan pesawat gila itu. Ternyata apa yang selama ini digembar-gemborkan Gedung Putih omong kosong belaka. F-3000 sama sekali bukan untuk perdamaian, tapi untuk ambisi gila para senator untuk menguasai bumi!”

“Oh ya? Jadi Anda sudah membukanya?” tanya April.

“Tentu saja. Jika dia tidak menulis namanya, mana mungkin aku tertarik membuka kiriman untuk gadis galak sepertimu!”

April tertawa. “Jadi?” tanyanya pada Larry.

“Tulis laporannya selengkap mungkin. Besok kita akan naik cetak empat kali lipat,” tegas Larry.

“Wow! Lalu jika semua koran Anda habis terjual?”

“Uangnya ingin kuhadiahkan buat pilot pemberani itu. Tapi sayang, ia sudah tewas,” ucap Larry sedih.

“Anda benar, Pak. Kita mungkin perlu lebih banyak pemberani-pemberani seperti dia,” ucap April sambil keluar.

***

New York City, 23 April 2008

Seperti dugaan Larry Foster, korannya habis sebelum tengah hari. Tapi sore harinya sebuah e-mail masuk ke komputer kantornya. Surat itu datang dari Menhankam Bob Christoper. Isinya singkat saja : New York Times dituntut atas tuduhan membocorkan rahasia negara![]

Dimuat dalam epik di Majalah Annida No. 3 Tahun VI/1996 dan dimuat dalam kumpulan cerpen dengan judul yang sama.

Joni Tak Pulang

Cerpen Melvi Yendra

Mayat itu masih baru. Tampak putih di antara apungan sampah yang hitam dan kotor. Teronggok secara mencolok di kali tepat di bawah jembatan kecil di pinggir perkampungan yang sepi.

Saat itu Minggu pagi, pukul enam lewat sedikit. Jalanan belum begitu ramai. Seorang tukang ojek baru saja menyandarkan motor bebeknya di ujung jembatan ketika mendadak ia melihat sosok putih terapung itu. Merasa curiga, ia menuruni tepian kali yang rendah dan mendekati sosok mencurigakan itu. Setelah yakin itu memang mayat manusia, tukang ojek itu naik ke jalan raya dan mulai berteriak.

Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, daerah kumuh itu ramai seperti pasar tumpah.
Untungnya, polisi cepat datang ke lokasi. Elemen keamanan negara yang digaji dengan uang rakyat itu langsung mengamankan TKP dan memeriksa identitas si mayat. Sayangnya, tidak ada apa pun yang bisa dijadikan petunjuk kecuali bahwa mayat telanjang itu berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi badan 1,7 meter.

Polisi akhirnya membawa mayat itu ke RSCM untuk divisum. Si tukang ojek dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

***

Empat jam sebelum mayat itu ditemukan.

“Lepaskan pakaiannya, lalu bakar. Kita tidak ingin meninggalkan jejak!”
“Bagaimana dengan polisi?”
“Jangan takut. Tidak ada yang tahu anak itu pergi dengan kita. Lagi pula ini sebuah kecelakaan. Kita bukan dengan sengaja membunuhnya. Ayo, buang mayatnya!”

Sedan hitam itu berhenti di atas jembatan di tepi sebuah kali yang dangkal airnya. Dari dalam mobil itu sebuah mayat tanpa busana dijatuhkan tepat ke bawah jembatan. Mobil itu lalu pergi.

***

Sepuluh jam sebelum mayat itu ditemukan.

“Saya takut, Pak Dokter.”

Joni terbaring di ranjang operasi. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa takut. Ini jelas bukan rumah sakit, tapi semua peralatan kedokteran yang diperlukan untuk tujuan malam itu ada di sana. Orang yang membawanya ke tempat itu pasti kaya sekali, sehingga bisa menyewa tim dokter dan peralatan operasi yang lengkap seperti itu.

