marah roesli

Novel Terakhir Bangsawan Terbuang

Dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Setelah 50 tahun lebih disimpan ahli warisnya, novel semiotobiografi Memang Jodoh Marah Roesli, pengarang Sitti Nurbaya, akhirnya diterbitkan. Novel yang selesai ditulis menjelang hari ulang tahun perkawinan emasnya itu baru diterbitkan setelah semua ninik mamaknya di Padang meninggal.

Bercerita tentang apakah novel itu? Marah Roesli menggugat adat lapuk priayi-priayi Minangkabau yang menganggap perkawinan antara laki-laki bangsawan Padang dan perempuan daerah lain sebagai suatu penghinaan. Tempo mengorek penjelasan anak-cucu Marah Roesli tantang penerbitan karya terakhir pengarang Angkatan Balai Pustaka itu.

NOVEL karya sastrawan Balai Pustaka, Marah Roesli, itu lama tersimpan di laci. Tak pernah dibukukan. Tak pernah disebarluaskan ke publik atau kritikus sastra. Sebelum wafat, Marah Roesli berwasiat kepada anak-cucunya bahwa novel tersebut hanya buleh dipublikasikan setelah dia dan semua orang yang disebutkan dalam naskah novel itu meninggal. Marah Roesli wafat di Bandung, 17 Januari 1968, pada usia 78 tahun. Dia dikubur di pemakaman keluarganya di Ciomas, Bogor.

Kini sudah 45 tahun kematian Marah Roesli. Belum genap 50 tahun. Pihak keluarga memutuskan menyerahkan “naskah rahasia” yang tak boleh dibaca siapa pun itu kepada penerbit. Dan pekan ini dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Naskah itu diterbitkan Qanita Classic, lini penerbitan khusus sastra klasik Mizan, dalam bentuk buku yang diluncurkan belum lama ini.

Marah Roesli terkenal dengan roman Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Kita ingat Sitti Nurbaya adalah kisah asmara antara Sitti Nurbaya, anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya, dan Samsul Bahri, anak Penghulu Sutan Mahmud. Sitti Nurbaya akhirnya diperistri Datuk Maringgih, yang menghancurkan kekayaan ayahnya dan kepadanya ayahnya berutang.

Kita tahu roman ini berakhir dengan tragedi. Sitti Nurbaya, yang lari dari Datuk Maringgih dan mencari Samsul Bahri, meninggal dibunuh Datuk Maringgih. Samsul Bahri, yang menjadi tentara Belanda dan berganti nama menjadi Letnan Mas, berhasil membinasakan Datuk Maringgih, yang memimpin pemberontakan antipajak di Padang-meski Samsul Bahri juga tertebas pedang Datuk Maringgih dan akhirnya meninggal di rumah sakit.

“Novel rahasia” yang tersimpan di laci itu juga berbicara tentang asmara, tapi tidak setragis Sitti Nurbaya. Novel berjudul Memang Jodoh itu sesungguhnya sudah rampung ditulis Marah Roesli pada 1961. Novel tersebut diselesaikan Marah Roesli tatkala usianya sudah uzur, yaitu 72 tahun. Novel itu merupakan kado Marah Roesli untuk istrinya, Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, pada hari ulang tahun ke-50 pernikahan mereka, 2 November 1961.

Apa isinya sehingga Marah Roesli melarang orang membacanya sebelum dia dan ninik mamaknya di Padang meninggal semua?

Novel itu berkisah mengenai jatuh-bangun perjalanan cinta seorang pemuda bangsawan Padang bernama Merah Hamli, yang mirip gambaran kehidupan cinta sang pengarang sendiri. Dalam kehidupan nyata, Marah Roesli adalah pemuda asal Padang yang merantau ke Buitenzorg (Bogor) dan kuliah di Nederlands Indische Veeartsenijschool (Sekolah Dokter Hewan Belanda). Di Bogor, Marah Roesli bertemu dengan Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, gadis keturunan bangsawan Sunda. Mereka menikah pada 2 November 1911. Pernikahan ini ditentang kedua keluarga mempelai.

Ayah Marah Roesli adalah Sutan Abu Bakar, bangsawan Pagaruyung, sementara ibunya perempuan biasa. Gelar “Marah” diberikan keluarga ayahnya. “Dalam diri Marah Roesli memang mengalir darah Pagaruyung, tapi dia bukan ahli waris dari Kerajaan Pagaruyung, karena di sini garis keturunannya matrilineal,” kata Raudha Thaib, ahli waris Kerajaan Pagaruyung. Dari pihak Marah Roesli, keluarga dari ibunyalah yang paling lantang menolak. Dari pihak Ratna, hanya keluarga inti yang memberikan restu. Akibat perkawinan itu, Marah Roesli dikucilkan secara adat dan terbuang dari tanah kelahirannya.

Berbagai cara dilakukan keluarga besar mereka untuk memisahkan pasangan itu. Siti Nur Chairani, putri bungsu Marah Roesli yang biasa dipanggil Tante Nani, ingat, suatu hari seorang pria muncul di rumah mereka di Jalan Merdeka, Bogor, membawa pesan untuk Marah Roesli dari ibunya di Padang. Marah Roesli dan Ratna tak curiga dan menerimanya dengan baik. Terkesan oleh kebaikan Ratna, tamu ini akhirnya mengaku bahwa ia adalah dukun yang dikirim keluarga ibu Marah Roesli untuk mengguna-gunai Ratna. Dalam novel itu, kisah dukun yang hendak mengguna-gunai Marah Roesli dan istrinya juga digambarkan.

“Perkawinan seorang laki-laki Padang, lebih-lebih yang berbangsa tinggi seperti Hamli ini, dengan perempuan negeri lain, dipandang orang di Padang sebagai suatu penghinaan yang besar atas kaum bangsawan,” kata seorang tokoh dalam novel bernama Datuk Sati, dukun besar dari Padang.

Novel berlatar masa penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan itu mengisahkan perjalanan Merah Hamli, yang merantau ke Bogor untuk kuliah di sebuah sekolah pertanian. Di kota inilah dia bertemu dengan jodohnya, Nyai Radin Asmawati, putri Wedana Cibinong. Namun rencana perkawinan tak direstui kedua keluarga besar mereka. Keributan sempat terjadi di Padang dan di Bogor. Tapi keduanya tetap menikah dan berkali-kali mendapat cobaan yang mengancam perkawinan itu, dari guna-guna hingga paksaan agar Hamli menikah lagi. Semua cobaan itu mereka hadapi dengan tabah hingga mereka beranak-cucu dan merayakan perkawinan emas pada 1961 di Sukabumi.

Menurut Rully Marsis Amirullah, cucu Marah Roesli yang kini bermukim di Bandung, Memang jodoh bukanlah otobiografi lengkap kakeknya. ”Ini novel semiotobiografi, karena kebanyakan bercerita tentang masalah perkawinan beda adat dan anjuran berpoligami clari keluarganya,” ujarnya.

Rully mengenang, pada 1961, saat perayaan ulang tahun perkawinan emasnya, Marah Roesli menyampaikan pidato panjang mengenai Memang Jodoh di hadapan anak-anak dan cucu-cucunya. Beberapa cucunya, termasuk Rully dan adiknya, musikus Harry Roesli, kemudian membentuk band bocah dan bernyanyi di hadapan kakek dan nenek mereka.

NOVEL BERLATAR MASA PENJAJAHAN BELANDA HINGGA ZAMAN KEMERDEKAAN ITU MENGISAHKAN PERJALANAN MERAH HAMLI, YANG MERANTAU KE BOGOR UNTUK KULIAH DI SEBUAH SEKOLAH PERTANIAN. DI KOTA INILAH DIA BERTEMU DENGAN JODOHNYA, NYAI RADIN ASMAWATI, PUTRI WEDANA CIBINONG.

Seperti karya Marah Roesli yang lain, Memang Jodoh awalnya ditulis tangan dalam aksara Arab Melayu gundul di buku panjang yang kerap digunakan akuntan, lalu diketik di atas kertas minyak tipis. Manuskripnya sudah hilang, tapi naskah ketikannya masih ada dan disimpan Rully. Agar tak rusak, naskah ini kemudian diketik ulang di atas kertas biasa yang tiap lembarnya dilapisi plastik.

