leenahnasir.blogspot.com

Gadis Hujan

PUKUL tiga sore, kafe tempatku bekerja masih sepi. Pengunjung biasanya ramai selepas jam kerja. Pukul enam atau tujuh sore, kafe ini dipenuhi orang-orang yang baru pulang atau pengunjung setia yang memang sengaja datang untuk nongkrong. Mereka minum, makan, rapat, pacaran atau sekadar ngobrol-ngobrol asyik bersama teman-teman. Ada pula yang ngopi sambil menunggu kemacetan reda, browsing memanfaatkan Wi-Fi gratisan atau sekadar mencari colokan listrik untuk mengisi batere gadget yang sudah lemah. Atau,menjadikannya sekadar tempat singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana.

Sekarang hanya ada tiga meja yang terisi. Satu meja ditempati sepasang remaja yang tampak baru mulai pacaran. Usia mereka mungkin masih 19-20 tahunan. Sejak muncul dari pintu masuk, tangan mereka hampir tak pernah lepas, terus-terusan berpegangan. Si lelaki tiap sebentar merapikan rambut yang tergerai di dahi si perempuan yang punya wajah cantik dan senyum yang manis. Dan si perempuan tiap sebentar meninju bahu si lelaki yang agak gemuk tapi tampan dengan gemas, saat lelaki muda itu melontarkan canda. Kemesraan mereka seolah tak habis-habis, membuat siapa pun yang melihat jadi sedikit iri. Kalau ini bukan Indonesia, aku yakin keduanya sudah saling rangkul dan berciuman. Mereka berpotensi menjadi pasangan yang serasi. Tiap sebentar tersenyum. Tiap sebentar saling berbisik. Aduhai.

Meja kedua ditempati dua orang lelaki yang mungkin berusia pertengahan 30-an, dua orangy ang tampak sedang reuni kecil-kecilan, mungkin dua sahabat yang sudah lama tak jumpa, tiap sebentar keduanya tertawa, sesekali terpingkal-pingkal. Pasti ada lelucon masa lalu yang membuat mereka seperti itu.

Meja ketiga, meja yang berada paling dekat ke pintu masuk, ditempati seorang gadis muda berumur kira-kira 25 tahun. Dia gadis yang cantik. Kulitnya bersih dan terang. Hidungnya pun bangir. Di bibirnya yang pucat, dia memoles lipstik warna beige pekat, yang membuat wajahnya tampak lebih pucat. Gadis itu mengenakan baju dan rok panjang sampai ke mata betis yang dua-duanya didominasi warna hitam. Dia juga membawa sebuah tas jinjing yang juga didominasi warna hitam. Sejak datang, matanya yang gelisah tiap sebentar menoleh ke arah pintu masuk, bahkan kadang-kadang tatapannya tampak lebih jauh, menembus dinding-dinding kaca kafe, sampai ke perempatan yang ramai oleh kendaraaan dan orang yang lalu-lalang. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang, mungkin teman atau pacar. Di depan meja gadis itulah sekarang aku sedang berdiri menunggu dia memesan.

“Saya pesan segelas cappuccino,” katanya.

“Oke. Cappuccino satu. Ada lagi?” Aku mencatat di buku kecilku. Gadis itu melirik jam tangannya, memikirkan sesuatu beberapa detik, kemudian menjawab, “Itu saja. Saya sedang menunggu seseorang. Mungkin nanti kalau dia datang, saya akan pesan lagi.”

“Oh, baik. Jadi, satu cappuccino, ya. Saya akan siapkan.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Aku pergi, dan beberapa menit kemudian datang lagi membawa pesanan gadis itu. Saat aku mau kembali ke belakang, gadis berbaju hitam itu bertanya, “Menurut Mbak, apakah di Depok sekarang sedang hujan?”

Aku mulanya heran mendengar pertanyaan itu. Kenapa tiba-tiba gadis itu menanyakan itu? Tapi kemudian aku menyahut, “Saya tidak tahu, Mbak. Tapi belakangan ‘kan memang sering hujan. Di luar juga sedang mendung sepertinya.”

“Jadi menurut Mbak, apakah di Depok sedang hujan?” kejarnya lagi. Aku tersenyum. Pertanyaan yang sama dan sudah kujawab. Tapi dengan ringan aku menjawab kembali, “Sepertinya begitu.”

Gadis itu diam. Jawabanku berlalu bagai angin begitu saja. Merasa percakapan itu telah selesai, aku memutar badan mau beranjak pergi. Tapi gadis itu tiba-tiba berkata lagi, “Ya, semoga dia tidak kehujanan di jalan.”

“Maaf?”

“Orang yang saya tunggu.”

“Oh.”

Aku menunggu sebentar, berjaga-jaga kalau gadis itu masih ingin bicara, tapi ketika dia mengeluarkan novel “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami dari dalam tas hitamnya dan mulai membaca, aku meninggalkannya.

Menit-menit berlalu seperti biasa. Sejoli yang tampak seperti baru jadian tertawa terkikik-kikik, membuat dua pria di meja lain melirik mereka sembari tersenyum. Dua pria itu tak lama kemudian bangkit dari kursi masing-masing, bersalaman, kemudian salah seorang di antaranya melangkah ke pintu. Pria satunya lagi kemudian mengeluarkan laptop dari sebuah tas ransel, kemudian asyik dengan benda itu. Seorang remaja berpakaian seragam SMA masuk ke kafe, memesan segelas besar Ice Blended Cappuccino kemudian pergi lagi. Lalu, ada satu pelanggan lagi datang dan memesan kopi untuk dibawa pergi.

Pukul empat sore kurang beberapa menit, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Jendela kaca kafe berembun, dan beberapa pejalan kaki yang menghindari hujan merapatkan diri ke pinggiran kafe, membuat cahaya di dalam jadi semakin gelap.

Gadis yang duduk sendirian melambaikan tangan ke arahku. Aku datang mendekat.

“Saya pesan secangkir kopi. Kopi hitam, tanpa gula,” katanya. Aku menggangguk. “Ada lagi?” tanyaku. Dia menggeleng. Gelas Cappuccino-nya hanya berkurang sedikit, mungkin baru seteguk. Bekas lipstiknya menempel di bibir cangkir yang berwarna putih santan. Lalu, dia kini memesan secangkir kopi pahit. Aku berpikir, jangan-jangan dia tak suka cappuccino buatan kami kemudian memesan yang lain. Tapi tunggu… secangkir kopi pahit? Aku jarang menemukan perempuan yang suka jenis minuman ini.

“Kopi pahitnya bukan buat saya, tapi pacar saya, dia sebentar lagi datang,” katanya seolah tahu isi kepalaku. Mendengar kata-katanya itu, aku terus terang jadi sedikit kikuk, kalau tak mau disebut malu. Tatapan matanya—yang baru kusadari ternyata maniknya teramat hitman—kini membuatku agak gugup. Cepat-cepat aku minta maaf kemudian berlalu. Sambil membuatkan kopi pahit pesanannya, aku berpikir aneh: jangan-jangan gadis itu punya indra keenam yang bisa membaca pikiran orang lain.

Aku mengantar kopi hitam tanpa gula pesanannya dan cepat-cepat kembali ke belakang konter tempat tugasku. Beberapa orang yang terjebak hujan akhirnya memilih masuk ke dalam kafe dan duduk-duduk minum kopi sambil menunggu hujan berhenti. Aku dan rekanku Rio bergantian melayani mereka. Pukul setengah lima, hujan mulai reda, dan kerumunan orang-orang di balik dinding kaca kafe pergi satu-satu. Sepasang sejoli yang baru jadian dan pria yang duduk sendirian akhirnya juga pergi, dan kini di kafe hanya ada satu tamu; gadis bermanik mata hitam itu.

Manajerku keluar dari kantor yang ada di belakang dapur, bicara basa-basi denganku dan Rio soal cuaca dan curhat tentang kemacetan yang kian parah, kemudian pergi lagi ke ruangan kerjanya beberapa menit kemudian. Rio pergi pipis ke toilet dan kini hanya ada aku dan gadis itu, gadis yang sedang menunggu pacarnya.

Di depan kafe tampak sepi. Daniel, anak magang yang bertugas menyambut tamu tampak berdiri dengan tampang bosan. Aku mengisi kekosongan dengan merapikan bungkus gula dan krim sambil nonton televisi yang tergantung di pojok kafe. Aku nonton acara infotainment seperti biasa, tentang artis kawin-cerai, dan hal-hal semacam itu. Lalu, aku mendengar suara itu, suara isak perempuan. Awalnya kupikir suara isak dari acara di televisi, tapi suara itu begitu dekat denganku.

Ternyata gadis berbaju hitam itulah yang terisak. Awalnya isakannya nyaris tak terdengar, tapi makin lama makin jelas. Aku agak bingung. Apa yang harus kulakukan? Diam saja atau bertanya? Aku memilih yang pertama. Mungkin dia cuma butuh beberapa detik untuk melepas perasaan sedihnya. Biarkan saja.

Tapi memasuki menit ketiga, isak itu tak juga berhenti. Apakah gerangan yang membuat dirinya seduka itu? Rio, teman sejawatku datang dari toilet dan langsung ikut terpaku menatap gadis yang sedang terisak itu.

“Kenapa dia, Del?” bisik Rio. Aku menggeleng. Rio juga tampak bingung. “Samperin saja, sana,” kata Rio sambil menyenggol pelan siku tanganku. Aku bergeming, meneruskan menonton televisi. “Kamu aja sana,” kataku pada Rio. Rio memilih pura-pura sibuk merapikan meja.

Isak gadis itu kini berubah jadi tangisan. Tepat pada saat itu, dua orang tamu pria masuk dan langsung menatap heran ke arah gadis itu. Aku dan Rio saling pandang. Ini mulai tak baik. Salah seorang dari kami harus melakukan sesuatu.