“Tenang saja, Joni. Setelah ini kamu tidak akan kesulitan keuangan lagi. Setidaknya untuk beberapa bulan. Kamu bahkan bisa melunasi utang-utang ibumu. Operasinya tidak akan lama. Setelah itu kamu akan bisa hidup seperti sedia kala.” Seorang lelaki umur tiga puluhan membujuknya.

Joni mengangguk. Membayangkan uang lima puluh juta yang akan diterimanya nanti, membuat Joni menjadi tenang. Lelaki kaya itu lalu pergi. Tim dokter lalu menyuntikkan sesuatu ke tubuh Joni, membuat kesadarannya berangsur-angsur hilang sehingga ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Empat orang tim dokter bekerja dengan cekatan. Mereka menyayat, menggunting, dan memotong. Mengambil yang mereka inginkan, kemudian menyambung dan menjahit kembali semua sayatan. Semua selesai dalam waktu kurang dari dua jam.

Mereka hanya perlu menunggu anak muda itu sadar kembali beberapa jam kemudian. Lalu mereka akan membayar apa yang telah mereka ambil, dan semuanya selesai.

Tapi ternyata Joni tak pernah bangun lagi dari tidurnya. Ia begitu lelap dalam tidurnya yang panjang. Tim dokter dan si orang kaya panik. Berbagai cara yang ada dalam dunia kedokteran telah dicoba. Tapi hasilnya nihil. Joni benar-benar telah berlalu.

***

Dua belas jam sebelum mayat itu ditemukan.

Joni gelisah. Ini sudah hampir magrib, tapi orang yang ditunggu-tunggunya belum juga kelihatan batang hidungnya. Ini sudah hampir satu jam. Dan, Joni takut bila orang itu membatalkan janjinya. Jalan Melawai sedang dipuncak kesibukan.

Lalu-lintas sedang macet. Syukur-syukur mereka terlambat karena macet, pikir Joni. Ya, Tuhan, jangan batalkan rencana ini, jeritnya ke arah langit.

Sebuah sedan hitam melambat dan berhenti di depan Joni. Kaca samping dekat kursi penumpang terbuka perlahan-lahan.

“Hai, kamu Joni, ya?” Seorang lelaki muda, mungkin tidak lebih 30 tahun, berpenampilan mewah, menyapa Joni. Ketika Joni mengangguk, ia tersenyum. “Ayo, naik. Tidak apa-apa. Jangan takut.”

Joni kebingungan. Tak mungkin salah. Inilah orang yang ditunggu-tunggunya. Kalau tidak, tidak mungkin mereka akan mengenali dirinya. Jadi ia naik saja ke sedan mewah itu.

***

Dua puluh empat jam sebelum mayat itu ditemukan.

Hari Sabtu, pukul enam pagi. Hari belajar terakhir buat Joni sebelum ia menempuh Ujian Akhir Nasional. Keluar dari kamarnya, Joni mencari ibunya di dapur.

“Mak, ntar malam Joni mau nginep di rumah Arfan. Mau belajar bareng. Insya Allah pulang besok, pagi-pagi banget.”

Sebenarnya Joni berbohong. Ia tidak ada janji dengan Arfan. Ia ada janji dengan seseorang. Seseorang yang akan memberinya uang banyak sekali.

“Trus, gimane ame uang ujian elu, Jon?”
“Mak tenang aja. Semuanya akan Joni beresin. Pokoknya Mak nggak boleh mikirin masalah itu lagi. Mak janji, kan?”

Mak Joni mengangguk. Ia tak tahu, di dalam tas Joni yang lusuh, ada potongan iklan dari sebuah koran terbitan Ibu Kota.

