marah roesli

Novel Terakhir Bangsawan Terbuang

Dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Setelah 50 tahun lebih disimpan ahli warisnya, novel semiotobiografi Memang Jodoh Marah Roesli, pengarang Sitti Nurbaya, akhirnya diterbitkan. Novel yang selesai ditulis menjelang hari ulang tahun perkawinan emasnya itu baru diterbitkan setelah semua ninik mamaknya di Padang meninggal.

Bercerita tentang apakah novel itu? Marah Roesli menggugat adat lapuk priayi-priayi Minangkabau yang menganggap perkawinan antara laki-laki bangsawan Padang dan perempuan daerah lain sebagai suatu penghinaan. Tempo mengorek penjelasan anak-cucu Marah Roesli tantang penerbitan karya terakhir pengarang Angkatan Balai Pustaka itu.

NOVEL karya sastrawan Balai Pustaka, Marah Roesli, itu lama tersimpan di laci. Tak pernah dibukukan. Tak pernah disebarluaskan ke publik atau kritikus sastra. Sebelum wafat, Marah Roesli berwasiat kepada anak-cucunya bahwa novel tersebut hanya buleh dipublikasikan setelah dia dan semua orang yang disebutkan dalam naskah novel itu meninggal. Marah Roesli wafat di Bandung, 17 Januari 1968, pada usia 78 tahun. Dia dikubur di pemakaman keluarganya di Ciomas, Bogor.

Kini sudah 45 tahun kematian Marah Roesli. Belum genap 50 tahun. Pihak keluarga memutuskan menyerahkan “naskah rahasia” yang tak boleh dibaca siapa pun itu kepada penerbit. Dan pekan ini dunia sastra Indonesia boleh bergembira. Naskah itu diterbitkan Qanita Classic, lini penerbitan khusus sastra klasik Mizan, dalam bentuk buku yang diluncurkan belum lama ini.

Marah Roesli terkenal dengan roman Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Kita ingat Sitti Nurbaya adalah kisah asmara antara Sitti Nurbaya, anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya, dan Samsul Bahri, anak Penghulu Sutan Mahmud. Sitti Nurbaya akhirnya diperistri Datuk Maringgih, yang menghancurkan kekayaan ayahnya dan kepadanya ayahnya berutang.

Kita tahu roman ini berakhir dengan tragedi. Sitti Nurbaya, yang lari dari Datuk Maringgih dan mencari Samsul Bahri, meninggal dibunuh Datuk Maringgih. Samsul Bahri, yang menjadi tentara Belanda dan berganti nama menjadi Letnan Mas, berhasil membinasakan Datuk Maringgih, yang memimpin pemberontakan antipajak di Padang-meski Samsul Bahri juga tertebas pedang Datuk Maringgih dan akhirnya meninggal di rumah sakit.

“Novel rahasia” yang tersimpan di laci itu juga berbicara tentang asmara, tapi tidak setragis Sitti Nurbaya. Novel berjudul Memang Jodoh itu sesungguhnya sudah rampung ditulis Marah Roesli pada 1961. Novel tersebut diselesaikan Marah Roesli tatkala usianya sudah uzur, yaitu 72 tahun. Novel itu merupakan kado Marah Roesli untuk istrinya, Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, pada hari ulang tahun ke-50 pernikahan mereka, 2 November 1961.

Apa isinya sehingga Marah Roesli melarang orang membacanya sebelum dia dan ninik mamaknya di Padang meninggal semua?

Novel itu berkisah mengenai jatuh-bangun perjalanan cinta seorang pemuda bangsawan Padang bernama Merah Hamli, yang mirip gambaran kehidupan cinta sang pengarang sendiri. Dalam kehidupan nyata, Marah Roesli adalah pemuda asal Padang yang merantau ke Buitenzorg (Bogor) dan kuliah di Nederlands Indische Veeartsenijschool (Sekolah Dokter Hewan Belanda). Di Bogor, Marah Roesli bertemu dengan Raden Ratna Kantjana binti Kartadjumena, gadis keturunan bangsawan Sunda. Mereka menikah pada 2 November 1911. Pernikahan ini ditentang kedua keluarga mempelai.