Menurut Siti Nur Chairani, ayahnya berwasiat bahwa novel itu tak boleh diterbirkan sebelum semua orang yang disebutkan di naskah tersebut meninggal karena tak ingin menyakiti perasaan kerabat di Padang. ”Bahkan naskahnya juga tak boleh dibaca sebelum ayah saya meninggal,” kata Siti.

Mengapa setelah 50 tahun berlalu sejak Marah Roesli berpidato tentang novelnya, anak-ucunya akhirnya memutuskan menerbitkan novel itu? ”Seluruh keluarga sepakat, novel itu bukan milik keluarga lagi, melainkan milik kesusastraan nasional,” ujar Rully, yang kemudian bertugas mengurus penerbitannya.

Rully menyerahkan naskah itu tahun lalu ke Mizan. Mizan pun menyambut baik tawaran ini. Editor Mizan, Melvi Yendra, menyuntingnya dan menilai naskah itu sebagai naskah kelas berat. “Itu naskah yang sulit untuk disunting,” kata Melvi, yang butuh waktu dua setengah bulan untuk menyunting novel yang setelah dicetak jadi setebal 525 halaman itu.

Marah Roesli, kata Melvi, sering menulis dengan kalimat panjang dan memakai banyak kata dari Bahasa Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia. Melvi berusaha menyunting naskah itu menjadi lebih ringan bagi pembaca tanpa menghilangkan gaya bercerita Marah Roesli. Melvi memecah kalimat yang panjang menjadi beberapa kalimat pendek dan menambahkan catatan kaki untuk beberapa kata yang terasa asing. Dia hanya mengganti beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” untuk “sekolah swasta”.

Sapardi Djoko Damonu, yang sudah membaca naskah Memang Jodoh, menilai novel itu biasa saja, dalam arti bukan yang penting atau terbaik dari karya Marah Roesli. “Berbeda dengan Sitti Nurbaya yang disebut sebagai novel modern pertama dan masuk buku-buku pelajaran sekolah sehingga dianggap sebagai kanon sastra,” ujar guru besar Fakultas llmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu.

Novel itu, kara Sapardi, sangat berbeda dengan novel-novel Marah Roesli sebelumnya, seperti Sitti Nurbaya, yang warna lokalnya sangat kental sehingga sangat sulit dipahami orang di luar Sumatera Barat.

”Dalam Memang Jodoh, Marah Roesli memakai cara yang baru,” ujarnya. ”Gaya novel ini bisa disebut sebagai novel populer, dalam arti sangat mudah dipahami orang banyak. Pengalaman pribadinya ia ceritakan dengan enteng saja.”

-KURNIAWAN, DODY HIDAYAT, RATNANING ASIH, IQBAL MUHTAROM, ANWAR SISWADI, FEBRIYANTI

Sumber : Tempo | Edisi 22-28 Juli 2013 | Hal 60

leenahnasir.blogspot.com

Gadis Hujan

PUKUL tiga sore, kafe tempatku bekerja masih sepi. Pengunjung biasanya ramai selepas jam kerja. Pukul enam atau tujuh sore, kafe ini dipenuhi orang-orang yang baru pulang atau pengunjung setia yang memang sengaja datang untuk nongkrong. Mereka minum, makan, rapat, pacaran atau sekadar ngobrol-ngobrol asyik bersama teman-teman. Ada pula yang ngopi sambil menunggu kemacetan reda, browsing memanfaatkan Wi-Fi gratisan atau sekadar mencari colokan listrik untuk mengisi batere gadget yang sudah lemah. Atau,menjadikannya sekadar tempat singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana.

Sekarang hanya ada tiga meja yang terisi. Satu meja ditempati sepasang remaja yang tampak baru mulai pacaran. Usia mereka mungkin masih 19-20 tahunan. Sejak muncul dari pintu masuk, tangan mereka hampir tak pernah lepas, terus-terusan berpegangan. Si lelaki tiap sebentar merapikan rambut yang tergerai di dahi si perempuan yang punya wajah cantik dan senyum yang manis. Dan si perempuan tiap sebentar meninju bahu si lelaki yang agak gemuk tapi tampan dengan gemas, saat lelaki muda itu melontarkan canda. Kemesraan mereka seolah tak habis-habis, membuat siapa pun yang melihat jadi sedikit iri. Kalau ini bukan Indonesia, aku yakin keduanya sudah saling rangkul dan berciuman. Mereka berpotensi menjadi pasangan yang serasi. Tiap sebentar tersenyum. Tiap sebentar saling berbisik. Aduhai.

Meja kedua ditempati dua orang lelaki yang mungkin berusia pertengahan 30-an, dua orangy ang tampak sedang reuni kecil-kecilan, mungkin dua sahabat yang sudah lama tak jumpa, tiap sebentar keduanya tertawa, sesekali terpingkal-pingkal. Pasti ada lelucon masa lalu yang membuat mereka seperti itu.

Meja ketiga, meja yang berada paling dekat ke pintu masuk, ditempati seorang gadis muda berumur kira-kira 25 tahun. Dia gadis yang cantik. Kulitnya bersih dan terang. Hidungnya pun bangir. Di bibirnya yang pucat, dia memoles lipstik warna beige pekat, yang membuat wajahnya tampak lebih pucat. Gadis itu mengenakan baju dan rok panjang sampai ke mata betis yang dua-duanya didominasi warna hitam. Dia juga membawa sebuah tas jinjing yang juga didominasi warna hitam. Sejak datang, matanya yang gelisah tiap sebentar menoleh ke arah pintu masuk, bahkan kadang-kadang tatapannya tampak lebih jauh, menembus dinding-dinding kaca kafe, sampai ke perempatan yang ramai oleh kendaraaan dan orang yang lalu-lalang. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang, mungkin teman atau pacar. Di depan meja gadis itulah sekarang aku sedang berdiri menunggu dia memesan.

“Saya pesan segelas cappuccino,” katanya.

“Oke. Cappuccino satu. Ada lagi?” Aku mencatat di buku kecilku. Gadis itu melirik jam tangannya, memikirkan sesuatu beberapa detik, kemudian menjawab, “Itu saja. Saya sedang menunggu seseorang. Mungkin nanti kalau dia datang, saya akan pesan lagi.”

“Oh, baik. Jadi, satu cappuccino, ya. Saya akan siapkan.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Aku pergi, dan beberapa menit kemudian datang lagi membawa pesanan gadis itu. Saat aku mau kembali ke belakang, gadis berbaju hitam itu bertanya, “Menurut Mbak, apakah di Depok sekarang sedang hujan?”

Aku mulanya heran mendengar pertanyaan itu. Kenapa tiba-tiba gadis itu menanyakan itu? Tapi kemudian aku menyahut, “Saya tidak tahu, Mbak. Tapi belakangan ‘kan memang sering hujan. Di luar juga sedang mendung sepertinya.”

“Jadi menurut Mbak, apakah di Depok sedang hujan?” kejarnya lagi. Aku tersenyum. Pertanyaan yang sama dan sudah kujawab. Tapi dengan ringan aku menjawab kembali, “Sepertinya begitu.”

Gadis itu diam. Jawabanku berlalu bagai angin begitu saja. Merasa percakapan itu telah selesai, aku memutar badan mau beranjak pergi. Tapi gadis itu tiba-tiba berkata lagi, “Ya, semoga dia tidak kehujanan di jalan.”

“Maaf?”

“Orang yang saya tunggu.”

“Oh.”

Aku menunggu sebentar, berjaga-jaga kalau gadis itu masih ingin bicara, tapi ketika dia mengeluarkan novel “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami dari dalam tas hitamnya dan mulai membaca, aku meninggalkannya.

