Cintapuccino

Judul : Cintapuccino
Sutradara: Rudi Soedjarwo
Genre: Drama, Remaja, Romantis
Produksi: Sinemart

Kalau di Jomblo, Adhitya Mulya dapat peran sebagai pelayan resto, di Cintapuccino, Icha Rahmanti dapat peran jadi pelayan outlet distro. Hehehe, suatu saat, kalau novel saya dilayarlebarkan, saya cocoknya jadi apa, ya?

Enggak percuma semalam (28 Agustus 2007) datang ke Plaza Senayan memenuhi undangan Aris Kurniawan buat ikutan nonton galapremiere film “Cintapuccino”. Fitri, awalnya sangsi. Pertama karena dia sebenarnya tidak terlalu suka film Indonesia. Sejauh ini tak sampai sepuluh film Indonesia yang pernah dia tonton, dan sebagin besar garapan Riri Reza. “Tapi, ini yang nulis skenarionya Jujur Prananto, Yang,” kataku. “Jadi, ya?”

Kami sampai di Cinema XXI Plaza Senayan sekitar pukul 20.30. Aris sudah menunggu di antrean. “Mana teman, lu?” tanya saya. “Gak jadi datang dia, Mel. Sayang nih, satu undangan nganggur,” sahutnya.

Antrean panjangnya kayak ular. Undangan harus ditukar dulu dengan karcis. Selain tiket, kita juga dapat kaos merah dengan tulisan “it’s my love obsession” dan brosur-brosur. Banyak wajah-wajah yang sudah sering muncul di sinetron dan film layar lebar. Para pemeran utama Cintapuccino juga hadir: Siisy Prescillia dan Nadia Saphira. Inginnya melihat tampang asli Miller, yang orang Malaysia itu. Ada Katon juga, ada Sys NS (dengan kaos merahnya yang khas), ada banyak wartawan, penyiar radio, dan tentu saja orang-orang biasa seperti saya, Fitri, dan Aris. Di tiket tertulis pertunjukan dimulai pukul 21.45. Alamak! Kalau tahu begini, tak perlu stress tadi menghadapi jalanan yang macet.

Film mulai diputar tepat pukul 22.00.
Dan beginilah ringkasan ceritanya yang tertulis di brosur:

“… Kamu pernah terobsesi dengan seseorang?”
Begitu dalamnya obsesi itu sampai-sampai kamu mempertanyakan kesehatan mentalmu sendiri?
Begitu terobsesi sampai-sampai kamu memilih jurusan kuliah yang sama dengannya?

Apraditha Arrahmi pernah, dan itu belangsung hampir sepuluh tahun. Sekarang hidup Rahmi hampir sempurna … Ada Raka, seorang pacar luar biasa yang menjadi “pahlawan”-nya dalam melewati masa-masa sulit quarter-life-crisis sampai akhirnya Rahmi menemukan arti baru dari cinta, impian, dan karya dalam bisnis distro Barbietch!-nya. Malahan dalam waktu dekat Raka bakalan segera melamar Rahmi, and soon they’ll live happily ever after.

That’s the plan.
The big perfect plan.
Almost perfect…

Sampai lewat sebuah ketidaksengajaan Rahmi ketemu lagi dengan Nimo. Dimas Geronimo. Menemukan Nimo berarti menemukan kembali obsesi sepuluh tahunnya yang sekarang mulai menjadi kenyataan … dan itu sangat menakutkan!

Apa yang akan dilakukan Rahmi?
Apa yang menarik dalam film ini?
Pertama adalah karakter Nimo (diperankan dengan sangat cool oleh Miller). Setiap kali dia ngomong, penonton selalu tertawa. Abis, cara dia ngomong itu lucu sih. Bayangin aja, orang Malaysia dengan Melayu medok ngomong bahasa seperti ABG Jakarta.

Ketika produsernya, Cindy Christina, ditanya kenapa akhirnya memilih Miller untuk memerankan Nimo, padahal banyak aktor-aktor Indonesia yang lain, begini jawaban Cindy: “Kalau karakter Nimo itu kan adalah seorang laki-laki yang lucu, ganteng, tapi dia gak tahu dan nggak menyadari kalau dia itu ganteng. Dia itu kalau dari sisi cewek terlihat player, tapi dari sisi dia sendiri sebenarnya nggak. Nah, dari pemain-pemain Indonesia yang kita casting, kebanyakan dari sorot matanya mereka tahu kalau mereka ganteng. Susah banget dapet feel-nya Nimo. Tapi kalau si Miler ini enggak. Jadi pas gw lihat hasil castingan dia pertama kali, gue langsung suka. Dia terlihat apa adanya, dan emang ganteng. Jadi gue langsung bilang sama pak Leo, dan bilang ke Rudi. Tapi masalahnya, pas dia udah ngomong, logat melayunya keluar, kita sebenarnya agak-agak mikir lagi siy, cocok gak yah dia. Jadi kita diskusiin lagi, dan setelah dipertimbangkan, kita pikir kayaknya justru logat melayunya itu bisa bikin menarik yah. Itu yang bisa bikin jadi lucu. Dan ini bisa menjadi nilai lebih untuk film ini. Mudah-mudahan yah.”

Kedua, dialognya cerdas. Ya, iya lah, yang nulis script-nya kan Mas Jujur Prananto. Sebelum nulis skenario film, Jujur Prananto ini adalah salah satu cerpenis kesukaan saya. Trus, script-nya makin kuat karena Icha sendiri dilibatkan penuh dalam proses penulis script yang nyaris makan waktu dua tahun itu.

Ketiga, film ini apa adanya. Apa yang dialami Rahmi, pasti pernah dialami banyak orang juga. Ceritanya mengalir, tidak neko-neko, dan berakhir dengan sangat wajar. Memang terkesan tidak “mengejutkan”, tapi justru di situlah kelebihannya.

Keempat, produser memang tidak main-main dalam menggarap film ini. Buktinya—selain skenario yang molor sampai dua tahun—juga sutradara yang sempat diganti dua kali sebelum akhirnya Cindy nemu Rudi Soejarwo.

Kelima, Fitri yang dulu-dulu sering apriori sama film Indonesia, bilang film ini bagus. Ya, untuk seorang “pemilih” seperti dia, bila sudah bilang bagus, ya, berarti memang bagus. Hehehe…[]