Damhuri Muhammad

Jarum dalam Timbunan Jerami*

oleh Damhuri Muhammad
Ketua Tim Juri KLA 2013

BEBERAPA bulan belakangan ini, sebuah jaringan toko buku besar yang sejak bertahun-tahun lalu telah menjadi tumpuan dalam penyebarluasan buku-buku sastra ke seluruh wilayah Indonesia, tidak lagi menyediakan tempat bagi buku puisi. Secara tegas mereka menolak penawaran dari penerbit-penerbit yang masih bersetia menerbitkan buku sastra. “Tidak punya nilai jual,” “tak mungkin jadi best-selling,” “hanya menyesaki rak,” demikian alasan klise yang mereka ajukan, atau barangkali lebih tepat saya sebut sinisme dari para saudagar buku. Tak sampai di situ, seorang petugas pencatat kerjasama penjualan konsinyasi di sebuah toko buku, bahkan pernah mengatakan, “berhentilah menerbitkan buku puisi. Lebih baik kita berjualan buku tentang masa-memasak, atau buku panduan jitu cara bersolek, yang sudah pasti laris.”

Akibatnya, buku-buku sastra, utamanya jenis puisi, semakin sulit untuk didistribusikan. Alih-alih terjual, untuk dapat terpajang di rak toko buku saja, sukarnya alang-kepalang. Banyak penerbit yang mengeluh lantaran pembatasan itu, meski mereka tetap bersetia pada buku sastra. Memang, sudah tak terhitung banyaknya penerbit yang terpaksa menghentikan produksi buku-buku sastra, namun tak terhitung pula berapa banyak yang bermunculan kembali. Begitulah, tarik-ulurnya minat dan jatuh-bangunnya apresiasi terhadap buku-buku sastra di republik yang konon telah melahirkan sastrawan-sastrawan besar dengan segenap penghargaan yang tersemat di dada mereka.

Sinisme terhadap buku sastra sebagaimana yang secara pongah ditunjukkan oleh para saudagar buku itu membuat saya, sebagai pekerja sastra, mungkin juga saudara⎯praktisi atau sekadar penyuka sastra⎯merasa telah dicibirkan, bahkan mungkin sekali sudah terhina. Kedigdayaan pasar yang tegak atas dasar pemberhalaan pada uang, bukan sekadar meremehkan, memandang sebelah mata, tetapi perlahan-perlahan sedang membinasakan dunia sastra. Betapa tidak? Sedemikian rendahnya puisi di mata para saudagar itu, sebegitu najisnya tumpukan buku-buku sastra di rak-rak toko buku milik mereka, hingga sedapat-dapatnya disterilkan dari keparat-busuk bernama “puisi”. Kalau soal laku, saya kira, kecap dan terasi adalah juga barang yang laku di pasaran. Tapi, sebagai anak kandung keadaban yang paling manusiawi, puisi tidak selayaknya ditakar dan ditimbang semata-mata dengan parameter laku-tak laku, apalagi dengan kalkulasi untung-rugi belaka.

Bagi saya, dalam kancah peradaban yang dikendalikan oleh kuasa pasar, buku laku belumlah tentu berarti buku bermutu. Tengoklah, ribuan karya-karya picisan yang sama sekali tidak dipancangkan di atas kedalaman pikiran, justru laris-manis seperti martabak terang-bulan. Sementara karya sastra⎯termasuk puisi⎯yang dilahirkan dengan segenap kejernihan dan pencapaian estetik mumpuni, justru tergeletak, tak tersentuh, lalu berdebu selama berbulan-bulan. Maka, inilah sebuah keadaban yang gandrung memuja kedangkalan, abai pada kejernihan, dan senantiasa bersuka-ria dengan segenap kepandiran.

Di titik inilah pentingnya apresiasi sebagaimana yang ditunjukkan oleh Khatulistiwa Literary Award (KLA). Dalam keriuhan suara yang memandang rendah dunia sastra di republik yang kementrian kebudayaannya sibuk menghambur-hamburkan uang negara dalam peristiwa-peristiwa seremonial berkedok gagasan kebudayaan, dan televisinya amat gandrung pada retorika politik bermuka dua ala Sutan Batoegana dan Ruhut Sitompul, KLA masih bertahan hingga tahun penyelenggaraan yang ke-13. Baik penerbit, maupun para pengarang, tetap bergairah mengirimkan karya-karya mereka, guna dibaca, diapresiasi, dan dipertimbangkan oleh tim juri. Tahun ini, tak kurang dari 70 judul buku prosa dan 40 judul buku puisi terhimpun dalam list penjurian. Jumlah yang cukup mencengangkan bila ditakar dengan klaim tentang kelesuan dunia sastra yang kerap mengemuka dalam berbagai perbincangan.