Menit-menit berlalu seperti biasa. Sejoli yang tampak seperti baru jadian tertawa terkikik-kikik, membuat dua pria di meja lain melirik mereka sembari tersenyum. Dua pria itu tak lama kemudian bangkit dari kursi masing-masing, bersalaman, kemudian salah seorang di antaranya melangkah ke pintu. Pria satunya lagi kemudian mengeluarkan laptop dari sebuah tas ransel, kemudian asyik dengan benda itu. Seorang remaja berpakaian seragam SMA masuk ke kafe, memesan segelas besar Ice Blended Cappuccino kemudian pergi lagi. Lalu, ada satu pelanggan lagi datang dan memesan kopi untuk dibawa pergi.

Pukul empat sore kurang beberapa menit, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Jendela kaca kafe berembun, dan beberapa pejalan kaki yang menghindari hujan merapatkan diri ke pinggiran kafe, membuat cahaya di dalam jadi semakin gelap.

Gadis yang duduk sendirian melambaikan tangan ke arahku. Aku datang mendekat.

“Saya pesan secangkir kopi. Kopi hitam, tanpa gula,” katanya. Aku menggangguk. “Ada lagi?” tanyaku. Dia menggeleng. Gelas Cappuccino-nya hanya berkurang sedikit, mungkin baru seteguk. Bekas lipstiknya menempel di bibir cangkir yang berwarna putih santan. Lalu, dia kini memesan secangkir kopi pahit. Aku berpikir, jangan-jangan dia tak suka cappuccino buatan kami kemudian memesan yang lain. Tapi tunggu… secangkir kopi pahit? Aku jarang menemukan perempuan yang suka jenis minuman ini.

“Kopi pahitnya bukan buat saya, tapi pacar saya, dia sebentar lagi datang,” katanya seolah tahu isi kepalaku. Mendengar kata-katanya itu, aku terus terang jadi sedikit kikuk, kalau tak mau disebut malu. Tatapan matanya—yang baru kusadari ternyata maniknya teramat hitman—kini membuatku agak gugup. Cepat-cepat aku minta maaf kemudian berlalu. Sambil membuatkan kopi pahit pesanannya, aku berpikir aneh: jangan-jangan gadis itu punya indra keenam yang bisa membaca pikiran orang lain.

Aku mengantar kopi hitam tanpa gula pesanannya dan cepat-cepat kembali ke belakang konter tempat tugasku. Beberapa orang yang terjebak hujan akhirnya memilih masuk ke dalam kafe dan duduk-duduk minum kopi sambil menunggu hujan berhenti. Aku dan rekanku Rio bergantian melayani mereka. Pukul setengah lima, hujan mulai reda, dan kerumunan orang-orang di balik dinding kaca kafe pergi satu-satu. Sepasang sejoli yang baru jadian dan pria yang duduk sendirian akhirnya juga pergi, dan kini di kafe hanya ada satu tamu; gadis bermanik mata hitam itu.

Manajerku keluar dari kantor yang ada di belakang dapur, bicara basa-basi denganku dan Rio soal cuaca dan curhat tentang kemacetan yang kian parah, kemudian pergi lagi ke ruangan kerjanya beberapa menit kemudian. Rio pergi pipis ke toilet dan kini hanya ada aku dan gadis itu, gadis yang sedang menunggu pacarnya.

Di depan kafe tampak sepi. Daniel, anak magang yang bertugas menyambut tamu tampak berdiri dengan tampang bosan. Aku mengisi kekosongan dengan merapikan bungkus gula dan krim sambil nonton televisi yang tergantung di pojok kafe. Aku nonton acara infotainment seperti biasa, tentang artis kawin-cerai, dan hal-hal semacam itu. Lalu, aku mendengar suara itu, suara isak perempuan. Awalnya kupikir suara isak dari acara di televisi, tapi suara itu begitu dekat denganku.

Ternyata gadis berbaju hitam itulah yang terisak. Awalnya isakannya nyaris tak terdengar, tapi makin lama makin jelas. Aku agak bingung. Apa yang harus kulakukan? Diam saja atau bertanya? Aku memilih yang pertama. Mungkin dia cuma butuh beberapa detik untuk melepas perasaan sedihnya. Biarkan saja.

Tapi memasuki menit ketiga, isak itu tak juga berhenti. Apakah gerangan yang membuat dirinya seduka itu? Rio, teman sejawatku datang dari toilet dan langsung ikut terpaku menatap gadis yang sedang terisak itu.

“Kenapa dia, Del?” bisik Rio. Aku menggeleng. Rio juga tampak bingung. “Samperin saja, sana,” kata Rio sambil menyenggol pelan siku tanganku. Aku bergeming, meneruskan menonton televisi. “Kamu aja sana,” kataku pada Rio. Rio memilih pura-pura sibuk merapikan meja.

Isak gadis itu kini berubah jadi tangisan. Tepat pada saat itu, dua orang tamu pria masuk dan langsung menatap heran ke arah gadis itu. Aku dan Rio saling pandang. Ini mulai tak baik. Salah seorang dari kami harus melakukan sesuatu.

Rio memilih melayani tamu yang baru masuk, dan aku terpaksa melangkah mendekati gadis itu. “Mbak… maaf, ada apa? Kenapa Mbak menangis?” Aku menata baik-baik kata-kata yang meluncur dari mulutku. Bagaimanapun, aku adalah seorang pelayan dan gadis itu tamuku. Aku harus sesopan mungkin bertanya, agar tak menyinggung perasaannya. Gadis itu menatapku, lalu cepat-cepat menyapu airmata di pipinya dengan saputangan yang juga berwarna hitam.

“Ah, maaf, Mbak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud…” Dia berusaha sekuat tenaga mengulas senyum. Meskipun kini tangisnya sudah berhenti, tetap saja dia gagal mengubur kesedihan itu dari matanya. Usahanya untuk menghapus dukanya tampak sia-sia saja. Aku mendadak merasa iba. Aku jadi ingat Ranti, adik sulungku, yang suka menangis.

“Mbak mau saya ambilkan air putih? Air putih bisa…” kata-kataku tertahan saat gadis itu tiba-tiba meraih lengan kananku dan melalui gerakan yang lembut menyuruhku duduk di depannya.

“Maukah menemani saya sebentar?” katanya meminta, atau lebih tepatnya memohon. Lewat sudut mata, aku menoleh ke arah Rio yang sedang sibuk menyiapkan pesanan para tamu, minta pendapat. Rio hanya mengangkat bahu, lalu kembali sibuk. Aku tak punya pilihan yang lebih baik, jadi kuputuskan duduk di depan gadis itu lalu memberanikan diri menatap matanya.

“Apa yang bisa saya bantu, Mbak? Maaf saya bukannya tidak sopan, tapi…”

“Maafkan saya. Saya menangis karena baru saja diputuskan oleh pacar saya. Saya sedih sekali. Saya tidak menyangka sama sekali dia memutuskan hubungan kami.” Suaranya parau. Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku diam saja. Tangisnya kembali pecah. Rio menatap dari kejauhan dengan gestur bertanya, aku menggeleng pelan.

Setelah menghapus air matanya dengan saputangan, gadis itu meneruskan, “Dia terlambat karena jalanan macet akibat hujan lebat. Tempat parkir mobilnya agak jauh dan dia tidak bawa payung. Jadi dia menerobos hujan deras untuk sampai ke sini. Pakaiannya dan rambutnya basah kuyup. Dia tadi langsung minum kopi yang saya pesan, sampai tak bersisa, mungkin dia kedinginan. Dia memang suka sekali kopi hitam, beda sekali dengan saya. Dia bilang dia sering ke sini, makanya mengajak saya bertemu di sini. Saya sendiri baru pertama kali ke sini. Mungkin Mbak sudah akrab dengan wajahnya. Dia tadi bilang Mbak sering melayaninya.”

Aku bingung. Kucerna lagi apa yang dikatakan gadis itu. Dia bilang pacarnya datang dengan kondisi basah kuyup, duduk bersamanya persis di tempat aku duduk sekarang, dan meminum kopi hitam yang tadi dipesan gadis itu. Tapi aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu saat datang atau saat pergi. Aku hanya tahu gadis itu duduk menunggu sejak pukul setengah tiga, memesan Cappuccino kemudian kopi hitam, dan beberapa menit yang lalu terisak-isak sendirian. Tak ada lelaki. Tak ada siapa pun kecuali aku dan Rio.