Dibutuhkan sebuah ginjal. Berani bayar 50 juta. Yang berminat silakan hubungi 08526743251[]

Jakarta, 31 Mei 2005

Lift

Lift

HARRY memulai hari Senin itu dengan perasaan kesal. Bujangan 30 tahun itu sengaja bangun subuh-subuh agar tidak terlambat sampai di tempat kerjanya yang baru. Sebulan yang lalu ia di-PHK dengan alasan efisiensi dari sebuah perusahaan auto-finance dengan pesangon yang lumayan.

Ia dibangunkan oleh alarm telepon genggamnya pada pukul 4 pagi, dan bergegas menyiapkan diri. Harry tidak ingin hari pertamanya di perusahaan penjual perangkat lunak MetroData berantakan. Setelah minum segelas susu dan sepotong roti bakar yang ia buat sendiri, Harry keluar dari flatnya.

Sudah bertahun-tahun Harry hidup sebatang kara. Seluruh keluarganya menjadi korban bencana tsunami beberapa tahun yang lalu. Jadi, ia tinggal sendirian di kota itu, menyewa sebuah flat di sebuah gedung tua delapan lantai di pinggiran kota.

Untuk naik dan turun dari flatnya yang ada di lantai tujuh, Harry biasa menggunakan lift. Tapi akhir-akhir ini lift yang cuma satu-satunya itu sering rusak. Pengelola gedung enggan memperbaiki lift tua itu karena biayanya besar. Sementara uang yang didapatnya dari gedung tua itu tidaklah banyak: flat-flat yang ada terisi tidak sampai seperempatnya. Lagi pula gedung itu konon sudah dijual kepada sebuah perusahaan asing yang berencana mengganti gedung tua itu dengan sebuah gedung perkantoran, tahun depan.

Harry melangkah cepat melintasi flat-flat di lantai tujuh yang tak berpenghuni. Beberapa lampu sudah tidak berfungsi dan tampaknya belum akan diganti dalam waktu dekat. Koridor di luar pintu-pintu flat masih lengang. Di lantai tujuh hanya ada tiga penyewa. Selain Harry sendiri, ada seorang karyawati sebuah bank swasta dan sebuah keluarga kecil dengan empat anak. Di lantai-lantai lain keadaannya tidak jauh berbeda. Satu lantai hanya diisi dua atau tiga penyewa. Di siang hari saja, gedung ini sepi sekali. Apalagi pada pukul lima pagi.

Harry sampai di depan lift. Nyaris saja ia berteriak kegirangan. Lift itu dalam keadaan menyala. Itu artinya lift itu bisa digunakan. Harry menekan tombol yang sudah tak jelas bentuknya. Pintu lift yang berwarna silver berderak terbuka. Memang tidak mulus seperti lift di gedung-gedung mewah, tapi Harry tidak peduli. Ia masuk ke ruang sempit berukuran 2 x 1,5 m itu lalu menekan tombol “close”. Pintu lift menutup dan dengan suara sedikit gaduh, lift itu mulai bergerak turun.

Harry meletakkan tas kerjanya di lantai, mengeluarkan telepon genggamnya dan menulis pesan singkat untuk Rue, pacarnya. Semalam Rue mengirimkan ucapan selamat bekerja di tempat yang baru untuk Harry. Karena ketiduran, Harry belum sempat membalas pesan itu, dan ia pikir sekaranglah saat yang tepat untuk melakukannya.

Terima kasih, Rue. Semoga aku bisa sampai di kantor tepat waktu. Doakan aku tidak terkena PHK lagi. Love, Harry-mu.

Harry mengirim SMS itu dan tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Itu pasti report-nya, pikir Harry. Dia membuka inbox dan ia salah. Yang muncul di layar adalah pesan bahwa pesan tidak bisa dikirim karena pulsa sudah habis.

“Sialan!” kata Harry nyaris berteriak. Ia lupa mengisi kembali pulsa kartunya. Semoga Rue memaafkanku kali ini, pikirnya. Rue memang sering memarahinya karena selalu lupa mengisi kembali pulsa telepon, apa lagi di saat-saat penting.