Ayah Marah Roesli adalah Sutan Abu Bakar, bangsawan Pagaruyung, sementara ibunya perempuan biasa. Gelar “Marah” diberikan keluarga ayahnya. “Dalam diri Marah Roesli memang mengalir darah Pagaruyung, tapi dia bukan ahli waris dari Kerajaan Pagaruyung, karena di sini garis keturunannya matrilineal,” kata Raudha Thaib, ahli waris Kerajaan Pagaruyung. Dari pihak Marah Roesli, keluarga dari ibunyalah yang paling lantang menolak. Dari pihak Ratna, hanya keluarga inti yang memberikan restu. Akibat perkawinan itu, Marah Roesli dikucilkan secara adat dan terbuang dari tanah kelahirannya.

Berbagai cara dilakukan keluarga besar mereka untuk memisahkan pasangan itu. Siti Nur Chairani, putri bungsu Marah Roesli yang biasa dipanggil Tante Nani, ingat, suatu hari seorang pria muncul di rumah mereka di Jalan Merdeka, Bogor, membawa pesan untuk Marah Roesli dari ibunya di Padang. Marah Roesli dan Ratna tak curiga dan menerimanya dengan baik. Terkesan oleh kebaikan Ratna, tamu ini akhirnya mengaku bahwa ia adalah dukun yang dikirim keluarga ibu Marah Roesli untuk mengguna-gunai Ratna. Dalam novel itu, kisah dukun yang hendak mengguna-gunai Marah Roesli dan istrinya juga digambarkan.

“Perkawinan seorang laki-laki Padang, lebih-lebih yang berbangsa tinggi seperti Hamli ini, dengan perempuan negeri lain, dipandang orang di Padang sebagai suatu penghinaan yang besar atas kaum bangsawan,” kata seorang tokoh dalam novel bernama Datuk Sati, dukun besar dari Padang.

Novel berlatar masa penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan itu mengisahkan perjalanan Merah Hamli, yang merantau ke Bogor untuk kuliah di sebuah sekolah pertanian. Di kota inilah dia bertemu dengan jodohnya, Nyai Radin Asmawati, putri Wedana Cibinong. Namun rencana perkawinan tak direstui kedua keluarga besar mereka. Keributan sempat terjadi di Padang dan di Bogor. Tapi keduanya tetap menikah dan berkali-kali mendapat cobaan yang mengancam perkawinan itu, dari guna-guna hingga paksaan agar Hamli menikah lagi. Semua cobaan itu mereka hadapi dengan tabah hingga mereka beranak-cucu dan merayakan perkawinan emas pada 1961 di Sukabumi.

Menurut Rully Marsis Amirullah, cucu Marah Roesli yang kini bermukim di Bandung, Memang jodoh bukanlah otobiografi lengkap kakeknya. ”Ini novel semiotobiografi, karena kebanyakan bercerita tentang masalah perkawinan beda adat dan anjuran berpoligami clari keluarganya,” ujarnya.

Rully mengenang, pada 1961, saat perayaan ulang tahun perkawinan emasnya, Marah Roesli menyampaikan pidato panjang mengenai Memang Jodoh di hadapan anak-anak dan cucu-cucunya. Beberapa cucunya, termasuk Rully dan adiknya, musikus Harry Roesli, kemudian membentuk band bocah dan bernyanyi di hadapan kakek dan nenek mereka.

NOVEL BERLATAR MASA PENJAJAHAN BELANDA HINGGA ZAMAN KEMERDEKAAN ITU MENGISAHKAN PERJALANAN MERAH HAMLI, YANG MERANTAU KE BOGOR UNTUK KULIAH DI SEBUAH SEKOLAH PERTANIAN. DI KOTA INILAH DIA BERTEMU DENGAN JODOHNYA, NYAI RADIN ASMAWATI, PUTRI WEDANA CIBINONG.