“Maaf, tapi tak ada yang datang dan duduk di sini bersama Mbak sejak tadi,” kataku. Gadis itu menatapku, kini dengan sorot sedikit heran. “Apa maksud Mbak?”

“Ya, saya tidak ke mana-mana sejak tadi. Saya tidak lihat ada orang duduk dan ngobrol dengan Mbak di meja ini,” kata saya menjelaskan.

“Jadi, maksud Mbak saya mengarang-ngarang cerita itu?”

Kini aku bingung. Entah mana yang harus kuutamakan, menghargai perasaan tamu atau menghormati keyakinanku sendiri. Sumpah disambar gledek, aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu.

“Maaf, Mbak, saya tidak bermaksud begitu. Tapi saya memang tak melihat pacar Mbak itu.”

“Coba tanya teman Mbak yang menjaga pintu masuk, dia pasti ingat,” katanya, kini dengan nada agak sengit. Aku ke depan memanggil Daniel. Kuceritakan apa yang terjadi. Di depanku dan gadis itu, Daniel mengerutkan keningnya. Pemuda 19 tahun itu menggeleng.

“Tidak, Mbak Della, saya tidak lihat orang denganciri-ciri seperti itu masuk ke kafe,” katanya. Mendengar jawaban Daniel, gadis itu tiba-tiba bangkit, buru-buru mengambil selembar seratus ribuan dari dalam dompet dan menaruhnya di atas meja, kemudian beranjak ke pintu dengan lagak kesal. Begitu tubuhnya hilang di koridor, aku mengambil uang itu dan mengemasi gelas kopi di atas meja.

“Aneh banget ya, Mbak,” kata Daniel.

“Banget,” sahutku. “Ya, sudah, terima kasih, Daniel, silakan kembali ke depan lagi.”

Daniel pergi. Aku mengangkat nampan ke dapur. Saat meletakkannya di tempat cuci piring, sesuatu membuatku nyaris terhenyak. Cangkir kopi hitam yang dipesan gadis tadi untuk pacarnya sudah kosong. Tidak itu saja, aku tiba-tiba merasa bagian pantat celanaku agak lembab. Aku pergi memeriksa jok kursi tempat aku duduk bersama gadis tadi, dan jok kursi itu lembab seperti baru ditumpahi air.

Aku kembali teringat cerita gadis itu tentang pacarnya. Apakah dia berkata yang sebenarnya?

Seketika aku merinding.[]

© Melvi Yendra, 2014

20140519_094604

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Novel karya Eka Kurniawan
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Mei 2014, 252 hlm.
Rp58.000,-

SETELAH 10 tahun tidak menelurkan karya novel, (novel terakhir “Lelaki Harimau” terbit 2004), tahun ini Eka Kurniawan merilis novel terbarunya, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Novel ini konon sudah ditunggu-tunggu penikmat karya sastra Indonesia, setelah novel pertamanya, “Cantik Itu Luka” menjadi salah satu karya sastra fenomenal di Indonesia, setidaknya sejak satu dekade terakhir. “Cantik Itu Luka” telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang dan Malaysia, dan kabarnya saat ini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh sebuah penerbit di negara yang dipimpin Barack Obama. Saya termasuk salah satu di antara pembaca yang menunggu-menunggu karya terbaru ini, yang sampulnya sudah dirilis sejak beberapa bulan lalu oleh pengarangnya.

Novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” berkisah tentang Ajo Kawir, seorang jagoan kampung tukang kelahi dan burungnya yang tidur panjang setelah sebuah peristiwa nahas pada suatu malam jahanam. Ajo Kawir dan Si Tokek, yang waktu itu masih bocah, malam itu berniat mengintip Rona Merah mandi. Rona Merah adalah perempuan sinting tetangga jauh mereka, janda yang suaminya tewas dibunuh orang beberapa tahun lalu.

Tapi apa yang kemudian mereka saksikan jauh di luar sangkaan. Mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih seru daripada sekadar melihat Rona Merah mandi. Dua orang polisi, entah datang darimana, masuk ke dalam rumah Rona Merah, memandikan perempuan itu sampai bersih, untuk kemudian memperkosanya, bergiliran.

Malangnya, kedua bocah itu ketahuan sebelum aksi bejat itu dimulai. Si Tokek berhasil kabur, sementara Ajo Kawir yang tertangkap, dipaksa oleh kedua polisi menonton mereka menggagahi Rona Merah. Tak sampai di situ saja, Ajo Kawir juga dipaksa ikut nyobain tubuh Rona Merah. Tapi anehnya, bukannya bangun dan keras, burung Ajo Kawir malah meringkuk, mengerut, tak bisa bangun. Kedua polisi menertawakannya, lalu melepaskannya. Rona Merah kemudian ditemukan mati, dan kedua polisi itu hilang tak tentu rimbanya.

Ajo Kawir, yang merasa ditimpa aib besar dan teramat memalukan, berusaha membangunkan kembali sang burung, bak seorang pelatih tinju yang ingin membangunkan petarung andalannya yang tiba-tiba ambruk bahkan sebelum ronde pertama dimulai. Ajo Kawir mencoba cara-cara mudah sampai cara-cara radikal, yang membuat Si Tokek khawatir. Ajo Kawir mengolesi burungnya dengan cabe rawit namun gagal membangunkan si burung. Dia lalu membiarkan kemaluannya disengat tiga ekor lebah (terapi lebah kata orang), tapi si burung cuma bengkak, tapi masih tetap tidur seperti semula. Iwan Angsa, ayah Si Tokek, yang menganggap Ajo Kawir sudah seperti anak sendiri, jatuh iba begitu tahu masalah besar yang dihadapi bocah itu. Dia pun membelikan Ajo Kawir buku-buku stensilan, berharap bacaan itu bisa membangunkan sang burung, tapi ternyata gagal. Iwan Angsa juga membawa Ajo Kawir pada seorang pelacur di pinggir rel kereta, menyuruhnya tidur dengan pelacur itu, tapi si pelacur malah merasa terhina karena dirinya tak mempan membangunkan kemaluan Ajo Kawir. Puncaknya, suatu hari, di tengah kemarahan sekaligus keputusasaan, Ajo Kawir meletakkan kemaluannya di atas tanggul kayu dan siap-siap mengayunkan kapak menebasnya. Untung saja, Si Tokek cepat datang. Kalau tidak, daging kecil pemalas di selangkangannya itu akan tinggal kenangan. Setelah usaha terakhir itu, Ajo Kawir menyerah, dan membiarkan burungnya tidur lelap, selama yang ia suka. Si Tokek pun menghiburnya, “Suatu ketika, burungmu akan berdiri lago. Percaya saja. Lagipula, kalau sekarang bisa berdiri, memangnya mau kamu pakai untuk siapa?” Ajo Kawir hanya tersenyum kecil mendengar nasihat kawannya itu. Si Tokek benar juga, katanya.

Namun, kata-kata itu seolah mengiang kembali di kepala Ajo Kawir ketika dia jatuh cinta pada seorang gadis bernama Iteung, cinta yang diiringi kecemasan bahwa kelak, kalau mereka menikah, ia tak akan pernah bisa memberi nafkah batin pada gadis itu. Tapi, ketika mereka akhirnya menikah, Iteung, yang cinta mati pada Ajo Kawir, menerima keadaan suaminya itu, dan merasa sudah bahagia dirinya dipuaskan cuma dengan permainan jari-jari Ajo Kawir. Namun, waktu akhirnya membuktikan, jari-jari Ajo Kawir ternyata tak cukup. Suatu hari, Ajo Kawir menyadari bahwa istrinya telah mendapatkan kepuasan yang tak bisa diberikannya dari lelaki lain. Iteung mual-mual dan ternyata hamil.