Peristiwa penghargaan sastra yang tentu saja berakibat pada hadiah yang menggiurkan, menurut hemat saya, tak sekadar mengantarkan piala bagi pemenang, namun yang jauh lebih penting adalah penegasan perihal mutu dan kedalaman. Dalam gelombang euforia para cerpenis koran yang tak henti-henti berlomba mengejar kuantitas pubikasi, dan iklim fabrikasi yang telah merasuki dunia penciptaan, setahun sekali KLA secara tidak langsung hendak mengingatkan, bahwa ada yang sedang terabaikan, atau bahkan tak dianggap penting lagi dalam proses kreatif, yakni kedalaman. Tengoklah akibat dari kelisanan yang tumpah-ruah dan begitu mewabah di dunia maya. Apa saja bisa dicerpenkan, dipuisikan, bahkan dinovelkan, tanpa kontemplasi dan penggalian-penggalian yang terukur. Seorang cerpenis bisa memproduksi belasan cerpen dalam sebulan, dan hampir setiap minggu bergentayangan di koran-koran, lalu bersuka-ria, berjingkrak-jingkrak, memuja-muja keseringan tampil itu di laman-laman media sosial. Bagaimana dengan pencapaian artistik? Kebaruan dan kedalaman gagasan? Karya-karya yang bermunculan bagai terjun-bebas, lalu karam dalam pusaran arus keberlimpahan, namun terpelanting sebagai sampah visual dengan usia tak lebih dari satu hari. Meski begitu, KLA gigih berupaya menemukan kedalaman di sepanjang sungai yang terus-menerus melesat menuju kedangkalan, mencari yang istimewa dalam keranjang yang sarat oleh barang-barang tiruan, mengais-ngais kilau berlian dalam kotak sampah peradaban. Kerja yang tak segampang membalik telapak tangan. Bagai mencari jarum yang hilang dalam timbunan jerami…

*Dibacakan pada acara Malam Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2013, Selasa, 26 November 2013, di Jakarta

“The Stupas of Borobudur”, foto
karya Prihanda Muhardika yang menjadi salah satu foto terbaik dalam "Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia"

Melestarikan Mahakarya Borobudur Sampai ke Hati

CANDI Borobudur berada di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah, lebih kurang 41 kilometer dari Yogyakarta dan 80 kilometer dari kota Semarang, Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh pegunungan Manoreh di sisi selatan, Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah utara serta terletak di antara Sungai Progo dan Sungai Elo. Candi Borobudur berdiri di atas bukit dengan ketinggian 265 dpl.

Mahakarya Borobudur
Mahakarya Borobudur

Sejarah mencatat, Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga yang memerintah tahun 782-812 M pada masa Dinasti Syailendra. Pembangunan tahap pertama dilaksanakan tahun 780 M. Selanjutnya tahap kedua dan ketiga diperkirakan berlangsung 792 M. Tahap pembangunan keempat terjadi 824 M dan tahap kelima pada 833 M.

Namun, meski dibangun pada abad VIII-IX Masehi, oleh sebab-sebab yang belum diketahui dengan pasti, Candi Borobudur kemudian ditinggalkan oleh masyarakatnya. Bangunan ini tak terjamah peradaban manusia dan kemudian terkubur selama lebih kurang 900 tahun sampai akhirnya pada tahun 1814, Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stanford Raffles, berkunjung ke Semarang dan menemukan tanda-tanda adanya candi di bawah sebuah bukit yang sudah dipenuhi pepohonan dan semak belukar. Saat bukit itu digali dan dibongkar, kondisi candi ini sudah setengah hancur dan memerlukan pemugaran total. Namun, upaya penyelamatan baru dilakukan setelah hampir seratus tahun kemudian, yaitu pada tahun 1907-1911 dengan dilakukannya pemugaran pertama oleh seorang perwira zeni Kerajaan Belanda bernama Theodoor van Erp. Setelah dipugar, kondisi candi sudah lebih stabil, namun masih memerlukan pemugaran lebih lanjut, namun kondisi dunia yang dipenuhi gejolak perang pada saat itu membuat perhatian terhadap candi ini terabaikan. Barulah pada tahun 1973-1983, pemugaran terhadap Candi Borobudur kembali dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan UNESCO.

Pemeliharaan dan pemugaran candi dalam skala kecil tetap dilakukan sampai sekarang.
Pemeliharaan dan pemugaran Candi Borobudur dalam skala kecil tetap dilakukan sampai sekarang.

TAHUN ini, saya berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur sebanyak dua kali; dua-duanya dalam rangka penelitian dan riset untuk penulisan naskah film bertema Borobudur. Selama masa riset, tim kami didampingi berbagai pihak, baik instasi pemerintah maupun lembaga-lembaga sosial-budaya setempat. Bahkan, khusus untuk memaparkan bagaimana Candi Borobudur dipugar pada tahun 1973-1983, kami didampingi oleh Bapak Ismijono, Kepala Pemugaran Candi Borobudur pada masa itu.