Seperti karya Marah Roesli yang lain, Memang Jodoh awalnya ditulis tangan dalam aksara Arab Melayu gundul di buku panjang yang kerap digunakan akuntan, lalu diketik di atas kertas minyak tipis. Manuskripnya sudah hilang, tapi naskah ketikannya masih ada dan disimpan Rully. Agar tak rusak, naskah ini kemudian diketik ulang di atas kertas biasa yang tiap lembarnya dilapisi plastik.

Menurut Siti Nur Chairani, ayahnya berwasiat bahwa novel itu tak boleh diterbirkan sebelum semua orang yang disebutkan di naskah tersebut meninggal karena tak ingin menyakiti perasaan kerabat di Padang. ”Bahkan naskahnya juga tak boleh dibaca sebelum ayah saya meninggal,” kata Siti.

Mengapa setelah 50 tahun berlalu sejak Marah Roesli berpidato tentang novelnya, anak-ucunya akhirnya memutuskan menerbitkan novel itu? ”Seluruh keluarga sepakat, novel itu bukan milik keluarga lagi, melainkan milik kesusastraan nasional,” ujar Rully, yang kemudian bertugas mengurus penerbitannya.

Rully menyerahkan naskah itu tahun lalu ke Mizan. Mizan pun menyambut baik tawaran ini. Editor Mizan, Melvi Yendra, menyuntingnya dan menilai naskah itu sebagai naskah kelas berat. “Itu naskah yang sulit untuk disunting,” kata Melvi, yang butuh waktu dua setengah bulan untuk menyunting novel yang setelah dicetak jadi setebal 525 halaman itu.

Marah Roesli, kata Melvi, sering menulis dengan kalimat panjang dan memakai banyak kata dari Bahasa Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia. Melvi berusaha menyunting naskah itu menjadi lebih ringan bagi pembaca tanpa menghilangkan gaya bercerita Marah Roesli. Melvi memecah kalimat yang panjang menjadi beberapa kalimat pendek dan menambahkan catatan kaki untuk beberapa kata yang terasa asing. Dia hanya mengganti beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” untuk “sekolah swasta”.

Sapardi Djoko Damonu, yang sudah membaca naskah Memang Jodoh, menilai novel itu biasa saja, dalam arti bukan yang penting atau terbaik dari karya Marah Roesli. “Berbeda dengan Sitti Nurbaya yang disebut sebagai novel modern pertama dan masuk buku-buku pelajaran sekolah sehingga dianggap sebagai kanon sastra,” ujar guru besar Fakultas llmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu.

Novel itu, kara Sapardi, sangat berbeda dengan novel-novel Marah Roesli sebelumnya, seperti Sitti Nurbaya, yang warna lokalnya sangat kental sehingga sangat sulit dipahami orang di luar Sumatera Barat.

”Dalam Memang Jodoh, Marah Roesli memakai cara yang baru,” ujarnya. ”Gaya novel ini bisa disebut sebagai novel populer, dalam arti sangat mudah dipahami orang banyak. Pengalaman pribadinya ia ceritakan dengan enteng saja.”

-KURNIAWAN, DODY HIDAYAT, RATNANING ASIH, IQBAL MUHTAROM, ANWAR SISWADI, FEBRIYANTI

Sumber : Tempo | Edisi 22-28 Juli 2013 | Hal 60

Memang Jodoh

Novel Terakhir Pengarang Sitti Nurbaya

WARTAWAN Majalah Tempo, Iqbal Muhtarom, mewawancarai saya tentang proses penyuntingan novel “Memang Jodoh” karya Marah Rusli. Berikut petikannya:

Bagaimana proses editing naskah novel yang sudah selesai ditulis pada tahun 1961 tersebut? Apa tantangan mengedit naskah yang sudah terbit lebih dari 50 tahun lalu?