Bila Anda sudah tamat baca “Cantik Itu Luka”, Anda mungkin akan sedikit terkejut dengan cara Eka Kurniawan bercerita dalam novel ini. Kalau dalam “Cantik Itu Luka” Eka masih berusaha menahan agar kata-kata yang dipilihnya dalam menggambarkan persetubuhan tidak terlalu liar dan vulgar, maka di novel ini Eka, tampaknya benar-benar melepaskan diri dari segala kekuatiran itu. Dalam novel setebal 242 halaman ini, berserakan kata-kata kontol, memek, pejuh, puting, jembut, selangkangan, dll. Dan kata-kata tersebut, digunakan sebebas-bebasnya oleh sang pengarang, tanpa tedeng aling-aling. Mungkin ada yang bakal memberi vonis “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” sebagai novel stensilan murahan, yang sengaja ingin membuat pembacanya bersenang-senang dengan kisah-kisah selangkangan perempuan dan segala fantasi dan imajinasi liar yang menyertainya. Tapi buat saya, ini bukan novel stensilan picisan. Meski di awal pembacaan, saya sempat menduga, penerbit pasti sudah melalui banyak perdebatan dan diskusi alot internal sebelum meloloskan karya ini. Buat saya, Eka sedang berbicara dengan jujur dan terang tentang banyak kenyataan yang selama ini coba kita halus-haluskan. Seperti kita tahu, kini kenyataan bahkan lebih sadis dan dramatis dari sebuah karya fiksi.

Kisah hidup para tokoh dalam novel ini adalah rangkaian kepahitan yang sejatinya dialami banyak orang Indonesia. Dalam cerita ini, setidaknya ada empat perempuan yang dilecehkan, dipermainkan harkat dan martabatnya melalui tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan. Rona Merah yang diperkosa dua polisi, lalu Si Janda Muda beranak dua yang terpaksa melayani Pak Lebe, induk semang kontrakannya karena tak punya uang untuk membayar sewa. Tidak sampai di situ saja, Si Janda Muda bahkan tak berdaya ketika Pak Lebe membagi kesenangan pribadinya itu dengan kawan-kawannya yang dia ajak datang ke rumah Si Janda Muda. Lalu, ada Nina, perempuan impian Mono Ompong, kenek Ajo Kawir, yang menjadi pelacur saat bahkan ketika buah dadanya belum mekar. Perempuan keempat adalah Iteung sendiri, salah satu tokoh sentral dalam cerita ini, yang belakangan kita tahu dia jago berkelahi bukan karena bakat, tapi memang diniatkannya untuk satu tujuan: membalas perlakuan seorang bangsat berprofesi guru bernama Pak Toto, yang menjadikan Iteung objek kesenangan di ruang kelas dan ruang konseling, saat gadis itu masih bocah SD.

Eka, seolah meneriakkan bahwa kegetiran yang dialami perempuan-perempuan tak berdaya itu sudah menjadi hal lumrah dan kita yang berada di luar kegetiran itu tak bisa berbuat apa-apa selain mengurut dada. Semakin jauh kita dari pusat gempa kegetiran itu, semakin kita tak merasakan apa pun, semakin kita kehilangan kepedulian. Kita tetap bisa melanjutkan hidup, tergelak dan tertawa dan tak terganggu sedikit pun oleh kegetiran-kegetiran itu.

Saya sepakat, Ajo Kawir dan burungnya yang tidur panjang itu, seperti ditulis di belakang sampul buku ini, adalah sebuah alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meski semua orang berusaha membangunkannya. Sejak burungnya tidur panjang, Ajo Kawir lebih arif, tidak lagi ingin membunuh orang, seolah lahir kembali menjadi sosok yang bijaksana, setia pada pasangan, meski dia seorang sopir truk antar kota, sebuah profesi yang demikian lekat dengan kebiasaan jajan perempuan di warung-warung pinggir jalan. Bahkan, ajakan berkelahi dari Si Kumbang, sopir truk lain yang sangat membenci ketenangan Ajo Kawir, tak pernah diladeni Ajo Kawir sampai akhir, karena si Burung tak pernah mengizinkannya. Ajo Kawir bahkan tak bernafsu untuk membalaskan dendam pada dua polisi di malam jahanam belasan tahun lalu itu, yang membuat burungnya tidur panjang, meski jalan untuk membunuh kedua polisi itu sudah dilempangkan seluas-luasnya oleh Paman Gembul, tokoh misterius yang seolah punya kuasa tak terbatas. Novel ini seolah ingin mengajarkan pada kita, bahwa alat kelamin, dengan segala hasrat purba dan fitrah yang dipendam dan dimilikinya, bila tak pandai-pandai menggunakannya, bisa menjadi pemicu rangkaian kehancuran dan kegetiran yang tidak hanya menimpa diri si empunya alat kelamin, tapi juga orang-orang di sekitarnya, baik yang mereka benci maupun yang mereka cintai. Coba simak dialog antara Mono Ompong dan Ajo Kawir ini:

“Burungku bilang aku tak boleh berkelahi.”
“Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?”
“Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.”

“Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” mulai beredar hari ini, 19 Mei 2014, setelah tertunda dari rencana awal, 4 April 2014. Tak lama sebelum ini, juga sudah beredar edisi terbit-ulang kumpulan cerpen Eka Kurniawan, “Corat-Coret di Toilet” (sebelumnya terbit pada 2000). Kedua karya ini diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia Group. Saya sendiri mendapatkan kedua buku ini langsung dari penulisnya, beberapa minggu sebelum buku ini diedarkan secara resmi. Saya berterima kasih pada Eka Kurniawan, bukan hanya karena diberi dua buku karyanya secara cuma-cuma (ditandatangani pula), tapi juga karena dia sudah menulis sebuah karya yang baik, dalam, dan bermakna.[]

www.newyorker.com

Karya-Karya Besar Gabriel García Márquez (1927 – 2014)

“It is not true that people stop pursuing dreams because they grow old, they grow old because they stop pursuing dreams.”

Nama: Gabriel García Márquez
Lahir: 6 Maret 1927 di Aracataca, Magdalena, Kolombia
Meninggal: 17 April 2014 di Mexico City
Pekerjaan: Novelis, Jurnalis, Penulis Skenario, Penerbit
Kebangsaan: Kolombia
Aliran sastra: Realisme Magis
Penghargaan: Pemenang Nobel Sastra 1982

Novel
In Evil Hour (1962)
One Hundred Years of Solitude (1967)
The Autumn of the Patriarch (1975)
Love in the Time of Cholera (1985)
The General in His Labyrinth (1989)
Of Love and Other Demons (1994)


Novelet

Leaf Storm (1955)
No One Writes to the Colonel (1961)
Chronicle of a Death Foretold (1981)
Memories of My Melancholy Whores (2004)

Kumpulan Cerpen
Eyes of a Blue Dog (1947)
Big Mama’s Funeral (1962)
The Incredible and Sad Tale of Innocent Erendira and Her Heartless Grandmother (1978)
Collected Stories (1984)
Strange Pilgrims (1993)
“La mujer que llegaba a las seis” (1950)


Non-fiksi

The Story of a Shipwrecked Sailor (1970)
The Solitude of Latin America (1982)
The Fragrance of Guava (1982, with Plinio Apuleyo Mendoza)
Clandestine in Chile (1986)
News of a Kidnapping (1996)
A Country for Children (1998)
Living to Tell the Tale (2002)

Infografis

sastraalibi.blogspot.com

sastraalibi.blogspot.com

Unsung Hero1

Unsung Hero, Dinda, dan Kita

BEBERAPA hari lalu, saya nonton sebuah TV Commercial (TVC) di situs YouTube yang di-share banyak orang baik di Twitter maupun Facebook. Iklan milik sebuah perusahaan asuransi di Thailand ini diberi judul “Unsung Hero”, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Situs 9GAG.tv melabeli TVC ini dengan judul yang menarik perhatian: This Heartwarming Thai Commercial Will Make You Cry. Inilah yang membuat saya penasaran dan ingin membuktikan; benar nggak sih saya bisa nangis lihat iklan ini?

Adalah seorang pemuda, orang Thailand, seorang pegawai rendahan sepertinya, yang melakukan beberapa hal yang berulang-ulang setiap hari, hal-hal yang mungkin sebagian besar kita juga pernah melihat atau “berhadapan” langsung dengannya, tapi mungkin luput kita perhatikan dan luput menyentuh kita untuk berbuat sesuatu.