Saya (paling kanan) bersama anggota tim riset film Borobudur berfoto bersama Bapak Ismijono (paling kiri), mantan Kepala Pemugaran Candi Borobudur 1973-1983
Saya (paling kanan) dan anggota tim riset film Borobudur berfoto bersama Bapak Ismijono (paling kiri), mantan Kepala Pemugaran Candi Borobudur 1973-1983

Tak bisa dibantah, Borobudur adalah mahakarya yang teramat memesona. Bukan bagi masyarakat Indonesia saja, tapi juga masyarakat seluruh dunia. Borobudur dibangun dengan perencanaan yang matang, dan memerlukan waktu puluhan tahun untuk menyelesaikannya. dikagumi oleh pengunjung dari seluruh dunia. Tak sedikit lembaga atau instansi asing yang melakukan riset dan penelitian terhadap candi ini serta seluruh aspek yang melingkupinya. Bahkan, belakangan, para sineas dari luar negeri tertarik untuk memfilmkan candi ini atau menjadikan Candi Borobudur sebagai latar cerita dalam film-film mereka.

Kekaguman saya pada monumen ini tak habis-habis sejak dulu. Sejarah mencatat Borobudur yang dibangun pada sekitar abad VIII-IX Masehi ini menjadi bukti bahwa wilayah Jawa Tengah pernah mengalami masa-masa kejayaan sehingga mampu membangun sebuah candi yang teramat megah yang masyhur ke seluruh dunia. Jauhnya rentang masa itu dengan masa sekarang, dapat disimpulkan, nenek moyang kita ternyata manusia-manusia luar biasa, memiliki pemikiran yang cerdas, yang dengan teknologi masa itu yang sangat terbatas mampu mendirikan bangunan semegah Candi Borobudur.

Kini, setelah 100 tahun pascapemugaran yang pertama dan pemugaran yang kedua, kondisi Candi Borobudur sudah jauh lebih stabil. Teknologi memudahkan pemantauan perubahan struktur bangunan dalam skala tertentu yang terjadi pada bangunan Candi Borobudur. Sempat muncul kekhawatiran saat erupsi Merapi tahun 2010 lalu, karena abu vulkanik yang disemburkan Gunung Merapi yang menutupi seluruh bangunan candi diduga akan merusak batu andesit yang menjadi bahan utama bangunan candi. Namun, upaya pembersihan sudah dilakukan oleh para ahli, dan dinyatakan bangunan Candi Borobudur tidak mengalami kerusakan.

Candi yang pernah menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia ini kini telah diwariskan oleh leluhur kepada kita, anak bangsa yang masih hidup. Semangat untuk selalu melestarikan Candi Borobudur yang sudah dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai masa sekarang tentulah harus terus dilanjutkan di masa-masa yang akan datang. Dengan begitu, keberadaan Candi Borobudur sebagai salah satu karya budaya nenek moyang bangsa Indonesia akan dapat diwariskan terus kepada generasi selanjutnya.

Upaya Dji Sam Soe menggelar ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap mahakarya buatan manusia Indonesia, termasuk tentunya Candi Borobudur. Ajang ini memberikan peluang kepada putra-putri bangsa untuk ikut andil dalam mengapresiasi puncak hasil kreatifitas manusia nenek moyang yang tetap berangkat dan berpijak dari tradisi / kearifan lokal Indonesia dan seluruh ciptaan Tuhan dengan keunikannya masing-masing yang masih bertahan, bahkan berkembang di era modern saat ini.

Kemegahan Candi Borobudur bukan hanya untuk dinikmati pesonanya, tapi juga untuk dipelajari sejarah pembangunan dan filosofi dan kearifan lokal di masa lampau yang terkandung di dalam relief-reliefnya. Mewariskan benda budaya bukan hanya dengan menjaga kelestarian fisik bangunannya, tetapi, yang paling utama adalah bagaimana melestarikannya di hati dan di dada seluruh anak bangsa. Seperti kata Pak Ismijono pada saya, “Banyak peradaban di dunia bermimpi memiliki monumen mahakarya seindah Borobudur, kita yang sudah ditakdirkan memiliki, jangan sampai menyia-nyiakannya.”[]

Norwegian Wood

Karnaval Kehilangan dalam “Norwegian Wood”

BENAR sudah apa yang dikatakan Virginia Quarterly Review saat mendeskripsikan novel-novel Haruki Murakami: “mudah dimengerti, namun dalam dan kompleks.” Meski baru membaca dua bukunya, saya setuju dengan pendapat itu. “Dengarlah Nyanyian Angin”, yang memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979 adalah buku Murakami pertama yang saya kunyah-kunyah (akan saya ulas pula di lain kesempatan). Tuntas dengan buku itu, saya kemudian melahap habis “Norwegian Wood”, buku yang sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan terjemahan Indonesianya (KPG, Juli 2005), namun baru sempat saya baca baru-baru ini.