Rio memilih melayani tamu yang baru masuk, dan aku terpaksa melangkah mendekati gadis itu. “Mbak… maaf, ada apa? Kenapa Mbak menangis?” Aku menata baik-baik kata-kata yang meluncur dari mulutku. Bagaimanapun, aku adalah seorang pelayan dan gadis itu tamuku. Aku harus sesopan mungkin bertanya, agar tak menyinggung perasaannya. Gadis itu menatapku, lalu cepat-cepat menyapu airmata di pipinya dengan saputangan yang juga berwarna hitam.

“Ah, maaf, Mbak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud…” Dia berusaha sekuat tenaga mengulas senyum. Meskipun kini tangisnya sudah berhenti, tetap saja dia gagal mengubur kesedihan itu dari matanya. Usahanya untuk menghapus dukanya tampak sia-sia saja. Aku mendadak merasa iba. Aku jadi ingat Ranti, adik sulungku, yang suka menangis.

“Mbak mau saya ambilkan air putih? Air putih bisa…” kata-kataku tertahan saat gadis itu tiba-tiba meraih lengan kananku dan melalui gerakan yang lembut menyuruhku duduk di depannya.

“Maukah menemani saya sebentar?” katanya meminta, atau lebih tepatnya memohon. Lewat sudut mata, aku menoleh ke arah Rio yang sedang sibuk menyiapkan pesanan para tamu, minta pendapat. Rio hanya mengangkat bahu, lalu kembali sibuk. Aku tak punya pilihan yang lebih baik, jadi kuputuskan duduk di depan gadis itu lalu memberanikan diri menatap matanya.

“Apa yang bisa saya bantu, Mbak? Maaf saya bukannya tidak sopan, tapi…”

“Maafkan saya. Saya menangis karena baru saja diputuskan oleh pacar saya. Saya sedih sekali. Saya tidak menyangka sama sekali dia memutuskan hubungan kami.” Suaranya parau. Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku diam saja. Tangisnya kembali pecah. Rio menatap dari kejauhan dengan gestur bertanya, aku menggeleng pelan.

Setelah menghapus air matanya dengan saputangan, gadis itu meneruskan, “Dia terlambat karena jalanan macet akibat hujan lebat. Tempat parkir mobilnya agak jauh dan dia tidak bawa payung. Jadi dia menerobos hujan deras untuk sampai ke sini. Pakaiannya dan rambutnya basah kuyup. Dia tadi langsung minum kopi yang saya pesan, sampai tak bersisa, mungkin dia kedinginan. Dia memang suka sekali kopi hitam, beda sekali dengan saya. Dia bilang dia sering ke sini, makanya mengajak saya bertemu di sini. Saya sendiri baru pertama kali ke sini. Mungkin Mbak sudah akrab dengan wajahnya. Dia tadi bilang Mbak sering melayaninya.”

Aku bingung. Kucerna lagi apa yang dikatakan gadis itu. Dia bilang pacarnya datang dengan kondisi basah kuyup, duduk bersamanya persis di tempat aku duduk sekarang, dan meminum kopi hitam yang tadi dipesan gadis itu. Tapi aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu saat datang atau saat pergi. Aku hanya tahu gadis itu duduk menunggu sejak pukul setengah tiga, memesan Cappuccino kemudian kopi hitam, dan beberapa menit yang lalu terisak-isak sendirian. Tak ada lelaki. Tak ada siapa pun kecuali aku dan Rio.

“Maaf, tapi tak ada yang datang dan duduk di sini bersama Mbak sejak tadi,” kataku. Gadis itu menatapku, kini dengan sorot sedikit heran. “Apa maksud Mbak?”

“Ya, saya tidak ke mana-mana sejak tadi. Saya tidak lihat ada orang duduk dan ngobrol dengan Mbak di meja ini,” kata saya menjelaskan.

“Jadi, maksud Mbak saya mengarang-ngarang cerita itu?”

Kini aku bingung. Entah mana yang harus kuutamakan, menghargai perasaan tamu atau menghormati keyakinanku sendiri. Sumpah disambar gledek, aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu.

“Maaf, Mbak, saya tidak bermaksud begitu. Tapi saya memang tak melihat pacar Mbak itu.”

“Coba tanya teman Mbak yang menjaga pintu masuk, dia pasti ingat,” katanya, kini dengan nada agak sengit. Aku ke depan memanggil Daniel. Kuceritakan apa yang terjadi. Di depanku dan gadis itu, Daniel mengerutkan keningnya. Pemuda 19 tahun itu menggeleng.

“Tidak, Mbak Della, saya tidak lihat orang denganciri-ciri seperti itu masuk ke kafe,” katanya. Mendengar jawaban Daniel, gadis itu tiba-tiba bangkit, buru-buru mengambil selembar seratus ribuan dari dalam dompet dan menaruhnya di atas meja, kemudian beranjak ke pintu dengan lagak kesal. Begitu tubuhnya hilang di koridor, aku mengambil uang itu dan mengemasi gelas kopi di atas meja.

“Aneh banget ya, Mbak,” kata Daniel.

“Banget,” sahutku. “Ya, sudah, terima kasih, Daniel, silakan kembali ke depan lagi.”

Daniel pergi. Aku mengangkat nampan ke dapur. Saat meletakkannya di tempat cuci piring, sesuatu membuatku nyaris terhenyak. Cangkir kopi hitam yang dipesan gadis tadi untuk pacarnya sudah kosong. Tidak itu saja, aku tiba-tiba merasa bagian pantat celanaku agak lembab. Aku pergi memeriksa jok kursi tempat aku duduk bersama gadis tadi, dan jok kursi itu lembab seperti baru ditumpahi air.

Aku kembali teringat cerita gadis itu tentang pacarnya. Apakah dia berkata yang sebenarnya?

Seketika aku merinding.[]

© Melvi Yendra, 2014

kompasiana.com

JK, Sang Negosiator Ulung

SUATU hari di tahun 2001, di tengah sebuah acara di lapangan terbuka di Kecamatan Tentena, Kabupaten Poso, yang juga terkenal sebagai basis kelompok Kristen, sejumlah pejabat dari Jakarta menyaksikan orasi yang silih berganti dari tokoh-tokoh lokal. Semua jelas menebar rasa marah antar kelompok. Bahkan, satu di antara pembicara sudah menebarkan rasa marah kepada pihak pemerintah dan menunjukkan gelagat perlawanan lebih jauh. Melihat suasana yang kian memanas itu, seorang lelaki serta merta mengambil mikrofon dan mulai berbicara. Wajah lelaki itu tampak kesal.

“Ayo, siapa tadi yang berteriak menantang itu, ayo maju ke sini. Jangan hanya tahu berdiri di tengah kerumunan lalu bersembunyi. Ayo, kita berhadapan,” tantangnya. Dia ternyata adalah Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, yang akrab disapa Jusuf Kalla atau JK.

“Saya merasa di sini bersama teman-teman dari Jakarta sebagai wakil pemerintah untuk menyelesaikan konflik ini. Kami datang ke sini untuk meminta Saudara-Saudari semua berhenti bertikai. Tapi, Saudara-Saudari semuanya tetap mau melanjutkan pertikaian, maka saya memberi pilihan pada Anda semua. Pertama, Anda berperang terus hingga titik darah penghabisan. Biarkan saudara semua habis. Saya akan memberikan Anda senjata dan pelor, begitu juga saya akan memberikan hal yang sama bagi lawan Anda. Pilihan kedua, Anda akan berhadapan dengan pemerintah. Kalau Anda pilih yang ini, dalam sejenak pemerintah akan mendrop pasukan khusus untuk melawan Anda semua. Saya yakin Anda tidak akan mungkin menang melawan pasukan pemerintah yang terlatih dan profesional. Pilihan ketiga, Anda berhenti bertikai, duduk bicara untuk damai. Terserah Anda semua,” tegasnya. Sontak, suasana gemuruh pun jadi tenang. Tak ada yang bergerak. Sejak itulah rumusan tiga tawaran tersebut diusung oleh JK ke mana pun. Tawaran ini juga kepada pihak-pihak yang bertikai di Ambon. Hamid Awaludin, mantan Menteri Hukum dan HAM, yang saat itu mendampingi JK, bertanya, mengapa JK sebegitu berani di tengah gerombolan orang yang sedang marah?

“Hamid, saya tidak mau pemerintah dihina dan dicaci. Pemerintah harus mengambil tindakan tegas. Apa arti aparat negara jika diperlakukan seperti itu? Harus ada perlawanan balik. Lagian, kita kan ke sana dengan niat mendamaikan mereka. Saya tak peduli dengan risiko,” jawab JK saat itu.

Perdamaian Ala JK, Poso Tenang, Ambon Damai

Kisah di atas ditulis oleh Hamid Awaludin dalam buku “Perdamaian Ala JK”, yang diterbitkan pada 2009 oleh Penerbit Grasindo. Membaca kembali buku itu, kita tahu, bahwa Indonesia memiliki sejarah kelam tentang konflik antar kelompok. Di antaranya adalah konflik yang terjadi di Poso dan Ambon. Namun, semuanya dengan damai redam ketika pihak pemerintah yang dikomandoi JK turun tangan.

Peran JK dalam perdamaian Poso tak perlu diragukan lagi. Sebagai Menko Kesra waktu itu, dia mempelopori perdamaian di antara dua kelompok yang bertikai di daerah tersebut. Hasilnya, daerah itu kini kembali tenang dan damai.

Meski banyak memiliki informasi tentang anatomi konflik di daerah tersebut, perjuangan JK mendamaikan kelompok-kelompok yang bertikai memerlukan energi ekstra, serta pengorbanan waktu, tenaga, dan dana yang tidak sedikit. Mulanya, cukup keras tantangan yang harus ia hadapi untuk menggiring kelompok-kelompok yang berseteru ke meja perundingan. Karena masih diliputi emosi membara, mereka pun berani memaki-maki JK dan para pejabat lainnya yang mewakili pemerintah pusat.

