20140519_094604

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Novel karya Eka Kurniawan
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Mei 2014, 252 hlm.
Rp58.000,-

SETELAH 10 tahun tidak menelurkan karya novel, (novel terakhir “Lelaki Harimau” terbit 2004), tahun ini Eka Kurniawan merilis novel terbarunya, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Novel ini konon sudah ditunggu-tunggu penikmat karya sastra Indonesia, setelah novel pertamanya, “Cantik Itu Luka” menjadi salah satu karya sastra fenomenal di Indonesia, setidaknya sejak satu dekade terakhir. “Cantik Itu Luka” telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang dan Malaysia, dan kabarnya saat ini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh sebuah penerbit di negara yang dipimpin Barack Obama. Saya termasuk salah satu di antara pembaca yang menunggu-menunggu karya terbaru ini, yang sampulnya sudah dirilis sejak beberapa bulan lalu oleh pengarangnya.

Novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” berkisah tentang Ajo Kawir, seorang jagoan kampung tukang kelahi dan burungnya yang tidur panjang setelah sebuah peristiwa nahas pada suatu malam jahanam. Ajo Kawir dan Si Tokek, yang waktu itu masih bocah, malam itu berniat mengintip Rona Merah mandi. Rona Merah adalah perempuan sinting tetangga jauh mereka, janda yang suaminya tewas dibunuh orang beberapa tahun lalu.

Tapi apa yang kemudian mereka saksikan jauh di luar sangkaan. Mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih seru daripada sekadar melihat Rona Merah mandi. Dua orang polisi, entah datang darimana, masuk ke dalam rumah Rona Merah, memandikan perempuan itu sampai bersih, untuk kemudian memperkosanya, bergiliran.

Malangnya, kedua bocah itu ketahuan sebelum aksi bejat itu dimulai. Si Tokek berhasil kabur, sementara Ajo Kawir yang tertangkap, dipaksa oleh kedua polisi menonton mereka menggagahi Rona Merah. Tak sampai di situ saja, Ajo Kawir juga dipaksa ikut nyobain tubuh Rona Merah. Tapi anehnya, bukannya bangun dan keras, burung Ajo Kawir malah meringkuk, mengerut, tak bisa bangun. Kedua polisi menertawakannya, lalu melepaskannya. Rona Merah kemudian ditemukan mati, dan kedua polisi itu hilang tak tentu rimbanya.

Ajo Kawir, yang merasa ditimpa aib besar dan teramat memalukan, berusaha membangunkan kembali sang burung, bak seorang pelatih tinju yang ingin membangunkan petarung andalannya yang tiba-tiba ambruk bahkan sebelum ronde pertama dimulai. Ajo Kawir mencoba cara-cara mudah sampai cara-cara radikal, yang membuat Si Tokek khawatir. Ajo Kawir mengolesi burungnya dengan cabe rawit namun gagal membangunkan si burung. Dia lalu membiarkan kemaluannya disengat tiga ekor lebah (terapi lebah kata orang), tapi si burung cuma bengkak, tapi masih tetap tidur seperti semula. Iwan Angsa, ayah Si Tokek, yang menganggap Ajo Kawir sudah seperti anak sendiri, jatuh iba begitu tahu masalah besar yang dihadapi bocah itu. Dia pun membelikan Ajo Kawir buku-buku stensilan, berharap bacaan itu bisa membangunkan sang burung, tapi ternyata gagal. Iwan Angsa juga membawa Ajo Kawir pada seorang pelacur di pinggir rel kereta, menyuruhnya tidur dengan pelacur itu, tapi si pelacur malah merasa terhina karena dirinya tak mempan membangunkan kemaluan Ajo Kawir. Puncaknya, suatu hari, di tengah kemarahan sekaligus keputusasaan, Ajo Kawir meletakkan kemaluannya di atas tanggul kayu dan siap-siap mengayunkan kapak menebasnya. Untung saja, Si Tokek cepat datang. Kalau tidak, daging kecil pemalas di selangkangannya itu akan tinggal kenangan. Setelah usaha terakhir itu, Ajo Kawir menyerah, dan membiarkan burungnya tidur lelap, selama yang ia suka. Si Tokek pun menghiburnya, “Suatu ketika, burungmu akan berdiri lago. Percaya saja. Lagipula, kalau sekarang bisa berdiri, memangnya mau kamu pakai untuk siapa?” Ajo Kawir hanya tersenyum kecil mendengar nasihat kawannya itu. Si Tokek benar juga, katanya.

Namun, kata-kata itu seolah mengiang kembali di kepala Ajo Kawir ketika dia jatuh cinta pada seorang gadis bernama Iteung, cinta yang diiringi kecemasan bahwa kelak, kalau mereka menikah, ia tak akan pernah bisa memberi nafkah batin pada gadis itu. Tapi, ketika mereka akhirnya menikah, Iteung, yang cinta mati pada Ajo Kawir, menerima keadaan suaminya itu, dan merasa sudah bahagia dirinya dipuaskan cuma dengan permainan jari-jari Ajo Kawir. Namun, waktu akhirnya membuktikan, jari-jari Ajo Kawir ternyata tak cukup. Suatu hari, Ajo Kawir menyadari bahwa istrinya telah mendapatkan kepuasan yang tak bisa diberikannya dari lelaki lain. Iteung mual-mual dan ternyata hamil.