Toru Wanatabe, karakter utama dalam novel ini adalah anak muda Jepang yang berteman dengan Kizuki, dan juga pacar Kizuki yang bernama Naoko. Setelah Kizuki mati bunuh diri, Naoko belakangan dekat dengan Wanatabe dan keduanya saling jatuh cinta. Namun, karena kondisi kejiwaan Naoko yang tak terlalu stabil, mereka terpaksa berpisah kota, dan itu menyakitkan buat keduanya, terutama Naoko. Sementara berusaha menekan rasa hampa karena ketiadaan Naoko, Wanatabe bertemu Midori, gadis sekampusnya, yang kemudian jatuh cinta setengah mati pada pemuda pendiam yang bekerja paruh waktu di sebuah toko penyewaan piringan hitam itu.

Karakter-karakter yang muncul dalam Norwegian Wood adalah karakter-karakter sunyi dan mendung. Hanya Midori yang terlihat ceria, meski sebenarnya Midori punya beban tak kalah rumit yang dibawa-bawanya setiap hari; sakit dan kematian ayahnya, juga kekasihnya yang tak bisa membuatnya bahagia seperti harapannya. Sepanjang membaca novel ini, saya membayangkan suasana Tokyo yang redup, jaket-jaket musim dingin, salju yang menempel di jendela, dan bibir-bibir yang pucat menahan dingin. Wanatabe adalah pemuda tertutup, pilih-pilih teman, penyendiri, menyukai musik dan buku, dan sangat percaya pada kata hatinya sendiri. Novel ini kian sendu karena tiga tokohnya bunuh diri; Kizuki, Naoko, dan Hatsumi (kekasih Nagasawa, teman Wanatabe yang doyan tidur dengan perempuan).

Novel ini banyak mengulas buku yang dibaca, penulis yang digemari, dan juga musik yang didengarkan Wanatabe. Haruki Murakami memang seorang penyuka musik. Entah terkait entah tidak dan mungkin karena itu pula novel ini diberi judul “Norwegian Wood”, satu tembang yang ditulis John Lennon dipopulerkan oleh The Beatles. Dalam cerita, lagu ini sangat disukai Naoko yang di sebuah pusat rehabilitasi berteman dekat dengan Reiko Ishida yang pandai bermain musik dan sering menyanyikan lagu ini untuk Naoko–dan belakangan untuk Wanatabe.

Ruang-ruang gelap dan dingin dalam buku ini memuncak saat Naoko bunuh diri di sebuah hutan yang sepi dan Wanatabe yang uring-uringan menggelandang dan melecut-lecut batinnya sendiri dari satu kota ke kota lain demi “melarikan diri” dari kesedihannya setelah kematian Naoko. Novel ini bicara tentang banyak sekali kehilangan. Kehilangan demi kehilangan yang sepertinya hanya orang yang kehilangan saja yang bisa memahami betapa sakitnya ketika sesuatu dicerabut dari diri mereka.

Saya tak tertarik mengulas kehilangan-kehilangan yang dihadirkan dalam novel ini lebih jauh, karena saya bukan pengulas yang baik. Sebagai penulis, ada banyak yang bisa saya pelajari dari gaya menulis Haruki Murakami terutama “Norwegian Wood”, dan sayangnya saya tidak bisa mengungkapkannya di sini. Saya kini sedang berjuang mendapatkan buku-buku Murakami lainnya, mudah-mudahan yang berbahasa Inggris. Oh, ya, saya juga sudah nonton versi film dari novel ini (terima kasih YouTube!), dan berniat membandingkan keduanya suatu hari nanti.[]

Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Terbit: Mei 2013, (Cetakan ke-4)
Tebal: 426 hal.

sepatu

Sepasang Sepatu yang Ragu-Ragu

ia hanya sepasang sepatu
datang dari tempat yang jauh
berkilometer panas, lumpur, dan debu,
arah tak tentu
aus tapaknya, juga lusuh
mengusung langkah sepasang kaki yang sudah lama mati-nafsu

ia hanya sepasang sepatu,
kini berdiri di tubir waktu
tak ada lagi langkah maju
kecuali jatuh

ia hanya sepasang sepatu
kini menunggu
ke mana sepasang kaki mau menuju

~ tanah baru, 2013

AFI 2013_20131104_200431

Malam Anugerah Film yang Biasa-Biasa Saja

SAYA dan Ilma Fathnurfirda sudah sampai di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta, beberapa menit sebelum pukul 18.30 WIB, Senin (4/11) kemarin itu. Di undangan tertera acara dimulai jam segitu. Saya bertemu Ilma di tempar parkir, persis di samping mesin genset yang mensuplai listrik ke panggung dan seluruh tempat acara. Selain saya, ada dua teman lainnya yang juga diundang dalam acara bertajuk Malam Anugerah Apresiasi Film Indonesia 2013 (AFI 2013), tapi mereka belum kelihatan batang hidungnya.

“Acaranya di sini?” tanya saya pada Ilma.
“Iya,” sahut Ilma. “Emang kenapa?”
“Kirain di gedung. Kok mirip acara kawinan, ya?” kata saya lagi. Ilma cuma tersenyum.