Namun JK tak mau kalah gertak. Dia tak mau pemerintah kehilangan wibawa. Bagi JK, pemerintah pusat harus turun tangan mendamaikan kedua daerah itu, dan tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kepada kearifan masyarakat untuk berdamai, sebagaimana kebijakan yang ditempuh pemerintahan sebelumnya.

Ketidakhadiran negara dalam penyelesaian konflik tersebut, membuat kedua belah pihak tidak memiliki alternatif, kecuali membuka diri kepada kekuatan luar untuk membantu, minimal mempertahankan diri.

Semangat dan logika yang sama digunakan oleh kekuatan-kekuatan luar untuk ikut terlibat dalam konflik. Kekuatan-kekuatan luar tersebut memandang bahwa ketidakhadiran negara mewajibkan mereka hadir untuk membantu salah satu pihak karena konflik yang ada bisa membuat pihak yang tidak dibantu, akan hancur.

Sukses mendamaikan Poso, langkah berikutnya adalah mendamaikan Ambon. Tak perlu menunggu lama, hanya sebulan setelah perdamaian Poso, JK dan timnya sudah bergerak untuk mendamaikan kelompok yang bertikai di Ambon pada Januari 2002. Kedua komunitas yang bertikai di Ambon didatangkan ke Makassar, dan perundingan praperdamaian dimulai 30 Januari 2002.

Sebelum menggiring mereka ke meja perundingan, JK berhasil menjernihkan permasalahan seputar dua kelompok yang dituding sebagai biang keladi kerusuhan di Ambon, yakni Republik Maluku Selatan (RMS) dan Laskar Jihad (LJ).

Setelah melakukan penelitian mendalam, JK menyimpulkan bahwa RMS dan LJ bukanlah akar masalah, melainkan turunannya. RMS tidak identik dengan Kristen, karena gerakan separatis itu turut didirikan oleh tokoh muslim Maluku. Sementara LJ baru terlibat terlibat dalam konflik setelah konflik terjadi 1,5 tahun.

Dua pekan setelah perundingan praperdamaian, perdamaian sesungguhnya di Ambon akhirnya tercipta, tepatnya pada 12 Februari 2002 dengan ditandatanganinya Perjanjian Maluku di Malino.

Berbeda dengan naskah perdamaian Poso, dalam naskah perdamaian Ambon disinggung pula eksistensi organisasi yang dianggap terlibat, seperti RMS, LJ, dan Front Kedaulatan Maluku (FKM).
Setelah terlibat membantu JK dalam mendamaikan Poso dan Ambon, Hamid Awaludin menyimpan kesan khusus terhadap bosnya tersebut.

Menurut Hamid, mendamaikan orang, bagi JK, bukan urusan biaya. Tapi urusan kemanusiaan, yang tidak boleh ditakar, apalagi ditawar. Itu sebabnya dalam mendamaikan Poso dan Ambon, JK tak segan-segan mengeluarkan dana pribadi. Tak ada hitung-hitungan, tak ada kalkulasi untung-rugi.

JK juga selalu menegaskan bahwa mendamaikan orang, prasyaratnya adalah hati yang bersih dan ikhlas. Tidak boleh ada kalkulasi untuk memperoleh keuntungan dan penghargaan.

Ya, hanya pribadi terpilih yang berhati bersih dan ikhlas yang bersedia berkorban untuk mendamaikan konflik. Dan itu telah ditunjukkan seorang JK dalam mendamaikan Poso, Ambon, juga belakangan Aceh.

Siapakah JK?

Jusuf Kalla lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 15 Mei 1942 sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara dari pasangan Haji Kalla dan Athirah, pengusaha keturunan Bugis yang memiliki bendera usaha Kalla Group. Bisnis keluarga Kalla tersebut meliputi beberapa kelompok perusahaan di berbagai bidang industri. Di Makassar, Jusuf Kalla dikenal akrab disapa oleh masyarakat dengan panggilan Daeng Ucu.

Pengalaman organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan Jusuf Kalla antara lain adalah Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Sulawesi Selatan 1960 – 1964, Ketua HMI Cabang Makassar tahun 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1965-1966, serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1967-1969.

Sebelum terjun ke politik, Jusuf Kalla pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Hingga kini, ia pun masih menjabat Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin, setelah terpilih kembali pada musyawarah September 2006.

Tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO dari NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinannya, NV Hadji Kalla berkembang dari sekedar bisnis ekspor-impor, meluas ke bidang-bidang perhotelan, konstruksi, pejualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit, dan telekomunikasi.

Melalui Munas Palang Merah Indonesia ke XIX, Jusuf Kalla terpilih menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia periode 2009-2014. Selain itu beliau juga terpilih sebagai ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017 dalam Muktamar VI DMI di Jakarta.

Banyak harapan tertumpu pada lelaki murah senyum ini. Paling tidak, gebrakannya mendamaikan Poso dan Ambon sekian tahun lalu, menjadi bukti nyata bahwa dia layak kembali tampil sebagai salah satu orang paling berpengaruh di negara ini.[]

?????????????????

Debat Capres: Jawaban Jitu Jokowi-JK

DEBAT Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden tahap pertama antara pasangan Prabowo-Hatta dengan Jokowi-JK di Balai Sarbini Jakarta 9 Juni 2014 lalu mengangkat tema Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih, dan Kepastian Hukum. Debat Capres ini dipandu Zainal Arifin Mochtar, dosen dan peneliti pada Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) UII Yogyakarta.

Format debat terdiri atas enam segmen, yakni isi segmen, penyampaian visi-misi, pendalaman visi-misi, pertanyaan moderator seputar tema, pertanyaan antar-calon presiden dan wakil presiden, serta pernyataan penutup.

Terkait pertanyaan mengenai Pembangunan Pemokrasi, Jokowi mengatakan demokrasi adalah mendengar suara rakyat dan melaksanakannya. Itu sebabnya, katanya, dia dan JK tiap hari datang ke kampung-kampung, pasar-pasar, bantaran sungai, ladang-ladang petani, tempat pelelangan ikan, karena ingin mendengar suara rakyat. Dengan cara apa? “Dengan cara dialog,” kata Jokowi. “Pak JK saya kira sudah banyak menyelesaikan konflik dengan cara dialog, untuk musyawarah, untuk kemanfaatan bagi rakyat banyak. Penyelesaian Tanah Abang, Waduk Pluit, juga kita selesaikan dengan cara dialog. Bermusyawarah, mengundang makan, mengajak bicara,” lanjutnya.

Untuk membangun pemerintahan yang bersih, Jokowi menilai ada dua hal yang dibutuhkan. Pertama, pembangunan sistem. “Sistem seperti apa? Telah kita lakukan dan buktikan, baik waktu kami jadi walikota dan gubernur, e-budgeting, e-procurement, e-purchasing, e-catalog, e-audit, dan IMB online. Cara-cara seperti itu yang saya kira kita perlukan dan bisa dinasionalkan. Kedua, dengan pola rekrutmen yang benar dengan cara seleksi dan promosi terbuka, tidak karena kedekatan atau senang atau tidak senang,” katanya.

Jusuf Kalla kemudian menjelaskan soal kepastian hukum. Ia menilai tiap warga harus mematuhi ketentuan hukum. Salah satu contohnya adalah menghormati hak-hak asasi manusia. Untuk itu, pelaksanaan aturan hukum harus dilakukan dengan benar. “Hukum itu harus ada keteladanan, khususnya dari para pemimpin. Pemimpin harus memberi contoh dan pemimpin harus taat pada hak asasi manusia,” katanya.

Pak JK mengatakan, masyarakat kurang percaya kepada institusi hukum. Ia mengatakan KPK harus diperkuat. Penyidik, anggaran KPK, kata Pak JK, harus ditambah lagi. “Kalau ini semua terjadi, maka pemerintahan bersih akan efektif,” lanjutnya.

Selanjutnya, moderator minta pasangan capres-cawapres Jokowi-JK melakukan evaluasi kritis terhadap program-program kerja yang telah dilaksanakan pemerintahan saat ini dan apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk mempertahankan hal-hal yang dianggap sudah berhasil dan memperbaiki hal-hal yang belum terlalu berhasil dan mengubah hal-hal yang belum berhasil.

Menjawab pertanyaan ini Jokowi mengatakan, “Siapa pun presidennya, yang baik akan kita lanjutkan dan yang tidak baik akan kita perbaiki. Tetapi hal-hal prinsip harus kita masukkan ke dalam pemerintahan kita nanti. Artinya kita tidak ingin meninggalkan rencana jangka panjang dan menengah yang sudah berjalan baik.”

JK menambahkan, bahwa mereka nanti akan melanjutkan tujuan-tujuan utama dan prinsip-prinsip utama, melaksanakan pemerintahan yang demokratis, memberikan kepercayaan kepada masyarakat, dan melaksanakan pemerintahan yang taat hukum. JK mencontohkan hal-hal yang harus diperbaiki di antaranya, ekonomi merosot, defisit tinggi, anggaran tidak berfungsi dengan benar. “Makanya, pemerintah yang akan datang harus memperbaiki semua itu,” pungkasnya.

Di segmen ketiga, pertanyaan yang diajukan adalah apa langkah nyata yang akan dilakukan presiden dan wakil presiden terpilih nanti, untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, efektif, stabil, dan sekaligus menghindarkan diri dari rongrongan permintaan balas budi dari partai politik yang telah mendukung mereka saat kampanye.