Bila Anda sudah tamat baca “Cantik Itu Luka”, Anda mungkin akan sedikit terkejut dengan cara Eka Kurniawan bercerita dalam novel ini. Kalau dalam “Cantik Itu Luka” Eka masih berusaha menahan agar kata-kata yang dipilihnya dalam menggambarkan persetubuhan tidak terlalu liar dan vulgar, maka di novel ini Eka, tampaknya benar-benar melepaskan diri dari segala kekuatiran itu. Dalam novel setebal 242 halaman ini, berserakan kata-kata kontol, memek, pejuh, puting, jembut, selangkangan, dll. Dan kata-kata tersebut, digunakan sebebas-bebasnya oleh sang pengarang, tanpa tedeng aling-aling. Mungkin ada yang bakal memberi vonis “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” sebagai novel stensilan murahan, yang sengaja ingin membuat pembacanya bersenang-senang dengan kisah-kisah selangkangan perempuan dan segala fantasi dan imajinasi liar yang menyertainya. Tapi buat saya, ini bukan novel stensilan picisan. Meski di awal pembacaan, saya sempat menduga, penerbit pasti sudah melalui banyak perdebatan dan diskusi alot internal sebelum meloloskan karya ini. Buat saya, Eka sedang berbicara dengan jujur dan terang tentang banyak kenyataan yang selama ini coba kita halus-haluskan. Seperti kita tahu, kini kenyataan bahkan lebih sadis dan dramatis dari sebuah karya fiksi.

Kisah hidup para tokoh dalam novel ini adalah rangkaian kepahitan yang sejatinya dialami banyak orang Indonesia. Dalam cerita ini, setidaknya ada empat perempuan yang dilecehkan, dipermainkan harkat dan martabatnya melalui tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan. Rona Merah yang diperkosa dua polisi, lalu Si Janda Muda beranak dua yang terpaksa melayani Pak Lebe, induk semang kontrakannya karena tak punya uang untuk membayar sewa. Tidak sampai di situ saja, Si Janda Muda bahkan tak berdaya ketika Pak Lebe membagi kesenangan pribadinya itu dengan kawan-kawannya yang dia ajak datang ke rumah Si Janda Muda. Lalu, ada Nina, perempuan impian Mono Ompong, kenek Ajo Kawir, yang menjadi pelacur saat bahkan ketika buah dadanya belum mekar. Perempuan keempat adalah Iteung sendiri, salah satu tokoh sentral dalam cerita ini, yang belakangan kita tahu dia jago berkelahi bukan karena bakat, tapi memang diniatkannya untuk satu tujuan: membalas perlakuan seorang bangsat berprofesi guru bernama Pak Toto, yang menjadikan Iteung objek kesenangan di ruang kelas dan ruang konseling, saat gadis itu masih bocah SD.

Eka, seolah meneriakkan bahwa kegetiran yang dialami perempuan-perempuan tak berdaya itu sudah menjadi hal lumrah dan kita yang berada di luar kegetiran itu tak bisa berbuat apa-apa selain mengurut dada. Semakin jauh kita dari pusat gempa kegetiran itu, semakin kita tak merasakan apa pun, semakin kita kehilangan kepedulian. Kita tetap bisa melanjutkan hidup, tergelak dan tertawa dan tak terganggu sedikit pun oleh kegetiran-kegetiran itu.

Saya sepakat, Ajo Kawir dan burungnya yang tidur panjang itu, seperti ditulis di belakang sampul buku ini, adalah sebuah alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meski semua orang berusaha membangunkannya. Sejak burungnya tidur panjang, Ajo Kawir lebih arif, tidak lagi ingin membunuh orang, seolah lahir kembali menjadi sosok yang bijaksana, setia pada pasangan, meski dia seorang sopir truk antar kota, sebuah profesi yang demikian lekat dengan kebiasaan jajan perempuan di warung-warung pinggir jalan. Bahkan, ajakan berkelahi dari Si Kumbang, sopir truk lain yang sangat membenci ketenangan Ajo Kawir, tak pernah diladeni Ajo Kawir sampai akhir, karena si Burung tak pernah mengizinkannya. Ajo Kawir bahkan tak bernafsu untuk membalaskan dendam pada dua polisi di malam jahanam belasan tahun lalu itu, yang membuat burungnya tidur panjang, meski jalan untuk membunuh kedua polisi itu sudah dilempangkan seluas-luasnya oleh Paman Gembul, tokoh misterius yang seolah punya kuasa tak terbatas. Novel ini seolah ingin mengajarkan pada kita, bahwa alat kelamin, dengan segala hasrat purba dan fitrah yang dipendam dan dimilikinya, bila tak pandai-pandai menggunakannya, bisa menjadi pemicu rangkaian kehancuran dan kegetiran yang tidak hanya menimpa diri si empunya alat kelamin, tapi juga orang-orang di sekitarnya, baik yang mereka benci maupun yang mereka cintai. Coba simak dialog antara Mono Ompong dan Ajo Kawir ini:

“Burungku bilang aku tak boleh berkelahi.”
“Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?”
“Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.”

“Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” mulai beredar hari ini, 19 Mei 2014, setelah tertunda dari rencana awal, 4 April 2014. Tak lama sebelum ini, juga sudah beredar edisi terbit-ulang kumpulan cerpen Eka Kurniawan, “Corat-Coret di Toilet” (sebelumnya terbit pada 2000). Kedua karya ini diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia Group. Saya sendiri mendapatkan kedua buku ini langsung dari penulisnya, beberapa minggu sebelum buku ini diedarkan secara resmi. Saya berterima kasih pada Eka Kurniawan, bukan hanya karena diberi dua buku karyanya secara cuma-cuma (ditandatangani pula), tapi juga karena dia sudah menulis sebuah karya yang baik, dalam, dan bermakna.[]