Undangan AFI 20131106_072127

Melihat lokasi acara masih sepi dan parkiran mobil hanya berisi belasan mobil, saya langsung berpikir sepertinya saya keliru memasang ekspektasi saya tentang acara ini. Ada sebuah panggung utama, yang dalam hitungan saya agak kecil dari yang seharusnya. Di depannya ada sebuah tenda putih yang juga tak terlalu besar, yang berisi jejeran kursi, paling-paling hanya bisa menampung 150 orang, setara dengan tiga buah bus besar yang diparkir berdampingan. Lalu, di belakang tenda besar itu, ada beberapa tenda kecil, yang di dalamnya ada meja dan kursi, yang sepertinya disediakan untuk tempat makan tamu VIP dan VVIP. Lalu ada tenda-tenda berisi jenis-jenis makanan untuk makan malam para undangan. Lalu ada sebuah tenda ukuran kecil juga yang dipakai sebagai ruang pameran napak tilas perfilman Indonesia sejak zamannya Asrul Sani, Sukarno M. Noor, dan lain-lain. Yang paling mengejutkan saya adalah toiletnya. Ya, toiletnya, Saudara-saudara! Kalau Anda pernah tahu toilet portabel, ya, toilet seperti itulah yang disediakan panitia.

Menjelang pukul tujuh, wajah-wajah familiar mulai kelihatan. Slamet Rahardjo, Deddy Mizwar, Riri Riza, Erwin Arnada, para juri AFI 2013, dan para pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, tuan rumah ajang ini.

Saya dan Ilma berkeliling mencari-cari jajanan untuk mengisi perut. Saya makan sate Padang (“Pak, ini asli Padang nggak satenya?”) dan Ilma milih siomay. Masih saja sepi. Begitu panitia mulai manggil-manggil para tamu karena acara akan dimulai pun, kami memasuki tenda yang masih kosong. Bahkan sampai acara akan berakhir, masih banyak kursi yang tak ditempati.

Acara dipandu Dik Doank dan Terry Putri dan seluruh musik disuplai oleh Purwacaraka Orkestra dan disiarkan live oleh Stasiun Kesayangan Kita Bersama, TVRI. Keseluruhan performance terasa biasa-biasa saja, kecuali monolog segar Butet Kartaredjasa yang mungkin membuat kuping para petinggi Depdikbud panas. Dan ada satu kejadian–kalau tak mau disebut insiden–saat salah seorang filmaker yang menerima anugerah kategori anu memasukkan piala yang dia terima ke dalam kantong kresek dan menentengnya seperti baru membeli gorengan di pinggir jalan. Haha. Ada-ada saja.

Begitu Mas Butet selesai monolog, saya merasa lapar. Sambil berencana sekalian pulang, saya mengajak Ilma makan. Saya milih gudeg Jogja yang lumayan enak, tapi begitu selesai makan, saya tidak menemukan satu gelas pun air putih. Pas seorang mas-mas yang tampaknya orang katering lewat saya nanya, “Mas, air putihnya masih ada nggak?” dia menjawab, “Sebentar ya, Pak, lagi diambil.” Untungnya saya tidak sendirian. Ada beberapa orang lagi yang setelah makan tampak kesal karena tak ada air putih. Sampai saya pulang, air putih yang saya minta tidak kunjung datang. Saya baru bisa minum ketika sudah di mobil dalam perjalanan pulang.

Buat yang penasaran siapa saja Penerima Penghargaan Apresiasi Film Indonesia 2013, berikut daftarnya:

Apresiasi Film Bioskop: “Atambua 39 Derajat Celcius”
Apresiasi Film Independen Umum: “Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya” (Yosep Anggi Noen)
Apresiasi Film Dokumenter: “Denok & Gareng” (Sutradara : Dwi Sujanti Nugraheni)
Apresiasi Film Pendek : “Halaman Belakang” (Sutradara : Yusuf Radjamuda)
Apresiasi Film Adi Karya : “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” (Sutradara : Asrul Sani)
Apresiasi Adi Insani : Garin Nugroho
Apresiasi Sutradara Perdana : Yosep Anggi Noen (“Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya”)
Apresiasi Komunitas: Cinema Lovers Community (Purbalingga)
Apresiasi Poster Film Bioskop: “5 CM.”
Apresiasi Media Cetak : Tabloid Bintang Indonesia
Apresiasi Media Non Cetak : http://www.filmindonesia.or.id
Apresiasi Lembaga Pendidikan : Institut Kesenian Jakarta
Apresiasi Festival Film : HelloFest
Penghargaan Khusus Dewan Juri: “Langka Receh” (Eka Sulistiawati)

Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.

Mudik 2013: 1380 Kilometer Nan Lancar

TAHUN ini, untuk pertama kalinya saya mudik ke kampung halaman saya, Payakumbuh dengan menyetir kendaraan sendiri, bergantian dengan seorang keluarga jauh yang saya minta menemani. Menyetir sendiri siang-malam sejauh 1380 kilometer melewati hutan-hutan sepi di sepanjang lintas Sumatera tentu bukan pilihan yang bijak, apalagi saya mengajak anak-istri dan seorang ponakan.

