Cinderella Man

Cinderella Man

Saya menyesal kenapa tidak menonton film yang diangkat dari kisah nyata ini sejak dulu. Saya pikir, film ini senada dengan “Million Dollar Baby” atau “Ali”, atau “Rocky” yang bercerita seputar heroisme di atas ring tinju. Ternyata saya salah; film ini benar-benar luar biasa.

Adalah sebuah novel dengan judul yang sama yang membuat saya akhirnya memilih film ini untuk ditonton. Penasaran oleh endorsment di sampul bukunya, saya bukannya beli bukunya, malah tertarik untuk menontonnya terlebih dahulu (padahal ini pantangan saya; saya biasa baca dulu bukunya, baru nonton filmnya).

Film ini–menurut saya–tidak bercerita tentang prestasi tinju James J. Braddock (Russell Crowe), tapi tentang perjuangannya mengangkat harkat keluarga dan kaum papa Amerika Serikat saat depresi nasional menimpa negara besar itu di sejak 1929. Saham-saham Wallstreet terjun bebas ke harga yang tak pernah dibayangkan. Para pengacara, pengusaha dan pebisnis jatuh melarat dan bersama jutaan keluarga Amerika lainnya mulai mengantre untuk bisa mendapatkan sedikit roti untuk makan keluarga mereka. Para lelaki berebutan mengajukan diri untuk bisa bekerja menjadi buruh harian di pelabuhan, dan pabrik-pabrik yang masih bertahan.

Dengan tanggungan seorang istri, Mae (Renee Zellweger) dan tiga orang putra yang masih kecil-kecil, Jim Braddock harus banting tulang mencari pekerjaan. Sebelum depresi melanda, dia adalah seorang petinju profesional yang tak pernah KO di ring tinju. Namanya berkibar, keluarganya dihormati, dan dia bisa menjadi sedikit di antara keluarga Amerika yang bisa punya apartemen mewah dan menghadiri pesta-pesta mahal. Tapi keadaan berubah 180 derajat setelah 4 tahun masa depresi. Jim dan keluarga hanya bisa menyewa sebuah apartemen tua tanpa ruang tidur, dengan penerangan dan pemanas seadanya. Selain berharap mendapat kerja harian, Jim sesekali masih bertanding untuk mendapat 50–75 dolar, itu pun kalau dia berhasil menjatuhkan lawannya. Tapi suatu hari, komisi tinju New Jersey mencabut izin bertanding Jim, karena dia dianggap tidak bisa menghadirkan pertandingan yang menarik untuk penonton.

Walaupun tidak panik, Mae mulai khawatir. Mereka harus membayar sewa apartemen, melunasi tagihan listrik dan alat pemanas, dan susu untuk kebutuhan sehari-hari. Lalu, suatu kali, anak-anak mereka mulai tidak bisa bertahan, dan akhirnya jatuh sakit.

Bingung harus melakukan apa, Jim membuang jauh-jauh harga dirinya sebagai petinju yang pernah diperhitungkan. Dia pergi ke klub tinju, di mana berkumpul para bos dan pemilik sasana yang kaya raya, termasuk Joe Gould (Paul Giamatti), pelatih Jim. Jim hanya punya uang 1,6 dolar upahnya hari itu di pelabuhan, dan ia butuh sekitar 56 dolar untuk membayar sewa apartemennya dan menyambung kembali aliran listrik ke ruang keluarganya. Jim mengemis di depan orang-orang yang pernah dekat dengannya!

Keadaan lalu berubah. Suatu kali, Jim mendapat kesempatan bertanding melawan seorang petinju, menggantikan lawannya yang sedang sakit. Mulailah semangat berjuang Jim bangkit. Satu demi satu pertandingan dimenangkan dan publik mulai melirik kembali jagoan masa lalu mereka.

Sepanjang film ini kita disuguhkan ribuan perenungan tentang perjuangan melawan kemiskinan. Jim bertanding bukan untuk meraih gelar, tapi agar bisa membelikan susu dan roti untuk keluarganya. Jim mewakili jutaan penduduk Amerika yang jatuh melarat saat itu.