Jokowi menjawab, “Parpol harus berani merombak. Ada pola rekruitmen yang baru di parpol kita, sehingga jelas, yang terbaiklah yang diajukan. Saya bukan ketua partai, tapi diajukan sebagai calon presiden. Kedua, kami ingin menciptakan koalisi yang ramping. Dalam bekerja kami mengedepankan bekerja untuk rakyat terlebih dahulu, bukan malah bagi-bagi kursi menteri di depan,” katanya.

Lebih lanjut, Jokowi mengatakan mereka juga membuka rekening gotong royong, yang menerima sumbangan dari rakyat, yang diaudit oleh lembaga kredibel, sehingga mereka tidak bisa ditekan oleh siapa pun, karena rekening itu akan dibuka secara transparan kepada publik.

Menjawab pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan untuk menjamin prinsip-prinsip yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika, Jokowi mengatakan bahwa keberagaman baginya sudah final, dia tak ingin mengungkit itu lagi, yang paling penting adalah pelaksanaannya. Senada dengan Jokowi, JK mengatakan, bahwa membahasa keberagaman, baginya bukan lagi bicara soal harapan, tapi sudah sampai pada tahap keyakinan. “Kita tidak bicara ide, tapi bicara pelaksanaan,” katanya.

Di segmen keempat pertanyaan diajukan oleh pasangan capres-cawapres satu kepada pasangan capres-cawapres yang lain. Dalam kesempatan ini pasangan Jokowi-JK menerima pertanyaan tentang pemekaran dan melemparkan pertanyaan balik kepada pasangan Prabowo-Hatta terkait isu HAM.

Di segmen kelima, kedua pasangan diminta menjelaskan langkah kongkret untuk menyelesaikan masalah tata pemerintahan sehingga visi dan misi para pasangan dapat terlaksana. Pertanyaan ini dijawab Jokowi dengan apa yang disebutnya sebagai politik anggaran. “Berikan punishment kepada yang melanggar, dan insentif buat yang baik dan berprestasi,” katanya. Jokowi juga menyampaikan solusi “satu pintu” untuk semua prosedur pemerintahan, sehingga tidak terjadi celah penyelewengan. “Ini hanya masalah niat atau tidak niat, mau atau tidak mau,” katanya.

JK menambahkan, tugas pemimpin adalah meyakinkan bawahannya untuk melaksanakan tugas-tugas yang sama menuju satu tujuan. “Kalau ada pemimpin yang tidak bisa meyakinkan bawahannya, berarti ia bukan pemimpin yang baik,” katanya.

Dalam segmen terakhir, segmen penutup, Jokowi mengatakan apabila rakyat memberikan kepercayaan dan amanat kepada dirinya dan JK, maka mereka akan bekerja keras, sangat keras, siang-malam. “Agar demokrasi berjalan lebih baik, pemerintahan yang bersih bisa dihadirkan, kepastian yang tegas bisa diberikan,” katanya.[]

khabarsoutheastasia.com

Jokowi di Mata Media Internasional

SULIT membantah fakta bahwa Jokowi alias Joko Widodo sudah ngetop dan jadi sorotan—bukan cuma secara nasional, tapi juga di dunia internasional—jauh sebelum dirinya didapuk menjadi calon presiden oleh PDIP beberapa bulan lalu. Gayanya memimpin dan terobosan-terobosan yang dibuatnya saat menjadi Walikota Solo (2005-2012), membuat nama Jokowi sudah berkibar melampaui batas-batas teritori Indonesia. Berkat prestasinya sebagai pemimpin, ia menerima banyak sekali penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Ini berarti, ia diakui bukan hanya oleh bangsa sendiri, tapi juga oleh bangsa lain.

Penghargaan pertama yang diterimanya adalah Piala Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden RI, tiga tahun berturut-turut, yaitu tahun 2008, tahun 2009, dan tahun 2010. Setelah itu sederet prestasi lainnya ia torehkan, yang makin membuat lelaki kelahiran 1961 ini jadi sorotan dan pusat perhatian. Puncaknya, 20 Maret 2014 lalu, majalah Fortune memasukkan namanya ke dalam The World’s 50 Greates Leaders. Nama Jokowi bersanding dengan nama-nama TOP lainnya di dunia seperti Pope Francis, Warren Buffett, Bill Clinton, Aung Sang Suu Kyi, Dalai Lama, Bono, Jeff Bezos, dan lain-lain.

Fortune-Jokowi

Setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, nama Jokowi, terus menjadi sorotan media asing, mulai dari program blusukannya hingga ketegasannya dalam menangangi berbagai persoalan di Ibu Kota. Bahkan, media-media asing memberi beberapa julukan tersendiri untuk Jokowi. Apa saja julukan itu? Ini dia.

Jakarta’s Obama
Julukan ini diberikan Kantor Berita Inggris BBC dalam sebuah artikel yang dimuat dalam BBC Asia pada 23 Januari 2013, yang berjudul Flooding tests ‘Jakarta’s Obama’. Artikel itu menyertakan video wawancara Jokowi yang mengenakan baju Betawi lengkap dengan peci berwarna hitam. BBC menyebut Jokowi sebagai tokoh populer dan mendapat dukungan dari kalangan bawah maupun kalangan menengah Jakarta. Jokowi juga disebut sebagai politikus yang bersih dan pekerja keras.

Mr Fix-it
Majalah The Economist edisi Asia menyebut Jokowi sebagai “Mr Fix-it”. Arti Mr Fix-it sangat luas, bisa memperbaiki atau merapikan. Majalah ini mengulas sepak terjang Jokowi yang rela turun ke kampung-kampung kumuh untuk menata Jakarta, yang akrab kita kenal dengan istilah blusukan.

The man in the Madras Shirt
Baju kotak-kotak yang menjadi ikon resmi pakaian kampanye Jokowi tahun 2012, saat Pilkada DKI, mendapat sorotan dari majalah terkemuka, TIME. Majalah ini secara khusus menyorot baju ala Jokowi bermotif merah-biru tersebut pada tanggal 10 Juli 2012. Majalah ini menulis sebuah artikel dengan judul The Man in the Madras Shirt.

Makin Populer Setelah Jadi Capres
Setelah Jokowi resmi ditetapkan sebagai capres PDIP tanggal 14 Maret 2014 lalu, namanya kembali langsung menjadi bahan pembicaraan dimana-mana, lebih dahsyat dibanding saat ia bertarung memperebutkan kursi nomor 1 di DKI. Semua bicara tentang Jokowi, semua berharap pda Jokowi, sehingga muncullah apa yang disebut Jokowi Effect.

Media luar negeri juga tak mau ketinggalan mengulas tentang fenomena sosok Jokowi, dan segala kemungkinan menjelang Pemilu Presiden 9 Juli 2014.

Washington Post menulis:

Right now the big news in Indonesia is the long-anticipated announcement that Jakarta Governor Joko Widodo will enter the race for president. Widodo — universally known as “Jokowi” among Indonesians — is by some degree the most popular of the many candidates for presidency this fall, which include a series of retired generals, businesspeople, and party apparatchiks.

Selain Washington Post, ternyata salah satu koran terbesar di Amerika lainnya, yaitu New York Post tertarik juga untuk mengulas sosok Jokowi. Pada alinea pembuka di salah satu tulisan New York Post tertulis:

The opposition Indonesian Democratic Party of Struggle announced on Twitter that Mr. Joko, widely known as Jokowi, would be its presidential candidate. The announcement ended more than a year of speculation over whether the party’s chairwoman, Megawati Sukarnoputri, 67, a former president, would name herself as its candidate or support Mr. Joko, who is 15 years younger.

Kemudian, The Economist, majalah yang memiliki kolom khusus berisi features seputar Asia yang diberi nama Banyan, pada awal tahun ini, sekali lagi menurunkan sebuah artikel berjudul No Ordinary Jokowi. Artikel ini menulis seputar kebiasaan Jokowi blusukan, yang di satu sisi menunjukkan perhatian dan kedekatannya pada warga Ibukota. Namun bagi yang lain, blusukan ini dinilai sebagai pencitraan bahkan kampanye terselubung. Lihat videonya di sini.

New Straits Times, media terbitan Malaysia, menerbitkan artikel tentang Jokowi pada November 2013 berjudul Reflections on the Jokowi Phenomenon. Dalam artikel tersebut dituliskan bahwa pihak yang optimistis menilai Jokowi seperti Barack Obama, dari bukan siapa-siapa menjadi presiden sebuah negara. Fenomena Jokowi lahir karena kekecewaan masyakarat terhadap para pemimpin, terutama akibat maraknya kasus korupsi.

Media Australia, Sidney Morning Herald menulis artikel yang berjudul Red-hot Favourite Joko Widodo Launches Presidential Campaign in Indonesia. Artikel ini menulis seputar kegiatan Jokowi dalam kampanye di sejumlah tempat bersejarah di Jakarta.

South China Morning Post, media asal Hong Kong, menulis berita tentang dimulainya kampanye Pemilu di Indonesia. South China Morning Post dalam sebuah artikel bertajuk Indonesia Starts Election Campaign with Jakarta Governor Joko Widodo Favourite to Become New President menyebutkan bahwa Jokowi menjadi favorit utama untuk menduduki kursi presiden.[]

Pierce Brosnan dan Michelle Yeoh, dalam adegan film Tomorrow Never Dies (filmdump.files.wordpress.com)

Film Asing dan Birokrasi Kita

INI sih sebenarnya kisah lama, tapi menurut saya perlu dibaca-baca lagi untuk mengingatkan dan diambil kembali hikmahnya. Luput dari pemberitaan banyak media, film James Bond, Skyfall, awalnya sempat direncanakan untuk melakukan syuting beberapa adegannya di Bali, Indonesia. Hisdustan Times menulis bahwa diakibatkan penghematan budget, EON Productions dan Sony Pictures terpaksa melakukan pembatalan itu. Dengan alasan yang sama, EON dan Sony juga membatalkan syuting film ke-23 dari franchise panjang tersebut di India dan Afrika Selatan dan akhirnya hanya melakukan syutingnya di Inggris, Skotlandia, Turki, Jepang, dan China.