Sambil menyimpan kembali telepon genggamnya di saku celana, Harry menatap deretan angka-angka di atas pintu lift. Angka lima sekarang sedang menyala. Lamban sekali, pikir Harry. Lift itu mengeluarkan suara berdengung. Walaupun gerakannya lamban, Harry bisa merasakan benda itu bergetar halus di kedua kakinya.

Ketika angka empat menyala di atas pintu, getaran halus itu tiba-tiba lenyap. Harry mulanya berpikir, ada calon penumpang di lantai tiga yang ingin bergabung dengannya. Tapi setelah sekian lama, pintu lift tidak kunjung membuka, tapi lift juga tidak bergerak sama sekali. Harry menunggu dengan sabar. Tapi setelah satu menit lebih berlalu tanpa ada apa-apa, ia mulai panik.

Harry dengan cemas menatap angka 4 di atas pintu yang berkedip-kedip. Ada apa ini? pikir Harry. Lampu di dalam lift tiba-tiba padam, begitu pula angka empat di atas pintu. Keadaan di dalam lift mendadak gelap-gulita.

Dengan refleks Harry memencet tombol “open”. Tapi tak ada apa-apa. Harry menggedor-gedor pintu lalu berteriak-teriak panik. “Tolong! Tolooong!!! Apakah ada orang di luar sana? Hallo?”

Hening. Tidak terdengar apa pun.

Harry menunggu. Ia berpikir positif bahwa semua ini tidak perlu membuatnya panik berlebihan. Ini kejadian biasa yang bisa terjadi di lift mana pun.

Pasti ada yang mendengar teriakanku, pikir Harry. Ia yakin sekali akan hal itu. Setelah tahu ada yang terjebak di dalam lift, salah seorang tetangganya akan segera memanggil pengelola gedung yang dalam beberapa menit sampai di depan pintu lift sialan ini bersama serombongan anggota pemadam kebakaran. Dalam setengah jam atau paling lama satu jam, ia akan bisa keluar dari lift dan bisa berangkat ke kantor. Tentu saja sebelum itu ia harus berbasa-basi sedikit dengan pengelola gedung, mengatakan sebaiknya lift ini diganti secepatnya. Di kantor, akan ada banyak pertanyaan dari bosnya yang baru—tentu saja—tapi ia punya alibi yang kuat berikut puluhan orang saksi yang akan membenarkan kata-katanya. Dan setelah semua ini berlalu, ia berjanji tidak akan pernah menggunakan lift sialan ini lagi untuk selama-lamanya. Bahkan kalau perlu ia akan pindah dari flat tuanya itu dan mencari tempat tinggal yang lebih layak untuknya, dengan catatan, flatnya yang baru nanti tidak berada di gedung tua dengan lift rusak seperti ini!

Harry kemudian sadar bahwa teriakannya takkan bisa di dengar siapa pun. Ini masih pukul lima pagi. Sepagi ini tidak ada penghuni flat lain yang berkeliaran di koridor. Karena lift ini sering rusak, hanya penghuni di lantai enam, tujuh, dan delapan saja yang sering menggunakannya. Itu pun tidak semuanya. Penghuni di lantai yang lebih rendah, lebih suka menggunakan tangga untuk naik dan turun dari flat mereka.

Ia mungkin bisa menunggu seseorang. Tapi sampai berapa lama? Harry maju setengah langkah, menempelkan telinganya serapat mungkin ke pintu lift yang dingin, dan berkonsentrasi. Tapi ia tidak mendengar suara apa pun.

Jadi, ia benar-benar dalam kesulitan sekarang.

Harry duduk di lantai. Matanya mencari-cari dalam kegelapan. Sesaat ia merasa seperti berada dalam kuburnya sendiri. Napasnya terasa sesak. Entah karena rasa takutnya atau karena udara dalam lift yang terbatas.