Ada sebuah dialog yang membuat saya nyaris menangis. Hari itu Jim akan berangkat mencari pekerjaan. Ketika Mae sedang membuatkan roti untuknya, Rosemarie, putri bungsu mereka terbangun. Ia merasa lapar dan ingin ikut makan. Tapi ternyata, Rosy belum merasa cukup dengan satu roti, ia ingin minta tambah. Kata ibunya, “Sayang, kita harus menyisakan sedikit untuk kakak-kakakmu.” Rosy tampak mengerti.

Tapi Jim cepat bertindak. Ia duduk di meja menghadap putrinya yang kelaparan, lalu bercerita:
“Semalam Ayah bermimpi makan malam di Ritz.”
“Oh ya?” tanya Rosy tertarik.
“Ya. Makanannya sangat banyak. Ayah menghabiskan tiga potong steak, dan menambah es krim sampai tiga kali. Jadi, pagi ini Ayah sangat kenyang.”
Sambil menatap istrinya yang tampak tidak setuju, Jim melanjutkan. “Sekarang maukah kau membantu Ayah menghabiskan sarapan Ayah?”
Rosy mengangguk cepat dan langsung makan.

So, two tumbs up untuk film ini!

Case 39: Jangan Percaya Anak Kecil!

Setelah Hannah Dakota Fanning (I Am Sam, Man on Fire, Hide and Seek), saya sekarang punya satu lagi aktris muda Hollywood yang aktingnya sangat saya sukai di film layar lebar. Gadis yang beruntung itu adalah Jodelle Ferland. Dakota dan Ferland secara kebetulan sebaya, mereka sama-sama kelahiran 1994. Bedanya, Dakota berasal dari Georgia, USA, Ferland berasal dari Nanaimo, British Columbia. Walaupun seusia, tapi sepertinya Dakota lebih tinggi jam terbangnya ketimbang Ferland.

Setelah Silent Hill, Jodelle Ferland berhasil memukau saya dengan aktingnya yang benar-benar mantap dalam Case 39. Film thriller besutan sutradara Christian Alvart ini bercerita tentang Emily Jenkins (Renee Zellweger) seorang pekerja sosial yang suatu hari dihadapkan pada sebuah kasus paling misterius yang menghinggapi seorang gadis kecil berumur 10 tahun bernama Lilith Sullivan (Jodelle Ferland).

Kekhawatiran Emily semakin menjadi-jadi ketika mengetahui dan melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua orang tua Lilith mencoba membunuh putri semata wayang mereka itu. Emily menyelamatkan Lilith dan memutuskan untuk menjaganya hingga ia menemukan keluarga angkat yang sempurna untuknya. Emily lalu jatuh sayang pada gadis kecil itu dan merasa rumahnyalah tempat paling tepat untuk Lilith.

Namun beberapa kejadian membuat Emily mulai bergidik ketakutan. Gadis kecil itu ternyata lebih berbahaya dari yang terlihat. Emily lalu memutuskan untuk menemui orang tua Lilith yang saat itu mendekam di penjara. Ibu Lilith meyakinkan Emily bahwa putrinya sangat berbahaya dan berpotensi membunuh karena memiliki kemampuan di luar kebiasaan. Ayahnya menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghindar dari Lilith adalah dengan membunuhnya.

Beberapa menit pertama film ini, kita memang dibuat jatuh hati pada Lilith. Namun kemudian, di separuh terakhir, penonton dibuat menjerit-jerit karena gadis kecil itu punya kekuatan luar biasa: bisa mencelakakan orang lain dari jarak jauh, bisa membaca isi pikiran, dan nyaris tak ada yang bisa mencegahnya kalau dia sudah bermaksud ingin membunuh seseorang. Satu-satunya jalan untuk menghentikan Lilith adalah membuatnya mati di atas ketakutannya sendiri.

Jodelle Ferland akan menjadi bintang besar di masa depan. Dia sekarang masuk dalam jajaran aktor/aktris watak yang dimiliki Hollywood, yang membuat—paling tidak—saya menunggu-nunggu akting berikutnya di layar lebar.[]

Foto diambil di sini.
Tulisan ini sebelumnya pernah diposting di sini.