Jika dirunut kembali, ini merupakan kali kedua dibatalkannya proses syuting film James Bond di Indonesia. Tahun 1997 silam, beberapa lokasi penting di Indonesia nyaris tampil dalam adegan-adegan film ke-18 James Bond, Tomorrow Never Dies. Bila di Skyfall pembatalan datang dari pihak produser karena alasan budget, dalam kasus Tomorrow Never Dies, alasan pembatalannya jauh lebih tragis. Mau tahu ceritanya?

Tersebutkah kisah, kira-kira tahun 1996, Nigel Goldsack, seorang produser film asal London yang sering syuting film dokumenter dan korporat di Indonesia, terkesan dengan alam dan geografi Indonesia. Nigel memberi rekomendasi kepada EON Productions, perusahaan yang memproduksi film film James Bond, untuk memakai Indonesia sebagai salah satu lokasi pembuatan film James Bond Tomorrow Never Dies, yang dibintangi Pierce Brosnan.

Singkat cerita, Nigel dan Michael Wilson, produser eksekutif EON Productions datang ke Indonesia dan meminta Iman Brotoseno, seorang sutradara film dan fotografer Indonesia untuk menemani keduanya melakukan recce atau location scout beberapa minggu di seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Krakatau, Jawa, Bali sampai Toraja. Semua area dijelajahi dan sudah diplot sesuai skenario Tomorrow Never Dies. Misalnya kapal perang Kerajaan Inggris akan bersandar di Selat Sunda dengan latar Gunung Krakatau. Lalu situasi sarang penjahat, si raja media, berada di bawah Pura Besakih, candi-candi sekitar Jawa Tengah atau gunung gunung di Tanah Toraja. Wisma BNI di Jakarta akan dijadikan head office imperium bisnis si penjahat. Bahkan adegan James Bond meluncur dengan sebuah banner raksasa dirancang dari puncak gedung ini. Kejar-kejaran, Bond dengan mobil BMW, akan dilakukan di daerah pecinan kota tua Glodok dan sekitarnya. Mereka juga mendatangi Mabes TNI untuk menjajaki kemungkinan menyewa salah satu kapal fregat milik TNI atau pesawat tempur HS Hawk untuk dicat ulang menjadi warna identitas Kerajaan Inggris. Tim ini juga bertemu para pejabat, terutama para gubernur dan pejabat-pejabat dari Departemen Pariwisata untuk minta izin dan dukungan untuk pembuatan film ini di Indonesia.

Namun, seperti ditulis Iman Brotoseno di blognya, kisah ini berakhir menyedihkan. Aparat dan pemerintah Indonesia, alih-alih tertarik atau memberikan dukungan, malah terkesan ogah-ogahan dan tak peduli. Mereka sama sekali tidak membayangkan impact yang bisa didapatkan Indonesia jika produksi film besar ini dilakukan di Indonesia, terutama dari segi promosi pariwisata, di samping pemasukan devisa sebesar 70 juta US, sebagaimana yang dikatakan Michael Wilson waktu itu, untuk biaya produksi, pembuatan infrastruktur set konstruksi, akomodasi, pekerja film/crew di Indonesia, perijinan dsb. Bahkan Iman Brotoseno sampai sekarang masih ingat ucapan Dirjen Pariwisata waktu itu, Andi Mapasameng, sewaktu menerima rombongan produser film James Bond ini, “Saya tidak suka film-film James Bond, ceritanya tidak masuk akal.”

Astaga! Tentu saja jawaban itu mencengangkan buat Nigel Goldsack dan Michael Wilson. Sulit dipercaya, seorang pejabat teras Dirjen Pariwisata, yang selama ini mungkin berusaha mati-matian mempromosikan Indonesia ke dunia internasional, tidak melihat peluang besar di balik produksi salah satu film serial yang paling ditunggu penonton di seluruh dunia, yang hampir bisa dipastikan akan jadi box office pula. Tidakkah dia mencium peluang pemasukan langsung dan berbagai promosi gratis yang akan diberikan film ini untuk Indonesia?

“Your country never change,” tukas Nigel Goldsack pada Iman, sebelum meninggalkan Jakarta waktu itu. EON Productions akhirnya mengalihkan lokasi syuting film Tomorrow Never Dies ke Bangkok, Thailand, dan menggarap beberapa adegan penting film keren itu di sana. Batal sudah kita melihat Pierce Brosnan kejar-kejaran dengan mobil canggih buatan M di kawasan Kota Tua, Jakarta, atau scene-scene kota Jakarta, dan candi-candi tua warisan budaya Indonesia di layar lebar saat menonton Tomorrow Never Dies. Sebuah peluang besar, yang terbuang begitu saja karena birokrasi yang aneh.

Angin Segar

Sutradara Michael Mann bersama Chris Hemsworth di Lapangan Banteng, Jakarta (Dok. Kemenparekraf)

Sutradara Michael Mann bersama Chris Hemsworth di Lapangan Banteng, Jakarta (Dok. Kemenparekraf)

Untungnya, hal yang sama tak pernah lagi terulang. Pemerintah rupanya, sudah tak mau lagi mengulangi kesalahan masa lalu itu. Kini, berbagai studio luar sudah leluasa melakukan syuting film-film mereka di Indonesia. Sebut saja Java Heat, film aksi laga dan baku tembak yang dirilis pada tahun 2013, yang mengambil lokasi syuting utama di Yogyakarta. Ada pula, Cyber, film produksi Legendary Pictures, salah satu studio besar Hollywood. Cyber diarahkan oleh sutradara Michael Mann, dibintangi aktor Chris Hemsworth yang mengambil Tanah Abang dan Lapangan Banteng di Jakarta sebagai salah satu lokasi syuting, pada pertengahan Juli 2013 lalu. Selain Jakarta, Legendary Pictures telah mengambil gambar untuk film ini di Los Angeles, Hongkong, dan Malaysia. Cyber direncanakan rilis tahun 2015 mendatang.

Nama besar sutradara sekaliber Michael Mann, peraih nominasi Academy Award, dan Chris Hemsworth, juga nominator Academy Award, diharap bisa mendongkrak popularitas Indonesia di mata dunia. Selain lokasi di Jakarta, film ini juga melibatkan 150 kru lokal dan 2.000 penari dari Tanah Air. Sangat lumayan untuk “menjual” Jakarta ke dunia lain.

Diberitakan, sebelum film ini syuting di Jakarta, tim produsernya sudah minta izin terlebih dulu pada Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Permintaan ini disampaikan kepada Jokowi oleh Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal.

Jokowi langsung menyambut baik permintaan dan kerjasama ini. Persetujuannya dalam memberi izin sang produser untuk syuting di Jakarta, menurut Jokowi, juga sekaligus untuk mempromosikan Kota Jakarta. “Membangun merek kan tidak melulu promosi. Bisa lewat kemunculan di sebuah film internasional,” kata Gubernur Jokowi kala itu.

Dibandingkan Bangkok, Kuala Lumpur, dan Saigon, kota-kota di negara tetangga yang lebih sering dipakai sebagai lokasi syuting film-film Barat, Jakarta atau kota-kota besar Indonesia lainnya, selama ini memang kurang dilirik produser film-film dari luar Indonesia seperti Hollywood. Bisa jadi, ini karena ribetnya urusan birokrasi dan perizinan di Indonesia, seperti dalam kasus film Tomorrow Never Dies. Semoga, setelah ini, makin banyak film-film luar yang mengambil gambar di Indonesia, menyusul film-film Eat Pray Love, The Philosopher, Savages, atau Alex Cross. Bahkan kalau perlu, menjadikan Indonesia sebagai core cerita. Seru, pasti, ya?[]

facebook.com/KenapaJokowi

Masa Depan Seni dan Budaya di Tangan Jokowi

Apakah Anda kenal JOKOWI?

SAYA rasa, tak ada lagi orang Indonesia hari ini yang tak tahu siapa Jokowi. Mereka yang punya akses terhadap corong-corong informasi pasti tahu. Mereka yang berada di pelosok dan jauh dari akses Internet, menimal pernah dengar namanya di radio atau lihat wajahnya di koran atau televisi. Sebagian kecil tahu sepak terjangnya, tahu prestasi-prestasinya, tahu apa yang dia buat dan lakukan sebagai pemimpin. Tapi, saya juga yakin, sebagian besar dari kita tidak kenal siapa dia, terutama sebelum dia terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2012. Lebih sedikit lagi, mungkin, yang kenal sosok Jokowi sebelum lelaki berbadan ramping itu terpilih menjadi Walikota Solo tahun 2005.

Saya sendiri, baru sedikit “ngeh” pada sosok Jokowi sekitar tahun 2011, ketika saya menjadi Ketua Panitia “Dompet Dhuafa Award 2011“, sebuah ajang penghargaan untuk insan, media, dan tokoh pemberdaya dan inspiratif yang diadakan oleh Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa, lembaga tempat saya bekerja saat itu. Di ajang yang memberikan penghargaan kepada 12 orang tokoh pemberdayaan ini, Jokowi menerima penghargaan untuk kategori Agent of Change Bidang Kemandirian. Sayangnya, di acara pemberian penghargaan itu, Jokowi tidak bisa hadir, padahal saya sudah berharap bisa berjumpa dengan beliau. Dia diwakili seorang pejabat teras Pemerintahan Kota Surakarta (Solo) yang saya lupa namanya.

dompetdhuafa.org

dompetdhuafa.org

Saat menyusun profilnya dalam ajang penghargaan itu, saya tak terlalu banyak menemukan bahan tentang sepak terjang pria kelahiran 21 Juni 1961 itu. Saya hanya bisa melacak jejak-rekamnya lewat Internet. Saya tak tahu, apakah pada tahun 2011 sudah ada buku biografi tentangnya. Kalaupun buku tentang Jokowi sudah ada pada saat itu, saya mungkin tak akan sempat membacanya. Kenyataannya, belum banyak yang menulis tentang sepak terjangnya. Sedikit sekali, saat itu, bahan yang bisa dibaca tentang dirinya. Beda dengan hari ini.

septysafridawati.wordpress.com

septysafridawati.wordpress.com

Wikipedia menulis, selama memimpin Solo, Jokowi berhasil membuat sederet perubahan berarti di kota itu. Branding untuk kota Solo dilakukannya dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu “Solo: The Spirit of Java”. Dia merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang telantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya.