Bagi saya, naskah “Memang Jodoh” ini termasuk naskah kelas berat. Artinya, naskah yang sulit untuk disunting. Kalimatnya panjang-panjang, dan banyak sekali ungkapan, kalimat, atau kata yang tidak “asing” atau jarang dibaca atau didengar oleh pembaca sekarang. Banyak pula kata-kata yang belum baku, masih merupakan bahasa asli Minangkabau yang belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia.

Berapa lama Anda butuhkan menyunting naskah novel?

Naskah ini saya sunting lebih kurang selama 2,5 bulan.

Pada bagian apa saja yang Anda edit, sunting, dalam naskah novel?

Penerbit meminta saya menjadikan naskah ini lebih ringan buat pembaca. Namun, saya sekaligus diminta untuk tidak menghilangkan gaya bercerita khas a la Marah Rusli seperti dalam novel beliau yang lain semisal Sitti Nurbaya. Kalimat yang panjang saya pecah menjadi beberapa kalimat pendek tanpa merusak isi dan maksudnya; saya juga membuat catatan kaki untuk kata/ungkapan agar lebih mudah dipahami pembaca.

Adakah kata-kata yang Anda ubah ejaannya, yang Anda sesuaikan dengan kondisi sekarang?

Di naskah yang saya terima, ejaan yang digunakan sudah EYD. Jadi, tidak ada ejaan lama dalam naskah Memang Jodoh yang saya terima dari penerbit. Kalaupun ada yang saya ganti atau ubah hanya beberapa kata yang ditulis menurut cara bertutur orang Minangkabau tempo dulu, seperti “sekolah peripat” yang maksudnya “sekolah swasta”. Selagi kata yang dipakai masih bisa dipahami pembaca—meskipun kurang populer—saya akan mempertahankannya dan memberi catatan tentang kata tersebut.

Kesulitan apa yang Anda alami ketika menyunting naskah novel Memang Jodoh ini?

Kesulitannya hanya dalam mencari arti kata-kata yang tak saya temukan artinya di dalam kamus.

Dalam novel ini terdapat catatan kaki, apakah catatan kaki itu dari Anda? Mengapa diperlukan catatan kaki? Hal-hal apa saja yang Anda perlukan untuk diberikan catatan kaki?

Ya, catatan kaki itu dari saya, dan beberapa lagi ditambahkan oleh penerbit. Ya, tentu saja diperlukan, karena kalau saya biarkan tanpa catatan, pembaca akan merasa asing dengan kata yang dipakai oleh pengarangnya. Saya memang tidak berani mengubah kata-kata tersebut ke konteks sekarang, karena saya dan penerbit memang ingin tetap seperti itu. Nah, dengan catatan kaki inilah kita membantu pembaca untuk memahaminya.

Bisa diceritakan proses penerbitkan novel Memang Jodoh ini, mengapa Qanita bisa menerbitkannya? Apakah keluarga Marah Rusli yang menawarkan? Kapan tawaran itu diberikan?

Pertanyaan ini lebih tepat dijawab oleh penerbit.

Berdasar wawancara kami dengan keluarga Marah Rusli, terdapat salah penulisan Merah Hamli, yang seharusnya ditulis Marah Hamli? Meskipun menurut cucu Marah Rusli, dalam naskah aslinya memang ditulis Merah Hamli.

Ya, dalam naskah yang saya terima, memang ada dua versi penulisan nama tersebut: Merah Hamli dan Marah Hamli. Namun, kekeliruan ini sudah diluruskan dan diperbaiki.

Apakah Anda membaca naskah asli dari novel ini yang ditulis dalam Arab gundul? Juga naskah yang ditulis Marah Rusli yang sudah ditulis dalam huruf latin?

Tidak, naskah yang saya terima dari penerbit adalah naskah yang sudah ditik ulang. Saya juga baru tahu kalau naskah aslinya dalam bahasa Arab gundul.[]

Judul: Memang Jodoh
Pengarang: Marah Rusli
Penyunting: Melvi Yendra
Penerbit: Qanita, 2013
Tebal: 535 halaman