Berangkat dari Depok pada Selasa malam 30 Juli 2013 pukul 19.00 WIB, kami sampai dengan selamat di kampung halaman pada Kamis pukul 11.30 WIB. Itu berarti sekitar 40,5 jam perjalanan. Menggunakan sebuah SUV Toyota bermesin 1500 cc, saya menghabiskan sekitar Rp 870 ribu untuk bensin (+/- 133 liter, diisi ulang 3 kali selama perjalanan). Untuk tol sekitar Rp 50.000, untuk bayar kapal ferry Rp 275 ribu, dan untuk makan selama perjalanan sekitar Rp 300 ribu. Bila dihitung total jenderal, biaya perjalanan “hanya” sekitar Rp 1.500.000 saja. Uang segitu setara dengan tiket pesawat Jakarta – Padang untuk satu orang. Lumayan hemat, kan?

Saya memilih rute Lintas Tengah Sumatera, yaitu:

Pelabuhan Bakauheni
Bandar Jaya
Martapura
Baturaja
Muara Enim
Lahat
Tebing Tinggi
Lubuk Linggau
Sarolangun
Bangko
Muara Bungo
Darmasraya
Sijunjung
Payakumbuh

Di antara kota-kota/kabupaten-kabupaten di atas, yang paling rawan kejahatan adalah Lahat dan Lubuk Linggau, tapi alhamdulillah saat melintasi kawasan itu, kami lewat tanpa halangan apa pun juga. Di antara kota-kota di atas, yang paling parah kondisi jalannya adalah Bandar Jaya. Sebagian besar jalan di daerah ini tidak layak. Sementara kota-kota lainnya kondisi jalannya mulus.

Di pintu tol Jakarta Merak
Di pintu tol Jakarta Merak
Pintu masuk Pelabuhan Merak.
Pintu masuk Pelabuhan Merak.
Rehat sejenak di SPBU Bandar Jaya.
Rehat sejenak di SPBU Bandar Jaya.
Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.
Melintasi Lintas Tengah Sumatera yang masih lengang.
Masjid Al-Ikhwan Sungai Rumbai Jambi. Perhentian terakhir sebelum kampung halaman.
Masjid Al-Ikhwan Sungai Rumbai Jambi. Perhentian terakhir sebelum kampung halaman.
Sumber gambar: http://bloopendorseinside.com

Saya dan Hikayat Sebuah Mesin Jahit Tua

MALAM ini, entah kenapa, kepala saya dipenuhi gambar-gambar mesin jahit. Bukan mesin jahit yang sudah modern dan canggih seperti yang dipakai orang sekarang, tapi mesin jahit tua, dengan sabuk dan pedal, dengan bau minyak dan aroma kainnya. Tiba-tiba saya merasa harus menyampaikan sebuah kisah pada Anda.

Saya—sedikit atau banyak—hidup bersama mesin jahit. Waktu balita, saya dan kakak lelaki saya sering dibawa ke kedai oleh ayah saya yang seorang tukang jahit. Bukan perjalanan wisata tentunya, karena hampir tiap hari kami dibawa ke kedai. Bukan perjalanan wisata namanya kalau dilakukan setiap hari, bukan? Itu semacam pembagian tugas antara Ibu dan Ayah, karena saat itu kami belum punya pembantu yang bisa menjaga kami di rumah.

Tiap hari (kecuali hari Minggu), begitu lelah bermain benang atau perca kain, saya atau kakak saya, tidur siang di kolong meja gunting. Meja gunting adalah sebutan Ayah untuk sebuah meja setinggi perut dengan panjang dua setengan meteran dan lebar satu meteran yang digunakan Ayah untuk memotong kain. Di bawah meja itu tidak ada apa-apa selain sebuah ruang kosong yang muat untuk kami yang masih kecil-kecil tidur berdua.

Sedikit lebih besar, ketika kaki-kaki saya dan kakak saya mulai bisa menjangkau pedal mesin jahit, Ayah mulai mengajari kami menjahit. Sebuah aktivitas, yang kalau saya pikir-pikir, teramat mengasyikkan untuk anak kecil seusia kami. Memasukkan benang ke lubang jahit, memutar pedal tangan, mengayuh pedal kaki, alangkah menyenangkannya. Begitu pedal dikayuh, jarum jahit menghunjam lubang jahit turun-naik, menarik dan mengaitkan benang, menyambung-mengikat-menjerat dua sisi kain yang akhirnya bisa disatukan.

Setelah matang berlatih menjahit kain perca, Ayah menyuruh kami menunaikan tugas sungguhan pertama: menjahit bendera. Menjahit bendera adalah bagian paling ringan dan paling kecil risikonya. Anda tinggal menyambung dua helai kain dua warna, merah dan putih, melipat keempat sisinya, memberi tiga atau lima kain ikatan di salah satu sisinya, dan jadilah ia sebuah bendera. Di awal-awal bulan Juli seperti sekarang, beberapa minggu sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI, sudah banyak pelanggan yang datang mencari bendera, dan itu adalah masa-masa “bekerja” pula bagi saya dan kakak saya. Itu pulalah masa-masa kami mencari uang jajan tambahan, dengan keringat kami sendiri.