Rebranding ini turut didukung dengan pengembangan citra kota Solo sebagai “kota budaya” dan “kota batik”. Pada tahun 2011, misalnya, Solo menjadi ibukota batik Indonesia. Selain itu, sejak tahun 2008, kota Solo setiap tahunnya selalu mengadakan Solo Batik Carnival. Di bawah kepemimpinan Jokowi pula kota Solo dikembangkan sebagai kota MICE, yang merupakan singkatan dari meetings (pertemuan), incentives (insentif), conferencing (konferensi), dan exhibitions (pameran).

Sebagai tindak lanjut branding, dia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Selain itu, Solo menjadi tuan rumah Euro-Asia World Heritage Cities Conference and Exhibition pada tahun 2008, Solo International Ethnic Music Festival (SIEM) pada tahun 2007 dan 2008 dan International Performing Arts Festival pada tahun 2009. Itu segelintir prestasi Jokowi sebelum kemudian terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

Setelah memangku jabatan orang nomor satu di DKI Jakarta, Jokowi kembali bikin gebrakan yang buat pencinta seni dan budaya seperti saya, acung jempol buatnya. Jokowi ingin menjadikan Jakarta sebagai Kota Festival. Kota Festival. Saya suka kata-kata itu. Ada rimanya. Enak didengar, terlebih menumbuhkan harapan, Jakarta akan jadi kota yang ramai dengan ajang-ajang seni dan budaya. Untuk itu, Jokowi rajin bikin festival di Jakarta. Selama tahun 2013 saja, total 97 festival telah diadakan di Jakarta. Pengunjungnya, sudah tentu ramai. Bahkan agar lebih maksimal bisa didatangi pengunjung, Jokowi menutup jalanan dari kendaraan bermotor selama satu hari penuh.

en.tempo.co

en.tempo.co

Dengan menjadikan konsep Jakarta sebagai kota festival, mulai tahun 2013 dan 2014, Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan Jakarta Night Festival, yang diadakan di malam tahun baru. Panggung-panggung besar didirikan dan masyarakat bisa menikmati berbagai pertunjukan dan kesenian tradisional. Konsep Jakarta Night Festival ini lalu ditiru oleh kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.

Yang agak mengejutkan adalah ketika pada Juni 2013, persis setahun lalu, Jokowi mencoba mengembalikan fungsi Pekan Raya Jakarta (PRJ) sebagai pesta rakyat dengan mengadakan beberapa festival di pelataran Monas, seperti Festival Kampung Jakarta. Selama ini Jokowi menganggap PRJ sudah melenceng dari niatan awalnya karena cenderung dikunjungi oleh golongan menengah ke atas. Media menjuluki upaya Jokowi ini sebagai “PRJ tandingan”. Namun, tuduhan itu ditampik.

republikaonline.com

republikaonline.com

Kemudian ada pula yang namanya Festival Keraton Sedunia. Pada tanggal 5-8 Desember 2013, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara menggelar Pergelaran Agung Keraton Sedunia, pada 5-8 Desember 2013. Acara ini menampilkan parade berbagai kostum dan kendaraan dari berbagai keraton dan kerajaan berbagai penjuru dunia, termasuk Brunei Darussalam. Acara tersebut diikuti 165 keraton Nusantara dan 10 utusan kerajaan mancanegara serta dimeriahkan oleh parade kereta kencana dan dihibur 1.000 atraksi seniman.

Apalagi, ya, yang dilakukan Jokowi di bidang seni dan budaya selama menjadi Walikota Solo atau Gubernur DKI Jakarta? Saya melacak lebih dalam di dunia maya, tapi belum banyak lagi tambahannya, kecuali sedikit. Namun begitu, saya optimis, melihat apa yang sudah dilakukannnya sejauh ini, seni dan budaya akan mendapat tempat yang baik di tangannya.[]

Baca juga catatan menarik dari Rusdi Mathari: Solo dan Manusia yang Berubah

20140519_094604

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Novel karya Eka Kurniawan
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Mei 2014, 252 hlm.
Rp58.000,-

SETELAH 10 tahun tidak menelurkan karya novel, (novel terakhir “Lelaki Harimau” terbit 2004), tahun ini Eka Kurniawan merilis novel terbarunya, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Novel ini konon sudah ditunggu-tunggu penikmat karya sastra Indonesia, setelah novel pertamanya, “Cantik Itu Luka” menjadi salah satu karya sastra fenomenal di Indonesia, setidaknya sejak satu dekade terakhir. “Cantik Itu Luka” telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang dan Malaysia, dan kabarnya saat ini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh sebuah penerbit di negara yang dipimpin Barack Obama. Saya termasuk salah satu di antara pembaca yang menunggu-menunggu karya terbaru ini, yang sampulnya sudah dirilis sejak beberapa bulan lalu oleh pengarangnya.

Novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” berkisah tentang Ajo Kawir, seorang jagoan kampung tukang kelahi dan burungnya yang tidur panjang setelah sebuah peristiwa nahas pada suatu malam jahanam. Ajo Kawir dan Si Tokek, yang waktu itu masih bocah, malam itu berniat mengintip Rona Merah mandi. Rona Merah adalah perempuan sinting tetangga jauh mereka, janda yang suaminya tewas dibunuh orang beberapa tahun lalu.

Tapi apa yang kemudian mereka saksikan jauh di luar sangkaan. Mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih seru daripada sekadar melihat Rona Merah mandi. Dua orang polisi, entah datang darimana, masuk ke dalam rumah Rona Merah, memandikan perempuan itu sampai bersih, untuk kemudian memperkosanya, bergiliran.

Malangnya, kedua bocah itu ketahuan sebelum aksi bejat itu dimulai. Si Tokek berhasil kabur, sementara Ajo Kawir yang tertangkap, dipaksa oleh kedua polisi menonton mereka menggagahi Rona Merah. Tak sampai di situ saja, Ajo Kawir juga dipaksa ikut nyobain tubuh Rona Merah. Tapi anehnya, bukannya bangun dan keras, burung Ajo Kawir malah meringkuk, mengerut, tak bisa bangun. Kedua polisi menertawakannya, lalu melepaskannya. Rona Merah kemudian ditemukan mati, dan kedua polisi itu hilang tak tentu rimbanya.

Ajo Kawir, yang merasa ditimpa aib besar dan teramat memalukan, berusaha membangunkan kembali sang burung, bak seorang pelatih tinju yang ingin membangunkan petarung andalannya yang tiba-tiba ambruk bahkan sebelum ronde pertama dimulai. Ajo Kawir mencoba cara-cara mudah sampai cara-cara radikal, yang membuat Si Tokek khawatir. Ajo Kawir mengolesi burungnya dengan cabe rawit namun gagal membangunkan si burung. Dia lalu membiarkan kemaluannya disengat tiga ekor lebah (terapi lebah kata orang), tapi si burung cuma bengkak, tapi masih tetap tidur seperti semula. Iwan Angsa, ayah Si Tokek, yang menganggap Ajo Kawir sudah seperti anak sendiri, jatuh iba begitu tahu masalah besar yang dihadapi bocah itu. Dia pun membelikan Ajo Kawir buku-buku stensilan, berharap bacaan itu bisa membangunkan sang burung, tapi ternyata gagal. Iwan Angsa juga membawa Ajo Kawir pada seorang pelacur di pinggir rel kereta, menyuruhnya tidur dengan pelacur itu, tapi si pelacur malah merasa terhina karena dirinya tak mempan membangunkan kemaluan Ajo Kawir. Puncaknya, suatu hari, di tengah kemarahan sekaligus keputusasaan, Ajo Kawir meletakkan kemaluannya di atas tanggul kayu dan siap-siap mengayunkan kapak menebasnya. Untung saja, Si Tokek cepat datang. Kalau tidak, daging kecil pemalas di selangkangannya itu akan tinggal kenangan. Setelah usaha terakhir itu, Ajo Kawir menyerah, dan membiarkan burungnya tidur lelap, selama yang ia suka. Si Tokek pun menghiburnya, “Suatu ketika, burungmu akan berdiri lago. Percaya saja. Lagipula, kalau sekarang bisa berdiri, memangnya mau kamu pakai untuk siapa?” Ajo Kawir hanya tersenyum kecil mendengar nasihat kawannya itu. Si Tokek benar juga, katanya.

Namun, kata-kata itu seolah mengiang kembali di kepala Ajo Kawir ketika dia jatuh cinta pada seorang gadis bernama Iteung, cinta yang diiringi kecemasan bahwa kelak, kalau mereka menikah, ia tak akan pernah bisa memberi nafkah batin pada gadis itu. Tapi, ketika mereka akhirnya menikah, Iteung, yang cinta mati pada Ajo Kawir, menerima keadaan suaminya itu, dan merasa sudah bahagia dirinya dipuaskan cuma dengan permainan jari-jari Ajo Kawir. Namun, waktu akhirnya membuktikan, jari-jari Ajo Kawir ternyata tak cukup. Suatu hari, Ajo Kawir menyadari bahwa istrinya telah mendapatkan kepuasan yang tak bisa diberikannya dari lelaki lain. Iteung mual-mual dan ternyata hamil.