Pertama, pemuda ini menemukan sebuah “kesia-siaan” air yang terbuang percuma dari saluran pembuangan sebuah rumah di ruko berlantai dua di pinggir jalan. Tak jauh dari tempat air itu jatuh, ada pot dengan setangkai bunga yang sudah mati kekeringan. Pemuda bertampang ndeso ini menarik pot bunga itu sedikit, sampai tumpahan air tepat menyirami rerantingnya yang sudah kerontang.

Kedua, adalah seorang Ibu Pendorong Gerobak Dagangan–sebut saja begitu–yang tak kuat mengangkat gerobak dagangannya yang berat memanjat trotoar. Kembali, si Unsung Hero ini datang menjadi pahlawan, dan membantu si Ibu Dagangan Gerobak menyelesaikan persoalan kecilnya.

Ketiga, saat makan siang di warung pinggir jalan, si pemuda didatangi seekor anjing tak bertuan, anjing lapar tentunya, dan si pemuda memberikan seluruh ayam yang jadi lauk makan siangnya pada di anjing. Hal ini membuat si pemilik warung tergeleng-geleng heran.

Keempat, ia bertemu dua pengemis perempuan, yang satu dewasa, satu lagi masih kecil, ibu dan anak pastinya. Di depan keduanya ada tulisan “For Education” (dalam bahasa Thailand). Si pemuda mengeluarkan dompet dan satu detik kemudian seluruh isi dompetnya berpindah ke dalam mangkuk di tangan si bocah perempuan. Di hari kedua, saat kembali memberi ibu-anak pengemis itu uang, pedagang kacamata tak jauh dari sana menggeleng-gelengkan kepala.

Unsung Hero

Kelima, saat sudah sampai di rumah, si pemuda diam-diam menggantung sesisir pisang di atas handel pintu sebuah petakan. Kita kemudian melihat, penghuni petakan itu adalah seorang nenek jompo, yang terheran-heran melihat ada pisang tanpa tuan di handel pintunya, tanpa tahu siapa yang meletakkannya di sana.

Keenam, di hari lain, si pemuda memberikan tempat duduknya di bus pada seorang perempuan muda yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka tak saling kenal, tapi lalu berbagi senyuman.

Enam hal itulah yang terjadi. Dan, rupanya, nasib membuat si pemuda ini bertemu lagi dengan Bunga Kering, Ibu Pendorong Gerobak Dagangan, Anjing Lapar, Sepasang Pengemis, Nenek Jompo, dan Perempuan yang Berdiri dalam Bus.

Sampai di sana, saya tak menemukan hal yang membuat saya harus menangis, atau paling tidak, berkaca-kaca. Tapi, adegan-adegan selanjutnya dari video berdurasi 3 menit 5 detik itu akhirnya berhasil membuat saya meneteskan air mata.

Apa yang terjadi? Di hari lain, saat mau memberi uang pada sepasang pengemis, si pemuda tak melihat si bocah kecil. Cuma ada ibunya di sana. Saat wajahnya masih bertanya-tanya, si pemuda mendengar suara bocah perempuan memanggil ibunya. Saat itulah, kemudian, film ini menayangkan adegan yang berhasil menyentuh perasaan saya. Saat si pemuda menoleh ke asal suara, ia melihat si gadis kecil, dalam pakaian sekolah, berdiri tak jauh darinya, dengan senyum malu-malu. Adegan inilah yang membuat mata saya berkaca-kaca.

Unsung Hero

Tapi, cerita belum selesai. Bunga Kering dalam pot di pinggir jalan akhirnya tumbuh segar lagi, bahkan berbunga, bahkan kemudian ada rama-rama hinggap di pucuknya. Si Anjing Lapar, suatu hari akhirnya mengikuti si pemuda pulang ke rumahnya, dan tinggal di sana. Si Nenek Jompo akhirnya tahu siapa pahlawan tak dikenalnya, dan atas kebaikannya itu, si pemuda mendapat pelukan hangat dari tubuh ringkihnya. Video ini selesai.

Saya lalu merenung. Oke, ini hanya sebuah iklan, bukan kisah nyata, yang dibuat sedemikian rupa hanya agar orang tersentuh. Oke, ini Thailand, bukan Indonesia, dan di sini, kita dilarang memberi uang pada pengemis di jalanan. Oke, mungkin saya yang cengeng dan terlalu gampang mengumbar air mata. Tapi coba Anda lihat gambar hasil screenshot di bawah ini:

ibu-hamil

Ya, pagi ini saya membaca kehebohan yang muncul dari komentar seseorang bernama Dinda di akun Path-nya, yang melontarkan kebencian dan kekesalannya pada perempuan hamil di atas kereta yang ujuk-ujuk minta tempat duduk, dan “tak mau usaha”. Nama Dinda langsung ramai dibincangkan, ia bahkan di-bully atas komentarnya itu. Beberapa temannya mendukungnya, tapi sebagian besar orang mencaci maki komentarnya itu.

Saya berpikir, ternyata rasa perisa orang Indonesia benar-benar mulai hilang. Mungkin saya salah, dan kasus Dinda memang tak bisa dijadikan ukuran untuk menyebut bangsa kita sudah kehilangan hati nurani. Saya memang tak bisa main pukul rata begitu saja. Tapi paling tidak, buat saya, apa yang dilontarkan Dinda adalah sedikit dari “ketidakpedulian” yang akhirnya bocor ke permukaan, ketidakpedulian yang berhasil menampakkan wajah aslinya, yang selama ini berhasil disimpan rapat-rapat entah di mana.

Kebencian yang dilontarkan Dinda di Path, adalah pucuk gunung es dari samudera ketidakpedulian kita pada sesama. Dinda barangkali hanya keceplosan memuntahkan kekesalan hatinya, dan dia sudah menerima akibatnya. Tapi selain Dinda, jutaan orang di negara ini sebenarnya memang tak peduli, bedanya, mereka tak keceplosan merutuk, ngomel, dan melontarkan kejijikannya pada perempuan hamil seperti Dinda.

Selama ini, jagad ketidakpedulian itu berhasil di simpan rapat-rapat, ditutup-tutupi dengan wajah-wajah palsu kita. Dalam bahasa ringkas, bangsa ini sebenarnya memang tak punya lagi kepedulian. Kita bukan pemuda lugu dalam video Unsung Hero. Bahkan kita mungkin adalah sosok-sosok seperti si Tukang Warung dan si Tukang Kacamata dalam video itu, yang cuma bisa menggeleng melihat seseorang berkorban demi orang lain. Semoga saya salah.

Dinda dan kita bukanlah si Unsung Hero. Kita tak pernah menyelamatkan hidup setangkai bunga bukan punya kita di pinggir jalan (ada yang pernah?). Kita tak pernah membantu ibu-ibu pedagang mendorong gerobaknya yang berat di tengah pasar ( ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi makan anjing lapar dengan sepotong daging ayam dari piring kita (ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi pengemis uang tanpa disertai perasaan curiga jangan-jangan ini pengemis gajinya dua-tiga kali lipat besarnya dari kita (ada yang pernah?). Dan, kita tak pernah peduli pada para tetangga kita yang hidupnya papa (ada yang pernah?).

Sebagian kita mungkin masih peduli. Tapi, mungkin, sambil merutuk di dalam hati. Jadi, Dinda dan kita, sebenarnya serupa tapi tak sama.[]

Spike-Jonze-Her-ss-02

Her (2013)

“This was a great movie. It had a believable love for once, and it was between an OS and a human. The characters were so believable, and I loved every second of what I was watching.”

Buat saya, film ini teramat indah, teramat manis, teramat romantis.

Ya, ini film cinta, sebuah film science fiction romantic drama yang menceritakan kisah cinta antara Theodore Twombly dan Samantha. Dalam banyak kesempatan, saat memperkenalkan sosok Samantha pada teman-temannya, Theo selalu menyebut Samantha sebagai sosok yang “tidak punya sistem otak” seperti manusia, karena perempuan bersuara seksi ini adalah sebuah karakter jenius yang diciptakan sebuah Operating System.