Harry tiba-tiba ingat sesuatu. Ia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya, siap memencet nomor Rue, tapi sedetik kemudian ia ingat bahwa benda itu tidak ada pulsanya. Harry kecewa. Apa yang bisa kulakukan sekarang? pikirnya sambil menatap ponselnya itu. Seandainya saja Rue meneleponnya sekarang. Seandainya saja tadi ia turun pakai tangga saja. Seandainya …

Harry mendengar suara-suara dari luar. Tapi ia tidak yakin apakah suara itu berasal dari atas atau bawah pintu lift. Hanya saja, ia yakin mendengar suara-suara langkah sepatu di koridor. Suara itu terdengar konsisten, makin lama makin terasa dekat ke arahnya. Ketika suara itu hilang, Harry mendengar—walau tidak terlalu jelas—suara orang berbicara di luar lift, “Sial! Liftnya rusak lagi! Bagaimana sih, gedung ini dikelola?” Itu suara laki-laki.

Harry cepat-cepat bangkit dari lantai, tangannya memukul-mukul pintu lift sambil berteriak keras-keras. “Hallo? Apa ada orang di luar? Tolooong …! Tolong saya! Saya ada di sini. Hei! Hallo? Apa Anda dengar suara saya?”

Harry berteriak sekuat tenaga. Ia juga menghantam pintu dengan tangannya. Tapi tak ada sahutan dari luar. Siapa pun yang ada di luar sana, seperti tak mendengar teriakan keras Harry. Tapi masa sih tidak dengar? Kalau ia bisa mendengar suara mereka, kenapa mereka tidak bisa mendengar teriakannya?

Orang-orang itu kemudian pergi. Suara sepatu mereka terdengar makin lama makin kecil, sampai akhirnya tidak terdengar lagi sama sekali. Harry menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskannya. Ia dengan kecewa kembali duduk di lantai.

Satu jam telah berlalu …
Harry mengangkat kepalanya dari atas lutut. Uh, aku ketiduran, ucapnya dalam hati. Ia menatap kegelapan di sekelilingnya. Belum ada perubahan apa pun dengan lift itu. Ia masih terkurung di sana. Sendirian. Dalam kegelapan pula.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Seseorang menghubungiku! jeritnya dalam hati. Cepat-cepat ditariknya keluar ponsel itu dari dalam saku celananya.

“Hallo?”
“Apa kami bicara dengan Pak Harry?” Suara seorang perempuan. Harry cepat-cepat berdiri dan bersemangat.

“Ya, betul. Maaf ini dengan siapa?” Harry berkata cepat. Napasnya memburu. Siapa pun yang meneleponnya, ia harus cepat-cepat meminta pertolongan. “Bisakah Anda …?”

“Maaf Pak Harry, kalau saya mengganggu Anda. Saya Michelle dari dari Central Vision Credit Card, ingin menawarkan fasilitas kartu diskon kepada Bapak, yang dapat digunakan untuk diskon hotel, tiket penerbangan, restoran, bengkel, derek mobil, salon, klinik …” wanita di seberang sana terus bicara tanpa mendengarkan kata-kata Harry.

“Tolong dengarkan saya sebentar …” Harry memotong.

Wanita itu berhenti bicara. “Ya, kenapa Pak Harry?”

“Saya butuh bantuan Anda sekarang juga. Saya sedang terjebak dalam sebuah lift yang sedang rusak. Saya butuh …”

“Aduh, maaf, Pak … saya …” Wanita di seberang sana tampak ragu-ragu.
Harry mulai panik. “Tolong, please … jangan tutup teleponnya! Tolong dengarkan saya!
Saya butuh bantuan Anda …”

Klik! Harry mendengar telepon ditutup.
“Sial!” Harry menghantam pintu lift dengan kaki kanannya. Ia membanting tasnya ke lantai. Digenggamnya ponselnya kuat-kuat. Hampir saja benda itu dibantingnya ke lantai, kalau tidak tiba-tiba bergetar kembali.