Bila Anda sudah tamat baca “Cantik Itu Luka”, Anda mungkin akan sedikit terkejut dengan cara Eka Kurniawan bercerita dalam novel ini. Kalau dalam “Cantik Itu Luka” Eka masih berusaha menahan agar kata-kata yang dipilihnya dalam menggambarkan persetubuhan tidak terlalu liar dan vulgar, maka di novel ini Eka, tampaknya benar-benar melepaskan diri dari segala kekuatiran itu. Dalam novel setebal 242 halaman ini, berserakan kata-kata kontol, memek, pejuh, puting, jembut, selangkangan, dll. Dan kata-kata tersebut, digunakan sebebas-bebasnya oleh sang pengarang, tanpa tedeng aling-aling. Mungkin ada yang bakal memberi vonis “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” sebagai novel stensilan murahan, yang sengaja ingin membuat pembacanya bersenang-senang dengan kisah-kisah selangkangan perempuan dan segala fantasi dan imajinasi liar yang menyertainya. Tapi buat saya, ini bukan novel stensilan picisan. Meski di awal pembacaan, saya sempat menduga, penerbit pasti sudah melalui banyak perdebatan dan diskusi alot internal sebelum meloloskan karya ini. Buat saya, Eka sedang berbicara dengan jujur dan terang tentang banyak kenyataan yang selama ini coba kita halus-haluskan. Seperti kita tahu, kini kenyataan bahkan lebih sadis dan dramatis dari sebuah karya fiksi.

Kisah hidup para tokoh dalam novel ini adalah rangkaian kepahitan yang sejatinya dialami banyak orang Indonesia. Dalam cerita ini, setidaknya ada empat perempuan yang dilecehkan, dipermainkan harkat dan martabatnya melalui tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan. Rona Merah yang diperkosa dua polisi, lalu Si Janda Muda beranak dua yang terpaksa melayani Pak Lebe, induk semang kontrakannya karena tak punya uang untuk membayar sewa. Tidak sampai di situ saja, Si Janda Muda bahkan tak berdaya ketika Pak Lebe membagi kesenangan pribadinya itu dengan kawan-kawannya yang dia ajak datang ke rumah Si Janda Muda. Lalu, ada Nina, perempuan impian Mono Ompong, kenek Ajo Kawir, yang menjadi pelacur saat bahkan ketika buah dadanya belum mekar. Perempuan keempat adalah Iteung sendiri, salah satu tokoh sentral dalam cerita ini, yang belakangan kita tahu dia jago berkelahi bukan karena bakat, tapi memang diniatkannya untuk satu tujuan: membalas perlakuan seorang bangsat berprofesi guru bernama Pak Toto, yang menjadikan Iteung objek kesenangan di ruang kelas dan ruang konseling, saat gadis itu masih bocah SD.

Eka, seolah meneriakkan bahwa kegetiran yang dialami perempuan-perempuan tak berdaya itu sudah menjadi hal lumrah dan kita yang berada di luar kegetiran itu tak bisa berbuat apa-apa selain mengurut dada. Semakin jauh kita dari pusat gempa kegetiran itu, semakin kita tak merasakan apa pun, semakin kita kehilangan kepedulian. Kita tetap bisa melanjutkan hidup, tergelak dan tertawa dan tak terganggu sedikit pun oleh kegetiran-kegetiran itu.

Saya sepakat, Ajo Kawir dan burungnya yang tidur panjang itu, seperti ditulis di belakang sampul buku ini, adalah sebuah alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meski semua orang berusaha membangunkannya. Sejak burungnya tidur panjang, Ajo Kawir lebih arif, tidak lagi ingin membunuh orang, seolah lahir kembali menjadi sosok yang bijaksana, setia pada pasangan, meski dia seorang sopir truk antar kota, sebuah profesi yang demikian lekat dengan kebiasaan jajan perempuan di warung-warung pinggir jalan. Bahkan, ajakan berkelahi dari Si Kumbang, sopir truk lain yang sangat membenci ketenangan Ajo Kawir, tak pernah diladeni Ajo Kawir sampai akhir, karena si Burung tak pernah mengizinkannya. Ajo Kawir bahkan tak bernafsu untuk membalaskan dendam pada dua polisi di malam jahanam belasan tahun lalu itu, yang membuat burungnya tidur panjang, meski jalan untuk membunuh kedua polisi itu sudah dilempangkan seluas-luasnya oleh Paman Gembul, tokoh misterius yang seolah punya kuasa tak terbatas. Novel ini seolah ingin mengajarkan pada kita, bahwa alat kelamin, dengan segala hasrat purba dan fitrah yang dipendam dan dimilikinya, bila tak pandai-pandai menggunakannya, bisa menjadi pemicu rangkaian kehancuran dan kegetiran yang tidak hanya menimpa diri si empunya alat kelamin, tapi juga orang-orang di sekitarnya, baik yang mereka benci maupun yang mereka cintai. Coba simak dialog antara Mono Ompong dan Ajo Kawir ini:

“Burungku bilang aku tak boleh berkelahi.”
“Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?”
“Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.”

“Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” mulai beredar hari ini, 19 Mei 2014, setelah tertunda dari rencana awal, 4 April 2014. Tak lama sebelum ini, juga sudah beredar edisi terbit-ulang kumpulan cerpen Eka Kurniawan, “Corat-Coret di Toilet” (sebelumnya terbit pada 2000). Kedua karya ini diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia Group. Saya sendiri mendapatkan kedua buku ini langsung dari penulisnya, beberapa minggu sebelum buku ini diedarkan secara resmi. Saya berterima kasih pada Eka Kurniawan, bukan hanya karena diberi dua buku karyanya secara cuma-cuma (ditandatangani pula), tapi juga karena dia sudah menulis sebuah karya yang baik, dalam, dan bermakna.[]

www.newyorker.com

Karya-Karya Besar Gabriel García Márquez (1927 – 2014)

“It is not true that people stop pursuing dreams because they grow old, they grow old because they stop pursuing dreams.”

Nama: Gabriel García Márquez
Lahir: 6 Maret 1927 di Aracataca, Magdalena, Kolombia
Meninggal: 17 April 2014 di Mexico City
Pekerjaan: Novelis, Jurnalis, Penulis Skenario, Penerbit
Kebangsaan: Kolombia
Aliran sastra: Realisme Magis
Penghargaan: Pemenang Nobel Sastra 1982

Novel
In Evil Hour (1962)
One Hundred Years of Solitude (1967)
The Autumn of the Patriarch (1975)
Love in the Time of Cholera (1985)
The General in His Labyrinth (1989)
Of Love and Other Demons (1994)


Novelet

Leaf Storm (1955)
No One Writes to the Colonel (1961)
Chronicle of a Death Foretold (1981)
Memories of My Melancholy Whores (2004)

Kumpulan Cerpen
Eyes of a Blue Dog (1947)
Big Mama’s Funeral (1962)
The Incredible and Sad Tale of Innocent Erendira and Her Heartless Grandmother (1978)
Collected Stories (1984)
Strange Pilgrims (1993)
“La mujer que llegaba a las seis” (1950)


Non-fiksi

The Story of a Shipwrecked Sailor (1970)
The Solitude of Latin America (1982)
The Fragrance of Guava (1982, with Plinio Apuleyo Mendoza)
Clandestine in Chile (1986)
News of a Kidnapping (1996)
A Country for Children (1998)
Living to Tell the Tale (2002)

Infografis

sastraalibi.blogspot.com

sastraalibi.blogspot.com

Unsung Hero1

Unsung Hero, Dinda, dan Kita

BEBERAPA hari lalu, saya nonton sebuah TV Commercial (TVC) di situs YouTube yang di-share banyak orang baik di Twitter maupun Facebook. Iklan milik sebuah perusahaan asuransi di Thailand ini diberi judul “Unsung Hero”, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Situs 9GAG.tv melabeli TVC ini dengan judul yang menarik perhatian: This Heartwarming Thai Commercial Will Make You Cry. Inilah yang membuat saya penasaran dan ingin membuktikan; benar nggak sih saya bisa nangis lihat iklan ini?

Adalah seorang pemuda, orang Thailand, seorang pegawai rendahan sepertinya, yang melakukan beberapa hal yang berulang-ulang setiap hari, hal-hal yang mungkin sebagian besar kita juga pernah melihat atau “berhadapan” langsung dengannya, tapi mungkin luput kita perhatikan dan luput menyentuh kita untuk berbuat sesuatu.

Pertama, pemuda ini menemukan sebuah “kesia-siaan” air yang terbuang percuma dari saluran pembuangan sebuah rumah di ruko berlantai dua di pinggir jalan. Tak jauh dari tempat air itu jatuh, ada pot dengan setangkai bunga yang sudah mati kekeringan. Pemuda bertampang ndeso ini menarik pot bunga itu sedikit, sampai tumpahan air tepat menyirami rerantingnya yang sudah kerontang.

Kedua, adalah seorang Ibu Pendorong Gerobak Dagangan–sebut saja begitu–yang tak kuat mengangkat gerobak dagangannya yang berat memanjat trotoar. Kembali, si Unsung Hero ini datang menjadi pahlawan, dan membantu si Ibu Dagangan Gerobak menyelesaikan persoalan kecilnya.

Ketiga, saat makan siang di warung pinggir jalan, si pemuda didatangi seekor anjing tak bertuan, anjing lapar tentunya, dan si pemuda memberikan seluruh ayam yang jadi lauk makan siangnya pada di anjing. Hal ini membuat si pemilik warung tergeleng-geleng heran.