Ya, mereka hidup di tahun 2025, dan saat itu teknologi informasi sudah demikian canggih. Theo pria kesepian, tengah mengurus perceraian dengan istrinya, dan di tengah kehampaan jiwanya, membeli dan menginstal sebuah aplikasi canggih bernama OS1 yang memungkinkan user punya teman atau pasangan maya. Saat instalasi selesai, Theo mendapatkan seorang teman baru bernama Samantha. Samantha bukan hanya jadi teman ngobrol yang asyik, ia bahkan bisa membaca perasaan, menghibur saat gundah, membuka dan membalas email, menyambungkan telepon ke seseorang, bahkan nyanyi bareng. Samantha punya mata dan punya telinga digital, perasaan dan logikanya dibangun oleh program yang nyaris sempurna, yang sayangnya tentu saja tidak menyediakan raga, karena Samantha hanyalah sebuah OS, bukan robot. Kedua sosok berlainan dimensi ini lalu jatuh cinta.

Layaknya pasangan normal, mereka bisa melakukan banyak hal seperti layaknya orang pacaran (termasuk phonesex, misalnya). Samantha bisa kangen saat Theo sibuk dan sudah berjam-jam tidak menghubunginya, Samantha juga cemburu dan takut kehilangan. Mungkin, bila dipikir-pikir, ini agak menggelikan, tapi begitulah. Spike Jonze, yang telah menulis dan menyutradarai film ini, rupanya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dengan akal dan perasaan manusia di masa depan. Di masa di mana Theo dan Samantha hidup, manusia tidak lagi menggunakan pakem “yang jauh dekat, yang dekat jauh” seperti yang kita rasakan saat ini setelah gempa sosial media melanda dunia, saat semua orang sibuk bersosialisai di media sosial dan lupa dengan orang-orang di dekat mereka. Dalam film ini, kondisi terparah sudah diprediksi, bahwa saat kau gagal membangun sebuah hubungan dengan sesamamu, kau bisa mencobanya dengan program canggih seperti OS1. Agak ngeri-ngeri sedap juga bila ini jadi nyata.

Oh, ya, dialog-dialog romantis dalam film yang dibintangi Joaquin Phoenix (Theo) dan Scarlett Johansson (Samantha) ini mengingatkan saya pada “Before Sunrise”, film komedi romantis produksi 1995 yang dibintangi Ethan Hawke dan Julie Delby. Menyentuh dan menggetarkan. Scene-scene-nya juga keren. Tak keliru kalau di ajang Oscar yang baru lalu film ini masuk di tiga nominasi, yaitu Best Actor, Best Picture, dan Best Screenplay.[]

Judul: Her
Sutradara: Spike Jonze
Penulis naskah: Spike Jonze
Pemain: Joaquin Phoenix, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, Scarlett Johansson
Studio: Annapurna Pictures
Rilis: 13 Oktober 2013
Durasi: 126 menit
Bahasa: Inggris
Biaya produksi: U$D 23 juta

Foto diambil dari sini.

imdb.com

Tak Semua Harus Berakhir dengan Kebencian

JOSEPH SILBERG (Jules Sitruk), yang berusia 18 tahun, tengah menjalani serangkaian tes untuk mengikuti wajib militer di Israeli Defence Forces (Angkatan Pertahanan Israel). Saat menerima hasil tes darah, Orith, ibu Joseph, menemukan keanehan karena jenis darah Joseph berbeda dari mereka. Setelah menjalani tes lagi, termasuk DNA, mereka menemukan Joseph bukanlah anak mereka.

Konflik yang awalnya terjadi hanya di lingkungan keluarga, belakangan merembet menjadi xenophobia antara dua bangsa yang sudah sekian lama saling membenci. Penyelidikan yang dilakukan di rumah sakit tempat Joseph dilahirkan 18 tahun silam, memberi hasil yang mengejutkan. Serangan bom yang terjadi pada malam ia lahir, membuat orok Joseph Silberg tertukar dengan bayi lain di tempat penampungan. Celakanya, bayi lain itu adalah putra sebuah keluarga Palestina. Bayi itu, Yacine Al Bezaaz, lahir pada malam yang sama.

Fakta bahwa satu keluarga Yahudi telah membesarkan seorang anak Palestina, dan satu keluarga Palestina telah membesarkan satu anak Yahudi, menjadi urat nadi konflik dalam film ini. Persoalannya justru bukan karena mereka jadi jijik karena telah membesarkan anak seorang musuh, tapi sebaliknya, cinta mereka sudah terlalu besar sehingga ketakutan terbesar mereka justru si anak kembali ke keluarga asalnya.

Sejak awal, film besutan sutradara Lorraine Lévy ini sudah merangsang rasa ingin tahu penonton. Tiap menit, penonton menunggu, apa yang akan terjadi antara dua keluarga dari dua bangsa yang sampai hari ini masih saling serang itu. Cerita berkembang di bawah masalah yang melibatkan konflik Israel-Palestina di mana kedua ayah enggan menerima situasi ini, yang tak rela melepas anak bujang mereka kembali ke tempat asalnya, sementara kedua ibu bahagia dengan harapan bisa semakin dekat dengan anak-anak kandung mereka. Joseph adalah calon musisi, yang punya karier gemilang di masa depan, dan Yacine baru saja lulus dari kuliah dokter di Prancis. Dua remaja ini anak kesayangan di masing-masing pihak, di punggung mereka tersampir banyak cinta, harapan, dan kebanggaan semua keluarga.

Lorraine Lévy lalu menggiring film ini dengan pesan yang teramat manis. Segala persoalan dan konflik ini kemudian ternyata bisa diselesaikan dengan mudah. Pusat persoalan, Joseph dan Yacine, lucunya, malah akrab bagai dua saudara kembar yang sudah lama terpisahkan, menjalin persahabatan yang di mata keluarga masing-masing tampak “aneh”, seaneh kedekatan seorang Palestina dan seorang Israel hari ini. Karena kedua anak laki-laki ini berteman, kedua keluarga harus mengevaluasi kembali keyakinan dan sikap xenophobia mereka sebelum terhubung dengan identitas asli mereka.

Apakah Joseph dan Yacine akhirnya angkat koper dari rumah masing-masing dan kembali ke keluarga asal mereka yang berada di balik tembok tinggi yang memisahkan Israel dan Palestina? Saya tidak ingin tulisan ini jadi spoiler. Silakan cari sendiri filmnya dan cari tahu sendiri akhirnya.[]

Judul: The Other Son
Sutradara: Lorraine Lévy
Produser: Virginie Lacombe, Raphael Berdugo
Pemain: Emmanuelle Devos, Pascal Elbé, Jules Sitruk, Mehdi Dehbi, Areen Omari, Khalifa Natour
Musik: Dhafer Youssef
Rilis: 23 Maret 2012 (Alès Film Festival), 4 April 2012 (Prancis)
Durasi: 110 menit

20131211_073030

Di Bawah Bendera Merah (Mo Yan)

SAYA merasa agak rendah diri mau membahas buku Pemenang Hadiah Nobel Sastra 2012 ini. Soalnya, para suhu dan senior saya sudah sangat dalam mengulasnya, di antaranya bisa Anda tengok di Artefak Kenangan Mo Yan oleh Damhuri Muhammad, atau ulasan yang apik dari Hernadi Tanzil di “Di Bawah Bendera Merah by Mo Yan“.

Yang ingin saya sampaikan tentang buku ini, bahwa perjalanan hidup Mo Yan, yang berangkat dari masa-masa kecil dan remajanya yang sulit, tetap bisa menjadi kisah yang menarik. Nyaris tak ada kata-kata sulit yang tak terpahami; semuanya diungkapkan dengan kata-kata dan kalimat yang sederhana, tak berbelit-belit (juga tak bergenit-genit dengan diksi). Perasaan cinta, getar-getir pengungkapannya, dan bagaimana semua kegalauannya terselesaikan, juga diungkapkan dengan enak. Akhir kisah Mo Yan dan Lu Wenli, si gadis yang diam-diam dia cintai, juga berakhir sangat wajar: tanpa drama seperti telenovela, tanpa air mata.