Sedikit lebih besar lagi, saat duduk di kelas dua SMP (dan kakak lelaki saya di kelas tiga SMP), Ayah mulai menurunkan ilmu menjahitnya pada kami berdua, mulai dari bagaimana memilih kain dan benang, bagaimana mengukur kemeja dan celana, bagaimana membuat pola, dan bagaimana memotongnya, dan mulai menjahitnya.

Sebenarnya, menjahit itu dibagi ke dalam dua bagian kemahiran. Pertama, kemahiran menjahit. Kedua, kemahiran mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Di antara dua kemahiran ini, ilmu kedua memiliki strata lebih tinggi. Ketika ingin jadi seorang penjahit, Anda harus pandai terlebih dahulu menjahit. Kalau sudah mahir, Anda baru akan diajari bagaimana cara mengukur, membuat pola, dan memotongnya. Paling tidak, seperti itulah yang diajarkan Ayah saya.

Awalnya, saya dan kakak saya, melakukan pemberontakan kecil-kecilan terhadap upaya Ayah “memaksa” kami belajar menjahit. Saya dan kakak saya tidak pernah bercita-cita jadi penjahit. Kami sudah cukup melihat betapa susahnya hidup dari profesi itu dijalani ayah kami. Dan, di antara saya dan kakak saya, sayalah yang paling kuat memberontak. Saya bilang pada Ayah, saya tidak punya bakat menjahit. Saya bilang, saya ingin jadi insinyur. Saya tidak ingin keluarga saya hidup susah kelak, sebagaimana Ayah membesarkan saya.

Namun Ayah berkata, “Kalau kamu tidak mau menjadi penjahit, tidak mau menjadikan ini sebagai mata pencaharian, tak apa. Tapi paling tidak, saat kelak hidupmu tiba-tiba susah, tiba-tiba kau terjepit hidup, kau bisa menjadikan ilmu menjahit ini sebagai ban serap, sampai kesempitanmu hilang.”

Kata-kata beliau itu lekat di kepala saya sampai hari ini. Dan satu lagi yang beliau pesankan pada saya dan kakak saya: “Meski nanti sudah jadi orang kaya, milikilah sebuah mesin jahit di rumah. Pasti bahagia rasanya, bisa sesekali melihat anak lelaki kalian memakai kemeja dan celana yang dijahit ayah mereka sendiri. Percayalah pada Ayah.”

Kata-kata itu tak pernah saya ikuti. Sampai sekarang, kalau ada keperluan memotong celana yang kepanjangan kakinya, atau baju yang terlalu longgar, saya pasti lari ke tukang jahit. Mengupah mereka untuk mengerjakan sesuatu yang sudah saya kuasai sejak saya masih kecil.

Sementara kakak saya, setelah berlika-liku mencari peruntungan dengan ijazah sarjananya, akhirnya memutuskan untuk menjadi penjahit seperti Ayah, tentu saja dengan skala yang berbeda. Kakak saya itu, bahkan ketika memutuskan menjadi penjahit, sudah merendam ijazah S1-nya, yang seingat saya, membuatnya ribut dengan Ibu saya dan istrinya selama berhari-hari.

Begitulah kenangan saya tentang sebuah mesin jahit. Kini, saat menulis tulisan ini, keinginan saya untuk memiliki sebuah mesin jahit manual tua (bukan mesin jahit listrik) kembali menggebu-gebu. Saya rindu mendengar derak-derik suara pedalnya, dan suara tik-tik saat benang kawin dengan benang, dan melihat putaran rodanya yang dulu sekali waktu kecil pernah menjepit jari-jari saya.[]

Ini sudut yang paling saya suka.

Paru-Paru Kecil

PAGI ini, tak direncanakan, saya mampir ke Taman Spathodea yang ada di Jalan Kebagusan Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Taman seluas satu hektar yang dibangun oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI pada 2011 ini punya 300 pohon Spathodea, sebuah jalur joging sepanjang 100 meter, sebuah danau buatan, dan lapangan bermain untuk anak-anak.