Keempat, ia bertemu dua pengemis perempuan, yang satu dewasa, satu lagi masih kecil, ibu dan anak pastinya. Di depan keduanya ada tulisan “For Education” (dalam bahasa Thailand). Si pemuda mengeluarkan dompet dan satu detik kemudian seluruh isi dompetnya berpindah ke dalam mangkuk di tangan si bocah perempuan. Di hari kedua, saat kembali memberi ibu-anak pengemis itu uang, pedagang kacamata tak jauh dari sana menggeleng-gelengkan kepala.

Unsung Hero

Kelima, saat sudah sampai di rumah, si pemuda diam-diam menggantung sesisir pisang di atas handel pintu sebuah petakan. Kita kemudian melihat, penghuni petakan itu adalah seorang nenek jompo, yang terheran-heran melihat ada pisang tanpa tuan di handel pintunya, tanpa tahu siapa yang meletakkannya di sana.

Keenam, di hari lain, si pemuda memberikan tempat duduknya di bus pada seorang perempuan muda yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka tak saling kenal, tapi lalu berbagi senyuman.

Enam hal itulah yang terjadi. Dan, rupanya, nasib membuat si pemuda ini bertemu lagi dengan Bunga Kering, Ibu Pendorong Gerobak Dagangan, Anjing Lapar, Sepasang Pengemis, Nenek Jompo, dan Perempuan yang Berdiri dalam Bus.

Sampai di sana, saya tak menemukan hal yang membuat saya harus menangis, atau paling tidak, berkaca-kaca. Tapi, adegan-adegan selanjutnya dari video berdurasi 3 menit 5 detik itu akhirnya berhasil membuat saya meneteskan air mata.

Apa yang terjadi? Di hari lain, saat mau memberi uang pada sepasang pengemis, si pemuda tak melihat si bocah kecil. Cuma ada ibunya di sana. Saat wajahnya masih bertanya-tanya, si pemuda mendengar suara bocah perempuan memanggil ibunya. Saat itulah, kemudian, film ini menayangkan adegan yang berhasil menyentuh perasaan saya. Saat si pemuda menoleh ke asal suara, ia melihat si gadis kecil, dalam pakaian sekolah, berdiri tak jauh darinya, dengan senyum malu-malu. Adegan inilah yang membuat mata saya berkaca-kaca.

Unsung Hero

Tapi, cerita belum selesai. Bunga Kering dalam pot di pinggir jalan akhirnya tumbuh segar lagi, bahkan berbunga, bahkan kemudian ada rama-rama hinggap di pucuknya. Si Anjing Lapar, suatu hari akhirnya mengikuti si pemuda pulang ke rumahnya, dan tinggal di sana. Si Nenek Jompo akhirnya tahu siapa pahlawan tak dikenalnya, dan atas kebaikannya itu, si pemuda mendapat pelukan hangat dari tubuh ringkihnya. Video ini selesai.

Saya lalu merenung. Oke, ini hanya sebuah iklan, bukan kisah nyata, yang dibuat sedemikian rupa hanya agar orang tersentuh. Oke, ini Thailand, bukan Indonesia, dan di sini, kita dilarang memberi uang pada pengemis di jalanan. Oke, mungkin saya yang cengeng dan terlalu gampang mengumbar air mata. Tapi coba Anda lihat gambar hasil screenshot di bawah ini:

ibu-hamil

Ya, pagi ini saya membaca kehebohan yang muncul dari komentar seseorang bernama Dinda di akun Path-nya, yang melontarkan kebencian dan kekesalannya pada perempuan hamil di atas kereta yang ujuk-ujuk minta tempat duduk, dan “tak mau usaha”. Nama Dinda langsung ramai dibincangkan, ia bahkan di-bully atas komentarnya itu. Beberapa temannya mendukungnya, tapi sebagian besar orang mencaci maki komentarnya itu.

Saya berpikir, ternyata rasa perisa orang Indonesia benar-benar mulai hilang. Mungkin saya salah, dan kasus Dinda memang tak bisa dijadikan ukuran untuk menyebut bangsa kita sudah kehilangan hati nurani. Saya memang tak bisa main pukul rata begitu saja. Tapi paling tidak, buat saya, apa yang dilontarkan Dinda adalah sedikit dari “ketidakpedulian” yang akhirnya bocor ke permukaan, ketidakpedulian yang berhasil menampakkan wajah aslinya, yang selama ini berhasil disimpan rapat-rapat entah di mana.

Kebencian yang dilontarkan Dinda di Path, adalah pucuk gunung es dari samudera ketidakpedulian kita pada sesama. Dinda barangkali hanya keceplosan memuntahkan kekesalan hatinya, dan dia sudah menerima akibatnya. Tapi selain Dinda, jutaan orang di negara ini sebenarnya memang tak peduli, bedanya, mereka tak keceplosan merutuk, ngomel, dan melontarkan kejijikannya pada perempuan hamil seperti Dinda.

Selama ini, jagad ketidakpedulian itu berhasil di simpan rapat-rapat, ditutup-tutupi dengan wajah-wajah palsu kita. Dalam bahasa ringkas, bangsa ini sebenarnya memang tak punya lagi kepedulian. Kita bukan pemuda lugu dalam video Unsung Hero. Bahkan kita mungkin adalah sosok-sosok seperti si Tukang Warung dan si Tukang Kacamata dalam video itu, yang cuma bisa menggeleng melihat seseorang berkorban demi orang lain. Semoga saya salah.

Dinda dan kita bukanlah si Unsung Hero. Kita tak pernah menyelamatkan hidup setangkai bunga bukan punya kita di pinggir jalan (ada yang pernah?). Kita tak pernah membantu ibu-ibu pedagang mendorong gerobaknya yang berat di tengah pasar ( ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi makan anjing lapar dengan sepotong daging ayam dari piring kita (ada yang pernah?). Kita tak pernah memberi pengemis uang tanpa disertai perasaan curiga jangan-jangan ini pengemis gajinya dua-tiga kali lipat besarnya dari kita (ada yang pernah?). Dan, kita tak pernah peduli pada para tetangga kita yang hidupnya papa (ada yang pernah?).

Sebagian kita mungkin masih peduli. Tapi, mungkin, sambil merutuk di dalam hati. Jadi, Dinda dan kita, sebenarnya serupa tapi tak sama.[]

Spike-Jonze-Her-ss-02

Her (2013)

“This was a great movie. It had a believable love for once, and it was between an OS and a human. The characters were so believable, and I loved every second of what I was watching.”

Buat saya, film ini teramat indah, teramat manis, teramat romantis.

Ya, ini film cinta, sebuah film science fiction romantic drama yang menceritakan kisah cinta antara Theodore Twombly dan Samantha. Dalam banyak kesempatan, saat memperkenalkan sosok Samantha pada teman-temannya, Theo selalu menyebut Samantha sebagai sosok yang “tidak punya sistem otak” seperti manusia, karena perempuan bersuara seksi ini adalah sebuah karakter jenius yang diciptakan sebuah Operating System.

Ya, mereka hidup di tahun 2025, dan saat itu teknologi informasi sudah demikian canggih. Theo pria kesepian, tengah mengurus perceraian dengan istrinya, dan di tengah kehampaan jiwanya, membeli dan menginstal sebuah aplikasi canggih bernama OS1 yang memungkinkan user punya teman atau pasangan maya. Saat instalasi selesai, Theo mendapatkan seorang teman baru bernama Samantha. Samantha bukan hanya jadi teman ngobrol yang asyik, ia bahkan bisa membaca perasaan, menghibur saat gundah, membuka dan membalas email, menyambungkan telepon ke seseorang, bahkan nyanyi bareng. Samantha punya mata dan punya telinga digital, perasaan dan logikanya dibangun oleh program yang nyaris sempurna, yang sayangnya tentu saja tidak menyediakan raga, karena Samantha hanyalah sebuah OS, bukan robot. Kedua sosok berlainan dimensi ini lalu jatuh cinta.

Layaknya pasangan normal, mereka bisa melakukan banyak hal seperti layaknya orang pacaran (termasuk phonesex, misalnya). Samantha bisa kangen saat Theo sibuk dan sudah berjam-jam tidak menghubunginya, Samantha juga cemburu dan takut kehilangan. Mungkin, bila dipikir-pikir, ini agak menggelikan, tapi begitulah. Spike Jonze, yang telah menulis dan menyutradarai film ini, rupanya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dengan akal dan perasaan manusia di masa depan. Di masa di mana Theo dan Samantha hidup, manusia tidak lagi menggunakan pakem “yang jauh dekat, yang dekat jauh” seperti yang kita rasakan saat ini setelah gempa sosial media melanda dunia, saat semua orang sibuk bersosialisai di media sosial dan lupa dengan orang-orang di dekat mereka. Dalam film ini, kondisi terparah sudah diprediksi, bahwa saat kau gagal membangun sebuah hubungan dengan sesamamu, kau bisa mencobanya dengan program canggih seperti OS1. Agak ngeri-ngeri sedap juga bila ini jadi nyata.

Oh, ya, dialog-dialog romantis dalam film yang dibintangi Joaquin Phoenix (Theo) dan Scarlett Johansson (Samantha) ini mengingatkan saya pada “Before Sunrise”, film komedi romantis produksi 1995 yang dibintangi Ethan Hawke dan Julie Delby. Menyentuh dan menggetarkan. Scene-scene-nya juga keren. Tak keliru kalau di ajang Oscar yang baru lalu film ini masuk di tiga nominasi, yaitu Best Actor, Best Picture, dan Best Screenplay.[]

Judul: Her
Sutradara: Spike Jonze
Penulis naskah: Spike Jonze
Pemain: Joaquin Phoenix, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, Scarlett Johansson
Studio: Annapurna Pictures
Rilis: 13 Oktober 2013
Durasi: 126 menit
Bahasa: Inggris
Biaya produksi: U$D 23 juta

Foto diambil dari sini.