Tentu, bukan sisi ini saja yang membuat karya Mo Yan ini merebut penghargaan paling bergengsi di panggung sastra dunia, dan berhak atas hadiah uang sekitar 12 miliar rupiah. Mo Yan, lagi-lagi dengan santai membawa sosok sebuah truk Gaz 51, sebuah truk militer buatan Soviet, truk yang dipakai oleh tentara Cina semasa perang, menjadi sosok yang sangat hidup, bahkan menjadi urat nadi cerita dari awal hingga akhir.

Akan truk Gaz 51 ini, saya jadi teringat pada kata-kata Melquiades, tokoh gipsi di pembukaan novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez, “Tiap benda memiliki hidupnya sendiri, persoalannya hanyalah bagaimana membangunkan jiwa mereka.” Bagi Mo Yan–juga bagi semua anak lelaki lain di desa kelahirannya–truk Gaz 51 adalah benda impian yang dibawa-bawa sampai ke tempat tidur, tidak hanya membuat decak kagum, tapi menjadi hasrat yang terbawa-bawa sampai mereka dewasa. Dan itu terbukti pada teman masa kecil Mo Yan lainnya, He Zhiwu.

Sayangnya, novel otobigrafis setebal 140 halaman ini terlalu “pelit” mengungkap proses kreatif sang pengarang. Mo Yan sedikit sekali bercerita tentang proses kreatif kepengarangannya, terutama bagaimana novel-novelnya yang sangat terkenal, dilahirkan. Mungkin Mo Yan tak ingin rahasia dapurnya terdedah terlalu banyak ke ruang publik, atau memang dia punya alasan lain yang belum kita ketahui. Lepas dari itu semua, buku ini sangat saya rekomendasikan.[]

Data Buku:

Judul: Di Bawah Bendera Merah
Penulis: Mo Yan
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Juli 2013
Tebal: 140 hlm

Foto: moviemail.com

Norwegian Wood (2010)

MEMBANDING-bandingkan sebuah novel dengan versi film dari novel tersebut memang perbuatan yang “tak adil”, selain itu juga (terkadang) tak ada gunanya, tapi itulah yang sering saya lakukan. Usai membaca sebuah novel, saya akan menonton versi filmnya, itu pun bila novelnya diangkat jadi film. Baca novelnya kemudian tonton filmnya, kemudian bandingkan, begitulah pola yang sering saya lakukan. Jarang-jarang sebaliknya. Saya sering menyesal membaca sebuah novel yang filmnya sudah saya tonton duluan. Kenapa? Biasanya imajinasi saat menonton film kalah kampiun dibanding imajinasi saat membaca novel.

Sudah lazim terjadi, versi film dari sebuah novel akan berbeda dari novelnya. Beberapa sebab bisa dijadikan alasan, tapi yang terutama tentulah bahwa film tidak bisa memvisualisasikan segala imajinasi yang bisa dibangun oleh sebuah novel di benak pembaca.

Setelah menamatkan “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami, saya mencari-cari film dari novel ini, tapi tak berhasil menemukannya. Mungkin usaha saya kurang maksimal, ya? Film ini dirilis tahun 2010, dan pramuniaga di beberapa toko yang menjual DVD mengaku tak kenal judul film ini. Bahkan seorang Mas-Mas penjual DVD di sebuah toko dengan lucu menjawab, “Saya belum pernah menjual film Norwegia.” Haha. Saya juga mencari film ini ke lapak-lapak penjual DVD bajakan, tapi mereka tak tahu film ini. “Norwegian Wood” mungkin tak sepopuler “The American”, “Black Swan”, “Blue Valentine”, “The King’s Speech”, “Inception”, atau bahkan “Never Let Me Go” (sebuah film yang diangkat dari novel dengan judul sama karya penulis Jepang, Kazuo Ishiguro) yang dirilis di tahun yang sama dengan film “Norwegian Wood”. Tapi, ya, sudahlah, akhirnya jalan terakhir adalah menontonnya di YouTube, itu pun yang lengkap cuma bersubtitle Lithuania.

“Norwegian Wood” ditulis dan disutradarai oleh Tran Anh Hung dan dibintangi Ken’ichi Matsuyama (sebagai Toru Watanabe), Rinko Kikuchi (sebagai Naoko), dan Kiko Mizuhara (sebagai Midori). Begitu melihat karakter Naoko di film ini, saya langsung teringat film “Babel” di mana Rinko Kikuchi ikut bermain.

Banyak hal yang ada dalam novel tak ada dalam film berdurasi 2 jam 8 menit 22 detik ini. Lagi pula, kalau Tran Anh Hung menampilkan semua yang ada di novel ke layar, film ini akan jauh lebih panjang dan… “membosankan”. Tapi saya mengacungkan jempol untuk kedua-duanya, karena baik novel atau filmnya, sama-sama membuat saya merenung dan memikirkan karakter-karakter yang ada di dalamnya (terutama Wanatabe, Naoko, dan Midori) cukup lama.

“Norwegian Wood” adalah film drama percintaan yang tergolong “berat” untuk disukai penonton kebanyakan, terutama remaja, terutama lagi remaja Indonesia yang tak terlalu suka membaca sastra. Tapi, seperti yang sudah-sudah, kalau sudah jatuh cinta pada novelnya, tentu, seperti saya, Anda akan tertarik menonton filmnya.[]

Egy Massadiah (paling kiri) dan Sukmawati Soekarnoputri (kedua dari kanan) bersama para pemain (foto: @nining_ningsih)

Ketika Bung Karno di Ende

SETELAH menembus kemacetan luar biasa yang mendera sebagian besar jalan utama di Jakarta Kamis sore (28 November 2013) kemarin, saya akhirnya sampai juga ke lokasi pemutaran perdana film “Ketika Bung di Ende” di Studio XXI Djakarta Theatre, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Jam saya menunjuk pukul 19.47 WIB. Untuk sampai ke sana dari rumah saya di Depok, saya menghabiskan waktu 3 jam 47 menit. Fiuh!

Saya melangkah ke Djakarta Theatre, masuk ke toilet untuk pipis, cuci muka, dan merapikan pakaian, lalu bergabung dengan belasan tamu yang sudah datang lebih dulu. Saya mengira saya sudah terlambat, karena rekan yang mengundang bilang acara dimulai pukul 18.00 WIB. Di pintu masuk, semua yang datang diberi sebuah buku berjudul “Bung Karno Ata Ende”, yang ditulis Roso Daras dan Egy Massadiah. Nama yang saya sebut terakhir, belakangan saya tahu ternyata produser film ini.

dok. pribadi

(Buku “Bung Karno Ata Ende”)

Film “Ketika Bung di Ende” ini adalah produksi bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (melalui Direktur Jenderal Kebudayaan) dan PT Cahaya Kristal Media Utama (Cakrisma) sebagai pelaksana produksi. Ditulis dan disutradarai oleh Viva Westi. Malam itu, beberapa aktor dan aktris yang bermain dalam film ini tampak hadir, seperti Baim Wong (sebagai Bung Karno), Paramitha Rusady (sebagai Inggit Ganarsih), dan aktor pemeran pembantu seperti Tio Pakusadewo dan Ninik L. Karim.

Salah satu cuplikan dalam film "Ketika Bung di Ende"

Salah satu cuplikan dalam film “Ketika Bung di Ende”

Film ini berkisah tentang pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada masa kolonial Belanda (1934-1938). Pembuatan film ini disebut-sebut merupakan bagian dari grand design Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mewujudkan pendirian Museum Presiden. Museum itu didirikan di lingkungan Istana Bogor dan ditargetkan akan rampung pada April 2014.

“Ini adalah film sejarah. Sejarah orang besar Indonesia. Karena itu, saya enggak mau sembarangan. Apalagi penulisan skenarionya saja melibatkan para sejarawan serta para ahli sejarah Sukarno,” ungkap Viva Westi dalam buku “Bung Karna Ata Ende”. Pengambilan gambar dilakukan di Ende sejak 28 September – 22 Oktober 2013.[]