Sebuah taman kecil di tengah kawasan padat penduduk, tentu saja jadi seperti paru-paru kecil buat sebuah dada yang tengah sesak. Dua bintang saja. Lumayanlah.[]

Tampak depan. Itu mobil siapa, sih? Gangguin orang foto saja :-)
Tampak depan. Itu mobil siapa, sih? Gangguin orang foto saja 🙂
Sayangnya, parkirnya sempit.
Sayangnya, parkirnya sempit.
Pohon-pohon Spathodea itu.
Pohon-pohon Spathodea itu.
Jogging track-nya lumayan. Ada turun-naiknya.
Jogging track-nya lumayan. Ada turun-naiknya.
Danau kecil. Buatan. Agak butek.
Danau kecil. Buatan. Agak butek.
Pengumuman yang terkesan "nyampah".
Pengumuman yang terkesan “nyampah”.
Ini sudut yang paling saya suka.
Ini sudut yang paling saya suka.
Pemandangan dari tempat duduk di foto sebelumnya.
Pemandangan dari tempat duduk di foto sebelumnya.
Area bermain. Lumayan.
Area bermain. Lumayan.
Satu dari tiga area tempat duduk. Lumayan buat mojok, ya?
Tempat duduk kedua. Lumayan buat mojok, ya?
Memang Jodoh

Novel Terakhir Pengarang Sitti Nurbaya

WARTAWAN Majalah Tempo, Iqbal Muhtarom, mewawancarai saya tentang proses penyuntingan novel “Memang Jodoh” karya Marah Rusli. Berikut petikannya:

Bagaimana proses editing naskah novel yang sudah selesai ditulis pada tahun 1961 tersebut? Apa tantangan mengedit naskah yang sudah terbit lebih dari 50 tahun lalu?

Bagi saya, naskah “Memang Jodoh” ini termasuk naskah kelas berat. Artinya, naskah yang sulit untuk disunting. Kalimatnya panjang-panjang, dan banyak sekali ungkapan, kalimat, atau kata yang tidak “asing” atau jarang dibaca atau didengar oleh pembaca sekarang. Banyak pula kata-kata yang belum baku, masih merupakan bahasa asli Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia.

Berapa lama Anda butuhkan menyunting naskah novel?

Naskah ini saya sunting lebih kurang selama 2,5 bulan.

Pada bagian apa saja yang Anda edit, sunting, dalam naskah novel?

Penerbit meminta saya menjadikan naskah ini lebih ringan buat pembaca. Namun, saya sekaligus diminta untuk tidak menghilangkan gaya bercerita khas a la Marah Rusli seperti dalam novel beliau yang lain semisal Sitti Nurbaya. Kalimat yang panjang saya pecah menjadi beberapa kalimat pendek tanpa merusak isi dan maksudnya; saya juga membuat catatan kaki untuk kata/ungkapan agar lebih mudah dipahami pembaca.

Adakah kata-kata yang Anda ubah ejaannya, yang Anda sesuaikan dengan kondisi sekarang?

Di naskah yang saya terima, ejaan yang digunakan sudah EYD. Jadi, tidak ada ejaan lama dalam naskah Memang Jodoh yang saya terima dari penerbit. Kalaupun ada yang saya ganti atau ubah hanya beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” yang maksudnya “sekolah swasta”. Selagi kata yang dipakai masih bisa dipahami pembaca—meskipun kurang populer—saya akan mempertahankannya dan memberi catatan tentang kata tersebut.

Kesulitan apa yang Anda alami ketika menyunting naskah novel Memang Jodoh ini?

Kesulitannya hanya dalam mencari arti kata-kata yang tak saya temukan artinya di dalam kamus.

Dalam novel ini terdapat catatan kaki, apakah catatan kaki itu dari Anda? Mengapa diperlukan catatan kaki? Hal-hal apa saja yang Anda perlukan untuk diberikan catatan kaki?

Ya, catatan kaki itu dari saya, dan beberapa lagi ditambahkan oleh penerbit. Ya, tentu saja diperlukan, karena kalau saya biarkan tanpa catatan, pembaca akan merasa asing dengan kata yang dipakai oleh pengarangnya. Saya memang tidak berani mengubah kata-kata tersebut ke konteks sekarang, karena saya dan penerbit memang ingin tetap seperti itu. Nah, dengan catatan kaki inilah kita membantu pembaca untuk memahaminya.

Bisa diceritakan proses penerbitkan novel Memang Jodoh ini, mengapa Qanita bisa menerbitkannya? Apakah keluarga Marah Rusli yang menawarkan? Kapan tawaran itu diberikan?

Pertanyaan ini lebih tepat dijawab oleh penerbit.

Berdasar wawancara kami dengan keluarga Marah Rusli, terdapat salah penulisan Merah Hamli, yang seharusnya ditulis Marah Hamli? Meskipun menurut cucu Marah Rusli, dalam naskah aslinya memang ditulis Merah Hamli.

Ya, dalam naskah yang saya terima, memang ada dua versi penulisan nama tersebut: Merah Hamli dan Marah Hamli. Namun, kekeliruan ini sudah diluruskan dan diperbaiki.

Apakah Anda membaca naskah asli dari novel ini yang ditulis dalam Arab gundul? Juga naskah yang ditulis Marah Rusli yang sudah ditulis dalam huruf latin?

Tidak, naskah yang saya terima dari penerbit adalah naskah yang sudah ditik ulang. Saya juga baru tahu kalau naskah aslinya dalam bahasa Arab gundul.[]

Judul: Memang Jodoh
Pengarang: Marah Rusli
Penyunting: Melvi Yendra
Penerbit: Qanita, 2013
Tebal: 535 halaman