Harry melihat ke layar kecil pada ponselnya. Itu Rue! teriaknya girang.
“Rue …!” teriaknya.
“Harry, kamu ada di mana?”
Harry menarik napas lega. “Rue … untung kamu meneleponku. Aku sekarang ada di …”
Terdengar suara bib-bib-bib menandakan batere ponsel tidak akan bertahan lama. Suara Rue terdengar kesal. “Kenapa kamu tidak balas SMS-ku? Kamu tidak punya pulsa lagi ya …?”

Harry semakin panik. “Rue … dengarkan aku dulu. Aku terjebak …”
Bib-bib-bib! Ponsel Harry tiba-tiba mati. Ia tidak lagi mendengar dengung elektronis dari benda itu. Ia cepat-cepat menghidupkan kembali ponselnya dan menunggu Rue menelepon ulang. Tapi baru beberapa detik, benda itu mati kembali. Baterenya benar-benar tidak kuat lagi.

Sekali lagi Harry berteriak dan menghantam pintu lift dengan kakinya. Kali ini lebih kuat dan lebih keras. Bodoh! hardiknya pada diri sendiri. Seharusnya aku tidak masuk ke lift sialan ini. Seharusnya aku sudah pindah sejak dulu dari apartemen penuh cecurut ini. Seharusnya ia mengikuti nasihat Rue untuk selalu mengisi pulsa ponselnya bila telah habis. Seharusnya ia semalam men-charge batere ponselnya sehingga ia bisa memberitahu Rue keberadaannya.

Tapi semuanya sudah terlambat.

***

Dua minggu kemudian Rue keluar dari flat milik Harry bersama Mr. Cayman, orang yang diberi tanggung jawab mengelola gedung apartemen tua delapan lantai itu.
“Dua minggu yang lalu saya masih bicara dengannya lewat handphone. Tapi kemudian pembicaraan tiba-tiba terputus. Setelah itu saya tidak pernah lagi bisa menghubunginya. Ia juga tidak pernah datang ke kantornya yang baru. Harry seakan-akan lenyap di telan bumi,” kata Rue.

“Saya menerima laporan dari petugas satpam di pintu masuk, bahwa dua minggu terakhir ini Pak Harry tidak pernah lagi terlihat di sini.”

“Tidak ada kabar dari rumah sakit atau polisi?” tanya Rue. Ia mengiringi langkah Mr. Cayman menyusuri koridor. Rue khawatir terjadi apa-apa terhadap Harry. Kecelakaan, misalnya.

“Sayangnya, belum, Nona Rue,” sahut Mr. Cayman simpatik.
Mereka berhenti di tengah-tengah koridor.
“Kalau begitu, saya permisi, Pak Cayman,” kata Rue sambil memberikan kartu namanya. “Kalau ada kabar tentang Harry, tolong hubungi saya di nomor ini.”
Mr. Cayman mengangguk.

“Oya, kenapa liftnya tidak diperbaiki?” Rue menatap tulisan “Out of Order” di pintu lift, tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Tanggung. Beberapa bulan lagi gedung ini akan diruntuhkan.”
“Oya?”

Mr. Cayman mengangguk. “Sampai jumpa, Nona Rue. Tidak apa-apa kan Anda turun sendiri?”

Rue menganggukkan kepalanya kemudian meneruskan langkah. Ketika melewati pintu lift, ia merasakan sesuatu yang aneh. Semacam rasa dingin yang membuat kita menggigil di musim salju. Tapi Rue tidak mengacuhkannya.

***

Tiga bulan kemudian, ketika gedung itu selesai diruntuhkan, seorang pekerja bangunan menemukan sebuah telepon genggam di balik reruntuhan. Walau penuh debu, benda itu tampak masih baik keadaannya. Ia mengantongi benda itu, kemudian meneruskan pekerjaannya.[]